Share

BAB 3

Author: Mikaelach09
last update publish date: 2026-04-28 22:55:16

Namaku Sekar Senjani Paramitha. Usiaku dua puluh empat tahun– Mahasiswi FKIP Bahasa Inggris di Universitas Negeri Jakarta—seharusnya tahun ini aku sudah menyandang gelar sarjana, jika saja setahun lalu aku tidak memilih berhenti sementara demi merawat Ibu yang sakit.

Beberapa minggu terakhir, hidupku seperti terjebak di dalam lorong gelap tanpa ujung. Ayah—lelaki yang dulu kusebut pahlawan masa kecil—telah lama tenggelam dalam kubangan perjudian. Hingga pada suatu pagi, ia menghilang begitu saja, meninggalkan tumpukan utang puluhan juta rupiah di belakangnya. Penagihnya memberiku waktu lima hari. Lima hari untuk mencari uang yang bahkan tak sanggup kubayangkan jumlahnya.

Belum sempat aku mengatur napas, dunia kembali merampas. Penyakit jantung Ibu kambuh. Rumah sakit menelannya, dan dalam sekejap, tabungan terakhirku ikut menguap. Hari-hariku berubah menjadi hitungan mundur—menuju titik di mana aku akan benar-benar kehilangan segalanya.

Dan di tengah pusaran itu... dia datang.

Althaf Arsakha Dirgantara. Pria berusia tiga puluh empat tahun, dosen sekaligus kepala program studiku. Seseorang yang selama ini hanya kulihat di balik podium kelas, dengan tatapan dingin dan kata-kata terukur. Sosok yang tak pernah kusangka akan menyeberang masuk ke dalam lingkar kehidupanku—apalagi mengacaukan isinya.

Pertemuan kami singkat, seperti hantaman badai yang datang tanpa peringatan. Dari balik ketenangan suaranya, ia mengucapkan sebuah tawaran... atau mungkin lebih tepat disebut ultimatum.

Pernikahan.

Tanpa cinta. Tanpa janji kebahagiaan. Hanya sebuah kesepakatan hitam di atas putih. Sebagai gantinya, ia berjanji akan menyelesaikan seluruh masalahku—membayar utang, menanggung biaya pengobatan Ibu—dengan satu syarat: aku harus menjadi istrinya.

Di saat normal, aku akan menertawakan kegilaan itu. Tapi di tengah kenyataan yang kian menghimpit, tawaran itu terdengar seperti satu-satunya tali yang bisa kutarik... meski aku tak tahu apakah ujungnya akan menyelamatkan, atau justru menjerumuskan.

Waktu terus berjalan, dan tanpa kusadari... hari itu telah tiba. Hari di mana aku berjanji akan melunasi utang ayah.

Namun, dari semua upaya dan uang yang kupungut dari serpihan harapan, jumlahnya masih jauh... bahkan terlalu jauh dari target yang harus kubayarkan.

Aku duduk di tepi ranjang rumah sakit, memandangi Ibu yang terlelap di bawah cahaya lampu putih pucat. Selimutnya tersusun rapi, napasnya teratur—tenang, seakan dunia tidak sedang runtuh di sekitarnya. Tanganku meraih tangan Ibu yang dingin dan rapuh, jemariku mengusap kulitnya yang penuh guratan usia.

Dadaku tiba-tiba terasa seperti diremas. Mataku mulai buram, dan sebelum sempat kutahan, setetes air mata jatuh membasahi punggung tangan Ibu.

Kudekatkan wajahku, kubisikkan dengan suara yang hampir pecah, "Bu... doakan Senja, ya. Biar Senja kuat menjalani semua ini. Ibu harus cepat sembuh, biar kita bisa pulang... dan melewati semuanya bersama-sama."

Aku mengecup tangannya dengan lembut, berharap sentuhan itu mampu mengirimkan sebagian kekuatanku padanya. Namun hatiku tetap berat.

"Bu... apa Senja harus terima tawaran Pak Althaf? Apa cuma itu satu-satunya jalan buat kita keluar dari semua ini?"

Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibirku—pertanyaan yang tak mungkin dijawab oleh Ibu yang sedang tertidur lelap. Tapi di dalam hati, aku seakan menunggu sebuah isyarat... sesuatu yang akan menuntunku mengambil keputusan.

Air mataku kembali jatuh, membakar pipi yang dingin. Cepat-cepat kuusap, memaksa diriku kembali tegak. Aku mengecup kening Ibu sekali lagi, lalu berdiri dari kursi.

