مشاركة

BAB 10

مؤلف: Mikaelach09
last update تاريخ النشر: 2026-04-29 19:11:51

Revan pernah mengatakan bahwa dia memiliki perasaan lebih terhadapku. Itu terjadi tepat di awal semester perkuliahan, di sebuah sore yang biasa, ketika aku sama sekali tidak menduganya. Aku masih ingat jelas ekspresinya saat itu—tulus, hangat, dan penuh keyakinan.

Awalnya aku benar-benar kaget. Tak pernah terlintas dalam pikiranku bahwa Revan, sahabat yang sudah mengenalku sejak masa putih abu, ternyata menyimpan rasa yang lebih. Bagiku, Revan adalah rumah. Anak yang baik—terlalu baik, bahkan.
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BAB 14

    Aku menatap mata Althaf beberapa detik, sebelum akhirnya memasang tawa renyah—palsu tentunya. “Yaelah, Lay. Mana mungkin cincin gue sama kayak punya Pak Althaf. Cincinnya beliau pasti berlian asli dari Tiffany & Co. Lah gue? Cuma cincin murah dari Tanah Abang.”Layla langsung ngakak sambil menepuk meja. “Hahaha, bener juga! Mana mungkin lo couple-an sama Pak Althaf. Bisa-bisa istrinya ngamuk, kan Pak?”Aku menelan ludah pelan. Dari sudut mataku, aku bisa melihat Revan menatapku tajam penuh curiga. Sedangkan Althaf? Ia malah tersenyum tipis, tenang sekali. Seolah nggak ada yang perlu ia sembunyikan.“Cemburu itu wajar,” jawab Althaf kalem. “Kalau seorang istri nggak cemburu, justru itu yang aneh.”Layla langsung nyamber dengan gaya bercandanya. “Kalau saya sih, Pak, jadi istri Bapak, udah ngekorin ke mana-mana. Bapak ganteng banget. Pasti banyak lebah yang mau nempel sama Bapak.”Aku hampir tersedak. Revan spontan memelototi Layla. “Layla, mulut Lo bisa di rem nggak sih.”Layla langsun

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BAN 13

    Kafetaria sore itu penuh sesak. Bau kopi hitam bercampur dengan wangi mie rebus dan suara mahasiswa yang berceloteh, menciptakan riuh rendah khas kampus. Di meja pojok dekat jendela, aku, Layla, dan Revan duduk mengelilingi laptop dengan catatan berserakan.“Jadi, inti film Pengepungan di Bukit Duri kan jelas ya, perjuangan pemuda melawan penjajah,” Layla membuka diskusi sambil mengetik cepat di laptop. Rambutnya yang diikat kuda bergoyang setiap kali ia menunduk. “Kalau analisisnya, gue kepikiran buat bahas sisi keberanian dan pengorbanan generasi muda. Itu pesan yang paling menonjol.”Revan menyandarkan tubuhnya, mengaduk es kopi hingga berbunyi ting… ting berulang. “Klise, La. Semua juga bisa ngomong soal pengorbanan. Menurut gue, yang menarik itu konflik batin tokoh utamanya. Dia sempet ragu, pengen kabur demi selamat, tapi akhirnya tetep bertahan. Itu lebih manusiawi, dan justru bikin kita bisa relate.”Aku yang sejak tadi mendengarkan akhirnya angkat suara. “Iya, gue setuju sam

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BAB 12

    Mata kuliah Althaf akhirnya usai. Mahasiswa mulai merapikan barang-barang mereka, begitu juga aku yang buru-buru memasukkan laptop dan alat tulis ke dalam tas, berharap bisa segera keluar dari kelas tanpa menarik perhatian.Namun sebelum sempat berdiri, suara berat itu terdengar, memecah riuh rendah kelas.“Senjani, saya tunggu di kantor.”Nada suaranya datar, dingin, tanpa memberi ruang untuk menolak. Ucapannya singkat, tapi cukup membuatku membeku di tempat.Ia langsung melangkah keluar, meninggalkan kelas dengan langkah mantap. Dari pintu, samar-samar kulihat Reihan sudah menunggunya—pria yang kukenal sebagai tangan kanannya di Dirgantara Textile, sekaligus asisten pribadinya.“Ada urusan apa lagi lo sama Pak Althaf, Sen?” suara Layla menyusul, penuh rasa penasaran. Tatapannya menyipit, seolah berusaha membaca rahasiaku. “Perasaan belakangan ini dia sering banget manggil lo.”Aku tersenyum kaku, mencoba menutupi gejolak yang tiba-tiba memenuhi dadaku. “Kayaknya… ngebahas tugas gue

