LOGINNamaku Sekar Senjani Paramitha. Usiaku dua puluh empat tahun– Mahasiswi FKIP Bahasa Inggris di Universitas Negeri Jakarta—seharusnya tahun ini aku sudah menyandang gelar sarjana, jika saja setahun lalu aku tidak memilih berhenti sementara demi merawat Ibu yang sakit.
Beberapa minggu terakhir, hidupku seperti terjebak di dalam lorong gelap tanpa ujung. Ayah—lelaki yang dulu kusebut pahlawan masa kecil—telah lama tenggelam dalam kubangan perjudian. Hingga pada suatu pagi, ia menghilang begitu saja, meninggalkan tumpukan utang puluhan juta rupiah di belakangnya. Penagihnya memberiku waktu lima hari. Lima hari untuk mencari uang yang bahkan tak sanggup kubayangkan jumlahnya. Belum sempat aku mengatur napas, dunia kembali merampas. Penyakit jantung Ibu kambuh. Rumah sakit menelannya, dan dalam sekejap, tabungan terakhirku ikut menguap. Hari-hariku berubah menjadi hitungan mundur—menuju titik di mana aku akan benar-benar kehilangan segalanya. Dan di tengah pusaran itu... dia datang. Althaf Arsakha Dirgantara. Pria berusia tiga puluh empat tahun, dosen sekaligus kepala program studiku. Seseorang yang selama ini hanya kulihat di balik podium kelas, dengan tatapan dingin dan kata-kata terukur. Sosok yang tak pernah kusangka akan menyeberang masuk ke dalam lingkar kehidupanku—apalagi mengacaukan isinya. Pertemuan kami singkat, seperti hantaman badai yang datang tanpa peringatan. Dari balik ketenangan suaranya, ia mengucapkan sebuah tawaran... atau mungkin lebih tepat disebut ultimatum. Pernikahan. Tanpa cinta. Tanpa janji kebahagiaan. Hanya sebuah kesepakatan hitam di atas putih. Sebagai gantinya, ia berjanji akan menyelesaikan seluruh masalahku—membayar utang, menanggung biaya pengobatan Ibu—dengan satu syarat: aku harus menjadi istrinya. Di saat normal, aku akan menertawakan kegilaan itu. Tapi di tengah kenyataan yang kian menghimpit, tawaran itu terdengar seperti satu-satunya tali yang bisa kutarik... meski aku tak tahu apakah ujungnya akan menyelamatkan, atau justru menjerumuskan. Waktu terus berjalan, dan tanpa kusadari... hari itu telah tiba. Hari di mana aku berjanji akan melunasi utang ayah. Namun, dari semua upaya dan uang yang kupungut dari serpihan harapan, jumlahnya masih jauh... bahkan terlalu jauh dari target yang harus kubayarkan. Aku duduk di tepi ranjang rumah sakit, memandangi Ibu yang terlelap di bawah cahaya lampu putih pucat. Selimutnya tersusun rapi, napasnya teratur—tenang, seakan dunia tidak sedang runtuh di sekitarnya. Tanganku meraih tangan Ibu yang dingin dan rapuh, jemariku mengusap kulitnya yang penuh guratan usia. Dadaku tiba-tiba terasa seperti diremas. Mataku mulai buram, dan sebelum sempat kutahan, setetes air mata jatuh membasahi punggung tangan Ibu. Kudekatkan wajahku, kubisikkan dengan suara yang hampir pecah, "Bu... doakan Senja, ya. Biar Senja kuat menjalani semua ini. Ibu harus cepat sembuh, biar kita bisa pulang... dan melewati semuanya bersama-sama." Aku mengecup tangannya dengan lembut, berharap sentuhan itu mampu mengirimkan sebagian kekuatanku padanya. Namun hatiku tetap berat. "Bu... apa Senja harus terima tawaran Pak Althaf? Apa cuma itu satu-satunya jalan buat kita keluar dari semua ini?" Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibirku—pertanyaan yang tak mungkin dijawab oleh Ibu yang sedang tertidur lelap. Tapi di dalam hati, aku seakan menunggu sebuah isyarat... sesuatu yang akan menuntunku mengambil keputusan. Air mataku kembali jatuh, membakar pipi yang dingin. Cepat-cepat kuusap, memaksa diriku kembali tegak. Aku mengecup kening Ibu sekali lagi, lalu berdiri dari kursi. Begitu pintu kamar rawat Ibu kututup, udara di lorong rumah sakit terasa berbeda—lebih berat, seakan dunia di luar sana siap menelanku bulat-bulat. Dan aku tidak tahu... bahwa beberapa jam kemudian, di halaman kampus, tiga pria asing akan membawaku ke ujung napas. Begitu pintu kamar rawat Ibu tertutup, aku melangkah menyusuri lorong rumah sakit. Setiap derap langkah terdengar seperti gema yang memantul di dinding hatiku—menghitung mundur waktu yang tersisa. Aku tak punya banyak pilihan. Beberapa jam kemudian, aku tiba di kampus. Langit siang itu kelabu, seolah ikut menekan napasku. Aku baru saja keluar dari gerbang fakultas ketika telingaku menangkap suara berat dan kasar di belakang. "Eh, itu dia perempuan yang kita cari!" Tubuhku refleks menegang. Aku menoleh cepat—tiga pria berpakaian kasual, wajah mereka asing tapi sorot mata mereka menusuk, seperti predator yang menemukan mangsanya. Jantungku berdegup liar. Aku tahu siapa mereka. Penagih hutang itu. Aku berbalik dan mempercepat langkah, mencoba berpura-pura tidak mendengar. Tapi suara langkah kaki mereka semakin dekat... dan berat. "Hei, jangan lari lo!" teriak salah satu dari mereka, nada suaranya mengancam. Aku mulai berlari. Nafasku memburu, derap sepatuku berpacu dengan detak jantung. Beberapa mahasiswa menoleh heran, tapi tak satu pun yang berani menghentikan mereka. Rasanya seperti seluruh dunia menyempit, hanya menyisakan lorong panjang di antara gedung-gedung kampus. Tiba-tiba, lenganku terhentak keras. Salah satu dari mereka berhasil meraihku. "Aduh! Lepasin!" teriakku, mencoba melepaskan diri. Belum sempat aku panik lebih jauh, sebuah suara dalam dan tegas memotong udara. "Let her go." Aku menoleh cepat. Di ujung tangga fakultas, berdiri Althaf. Tubuhnya tegak, sorot matanya menusuk tajam, seperti panah yang siap dilepaskan. Satu tangannya terselip di saku celana, tapi ketegangan yang terpancar dari rahangnya membuat udara di sekitarnya terasa lebih dingin. "Nggak usah ikut campur deh, Pak. Perempuan ini punya tanggungan yang harus diselesaikan," ujar pria berjaket kulit, suaranya sinis. Pak Althaf melangkah maju, tatapannya tidak bergeser sedikit pun. "Tanggungan siapa?" "Ayahnya. Laki-laki brengsek itu udah utang puluhan juta ke bos kami, dan dia ini—" pria itu menunjuk ke arahku "—sekarang yang harus bayar. Dia janji bakal ngelunasi hari ini, tapi tiba-tiba ngilang saja nggak ada kabar." Aku merasakan darahku mengalir dingin. Napasku tercekat. Namun Althaf justru tersenyum tipis, dingin. "Lucu. Kalian menagih pada anak perempuan yang bahkan tidak ikut berjudi. Apa pantas kalian menindas perumpuan seperti ini? Memalukan." "Jaga omongan, Pak. Kami cuma menjalankan perintah," balas pria lain, suaranya mulai meninggi. "Perintah untuk mengintimidasi mahasiswi di lingkungan kampus?" Althaf mengangkat alisnya. "Kalian pikir saya akan diam? Saya bisa saja melapor ke pihak berwenang... atau membuat kalian tidak bisa berkeliaran di sini lagi." Pria berjaket kulit itu mendengus, tapi aku melihat keraguan di matanya. "Kalau dia nggak bayar, kami akan terus datang. Itu perjanjian." "Perjanjian dengan ayahnya, bukan dengan dia," Althaf membalas tegas. "Mulai sekarang, kalian berurusan dengan saya. Satu langkah saja kalian mendekatinya lagi, saya pastikan kalian menyesal." Keheningan tegang menggantung. Mereka saling pandang, lalu perlahan melepaskan cengkeraman di lenganku. Aku segera mundur, tanpa sadar berdiri lebih dekat di belakang Althaf. Aroma parfum maskulinnya samar-samar tercium, menenangkan, meski jantungku masih berdegup tak karuan. Akhirnya, ketiga pria itu mundur sambil melemparkan tatapan tajam. "Masalah ini belum selesai, Pak," ucap salah satu dari mereka sebelum