Home / Romansa / AKU ADALAH MILIK KAWAN KAKAK / Bab 21. Awal Mula Rasa Iri

Share

Bab 21. Awal Mula Rasa Iri

Author: DNOV
last update publish date: 2026-02-28 00:19:55

“Gua gak percaya, dia bakal lebih sukses dari gua. Padahal usaha gua udah mulai lebih dulu dari dia.”

Faisal memukul tangannya ke dinding kamarnya. Asap tebal mengepul dari mulutnya. Beberapa hari sejak ia kembali dari Batam, emosinya mencuat. Ia tak menyangka Rey akan sesukses sekarang.

Memang tak banyak yang tahu bahwa Rey sudah mendirikan perusahaan sejak kuliah kecuali kedua orang tuanya. Rey dan beberapa kawan kampusnya mulai membangun usaha di bidang IT. Perusahaan bernama WebIndo adalah
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • AKU ADALAH MILIK KAWAN KAKAK   Bab 37. Pasir Pantai Yang Menenangkan

    "Ca, Ica, tunggu!" Rey berusaha mengejar Ica yang memilih pergi setelah turun dari Banana Boat. "Aku mau ke hotel.""Tunggu bareng, Ca!" panggil Rey lagi, menjajari langkah Ica yang semakin cepat. "Udah sana, kamu temani saja ayah bunda! Aku udah capek!""Ca, jangan seperti ini, dong! Masa gara-gara Cindy, kamu marah gak ada habisnya.""Terserah apa kata kamu. Aku cuma mau ke kamar."Dari arah pantai, sosok Cindy tampak masih melambai-lambaikan tangannya ke arah mereka berdua. Ica makin merasa muak dan langsung berlari meninggalkan Rey yang terus mengekorinya. Setelah mandi dan mengganti pakaiannya, Ica langsung menuju ranjang di mana Rey masih ada di kamar, memperhatikan gerak-geriknya dari sofa. "Kamu gak makan dulu?""Aku gak lapar. Aku capek!""Mau aku beliin makanan atau aku bawain aja makanannya ke kamar?""Gak usah. Udah sana, gak usah peduliin aku!""Jangan seperti ini, dong, Ca! Kita sedang bulan madu dan aku ingin kamu dan aku menikmati semuanya bersama." Ica hanya men

  • AKU ADALAH MILIK KAWAN KAKAK   Bab 36. Negosiasi Saja Tak Cukup

    Rey menarik napas dan duduk di samping Ica.“Apa karena itu kamu ngambek sama aku lalu pergi gak bilang-bilang?"Ica hanya memberengut lalu membuang wajahnya lagi."Ca, waktu itu aku cuma sekadar menolong, kok! Pertemuan itu juga gak sengaja. Bukan aku yang mau.”“Aku juga dengar, kamu gendong dia ke klinik dan …” Ica sengaja menghentikan ucapannya, menanti tanggapan pria di sebelahnya.“Ca, jadi kamu tahu! Aku menggendong dia karena kakinya memang terkilir. Tapi jujur, aku gak ada apa-apa sama dia. Begitu sampai di klinik, aku langsung pulang,” terang Rey, sudah menduga arah pembicaraan Ica itu, dan ia tak mau menutupinya.“Ooh!” tanggapan Ica singkat sambil mengedikkan bahunya.“Aku juga baru tahu kalau dia ada di sini waktu aku ke swalayan. Aku pikir itu hanya kebetulan, Ca! Dan kamu tahu sendiri, sikapku sama dia bagaimana. Aku gak mungkin macam-macam,” terang Rey, mencoba meyakinkan Ica.“Malam itu, kamu juga mandi gegara kena kotoran. Kotoran apa?”“Ya ampun, beneran, itu karena

  • AKU ADALAH MILIK KAWAN KAKAK   Bab 35. Kompromi Yang Alot

    Rey yang pagi itu hendak bersiap melapor ke kantor polisi terkejut saat mendapat telepon dari Ica.“Ica, kamu di mana?” Pekik Rey di ujung telepon.“Rey, aku kecopetan. Tolong!” Suara panik Ica membuat Rey ikut panik.“Apa? Tunggu aku! Kamu di mana sekarang?”Di Hotel Bintang, Rey tampak berlari keluar kamar menuju kamar orang tuanya.“Ayah, Bunda, Ica ketemu!”Ketiganya pun langsung menuju hotel tempat Ica berada yang ternyata letaknya kurang dari dua km dari hotel asal mereka.“Ica! Kamu gak kenapa-kenapa, kan?”Sherly langsung memeluk menantunya itu saat mereka bertemu di lobi hotel tempat Ica menginap. Yoga juga tampak memeriksa sekitar tubuh Ica yang lecet."Ya Allah, Ica, kamu kok bisa begini!" Yoga langsung mengajak Ica duduk di kursi rotan. Beberapa orang yang tadi sempat mengerubungi mulai bubar satu per satu. Rey menemui pihak hotel untuk mengumpulkan informasi dan memberikan laporan saat polisi datang.“Kamu gak apa-apa, kan, Ca!”tanya Rey yang baru menghampirinya setelah po

