LOGINCHAPTER 2
Kamar asrama itu sunyi. Bukan jenis sunyi yang mendamaikan jiwa, melainkan sunyi yang menekan, seolah dinding-dinding tinggi dengan wallpaper bertekstur mahal itu sedang mengawasi setiap geraknya. Ruangan ini sangat luas untuk ukuran dua orang, dilengkapi dengan furnitur kayu ek yang kokoh dan jendela-jendela besar yang membingkai kegelapan malam. Kesunyian ini justru membuat setiap suara di dalam kepala Summer terdengar jauh lebih nyaring, memantul di antara kemewahan yang terasa dingin. Summer duduk di tepi tempat tidurnya, buku asesmen terbuka di pangkuannya. Halaman-halamannya tersusun rapi. Pulpen berjajar. Seragam RCA untuk besok—jas berwarna pucat dengan kancing perak yang berkilat—tergantung kaku di pintu lemari, belum tersentuh. Segalanya tampak siap secara fisik. Namun, ia tidak merasa siap sama sekali. Jari-jarinya sedikit gemetar ketika ia menekannya satu sama lain, memaksa napasnya masuk ke dalam ritme yang lambat dan stabil. Tarik. Hembus. Sejak menginjakkan kaki di RCA, perasaan yang sama terus mengikutinya—tekanan samar di bawah kulitnya, seolah ada sesuatu yang tak terlihat selalu berdiri tepat di belakangnya. Ia melirik ke arah pintu. Tidak ada apa-apa. Lalu ke jendela. Hanya cahaya lampu kampus di kejauhan. Kamu aman, bisiknya pada diri sendiri, sebuah mantra yang mulai kehilangan kekuatannya. Ini hanya sekolah. Namun, detak jantungnya tetap tidak mau melambat. Pintu kamar terbuka dengan sentakan tiba-tiba. Summer tersentak hebat sebelum sempat menahan reaksinya. “Oh—maaf! Aku bikin kaget?” Seorang gadis masuk, menyeret koper di belakangnya, sepenuhnya santai. Ia tersenyum seolah tempat ini sudah menjadi miliknya. Ia tersenyum lebar, memancarkan energi cerah yang kontras dengan aura dingin di ruangan itu. “Aku Emma. Teman sekamarmu.” Summer segera berdiri, merapikan ekspresinya. “Hai. Aku Summer.” Emma menoleh ke sekeliling, matanya menyisir interior kamar yang menyerupai kamar hotel butik sebelum mendarat pada Summer. “Wow, kamu sudah mulai belajar?” “Hanya… sedikit mengulang,” jawab Summer pelan, suaranya parau. Emma tertawa. “Gugup asesmen? Sama. Apalagi aku penerima beasiswa, jadi aku ekstra takut.” Summer mengangguk. Ia tidak mengatakan bahwa ketakutannya bukan tentang tes itu. Emma terus berbicara sambil membongkar barang—tentang peraturan asrama, rumor, guru mana yang galak dan mana yang hanya berpura-pura. Hal-hal normal. Hal-hal mudah. Summer mendengarkan, menjawab dengan sopan, menyembunyikan ketegangannya di balik respons yang tenang. Saat Emma akhirnya pergi mandi, Summer mengembuskan napas panjang, seolah baru saja keluar dari tekanan air yang dalam. Ponselnya di atas nakas bergetar. 💬 Jess: Sudah beres? Asesmen besar besok. Kamu pasti bisa. Summer mengetik pelan. 💬 Summer: Semoga. 💬 Jess: Kamu selalu bilang begitu. Jangan lupa—aku sudah tahun kedua SMA. Stres ini resmi milikmu sekarang 😅 Senyum tipis menyentuh bibir Summer. Jess jelas sudah punya tempatnya dan benar-benar menjadi bagian dari sini. 💬 Jess: Ketemu setelah asesmen, ya? 💬 Summer: Ya. Ia meletakkan ponselnya dan merebahkan diri di atas ranjang yang terlalu empuk. Ia menatap langit-langit kamar yang tinggi, membiarkan cahaya lampu taman yang masuk melalui celah gorden membentuk pola-pola aneh di sana. Tidur datang terlambat. Dan saat akhirnya kegelapan menjemputnya, tidurnya terasa ringan dan penuh dengan kegelisahan yang tak kunjung usai. ⸻ Keesokan paginya, asrama dipenuhi energi gugup. Emma menunggunya di luar kamar. “Siap?” “Sebisaku,” kata Summer. Mereka bergabung dengan arus murid baru yang mengalir