تسجيل الدخول
"Senjani, saya ingin menawarkan sebuah kesepakatan pernikahan."
Kalimat itu menghantam telingaku seperti petir di siang bolong. Seketika, jantungku berdebar tak terkendali. Di hadapanku, Althaf duduk di depan meja kerjanya. Meja kayu besar itu tampak rapi, hanya ada setumpuk berkas, sebuah pena perak, dan secangkir kopi yang asapnya sudah mulai menghilang. Lampu meja memantulkan cahaya hangat ke wajahnya, membuat garis rahangnya terlihat semakin tegas. Beliau — dosen yang terkenal dingin, misterius, dan jarang berbicara — diam-diam menjadi favorit di kampus karena ketampanannya yang membius kaum hawa. Dan kini, pria itu menatapku dengan sorot mata yang sulit kutebak, seolah ingin membaca pikiranku... atau mungkin, masa depanku. Aku menelan ludah, mencoba memastikan telingaku tidak salah menangkap. "Ma—maaf, Pak?" suaraku terdengar ragu, bahkan di telingaku sendiri. Althaf menyandarkan punggungnya pada kursi, menyilangkan jari-jarinya di atas meja. "Saya serius, Senjani," katanya tenang, seakan yang baru saja ia ucapkan bukanlah sesuatu yang mampu mengguncang dunia seorang mahasiswi biasa sepertiku. Aku ingin tertawa, atau mungkin marah. Tapi yang keluar justru hanya tatapan kosong. Otakku bekerja keras mencari penjelasan... karena jelas, ini bukan pembicaraan yang wajar antara dosen dan mahasiswinya. "Mungkin ini terdengar mengejutkan untukmu, Senjani. Tapi saya serius dengan apa yang saya katakan." Suaranya tenang, namun penuh keyakinan. "Saya tahu kamu sedang kesulitan finansial. Ibumu sakit dan membutuhkan biaya besar untuk perawatan di rumah sakit. Pekerjaan sambilan yang kamu jalani tidak cukup untuk menopang hidupmu dan keluargamu. Karena itu, saya menawarkan kesepakatan pernikahan ini padamu." Aku memberanikan diri menatap matanya. Sorot tajam itu sama sekali tidak menyiratkan keraguan. "Maaf, Pak... saya masih belum mengerti dengan jelas. Maksud Bapak, saya dan Bapak... menikah?" tanyaku, suaraku hampir bergetar. "Benar, Senjani," Suaranya tenang, nyaris tanpa jeda, seolah kata-kata itu sudah lama mengendap di benaknya. "Saya ingin mengajak kamu menikah. Ini akan menjadi win-win solution untuk kita berdua. Saya sedang mencari calon istri... dan kamu sedang berada di jurang kesulitan finansial." Kata-katanya jatuh di telingaku seperti batu ke permukaan air—menciptakan riak yang lama tenggelam, tapi menyisakan getar di dadaku. Pernikahan? Dengan dosenku sendiri? Rasanya absurd. "Tapi... Pak—" suaraku terputus, bukan karena tak ingin bicara, tapi karena lidahku kelu, tak tahu harus memulai dari mana. "Saya beri kamu waktu satu minggu untuk berpikir, Senjani." Nada bicaranya seperti keputusan final yang sulit untuk dibantah, "Saya akan memberimu uang bulanan dan mahar pernikahan. Uang itu bisa kamu gunakan untuk melunasi hutang ayahmu... dan untuk biaya pengobatan ibumu." Hatiku terasa diremas. Kata-kata itu menyentuh titik paling rapuh dalam hidupku. Ayah... Ibu... wajah mereka berkelebat di kepalaku. Tangan Ibu yang lemah di ranjang rumah sakit. Tatapan kosong Ayah yang semakin hari semakin larut dalam kebiasaan buruknya. Tatapan Althaf datar, nyaris tanpa emosi. Seolah yang ia ucapkan bukan