berbalik pergi. Althaf hanya berdiri diam, matanya mengikuti hingga mereka menghilang dari pandangannya. Lalu ia menoleh sedikit padaku, suaranya rendah namun tegas, "Ikut saya. Kita perlu bicara." Aku menelan ludah dan hanya bisa mengangguk, mengikuti langkahnya... dengan pikiran yang berkecamuk.Empat tahun telah berlalu, namun rasa syukur yang mengalir di hatiku tak pernah berkurang barang sedikit pun. Semuanya terasa seperti mimpi yang tak ingin kusudahi.Sinar matahari sore yang keemasan kini memayungi hamparan pasir putih di depan kami. Suara deburan ombak berpadu mesra dengan gelak tawa yang begitu damai—suara yang kini menjadi musik favoritku setiap hari. Di tepian air, aku melihat Althaf sedang berlarian kecil, mengejar seorang gadis mungil yang tak henti-hentinya tertawa kegirangan.Renjana Arunika Dirgantara.Putri kecil kami yang kini telah berusia empat tahun. Banyak yang bilang ia adalah jiplakanku—mulai dari mata bulatnya yang jernih hingga senyumnya yang manis dan hangat. Namun, sifat keras kepala dan cara bicaranya yang cerdas jelas merupakan warisan mutlak dari ayahnya.“Papa, ayo kejar Njana!” teriaknya sambil berlari menghindari ombak kecil. Gaun pantai putihnya tampak berkibar tertiup angin, membuatnya terlihat seperti
Theresa menopang dagu, menatap Keenan yang sekarang asyik memainkan sendok es krimnya dengan saksama. “Iya. Dulu, waktu aku mengandung Keenan, ada satu fase di mana aku benci banget melihat muka Mas Althaf. Padahal ya... dia ada di sana terus, menemani aku.”Ia menjeda kalimatnya, lalu tersenyum tipis. “Lucu ya, kata orang tua dulu kalau kita benci sama seseorang saat hamil, anaknya malah jadi mirip orang itu. Sepertinya mitos itu terjadi padaku.”Ia lalu beralih menatapku. Sorot matanya kini berkilat, menyimpan rahasia yang membuatku semakin sesak.“Tapi kenyataannya, memang Mas Althaf yang paling banyak membantuku saat itu. Kamu pasti tahu kan, rumor yang beredar di luar sana? Kami memang sedekat itu. Bahkan sampai Keenan lahir, Mas Althaf nggak pernah absen untuk memastikan kami berdua baik-baik saja.”Darahku terasa berdesir dingin. Kalimat Theresa barusan seolah membenarkan semua ketakutan yang selama ini hanya berputar di kepalaku sebagai go
Baru saja suasana menjadi damai, ponselku kembali bergetar nyaring. Nama ‘My hubby 🤍’ muncul di layar. Aku segera mengangkatnya, menyadari betapa cepatnya ‘laporan pandangan mata’ dari Pak Jaka sampai ke telinganya.“Halo, Mas?”“Sayang, kamu di mana? Barusan Pak Jaka bilang Revan nyamperin meja kamu?” Suara Mas Althaf terdengar berat dan cemas. Nada posesifnya yang khas langsung keluar begitu saja.Aku tertawa kecil, melirik ke arah Pak Jaka yang memang tetap setia mengawasi dari kejauhan. “Tenang, Mas. Revan cuma mampir sebentar buat ngucapin selamat, kok. Semuanya baik-baik saja, sekarang dia sudah pergi.”Terdengar helaan napas panjang di seberang sana, seolah beban beratnya baru saja terangkat. “Baguslah kalau dia tahu diri. Terus, bekal kamu gimana? Salmonnya dihabiskan, Senjani? Jus alpukatnya juga jangan lupa diminum, ya. Itu bagus buat dedek bayi.”Aku melirik kotak bekalku yang sudah hampir kosong. “Ini lagi aku makan, Mas. Tin
