ログインAva is devastated to find her husband Brandon Thompson in bed with her best friend Mia Brooks. After a heated confrontation between the three, Ava gets into a horrible accident. Divorced while she suffered from memory loss from an accident, Ava regains her memory to find her husband, now ex-husband's personal assistant, Clinton, parading as her husband. With her reputation tainted for being involved with an employee while married, Ava becomes devastated at how her perfect life had turned out. Broken and confused, she decides to go back home only to find Brandon had already moved on after cheating her out of everything. Her properties, her children and her home. With nowhere to go,nobody to turn to, she goes back to her family, the Smiths. A few years later, Ava returns as a cold and ruthless heiress and confronts Brandon for what she had refused to see him as for a really long time; A beast. Ava is back to take what belongs to her. She's out for blood; Brandon's blood. Will there be a second chance for them or will Ava's return burn everything to the ground?
もっと見るMalam itu suasana sedang riuh sekali. Lampu-lampu yang memancarkan warna warni dengan dentuman musik yang memekakkan telinga semakin menambah hingar-bingar diskotik kelas kakap.
"Naya, kamu kenapa sih? Gelisah banget?"tanya Reni, sahabat Naya."Eddo kok belum sampai ya? Katanya dia nyusul kesini!""Coba telepon!"Namun hingga tiga kali Naya menelpon pria bernama Eddo itu, belum juga mendapatkan hasil. Membuatnya semakin frustasi.Sementara itu di lain pihak, pria yang sedang di tunggu rupanya sedang berada di kamar bersama seorang perempuan yang wajahnya tampak pucat. Pria itu tengah sibuk memberikan obat sembari berkali-kali melirik jam yang semakin lama semakin membuatnya gelisah."Mas mau pergi? Aku nggak apa-apa kalau mas tinggal. Mas udah jaga aku dari tadi. Aku...udah mendingan juga."Ya, perempuan itu baru saja mengalami sesak napas sebab ia kelelahan hari ini."Beneran ga apa-apa? Aku cuman sebentar saja kok!" kata Eddo tampak muram.Wanita berwajah layu itu mengangguk lemah. Eddo seketika mengecup kening wanita itu sembari mengucapkan kata-kata mendayu. Usai mengecup bibir istrinya, ia pun pergi. Tanpa Eddo ketahui, ketika ia sudah melajukan mobil, sepasang netra tajam menatap Eddo dari lantai atas. Dia adalah Angkasa.Ia melirik sebentar jam di pergelangan tangannya sebelum ia melangkahkan kakinya menuju ke kamar sang adik. Usai membuka pintu kamar adiknya perlahan-lahan, ia melihat adik perempuannya tidur dengan posisi miring. Seketika ia merasa sakit di dadanya demi melihat hal itu.Angkasa geram namun tak mampu menunjukkan kekesalannya. Ia pergi dalam senyap. Melakoni sisi kehidupannya yang lain sebagai seorang kakak. Ia harus memastikan rumah tangga adiknya akan baik-baik saja.Beberapa waktu kemudian, Eddo tiba di diskotik tempat dimana ia sudah janjian dengan Kanaya. Wanita yang tak mengetahui jika dia sebenarnya merupakan pria yang sudah beristri.Hilang sudah segala kegelisahan yang semula menaungi batin dan pikiran Kanaya begitu Eddo datang menemui dirinya. Reni yang juga melihat kemunculan Eddo secara mendadak menjadi senang."Aku kira gak jadi!" kata Kanaya yang kini di cium pipinya oleh Eddo."Sory telat, tadi ada yang perlu di beresin dulu!"Mereka akhirnya minum bersama-sama. Saling mengobrol dan menikmati pertunjukan. Kanaya bahkan akhirnya juga terlihat berjoget bersama Eddo dengan begitu senangnya. Mereka melupakan segalanya, tak terkecuali sepasang mata yang rupanya sedari tadi memotret dan melaporkan apa yang ia lihat kepada seseorang."Lakukan yang aku perintahkan!""Siap bos!"***Kanaya sudah pernah beberapa kali minum bersama teman-temannya namun tidak separah ini. Mungkin karena dia terbawa suasana saja karena sudah lama tak bertemu Eddo. Dan saat ini, Eddo telah membawanya ke kamar hotel dan merebahkan tubuh yang setengah tak sadarkan diri itu keatas ranjang.Eddo lantas keluar sebentar untuk mengambil sesuatu yang tertinggal di mobil. Sepertinya sebuah hadiah kecil untuk Kanaya. Namun ketika baru akan membuka pintu, tiba-tiba,BUGMaka seketika gelap lah seluruh pandangannya.