tawaran yang akan mengubah seluruh hidupku, melainkan hal remeh seperti mengucapkan selamat pagi. Nafasku terasa sesak. Aku memejamkan mata sejenak, mencoba menenangkan detak jantung yang menggila. Namun saat kubuka lagi, tatapannya masih menembusku—mata setenang dan sedalam danau di senja hari. Indah, tapi bisa menenggelamkan siapa saja yang berani mendekat. "Kamu boleh keluar, Senjani" ucapnya menyadarkanku dari lamunanku. "Baik, Pak... saya permisi." balaskuku lirih, nyaris tak terdengar. Langkahku cepat meninggalkan ruangan itu. Setiap langkah terasa seperti menjauh dari satu bencana, tapi juga entah mendekati bencana yang lain. Aroma kopi pahit yang sejak tadi memenuhi ruangan kini menempel di hidungku, mengganggu, membuatku ingin segera menghirup udara luar. Begitu pintu tertutup, aku menghela napas panjang, seolah baru saja lolos dari jebakan yang tak terlihat. Layla sudah menunggu di luar, berdiri sambil menatapku penuh tanya. "Sudah selesai, Sen? Ada masalah apa sampai lo dipanggil dosen kesayangan gue itu? Jangan-jangan gara-gara lo bolos mata kuliah dia kemarin?" suaranya setengah bercanda, setengah khawatir. Ia menyesuaikan langkahnya mengikuti langkahku yang terburu-buru menuju lift. Aku memalingkan wajah, mencoba menyembunyikan badai yang masih mengamuk di kepalaku. "Bener. Pak Althaf nyuruh gue ngumpulin tugas minggu ini juga," jawabku datar. Mana mungkin aku menceritakan tawaran gila yang baru saja ia lontarkan? Mana mungkin aku membiarkan orang lain ikut menilai dilema yang bahkan aku sendiri tak sanggup menilainya? "Gila... yaudah, hari ini kita mulai observasi ke lapangan aja. Lo, kan, jurnalistik—kena bagian wawancara siapa?" "Wawancara dosen," jawabku pendek, tanpa minat. "Yaudah aman. Besok gue temenin nyusun naskah dan wawancaranya. Sekarang kita makan dulu. Gue lapar!" seru Layla sambil meraih lenganku. Aku hanya membiarkan dia menarikku menuju kafetaria, sementara pikiranku masih tertinggal di ruangan itu. Di antara tatapan datar dan kata-kata dingin seorang Althaf Arsakha Dirgantara—yang entah sejak kapan mulai terasa seperti undangan... sekaligus ancaman. *** Malam merayap masuk perlahan, menelan sisa cahaya di jendela kamarku. Lampu meja belajar menyala redup, menyisakanlingkar cahaya hangat di antara buku-buku dan kertas berserakan. Di luar, suara hujan tipis mengetuk-ngetuk kaca, seperti irama tak sabar yang mengiringi pikiranku. Aku duduk di tepi ranjang, lutut tertekuk, kedua tangan meremas struk obat Ibu yang harus segara aku tebus. Sejak meninggalkan ruangan Pak Althaf tadi, kata-katanya berulang-ulang memutar di kepalaku. Saya ingin mengajak kamu menikah... saya akan memberimu uang bulanan... mahar pernikahan... untuk membebaskan ayahmu... biaya pengobatan ibumu... Napas berat lolos dari dadaku. Bagaimana mungkin satu orang bisa meletakkan beban sebesar ini hanya dengan beberapa kalimat? Aku menutup wajah dengan kedua tangan. Dalam gelap yang tercipta, aku bisa melihat bayangan Ayah duduk di teras rumah, matanya merah, tangannya gemetar memegang gelas minuman murahan. Lalu wajah Ibu—pucat, lemah, dengan selang infus menusuk punggung tangannya. Dua orang yang begitu