LOGINCHAPTER 2
Kamar asrama itu sunyi. Summer duduk di tepi tempat tidurnya sambil memegang buku asesmen yang terbuka di pangkuannya. Beberapa pulpen sudah berjajar rapi di sampingnya, sementara seragam RCA untuk besok tergantung rapi di pintu lemari. Semua sudah siap, tetapi tangan Summer masih saling menggenggam erat di atas bukunya sendiri. Ia menarik napas lalu mengembuskannya perlahan sambil melirik ke arah pintu kamar, lalu ke arah jendela besar di samping ranjang. Cahaya lampu taman kampus terlihat samar dari kejauhan, tapi detak jantungnya masih belum tenang sejak tadi. Beberapa saat kemudian, pintu kamar tiba-tiba terbuka dan Summer langsung mengangkat kepala cepat. “Oh— maaf! Aku bikin kaget?” Seorang gadis masuk sambil menyeret koper besar di belakangnya. Langkahnya ringan, senyumnya lebar, sangat berbeda dari suasana kamar yang sejak tadi terasa sunyi. “Aku Emma. Teman sekamarmu.” Summer langsung berdiri sambil merapikan ekspresinya. “Hai. Aku Summer.” Emma berjalan masuk sambil melihat sekeliling kamar, lalu tatapannya berhenti pada buku di tangan Summer. “Wow, kamu udah mulai belajar?” Summer langsung melihat bukunya sebentar sebelum menjawab pelan, “Hanya sedikit mengulang.” Emma langsung menjatuhkan tubuhnya ke kasur sebelah sambil menghela napas panjang. “Aku bahkan belum berani buka buku.” Ia menutup wajahnya pakai kedua tangan. “Aku takut lihat isi materinya.” Melihat reaksinya, Summer tanpa sadar tersenyum kecil. Emma lalu mulai membongkar barang-barangnya sendiri sambil terus bicara. Tangannya sibuk menyusun skincare, buku, dan beberapa pakaian ke dalam lemari. “Gugup asesmen?” tanyanya sambil menutup laci. Summer mengangguk "Iya." “Aku juga,” jawab Emma cepat sambil duduk bersila di kasurnya. “Apalagi aku penerima beasiswa. Jadi ekstra takut.” Summer menoleh sedikit. “Takut kenapa?” Emma mengangkat bahu kecil. “Takut gagal mempertahankan tempatku di sini.” Summer hanya diam dan tatapannya turun kembali ke halaman yang terbuka di pangkuannya, sementara kata-kata Emma terus terngiang di kepalanya. “Royal Crest memang beda yah.” Emma membuka salah satu laci meja belajar. “Lihat saja kamar kita...interiornya kayak hotel bintang lima kan?.” Summer mengangguk. “Iya.” Ia membaca buku sambil terus mendengarkan Emma. Emma langsung merendahkan suaranya meski kamar mereka kosong. “Oyah, ngomong-ngomong kamu lihat lima cowok yang masuk tadi pagi itu gak?” Tangan Summer langsung berhenti sebentar di atas bukunya. “Iya,” jawabnya pelan. “Nah. Semua rumor paling serem di sekolah ini selalu nyambung ke mereka.” Emma masih sibuk menyusun barang-barangnya sendiri. “Terutama yang di tengah.” Summer tidak bertanya siapa yang Emma maksud karena ia langsung tahu. Emma berdiri, mengambil handuknya, lalu berbalik ke arahnya. “Aku mandi dulu ya.” Summer hanya mengangguk kecil. “Oke.” Begitu pintu kamar mandi tertutup dan suara shower mulai terdengar, Summer langsung mengambil ponselnya yang bergetar di atas nakas. 💬 Jess: Sudah beres? Asesmen besar besok. Kamu pasti bisa. 💬 Summer: Semoga. 💬 Jess: Kamu selalu bilang begitu. Jangan lupa — aku sudah tahun kedua SMA. Stres ini resmi milikmu sekarang 😅 💬 Summer: Kejam. 💬 Jess: Senior privilege 😌 Summer menggeleng kecil sambil menahan senyum. 💬 Jess: Teman sekamarmu sudah datang? 