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BAB 11

    Tanpa peringatan, bibir Althaf menekan bibirku.Aku terkejut. Mataku membelalak, tubuhku menegang. Tidak ada kelembutan di sana. Tidak ada kasih sayang. Hanya ada desakan yang kasar, penuh amarah, seolah ia ingin menghukumku dengan caranya sendiri.Aroma alkohol begitu pekat menyergap inderaku, bercampur dengan hangat napasnya yang terburu-buru. Gelas yang tadi ia letakkan di meja masih meninggalkan bau pahit di lidahku ketika ciumannya memaksa masuk.Tanganku refleks mendorong dadanya, namun genggamannya di pinggangku begitu kuat. Aku tak bisa ke mana-mana. Tubuhku seakan terperangkap dalam kurungan besi, membuat dadaku sesak dan sulit bernapas.Air mataku jatuh deras. Ciuman itu membuatku semakin hancur. Bibirku terasa perih, hatiku lebih perih lagi.Kenapa, Mas… kenapa sampai begini?Aku bukan merasa dicintai, aku merasa dilukai. Getaran amarah dan kepedihan yang ditumpahkannya lewat ciuman itu menusuk sampai ke tulang sumsumku.Aku berusaha menggeleng, berusaha melepaskan diri, na

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BAB 10

    Revan pernah mengatakan bahwa dia memiliki perasaan lebih terhadapku. Itu terjadi tepat di awal semester perkuliahan, di sebuah sore yang biasa, ketika aku sama sekali tidak menduganya. Aku masih ingat jelas ekspresinya saat itu—tulus, hangat, dan penuh keyakinan.Awalnya aku benar-benar kaget. Tak pernah terlintas dalam pikiranku bahwa Revan, sahabat yang sudah mengenalku sejak masa putih abu, ternyata menyimpan rasa yang lebih. Bagiku, Revan adalah rumah. Anak yang baik—terlalu baik, bahkan. Ia tahu cara membuat orang lain merasa aman. Kadang aku berpikir, dia lebih mengenalku daripada diriku sendiri.Sejak SMA, kedekatan kami begitu alami. Ia sering mampir ke rumah, kadang hanya untuk sekadar menumpang makan malam. Katanya, ia tak terbiasa makan sendirian di rumah. Aku tahu alasannya: orang tua Revan sering bepergian ke luar kota karena pekerjaan. Ibu bahkan sudah menganggap Revan seperti anaknya sendiri. Tak ada jarak di antara mereka; tak ada kecanggungan. Dan aku pun merasa nyam

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BAB 9

    Tanganku reffleks meremas celemek yang kukenakan. Pandangan itu menyesakkan-melihat Althaf masuk kafe, bukan sebagai suamiku, melainkan bersama seorang wanita lain... dosen kami sendiri, Bu Yuanita.Aku mencoba menegakkan senyum ramah, menyembunyikan getaran di dada. "Silakan masuk," ucapku terbata, meski suaraku terdengar nyaris bergetar.Althaf sama sekali tak menoleh ke arahku lagi. Ia justru berjalan lebih dulu, masih dengan genggaman tangan Bu Yuanita yang membuat langkahku terasa goyah. Seakan sengaja, Bu Yuanita terkekeh kecil, nada tawanya ringan, terlalu manis untuk seorang dosen di depan mahasiswanya.Aku bisa merasakan dua pasang mata mengawasi dari sudut kafe. Layla mencondongkan tubuhnya ke arah Revan, lalu berbisik pelan tapi cukup jelas kudengar."Eh, lihat deh. Kayaknya Bu Yuanita genit banget sama Pak Althaf, ya?"Revan mendengus sambil mengangkat alis, ekspresinya sinis. "Genit apaan, itu sih udah kelewatan. Mereka masuk kafe aja gandengan tangan, Lay. Kayak... bukan

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status