ログインRevan pernah mengatakan bahwa dia memiliki perasaan lebih terhadapku. Itu terjadi tepat di awal semester perkuliahan, di sebuah sore yang biasa, ketika aku sama sekali tidak menduganya. Aku masih ingat jelas ekspresinya saat itu—tulus, hangat, dan penuh keyakinan.
Awalnya aku benar-benar kaget. Tak pernah terlintas dalam pikiranku bahwa Revan, sahabat yang sudah mengenalku sejak masa putih abu, ternyata menyimpan rasa yang lebih. Bagiku, Revan adalah rumah. Anak yang baik—terlalu baik, bahkan. Ia tahu cara membuat orang lain merasa aman. Kadang aku berpikir, dia lebih mengenalku daripada diriku sendiri. Sejak SMA, kedekatan kami begitu alami. Ia sering mampir ke rumah, kadang hanya untuk sekadar menumpang makan malam. Katanya, ia tak terbiasa makan sendirian di rumah. Aku tahu alasannya: orang tua Revan sering bepergian ke luar kota karena pekerjaan. Ibu bahkan sudah menganggap Revan seperti anaknya sendiri. Tak ada jarak di antara mereka; tak ada kecanggungan. Dan aku pun merasa nyaman dengan kehadirannya. Karena itulah, saat Revan pertama kali menyatakan perasaannya, aku hanya bisa tersenyum hambar. Aku menganggapnya sebagai candaan, sesuatu yang tak perlu ditanggapi serius. Aku tak ingin hubungan kami rusak hanya karena persoalan hati. Namun ternyata aku salah. Sampai detik ini, Revan masih sering mengulang ucapannya, masih sering menunjukkan bahwa perasaannya padaku bukan sekadar main-main. Jujur, aku pun pernah menyimpan rasa pada Revan. Ada sedikit perasaan yang kusimpan sejak SMA dulu—rasa hangat yang sering muncul tanpa diundang. Pernah terlintas keinginan untuk menerimanya, untuk membiarkan diriku jatuh ke dalam pelukan yang nyaman itu. Tapi kemudian realitas menamparku. Kehidupan kami terlalu berbeda. Revan datang dari keluarga yang mapan, berpendidikan, dan serba berkecukupan. Sedangkan aku… aku hanya Senja, anak dari keluarga sederhana yang berjuang keras demi kelangsungan hidup. Aku memilih mengesampingkan perasaan itu. Bagiku, cinta terasa remeh dibandingkan dengan jurang perbedaan yang membentang di antara kami. Dan lagi… aku selalu merasa Revan terlalu baik untukku. Terlalu lembut, terlalu tulus. Dia pantas mendapatkan perempuan yang lebih baik, bukan seseorang sepertiku yang penuh luka dan kebimbangan. Kadang aku bertanya pada diriku sendiri: apakah aku salah karena menolak Revan? Ataukah aku justru egois, karena masih menyisakan ruang untuknya dalam hatiku dan seperti memberikan harapan palsu padanya. Saat aku terdiam, tenggelam dalam pusaran pikiranku sendiri, tiba-tiba suara Layla memecah keheningan yang menyesakkan. “Eh, Bu… sebenarnya Revan nontonnya bareng saya juga kok. Kami kan mau ngerjain tugas Film Analysis dari Ibu.” Layla berusaha terdengar ceria, meski senyumnya tampak dipaksakan. “Kebetulan malam ini Senja lagi luang. Biasanya sih susah banget diajak keluar, kayak punya suami aja yang harus diurus. Ya kan, Van?” Layla melirik Revan sambil menyikut pelan lengannya. Revan hanya tersenyum tipis, lalu mengangguk singkat tanpa menambahkan sepatah kata pun. Keheningan kembali menjerat. Aku bisa merasakan pandangan Althaf, tapi aku memilih untuk tidak menoleh, takut jika matanya benar-benar menusuk ke dalam hatiku. Dan tepat saat itu—kring—bunyi lonceng pintu kafe berdenting. Seorang pelanggan masuk. Rasanya seperti pertolongan dari semesta. “Maaf, saya harus