kucintai, yang nasibnya kini seperti boneka di tangan takdir. Dan di tengah semua itu... ada Althaf. Dosen yang selama ini hanya kukenal lewat tatapan tenangnya di kelas, yang kini tiba-tiba menjelma menjadi sosok yang mampu mengubah seluruh arah hidupku. Bukan dengan cinta, bukan dengan janji manis... tapi dengan sebuah tawaran yang rasanya seperti pintu keluar dari labirin gelap. Pintu keluar... yang mungkin sekaligus pintu masuk menuju penjara baru. Kupandangi langit malam di luar jendela. Lampu-lampu kota berkedip, seperti mata-mata asing yang mengawasi. Aku bertanya-tanya—apakah benar semua orang punya pilihan dalam hidupnya, atau sebagian dari kita hanya diberi ilusi untuk memilih? Hujan mulai deras. Dan di sela suara air yang menabrak atap, aku mendengar suaraku sendiri—lirih, nyaris tak terdengar—bertanya pada malam, Apakah aku harus menerimanya? Tiga ketukan pelan menyentuh pintu kamarku—seperti hujan pertama yang menyapa kaca, ragu namun tetap jatuh. Sunyi mengikutinya, lalu pintu terbuka perlahan. Ibu berdiri di sana, siluetnya dilatari cahaya lampu lorong. Di tangannya, sepiring nasi goreng mengepulkan uap, mengirim aroma bawang putih dan kecap manis yang merayap ke sudut-sudut hatiku, membangunkan kenangan masa kecil yang entah kenapa terasa asing. Aku menghapus sisa air mata dengan gerakan gugup, tapi Ibu selalu punya cara membaca wajahku—seperti membaca buku yang sudah dihafalnya puluhan kali. "Kamu dari tadi Ibu panggil... kok diam saja, Nak?" suaranya lembut, tapi di baliknya ada gurat cemas yang sulit disembunyikan. "Ibu udah siapkan nasi goreng buat makan malam. Ayah sama Ibu udah selesai makan." Ia meletakkan piring itu di meja belajarku yang reot—meja yang pernah menjadi saksi tawa kecilku, kini hanya menopang beban kertas dan sunyi. Tangannya, hangat dan penuh bekas kerja, mengusap puncak kepalaku. Aku bersandar di bahunya—bahu yang kurus, namun selalu seperti tembok terakhir saat semua runtuh. "Ibu..." suaraku pecah menjadi serpihan. "Ayah sering nyakitin Ibu... tapi kenapa Ibu masih saja melayaninya? Walau... walau nggak pernah dihargai." Aku menatap matanya—mata yang memeluk luka, namun tak pernah menyerah. Jemariku menyusuri garis-garis di wajahnya, seperti membaca peta hidup yang jalannya penuh tikungan tajam. Ibu tersenyum tipis. Senyum itu seperti malam yang dingin—tenang di luar, membeku di dalam. "Nak... bagaimanapun juga, dia tetap suami Ibu. Dia imam Ibu... surga Ibu ada padanya. Ibu yang memilih dia. Jadi, seburuk apa pun sifatnya... Ibu harus menerimanya." Ia berhenti, menatapku lama, seolah ingin menyalakan kata-kata ini di dadaku agar tak pernah padam. "Ingat, Nak... seburuk apa pun bapakmu, dia tetap bapakmu. Tetap suami Ibu. Itu pilihan Ibu... dan setiap pilihan punya harga yang harus dibayar, meski dengan hati sendiri." Kata-kata itu jatuh di hatiku seperti hujan deras di tanah retak—menyentuh, tapi juga membuat retakan semakin melebar. Suara Ibu berbaur dengan gema suara Pak Althaf dari siang tadi. Apa aku juga akan berjalan di jalan yang sama? Menikah bukan karena cinta, tapi karena pasrah pada takdir yang disodorkan? Bagaimana kalau aku pun kelak tersenyum sambil menyembunyikan