💬 Summer: Sudah. Namanya Emma. 💬 Jess: Iya aku tahu 😭 Dia baik kok. Cerewet sedikit tapi aman... ketemu setelah asesmen ya? 💬 Summer: Iya. Summer akhirnya meletakkan ponselnya lalu merebahkan tubuh di atas ranjang sambil menatap langit-langit kamar. Beberapa menit kemudian Emma keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya pakai handuk. “Kamu belum tidur?” “Belum.” Jawab Summer pelan. Emma langsung melirik jam di meja. “Kalau aku gagal besok, tolong bilang di pemakamanku kalau aku sebenarnya pintar.” Summer langsung menoleh pelan. “Kamu berlebihan.” “Aku realistis.” Summer kembali menatap langit-langit kamar sambil menarik selimutnya pelan. Dan malam itu, matanya baru benar-benar terpejam jauh lebih lama dari biasanya. ── ☀︎ ── Keesokan paginya asrama sudah ramai, murid-murid baru berlalu-lalang di lorong sambil membawa tablet dan catatan. Emma sudah menunggu di depan kamar ketika Summer keluar sambil merapikan tali tasnya. “Siap?” tanyanya. Summer mengembuskan napas pelan. “Sebisaku.” Emma memegang dadanya sendiri dengan wajah serius. “Kalau aku pingsan nanti, tolong seret tubuhku dengan bermartabat.” Sudut bibir Summer terangkat tipis. “Kamu tidak akan pingsan.” “Semoga saja.” Mereka berjalan berdampingan menuju aula utama. Begitu melewati pintu, langkah Summer sedikit melambat. Pilar-pilar marmer yang menjulang tinggi, langit-langit yang luas, dan deretan kursi yang hampir penuh membuat ruangan itu terasa jauh lebih megah daripada yang ia bayangkan. “Gila…” gumam Emma pelan sambil ikut melihat sekeliling. Tak lama kemudian seorang guru naik ke podium dengan tablet di tangannya. Setelah suasana tenang, layar besar di belakangnya langsung menyala. “Selamat pagi. Asesmen hari ini akan menentukan penempatan akademik kalian di Royal Crest Academy.” Guru itu mengusap layar tabletnya sebentar, “Murid yang terdaftar melalui jalur umum dipersilakan menuju Ruang B.01.” Beberapa murid langsung berdiri dari kursinya, tetapi Summer masih tetap duduk sambil memegang tabletnya. Guru itu kembali melihat daftar di tangannya, lalu mengangkat pandangan ke arah Summer. “Nona?” Summer menoleh. “Ya, Pak?” “Anda terdaftar melalui jalur umum. Silakan menuju Ruang B.01.” Bisik-bisik langsung mulai terdengar dari berbagai sudut aula. “Bukan beasiswa?” “Terus kemarin naik taksi?” “Mungkin dibiayai donatur.” Summer mengabaikan semuanya. Ia merapikan tablet di tangannya lalu berdiri dan mengikuti murid-murid lain keluar dari aula. Beberapa saat kemudian, saat hendak berbelok menuju Ruang B.01, seseorang memanggilnya dari belakang. “Summer!” Ia menoleh dan melihat Emma berlari kecil menghampirinya. Begitu sampai di depannya, Emma terlihat ragu-ragu sebelum akhirnya bertanya pelan, “Kamu... bukan penerima beasiswa?” Summer menggeleng kecil. “Bukan.” “Oh...” Emma langsung terlihat canggung. “Maaf.” “Kenapa minta maaf?” Summer balas menatapnya dengan bingung. “Tidak ada yang salah dengan itu.” “Eh... i-iya.” Emma tersenyum canggung sambil menggaruk pelan pipinya sendiri. “Kau benar.” Summer ikut tersenyum kecil. “Aku masuk dulu.” Emma langsung mengangguk dan melambaikan tangan. “Semangat!” “Kau juga.” ── ☀︎ ── Begitu Summer melangkah masuk, beberapa kepala langsung menoleh ke arahnya. Ruangan itu luas dengan deretan meja kayu gelap yang tersusun rapi. Sebagian besar