melayani pelanggan.” Suaraku lirih, tergesa, dan tanpa menoleh sedikit pun pada Althaf, aku segera berdiri dan melangkah pergi, seolah hanya dengan begitu aku bisa terbebas dari jerat kecanggungan yang menyesakkan dada. Aku berjalan cepat menuju meja kasir, berusaha menata napas yang tersengal. Tanganku gemetar saat merapikan struk dan menyalakan mesin kasir, padahal pelanggan baru saja memesan minuman sederhana. “Hazelnut latte satu ya, Mbak.” “Ba… baik, Kak.” Suaraku bergetar, hampir tercekat. Pelanggan itu tersenyum ramah, tapi aku hanya membalas seadanya. Pandanganku kabur, bukan karena lelah, tapi karena kepalaku penuh dengan ribuan pikiran yang saling berdesakan. Aku bisa merasakan—di belakang sana—tawa kecil Layla, suara lembut Bu Yuanita, dan entah tatapan seperti apa yang sedang Althaf arahkan padaku. Rasanya dadaku sesak, seakan aku terperangkap di dalam ruangan yang terlalu sempit. Revan… kenapa kamu harus bicara seperti itu di depan mereka? Aku menggigit bibir, menahan rasa panas di sudut mataku. Perkataan Revan tadi masih terngiang jelas, membuatku makin sulit bernafas. Aku ingin berteriak. Ingin lari keluar kafe, menghirup udara malam, dan melupakan semuanya. Tapi yang bisa kulakukan hanya pura-pura sibuk, mengaduk pesanan pelanggan, menata kue kering di etalase, dan tersenyum tipis seolah semuanya baik-baik saja. Namun sesungguhnya, hatiku sedang runtuh perlahan. Dari balik meja kasir, aku berusaha menyibukkan diri. Gelas-gelas kubersihkan, kue-kue kering kubenahi, bahkan tumpukan sedotan plastik pun kuberi perhatian berlebih hanya agar tanganku tidak berhenti bergerak. Tapi mataku… selalu berkhianat. Sesekali, aku menangkap bayangan Althaf di sudut kafe. Dia duduk berhadapan dengan Bu Yuanita, namun tatapannya tidak pernah benar-benar menetap pada wanita itu. Ada jeda—seperti celah kecil—di mana aku merasakan mata Althaf menyentuhku. Sekilas, cepat, lalu berpura-pura sibuk kembali menunduk pada minumannya. Aku buru-buru menunduk, pura-pura membaca struk pesanan. Tapi detak jantungku tak bisa kubohongi. Panas menjalar ke wajahku, sementara perasaan aneh membelit erat dadaku. Kenapa dia melihatku seperti itu? tanyaku dalam hati. Seakan ada sesuatu yang ingin dia katakan, tapi terhalang oleh sekat yang kami ciptakan sendiri. “Senja, pesanan latte sudah jadi?” suara barista lain membuatku tersentak. “Oh, iya! Ini, sudah.” Aku mengangkat gelas dengan tangan bergetar, menyerahkannya ke pelanggan dengan senyum dipaksakan. Saat kembali ke meja kasir, aku menahan napas. Dari ujung mata, aku bisa melihat Althaf masih di sana. Tangannya memegang cangkir, tapi matanya—lagi, matanya itu—seperti menarikku paksa untuk menoleh. Aku tidak tahan. Aku membalikkan tubuh, berpura-pura sibuk mengambil kain lap dan berjalan ke meja pelanggan lain. Apa pun, asal tidak perlu terjebak dalam tatapan itu lebih lama. Namun, satu hal pasti… aku tahu benar, aku bukan satu-satunya yang gelisah malam ini. *** Tepat pukul 11.30 malam aku tiba di rumah dengan motor maticku. Kami pulang terlambat karena Layla tiba-tiba memintaku menemaninya berbelanja beberapa pakaian. Begitu sampai di halaman, mataku langsung tertuju pada sebuah mobil mewah yang terparkir di garasi. Mobil Althaf. Aku tertegun sejenak. Kenapa dia pulang malam ini? Biasanya, Althaf hanya pulang ke rumah di akhir pekan. Hari ini hari Kamis. Dadaku