  • AKU ADALAH MILIK KAWAN KAKAK   Bab 34. Saat Ingin Kembali

    “Siapa?”“Maaf, bu! Room service!”Ica tak serta-merta membuka pintu, tapi mengaitkan kunci rantai.Setelah memastikan, ia baru membuka pintu dan mengambil pesanan makan malamnya.“Terima kasih. Ini tipnya.”Ica segera menutup dan mengunci pintu kamar.Malam ini ia ingin menjauh sejenak dari rutinitas barunya sebagai istri Rey dan menikmati malam dengan kesendiriannya yang terasa lain dari biasanya.“Haaah!” Napas panjangnya tanpa sadar keluar dari mulutnya.Biasanya saat di rumah, ia menanti waktu sendiri seperti itu dengan menonton drama sambil makan camilan dengan bebas. Namun, saat ini hati dan pikirannya seolah tak tenang.“Ayah bunda pasti khawatir,”gumamnya lalu mengubah posisi rebahan menjadi duduk.“Diiih, tapi aku masih gak terima kalau Rey beneran bohong. Lagian, ngapain si Cindy itu bisa ada di sini juga? Cis, bikin rusak suasana aja!” gerutunya lalu kembali merebahkan tubuhnya di sofa dan mengganti channel dramanya.“Duuh, sebel, sebel, sebel. Nyebelin!” teriaknya lalu me

  • AKU ADALAH MILIK KAWAN KAKAK   Bab 33. Hadirnya Orang Ketiga

    Dari depan pintu minimarket, Cindy sengaja memanggil-manggil nama Rey dengan suara keras. Beberapa orang tampak memandangi perempuan itu dan juga Rey yang tak jauh dari depan minimarket. "Rey, tunggu! Tolong aku!" Suara lantang Cindy itu terang saja membuat beberapa orang memandangi Rey yang disangka tidak bertanggung jawab.Rey menduga itu hanya akal-akalan Cindy, tapi ia pun terpaksa membawa Cindy ke klinik terdekat. Tanpa ia sadari Cindy mengambil foto candid.Rey buru-buru pergi, takut gadis itu menggunakan trik lain lagi.Sesampainya di kamar ia langsung membuka semua pakaiannya yang tadi sempat bersentuhan dengan Cindy dan mengguyur tubuhnya di bawah shower. “Rey, kok kamu mandi malam-malam? Badan kamu sampe dingin begini?” tanya Mayang yang terbangun saat seseorang tiba-tiba berbaring di sampingnya. “Tadi kena kotoran di minimarket, jadi aku mandi lagi. Peluk dong sayang, aku kedinginan,” rengek Rey saat Ica memegangi tangan dan wajahnya.Tanpa banyak bicara, perempuan itu l

  • AKU ADALAH MILIK KAWAN KAKAK   Bab 32. Rencana Masa Depan

    Sherly tersenyum meringis melihat reaksi spontan Rey itu. Ia mengira Rey pasti tidak akan setuju dan berpikir itu ide konyol.“Bunda cuma merasa, Ica itu sudah dekat sama kita. Lagipula, Ica baru ditinggal papanya. Kalau Bunda lihat, wajah Ica tuh kayak yang masih sedih gitu.” Ungkap Sherly dengan wajah memelas. Berharap anak lelakinya itu tak marah.“Bunda serius?” tanya Rey, masih tak percaya dengan niatan bundanya itu. “Serius lha, Rey! Bunda tuh udah sayang banget sama Ica,” terang Sherly, mencoba meyakinkan putranya lagi.“Yah, ayah sendiri gimana? Sudah setuju dengan rencana Bunda ini?” Rey berdiri tak tenang, menahan rasa kaget dan emosinya.“Ayah sih setuju jika itu memang positif. Win-win solution juga. Kita bisa membantu keluarga mereka dengan merawat Ica, dan bunda akan ada teman di rumah.”“Ayah pikirannya ke bisnis aja, pakai win-win solution segala.” Celetuk Sherly sambil menepuk bahu suaminya itu pelan.“Ya, memang kenyataannya begitu, kan! Jadi, gimana menurut kamu, Re

  • AKU ADALAH MILIK KAWAN KAKAK   Bab 3. Kehidupan Di Kampus

    Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun. Dua tahun berlalu.Siang begitu terik, seolah mentari hendak mengeluarkan pijar api dari tiap sisinya.Ica baru saja keluar dengan binder dan beberapa buku di tangannya. Sambil menghapus keringat di pelipisnya, ia berjalan menuju kantin

  • AKU ADALAH MILIK KAWAN KAKAK   Bab 2. Kenapa Harus Menikah?

    Beberapa hari setelah kelulusan SMA-nya, Reni-sang mama menerima telepon dari tante Sherly, kawan dekat keluarga mereka saat di komplek, mengundang keluarga Ica ke acara syukuran putra tunggal mereka Reyhan yang baru lulus kuliah di ITB. Reyhan yang biasa dipanggil Rey itu memang mengenal Ica dan Fa

  • AKU ADALAH MILIK KAWAN KAKAK   Bab 5. Terciduk

    Ica bersujud sambil memejamkan matanya yang masih sangat mengantuk lepas shalat shubuh. “Ca!”Rey menyentuh pundaknya pelan. Ica bangkit lalu mencium tangan Rey. “Sekalian dong, pipiku dan ini..!”Rey menunjuk bibirnya. Ica melotot tak percaya lalu mendorong cowok itu. “Dasar genit, nggak sopan,

  • AKU ADALAH MILIK KAWAN KAKAK   Bab 4. Berpisah Untuk Bertemu

    Sejak pernikahan itu terjadi, Ica mencoba meyakinkan diri, bahwa semua itu demi kebaikan dirinya. Dan sebersit perasaan sukanya pada sosok Rey yang dulu pernah ia kesampingkan, menjadi sebuah kekuatan baginya untuk menerima kenyataan di depannya.Sepeninggal Rey, ia kembali harus menjalani hari-hari

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status