MasukCHAPTER 1
PROLOG 👧 Saat itu Summer baru berusia lima tahun. Dorr!! Suara tembakan tiba-tiba mengguncang ruangan hingga telinganya langsung berdenging dan kaca-kaca jendela bergetar keras. Summer refleks menoleh, lalu membeku saat melihat pria yang sedetik lalu masih berdiri di dekatnya kini roboh begitu saja ke lantai marmer putih. Sosok tinggi yang selalu diam mengawasinya dan selalu berada di dekatnya ke mana pun ia pergi, kini terbaring tak bergerak dengan darah yang perlahan mengalir dari bawah tubuhnya dan terus melebar sedikit demi sedikit. “Jangan lihat!” Seseorang buru-buru menarik tubuh kecil Summer ke dalam pelukan dan menutup kepalanya, tetapi semuanya sudah terlambat. Summer sudah melihat semuanya. Ia melihat pria itu jatuh tanpa sempat melawan, melihat matanya yang masih terbuka menatap kosong ke langit-langit, dan tanpa ia sadari, pemandangan itu tertanam di dalam ingatannya. Tiba-tiba ruangan itu mendadak sunyi. Sunyi yang aneh dan membuat bulu kuduk merinding. Dari sudut ruangan, seorang pria lain melangkah mendekat dengan gerakan yang terlalu tenang untuk situasi seperti itu. Ia berlutut memeriksa denyut nadi pria yang tergeletak di lantai, lalu kembali berdiri tanpa menunjukkan perubahan ekspresi sedikit pun. “Sudah selesai.” Suaranya datar. Tidak terdengar marah ataupun panik, seolah yang baru saja terjadi hanyalah seseorang menjatuhkan gelas, bukan kehilangan nyawa. Tatapannya beralih ke arah Summer lalu ia berkata singkat, “Bawa dia pergi.” Beberapa orang segera membawa Summer melewati lorong panjang yang terasa dingin dan asing. Baru di sanalah tangisnya pecah. Ia menangis sejadi-jadinya sampai tenggorokannya terasa sakit, sementara kedua tangannya terus menggenggam gelang di pergelangan kiri seolah itu satu-satunya benda yang bisa membuatnya merasa aman. Jarinya berulang kali mengusap charm berbentuk bintang laut yang menggantung di sana hingga tanpa sadar sebuah ingatan lama kembali muncul. Beberapa waktu lalu seseorang pernah memberikan gelang itu sambil berkata, “Bintang laut bisa menumbuhkan kembali lengannya yang hilang. Jadi kalau kamu sedih dan hancur… kamu tetap bisa utuh lagi.” Waktu itu Summer hanya cemberut kecil. “Bohong.” “Aku serius.” Pada akhirnya ia memilih percaya. Malam ini, jemarinya kembali menggenggam charm bintang laut itu erat-erat. Rasa sakit di dadanya tidak juga berkurang, tetapi entah kenapa ia masih mengingat kata-kata itu. Dan di balik tangisnya, Summer kecil tetap percaya kalau suatu hari nanti kebahagiaan akan datang lagi, seperti lengan bintang laut. ── ☀︎ ── SEPULUH TAHUN KEMUDIAN ☀️ Summer turun dari pesawat lalu menghirup udara dalam-dalam. Senyum kecil perlahan muncul di wajahnya. Akhirnya ia benar-benar sampai di London. Selama ini tempat itu hanya hidup dalam cerita ibunya dan foto-foto lama yang sering mereka lihat bersama. Dengan satu koper di tangan dan ransel di bahu, Summer berjalan keluar dari bandara. Tidak ada yang menjemputnya. Ibunya tetap di Jepang. Ayahnya juga. Begitu pula kakeknya yang sejak kecil mengajarinya banyak hal dan selalu menjaganya. Di luar terminal, deretan taksi khas London sudah berjejer rapi. Summer menghampiri taksi paling depan. Begitu melihatnya, sang sopir langsung turun, mengambil koper di tangannya tanpa banyak bicara, memasukkannya ke bagasi, lalu membukakan pintu untuknya. Summer mengangguk pelan sebagai ucapan terima kasih lalu masuk dan duduk di kursi belakang. Kemudian sopir itu kembali ke balik kemudi, meliriknya lewat kaca spion, lalu bertanya dengan sopan, “Tujuan, Nona?” "Royal