mendadak terasa sesak oleh perasaan aneh yang sulit kujelaskan. Berusaha menyingkirkan pikiranku yang kalut, aku melangkah masuk. Rumah sudah sepi. Lampu di ruang tamu dan koridor sebagian besar padam. Sepertinya Mbok Mirna dan para pekerja sudah tidur. Aku berniat langsung ke kamar, tapi rasa haus membuatku mengubah langkah menuju dapur untuk mengambil segelas air dingin. Namun, langkahku terhenti. Di ujung meja makan besar, Althaf duduk sendirian. Cahaya lampu dapur yang temaram menyoroti wajahnya yang muram. Di tangannya ada sebuah gelas, cairan berwarna keemasan berputar di dalamnya, mengeluarkan aroma menyengat. Alkohol. Deg. “Mas Althaf…” suaraku tercekat. Tanpa menatapku, ia meletakkan gelas itu dengan keras, lalu menegakkan tubuhnya. “Oh… jadi kalau saya nggak ada di rumah, kamu selalu pulang selarut ini, ya, Senjani?” Suaranya terdengar ketus, namun ada sesuatu yang lain—sebuah tatapan sendu yang membuatku tak bisa mengalihkan pandangan. Ia bangkit, melangkah perlahan ke arahku. Hanya berjarak satu langkah, aku bisa merasakan aroma alkohol yang pekat menusuk hidungku. “Mas… minum?” tanyaku lirih, hampir berbisik. Althaf tidak menjawab pertanyaanku. Ia justru menatapku tajam. “Kamu habis dari mana? Sama laki-laki itu?” Jantungku berdegup kencang. “Mas… saya, Revan, dan Layla cuma nonton film. Nggak ada yang lain. Sungguh.” Aku mencoba menahan tatapannya, meski suara lirihku terdengar bergetar. Althaf mendecih, bibirnya menyunggingkan senyum miring penuh sinis. “Murahan tetap murahan. Apa uang bulanan dari saya nggak cukup, Senjani? Sampai kamu tega menggoda laki-laki lain… bahkan di depan mata saya sendiri.” Suaranya meninggi, menusuk telingaku seperti cambuk. Air mataku jatuh tanpa bisa kutahan. “Mas, saya nggak pernah menggoda Revan. Kami hanya murni berteman,” bisikku dengan suara pecah. Tiba-tiba Althaf menarikku kasar. Tangannya melingkari pinggangku erat, membuat tubuhku menempel pada dadanya yang bidang. Nafasnya yang bercampur aroma alkohol terasa begitu dekat, begitu menyesakkan. “Teman, kamu bilang?” desisnya. “Teman nggak akan berani menyentuh kamu dengan bebas, Senjani.” Wajahnya semakin mendekat, jarak kami hanya sejengkal. Aku menelan ludah, panik bercampur takut. “Mas… Mas lagi mabuk. Kalau memang mau bicara soal Revan, lebih baik besok saja. Saat Mas dalam keadaan lebih tenang dan lebih normal.” Suaraku bergetar, tanganku mendorong dadanya lemah. “Tolong… lepaskan saya, Mas.” Althaf mendecih lagi, cengkeramannya semakin menguat. “Jadi menurut kamu saya nggak normal? Hanya dia yang normal? Hanya dia yang pantas?” “Bukan begitu, Mas. Saya cuma—” ucapanku terputus. Tanpa peringatan, bibir Althaf menekan bibirku. Aku terkejut. Mataku membelalak, tubuhku menegang. Tidak ada kelembutan di sana. Tidak ada kasih sayang. Hanya ada desakan yang kasar, penuh amarah, seolah ia ingin menghukumku dengan caranya sendiri.Althaf menoleh penuh kasih sayang. Tangannya beralih menangkup pipiku, memaksa mataku bertemu dengan matanya.“Badan kamu juga sudah bagus, Sayang,” ucapnya lembut. “Jangan pernah merasa kurang di depan saya. Kamu sempurna. Tapi nggak apa-apa, kita ubah pola hidupnya perlahan-lahan agar lebih sehat. Kita lakukan ini bukan untuk mencapai standar tertentu, tapi untuk diri kita, agar stamina kita kuat untuk menjalani hari-hari yang panjang ke depan, berdua.”Ia mencium bibirku singkat, lalu bangkit “Ayo ganti baju, Sayang, atau kamu mau saya yang pakaikan kamu?” ucapnya menggoda, matanya mengerling nakal. “Saya sih dengan senang hati melakukannya.”Aku tertawa, merasakan pipiku memanas. Godaan Althaf di pagi hari terasa manis dan benar-benar baru.