LOGINKeheningan yang mencekam menyelimuti tebing Gerbang Luminion sesaat sebelum langit malam pecah berantakan.Di atas awan hitam yang memudar, dua gelombang cahaya kematian meluncur turun membawa takdir kehancuran mutlak. Dari sektor timur, berkas fotonik suci Gungnir milik Kapal Induk Celestia merobek atmosfer dengan raungan frekuensi tinggi yang memekakkan telinga. Pendaran energinya begitu menyilaukan, murni, dan tanpa ampun, membiaskan spektrum emas murni yang mendidihkan uap air di sekitar lintasannya. Sementara itu, dari sektor barat, armada Veridia melepaskan Neutron-Aether Annihilator—seberkas radiasi hijau pekat berdaya hancur molekuler yang membedah ruang, meninggalkan jejak vakum bertekanan tinggi yang sanggup meremukkan batuan granit menjadi debu atomik sebelum proyektil utamanya sempat menyentuh tanah.Kedua serangan pamungkas tingkat kiamat tersebut memusat pada satu titik sasaran yang sama: benteng bergerak Titan Omegafort yang tersungkur lumpuh dan Naga Argentum yang mela
Keheningan di dalam Sektor 4-G Titan Omegafort bukanlah keheningan biasa, melainkan sebuah kevakuman yang menindas dari raksasa besi yang sedang sekarat. Suara getaran rendah menyerupai rintihan binatang purba berdengung tanpa henti dari dinding-dinding baja komposit setebal tiga meter.Di ruang kendali sekunder, lampu-lampu indikator daya berkedip redup dalam pendaran merah darah yang lambat. Bau minyak transmisi yang terbakar menyengat tajam, bertarung dengan bau uap pendingin Aether yang membocor deras dari pipa-pipa hidrolik utama. Omegafort—Titan perang benteng bernilai legendaris yang pernah meratakan bukit-bukit batu Olympia—kini tak lebih dari seonggok bangkai baja raksasa yang tersungkur kaku di puncak tebing Gerbang Luminion.Sistem propulsi utamanya hancur total pasca-bentrokan berdarah dengan armada awal. Reaktor inti yang tersisa hanya sanggup menyuplai daya sebesar dua belas persen—cukup untuk menopang perisai darurat internal yang bergetar rapuh serta sistem pemurni udar
Aroma ozon yang terbakar dan residu Aether yang pekat mengendap tebal di udara, memenuhi setiap sudut ruang medis di bagian dalam Omegafort. Suara dengung indikator biologis yang monoton memutus keheningan yang mencekam, beradu dengan irama ketegangan yang merayap di setiap dinding logam yang dingin. Dinding-dinding itu bergetar halus, seolah sang Titan sendiri sedang menahan napas dalam kesakitan yang tak terperi.Di atas ranjang bedah berstabilitas tinggi, Udzhur terbaring kaku. Tubuhnya yang biasanya kokoh bak pilar batu kuno kini tampak sangat rapuh; racun Aether yang merusak jaringan organ dalamnya telah menjalar hingga ke leher dan pelipisnya. Garis-garis urat berwarna biru kehitaman yang menjalar di bawah kulitnya berdenyut dengan irama yang kian lambat dan tidak teratur, menandakan metabolisme tubuhnya yang berada di ambang keruntuhan total. Napasnya terdengar bagai gesekan amplas pada baja, dangkal dan menyiksa."Waktunya hampir habis, Rebirtha!" seru Kageyama saat ia menerobo
Keheningan bawah dek tidak pernah benar-benar menenangkan. Di dalam rongga mekanis dan fondasi melayang Kota Bulu Phoenix—metropolis raksasa nan anggun yang kini terkoyak bagaikan sayap burung pemangsa yang patah di atas lautan awan Astarhea—keheningan justru terasa seperti isakan napas yang tercekik dari sebuah peradaban yang sedang meratap. Udara di dalam lorong itu berbau minyak terbakar, logam teroksidasi, dan kelembapan dingin yang menusuk tulang, bercampur dengan aroma hangus sisa-sisa trauma Kiamat Aetherial—tragedi yang tidak hanya meruntuhkan menara-menara marmer istana, tetapi juga merenggut nyawa kaisar, menghancurkan keluarga, dan menyisakan duka yang belum sempat disembuhkan.Bekas-bekas kehancuran besar dari amukan Phoenix di alun-alun utama beberapa waktu lalu masih merembes hingga ke tulang-tulang fondasi tersembunyi kota ini. Di balik kisi-kisi baja lorong, terlihat retakan-retakan mikroskopis pada geladak penyangga utama, sisa gelombang kejut Aetherial yang dahulu nya
