LOGIN
CHAPTER 1
PROLOG 👧 Summer baru berusia lima tahun ketika suara itu membelah ruangan, menghancurkan masa kecilnya dalam satu detik yang brutal. Suara itu meledak. Menggelegar hebat hingga memekakkan telinga dan membuat kaca-kaca jendela di ruangan besar itu bergetar. Gema tembakan itu memantul di dinding-dinding tinggi, meninggalkan bunyi berdenging panjang yang menyakitkan di kepala Summer. Itu adalah jenis bunyi yang tidak hanya didengar oleh telinga, tapi juga dirasakan oleh detak jantung yang mendadak berhenti. Ia menoleh tepat pada waktunya untuk melihat seorang pria terjatuh. Sedetik sebelumnya, pria itu berdiri sangat dekat dengannya, tampak gagah di antara pilar-pilar ruangan yang megah. Tinggi. Tegap. Diam. Selalu mengawasi. Sosok yang selalu ada di sudut pandangnya, seperti bayangan pelindung yang tak pernah pergi. Namun kini, ia tidak berdiri lagi. Tubuh itu menghantam lantai marmer dengan dentuman yang berat. Cairan merah pekat menyebar di bawahnya. Perlahan. Awalnya hanya sedikit, lalu mengalir deras semakin luas, seolah lantai marmer yang putih bersih itu tak mampu menahan noda yang begitu kental. Seseorang berteriak histeris. “Jangan lihat!” seorang perempuan menangis, suaranya pecah oleh ketakutan. Ia mendekap Summer ke dalam pelukan yang gemetar hebat, berusaha menutupi pandangan anak itu. Namun sudah terlambat. Summer telah melihat semuanya. Ia melihat bagaimana tubuh itu ambruk tanpa perlawanan. Ia melihat bagaimana mata pria itu tetap terbuka lebar, menatap kosong ke arah langit-langit yang berhias ukiran rumit. Dan yang paling mengerikan adalah bagaimana ruangan itu mendadak menjadi sunyi senyap tepat setelah gema ledakan tadi menghilang—seakan dinding-dinding pun terlalu takut untuk bernapas. Seorang pria lain melangkah maju dari kegelapan sudut ruangan. Gerakannya tenang. Terlalu tenang hingga terasa tidak manusiawi. Ia berlutut di samping tubuh yang tergeletak, memeriksa denyut nadi dengan cepat, lalu berdiri kembali tanpa sedikit pun perubahan raut wajah. “Bawa dia keluar,” perintahnya datar, seolah nyawa yang baru saja melayang hanyalah sebuah gangguan kecil. Tangan-tangan dewasa segera mengangkat Summer dari lantai. Tubuh kecilnya terangkat begitu saja, seolah ia tak berbobot di tengah kekacauan itu. Seseorang menangis tersedu-sedu. Seseorang memanggil namanya dengan suara parau. Namun suara-suara itu terdengar sangat jauh, seakan teredam oleh lapisan es tak kasat mata yang mulai menyelimuti dirinya. Summer tidak mengerti mengapa ia harus dilarikan keluar. Ia tidak mengerti mengapa tidak ada satu pun orang dewasa yang berteriak marah. Ia juga tidak mengerti mengapa orang-orang di sekitarnya tidak terlihat takut. Yang ia tahu hanyalah ini: orang-orang dewasa bisa berbicara dengan suara rendah yang terkendali, sementara darah segar masih menggenang di lantai. Bertahun-tahun kemudian, Summer akan melupakan banyak detail tentang hari itu. Wajah-wajah yang hadir. Kata-kata yang diucapkan. Urutan kejadian yang berdarah. Namun, ia tidak pernah bisa melupakan sensasi yang membekas di nadinya. Dingin. Sunyi. Kosong. Dan sebuah kebenaran yang menetap perlahan di dadanya, tanpa suara, tanpa perlawanan: Setiap kali cinta disebut, selalu ada sesuatu yang hilang. ⸻ SEPULUH TAHUN KEMUDIAN ☀️ Jepang tidak pernah benar-benar melepaskan Summer—ia hanya berhenti menggenggamnya. Dalam sepuluh tahun yang berlalu sejak hari itu, luka itu tidak sembuh—hanya