perih, menelan malam demi malam tanpa suara? Aku menatap nasi goreng di meja—nasi sederhana, lahir dari tangan yang mencintai tanpa syarat, di rumah yang diam-diam menyimpan badai. Dan di sana, aku tiba-tiba takut... takut pada masa depan, takut pada wajah anakku kelak yang mungkin menatapku dengan mata yang sama sayunya seperti mata Ibu malam ini.Aku menatap mata Althaf beberapa detik, sebelum akhirnya memasang tawa renyah—palsu tentunya. “Yaelah, Lay. Mana mungkin cincin gue sama kayak punya Pak Althaf. Cincinnya beliau pasti berlian asli dari Tiffany & Co. Lah gue? Cuma cincin murah dari Tanah Abang.”Layla langsung ngakak sambil menepuk meja. “Hahaha, bener juga! Mana mungkin lo couple-an sama Pak Althaf. Bisa-bisa istrinya ngamuk, kan Pak?”Aku menelan ludah pelan. Dari sudut mataku, aku bisa melihat Revan menatapku tajam penuh curiga. Sedangkan Althaf? Ia malah tersenyum tipis, tenang sekali. Seolah nggak ada yang perlu ia sembunyikan.“Cemburu itu wajar,” jawab Althaf kalem. “Kalau seorang istri nggak cemburu, justru itu yang aneh.”Layla langsung nyamber dengan gaya bercandanya. “Kalau saya sih, Pak, jadi istri Bapak, udah ngekorin ke mana-mana. Bapak ganteng banget. Pasti banyak lebah yang mau nempel sama Bapak.”Aku hampir tersedak. Revan spontan memelototi Layla. “Layla, mulut Lo bisa di rem nggak sih.”Layla langsun
Kafetaria sore itu penuh sesak. Bau kopi hitam bercampur dengan wangi mie rebus dan suara mahasiswa yang berceloteh, menciptakan riuh rendah khas kampus. Di meja pojok dekat jendela, aku, Layla, dan Revan duduk mengelilingi laptop dengan catatan berserakan.“Jadi, inti film Pengepungan di Bukit Duri kan jelas ya, perjuangan pemuda melawan penjajah,” Layla membuka diskusi sambil mengetik cepat di laptop. Rambutnya yang diikat kuda bergoyang setiap kali ia menunduk. “Kalau analisisnya, gue kepikiran buat bahas sisi keberanian dan pengorbanan generasi muda. Itu pesan yang paling menonjol.”Revan menyandarkan tubuhnya, mengaduk es kopi hingga berbunyi ting… ting berulang. “Klise, La. Semua juga bisa ngomong soal pengorbanan. Menurut gue, yang menarik itu konflik batin tokoh utamanya. Dia sempet ragu, pengen kabur demi selamat, tapi akhirnya tetep bertahan. Itu lebih manusiawi, dan justru bikin kita bisa relate.”Aku yang sejak tadi mendengarkan akhirnya angkat suara. “Iya, gue setuju sam
Mata kuliah Althaf akhirnya usai. Mahasiswa mulai merapikan barang-barang mereka, begitu juga aku yang buru-buru memasukkan laptop dan alat tulis ke dalam tas, berharap bisa segera keluar dari kelas tanpa menarik perhatian.Namun sebelum sempat berdiri, suara berat itu terdengar, memecah riuh rendah kelas.“Senjani, saya tunggu di kantor.”Nada suaranya datar, dingin, tanpa memberi ruang untuk menolak. Ucapannya singkat, tapi cukup membuatku membeku di tempat.Ia langsung melangkah keluar, meninggalkan kelas dengan langkah mantap. Dari pintu, samar-samar kulihat Reihan sudah menunggunya—pria yang kukenal sebagai tangan kanannya di Dirgantara Textile, sekaligus asisten pribadinya.“Ada urusan apa lagi lo sama Pak Althaf, Sen?” suara Layla menyusul, penuh rasa penasaran. Tatapannya menyipit, seolah berusaha membaca rahasiaku. “Perasaan belakangan ini dia sering banget manggil lo.”Aku tersenyum kaku, mencoba menutupi gejolak yang tiba-tiba memenuhi dadaku. “Kayaknya… ngebahas tugas gue