Crest Academy, Mayfair, Pak." Taksi itu perlahan meninggalkan bandara. Summer menatap keluar jendela tanpa mengalihkan pandangan. Gedung-gedung tua dan jalanan yang asing terus berganti di hadapannya. Ia sudah menunggu hari ini sejak lama. Sejak kecil hidupnya selalu diatur oleh kakeknya. Ayah dan ibunya selalu percaya semua keputusan pria itu adalah yang terbaik untuknya. Mungkin memang begitu. Hanya saja, bagi Summer rumah di Jepang terasa seperti sangkar. Jadi ketika kakeknya akhirnya mengizinkannya bersekolah di luar negeri dengan syarat ia harus masuk Royal Crest Academy di London, ia langsung menerimanya tanpa ragu. Bukan karena sekolah itu atau karena kotanya, tetapi karena akhirnya ia punya kesempatan untuk keluar dari Jepang. Di dalam taksi, tangan Summer tanpa sadar menyentuh charm kecil berbentuk bintang laut di pergelangan kirinya. Warna birunya sudah sedikit memudar, tetapi benda itu masih selalu ia pakai. Jemarinya mengusap permukaannya pelan, dan tanpa disadari kenangan lama kembali muncul di benaknya. ── ☀︎ ── Langit London hari itu dipenuhi awan kelabu. Taksi yang ditumpangi Summer perlahan melambat hingga berhenti tepat di depan gerbang besar berwarna hitam. Royal Crest Academy. Selama ini ia hanya mengenal tempat itu dari cerita kakeknya dan beberapa foto di brosur yang pernah dikirim ke rumah. Akademi paling bergengsi di dunia, tempat anak-anak orang kaya, pejabat, dan pemilik perusahaan besar belajar. “Saya berhenti di sini saja, Nona,” ujar sopir di depan. “Lewat titik ini hanya mobil pribadi yang boleh masuk.” Summer mengangguk pelan lalu mengikuti arah pandangnya. Di depan sana, mobil-mobil mewah masuk silih berganti. Petugas yang berjaga hanya mengangkat palang dan membiarkan mereka lewat, seolah semua wajah di dalam mobil sudah tidak asing lagi. “Tidak apa-apa, Pak. Terima kasih.” Ia turun sambil menyampirkan ranselnya dan menunggu sang sopir mengeluarkan koper dari bagasi. Tak lama kemudian taksi itu pergi. Di sampingnya, sebuah Rolls-Royce hitam melambat. Kaca belakangnya turun perlahan, dan seorang gadis di dalamnya menatap Summer beberapa detik lalu menyenggol orang di sampingnya. “Tunggu... siapa dia?” Summer hanya mengeratkan pegangan kopernya dan terus melangkah, tetapi bisik-bisik itu mulai terdengar dari berbagai arah. “Dia cantik banget.” “Kenapa naik taksi?” “Wajahnya nggak cocok sama situasinya.” “Dia masuk dengan cara begitu? Memalukan.” Ia tidak perlu menoleh untuk tahu mereka sedang membicarakannya. Tatapan-tatapan seperti itu sudah terlalu sering ia rasakan. Bukannya membuatnya senang, semua perhatian itu justru membuatnya ingin cepat-cepat menghilang dari pandangan orang lain. Roda koper Summer berbunyi keras setiap kali melewati jalur batu di depan gerbang akademi. Suaranya terdengar begitu jelas di tengah mobil-mobil mewah yang lewat nyaris tanpa suara. Sambil terus menarik kopernya, Summer melihat sekeliling. Bangunan utama di hadapannya menjulang megah seperti kastel, sementara taman luas dengan air mancur membentang di tengah area akademi dan gedung-gedung lain berdiri di sisi kanan dan kirinya. Tanpa sengaja pandangannya beralih ke seberang jalan dan berhenti pada seorang pria berjas yang berdiri di bawah pohon mapel dekat sebuah mobil gelap. Earpiece terpasang di telinganya, tetapi tatapannya tertuju lurus ke arah Summer. Jemari Summer tanpa sadar mengerat di gagang koper. Ia buru-buru mengalihkan pandangan dan memaksa dirinya terus berjalan, tetapi belum sempat napasnya kembali tenang, bisik-bisik di sekitarnya perlahan