Begitu pintu kamar rawat Ibu kututup, udara di lorong rumah sakit terasa berbeda—lebih berat, seakan dunia di luar sana siap menelanku bulat-bulat. Dan aku tidak tahu... bahwa beberapa jam kemudian, di halaman kampus, tiga pria asing akan membawaku ke ujung napas.

Begitu pintu kamar rawat Ibu tertutup, aku melangkah menyusuri lorong rumah sakit. Setiap derap langkah terdengar seperti gema yang memantul di dinding hatiku—menghitung mundur waktu yang tersisa. Aku tak punya banyak pilihan.

Beberapa jam kemudian, aku tiba di kampus. Langit siang itu kelabu, seolah ikut menekan napasku. Aku baru saja keluar dari gerbang fakultas ketika telingaku menangkap suara berat dan kasar di belakang.

"Eh, itu dia perempuan yang kita cari!"

Tubuhku refleks menegang. Aku menoleh cepat—tiga pria berpakaian kasual, wajah mereka asing tapi sorot mata mereka menusuk, seperti predator yang menemukan mangsanya. Jantungku berdegup liar. Aku tahu siapa mereka. Penagih hutang itu.

Aku berbalik dan mempercepat langkah, mencoba berpura-pura tidak mendengar. Tapi suara langkah kaki mereka semakin dekat... dan berat.

"Hei, jangan lari lo!" teriak salah satu dari mereka, nada suaranya mengancam.

Aku mulai berlari. Nafasku memburu, derap sepatuku berpacu dengan detak jantung. Beberapa mahasiswa menoleh heran, tapi tak satu pun yang berani menghentikan mereka. Rasanya seperti seluruh dunia menyempit, hanya menyisakan lorong panjang di antara gedung-gedung kampus.

Tiba-tiba, lenganku terhentak keras. Salah satu dari mereka berhasil meraihku.

"Aduh! Lepasin!" teriakku, mencoba melepaskan diri.

Belum sempat aku panik lebih jauh, sebuah suara dalam dan tegas memotong udara.

"Let her go."

Aku menoleh cepat. Di ujung tangga fakultas, berdiri Althaf. Tubuhnya tegak, sorot matanya menusuk tajam, seperti panah yang siap dilepaskan. Satu tangannya terselip di saku celana, tapi ketegangan yang terpancar dari rahangnya membuat udara di sekitarnya terasa lebih dingin.

"Nggak usah ikut campur deh, Pak. Perempuan ini punya tanggungan yang harus diselesaikan," ujar pria berjaket kulit, suaranya sinis.

Pak Althaf melangkah maju, tatapannya tidak bergeser sedikit pun.

"Tanggungan siapa?"

"Ayahnya. Laki-laki brengsek itu udah utang puluhan juta ke bos kami, dan dia ini—" pria itu menunjuk ke arahku "—sekarang yang harus bayar. Dia janji bakal ngelunasi hari ini, tapi tiba-tiba ngilang saja nggak ada kabar."

Aku merasakan darahku mengalir dingin. Napasku tercekat.

Namun Althaf justru tersenyum tipis, dingin. "Lucu. Kalian menagih pada anak perempuan yang bahkan tidak ikut berjudi. Apa pantas kalian menindas perumpuan seperti ini? Memalukan."

"Jaga omongan, Pak. Kami cuma menjalankan perintah," balas pria lain, suaranya mulai meninggi.

"Perintah untuk mengintimidasi mahasiswi di lingkungan kampus?" Althaf mengangkat alisnya. "Kalian pikir saya akan diam? Saya bisa saja melapor ke pihak berwenang... atau membuat kalian tidak bisa berkeliaran di sini lagi."

Pria berjaket kulit itu mendengus, tapi aku melihat keraguan di matanya.

"Kalau dia nggak bayar, kami akan terus datang. Itu perjanjian."

"Perjanjian dengan ayahnya, bukan dengan dia," Althaf membalas tegas. "Mulai sekarang, kalian berurusan dengan saya. Satu langkah saja kalian mendekatinya lagi, saya pastikan kalian menyesal."

Keheningan tegang menggantung. Mereka saling pandang, lalu perlahan melepaskan cengkeraman di lenganku. Aku segera mundur, tanpa sadar berdiri lebih dekat di belakang Althaf. Aroma parfum maskulinnya samar-samar tercium, menenangkan, meski jantungku masih berdegup tak karuan.

Akhirnya, ketiga pria itu mundur sambil melemparkan tatapan tajam.

"Masalah ini belum selesai, Pak," ucap salah satu dari mereka sebelum berbalik pergi.