menuju aula utama. Bangunan itu menjulang megah dengan arsitektur neogotik yang angkuh—langit-langitnya yang sangat tinggi dan pilar-pilar marmer yang masif dirancang sedemikian rupa untuk membuat siapa pun yang masuk merasa kecil dan terintimidasi bahkan sebelum sepatah kata pun diucapkan. Di dalam aula, barisan kursi beludru dengan cepat terisi. Suasananya begitu formal, menyerupai sebuah pengadilan daripada sekadar asesmen sekolah. Seorang guru dengan ekspresi datar melangkah ke podium. “Selamat pagi. Asesmen hari ini adalah langkah krusial. Hasilnya akan menentukan penempatan akademik dan masa depan kalian di akademi ini.” Layar digital raksasa di belakangnya menyala, memancarkan cahaya biru yang dingin. “Instruksi penempatan: Murid beasiswa silakan menuju Ruang B.02. Murid lainnya—Ruang B.01.” Guru itu menjeda kalimatnya, matanya menyisir daftar di tablet digitalnya. “Pengumuman ini mutlak, termasuk bagi mereka yang masuk melalui jalur prestasi khusus.” Kepala-kepala menoleh. Perlahan. Sengaja. Setiap tatapan mendarat pada Summer. Tak ada yang menyebut namanya. Mereka tidak perlu. Summer tetap duduk diam di kursinya, wajahnya sedatar air tenang di tengah badai. Guru itu mengernyit, menatap tabletnya dengan dahi berkerut sebelum memanggil dengan nada bertanya, “Nona…?” “Ya, Pak?” sahut Summer tenang. “Namamu tidak terdaftar sebagai murid beasiswa di sini,” ucap guru itu setelah keheningan yang canggung. “Kamu terdaftar di jalur umum. Silakan menuju Ruang B.01.” Seketika, gumaman menyebar seperti api di atas rumput kering. "Bukan beasiswa?" "Lalu kenapa dia naik taksi kemarin?" Suasana aula mendadak berubah dari tegang menjadi penuh kecurigaan yang merendahkan. Emma mendekat, berbisik dengan bingung. “Tunggu… kamu bukan penerima beasiswa?” Summer tersenyum samar. “Bukan.” Emma terlihat terkejut. “Oh, maaf ya, Summer.” Summer memiringkan kepala sedikit, benar-benar bingung. “Kenapa?” tanyanya pelan. “Tidak ada yang salah dengan itu.” Emma terdiam sejenak. “…Benar. Iya.” Mereka berpisah di depan pintu koridor yang memisahkan dua kasta akademik tersebut. Emma melangkah menuju B.02 dengan kepala tertunduk, sementara Summer berjalan memasuki Ruang B.01—ruangan bagi para elit dan pemilik kekuasaan. ⸻ Suasana di dalam Ruang B.01—ruangan yang dikhususkan bagi para pewaris takhta kekayaan—mendadak berubah drastis saat Summer melangkah masuk. Interior ruangan itu begitu elegan dengan meja-meja kayu mahoni individu yang dipoles mengilap, sangat kontras dengan aura permusuhan yang mulai menguar. “Jadi gadis taksi itu bukan beasiswa?” Tawa pelan menyusul. “Pasti dibayarin orang lain.” Summer tidak memberikan reaksi apa pun. Ia memilih kursi di barisan tengah, menarik kursi kayu yang berat itu tanpa menimbulkan derit sedikit pun, lalu meletakkan tasnya dengan gerakan terukur. Namun, bisikan kejam itu seolah enggan berhenti, merayap di antara meja-meja mewah layaknya kabut dingin. “Bahkan anak beasiswa saja tahu diri—mereka tidak akan mempermalukan diri sendiri dengan datang naik taksi butut ke gerbang RCA. Dia benar-benar tidak punya kelas.” Seorang pengawas masuk, dan seketika itu juga kesunyian yang tegang jatuh menyelimuti ruangan. Tatapannya tertahan pada Summer sejenak—cukup lama untuk disadari oleh seluruh penghuni kelas—sebelum akhirnya berpindah ke arah tablet di tangannya. Tes dimulai. Tangannya gemetar saat ia mencoba meraih pulpen. Tiba-tiba saja, pemandangan di depannya menjadi kabur. Ruangan luas yang ber-AC itu mendadak terasa sempit, seolah dinding-dindingnya mulai menghimpitnya. Dadanya mengencang, paru-parunya