تسجيل الدخولCHAPTER 137Summer terbangun sebelum alarm berbunyi. Langit London masih gelap ketika ia meninggalkan kamar dan mendapati Emma serta Jess sudah berada di dapur.Emma sedang mengawasi roti di dalam pemanggang, sementara Jess menyusun buah di atas piring. Meja makan telah dipenuhi sarapan yang cukup untuk empat orang.“Kalian bangun sepagi ini?” tanya Summer.“Hari ini Senior Dylan berangkat,” jawab Emma. “Kami ingin mengucapkan selamat jalan.”Jess meletakkan potongan stroberi terakhir. “Dan memastikan kalian benar-benar sarapan. Kalau dibiarkan berdua, kalian mungkin hanya akan saling memandang sampai Ethan datang.”Summer baru hendak membantah ketika bel pintu berbunyi. Jess segera membukanya dan menemukan Dylan berdiri di luar dengan jaket tersampir di lengannya.“Masuklah,” ujar Jess. “Kami sudah selesai menyiapkan sarapan.”Dylan mengikuti mereka menuju ruang tengah. Emma memberinya sebuah wadah makanan sebelum mempersilahkannya duduk.“I
CHAPTER 136Summer dan Jess menemukan Emma di ruang tengah suite dengan laptop terbuka di hadapannya. Beberapa lowongan pekerjaan memenuhi layar, sementara percakapan dengan ibunya masih terbuka di ponsel yang tergeletak di atas meja.“Kamu mencari pekerjaan?” tanya Summer.Emma mengangkat wajah. Matanya sudah memerah meskipun ia berusaha tersenyum seperti biasa. “Usaha katering orang tuaku mengalami kerugian. Mesin pendingin mereka rusak dan sebagian besar bahan untuk pesanan besar tidak dapat digunakan. Mereka harus mengembalikan uang muka, membayar pemasok, dan memberikan ganti rugi kepada pelanggan.”Jess langsung duduk di sebelahnya. “Lalu pesan ibumu tadi?”“Untuk sementara mereka tidak bisa mengirim biaya hidup.” Emma menutup laptopnya sebelum Summer sempat membaca lowongan yang dipilihnya. “Beasiswaku memang menanggung biaya kuliah, tetapi tidak termasuk makan dan kebutuhan sehari-hari.”“Kamu tidak boleh bekerja di luar kampus tanpa izin RCA,” u
CHAPTER 135Di pusat latihan negaranya, Logan Miller baru menyelesaikan putaran terakhir ketika pelatih meniup peluit dan memintanya keluar dari kolam. Ia melepas kacamata renang, lalu melihat catatan waktu yang ditunjukkan dari tepi.“Masih lebih lambat daripada kemarin,” ujar pelatihnya.“Hanya sepersekian detik.”“Sepersekian detik cukup untuk membuatmu kehilangan rekor.”Logan tertawa dan mengangkat tubuhnya dari kolam. Sikap santainya sering membuat orang lupa bahwa dirinya belum pernah kalah selama empat tahun. Namun begitu pertandingan dimulai, Logan tidak pernah memberikan kesempatan kepada lawannya untuk mendekat.Seorang anggota tim menyerahkan handuk dan tablet kepadanya. “Kamu harus melihat wawancara Dylan Seo.”Nama tersebut langsung menarik perhatian Logan. Dua minggu sebelumnya, ia hanya terdaftar pada nomor 100 meter gaya bebas. Namun catatan waktu Dylan pada kejuaraan nasional membuatnya meminta federasi menambahkan namanya ke nomor
CHAPTER 134Dua minggu kemudian, latihan Dylan mulai mendapat perhatian lebih besar sejak pemegang rekor dunia memutuskan mengikuti nomor 200 meter gaya bebas. Beberapa stasiun televisi bahkan menunggu di luar pusat olahraga RCA sejak pagi untuk meliput persiapannya.Dylan tidak membiarkan keberadaan mereka mengubah jadwal latihan. Ia sudah berada di dalam kolam selama hampir dua jam, mengulang jarak yang sama hingga tubuhnya mulai terasa berat. Pelatih berdiri di tepi kolam dengan stopwatch di tangan, sementara beberapa anggota tim mencatat setiap perubahan waktu.“Sekali lagi,” ujar Dylan setelah melihat hasil terakhir.Pelatihnya menggeleng. “Kecepatanmu menurun pada lima puluh meter terakhir. Kalau dipaksakan sekarang, hasilnya tidak akan berubah.”“Selisihnya masih terlalu jauh.”“Kurang dari satu detik bukan selisih yang jauh.”“Cukup jauh untuk membuatku kalah.”Dylan kembali memasang kacamata renangnya, tetapi sang pelatih menahan bahunya
