Home / Romansa / AKU ADALAH MILIK KAWAN KAKAK / Bab 25. Merajuk Berakhir Sebuah Kompensasi

Share

Bab 25. Merajuk Berakhir Sebuah Kompensasi

Author: DNOV
last update Last Updated: 2026-03-04 23:55:39

"Ayah, Bunda, kami pergi dulu, ya! Maaf, gak bisa nginep dulu. Rey udah ada janji sama orang."

"Ya, sudah gak pa pa. Kenapa gak ajak Ica? Ica kasihan kan, ditinggal sendirian di rumah," protes Sherly saat mengantar anak dan menantunya itu ke depan rumah.

"Enggak, bun! Ica gak pa pa, kok! Lagian sampe rumah paling Ica masuk kamar,"terang Ica.

"Atau, Ica nginep aja di sini, gimana?" tawar Sherly.

Rey langsung berbalik,"Bun, please deh! Jangan ganggu honeymoon aku sama Ica!" Rey menarik bahu Ica
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • AKU ADALAH MILIK KAWAN KAKAK   Bab 25. Merajuk Berakhir Sebuah Kompensasi

    "Ayah, Bunda, kami pergi dulu, ya! Maaf, gak bisa nginep dulu. Rey udah ada janji sama orang.""Ya, sudah gak pa pa. Kenapa gak ajak Ica? Ica kasihan kan, ditinggal sendirian di rumah," protes Sherly saat mengantar anak dan menantunya itu ke depan rumah. "Enggak, bun! Ica gak pa pa, kok! Lagian sampe rumah paling Ica masuk kamar,"terang Ica."Atau, Ica nginep aja di sini, gimana?" tawar Sherly.Rey langsung berbalik,"Bun, please deh! Jangan ganggu honeymoon aku sama Ica!" Rey menarik bahu Ica mendekat ke arahnya. Ica hanya terkekeh. "Ciyeee, yang masih honeymoon, gak mau diganggu segala. Awas, jangan kelewatan!" Ucapan Sherly itu sambil mengedipkan sebelah mata menggoda. Ica menahan geli melihat ibu dan anak di hadapannya itu saling bercanda. Pemandangan yang untuk sesaat membuatnya bahagia. Namun, setelah berada di mobil, Ica kembali duduk terdiam. Malam itu, Rey sengaja meminjam mobil ayahnya untuk mengantar Ica pulang dan janji menemui kawannya. "Sayang, kamu kenapa? Perasaan,

  • AKU ADALAH MILIK KAWAN KAKAK   Bab 24. Rasa Penasaran Yang Mengusik

    Setelah Dzuhur, Ica tampak merapikan make-upnya dan Rey baru keluar dari ruang ganti. "Nanti kita mampir ke kios buah dulu, ya!" pinta Ica. "Terserah. Kalau aku bilang enggak, nanti kamu ngambek!" jawab Rey seperti enggan. Ica memperhatikan sikap Rey yang terlihat aneh dari pantulan cermin. Padahal biasanya cowok itu akan merangkul atau segera menempel padanya. Apa dia masih kelelahan hanya karena menjemur pakaian? pikirnya. "Ngapain aku ngambek. Cuma gak enak aja, kalau bunda ke sini segala dibawa, masa kita ke sana gak bawa apa-apa," terang Ica lalu segera mengambil tas slempangnya.Rey tak menjawab dan hanya melengos menuju pintu, "Ayo! Aku panasin mobil dulu, ya!""Hah, mobil? Mobil yang mana?" Ica kaget. Baik Ica maupun Rey saling berpandangan. "Eh, iya! Kita kan belum punya mobil," lontar Rey sambil menggaruk-garuk kepalanya. Mobil yang biasa mereka pakai sebelumnya adalah mobil ayah bundanya, yang kemarin setelah syukuran, mobil itu dibawa kembali sang ayah."Kan, kemarin

  • AKU ADALAH MILIK KAWAN KAKAK   Bab 23. Pagi Yang Sibuk

    "Hari ini, kita mau ke mana?" tanya Rey tiba-tiba setelah menghabiskan sarapannya. Ica menarik napasnya sambil menggelengkan kepala."Aku mau mencuci baju. Pakaian kotor udah numpuk banget.""Eem, gimana kalau kita ambil ART? Aku gak mau kamu kecapean hanya gara-gara urusan rumah.""Rey, kita kan cuma berdua di rumah ini. Belum butuh ART. Aku sih berharap bisa belajar melakoni jadi istri kamu apa adanya. Lagian sekarang aku kan sedang libur," terang Ica lalu meneguk gelas susunya.Rey hanya mengangguk-angguk kepalanya saat Ica mulai membereskan piring dan gelas kotor.Benar juga kata Ica. Dia dan Ica masih baru bersatu setelah menikah. Pekerjaan di rumah itu belum terlalu banyak dan repot jika dilakukan berdua, sehingga belum butuh ART. Lagipula, mereka masih harus menikmati quality time berdua sebagai suami istri. Dia dan Ica masih harus membiasakan diri menjadi pasangan suami istri di rumah mereka yang baru.Hanya saja, tingkah Ica pagi ini agak aneh, pikir Rey.Derrrt. Ponsel Rey be

