LOGINBau lembap yang bercampur dengan karat logam dingin menyambut kesadaran Wei-Long. Kesadarannya merayap kembali secara perlahan, dimulai dari rasa berdenyut yang tajam di balik pelipisnya, diikuti oleh sensasi kaku yang menjalar di sekujur otot akibat gelombang kejut elektromagnetik bertegangan tinggi.Saat matanya terbuka, kegelapan pekat menyergap pandangannya, hanya diterangi oleh pendar lampu indikator merah redup dari dinding sel yang berjeruji medan energi murni.Wei-Long mencoba menggerakkan pergelangan tangannya. Suara deringan logam bergesekan berderak keras—belenggu energi kuantum melilit erat kedua tangannya pada sebuah pilar baja penopang di tengah sel bawah tanah yang sempit. Di sekelilingnya, rekan-rekan satu skuadnya bernasib sama.Pyo Do-hyun tersandar lemas di sudut sel, napasnya tersengal-sengal dengan peluh dingin membasahi dahi. Di sampingnya, Kira Artyomovna Belova mengerang pelan, mencoba merenggangkan ikatan energinya meski sia-sia, sementara belati monofilamen mi
Kemegahan Istana Bulu Phoenix terbentang luas bagaikan katedral kosmik yang melayang di atas lautan awan yang tak bertepi. Arsitekturnya memadukan pilar-pilar marmer putih abadi dengan ornamen emas murni yang memantulkan cahaya senja jingga, menciptakan siluet yang agung sekaligus mengintimidasi. Langit di atas kota terapung ini perlahan-lahan bertransisi dari warna jingga kemerahan menuju keemasan gelap, menandakan datangnya malam di ketinggian ribuan meter di atas permukaan tanah. Namun, di balik keindahan aristokratis yang memukau mata itu, atmosfer di dalam koridor istana terasa begitu dingin, steril, dan penuh dengan ketegangan yang dapat dipotong dengan pisau.Kelima anggota skuad pembunuh bayaran elit—Wei-Long, Kira, Pyo Do-hyun, Lachlan Rhys Montgomery, dan Zi-Hao—bergerak dalam senyap yang mutlak. Mereka memanfaatkan setiap jengkal bayangan yang dilemparkan oleh patung-patung pahlawan Kekaisaran yang menjulang tinggi dan tirai sutra merah tua yang menjuntai berat di sepanjang
- Kantor Kepresidenan, Republik Serigala Putih -Ruangan itu steril dan kedap suara. Presiden Wei-Shen berdiri di depan proyektor hologram yang memetakan geografi Kekaisaran Phoenix dengan presisi milimeter. Cahaya biru dari peta itu memantul di matanya yang tajam."Kalian akan menuju pusat peradaban serta ilmu pengetahuan terhebat di dunia," suara Wei-Shen memecah keheningan. "Kekaisaran Phoenix memiliki struktur hierarki geografis yang unik. Kalian harus menembus lapisan demi lapisan."Ia menunjuk pada peta tiga dimensi yang menunjukkan tumpukan kota tersebut. "Setelah melewati gerbang utama, kalian akan menginjakkan kaki di Kota Sayap Phoenix yang terletak di dasar lembah. Setelah itu, kalian harus menaiki Phoenix-Link menuju Kota Partikel Langit yang bertengger di puncak bukit tertinggi. Tepat di atas sana, melayang bebas di angkasa dengan teknologi antigravitasi, terdapat Kota Bulu Phoenix—daratan lingkaran melayang yang menggantung di langit."
