Home / Romansa / AH! BRONDONGKU SAYANG / Bab 82 : Cemburu

Share

Bab 82 : Cemburu

Author: Kim Hwang Ra
last update publish date: 2026-05-19 20:47:58

Sesampainya di ruang dosen, suasana terasa begitu tenang. Beberapa dosen lain sudah pulang karena jam mengajar mereka telah usai, Bagas melangkah dengan sopan mendekati meja kerja Alia, lalu meletakkan tumpukan buku tebal dan tas laptop yang dibawanya dengan sangat hati-hati.

"Sudah semuanya, Bu," ucap Bagas sembari merapikan posisi buku agar tidak mengganggu komputer kerja Alia.

Alia tersenyum tulus, merasa sangat terbantu. "Terima kasih banyak ya, Bagas. Kamu selalu bisa diandalkan. Maaf kala
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • AH! BRONDONGKU SAYANG   Bab 84 : Akankah Arhan Bisa?

    "Kak, Kakak tunggu di meja depan sini saja ya. Biar aku yang masuk ke lorong belakang mencari barangku," ujar Arhan begitu mereka melangkah masuk melewati pintu kaca perpustakaan pusat.Alia melirik jam tangannya, lalu mengangguk setuju. "Ya sudah, jangan lama-lama ya. Saya tunggu di sofa dekat meja petugas.""Siap, Kak!"Arhan segera melangkah lebar memasuki barisan rak buku yang tinggi dan berliku. Namun, begitu tubuhnya dipastikan sudah tenggelam di antara sekat-sekat buku tua dan posisinya cukup jauh dari pandangan Alia, langkah kaki Arhan langsung berubah terburu-buru. Ia meraba saku celananya, menyambar ponsel, dan dengan cepat mencari sebuah nama di kontak.Ia langsung mendial nomor Rio.Nada sambung berbunyi dua kali sebelum suara Rio yang berisik terdengar di seberang telepon. "Halo, Han? Kenapa? Kangen baru berpisah lima belas menit?""Yo, kamu masih di kampus gak? Belum balik kosan, kan?" tanya Arhan setengah berbisik, matanya awas melirik ke sekeliling lorong buku, takut a

  • AH! BRONDONGKU SAYANG   Bab 83 : Cemburu Kesekiannya

    "Arhan, cukup," ujar Alia akhirnya setelah berhasil mengontrol suaranya, meskipun nadanya masih terdengar bergetar karena menahan tawa. Ia maju satu langkah, menarik ujung jaket kulit Arhan pelan agar cowok itu sedikit mundur. "Kamu salah paham. Bagas ke sini cuma untuk minta maaf dan berterima kasih soal bimbingan. Tidak ada yang seperti kamu pikirkan."Arhan menoleh cepat ke arah Alia, wajahnya cemberut maksimal. "Tapi tetep aja gak usah pakai pegangan tangan segala dong, Kak! Kan bisa bicara pakai mulut, gak usah pakai kontak fisik!" protes Arhan dengan nada merajuk yang sangat kentara, melupakan sejenak panggilan formal "Bu Dosen" karena saking kesalnya.Bagas yang melihat interaksi aneh dan terkesan "sangat dekat" antara Alia dan Arhan di depannya akhirnya mulai menyadari sesuatu. Ia melihat bagaimana Arhan memperlakukan Alia, dan bagaimana Alia hanya menanggapi kemarahan Arhan dengan senyuman geli tanpa ada rasa marah sedikit pun—sangat berbeda dengan sikap profesional Alia kepa

  • AH! BRONDONGKU SAYANG   Bab 82 : Cemburu

    Sesampainya di ruang dosen, suasana terasa begitu tenang. Beberapa dosen lain sudah pulang karena jam mengajar mereka telah usai, Bagas melangkah dengan sopan mendekati meja kerja Alia, lalu meletakkan tumpukan buku tebal dan tas laptop yang dibawanya dengan sangat hati-hati."Sudah semuanya, Bu," ucap Bagas sembari merapikan posisi buku agar tidak mengganggu komputer kerja Alia.Alia tersenyum tulus, merasa sangat terbantu. "Terima kasih banyak ya, Bagas. Kamu selalu bisa diandalkan. Maaf kalau hari ini jadi merepotkanmu.”Bagas tidak langsung berbalik untuk pulang. Ia berdiri diam di depan meja Alia, meremas kedua telapak tangannya sendiri dengan gugup. Kepalanya menunduk sedikit, menatap ujung sepatunya, seolah sedang mengumpulkan keberanian yang sangat besar untuk menyuarakan sesuatu yang mengganjal di dalam dadanya sejak kemarin pagi."Bu Alia..." panggil Bagas, suaranya terdengar agak serak dan bergetar.Alia yang baru saja hendak duduk di kursi kerjanya kembali menegakkan tubuh