Althaf hanya berdiri diam, matanya mengikuti hingga mereka menghilang dari pandangannya. Lalu ia menoleh sedikit padaku, suaranya rendah namun tegas,

"Ikut saya. Kita perlu bicara."

Aku menelan ludah dan hanya bisa mengangguk, mengikuti langkahnya... dengan pikiran yang berkecamuk.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BAB 74

    Althaf menoleh penuh kasih sayang. Tangannya beralih menangkup pipiku, memaksa mataku bertemu dengan matanya.“Badan kamu juga sudah bagus, Sayang,” ucapnya lembut. “Jangan pernah merasa kurang di depan saya. Kamu sempurna. Tapi nggak apa-apa, kita ubah pola hidupnya perlahan-lahan agar lebih sehat. Kita lakukan ini bukan untuk mencapai standar tertentu, tapi untuk diri kita, agar stamina kita kuat untuk menjalani hari-hari yang panjang ke depan, berdua.”Ia mencium bibirku singkat, lalu bangkit “Ayo ganti baju, Sayang, atau kamu mau saya yang pakaikan kamu?” ucapnya menggoda, matanya mengerling nakal. “Saya sih dengan senang hati melakukannya.”Aku tertawa, merasakan pipiku memanas. Godaan Althaf di pagi hari terasa manis dan benar-benar baru.“Ihh, itu mah memang maunya Mas!” balasku, melempar bantal ke arahnya. “Nanti kita bisa telat lari pagi, dan yang ada Mas malah nge-gym di kamar.”Althaf menangkap bantal itu dengan mudah, ekspresinya pura-pura kecewa. Ia membalik bantal itu, m

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BAB 73

    Sekitar empat puluh menit kemudian, kami tiba di kawasan elit pusat kota. Althaf memarkir mobilnya dengan sigap di valet parking depan sebuah restoran Jepang modern dengan fasad kayu yang elegan—Kanpai Sushi.Saat kami melangkah masuk, suasana di dalamnya terasa intim, dengan pencahayaan temaram dan alunan musik tradisional Jepang yang lembut. Althaf menyebutkan namanya pada resepsionis, dan kami langsung diantar ke sebuah ruangan kecil yang disekat—benar-benar private.Aku duduk di kursi empuk itu, menatap Althaf yang tampak jauh lebih santai—kemejanya tidak lagi terasa kaku. Malam ini, dia benar-benar mengenyahkan persona dosennya.“Selamat datang di date night kita yang pertama, Senjani,” ucapnya, mendorong menu ke depanku dengan senyum menawan.“Date night pertama tanpa kontrak dan tanpa batas waktu,” balasku, tersenyum lega. Aku membuka menu, tapi mataku hanya mencari satu nama.“Saya sudah tahu mau pesan apa.”“Tentu saja. Spicy salmon roll,” tebak Althaf tanpa melihat menu.“Da

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BAB 72

    Aku hanya bisa berdiri mematung di sana, menyaksikan punggung Revan perlahan menjauh. Saat punggungnya benar-benar hilang dari pandangan, bendungan air mataku pun pecah. Aku menutup wajahku dengan kedua tangan, bahuku terguncang oleh isak tangis yang tertahan. Aku menangis dalam diam, meratapi akhir dari babak yang indah—persahabatan yang harus dikorbankan demi babak baru dalam hidupku. Tiba-tiba, sebuah mobil hitam mewah berhenti mendadak tepat di depanku. Pintu mobil terbuka, dan Althaf keluar dengan langkah cepat. Wajahnya yang biasanya tenang kini diliputi kekhawatiran yang jelas. Ia segera menghampiriku. “Senjani? Sayang, ada apa?” tanyanya, suaranya dalam dan cemas, refleks meraih lenganku. Ia menarik lembut tanganku dari wajahku yang basah oleh air mata. “Kenapa kamu menangis? Ada yang menyakitimu?” Aku tidak bisa menahan tangis lagi. Melihat wajahnya yang khawatir justru membuatku semakin lega untuk meluapkan segalanya. “Revan, Mas…” bisikku lirih, menatap matanya yan