Tanpa peringatan, bibir Althaf menekan bibirku.Aku terkejut. Mataku membelalak, tubuhku menegang. Tidak ada kelembutan di sana. Tidak ada kasih sayang. Hanya ada desakan yang kasar, penuh amarah, seolah ia ingin menghukumku dengan caranya sendiri.Aroma alkohol begitu pekat menyergap inderaku, bercampur dengan hangat napasnya yang terburu-buru. Gelas yang tadi ia letakkan di meja masih meninggalkan bau pahit di lidahku ketika ciumannya memaksa masuk.Tanganku refleks mendorong dadanya, namun genggamannya di pinggangku begitu kuat. Aku tak bisa ke mana-mana. Tubuhku seakan terperangkap dalam kurungan besi, membuat dadaku sesak dan sulit bernapas.Air mataku jatuh deras. Ciuman itu membuatku semakin hancur. Bibirku terasa perih, hatiku lebih perih lagi.Kenapa, Mas… kenapa sampai begini?Aku bukan merasa dicintai, aku merasa dilukai. Getaran amarah dan kepedihan yang ditumpahkannya lewat ciuman itu menusuk sampai ke tulang sumsumku.Aku berusaha menggeleng, berusaha melepaskan diri, na
Revan pernah mengatakan bahwa dia memiliki perasaan lebih terhadapku. Itu terjadi tepat di awal semester perkuliahan, di sebuah sore yang biasa, ketika aku sama sekali tidak menduganya. Aku masih ingat jelas ekspresinya saat itu—tulus, hangat, dan penuh keyakinan.Awalnya aku benar-benar kaget. Tak pernah terlintas dalam pikiranku bahwa Revan, sahabat yang sudah mengenalku sejak masa putih abu, ternyata menyimpan rasa yang lebih. Bagiku, Revan adalah rumah. Anak yang baik—terlalu baik, bahkan. Ia tahu cara membuat orang lain merasa aman. Kadang aku berpikir, dia lebih mengenalku daripada diriku sendiri.Sejak SMA, kedekatan kami begitu alami. Ia sering mampir ke rumah, kadang hanya untuk sekadar menumpang makan malam. Katanya, ia tak terbiasa makan sendirian di rumah. Aku tahu alasannya: orang tua Revan sering bepergian ke luar kota karena pekerjaan. Ibu bahkan sudah menganggap Revan seperti anaknya sendiri. Tak ada jarak di antara mereka; tak ada kecanggungan. Dan aku pun merasa nyam
Tanganku reffleks meremas celemek yang kukenakan. Pandangan itu menyesakkan-melihat Althaf masuk kafe, bukan sebagai suamiku, melainkan bersama seorang wanita lain... dosen kami sendiri, Bu Yuanita.Aku mencoba menegakkan senyum ramah, menyembunyikan getaran di dada. "Silakan masuk," ucapku terbata, meski suaraku terdengar nyaris bergetar.Althaf sama sekali tak menoleh ke arahku lagi. Ia justru berjalan lebih dulu, masih dengan genggaman tangan Bu Yuanita yang membuat langkahku terasa goyah. Seakan sengaja, Bu Yuanita terkekeh kecil, nada tawanya ringan, terlalu manis untuk seorang dosen di depan mahasiswanya.Aku bisa merasakan dua pasang mata mengawasi dari sudut kafe. Layla mencondongkan tubuhnya ke arah Revan, lalu berbisik pelan tapi cukup jelas kudengar."Eh, lihat deh. Kayaknya Bu Yuanita genit banget sama Pak Althaf, ya?"Revan mendengus sambil mengangkat alis, ekspresinya sinis. "Genit apaan, itu sih udah kelewatan. Mereka masuk kafe aja gandengan tangan, Lay. Kayak... bukan