murid sudah duduk di tempat masing-masing sambil berbicara pelan, tetapi bisik-bisik itu berubah arah begitu melihatnya. “Jadi gadis yang kemarin naik taksi itu bukan anak beasiswa?” Terdengar tawa kecil dari arah belakang. “Pasti dibayarin orang lain.” “Atau anak rahasia orang kaya.” Summer tidak menoleh. Ia terus berjalan sampai menemukan kursi kosong di dekat jendela, lalu menariknya perlahan dan mulai mengeluarkan tablet serta pulpennya dari dalam tas seolah tidak mendengar apa pun. Namun suara-suara itu belum juga berhenti. “Bahkan anak beasiswa saja tahu diri. Mana mungkin datang ke RCA naik taksi.” “Iya. Benar-benar nggak punya kelas.” Summer tetap diam dan menunduk, lalu beberapa saat kemudian pengawas masuk ke dalam ruangan. Suasana yang semula dipenuhi bisik-bisik langsung berubah sunyi ketika pria itu berdiri di depan kelas. “Tes dimulai.” Beberapa detik kemudian, soal mulai muncul di layar tablet masing-masing. Summer menatap layar di depannya, tetapi pikirannya sama sekali tidak tertuju pada soal. Bayangan pria berjas yang berdiri di bawah pohon itu kembali muncul begitu saja, membuat jemarinya perlahan menegang di atas stylus. Dalam hatinya, bagaimana kalau orang-orang itu akhirnya menemukannya? Tanpa sadar jemarinya mulai sedikit gemetar. “Nona...” Suara itu terdengar samar di telinganya. “Nona Bong?” Ia langsung tersentak dan mengangkat kepala. Pengawas sudah berdiri tepat di samping mejanya sambil melihat layar tabletnya. “Tes sudah dimulai sepuluh menit yang lalu, dan Anda belum mengerjakan satu soal pun.” Beberapa tawa kecil terdengar dari berbagai arah. “Maaf, Pak.” Pengawas itu menyapu pandangannya ke seluruh ruangan. “Ruangan ini dipantau CCTV dan seluruh ujian diawasi dari ruang pengawas. Saya harap tidak ada yang mencoba melakukan hal-hal di luar aturan.” Setelah itu ia kembali menoleh ke arah Summer. “Silakan mulai mengerjakan.” Summer mengangguk pelan lalu kembali melihat layar di depannya. Sebenarnya soal itu tidak sulit baginya, tetapi pikirannya masih belum bisa tenang. Ia memejamkan mata sejenak. Entah kenapa, yang teringat justru anak laki-laki yang tadi berjalan bersama keempat temannya. Ia teringat bagaimana suasana di sekitarnya mendadak berubah saat pria itu lewat, dan bagaimana rasa sesak di dadanya ikut menghilang begitu saja. Perlahan ia menghembuskan napas panjang lalu membuka mata. Jemarinya sudah tidak lagi gemetar. Kemudian ia menggenggam stylusnya lebih erat lalu mulai mengerjakan soal satu per satu. ── ☀︎ ── Waktu makan siang datang lebih cepat dari yang Summer duga. Begitu keluar dari aula, ia langsung melihat Jess berdiri tidak jauh dari sana sambil memainkan ponselnya. Jess segera mengangkat kepala begitu menyadari kehadirannya, lalu memasukkan ponselnya ke saku. “Bagaimana?” “Baik,” jawab Summer pelan sambil merapikan tali tas di bahunya. “Kamu tidak perlu khawatir.” Jess langsung tersenyum dan berjalan di sampingnya. “Aku tahu kamu pasti bisa.” Ia menyenggol bahu Summer pelan, “Dan aku harap kamu masuk Gedung B. Aku nggak mau kamu terlalu jauh.” Langkah Summer tanpa sadar sedikit melambat. Jess menoleh ke arahnya. “Hm?” “Di mana saja tidak apa-apa, Jess,” jawab Summer pelan sambil menundukkan pandangan. “Asal aku diterima.” Ia terdiam sejenak lalu melanjutkan dengan suara yang lebih