seakan menolak oksigen. Pikirannya tercerai-berai menjadi kepingan-kepingan ingatan yang gelap. Jangan sekarang... tolong, jangan hancur di sini, batinnya memohon pada dirinya sendiri. Dalam keputusasaan itu, Summer memejamkan mata rapat-rapat. Secara tak terduga, bayangan anak laki-laki yang ia lihat di gerbang kemarin muncul di benaknya. Ia tidak tahu siapa nama laki-laki itu, namun ia ingat dengan sangat jelas bagaimana dunia seolah menjadi diam dan patuh saat sosok itu muncul. Summer membayangkan bersandar pada bayangan dingin dan tak tersentuh itu—satu-satunya tempat di mana bisik-bisik sekolah ini tak bisa menjangkaunya. Perlahan, detak jantungnya yang liar mulai melambat. Ia memperdalam napasnya, satu tarikan yang panjang dan stabil. Saat ia membuka mata, kabut di pikirannya telah lenyap. Ia mulai menggerakkan pulpennya di atas kertas—menjawab satu demi satu soal sulit itu dengan ketajaman yang dingin dan presisi. ⸻ Waktu makan siang datang lebih cepat dari yang ia duga. Jess menemukannya dekat aula. “Bagaimana?” “Baik,” kata Summer jujur. “Kamu tidak perlu khawatir.” Jess tersenyum. “Bagus. Aku harap kamu dapat Gedung B. Aku tidak mau kamu terlalu jauh.” Summer berhenti. Hanya sedetik—tapi itu cukup. “Di mana saja tidak apa-apa, Jess,” katanya pelan. “Asal aku diterima.” Jarinya mengencang pada tali tasnya. “Asal aku bisa tinggal.” Jess langsung menyadarinya. Ia melangkah lebih dekat, merendahkan suaranya. “Hei,” katanya lembut. “Kamu tidak ke mana-mana.” Summer tidak menatapnya. “Kamu memang pantas di sini,” lanjut Jess, kini lebih tegas. “Tidak ada yang mengusirmu. Bukan sekolah ini. Bukan siapa pun.” Summer tidak mampu membalas tatapan sahabatnya. Matanya terpaku pada lantai marmer yang mengilat di bawah kakinya. Summer menelan ludah. “Aku tahu,” katanya pelan. “Aku hanya… tidak ingin kehilangan ini.” Jess tersenyum, hangat dan mantap. “Kamu tidak akan. Aku janji.” Untuk sesaat, Summer membiarkan dirinya mempercayainya. Mereka berjalan menuju kafetaria. Suara semakin keras di setiap langkah—tawa, langkah kaki, suara-suara yang saling bertumpuk. Namun, tepat sebelum mereka mencapai pintu kaca otomatis yang luas, Jess mendadak berhenti dan menarik lengan Summer dengan sentakan kecil. “Tunggu,” bisik Jess protektif. Summer hampir menabraknya. “Kenapa?” tanyanya, bingung. Jess tidak menjawab. Ia menarik Summer mundur beberapa langkah, membiarkan sensor pintu mendeteksi kehadiran lima anak laki-laki yang sedang melintas dari arah berlawanan. Begitu pintu bergeser terbuka tanpa suara, semua murid yang tadi bersuara keras mendadak merendahkan nada bicara mereka, menyingkir dengan patuh seolah sedang memberikan jalan bagi para penguasa. “Oh,” gumam Summer. Rasa ingin tahu terlalu kuat untuk ditahan. “Siapa mereka, Jess?” tanyanya pelan. Jess melirik cepat ke sekeliling, lalu mencondongkan tubuhnya ke telinga Summer, suaranya turun menjadi bisikan penuh antusias. “Mereka… bagaimana ya mengatakannya,” katanya lembut. “Anggap saja mereka lingkaran yang tidak bisa kamu sentuh. Serius. Pemimpinnya yang di tengah.” Ia menghela napas kecil, seolah menyebutnya saja sudah berbobot. “Dia tidak pernah tersenyum. Tampan, tapi auranya membuat orang berpikir dua kali untuk mendekat. Aku bahkan tidak berani menyebut namanya—takut ada yang mendengar.” Summer tetap diam, mendengarkan. Jess melanjutkan, kini lebih mengalir, seperti seseorang yang sudah lama ingin mengatakan ini. “Yang di kanan, rambut sebahu diikat ke belakang—itu Cloud. Kebanggaan RCA di basket. Semua orang mengenalnya.” Ia menggeser pandangannya