Sejak kabar bahagia itu, Althaf benar-benar berubah menjadi pria yang sepuluh kali lipat lebih protektif. Kini, aku bahkan dilarang keras menyentuh dapur. Di apartemen kami sekarang sudah ada asisten rumah tangga yang membantu membereskan rumah, memasak, dan bersih-bersih. Beliau hanya datang pagi hingga sore hari, karena Althaf bersikeras tidak ingin ada orang lain yang mengganggu privasi kami saat malam tiba.Soal makanan, perhatiannya sudah di tahap luar biasa. Dia tidak lagi mengizinkanku jajan sembarangan di kantin kampus. Semua asupan harus sesuai dengan standar gizi ibu hamil. Bahkan untuk ke kampus pun, ia meminta asisten kami menyiapkan bekal lengkap; mulai dari menu utama, potongan buah segar, hingga jus murni tanpa gula.Awalnya aku merasa Althaf berlebihan, tapi lama-lama aku sadar bahwa ini adalah caranya mencintaiku. Karena kesibukan kantor yang sedang padat-padatnya membuat ia tidak bisa mengantar-jemputku setiap saat, ia sampai menyewa sopir pribadi
Althaf mulai memotong steak di piringnya dengan gerakan tenang. Sesekali ia melirikku, seolah memastikan bahwa aku benar-benar ada di hadapannya malam ini, bukan sekadar imajinasi. Setelah suapan pertama, matanya sedikit terpejam, menikmati rasa masakan yang kusajikan.Ia meletakkan garpu sejenak, lalu menatapku dengan binar mata yang begitu hangat.“Senjani,” panggilnya pelan, suaranya berat namun terdengar sangat lembut. “Kalau setiap hari kamu masak kayak gini, sepertinya aku harus siap-siap ganti semua ukuran celanaku jadi lebih besar.”Aku tertawa kecil mendengarnya, refleks menutupi mulutku karena malu. “Maksudnya, Mas mau bilang kalau masakan aku terlalu banyak lemak, ya?”“Bukan begitu,” sanggahnya cepat. Ia menjangkau jemariku di atas meja, mengusap punggung tanganku dengan ibu jari secara perlahan. “Maksudku, masakanmu ini berbahaya. Bikin nagih. Aku bisa gemuk karena aku nggak akan pernah mau makan di luar lagi kalau di rumah saja ada koki
Layla menghela napas panjang. Ia menggenggam tanganku lebih erat, seolah ingin menyalurkan kekuatannya. Tatapannya yang tadi penuh canda kini berubah menjadi sangat serius.“Sen, dengerin gue,” ucap Layla tegas. “Lo jangan naif dan jangan kebiasaan buat berpikir buruk sebelum mencoba. Gue tahu pernikahan kalian awalnya emang nggak biasa, tapi lo lihat sendiri gimana perlakuan Pak Althaf ke lo belakangan ini. Apa menurut lo perhatiannya itu cuma akting?”Aku terdiam. Memoriku kembali berputar, membayangkan cara Mas Althaf menatapku di depan kafetaria tadi pagi, juga betapa hangat pelukannya semalam.“Dia itu sayang banget sama lo, Senjani,” lanjut Layla meyakinkan. “Dan gue berani jamin, dia pasti bahagia denger kabar ini. Bagi laki-laki kayak Pak Althaf, punya anak dari perempuan yang dia cintai itu bukan beban, melainkan anugerah. Jadi, berhenti buat skenario buruk di kepala lo sendiri.”Aku menatap Layla dengan ragu. “Tapi gimana kalau ternyata gue salah, Lay? Gimana kalau sebenerny
Pernikahan itu akhirnya berlangsung tiga minggu setelah aku mengatakan pada Althaf bahwa aku menerima tawarannya. Tiga minggu yang terasa seperti berjalan di atas bara, antara ragu dan pasrah, antara luka dan harapan.Segala syarat yang ia tuliskan dalam kontrak pernikahan menjadi belenggu sekaligu
Aku masih bisa merasakan gemetar di kakiku ketika duduk di sofa ruang Althaf. Nafasku terengah, wajahku pucat, sementara bayangan pria-pria tadi masih menari di kepalaku. Jaketku basah, kemejaku kusut, tapi lebih dari itu... hatiku terasa campur aduk-antara takut, marah, dan malu.Althaf menutup pi
Suara benturan keras memecah sunyi, disusul suara perabot terjatuh. Aku terperanjat dari tidur lelapku. Jantungku berdegup liar, napasku tercekat.“Ibu…” gumamku panik.Tanpa pikir panjang, aku menyingkap selimut dan melompat dari ranjang. Kaki telanjangku menghantam lantai dingin saat aku berlari
Aku mengetuk tiga kali pintu kayu besar dengan ukiran elegan itu. Setelah terdengar sahutan singkat dari dalam, perlahan aku membuka pintu dan melangkah masuk ke ruang kerja Althaf.Ruangan itu luas, berwibawa, dan sunyi. Sebuah meja kerja besar berdiri kokoh di tengah, menghadap langsung ke jendel