***Dalam temaram cahaya yang merabunkan pandangan, Naya merasa jika tangan seorang pria sedang menyentuh keningnya. Dia, Naya, yang terlalu banyak minum sampai menjadi tak sadarkan diri. Ia menggerayangi tubuh pria yang kini menatap tajam ke arahnya."Eddo, sayang..." panggilnya sembari memeluk pria yang masih betah menunjukkan wajahnya yang semakin mengeras.Pria itu terus mengamati gerakan Naya yang sensasional dan membangkitkan gairah."Kau benar-benar akan menikahiku kan?"Pria itu sontak membolakan matanya demi mendengar ucapan perempuan di depannya."Brengsek, jadi ini yang mereka lakukan di belakang Tiara?" batin Angkasa geram."Aku mencintaimu..."Angkasa sontak mendelik ketika Naya tiba-tiba mencium bibirnya dengan panas. Efek alkohol benar-benar membuat Kanaya hilang kendali. Dan ini sama sekali tak ia antisipasi sebelumnya. Bagiamana sekarang?"Jangan seperti ini, tidurlah!" kata Angkasa mencoba melepaskan tangan Kanaya yang terus merabanya.Naya, dengan keadaan mabuk ia menyebikkan bibirnya heran. "Kau kenapa? Karena kau sudah menunjukkan keseriusan dan akan menikahi ku, so...let's do it now!"Angkasa semakin membelalakkan matanya ketika wanita di depan kembali meraup bibirnya. Sial, sedalam apa sebenarnya mereka telah melakukan perselingkuhan?Namun hal yang sama sekali tak ia duga malah membuat angkasa kebingungan. Naya tiba-tiba membuka pakaiannya dan membuat Angkasa memalingkan wajahnya. Ia bukanlah pria pecundang yang memanfaatkan kelemahan wanita seperti ini.Naya terus bergelayut, ia juga mendudukkan tubuhnya ke atas tubuh Angkasa yang liat dan berotot. Ia sudah kehilangan kontrol dan sebentar lagi ia akan menelanjangi dirinya sendiri. Namun beberapa saat kemudian,BRUK!Wanita itu tiba-tiba ambruk seperti pingsan. Angkasa segera memeriksa keadaan wanita itu dan benar lah jika sepertinya Naya tak sadarkan diri karena efek alkohol.Sejurus kemudian, angkasa menelpon seseorang kembali saat Kanaya benar-benar telah hilang kesadarannya."Kembali ke rencana A!"***Sinar matahari menembus ke wajah seorang wanita yang perlahan-lahan kini membuka karena sorotnya. Dengan kepingan kesadaran yang masih berserak, ia mulai mendudukkan tubuhnya yang terasa lemas. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Di depannya ada dinding bercat mewah dengan beberapa furniture mahal termasuk lukisan abstrak yang tak ia pahami. Di sisi lain, terdapat televisi besar, sofa, lemari dan... tunggu dulu, siapa dia?DEG!"Siapa kamu?" ucapnya sesaat setelah menyadari jika ia tak sendiri.Tapi yang di kejuti terlihat menyeruput kopi dengan santai. Terlihat tak terkontaminasi dengan keterkejutan yang terlihat. Ya, pria yang hanya mengenakan celana panjang dan membiarkan separuh badannya yang kekar dan berotot terekspos itu tersenyum manis."Kau benar-benar lupa atu pura-pura lupa? Kau dan aku berkeringat bersama semalam. Kenapa kau sekarang seperti ini?""Apa?" pekik si perempuan tak percaya.Naya langsung panik bukan kepalang. Bukankah dia semalam bersama Eddo, lalu siapa laki-laki ini?"Dimana pacarku?" ucapnya setengah membentak. Ia bahkan tak menemukan siapapun di ruangan itu selain pria sialan di depannya ini." Pacar? Siapa yang kau bicarakan? Kau bahkan datang ke kamarku dan menggerayangi tubuhku, lalu sekarang kau pura-pura amnesia?"DEGSeluruh tubuh Naya tiba-tiba menjadi dingin dan gemetaran. Apa yang pria itu katakan? Tapi, benarkah jika ia dan pria itu telah melakukan hal yang....oh tidak! Tapi, kenapa dia ada di sana? Apalagi ketelanjangan tubuhnya tak bisa lagi ia bantah bila sepertinya sesuatu memang sedang terjadi antara mereka."Tidak, kau pasti bohong!"sergahnya mencoba mensugesti diri."Bohong?" pria itu berdiri lalu menggeleng tertawa. Dan sejurus kemudian, ia menyambar sebuah ponsel, " Lihat ini!"DUAR!Naya langsung menutup mulutnya demi melihat foto di ponsel pria itu yang memperlihatkan jika dirinya dan pria itu sama-sama bertelanjang dalam ranjang."Tidak!"Angkasa kontan tersenyum lebar, "Jadi, mau berlanjut?"A silver light cut through the curtains, warming the edge of the bed. The serenity of quiet was gone with sounds of the city's traffic blaring in her ears. Ava groaned softly and rolled over on the bed. With her face pressed down against the pillow, an unfamiliar scent hit her nostrils and she blinked as she started to open her eyes. This didn't smell like her bed or looked in the slightest like her room. Her head throbbed, a bugging reminder of the beer she had gobbled down the previous night.She sat up in bed and held her head in her arms, groaning again softly. She didn't remember at first how she had gotten in this situation but after a moment, she raised her head, her eyes wide open as she stared into nothingness. "Fuck!" She exclaimed softly as flashes of the previous night came back to her. The disaster engagement party. The humiliation that almost worked and William. The help, the rescue and the drunken confession. She had made a fool out of herself in front of a stranger. A