sedikit. “Yang pirang itu Dre. Di sebelahnya, yang selalu bawa kamera, itu Tom. Dan yang rambutnya paling berantakan itu Axl. Dre, Tom, dan Axl punya band yang luar biasa, namanya The Crest. Setiap ada acara sekolah, mereka selalu tampil.” Jess berhenti, lalu menambahkan dengan tegas, “Setahuku, kelima dari mereka sudah berteman dekat sejak kecil.” Summer kembali menatap kelima anak laki-laki itu. Entah mengapa, tanpa benar-benar ia sadari, pandangannya tertarik pada anak laki-laki yang berjalan di tengah. Pria itu… Ia tidak tersenyum. Tidak banyak bicara. Ekspresinya tenang, hampir dingin. Tidak ada yang mencolok darinya—tidak ada kepercayaan diri yang berisik, tidak ada usaha untuk menarik perhatian. Dan tetap saja… segalanya seolah membengkok di sekelilingnya. Summer merasakannya sebelum memahaminya. Dadanya mengencang—bukan takut. Lebih seperti tekanan mendadak, seolah udara di sekitarnya bergeser. Suara kafetaria meredup, memudar ke latar belakang. Ia menelan ludah. Itu lagi. Perasaan aneh itu. Seperti berdiri terlalu dekat dengan tepi sesuatu yang dalam. Seolah melangkah satu langkah lebih dekat tidak akan membuatnya jatuh—tetapi ia juga tidak akan mampu berpaling. Ia tidak tahu mengapa napasnya melambat. Ia tidak tahu mengapa bahunya sedikit mengendur. Dan ia tidak tahu mengapa, dari kelima orang itu, matanya menolak untuk lepas darinya. BERSAMBUNG…CHAPTER 54Royal Crest Academy bukan sekadar sekolah. Ia adalah sebuah wilayah.Sebuah kompleks pendidikan yang membentang luas di pinggiran kota London, menempati ratusan hektar lahan yang dipagari bukan oleh tembok tinggi—melainkan oleh reputasi yang jauh lebih kokoh daripada beton mana pun.Dari udara, RCA tampak seperti kota kecil yang dirancang dengan presisi. Gedung-gedungnya tersusun rapi, dipisahkan oleh taman, jalan setapak berbatu, dan danau buatan yang memantulkan langit Inggris yang sering murung. Tidak ada sudut yang dibiarkan tumbuh liar. Setiap pohon dipangkas. Setiap jalur ditata. Segalanya terkontrol.Di sisi timur kompleks berdiri RCA High School—tempat murid-murid berusia belasan tahun ditempa sejak dini. Gedung-gedungnya tinggi, bergaya klasik Eropa, dengan pilar marmer dan jendela besar yang membiarkan cahaya masuk tanpa memberi ruang bagi bayangan untuk bersembunyi. Di sinilah Summer, Emma, Jess, dan murid-murid lain menghabiskan hari-hari
CHAPTER 53Di balik bar chef yang terbuat dari kayu hinoki pucat, Dylan berdiri dengan apron hitam yang membungkus kemeja gelapnya.Tangannya bergerak dengan kecepatan yang menakutkan namun penuh presisi—irisan ikan salmon toro itu jatuh dengan rapi, nasi ditekan dengan tekanan yang pas agar tidak hancur namun tetap lembut. Ia seharusnya fokus pada seni memotong, sebuah cara yang biasanya ia gunakan untuk menenangkan pikirannya yang selalu berisik dengan data dan strategi akademi. Ia tidak berniat memperhatikan meja di sudut itu.Namun pikirannya, matanya, dan seluruh syaraf tubuhnya… tidak sepakat.Tanpa sadar, pandangannya melayang ke arah Summer. Di bawah temaram lampu lampion, Dylan melihat cara gadis itu duduk—sedikit kaku, seolah ia takut merusak estetika tempat ini. Ia melihat bagaimana Cloud condong sesekali saat bicara, mencoba memecah jarak. Dan ia melihat Summer menanggapi dengan senyum tipis—sopan, tenang, namun sama sekali tidak mengundang.Dyla