mengeras, membeku di tempat yang tak bisa disentuh kata-kata. Dan di suatu titik dalam rentang waktu itu, tanpa upacara perpisahan, tanpa penjelasan yang sepenuhnya ia pahami, Summer meninggalkan negara yang membesarkannya. Ia tidak pergi untuk mencari rumah baru. Ia pergi karena hidupnya bergerak ke arah lain. ⸻ Summer tiba di London—tepat di depan gerbang Royal Crest Academy, sebuah institusi yang disebut-sebut sebagai akademi paling bergengsi di mata dunia. Royal Crest Academy bukanlah tempat yang dirancang untuk menyambut pendatang baru. Sekolah ini dirancang untuk menghakimi mereka. Summer memahami itu sejak taksi mulai melambat di dekat gerbang besi besar yang menjulang di depannya. “Saya berhenti di sini saja,” kata sopir dengan nada sopan. “Lewat titik ini, hanya mobil pribadi yang boleh masuk.” Summer mengangguk pelan, matanya menatap palang otomatis yang dijaga ketat oleh petugas berseragam militer rapi. “Tidak apa-apa, Pak. Terima kasih.” Di depannya, deretan mobil mewah melaju tanpa jeda—sedan hitam mengilap dengan kaca gelap, mesin nyaris tak bersuara. Petugas keamanan mengangkat palang secara otomatis. Nama dan wajah dikenali tanpa perlu ditanya. Taksi itu menepi di bahu jalan yang berdebu. Summer turun. Untuk sesaat—hanya satu detik yang terasa abadi—gerakan di depan Royal Crest Academy seakan membeku. Bukan karena kehadiran taksi kuning yang kontras di tengah kemewahan itu, melainkan karena sosok yang keluar dari dalamnya. Cahaya matahari pagi menyentuh rambut Summer yang hitam legam dan halus, menciptakan kilau yang kontras dengan kerah seragam RCA berwarna pucat yang ia kenakan. Wajahnya begitu tenang—terlalu tenang bagi seorang gadis yang berdiri sendirian dengan sebuah koper tua di depan gerbang sekolah paling elit di negeri ini. Ada sesuatu pada dirinya. Bukan mencolok. Bukan dramatis. Namun diam-diam memikat. Summer adalah siswa tahun pertama jenjang SMA. Cukup muda untuk diperhatikan. cukup baru untuk diuji oleh hierarki yang kejam. Sopir taksi menurunkan kopernya. Satu koper besar, satu ransel. Hanya itu seluruh dunianya. Di belakangnya, sebuah Rolls-Royce hitam melambat. Kaca belakangnya turun separuh, memperlihatkan seorang gadis yang menatap Summer dengan tatapan menyelidik, lalu menyenggol orang di sampingnya. “Tunggu… siapa dia?” Summer mengeratkan genggaman pada gagang kopernya. Ia mulai melangkah, dan seketika itu juga, tatapan-tatapan tajam mulai menghujamnya. Tidak semuanya mengejek; ada yang penasaran, ada yang terkejut karena kecantikan wajahnya yang polos tanpa riasan, dan ada pula yang menahan pandang terlalu lama—mencoba menilai berapa harga "kualitas" yang dibawa gadis asing ini. “Dia… sangat cantik.” “Kenapa orang seperti dia datang naik taksi?” “Wajahnya nggak cocok sama situasinya.” Bisik-bisik itu kini terdengar gelisah. Di tempat seperti RCA, kecantikan adalah mata uang yang sah, dan Summer membawanya dalam jumlah besar tanpa ia sadari betapa berbahayanya hal itu. Kekaguman mereka tidak akan melindunginya; tawa sinis tetap mengikuti, kini lebih pelan namun dengan ujung yang lebih tajam. Bahunya menegang. Napasnya menjadi pendek. Ia merasa terekspos. Seperti sesuatu yang rapuh, dipajang di etalase yang salah. Lalu perasaan itu datang. Perasaan yang tak pernah bisa ia jelaskan. Seolah ada mata-mata yang menekan punggungnya. Langkahnya melambat. Pantulan wajah-wajah asing bergeser di dinding kaca sepanjang pintu