Masuk“Assalamu’alaikum, dek!" Ica segera menoleh ke asal suara. Baru saja ia akan membuka pintu, seorang ibu menghampirinya dari arah jalan. “Wa’alaikumsalam. Ya bu!”“Maaf, mengganggu sebentar. Perkenalkan, saya Bu Ina. Saya dari DKM masjid di belakang rumah mbanya. Saya mau menyerahkan undangan pengajian rutin. Untuk undangan kemarin, kami ucapkan terima kasih ya, dek!”“Oh, iya, Bu, maaf, silakan masuk dulu!”“Ah, tidak usah, dek! Nanti malam Jumat ditunggu kedatangannya, ya! Apalagi adek orang baru, nanti bisa kenal dengan ibu-ibu pengajian di kompleks ini.”“Baik, Bu! Terima kasih atas undangannya.”“Saya pamit dulu ya, dek! Assalamu’alaikum.”“Wa’alaikumsalam.”Ica pun akhirnya masuk dan menutup pintu sambil memegangi paket dan membuka lembaran undangan di tangannya.“Siapa sayang!” tanya Rey yang baru saja turun dari lantai atas.“Itu ibu-ibu pengajian masjid sini. Katanya nanti malam Jumat ada pengajian.” Ica duduk di sofa sambil membaca isi undangan, disusul Rey yang ikut duduk
Keesokan harinya, dari arah ruang kerja Rey tak juga melihat Ica keluar dari kamar sedari subuh. Apalagi kemarin Ica sempat mengeluh pusing. Semalam Ica juga minum madu dan beberapa vitamin yang diresepkan Aji.Namun, tetap saja, keduanya masih sempat bergumul semalaman. Merasa khawatir, Rey segera menghampiri Ica yang masih terbungkus selimut di atas ranjang.“Ca, ayo bangun dulu, sayang! Kamu belum sarapan.”Ica membuka matanya yang terasa berat saat Rey mengusap pelipisnya.“Jam berapa sekarang?” geliatnya enggan.“Jam 9.”“Eem, badanku capek banget. Salah siapa coba?” keluh Ica memberengut lalu mendorong dada Rey yang malah tertawa tanpa suara. Tak hanya itu Rey malah kembali menciumi leher dan bahu Ica yang terpampang jelasIca segera membuka matanya, lalu segera bergeser menghindar. Ia menangkup wajah Rey dengan kedua tangannya.“Stop, stop, Pak Reyhan!” Mata Ica membulat menatap Rey yang tersenyum nakal. Bagaimana pun, ia harus menghindarkan diri dari sentuhan cowok itu beberapa
“Halo, tetangga baru!” Rey yang baru saja akan menyusul Ica masuk terhenti saat seseorang bersepeda menegurnya.“Oh, halo juga, pak! Apa kabar? Perkenalkan, nama saya Reyhan. Kami baru pindahan rumah beberapa hari ini.”“Saya Toni Manurung. Rumah saya tepat di ujung kiri jalan buntu ini. Salam kenal, ya! Kemaren acara syukurannya, ya!”“Iya, pak! Maaf, belum bisa undang semua orang di komplek.” Rey menerangkan sopan.“Iya, gak pa pa. Namanya juga masih pindahan, pasti masih kerepotan. Oh ya, kalau mau kenal orang komplek, kita sering kumpul-kumpul di pendopo depan setiap malam Minggu.”“Oh, terima kasih infonya, pak Toni!”“Jangan sungkan. Panggil saja bang Toni! Ok, ya! Saya jalan dulu.” Toni pun kembali melajukan sepedanya.“Hati-hati, bang!” seru Rey sebelum tetangga barunya itu menjauh.Setelah melihat area depan rumahnya, Rey memutuskan berjalan-jalan di sekitaran komplek pagi itu. Kini ia dan Ica akan menjadi anggota baru kawasan komplek itu. Mau tak mau ia harus mulai mengenal