menghilang. Summer kembali mengangkat kepala dan melihat di taman utama, lima siswa sedang berjalan santai dari arah gedung utama. Mereka tidak terlihat melakukan apa pun, tetapi orang-orang di sekitar seolah otomatis menyingkir memberi jalan. Bahkan petugas keamanan di dekat gerbang langsung menegakkan punggung begitu mereka lewat. Pandangan Summer tanpa sadar berhenti pada pria yang berjalan di tengah. Tubuhnya tinggi dengan bahu lebar dan rahang tegas. Wajahnya terlihat sangat tampan, tetapi yang membuat Summer terus memperhatikannya adalah sikap pria itu yang begitu tenang. Pria itu hanya berjalan seperti biasa, tanpa melihat ke sekeliling atau melakukan apa pun. Semua tatapan yang sejak tadi tertuju pada Summer pun perlahan bergeser ke arahnya. Tanpa sadar Summer kembali melirik ke arah pria berjas itu. Namun kali ini pria tersebut tidak sedang melihatnya, melainkan pada lima pria yang sedang berjalan di taman utama. Beberapa detik kemudian ia melangkah perlahan ke belakang batang pohon, hingga tubuhnya tak lagi terlihat dari tempat Summer berdiri. Summer menarik napas dalam-dalam dan kembali melanjutkan langkahnya. Tak lama kemudian, lima sosok yang sejak tadi menjadi pusat perhatian itu lewat di dekatnya. Anak laki-laki yang berjalan di tengah sama sekali tidak menoleh. Ia terus melangkah dengan tenang. Tapi entah kenapa, rasa takut yang sejak tadi memenuhi dada Summer perlahan ikut menghilang. “Itu dia,” seseorang berbisik pelan di dekatnya. “Jangan menatap.” “Senior yang dibicarakan semua orang.” “Dia bukan orang yang bisa kamu sentuh.” Pandangan Summer mengikuti kelima sosok itu sampai mereka menghilang ke dalam gedung. Tiba-tiba Summer menyadari jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya. Ia mengerutkan kening pelan. Bukankah rasa takutnya sudah hilang? Lalu kenapa jantungnya justru berdebar saat pria itu lewat di dekatnya? “SUMMER!!” Summer langsung berbalik dan melihat Jess berlari menghampirinya lalu memeluknya erat hingga ia nyaris kehilangan keseimbangan. “Kupikir kamu tersesat! Aku senang banget kamu sampai. Mama nanya-nanyain kamu terus!” Summer tidak bisa menahan senyumnya. “Kamu juga?” “Sepuluh kali lebih sering. Setidaknya.” Jess terkekeh. “Mama bahkan bilang kalau kamu nggak datang minggu ini, dia sendiri yang akan jemput kamu ke Jepang.” Melihat Jess berdiri di depannya, Summer baru benar-benar merasa bisa bernapas lega karena ia tidak sepenuhnya sendirian di sini. Mereka sudah saling mengenal sejak kecil. Ibu mereka bersahabat, dan setiap musim semi keluarga Jess selalu datang ke Jepang. Dari situlah semuanya bermula—bermain di taman belakang rumah, saling bertukar gambar, tidur di kamar yang sama sambil mengobrol sampai larut malam, lalu menangis setiap kali musim semi berakhir dan Jess harus kembali pulang. Bahkan jauh sebelum mereka mengingat semua itu, keluarga mereka sudah saling mengenal. Ibunya pernah bercerita kalau Jess ikut datang ke Jepang saat upacara kelahirannya. Keduanya masih sama-sama bayi, terlalu kecil untuk mengingat apa pun. “Kamu capek?” tanya Jess sambil memperhatikan wajahnya. “Sedikit.” “Wajar. RCA bikin stres bahkan sebelum masuk kelas.” “Jess! Ke sini!” Seseorang memanggil dari belakang. Jess langsung menoleh lalu meringis kecil. “Aku ke situ dulu ya? Nanti kita bertemu lagi!” Summer mengangguk dan kembali berjalan menuju asrama. Kampus ini jauh lebih luas daripada yang Summer bayangkan. Rasanya seperti seluruh tempat ini sengaja dibangun untuk mengingatkan semua orang bahwa tidak semua orang layak berada di sini. Entah