masuk. Murid-murid berlalu, tertawa, berbincang— Namun di seberang jalan, dekat sebuah mobil gelap yang terparkir di bawah pepohonan mapel, seorang pria berdiri diam. Setelan jas. Ear-piece. Ia tidak melihat sekolah. Ia melihat Summer. Dada Summer mengencang. Kecantikannya tak pernah terasa seperti perisai, hanya seperti sorotan lampu yang membuatnya tak bisa bersembunyi. Jangan lihat. Terus berjalan, batinnya memerintah. Suara roda koper menggema terlalu keras di jalur batu. “Dia masuk dengan cara begitu?” “Sayang sekali, jujur saja.” Pandangan Summer sedikit kabur. Ia menunduk, menatap tanah. Mengatur napas. Satu langkah. Lalu satu lagi. Lalu— Semuanya berhenti. Bukan perlahan. Sekejap. Bisik-bisik terhenti di tengah napas. Tawa lenyap begitu saja. Bahkan langkah kaki tersendat. Summer merasakannya sebelum ia benar-benar memahami—perubahan mendadak di udara, seolah dunia baru saja terkunci pada porosnya. Ia mendongak. Lima siswa melangkah melewati gerbang utama. Mereka tidak tergesa, tidak butuh pengawalan ketat, namun mobil-mobil di belakang mereka berhenti dengan patuh. Petugas keamanan menegakkan punggung dengan sikap hormat yang absolut. Di tengah kelompok itu, berjalan seorang anak laki-laki yang tak membutuhkan usaha apa pun untuk menguasai keadaan. Tinggi, dengan bahu lebar yang tegap. Parasnya tampan dengan garis rahang yang tegas. Sikapnya tenang, nyaris sempurna. Kehadirannya tidak keras. Ia mutlak. Para murid menyingkir ke pinggir jalan tanpa sadar, memberikan jalan layaknya untuk seorang raja. Guru-guru di kejauhan merendahkan suara mereka. Tatapan yang tadinya menghakimi Summer bergeser seketika, seolah naluri mereka tahu siapa penguasa sebenarnya di sini. Di seberang jalan, pria bersetelan jas tadi menegang. Pandangannya melirik ke arah anak laki-laki itu selama sepersekian detik—lalu ia mundur ke dalam bayangan pohon dan menghilang Summer menarik napas tajam. Paru-parunya terasa penuh untuk pertama kalinya sejak taksi berhenti. Anak laki-laki itu tidak menoleh. Tidak memperhatikan gadis dengan koper dan wajah yang sudah dihakimi orang asing. Ia berlalu seolah Summer tidak ada. Namun— Rasa takut itu mengendur. Seolah sesuatu yang berbahaya telah diperingatkan pergi tanpa sepatah kata. Sebuah bisikan terdengar di dekatnya. “Itu dia,” seseorang berbisik. “Senior yang dibicarakan semua orang.” “Jangan menatap,” suara lain memperingatkan. Yang ketiga berucap pelan, nyaris penuh hormat, “Dia bukan seseorang yang bisa kau sentuh.” Summer menatap kelima sosok itu hingga mereka menghilang ke dalam gedung utama. Tangannya gemetar. Ia baru menyadarinya saat mencoba menenangkan kopernya. Siapa dia? Mengapa dunia seakan membengkok di sekitarnya? Dan mengapa ia merasa aman saat anak laki-laki itu muncul? “SUMMER!” Suara yang dikenalnya memecah lamunannya. Jess berlari menghampiri dan langsung memeluknya erat. “Kupikir kamu tersesat,” kata Jess sambil tersenyum lebar. “Aku senang banget kamu sampai. Mamaku nanya-nanya kamu terus.” Summer mengembuskan napas kecil. “Kamu juga?” Jess tertawa. “Sepuluh kali lebih sering. Setidaknya.” Untuk sesaat, dunia terasa lebih ringan. Lalu seseorang memanggil nama Jess dari belakang. “Jess! Ke sini!” Jess meringis. “Aku ke situ dulu nanti balik lagi, ya? Jangan menghilang.” Summer mengangguk. Jess berlari pergi, sudah diseret ke kelompok lain. Summer berdiri sejenak. Lalu melangkah lagi—sendirian—menuju asrama, kopernya menggelinding