Gelombang energi mistis berwarna merah darah meledak di dalam sel bawah tanah yang sempit, memancarkan hawa dingin yang membekukan sumsum tulang hingga menembus celah-celah pori kulit. Ruangan steril berdinding obsidian hitam murni dan perisai medan energi murni itu bergetar hebat, mengeluarkan dengung frekuensi tinggi yang menggetarkan isi kepala. Di tengah remang-remang cahaya indikator darurat yang berkedip gelisah, Lady Seraphina berdiri melayang beberapa sentimeter di atas lantai. Rambut hitamnya yang panjang terurai liar, terhempas oleh angin gaib yang berputar di sekeliling tubuhnya, sementara kedua telapak tangannya menempel erat pada perisai energi sel yang kini mulai retak akibat tekanan daya sihir purba yang luar biasa masif.Di sekelilingnya, simbol-simbol kuno Rune Suci Bulan Berdarah berputar cepat dalam orbit lingkaran yang sempurna, memancarkan pendar keemasan bercampur merah pekat yang membakar udara dan menghasilkan uap tipis dari lantai marmer yang mulai meleleh.“K
Bau lembap yang bercampur dengan karat logam dingin menyambut kesadaran Wei-Long. Kesadarannya merayap kembali secara perlahan, dimulai dari rasa berdenyut yang tajam di balik pelipisnya, diikuti oleh sensasi kaku yang menjalar di sekujur otot akibat gelombang kejut elektromagnetik bertegangan tinggi.Saat matanya terbuka, kegelapan pekat menyergap pandangannya, hanya diterangi oleh pendar lampu indikator merah redup dari dinding sel yang berjeruji medan energi murni.Wei-Long mencoba menggerakkan pergelangan tangannya. Suara deringan logam bergesekan berderak keras—belenggu energi kuantum melilit erat kedua tangannya pada sebuah pilar baja penopang di tengah sel bawah tanah yang sempit. Di sekelilingnya, rekan-rekan satu skuadnya bernasib sama.Pyo Do-hyun tersandar lemas di sudut sel, napasnya tersengal-sengal dengan peluh dingin membasahi dahi. Di sampingnya, Kira Artyomovna Belova mengerang pelan, mencoba merenggangkan ikatan energinya meski sia-sia, sementara belati monofilamen mi
Benua Olympia di planet Astarhea terbagi menjadi empat kekuatan besar, terperangkap dalam Perang Dingin yang mematikan. Letak geografis mereka bukan hanya kebetulan, melainkan cerminan dari kekuatan, ideologi, dan simbolisme mereka. Di inti benua, menguasai daratan luas dan wilayah Utara yang ter
Cahaya terakhir matahari telah memudar di balik punggung gurun yang kejam, digantikan oleh selimut malam yang dingin. Tim Jae-won akhirnya tiba di ambang batas Hutan Jaya, sebuah oase hijau yang menjanjikan perlindungan dari mata-mata Federasi dan bayang-bayang masa lalu mereka. Namun, memasuki huta
Matahari Astarhea yang meredup menggantung rendah di cakrawala gurun, mewarnai hamparan batu dan pasir dengan gradasi oranye dan merah darah yang muram. Di bawah langit yang begitu luas dan tak acuh, tim kecil pimpinan Jae-won bergerak maju. Mereka adalah sisa-sisa kesetiaan yang tak tergoyahkan: Ja
Pintu bunker baja di bawah Markas Satuan Tugas Titan berderit membuka, mengeluarkan hawa dingin ke udara malam. Ini bukan pintu depan menuju koridor markas yang kini dikuasai Faksi Naga Hijau, melainkan jalur evakuasi rahasia yang mengarah langsung ke pegunungan terjal di luar wilayah inti Federasi.