pelan, “Asal aku bisa tetap tinggal.” Jess langsung menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Summer. “Hei.” Summer ikut berhenti dan perlahan mengangkat pandangannya. “Kamu nggak ke mana-mana,” kata Jess dengan nada serius. “Kamu memang pantas di sini.” “Tidak ada yang akan ngusir kamu,” lanjut Jess lebih pelan. “Bukan sekolah ini. Bukan siapa pun.” Summer menunduk sebentar lalu kembali menatapnya. “Terima kasih...” jawabnya lirih. “Aku cuma nggak mau kehilangan ini.” Jess tersenyum kecil lalu kembali menyenggol bahu Summer dengan pelan. “Kamu nggak akan kehilangan apa pun.” Beberapa saat kemudian mereka kembali berjalan menuju kafetaria. Semakin dekat ke gedung utama, koridor semakin ramai dipenuhi suara tawa dan obrolan murid yang berlalu-lalang. Namun baru beberapa langkah, Jess tiba-tiba memperlambat langkahnya lalu menyentuh pelan lengan Summer. “Tunggu.” Summer ikut berhenti dan menoleh. “Kenapa?” Pintu kaca otomatis di depan mereka perlahan terbuka. Lima anak laki-laki berjalan keluar dengan santai, dan hampir seketika suasana koridor berubah. Obrolan yang tadi terdengar di mana-mana perlahan mengecil, sementara beberapa murid tanpa sadar menepi memberi jalan. Pandangan Summer tanpa sadar mengikuti mereka. “Oh…” gumamnya pelan. “Memangnya mereka siapa, Jess?” Jess sedikit mendekat dan merendahkan suaranya. “Mereka…” Ia terdiam sesaat. “Anggap saja lingkaran yang nggak bisa disentuh.” Jess mengangkat dagunya sedikit ke arah pria yang berjalan di tengah. “Pemimpinnya yang itu. Paling tinggi, paling tampan, tapi nggak pernah senyum. Dan semua orang di sini takut sama dia.” Tatapan Summer tanpa sadar langsung berhenti pada sosok itu. Pria itu berjalan dengan tenang, kedua tangan dimasukkan ke saku blazer dan sama sekali tidak melihat ke sekeliling. “Yang rambutnya diikat itu Cloud, kapten basket RCA. Yang pirang Dre. Yang bawa kamera Tom. Yang paling berantakan itu Axl. Dre, Tom, sama Axl punya band keren, dan mereka berlima udah berteman dari kecil.” Summer hanya mengangguk pelan, tetapi pandangannya masih belum beralih dari pria di tengah itu. Tanpa ia sadari, jemarinya perlahan bergerak memainkan gelang bintang laut di pergelangan tangannya. Sentuhan kecil itu sudah menjadi kebiasaan setiap kali ia sedang gelisah. Klik. Charm kecil itu tiba-tiba terlepas dan mata Summer langsung membesar. “No... no... no...” Charm berbentuk bintang laut itu jatuh ke lantai marmer lalu berputar kecil, tepat ke arah lima anak laki-laki tadi. “Oh tidak—” Summer refleks melangkah cepat mengejar charm itu. “Summer, tunggu—” Suara Jess terdengar dari belakang. Di saat yang sama, pria di tengah itu tetap berjalan lurus tanpa melihat ke bawah. Sepatu hitamnya langsung menginjak charm tersebut tepat sebelum Summer sempat meraihnya. Langkah Summer langsung berhenti. Ia menatap charm yang tertahan di bawah sepatu pria itu beberapa detik, lalu perlahan mengangkat pandangannya. “Apa kau tidak punya mata?”... ོ☼𓂃BERSAMBUNG𓂃𓇼 𓂃 𓈒𓏸CHAPTER 136Summer dan Jess menemukan Emma di ruang tengah suite dengan laptop terbuka di hadapannya. Beberapa lowongan pekerjaan memenuhi layar, sementara percakapan dengan ibunya masih terbuka di ponsel yang tergeletak di atas meja.