Dan benar saja, Ica kembali merasakan sesuatu yang sangat kuat meledak dari dalam tubuhnya pagi itu. Teriakannya pun seakan tertahan karena ia hanya bisa menenggelamkan wajahnya di atas bed cover yang telah berantakan.Ica berjalan sempoyongan ke arah toilet dan meninggalkan Rey yang langsung tertidur pulas setelah aktifitas liarnya barusan. Ia juga sebenarnya lelah dan mengantuk, namun kehadiran mertuanya di rumah memaksanya untuk segera bangkit dari ranjang.“Dasar Rey!” umpatnya sembari menyalakan shower.“Aw aw!” teriaknya kaget karena air yang keluar terlalu panas. Ia segera sadar, kamar mandinya kini mirip di hotel-hotel, bahkan hampir semua kamar mandi di rumah itu memiliki fasilitas pemanas air. Ia pun mengatur posisi kran dan membiarkan tubuhnya diguyur air hangat pagi itu.“Pagi, Ica!” sapa Sherly yang melihatnya turun di tangga.“Pagi, bun! Maaf, Ica jadi gak bantu-bantu pagi ini.” Ica duduk di kursi makan.“Idih, gak usah dipikirin, sayang! Kamu pasti capek, habis pindahan
Keesokan harinya, Cindy terbangun dengan tubuh tanpa busana dan kasur yang berantakan. Saat menoleh, ia mendapati sosok di sampingnya ternyata adalah Faisal."Oh, shit!" umpatnya sambil meremas rambutnya yang berantakan. Tak lama, sosok Faisal menggeliat. Tak menunggu, Cindy segera berlari menuju toilet dan menyalakan shower di posisi optimal. Ia membasahi dan menggosok tubuhnya kasar merasakan tubuhnya penuh bercak merah dan cairan pria itu. Rasa muak membuatnya menangis tersedu-sedu di kamar mandi.“Hey, kamu ngapain?” teriakan Faisal membuat Cindy segera berbenah. Ia tak mau lelaki itu menyadari jika semalam ia membayangkan sosok lain. Jika tahu, lelaki itu pasti bakal melampiaskan kemarahan yang tak terkendali.“Apa kita bisa mandi bersama?” Faisal tiba-tiba sudah masuk ke kamar mandi.Cindy segera mengambil handuk dan berlalu keluar.“Aku ada rapat hari ini. Bisa antarkan aku ke kantor?”“Ok, sayang!”Entah kenapa, Cindy tiba-tiba tak lagi menikmati kebersamaannya bersama Faisa
Kata-kata Faisal yang begitu to the point di hadapan Rey dan Sherly, membuat senyum Ica terlihat dipaksakan. Ia menghampiri mamanya.“Maafin Ica, ma! Ica kemarin Ujian dan lagi persiapan skripsi, jadi Ica jarang pulang.” Ungkapnya mencoba bersikap seperti biasa, meski ia tak bisa menutupi jika hatinya masih tak nyaman dengan kehadiran Faisal.“Gak pa pa, sayang! Mama ngerti kamu pasti sibuk. Yang penting kamu sehat. Dan sekarang Rey sudah kembali, kamu jadi gak harus sendirian lagi. Ada teman yang bisa jaga kamu kemana-mana.” Ungkap sang mama jujur.Rey menghampiri dua perempuan itu lalu merangkul keduanya.“Mama tidak perlu khawatir. Ica sekarang tinggal di sini. Bukan di kostan lagi. Rumah sini juga lebih dekat dengan rumah mama. Kapan saja mama kangen, mama bisa datang ke sini atau kita bisa sering-sering berkunjung ke rumah. “Faisal yang mendengar itu hanya tersenyum miring.“Mama juga nanti akan ditemani Cindy. Cindy akan jadi menantu mama juga,” celetuknya tak mau kalah.Ica h







