Home / Romansa / AKU ADALAH MILIK KAWAN KAKAK / Bab 21. Awal Mula Rasa Iri

Share

Bab 21. Awal Mula Rasa Iri

Author: DNOV
last update Petsa ng paglalathala: 2026-02-28 00:19:55

“Gua gak percaya, dia bakal lebih sukses dari gua. Padahal usaha gua udah mulai lebih dulu dari dia.”

Faisal memukul tangannya ke dinding kamarnya. Asap tebal mengepul dari mulutnya. Beberapa hari sejak ia kembali dari Batam, emosinya mencuat. Ia tak menyangka Rey akan sesukses sekarang.

Memang tak banyak yang tahu bahwa Rey sudah mendirikan perusahaan sejak kuliah kecuali kedua orang tuanya. Rey dan beberapa kawan kampusnya mulai membangun usaha di bidang IT. Perusahaan bernama WebIndo adalah
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • AKU ADALAH MILIK KAWAN KAKAK   Bab 40. Angin Laut Yang Menggoda

    "Bunda!" Ica menyapa ibu mertuanya dengan wajah ceria di rooftop."Eh, sayang, kamu udah bangun. Sini-sini!" Sherly menyambut menantunya dengan senang hati. "Wah, indah banget suasananya! Di atas sini laut berasa luas banget, ya, Bun!" Seru Ica duduk dan langsung menikmati suasanana di sekeliling kapal yang merupakan lautan biru luas yang beriak tenang. "Untung saja, pas kita berangkat, laut tenang dan anginnya gak kencang. Jadi kapal juga gak terlalu goyang. Kamu gak mabuk laut, kan, Ca?" tanya Yoga mengingatkan. "Enggak, yah!" Ica menggeleng mantap sambil tersenyum. Rey yang ikut senang membelai rambut Ica yang diterpa angin. "Papa pikir kamu mabuk laut, soalnya langsung tidur pules banget." Timpal Sherly yang diiringi tawa Yoga dan juga Rey. "Tidurnya kayak batu, lho, Ma! Berat banget di bahu aku." Keluh Rey sengaja menyindir. "Dih, kamu!" Ica mencubit perut cowok itu gemas, namun ikut tertawa geli.Mau bagaimana lagi, aktivitas outdoor seharian kemarin dan waktu istirahatn

  • AKU ADALAH MILIK KAWAN KAKAK   Bab 39. Tak Mau Lepas

    "3, 2, 1!" Rey menghitung mundur di luar toilet setelah menyodorkan baju ganti. "Reyhan, apa ini?" Teriakan Ica dari dalam toilet menggema seisi kamar. Rey hanya tertawa geli."Rey, ini gak bisa dipakai. Ayo, dong! Ambilin baju yang benar!" pinta Ica dari balik pintu. Ia merasa gaun yang muncul tiba-tiba itu memang ulah Rey, dan ia tak berani keluar dari toilet. "Udah, ayo coba keluar!""Ambilin bathrobe-nya dulu! Aku malu," rengek Ica."Ayo, keluar! Aku kan suami kamu. Masa gitu aja malu." Ujar Rey sambil sesekali tertawa geli. Beberapa menit berlalu, pintu toilet terbuka perlahan. Hanya saja, Ica masih berusaha menyembunyikan tubuhnya di balik pintu. Ia mengintip takut dari sisi pintu sebelum keluar. "Rey, tutup mata dulu!" Pekik Ica. "Iya, iya. Aku tutup mata, nih! Ayo, cepet keluar. Aku juga kan mau mandi." Rey pura-pura menutup matanya, meski ia masih bisa melihat sosok Ica yang ragu-ragu keluar dari toilet. "Rey, iiiih, kamu bohong!" Ica terkejut saat tiba-tiba Rey menarik

  • AKU ADALAH MILIK KAWAN KAKAK   Bab 38. Strategi Jitu Yang Tak Terlupakan

    “Jadi kamu yang kasih tahu kakak, kalau Cindy ada di sini?" bisik Ica saat mengambil makanan prasmanan. Rey hanya terlihat menganggukkan kepalanya sambil memilih makanan di depannya."Kakak baru balik ke Batam. Itu pasti merepotkan."Rey hanya tertawa lalu mendorong tubuh Ica menuju konter minuman. “Ya, habis aku bingung. Kamu sepertinya terganggu banget sama cewek itu sampai nggak percaya sama aku. Padahal dia calon kakak ipar kamu, lho!" canda Rey, meski ia juga tak yakin dengan kata-katanya. Ica mengedikkan bahunya sambil memajukan bibirnya, seolah memberi arti bahwa dia tidak setuju dengan pendapat Rey. Rey kembali tertawa geli."Waktu aku bilang ke Faisal, dia juga kaget, lho! Kok, Cindy bisa bareng sama acara kita?”"Masa? Jadi, maksud kamu, dia sengaja ke mari?" tebak Ica sambil celingukan. Rey mengedikkan bahunya, enggan menjelaskan. "Mungkin. Tapi sudahlah! Mereka bukan urusan kita. Besok juga kita berangkat ke Bali." Terang Rey lalu memanggil seorang waiter."Mas, saya mi