“Ihh, itu mah memang maunya Mas!” balasku, melempar bantal ke arahnya. “Nanti kita bisa telat lari pagi, dan yang ada Mas malah nge-gym di kamar.”Althaf menangkap bantal itu dengan mudah, ekspresinya pura-pura kecewa. Ia membalik bantal itu, m
Sekitar empat puluh menit kemudian, kami tiba di kawasan elit pusat kota. Althaf memarkir mobilnya dengan sigap di valet parking depan sebuah restoran Jepang modern dengan fasad kayu yang elegan—Kanpai Sushi.Saat kami melangkah masuk, suasana di dalamnya terasa intim, dengan pencahayaan temaram dan alunan musik tradisional Jepang yang lembut. Althaf menyebutkan namanya pada resepsionis, dan kami langsung diantar ke sebuah ruangan kecil yang disekat—benar-benar private.Aku duduk di kursi empuk itu, menatap Althaf yang tampak jauh lebih santai—kemejanya tidak lagi terasa kaku. Malam ini, dia benar-benar mengenyahkan persona dosennya.“Selamat datang di date night kita yang pertama, Senjani,” ucapnya, mendorong menu ke depanku dengan senyum menawan.“Date night pertama tanpa kontrak dan tanpa batas waktu,” balasku, tersenyum lega. Aku membuka menu, tapi mataku hanya mencari satu nama.“Saya sudah tahu mau pesan apa.”“Tentu saja. Spicy salmon roll,” tebak Althaf tanpa melihat menu.“Da
Aku hanya bisa berdiri mematung di sana, menyaksikan punggung Revan perlahan menjauh. Saat punggungnya benar-benar hilang dari pandangan, bendungan air mataku pun pecah. Aku menutup wajahku dengan kedua tangan, bahuku terguncang oleh isak tangis yang tertahan. Aku menangis dalam diam, meratapi akhir dari babak yang indah—persahabatan yang harus dikorbankan demi babak baru dalam hidupku. Tiba-tiba, sebuah mobil hitam mewah berhenti mendadak tepat di depanku. Pintu mobil terbuka, dan Althaf keluar dengan langkah cepat. Wajahnya yang biasanya tenang kini diliputi kekhawatiran yang jelas. Ia segera menghampiriku. “Senjani? Sayang, ada apa?” tanyanya, suaranya dalam dan cemas, refleks meraih lenganku. Ia menarik lembut tanganku dari wajahku yang basah oleh air mata. “Kenapa kamu menangis? Ada yang menyakitimu?” Aku tidak bisa menahan tangis lagi. Melihat wajahnya yang khawatir justru membuatku semakin lega untuk meluapkan segalanya. “Revan, Mas…” bisikku lirih, menatap matanya yan
Aku memutuskan untuk menunggu di tempat yang lebih nyaman. Aku tidak mau berdiri canggung di gerbang yang ramai kendaraan, jadi aku memilih pindah ke taman kecil di depan fakultas, tempat yang teduh dan sejuk.Aku duduk di bangku kayu di bawah pohon yang rimbun. Jam menunjukkan pukul empat sore, suasana kampus mulai sepi. Sinar matahari sudah mulai condong, menciptakan bayangan panjang di antara pepohonan. Udara sore terasa sejuk, beraroma tanah dan dedaunan. Beberapa mahasiswa masih terlihat duduk berkelompok di kejauhan, tapi aku sendirian di bangku ini, merenungi semua yang baru saja kualami.Aku mengeluarkan ponsel, membalas pesannya lagi.[Sent to : Mas Althaf]‘Take your time, Super Althaf. I’ll wait here. Hati-hati di Jalan Cendrawasih ya!’Aku menyandarkan kepala, menikmati ketenangan sore itu, siap menyambut suami yang akan datang menjemputku sebagai suami seutuhnya.Tepat saat aku sedang fokus menatap layar ponsel, mencoba membunuh rasa bosan sambil menunggu, suara langkah pe