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BAB 71

    Aku memutuskan untuk menunggu di tempat yang lebih nyaman. Aku tidak mau berdiri canggung di gerbang yang ramai kendaraan, jadi aku memilih pindah ke taman kecil di depan fakultas, tempat yang teduh dan sejuk.Aku duduk di bangku kayu di bawah pohon yang rimbun. Jam menunjukkan pukul empat sore, suasana kampus mulai sepi. Sinar matahari sudah mulai condong, menciptakan bayangan panjang di antara pepohonan. Udara sore terasa sejuk, beraroma tanah dan dedaunan. Beberapa mahasiswa masih terlihat duduk berkelompok di kejauhan, tapi aku sendirian di bangku ini, merenungi semua yang baru saja kualami.Aku mengeluarkan ponsel, membalas pesannya lagi.[Sent to : Mas Althaf]‘Take your time, Super Althaf. I’ll wait here. Hati-hati di Jalan Cendrawasih ya!’Aku menyandarkan kepala, menikmati ketenangan sore itu, siap menyambut suami yang akan datang menjemputku sebagai suami seutuhnya.Tepat saat aku sedang fokus menatap layar ponsel, mencoba membunuh rasa bosan sambil menunggu, suara langkah pe

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BAB 70

    Aku menutup mulutku dengan punggung tangan, menekan bagian bawah bibirku. Napasku terengah, berusaha mengambil oksigen tanpa harus menghirup aroma kopi yang kini terasa memuakkan.“Gue juga nggak tahu, Lay,” jawabku, suaraku masih sedikit bergetar. Aku berusaha meyakinkan diriku sendiri bahwa ini hanya masalah pencernaan biasa.Tanpa banyak bicara, Layla langsung bangkit berdiri, tanggapannya cepat dan penuh inisiatif. “Bentar, biar gue beliin air mineral.”Dia berlari kecil ke meja kasir, bergerak cepat seperti kilat. Tak lama kemudian, Layla kembali dengan sebotol air mineral dingin yang ia sodorkan padaku.“Minum ini pelan-pelan,” perintahnya, nada suaranya lembut tapi tegas.Aku menerima botol itu dan meneguk air dingin itu perlahan, berusaha menetralkan rasa mual yang masih tersisa di tenggorokan. Air mineral terasa begitu menyegarkan di tengah gejolak aneh di perutku. Setelah menghabiskan separuh botol, napasku mulai teratur.“Gimana?” Layla bertanya, wajahnya masih menunjukkan

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BAB 69

    Kuliah terakhir sore itu terasa lebih cepat dari yang kubayangkan. Mungkin karena aku tahu siapa yang akan menjemput dan menungguku setelah ini. Begitu dosen mengakhiri sesi, aku dan Layla langsung bergerak cepat keluar kelas. Kami memilih sudut outdoor kafetaria kampus yang agak sepi, tempat strategis yang terlindung dari keramaian sore hari untuk sesi curhat tanpa gangguan.Layla sudah lebih dulu mengambilkan dua cangkir kopi dingin dan menatanya di meja. Begitu kami duduk, Layla segera mencondongkan tubuhnya ke arahku, matanya yang tajam menuntut cerita. Ekspresinya seperti detektif yang siap mengungkap misteri terbesar abad ini.“Oke, spill semua! Jangan ada yang disensor, jangan ada yang dilewatkan!” tuntut Layla, nadanya penuh hasrat ingin tahu yang membara. “Gue nggak mau dengar soal rumus tenses atau speaking dari lu. Gue mau detail drama Cinderella pagi tadi, dari A sampai Z!”Aku tertawa kecil, menikmati momen dramatis ini. “Sabar, Lay. Nafas dulu, ini cerita panjang dan but

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BAB 64

    Althaf menunduk, melanjutkan makannya. Suasana meja makan kembali hening, hanya ada suara dentingan sendok beradu piring. Kehangatan Rawon perlahan mengisi perutnya, tapi beban di pundaknya masih terasa berat. Aku hanya memperhatikannya, tidak lagi berbicara, membiarkan kehadiranku saja yang menema

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BAB 65

    Warning: Mature/Adult Content ahead. This chapter is intended for mature readers only.Tubuhku menekan tubuhnya, lututku berada di samping pinggulnya. Aku bisa merasakan setiap inci otot Althaf yang menegang di bawah kaus hitam itu, respons spontan terhadap keberanianku. Ciuman kami semakin dalam d

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BAB 63

    Aku melihat jam di ponsel. Pukul 22:45. Aku mematikan lampu kamar, hanya menyisakan lampu tidur. Aku menuju ruang tengah, duduk di sofa, menunggu. Aku menegakkan punggung, menenangkan napas. Aku sudah membuat Rawon, menciptakan suasana hangat, dan mengenakan 'seragam perang' yang tepat.Malam ini,

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BAB 62

    Aku dan Layla bergegas meninggalkan coffee shop menuju pusat perbelanjaan. Layla bersikeras bahwa untuk menandingi tekanan Dirgantara Textile yang membebani Althaf, kami butuh butik yang tepat. Di dalam mobil, aku masih memegang setir dengan diam memikirkan misi mendadak ini.“Gue nggak tahu deh, L

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status