  • AKU ADALAH MILIK KAWAN KAKAK   Bab 37. Pasir Pantai Yang Menenangkan

    "Ca, Ica, tunggu!" Rey berusaha mengejar Ica yang memilih pergi setelah turun dari Banana Boat. "Aku mau ke hotel.""Tunggu bareng, Ca!" panggil Rey lagi, menjajari langkah Ica yang semakin cepat. "Udah sana, kamu temani saja ayah bunda! Aku udah capek!""Ca, jangan seperti ini, dong! Masa gara-gara Cindy, kamu marah gak ada habisnya.""Terserah apa kata kamu. Aku cuma mau ke kamar."Dari arah pantai, sosok Cindy tampak masih melambai-lambaikan tangannya ke arah mereka berdua. Ica makin merasa muak dan langsung berlari meninggalkan Rey yang terus mengekorinya. Setelah mandi dan mengganti pakaiannya, Ica langsung menuju ranjang di mana Rey masih ada di kamar, memperhatikan gerak-geriknya dari sofa. "Kamu gak makan dulu?""Aku gak lapar. Aku capek!""Mau aku beliin makanan atau aku bawain aja makanannya ke kamar?""Gak usah. Udah sana, gak usah peduliin aku!""Jangan seperti ini, dong, Ca! Kita sedang bulan madu dan aku ingin kamu dan aku menikmati semuanya bersama." Ica hanya men

  • AKU ADALAH MILIK KAWAN KAKAK   Bab 36. Negosiasi Saja Tak Cukup

    Rey menarik napas dan duduk di samping Ica.“Apa karena itu kamu ngambek sama aku lalu pergi gak bilang-bilang?"Ica hanya memberengut lalu membuang wajahnya lagi."Ca, waktu itu aku cuma sekadar menolong, kok! Pertemuan itu juga gak sengaja. Bukan aku yang mau.”“Aku juga dengar, kamu gendong dia ke klinik dan …” Ica sengaja menghentikan ucapannya, menanti tanggapan pria di sebelahnya.“Ca, jadi kamu tahu! Aku menggendong dia karena kakinya memang terkilir. Tapi jujur, aku gak ada apa-apa sama dia. Begitu sampai di klinik, aku langsung pulang,” terang Rey, sudah menduga arah pembicaraan Ica itu, dan ia tak mau menutupinya.“Ooh!” tanggapan Ica singkat sambil mengedikkan bahunya.“Aku juga baru tahu kalau dia ada di sini waktu aku ke swalayan. Aku pikir itu hanya kebetulan, Ca! Dan kamu tahu sendiri, sikapku sama dia bagaimana. Aku gak mungkin macam-macam,” terang Rey, mencoba meyakinkan Ica.“Malam itu, kamu juga mandi gegara kena kotoran. Kotoran apa?”“Ya ampun, beneran, itu karena

  • AKU ADALAH MILIK KAWAN KAKAK   Bab 35. Kompromi Yang Alot

    Rey yang pagi itu hendak bersiap melapor ke kantor polisi terkejut saat mendapat telepon dari Ica.“Ica, kamu di mana?” Pekik Rey di ujung telepon.“Rey, aku kecopetan. Tolong!” Suara panik Ica membuat Rey ikut panik.“Apa? Tunggu aku! Kamu di mana sekarang?”Di Hotel Bintang, Rey tampak berlari keluar kamar menuju kamar orang tuanya.“Ayah, Bunda, Ica ketemu!”Ketiganya pun langsung menuju hotel tempat Ica berada yang ternyata letaknya kurang dari dua km dari hotel asal mereka.“Ica! Kamu gak kenapa-kenapa, kan?”Sherly langsung memeluk menantunya itu saat mereka bertemu di lobi hotel tempat Ica menginap. Yoga juga tampak memeriksa sekitar tubuh Ica yang lecet."Ya Allah, Ica, kamu kok bisa begini!" Yoga langsung mengajak Ica duduk di kursi rotan. Beberapa orang yang tadi sempat mengerubungi mulai bubar satu per satu. Rey menemui pihak hotel untuk mengumpulkan informasi dan memberikan laporan saat polisi datang.“Kamu gak apa-apa, kan, Ca!”tanya Rey yang baru menghampirinya setelah po

  • AKU ADALAH MILIK KAWAN KAKAK   Bab 7. Kabur Ke Villa

    “Ca, bener nih, gak mau ikut ke kota?” Seru Anggi kencang dari pintu villa.Ica yang sejak tadi memperhatikan laut yang berarak sempat terhenyak. Tapi kemudian ia melambaikan tangannya.“Iya, aku agak papa. Aku lagi enjoy nieh! Titip minuman kesukaanku aja ya!” Teriaknya hampir tak terdengar, diliha

  • AKU ADALAH MILIK KAWAN KAKAK   Bab 3. Kehidupan Di Kampus

    Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun. Dua tahun berlalu.Siang begitu terik, seolah mentari hendak mengeluarkan pijar api dari tiap sisinya.Ica baru saja keluar dengan binder dan beberapa buku di tangannya. Sambil menghapus keringat di pelipisnya, ia berjalan menuju kantin

  • AKU ADALAH MILIK KAWAN KAKAK   Bab 2. Kenapa Harus Menikah?

    Beberapa hari setelah kelulusan SMA-nya, Reni-sang mama menerima telepon dari tante Sherly, kawan dekat keluarga mereka saat di komplek, mengundang keluarga Ica ke acara syukuran putra tunggal mereka Reyhan yang baru lulus kuliah di ITB. Reyhan yang biasa dipanggil Rey itu memang mengenal Ica dan Fa

  • AKU ADALAH MILIK KAWAN KAKAK   Bab 1. Bersatu Untuk Berpisah

    Seorang pemuda melepas lumatan bibirnya dari gadis lugu di rengkuhannya yang menatap sendu.“Besok aku harus pergi! Kamu baik-baik, ya!”“Tapi aku gak mau sendirian. Aku maunya sama kamu.”“Ssst, aku tahu.” Ditariknya gadis itu ke dalam pelukannya. Sekali lagi ia menciumi rambut hitam wangi gadis ya

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status