pelan di belakangnya. Kampus terbentang luas dan asing. Ia sudah melangkah masuk, melewati gerbang yang menjadi pembatas antara dunianya yang sederhana dan kemegahan yang mengintimidasi. Namun, perasaan itu tetap tidak mau pergi—perasaan bahwa dinding-dinding batu tua Royal Crest Academy ini memiliki mata yang sedang menilai setiap geraknya. Sekolah ini tidak hanya sedang menyambutnya; sekolah ini sedang menghitung mundur, mengukur dengan dingin berapa lama seorang gadis seperti dia akan bertahan sebelum akhirnya hancur oleh tekanan. Saat ia melangkah lebih dalam menyusuri jalan setapak, di bawah bayangan bangunan-bangunan megah yang tampak seperti kastil kuno, sebuah kepastian yang pahit mulai mengendap di dasar dadanya. Di suatu tempat di dalam akademi ini, ada seseorang yang hanya dengan kehadirannya mampu membuat dunia mundur selangkah. Dan ia bahkan tidak tahu namanya. Siapakah anak laki-laki yang membuat bahaya pun memilih pergi— dan mengapa kehadirannya terasa seperti tarikan napas aman pertama yang ia rasakan dalam bertahun-tahun? BERSAMBUNG…CHAPTER 54Royal Crest Academy bukan sekadar sekolah. Ia adalah sebuah wilayah.Sebuah kompleks pendidikan yang membentang luas di pinggiran kota London, menempati ratusan hektar lahan yang dipagari bukan oleh tembok tinggi—melainkan oleh reputasi yang jauh lebih kokoh daripada beton mana pun.Dari udara, RCA tampak seperti kota kecil yang dirancang dengan presisi. Gedung-gedungnya tersusun rapi, dipisahkan oleh taman, jalan setapak berbatu, dan danau buatan yang memantulkan langit Inggris yang sering murung. Tidak ada sudut yang dibiarkan tumbuh liar. Setiap pohon dipangkas. Setiap jalur ditata. Segalanya terkontrol.Di sisi timur kompleks berdiri RCA High School—tempat murid-murid berusia belasan tahun ditempa sejak dini. Gedung-gedungnya tinggi, bergaya klasik Eropa, dengan pilar marmer dan jendela besar yang membiarkan cahaya masuk tanpa memberi ruang bagi bayangan untuk bersembunyi. Di sinilah Summer, Emma, Jess, dan murid-murid lain menghabiskan hari-hari
CHAPTER 53Di balik bar chef yang terbuat dari kayu hinoki pucat, Dylan berdiri dengan apron hitam yang membungkus kemeja gelapnya.Tangannya bergerak dengan kecepatan yang menakutkan namun penuh presisi—irisan ikan salmon toro itu jatuh dengan rapi, nasi ditekan dengan tekanan yang pas agar tidak hancur namun tetap lembut. Ia seharusnya fokus pada seni memotong, sebuah cara yang biasanya ia gunakan untuk menenangkan pikirannya yang selalu berisik dengan data dan strategi akademi. Ia tidak berniat memperhatikan meja di sudut itu.Namun pikirannya, matanya, dan seluruh syaraf tubuhnya… tidak sepakat.Tanpa sadar, pandangannya melayang ke arah Summer. Di bawah temaram lampu lampion, Dylan melihat cara gadis itu duduk—sedikit kaku, seolah ia takut merusak estetika tempat ini. Ia melihat bagaimana Cloud condong sesekali saat bicara, mencoba memecah jarak. Dan ia melihat Summer menanggapi dengan senyum tipis—sopan, tenang, namun sama sekali tidak mengundang.Dyla