  • AKU ADALAH MILIK KAWAN KAKAK   Bab 22. Salah Paham

    Ica tengah membereskan sisa makan malam lalu hendak mencuci piring saat Rey tiba-tiba merangkul dan menahan tangannya. "Udah, kamu duluan ke atas. Biar aku yang bersih-bersih!" Rey mencuci tangan Ica, lalu menggeser tubuh Ica ke sampingnya. Ica hanya melongo heran. "Ya, udah, aku mau shalat Isya duluan, ya! Pintu-pintu sudah dikunci, kan?""Iya. Tenang aja, setelah makan malam urusan di bawah serahkan sama aku. Kamu udah, sana istirahat!Tunggu aku, ya!"Deg. Ica seketika tersentil mendengar Rey mengatakan itu. Apalagi urusan paket siang tadi lumayan membuatnya terkaget-kaget. Tak mau menduga-duga, Ica buru-buru naik ke atas sambil sesekali menengok ke arah Rey yang tengah serius mencuci piring. "Rey, siapa yang mengirimkan paket barang seperti ini?" pekik Ica siang tadi."Itu… itu hadiah prank dari temanku di Jerman. Mereka tahu aku sudah menikah, dan tahu aku pulang pasti menemui kamu. Jadi, ya ... begitulah! Mereka hanya bercanda, Ca!""Bercanda tapi kok begini?""Ca, mereka cum

  • AKU ADALAH MILIK KAWAN KAKAK   Bab 21. Awal Mula Rasa Iri

    “Gua gak percaya, dia bakal lebih sukses dari gua. Padahal usaha gua udah mulai lebih dulu dari dia.”Faisal memukul tangannya ke dinding kamarnya. Asap tebal mengepul dari mulutnya. Beberapa hari sejak ia kembali dari Batam, emosinya mencuat. Ia tak menyangka Rey akan sesukses sekarang.Memang tak banyak yang tahu bahwa Rey sudah mendirikan perusahaan sejak kuliah kecuali kedua orang tuanya. Rey dan beberapa kawan kampusnya mulai membangun usaha di bidang IT. Perusahaan bernama WebIndo adalah perusahaan yang bergerak di bidang Website Development, Cloud Hosting Provider dan Digital Marketing. Sebagai pencetus dan penggeraknya, Rey dipercaya kawan-kawan seperjuangannya untuk menjadi CEO.Saat Rey melanjutkan studinya ke Jerman, Rey juga sengaja belajar mengembangkan bisnisnya di luar negeri dengan mencari rekanan dan peluang baru. Tak sampai satu tahun, ia sudah berhasil mendapatkan investor sehingga perusahaannya kini berkembang pesat. Ia juga sedikit demi sedikit membangun kantor kh

  • AKU ADALAH MILIK KAWAN KAKAK   Bab 20. Undangan Pengajian

    “Assalamu’alaikum, dek!" Ica segera menoleh ke asal suara. Baru saja ia akan membuka pintu, seorang ibu menghampirinya dari arah jalan. “Wa’alaikumsalam. Ya bu!”“Maaf, mengganggu sebentar. Perkenalkan, saya Bu Ina. Saya dari DKM masjid di belakang rumah mbanya. Saya mau menyerahkan undangan pengajian rutin. Untuk undangan kemarin, kami ucapkan terima kasih ya, dek!”“Oh, iya, Bu, maaf, silakan masuk dulu!”“Ah, tidak usah, dek! Nanti malam Jumat ditunggu kedatangannya, ya! Apalagi adek orang baru, nanti bisa kenal dengan ibu-ibu pengajian di kompleks ini.”“Baik, Bu! Terima kasih atas undangannya.”“Saya pamit dulu ya, dek! Assalamu’alaikum.”“Wa’alaikumsalam.”Ica pun akhirnya masuk dan menutup pintu sambil memegangi paket dan membuka lembaran undangan di tangannya.“Siapa sayang!” tanya Rey yang baru saja turun dari lantai atas.“Itu ibu-ibu pengajian masjid sini. Katanya nanti malam Jumat ada pengajian.” Ica duduk di sofa sambil membaca isi undangan, disusul Rey yang ikut duduk

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status