Rooftop. Ava looked at William as soon as the door opened and before her eyes was the most beautiful scene she had seen in a long time. She took slow steps into the space and looked at William. "When did you have time to do this? I was with you the whole time!" She asked, surprised as she looked at the setting. It wasn't anything extravagant, just some blankets, candles to light up the place and some beers."I know i'm sad and all but i'm not planning on jumping," she teased as she walked to the edge and just looked at the beautiful city lights. The scene was peaceful and that was something she really needed. "Beer?" William asked softly, his deep voice pulling Ava from whatever trance she was in."God. Yes please," Ava replied with a small smile. William grabbed two beers from the basket and walked over to where Ava stood. He opened one and handed it to her. "There you go-" he uttered and when she grabbed it, he opened his own."Thank you.." Ava mumbled quietly. "For what?" Willia
"You"Ava didn't expect to see William standing before her. Not here at least. She watched as his mouth, his perfect mouth curved into a smile. "Are you alright?" He asked and Ava only shook her head. "Are you sure? You're not hurt?" He asked again and Ava confirmed."But you might be-" Ava said, hinting at his back. William only shrugged and tilted his head to look at her. "Why is it that i only meet you when you're in some kind of trouble?" He asked and Ava found herself smiling when she realized he was just teasing her. "I don't know. Maybe because i have my own guardian angel, ready to help. Or is it a knight in shining armour?" She asked while her eyes danced with mischief."Well, let me show you what a true knight can do," he said and winked at her. Ava's breath got caught in the back of her throat. As quick as William's smile appeared, it disappeared just as quickly as he turned to the direction the glass came from. "I did not bring my date here for her to get escorted by th
Ava noticed the jacket on her passenger seat after she had parked her car. It was just as she had placed it and she sighed softly. How could she not have noticed and returned it to the owner. As much as she wanted to go to the party, she contemplated going back to return it. Then again, going back didn't guarantee he would still be there waiting. She sighed again and laid her head back against the headrest of her car seat. When her phone started buzzing, she moved the jacket a bit so she could grab her purse. It was Laura. Ava tilted the rearview mirror just to make sure she looked decent enough before she got out of the car. She locked it behind her and answered Laura's call. "I'm here. I just parked my car," Ava said first thing because she knew why Laura had called. "Good. Brandon and that backstabbing bitch are already here," Laura whispered frustratedly into the call. Ava hummed into the phone, hung up and made her way into the hotel. She had an invitation, the one that origin
“Excuse me, Sir? The police are here to see you?”While Ava's life was slowly unfolding, the same couldn't be said about Brandon and Mia. For Mia, it was just as she had imagined but the same couldn't be said for Brandon. “The police?” Mia asked, her calm demeanor suddenly changing.“Yes, Madam. S
Days with Clinton turned to weeks and weeks into months.Everything had been going well so far. Ava was comfortable and like before when her memory was all distorted, she had started getting bits and bits here and there.They'd visit the mainland once or twice while going to grab some supplies and e
Ava was panting as she ran in the sun. It had been a while since she made a run from the beach house. There was no way she could've misheard what he had heard. Her instincts had told her to run as fast as her legs could go. Still, he wouldn't stop coming after her.“Ava…” he called into the night a
Ava was distraught as she packed her bags. What happened earlier couldn't stop replaying in her head. The way Mia maliciously framed her for pushing her. The feeling of her right grip on her hand was still very raw. She pulled the sleeve of her shirt and looked at the mark left from Mia's tight gri
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
レビュー