kenapa, di tengah semua itu, pikirannya justru terus kembali pada sosok lelaki yang tadi lewat di depannya. Kenapa saat melihatnya, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, jantungnya berdebar dengan cara yang tidak bisa ia mengerti? ོ☼𓂃BERSAMBUNG𓂃𓇼 𓂃 𓈒𓏸CHAPTER 143 Sejak pagi, polisi memeriksa rekaman dari pintu masuk arena, lorong atlet, dan koridor di depan ruang penyimpanan medis. Penemuan mengenai botol Dylan membuat perhatian mereka tertuju pada setiap orang yang sempat menyentuh tas pendingin sebelum dibawa ke sisi kolam. Rekaman dari pintu samping memperlihatkan seorang pria berseragam medis memasuki arena sehari sebelum pertandingan. Kartu akreditasinya lolos pemeriksaan, sehingga petugas keamanan membiarkannya menuju area atlet. Pria itu kemudian menerima tas pendingin dari salah seorang petugas resmi dan membawanya ke ruang penyimpanan. Tidak ada kamera di dalam ruangan tersebut, tetapi ia berada di sana sendirian selama beberapa menit. Setelah keluar, tas itu kembali diletakkan di tempat semula. Keesokan harinya, petugas lain mengambilnya dan membawanya ke sisi kolam tanpa memeriksa botol-botol di dalamnya. Seluruh tutup masih tersegel dan label nama atlet tetap terpasang seperti saat persediaan tersebut disiapkan. “Pr
CHAPTER 142 Summer menahan napas ketika jemari Dylan bergerak di dalam genggamannya. Tekanannya begitu lemah hingga ia sempat mengira hanya perasaannya, tetapi beberapa detik kemudian jari-jari itu kembali menggenggam tangannya. “Dylan?” Kelopak mata Dylan perlahan terbuka. Pandangannya belum terarah dan ia membutuhkan waktu cukup lama untuk mengenali Summer yang duduk di sisi tempat tidur. “Kamu...” Suaranya terdengar sangat lemah. “Kamu baik-baik saja?” Pertanyaan itu membuat air mata Summer kembali mengalir. Ia mengangguk berkali-kali sambil menggenggam tangan Dylan dengan kedua tangannya. “Aku baik-baik saja. Kamu yang membuatku takut.” Dylan berusaha mengangkat tangan, tetapi tenaganya belum cukup. Summer membantunya hingga telapak tangan laki-laki itu dapat menyentuh sisi wajahnya. “Jangan menangis.” “Kamu baru sadar dan masih memikirkan aku.” “Aku melihatmu menangis.”
CHAPTER 141 Summer hampir menekan tombol pembayaran ketika Cloud menghentikannya. “Tunggu. Kami akan ikut denganmu.” Summer mengangkat wajah. Cloud sudah berdiri di hadapannya bersama Dre, Axl, dan Tom. Tidak ada keraguan pada wajah mereka meskipun keputusan itu berarti meninggalkan London dalam beberapa jam. “Kalian tidak perlu ikut,” ujar Summer. “Aku bisa pergi sendiri.” “Nggak bisa,” sahut Axl. “Dylan menyuruh kami menjaga kamu selama dia pergi.” “Dia juga bilang tidak ada satu pun dari kami yang boleh meninggalkan London,” lanjut Tom. “Kalau kami membiarkan kamu pergi sendirian sekarang, dia bakal membunuh kami setelah sadar.” Kalimat terakhir Tom membuat semua orang terdiam sesaat. Tidak ada yang berani membayangkan kemungkinan Dylan tidak akan membuka mata lagi. Cloud mengambil ponselnya. “Biar aku yang mengurus penerbangannya. Pesawat keluargaku bisa disiapkan dalam dua jam.” Summe
CHAPTER 140 Logan menyelam melewati tali pembatas begitu melihat tubuh Dylan semakin jauh dari permukaan. Dua petugas penyelamat melompat dari sisi lain, tetapi Logan mencapai Dylan lebih dahulu dan menarik tubuhnya ke atas. Kepala Dylan muncul dalam keadaan terkulai. Ia tidak bereaksi ketika Logan menahan wajahnya agar tetap berada di atas air. “Beri jalan!” teriak salah seorang petugas. Beberapa orang di tepi kolam membantu mengangkat Dylan. Tubuhnya dibaringkan di atas lantai, sementara tim medis segera memeriksa napas dan denyut nadinya. Arena yang beberapa detik lalu dipenuhi sorakan mendadak berubah kacau. Para perenang lain menghentikan perlombaan setelah petugas memberikan tanda, sedangkan penonton berdiri untuk melihat apa yang terjadi. Dylan tidak memberikan respons. Seorang dokter mulai memberikan tekanan pada dadanya, sementara petugas lain memasang alat bantu pernapasan. Air keluar dari mulut Dyl