CHAPTER 133Minggu pagi biasanya menjadi waktu bagi Summer untuk membantu para pekerja di sekitar kampus, lalu beristirahat di bangku dekat danau. Kebiasaan itu sudah dimilikinya sejak masa SMA dan tidak pernah benar-benar berubah, bahkan setelah ia mulai tinggal bersama Emma dan Jess.Dylan mengetahui hal tersebut. Karena itu, ketika dua panggilannya tidak dijawab dan pesannya hanya bertanda terkirim, ia memutuskan mencari Summer ke arah danau.Dari balik deretan pohon, ia melihat Summer berjongkok tidak jauh dari jalur batu. Sebuah pouch kecil terbuka di sampingnya, sedangkan Naoki berada di dekat gadis itu.Dylan tidak dapat melihat apa yang sedang dipegang Summer, tetapi cara Naoki membantu merapikan barang-barangnya membuatnya tahu mereka hendak pergi.Saat Summer berdiri dan berjalan bersama Naoki menuju arah klinik, laki-laki itu akhirnya mengangkat wajah.Tatapan Naoki bertemu dengan Dylan.Tidak ada perubahan berarti pada wajahnya. Naoki han
CHAPTER 132Sore berikutnya, sebuah mobil dari perusahaan Dylan menunggu Summer di depan Fakultas Seni. Pengemudinya membawa Summer menuju kantor pusat perusahaan yang berada tidak jauh dari RCA, lalu berhenti di depan gedung berdinding kaca tersebut.Ethan telah menunggu di dekat pintu masuk ketika Summer tiba.“Selamat sore, Nona Summer.”“Selamat sore. Maaf merepotkanmu. Dylan masih bekerja?”“Nona tidak merepotkan saya. Tuan Muda sedang rapat, tetapi beliau meminta saya langsung membawa Anda ke ruangannya begitu Nona tiba.”Summer mengikuti Ethan memasuki gedung. Tepat di balik pintu utama terdapat area pemeriksaan yang harus dilewati seluruh pegawai dan pengunjung sebelum memasuki lobi. Summer hendak meletakkan tasnya pada mesin pemindai, tetapi Ethan menghentikannya.“Tidak perlu, Nona.”Summer menatapnya dengan heran.“Tuan Muda sudah memberikan izin khusus untuk Anda.”Petugas keamanan membuka pintu di sisi mesin pemeriksaan setel
AUTHOR’S NOTE & DISCLAIMER 𓂃✍︎Selamat datang, dan terima kasih karena sudah membuka halaman pertama dari cerita ini.Sebelum kalian memulai perjalanan bersama Summer, izinkan penulis menyampaikan beberapa hal terlebih dahulu.Cerita ini adalah karya fiksi yang lahir dari imajinasi, emosi, dan ban
CHAPTER 4 Keesokan paginya, Summer berdiri beberapa detik di depan pintu kelas A-1 sambil memeluk tablet di dadanya. Begitu pintu terbuka, suara obrolan di dalam langsung mengecil dan beberapa kepala serempak menoleh ke arahnya. “Oh, ranking satu datang.” “Yang kemarin ngomong ke senior Dylan it
CHAPTER 3 “Oh no...” Jess buru-buru menarik pelan lengan Summer. “Summer...” bisiknya cepat. “Kamu nggak dengar aku tadi?!” Namun Summer tidak mengalihkan pandangannya dari charm kecil di dekat sepatu pria itu. Ia melangkah sedikit mendekat sambil berkata pelan, “Itu gelangku.” Pria itu tetap dia
CHAPTER 2 Kamar asrama itu sunyi. Summer duduk di tepi tempat tidurnya sambil memegang buku asesmen yang terbuka di pangkuannya. Beberapa pulpen sudah berjajar rapi di sampingnya, sementara seragam RCA untuk besok tergantung rapi di pintu lemari. Semua sudah siap, tetapi tangan Summer masih salin