CHAPTER 52Malam itu, Summer duduk sendirian di bangku taman dalam. Berbeda dengan taman-taman lain di Royal Crest Academy yang terbuka dan luas, taman ini adalah sebuah courtyard tersembunyi yang dikelilingi oleh dinding kaca Building A yang menjulang. Di sini, kemewahan RCA terasa lebih tenang dan sunyi. Lantainya bukan rumput biasa, melainkan susunan batu kuarsit putih yang berpendar lembut di bawah cahaya bulan. Di tengahnya, terdapat kolam refleksi yang airnya tidak bergerak sedikit pun, tampak seperti cermin hitam yang sangat mahal. Bangku yang diduduki Summer terbuat dari kayu eboni yang dipoles hingga permukaannya terasa sedingin porselen. Udara di sini terasa lebih tipis, membawa aroma bunga Night-Blooming Jasmine yang ditanam di sepanjang koridor kaca. Lampu-lampu taman di sini berupa pilar-pilar kristal minimalis yang tertanam di lantai, memantulkan cahaya kekuningan yang redup ke dedaunan pohon perak yang rimbun, menciptakan bayangan yang bergerak stat
CHAPTER 51Sunyi kembali merambat di antara mereka. Summer menggeser berat badannya dengan canggung, sebelum akhirnya memilih kata-kata yang paling aman untuk memecah kebuntuan. "Ah... tentang jas Kak Dylan... yang malam itu," Summer membuka suara dengan ragu. “Aku sudah masukkan ke laundry,” lanjut Summer cepat. “Laundry internal RCA. Mereka bilang butuh dua hari karena bahannya khusus.” Nada suaranya hati-hati, seolah takut dianggap sembarangan."Kau simpan saja dulu," jawabnya singkat. "Tidak perlu terburu-buru." Kalimat itu memutus pembicaraan sebelum sempat berkembang lebih jauh. Dylan kemudian melirik ujung koridor yang mengarah ke area asrama putri, tempat lampu-lampu menyala redup dan lorong tampak memanjang tak berujung. "Sudah malam," ucap Dylan kemudian. Nada suaranya netral, sebuah pernyataan waktu yang objektif, tanpa bumbu kepedulian yang nyata. "Biar aku antar sampai depan lift." Tidak ada nada memaksa, tidak ada alasan yang dibuat-bua
CHAPTER 50Dylan mencondongkan tubuh sedikit, jarak mereka menyempit. Tatapannya tidak berkedip. “Meski dia kuat,” ujar Dylan, “kekuatan tanpa senjata hanya bertahan—bukan menang.” Ia mencondongkan kepala sedikit. “Dan kau,” katanya tenang, “belum menjadi senjata itu.”Cloud terpaku. Ia menelan ludah yang terasa pahit. Dre, Tom, dan Axl mematung, tidak percaya Dylan akan bersikap sefrontal itu.Dre berdehem, mencoba menarik napas. “Ehmm. Jadi… apa yang harus kita lakukan?”“Setiap kali kalian mendengar rumor itu,” perintah Dylan tanpa ragu, “dari siapa pun. Entah anak bangsawan atau putra presiden. Ancam mereka. Pastikan mereka mendapat surat peringatan dari administrasi. Dan jika perlu—keluarkan dari akademi ini.” “Gue setuju,” Tom menyeringai. “Gue udah lama pengen ngeluarin beberapa siswa.”“Ini bukan permainan,” potong Dylan dingin.Dre langsung melempar bantal sofa ke arah Tom. “Mulut lo dijaga.”Cloud tidak berkata apa-apa. Ia menunduk, me
CHAPTER 49Di sisi lain kampus, di sebuah kamar yang jauh lebih sederhana dan sunyi, Summer Bong sedang menenggelamkan diri di meja belajarnya. Buku-buku teks terbuka lebar, catatan tersusun dengan urutan yang sangat rapi, dan ujung penanya bergerak tanpa henti. Ia memaksa angka dan rumus matematika tingkat tinggi mengisi setiap inci otaknya, mencoba membangun benteng agar pikirannya tidak kembali terseret ke malam lelang itu. Ke aula. Ke nama yang terus menghantuinya. Di seberang meja Summer, Emma fokus pada rangkaian kecil di atas mejanya—prototipe robotik yang setengah jadi. Tangannya cekatan, matanya tajam, pikirannya tenggelam pada mekanisme dan logika.Tidak ada musik. Tidak ada percakapan. Namun, di kamar ini tidak ada ketegangan yang menyesakkan. Hanya ada ketenangan yang mereka pilih dengan sadar untuk bertahan hidup.Dua kamar.Dua dunia.Dua cara bertahan yang sangat berbeda.Dua kamar. Dua dunia yang bertolak belakang. Dan