“Kamu mencari pekerjaan?” tanya Summer.Emma mengangkat wajah. Matanya sudah memerah meskipun ia berusaha tersenyum seperti biasa. “Usaha katering orang tuaku mengalami kerugian. Mesin pendingin mereka rusak dan sebagian besar bahan untuk pesanan besar tidak dapat digunakan. Mereka harus mengembalikan uang muka, membayar pemasok, dan memberikan ganti rugi kepada pelanggan.”Jess langsung duduk di sebelahnya. “Lalu pesan ibumu tadi?”“Untuk sementara mereka tidak bisa mengirim biaya hidup.” Emma menutup laptopnya sebelum Summer sempat membaca lowongan yang dipilihnya. “Beasiswaku memang menanggung biaya kuliah, tetapi tidak termasuk makan dan kebutuhan sehari-hari.”“Kamu tidak boleh bekerja di luar kampus tanpa izin RCA,” u
CHAPTER 135Di pusat latihan negaranya, Logan Miller baru menyelesaikan putaran terakhir ketika pelatih meniup peluit dan memintanya keluar dari kolam. Ia melepas kacamata renang, lalu melihat catatan waktu yang ditunjukkan dari tepi.“Masih lebih lambat daripada kemarin,” ujar pelatihnya.“Hanya sepersekian detik.”“Sepersekian detik cukup untuk membuatmu kehilangan rekor.”Logan tertawa dan mengangkat tubuhnya dari kolam. Sikap santainya sering membuat orang lupa bahwa dirinya belum pernah kalah selama empat tahun. Namun begitu pertandingan dimulai, Logan tidak pernah memberikan kesempatan kepada lawannya untuk mendekat.Seorang anggota tim menyerahkan handuk dan tablet kepadanya. “Kamu harus melihat wawancara Dylan Seo.”Nama tersebut langsung menarik perhatian Logan. Dua minggu sebelumnya, ia hanya terdaftar pada nomor 100 meter gaya bebas. Namun catatan waktu Dylan pada kejuaraan nasional membuatnya meminta federasi menambahkan namanya ke nomor
CHAPTER 134Dua minggu kemudian, latihan Dylan mulai mendapat perhatian lebih besar sejak pemegang rekor dunia memutuskan mengikuti nomor 200 meter gaya bebas. Beberapa stasiun televisi bahkan menunggu di luar pusat olahraga RCA sejak pagi untuk meliput persiapannya.Dylan tidak membiarkan keberadaan mereka mengubah jadwal latihan. Ia sudah berada di dalam kolam selama hampir dua jam, mengulang jarak yang sama hingga tubuhnya mulai terasa berat. Pelatih berdiri di tepi kolam dengan stopwatch di tangan, sementara beberapa anggota tim mencatat setiap perubahan waktu.“Sekali lagi,” ujar Dylan setelah melihat hasil terakhir.Pelatihnya menggeleng. “Kecepatanmu menurun pada lima puluh meter terakhir. Kalau dipaksakan sekarang, hasilnya tidak akan berubah.”“Selisihnya masih terlalu jauh.”“Kurang dari satu detik bukan selisih yang jauh.”“Cukup jauh untuk membuatku kalah.”Dylan kembali memasang kacamata renangnya, tetapi sang pelatih menahan bahunya
CHAPTER 133Minggu pagi biasanya menjadi waktu bagi Summer untuk membantu para pekerja di sekitar kampus, lalu beristirahat di bangku dekat danau. Kebiasaan itu sudah dimilikinya sejak masa SMA dan tidak pernah benar-benar berubah, bahkan setelah ia mulai tinggal bersama Emma dan Jess.Dylan mengetahui hal tersebut. Karena itu, ketika dua panggilannya tidak dijawab dan pesannya hanya bertanda terkirim, ia memutuskan mencari Summer ke arah danau.Dari balik deretan pohon, ia melihat Summer berjongkok tidak jauh dari jalur batu. Sebuah pouch kecil terbuka di sampingnya, sedangkan Naoki berada di dekat gadis itu.Dylan tidak dapat melihat apa yang sedang dipegang Summer, tetapi cara Naoki membantu merapikan barang-barangnya membuatnya tahu mereka hendak pergi.Saat Summer berdiri dan berjalan bersama Naoki menuju arah klinik, laki-laki itu akhirnya mengangkat wajah.Tatapan Naoki bertemu dengan Dylan.Tidak ada perubahan berarti pada wajahnya. Naoki han