  • AH! BRONDONGKU SAYANG   Bab 81 : Si Kutu Buku

    Melihat hal itu, Arhan yang memang posisinya paling dekat secara spontan langsung berjongkok untuk membantu memunguti kertas-kertas tersebut. "Ceroboh banget sih," gumamnya pelan.Alia pun ikut berjongkok di balik meja untuk mengambil sisa kertas yang terlempar agak jauh ke sudut bawah. "Lagian, tidak sengaja."Di balik meja dosen yang tinggi dan tertutup rapat oleh panel kayu pembatas itu, posisi mereka berdua mendadak menjadi sangat privat. Suara riuh mahasiswa di luar sana terdengar sayup-sayup, tergantikan oleh deru napas mereka yang mendadak terasa dekat.Saat tangan mereka berdua bergerak memungut lembaran yang sama, jemari mereka bersentuhan. Alia mendongak, berniat mengucapkan terima kasih dan meminta Arhan mengembalikan kertas itu."Arhan, terima ka—"Kalimat Alia terputus di udara. Ia tidak menyangka bahwa Arhan akan memanfaatkan celah sempit itu dengan gerakan secepat kilat. Sebelum Alia sempat menarik wajahnya mundur, Arhan sudah

  • AH! BRONDONGKU SAYANG   Bab 80 : Hukuman Kecil

    Langkah kaki Arhan terdengar menghentak-hentak di sepanjang koridor menuju gedung Fakultas. Alia yang baru menapakkan kakinya di aspal pelataran parkir hanya bisa menatap punggung tegap itu dengan gelengan kepala. "Astaga, anak itu... sifat kekanak-kanakannya keluar lagi kalau sedang merajuk," gumam Alia pelan.Bukannya merasa terganggu, ada segaris senyum yang tanpa sadar terukir di sudut bibir Alia. Namun, dunia kampus tidak memberikan Alia waktu lama untuk melamun. Jadwal kuliah berikutnya adalah kelas Manajemen Seni—dan sial bagi Arhan, Alia adalah dosen pengampunya siang ini.Ia meletakkan tasnya di meja dosen, mengedarkan pandangan, dan langsung menemukan apa yang dicarinya. Arhan duduk di barisan paling belakang, tepat di pojok ruangan.Cowok itu menopang dagunya dengan sebelah tangan, matanya menatap lurus ke arah papan tulis hitam, namun pandangannya sengaja dibuat kosong. Ia membuang muka setiap kali netra Alia tidak sengaja berputar ke arahnya.

  • AH! BRONDONGKU SAYANG   Bab 79 : Apa Alia Belum Sadar?

    Begitu mereka menyelesaikan makan siang yang penuh ketegangan itu dan berjalan menuju area parkir, Arhan langsung menghentikan langkahnya. Ia berbalik menghadap Bagas dengan senyum yang dipaksakan."Gas, makasih ya udah nemenin makan. Tapi setelah ini aku sama Bu Alia masih ada urusan penting soal draf jurnal yang belum selesai dibahas. Kamu balik ke kampus sendiri gak apa-apa, kan? Naik ojek online atau angkutan depan aja," ujar Arhan tanpa basa-basi, nadanya terdengar seperti perintah yang tidak bisa diganggu gugat.Alia yang mendengarnya langsung mengernyitkan dahi. Ia menyenggol lengan Arhan dan menegurnya dengan suara pelan namun tegas. "Arhan, apa-apaan sih? Kita kan berangkat bertiga, ya pulangnya harus bertiga. Jangan keterlaluan."Namun, Arhan tetap bersikeras. Ia menatap Alia dengan pandangan memohon sekaligus keras kepala, mengisyaratkan bahwa ia tidak ingin diganggu lagi. "Cuma sebentar kok, Kak. Lagian Bagas pasti mau buru-buru ke perpustak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status