Langit di atas Gerbang Luminion tidak lagi berwarna biru. Ruang udara di sana kini menjadi kanvas kelam yang terlukis oleh garis-garis proyektil plasma dan kobaran api dari armada udara Veridia yang beradu dengan barisan pesawat tempur Celestia. Namun, di tengah kekacauan yang merobek atmosfer Planet Astarhea, terdapat satu titik hening yang berdiri kukuh. Sebuah objek logam raksasa yang tampak seolah membeku di ruang hampa, menyerap setiap hantaman energi tanpa sedikit pun getaran. Di dalam helikopter berita milik Astarhea Global News (AGN) yang bergetar hebat di ambang batas zona tempur, reporter Arin menggenggam mikrofon dengan jemari yang memutih. Di belakangnya, layar hologram menyiarkan kekacauan global. "Pemirsa, ini adalah laporan langsung dari zona perbatasan Gerbang Luminion! Kekacauan benar-benar tak terkendali!" Suara Arin melengking, berusaha memecah desing energi yang meruntuhkan kesunyian. Kamera drone yang mengikuti helikopter tersebut tidak menyorot pesawat pe
- Istana Bulu Phoenix, Kota Bulu Phoenix -Sementara itu, di Kekaisaran Phoenix. Takumi Jupiter menelusuri koridor megah Istana Bulu Phoenix dengan langkah yang terukur dan tampak lunglai. Bahunya sedikit merosot; wajahnya dirias dengan ekspresi duka yang mendalam—sebuah pertunjukan aristokratis yang sempurna bagi setiap pelayan atau pengawal yang berpapasan dengannya. Berita perihal kondisi Ratu Aruna dan Putri Akari yang kritis memberikan justifikasi yang cukup kuat untuk menunjukkan keterpurukan emosionalnya di hadapan publik.Begitu ia mencapai pintu kayu cendana di kediaman pribadinya dan memastikan pintu tersebut terkunci rapat, topeng duka itu seketika luruh. Sorot matanya yang tadi tampak sayu berubah drastis menjadi tajam, dingin, dan sarat dengan kalkulasi strategis.Ia melangkah menuju cermin besar berbingkai emas di sudut ruangan. Dengan satu sentuhan biometrik pada ukiran bingkai, dinding di belakang cermin bergeser tanpa suara, menyingkap akses menuju Sanctuarium—ruang
Gerbang Luminion tidak lagi seperti sedia kala. Di pusat pusaran kehancuran itu, Omegafort berdiri sebagai sosok Titan Katedral yang masif. Sosoknya bukan lagi sekadar struktur logam, melainkan perwujudan teknologi kuno yang menghidupkan kembali mitos Klan Kolosus. Di dalam ruang kendali, Luviel memejamkan mata. Holy Rune yang terukir di dahinya berdenyut dengan ritme keemasan, selaras dengan detak resonansi inti Titan tersebut.Di hadapannya, Hydraphoon sedang memusatkan delapan elemen dasar yang bergejolak di sekitar—api, air, tanah, udara, cahaya, kegelapan, petir, dan kehampaan—semuanya tersedot paksa ke dalam inti di dadanya. Delapan aliran energi purba itu melebur, memadat menjadi sebuah proyektil elementalis yang berdenyut tidak stabil. Serapan energi itu melahap sisa-sisa cahaya di medan tempur, menciptakan dengung frekuensi rendah yang membuat udara di sekitar Omegafort bergetar hebat. Ancaman itu kian nyata—sebuah proyektil kehancuran mutlak yang siap dilepaskan untuk melen
Pintu bunker baja di bawah Markas Satuan Tugas Titan berderit membuka, mengeluarkan hawa dingin ke udara malam. Ini bukan pintu depan menuju koridor markas yang kini dikuasai Faksi Naga Hijau, melainkan jalur evakuasi rahasia yang mengarah langsung ke pegunungan terjal di luar wilayah inti Federasi.
Tuduhan agresi ke Republik menyebar seperti api di seluruh Dewan Keamanan Astarhea. Dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam setelah insiden Pos Frostfire, Federasi Militer Naga Biru secara politik terasingkan, dipandang sebagai agresor oleh kekuatan global. Tanpa bukti nyata yang dapat membantah
Di dalam Bunker Snow Fang, suasana kontras dengan salju yang ganas di atasnya. Presiden Wei Shen menatap jam hitung mundur di layar utama. Dr. Jian Li berdiri di sampingnya, pandangannya terarah pada feed video dari Pos Terdepan Frostfire milik mereka sendiri—pos perbatasan yang sebentar lagi akan
Benua Olympia di planet Astarhea terbagi menjadi empat kekuatan besar, terperangkap dalam Perang Dingin yang mematikan. Letak geografis mereka bukan hanya kebetulan, melainkan cerminan dari kekuatan, ideologi, dan simbolisme mereka. Di inti benua, menguasai daratan luas dan wilayah Utara yang ter