Aku menutup mulutku dengan punggung tangan, menekan bagian bawah bibirku. Napasku terengah, berusaha mengambil oksigen tanpa harus menghirup aroma kopi yang kini terasa memuakkan.“Gue juga nggak tahu, Lay,” jawabku, suaraku masih sedikit bergetar. Aku berusaha meyakinkan diriku sendiri bahwa ini hanya masalah pencernaan biasa.Tanpa banyak bicara, Layla langsung bangkit berdiri, tanggapannya cepat dan penuh inisiatif. “Bentar, biar gue beliin air mineral.”Dia berlari kecil ke meja kasir, bergerak cepat seperti kilat. Tak lama kemudian, Layla kembali dengan sebotol air mineral dingin yang ia sodorkan padaku.“Minum ini pelan-pelan,” perintahnya, nada suaranya lembut tapi tegas.Aku menerima botol itu dan meneguk air dingin itu perlahan, berusaha menetralkan rasa mual yang masih tersisa di tenggorokan. Air mineral terasa begitu menyegarkan di tengah gejolak aneh di perutku. Setelah menghabiskan separuh botol, napasku mulai teratur.“Gimana?” Layla bertanya, wajahnya masih menunjukkan
Kuliah terakhir sore itu terasa lebih cepat dari yang kubayangkan. Mungkin karena aku tahu siapa yang akan menjemput dan menungguku setelah ini. Begitu dosen mengakhiri sesi, aku dan Layla langsung bergerak cepat keluar kelas. Kami memilih sudut outdoor kafetaria kampus yang agak sepi, tempat strategis yang terlindung dari keramaian sore hari untuk sesi curhat tanpa gangguan.Layla sudah lebih dulu mengambilkan dua cangkir kopi dingin dan menatanya di meja. Begitu kami duduk, Layla segera mencondongkan tubuhnya ke arahku, matanya yang tajam menuntut cerita. Ekspresinya seperti detektif yang siap mengungkap misteri terbesar abad ini.“Oke, spill semua! Jangan ada yang disensor, jangan ada yang dilewatkan!” tuntut Layla, nadanya penuh hasrat ingin tahu yang membara. “Gue nggak mau dengar soal rumus tenses atau speaking dari lu. Gue mau detail drama Cinderella pagi tadi, dari A sampai Z!”Aku tertawa kecil, menikmati momen dramatis ini. “Sabar, Lay. Nafas dulu, ini cerita panjang dan but
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat sedikit ketika aku turun ke halaman hotel. Udara Jogja terasa lembap dan manis, seperti aroma tanah basah yang bertemu dengan hangatnya matahari pagi. Angin berembus pelan, membawa suara burung, tawa, dan percakapan riuh dari mahasiswa yang sudah lebih dulu
Kata-katanya jatuh pelan, tapi masing-masing menghantamku dengan keras. Terlalu jujur untuk tak melukai.Aku menggigit bibir, menatapnya perlahan. Ada bagian dari diriku yang ingin membantah, marah karena dituduh, tapi bagian lain justru hancur karena tahu - di balik semua amarah itu, Revan sedang
Aku melangkah keluar dari kamar Althaf dengan langkah pelan. Suara pintu yang menutup di belakangku terdengar lembut, tapi cukup untuk membuat dadaku kembali berdebar. Entah kenapa, setiap kali aku mengingat tatapan matanya tadi-tenang, dalam, dan sedikit hangat-napasku seperti ikut tersangkut di t
Hening.Waktu seolah berhenti tepat di antara kami.Detik jam di dinding terasa melambat, udara di kamar menjadi hangat dan tenang.Aku hanya bisa menatapnya, tanpa tahu harus berkata apa.Ada sesuatu yang mengalir lembut di antara kami-perasaan yang selama ini kupikir sudah hilang, ternyata hanya