CHAPTER 139Malam sudah larut di London, tetapi lounge pribadi kelompok Dylan masih dipenuhi suara. Axl dan Tom menguasai meja dengan berbagai makanan ringan, sementara Cloud sibuk menghubungkan siaran pertandingan ke layar besar di dinding. Emma membantu Summer menutup tirai agar cahaya dari luar tidak memantul pada layar.“Dylan benar-benar menyuruhmu menyiapkan makanan?” tanya Axl setelah melihat pesan terakhir yang diterima Summer.Summer meletakkan ponselnya. “Dia hanya tidak mau aku lupa makan.”“Dia pergi untuk bertanding, tapi masih sempat mengatur makananmu dari Australia,” sahut Tom. “Aku bahkan nggak ingat kapan terakhir kali Axl makan, Sum.”“Lo ingat waktu makan sendiri saja sudah cukup,” balas Axl sambil menarik mangkuk keripik menjauh darinya.Tawa mereka memenuhi lounge. Jess baru saja duduk ketika Dre datang membawa selimut tipis dan meletakkannya di pangkuan gadis itu.“Aku tidak kedinginan,” ujar Jess.“Nanti kamu akan kedingin
CHAPTER 138Aula pameran utama RCA telah dipenuhi tamu ketika Summer tiba bersama Emma dan Jess. Para mahasiswa memenuhi bagian depan, sementara dosen, seniman, kolektor, dan tamu undangan Jeffrey berbincang di antara deretan karya yang disusun mengelilingi ruangan. Beberapa jurnalis seni juga terlihat menyiapkan kamera di dekat panggung.Lukisan Summer berada di bagian tengah aula dengan pencahayaan yang membuat dua bayangan di belakang sosok perempuan terlihat jelas.Yuta berdiri tidak jauh dari sana untuk menyambut tamu sebagai salah satu perwakilan mahasiswa tingkat akhir, sedangkan Naoki masih memeriksa panel pencahayaan agar warna lukisan Summer tidak berubah saat lampu utama diredupkan.Cloud, Dre, Axl, dan Tom sudah duduk di barisan yang disediakan bagi keluarga serta teman peserta. Mereka datang lebih awal seperti yang dijanjikan kepada Dylan, meskipun Axl sempat mengeluh karena Tom menghabiskan hampir seluruh makanan ringan yang disediakan panitia.
CHAPTER 4 Keesokan paginya, Summer berdiri beberapa detik di depan pintu kelas A-1 sambil memeluk tablet di dadanya. Begitu pintu terbuka, suara obrolan di dalam langsung mengecil dan beberapa kepala serempak menoleh ke arahnya. “Oh, ranking satu datang.” “Yang kemarin ngomong ke senior Dylan it
CHAPTER 3 “Oh no...” Jess buru-buru menarik pelan lengan Summer. “Summer...” bisiknya cepat. “Kamu nggak dengar aku tadi?!” Namun Summer tidak mengalihkan pandangannya dari charm kecil di dekat sepatu pria itu. Ia melangkah sedikit mendekat sambil berkata pelan, “Itu gelangku.” Pria itu tetap dia
CHAPTER 2 Kamar asrama itu sunyi. Summer duduk di tepi tempat tidurnya sambil memegang buku asesmen yang terbuka di pangkuannya. Beberapa pulpen sudah berjajar rapi di sampingnya, sementara seragam RCA untuk besok tergantung rapi di pintu lemari. Semua sudah siap, tetapi tangan Summer masih salin
AUTHOR’S NOTE & DISCLAIMER 𓂃✍︎Selamat datang, dan terima kasih karena sudah membuka halaman pertama dari cerita ini.Sebelum kalian memulai perjalanan bersama Summer, izinkan penulis menyampaikan beberapa hal terlebih dahulu.Cerita ini adalah karya fiksi yang lahir dari imajinasi, emosi, dan ban