CHAPTER 52Malam itu, Summer duduk sendirian di bangku taman dalam. Berbeda dengan taman-taman lain di Royal Crest Academy yang terbuka dan luas, taman ini adalah sebuah courtyard tersembunyi yang dikelilingi oleh dinding kaca Building A yang menjulang. Di sini, kemewahan RCA terasa lebih tenang dan sunyi. Lantainya bukan rumput biasa, melainkan susunan batu kuarsit putih yang berpendar lembut di bawah cahaya bulan. Di tengahnya, terdapat kolam refleksi yang airnya tidak bergerak sedikit pun, tampak seperti cermin hitam yang sangat mahal. Bangku yang diduduki Summer terbuat dari kayu eboni yang dipoles hingga permukaannya terasa sedingin porselen. Udara di sini terasa lebih tipis, membawa aroma bunga Night-Blooming Jasmine yang ditanam di sepanjang koridor kaca. Lampu-lampu taman di sini berupa pilar-pilar kristal minimalis yang tertanam di lantai, memantulkan cahaya kekuningan yang redup ke dedaunan pohon perak yang rimbun, menciptakan bayangan yang bergerak stat
CHAPTER 51Sunyi kembali merambat di antara mereka. Summer menggeser berat badannya dengan canggung, sebelum akhirnya memilih kata-kata yang paling aman untuk memecah kebuntuan. "Ah... tentang jas Kak Dylan... yang malam itu," Summer membuka suara dengan ragu. “Aku sudah masukkan ke laundry,” lanjut Summer cepat. “Laundry internal RCA. Mereka bilang butuh dua hari karena bahannya khusus.” Nada suaranya hati-hati, seolah takut dianggap sembarangan."Kau simpan saja dulu," jawabnya singkat. "Tidak perlu terburu-buru." Kalimat itu memutus pembicaraan sebelum sempat berkembang lebih jauh. Dylan kemudian melirik ujung koridor yang mengarah ke area asrama putri, tempat lampu-lampu menyala redup dan lorong tampak memanjang tak berujung. "Sudah malam," ucap Dylan kemudian. Nada suaranya netral, sebuah pernyataan waktu yang objektif, tanpa bumbu kepedulian yang nyata. "Biar aku antar sampai depan lift." Tidak ada nada memaksa, tidak ada alasan yang dibuat-bua
CHAPTER 50Dylan mencondongkan tubuh sedikit, jarak mereka menyempit. Tatapannya tidak berkedip. “Meski dia kuat,” ujar Dylan, “kekuatan tanpa senjata hanya bertahan—bukan menang.” Ia mencondongkan kepala sedikit. “Dan kau,” katanya tenang, “belum menjadi senjata itu.”Cloud terpaku. Ia menelan ludah yang terasa pahit. Dre, Tom, dan Axl mematung, tidak percaya Dylan akan bersikap sefrontal itu.Dre berdehem, mencoba menarik napas. “Ehmm. Jadi… apa yang harus kita lakukan?”“Setiap kali kalian mendengar rumor itu,” perintah Dylan tanpa ragu, “dari siapa pun. Entah anak bangsawan atau putra presiden. Ancam mereka. Pastikan mereka mendapat surat peringatan dari administrasi. Dan jika perlu—keluarkan dari akademi ini.” “Gue setuju,” Tom menyeringai. “Gue udah lama pengen ngeluarin beberapa siswa.”“Ini bukan permainan,” potong Dylan dingin.Dre langsung melempar bantal sofa ke arah Tom. “Mulut lo dijaga.”Cloud tidak berkata apa-apa. Ia menunduk, me
CHAPTER 49Di sisi lain kampus, di sebuah kamar yang jauh lebih sederhana dan sunyi, Summer Bong sedang menenggelamkan diri di meja belajarnya. Buku-buku teks terbuka lebar, catatan tersusun dengan urutan yang sangat rapi, dan ujung penanya bergerak tanpa henti. Ia memaksa angka dan rumus matematika tingkat tinggi mengisi setiap inci otaknya, mencoba membangun benteng agar pikirannya tidak kembali terseret ke malam lelang itu. Ke aula. Ke nama yang terus menghantuinya. Di seberang meja Summer, Emma fokus pada rangkaian kecil di atas mejanya—prototipe robotik yang setengah jadi. Tangannya cekatan, matanya tajam, pikirannya tenggelam pada mekanisme dan logika.Tidak ada musik. Tidak ada percakapan. Namun, di kamar ini tidak ada ketegangan yang menyesakkan. Hanya ada ketenangan yang mereka pilih dengan sadar untuk bertahan hidup.Dua kamar.Dua dunia.Dua cara bertahan yang sangat berbeda.Dua kamar. Dua dunia yang bertolak belakang. Dan







