MasukCHAPTER 111
Summer membeku. Pandangannya bergantian antara Dylan dan gelang yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. Rasanya mustahil. Berkali-kali ia merasa wajah Dylan begitu tidak asing, tetapi tak pernah sekalipun terpikir bahwa pria di hadapannya adalah anak laki-laki yang selama ini terus ia cari.“Itu…” Suaranya nyaris berubah menjadi bisikan. “Tidak mungkin.” Ia menggeleng pelan, masih mencoba menyangkal kenyataan yang baru saja didengarnya. “Apa kau sedang bercandaCHAPTER 111Summer membeku. Pandangannya bergantian antara Dylan dan gelang yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. Rasanya mustahil. Berkali-kali ia merasa wajah Dylan begitu tidak asing, tetapi tak pernah sekalipun terpikir bahwa pria di hadapannya adalah anak laki-laki yang selama ini terus ia cari.“Itu…” Suaranya nyaris berubah menjadi bisikan. “Tidak mungkin.” Ia menggeleng pelan, masih mencoba menyangkal kenyataan yang baru saja didengarnya. “Apa kau sedang bercanda?”“Aku tidak pernah bercanda soal ini.”Jawaban singkat itu membuat jantung Summer berdegup semakin kencang. Tak ada sedikit pun keraguan di wajah Dylan, membuat penyangkalan yang sejak tadi berusaha ia pertahankan mulai goyah.“Kalau begitu…” Summer menarik napas pelan. “Buktikan.”Dylan mengangguk. “Tiga belas tahun yang lalu, di taman rumah Kakekmu…” Suaranya terdengar tenang. “Kau memaksaku naik ke atas kuda bersamamu.”Summer hanya mampu menatap Dylan tanpa berkedip.
CHAPTER 110Pintu utama terbuka bahkan sebelum Dylan sempat menekan bel.Seorang pria paruh baya sudah berdiri di ambang pintu, seolah memang telah menunggu kedatangan mereka. Senyum hangat langsung menyambut keduanya. “Selamat datang.”Dylan mengangguk kecil. “Ayah.”Summer yang berdiri di samping Dylan seketika membeku. Ayahnya…? Tatapannya tak lepas dari pria di hadapannya. Entah mengapa wajah itu terasa begitu akrab, seolah pernah ia lihat bertahun-tahun yang lalu, tetapi semakin ia berusaha mengingat, bayangan itu justru semakin kabur.Arthur ikut memandang Summer beberapa saat. Senyumnya tak berubah. “Kau sudah besar.”Summer tersadar dari lamunannya lalu sedikit membungkukkan badan. “Selamat siang, Pak.”Arthur masih memandang Summer. Sorot matanya perlahan melembut hingga senyum di wajahnya ikut berubah semakin hangat. “Sudah lama… saya menunggu hari ini.”Summer mengernyit pelan. Kalimat itu terdengar begitu tulus, seolah pria di hadapan
CHAPTER 109Dylan memperhatikan iring-iringan mobil keluarga Ryu hingga menghilang dari halaman Royal Crest Academy.Di sampingnya, Summer masih memandangi arah yang sama. “Senior Dylan.”“Hm?”“Arthur…” Summer mengernyit pelan. “Apa kau mengenalnya?”Dylan mengangguk. “Dia ayahku.”“Ayahmu?” Wajah Summer tampak kaget.“Iya.” Tatapan Dylan kembali jatuh kepada Summer. Ternyata gadis itu memang belum mengetahui apa pun.“Kalau begitu…” Summer kembali bertanya. “Bagaimana Kakek bisa mengenal ayahmu?”Dylan terdiam beberapa saat. Ia bisa saja menjawab, tetapi setelah semua yang baru saja terjadi, ia merasa bukan dirinya yang berhak menceritakan kisah itu.“Itu…” Senyum tipis muncul di wajahnya. “Biarkan Tuan Takeshi yang menjelaskannya nanti.” Summer mengangguk pelan, lalu kembali menundukkan kepala.Dylan memperhatikan wajah gadis itu sejenak. Hari ini terlalu banyak hal yang harus diterimanya. “Summer... apa kau baik-baik saja?”“A
CHAPTER 108Kai tidak segera menjawab. Tatapannya tetap tertuju pada Summer yang kini berdiri di sisi Dylan sambil menggenggam lengan pria itu. Namun sesuatu telah berubah. Gadis yang selama bertahun-tahun selalu menundukkan kepala di hadapannya kini balas menatap tanpa lagi berusaha menghindar. Summer tidak lagi bersembunyi darinya.Pandangan Kai kemudian menyapu halaman Royal Crest Academy, mulai dari mobil-mobil hitam yang terus berdatangan, para pria berpakaian hitam yang telah membentuk beberapa lapis pengamanan, hingga kilatan cahaya di atap gedung utama yang langsung dikenalnya sebagai posisi para penembak.Senyum tipis perlahan muncul di wajahnya saat pandangannya kembali berhenti pada Dylan yang tetap berdiri di sisi Summer tanpa sedikit pun bergeser. Dylan ternyata telah mempersiapkan semuanya jauh lebih matang daripada yang ia perkirakan.Hari ini ia hanya datang dengan beberapa pengawal, sementara Dylan telah mengubah seluruh sekolah menjadi benteng.