CHAPTER 132Sore berikutnya, sebuah mobil dari perusahaan Dylan menunggu Summer di depan Fakultas Seni. Pengemudinya membawa Summer menuju kantor pusat perusahaan yang berada tidak jauh dari RCA, lalu berhenti di depan gedung berdinding kaca tersebut.Ethan telah menunggu di dekat pintu masuk ketika Summer tiba.“Selamat sore, Nona Summer.”“Selamat sore. Maaf merepotkanmu. Dylan masih bekerja?”“Nona tidak merepotkan saya. Tuan Muda sedang rapat, tetapi beliau meminta saya langsung membawa Anda ke ruangannya begitu Nona tiba.”Summer mengikuti Ethan memasuki gedung. Tepat di balik pintu utama terdapat area pemeriksaan yang harus dilewati seluruh pegawai dan pengunjung sebelum memasuki lobi. Summer hendak meletakkan tasnya pada mesin pemindai, tetapi Ethan menghentikannya.“Tidak perlu, Nona.”Summer menatapnya dengan heran.“Tuan Muda sudah memberikan izin khusus untuk Anda.”Petugas keamanan membuka pintu di sisi mesin pemeriksaan setel
CHAPTER 131Menjelang malam, Studio Dua hanya menyisakan beberapa mahasiswa yang masih menyelesaikan persiapan pameran. Summer berdiri di depan lukisannya bersama Yuta dan Naoki. Mereka kembali memeriksa pencahayaan setelah Naoki mengubah posisi salah satu lampu, sementara Yuta membacakan penjelasan karya yang akan dikirimkan Summer kepada galeri.“Kalimat terakhirnya lebih baik kalau tidak terlalu panjang,” ujar Yuta. “Kamu sudah menjelaskan makna dua bayangan itu. Tidak perlu mengulangnya lagi.”Summer membaca layar tabletnya. “Kalau aku menghapus bagian ini, penjelasannya jadi terlalu singkat.”“Tidak.” Yuta menunjuk satu kalimat di tengah draf. “Yang ini sudah cukup kuat.”Naoki ikut melihat layar dari sisi lain meja. “Aku setuju. Orang-orang akan lebih penasaran kalau kamu tidak menjawab semuanya.”“Kalian berdua selalu menyuruhku menghapus bagian yang kusukai.”“Karena kamu terlalu suka menjelaskan,” kata Naoki.Summer menoleh kepadanya. “A
CHAPTER 3 “Oh no...” Jess buru-buru menarik pelan lengan Summer. “Summer...” bisiknya cepat. “Kamu nggak dengar aku tadi?!” Namun Summer tidak mengalihkan pandangannya dari charm kecil di dekat sepatu pria itu. Ia melangkah sedikit mendekat sambil berkata pelan, “Itu gelangku.” Pria itu tetap dia
CHAPTER 1 PROLOG 👧 Saat itu Summer baru berusia lima tahun. Dorr!! Suara tembakan tiba-tiba mengguncang ruangan hingga telinganya langsung berdenging dan kaca-kaca jendela bergetar keras. Summer refleks menoleh, lalu membeku saat melihat pria yang sedetik lalu masih berdiri di dekatnya kini r
CHAPTER 4 Keesokan paginya, Summer berdiri beberapa detik di depan pintu kelas A-1 sambil memeluk tablet di dadanya. Begitu pintu terbuka, suara obrolan di dalam langsung mengecil dan beberapa kepala serempak menoleh ke arahnya. “Oh, ranking satu datang.” “Yang kemarin ngomong ke senior Dylan it
AUTHOR’S NOTE & DISCLAIMER 𓂃✍︎Selamat datang, dan terima kasih karena sudah membuka halaman pertama dari cerita ini.Sebelum kalian memulai perjalanan bersama Summer, izinkan penulis menyampaikan beberapa hal terlebih dahulu.Cerita ini adalah karya fiksi yang lahir dari imajinasi, emosi, dan ban