CHAPTER 107“…Kai Akazakura.”Dylan seketika berdiri dari kursinya. Jantungnya berdetak lebih cepat dan tangannya refleks merogoh saku jas lalu mengeluarkan ponsel.Begitu layar menyala, sorot matanya berubah saat melihat sembilan panggilan tak terjawab dari Ethan beserta pesan yang baru masuk beberapa menit sebelumnya.💬 Ethan: Tuan muda. Kai Akazakura menuju Royal Crest Academy. Saya tidak bisa menyusulnya secepat itu. Jalanan menuju sekolah macet. Beberapa tim kehilangan arah setelah target memecah jalur pengawasan. Maaf.“…Jadi begitu.” Dylan mengembuskan napas kasar. Kai tidak pernah menghilang. Pria itu sengaja memecah perhatian seluruh tim Ethan agar bisa datang ke Royal Crest tanpa ada yang menyadarinya.“Dy.” Cloud yang berdiri di sampingnya ikut melihat perubahan ekspresi Dylan.“Dia tidak boleh ada di sini.”Cloud mengernyit. “Lo kenal dia?”Dylan mengangkat pandangannya ke arah Summer yang masih membeku di atas panggung. “Masalah
CHAPTER 106Senin pagi.Cahaya matahari yang masuk dari balik jendela memenuhi kamar asrama Dylan. Ia berdiri di depan meja kerja sambil membuka laci paling bawah, lalu mengangkat sebuah kotak beludru hitam.Saat tutupnya terbuka, di dalamnya terdapat sebuah kalung sederhana dengan liontin perak kecil.Tatapan Dylan melembut. Kalung itu sudah ia siapkan beberapa waktu lalu sebagai hadiah kelulusan untuk Summer. Dan hari ini, akhirnya tiba juga saat yang ia tunggu untuk memberikannya.“Bagus.” Suara Cloud membuat Dylan menoleh. Pria itu bersandar santai di dekat pintu sambil memasukkan kedua tangan ke saku celana. “Dia pasti suka.”Dylan kembali memandang kalung itu beberapa saat, lalu menutup kotaknya perlahan. “Cloud.”“Hm?”“Ada yang belum gue omongin sama lo.”Cloud mengangkat sebelah alis, menyadari nada bicara Dylan kali ini jauh lebih serius daripada biasanya. “Apa?”“Gue tahu… lo pernah suka sama Summer.”Cloud terdiam mendenga
CHAPTER 41“Gue nggak salah suka sama dia,” lanjut Cloud santai.Kalimat itu sederhana, namun efeknya seperti ledakan yang memekakkan telinga. Dylan menegang. Ia tidak membuat gerakan besar. Ia tidak mengeluarkan makian. Namun, ada satu tarikan napas yang terlalu pelan—sebu
CHAPTER 28Cloud mengernyit, matanya menyipit penuh kecurigaan. "Maksud lo?" Axl mengembuskan napas pelan, seolah sedang memutar kembali memori yang mengganggu pikirannya. "Dia tampak seperti tidak tahu di mana dia berada. Pikirannya kosong." Ruangan itu kembali diselimuti kesu
CHAPTER 4 Keesokan paginya, Summer berdiri beberapa detik di depan pintu kelas A-1 sambil memeluk tablet di dadanya. Begitu pintu terbuka, suara obrolan di dalam langsung mengecil dan beberapa kepala serempak menoleh ke arahnya. “Oh, ranking satu datang.” “Yang kemarin ngomong ke senior Dylan it
CHAPTER 3 “Oh no...” Jess buru-buru menarik pelan lengan Summer. “Summer...” bisiknya cepat. “Kamu nggak dengar aku tadi?!” Namun Summer tidak mengalihkan pandangannya dari charm kecil di dekat sepatu pria itu. Ia melangkah sedikit mendekat sambil berkata pelan, “Itu gelangku.” Pria itu tetap dia







