Home / Romansa / AKU ADALAH MILIK KAWAN KAKAK / Bab 4. Mendadak Lamaran

Share

Bab 4. Mendadak Lamaran

Author: DNOV
last update Last Updated: 2025-02-05 12:40:16

“Ca...Ica...tunggu!” Rupanya Rey segera menyusul Ica hingga ke pelataran parkir resto yang saat itu mulai dilanda gerimis.

“Ca!” Tangan Rey meraih lengan Ica. Gadis itu menghentikan langkahnya meski tak mau mengangkat wajahnya yang memanas. Rey mengerti hal itu dan hanya membukakan pintu mobil.

"Tunggu aku di mobil, ya!"

Tanpa basa-basi, Ica hanya mengangguk menuruti kata-kata Rey dan masuk ke dalam mobil. Dilihatnya Rey meninggalkan dirinya dan masuk kembali ke dalam resto.

Mata Ica kosong menatap jalanan di hadapannya.  Pikirannya menerawang kembali pada peristiwa 4 tahun yang lalu.

*

Papa sudah tak bisa bekerja lagi. Kesehatannya tak memungkinkan akibat serangan stroke yang dideritanya. Mama yang mengelola salon kecil, hanya bisa membiayai kebutuhan sehari-hari dan kuliah kakaknya Faisal yang kala itu hampir lulus.

“Mama nggak tau Ca, kamu bisa meneruskan sekolah sampai ke perguruan tinggi atau enggak? Mungkin, kalau Ical berhasil dapat pekerjaan yang bagus, dia bisa membantu kamu untuk bisa sekolah lagi!”  Ungkap sang Mama saat itu, seolah mengubur cita-cita Ica. Ia pun mengurungkan niatnya untuk meminta biaya pendaftaran UMPTN yang seminggu lagi akan ditutup.

Gadis itu hanya menangis di kamarnya yang kecil, tanpa bisa mengeluh pada siapa-siapa. Biasanya Faisal selalu menemaninya jika ia sendirian atau sedih seperti itu. Tapi karena tak mau mengganggu Faisal yang sibuk dengan skripsinya, ia memilih menyendiri seperti itu.

Beberapa hari kemudian, Mama menerima telepon dari Om Irwan, kawan mama dan papanya yang sudah seperti kerabat dekat mereka, yang mengundang keluarga mereka untuk syukuran putra tunggal mereka yang baru lulus kuliah di ITB. Raihan namanya, tapi Ica dan keluarganya lebih sering memanggilnya Rey, karena ia memang sudah  berteman sejak kecil dan satu angkatan dengan Faisal.

“Wah, Ica sudah lulus SMA ya, mau diteruskan kemana?” Pertanyaan Tante Maya, ibunda Rey itu terasa begitu menghujamnya. 

“Belum tahu Tante!” Ica membalas dengan wajar, berusaha menyembunyikan perasaan sebenarnya.

Di ujung ruangan, dilihatnya Rey dan kakaknya Faisal yang sedang berkelakar. Namun, gadis itu mengurungkan niatnya untuk menghampiri mereka, dan memutuskan menuju halaman belakang, dan kembali menyendiri. 

Sambil memperhatikan ikan koi warna-warni di kolam kecil di hadapannya, sesekali ia mencelupkan jari-jarinya ke dalam air. Hingga tanpa disadari, keasyikannya itu mengundang seseorang untuk mendekatinya.

“Kok, sendirian Ca?” Ica terperanjat dengan suara yang begitu dekat ke telinganya. Lalu menoleh ke asal suara yang kini sudah ada dibelakangnya.

“Eh, Rey!” Suaranya agak tercekat mendapati cowok itu tengah memandanginya. Entah sejak kapan, ada sesuatu yang bergemuruh di dadanya jika cowok itu mendekatinya. Padahal ia dan Rey dulu suka bermain bersama. Cepat-cepat ia membuang pandangannya ke arah lain begitu cowok itu menatapnya lekat.

“Udah makan?” Cowok itu seperti mencairkan kebekuan di antara mereka berdua. Diperhatikannya gadis itu cuma mengangguk pelan. Tampak gurat kegelisahan di wajah gadis itu, meski ia mencoba menutupinya dengan senyuman.

“Besok aku harus mulai mengurus surat-surat ke kantor imigrasi!” Ungkap Rey mencoba membuka pembicaraan. Entah kenapa, Rey juga merasa ada perasaan aneh yang selalu muncul bila ia berada di dekat gadis itu. Dan ia merasa harus memberitahukan kepergiannya kali ini.

“Oh, memangnya mau kemana? Keluar negeri ya?” Tanya Ica dengan nada kekanakan. Ia agak penasaran kenapa cowok itu tiba-tiba bercerita, padahal jarang-jarang ia bisa ngobrol begitu dengan Rey, sejak ia dan keluarganya pindah rumah, dan tidak lagi tinggal satu komplek dengan Rey.

“Rencananya, pengen ngelanjutin S2 ke Australi atau German. Kamu sendiri, mo ngelanjutin kuliah kemana?”

Ica hanya tertawa terkekeh sambil mengendikan bahunya. Bosan dengan pertanyaan yang itu-itu saja.

"Gak tahu, belum ada bayangan!" Ungkapnya asal lalu kembali asyik melihat ikan yang berenang ke sana kemari. Percuma jika ia menceritakan jika ia tertarik masuk jurusan Ilmu Komunikasi jika untuk UMPTN saja ia tak bisa ikut serta.

Dalam hatinya, ia iri pada Rey yang bisa hidup enak dengan segala yang ia miliki. Selain dia anak laki-laki tunggal, ia bisa meminta apapun yang ia inginkan tanpa khawatir pada apapun. Sedangkan dia, hanya seorang gadis yang dilahirkan dalam keluarga sederhana, dan tengah ditimpa kemalangan lagi.

“Heh, jangan ngelamun, ke dalam yuk!!” Ajakan Rey itu membuyarkan angan Ica begitu saja, namun menyisakan rasa penasaran pada diri Rey yang saat itu kembali kerap memandanginya.

*

Hingga saat itu tiba, Ica hanya menatap wajahnya di cermin dengan pasrah. Sehari setelah acara syukuran itu, kedua orang tua Rey datang ke rumah dan menyampaikan maksud  untuk menjadikan Ica sebagai menantu mereka. Tentu saja, hal itu menjadi berita gembira bagi keluarga Ica, terlebih hubungan kedua keluarga sudah terjalin begitu lama.

“Abang yakin, kamu bisa menjaga nama baik keluarga Ca!! Abang berharap, keputusan yang terbaiklah yang keluar dari mulut kamu!!” Ucapan Faisal itu sama sekali tak membantunya untuk memilih, karena toh pada akhirnya ia seolah  harus menerima pernikahan itu.

"Tapi Ica kan baru lulus SMA, bang! Masa Ica langsung nikah? Kenapa coba bukan abang duluan yang nikah? Kenapa harus Ica?" Protes Ica. Dia merasa keputusan menerima lamaran keluarga Rey itu adalah keputusan sepihak Mama dan kakaknya Faisal.

"Ca, Ica, dengarkan mama, setelah menikah, kamu bisa daftar kuliah, seperti cita-cita kamu. Mereka akan membiayai kuliah kamu. Mama juga jadi gak pusing memikirkan segala biaya. Faisal juga bisa kerja lebih tenang membiayai pengobatan Papa. Ya, Ca! Nurut sama mama?"

Ica sudah tersedu mendengar hal itu dari mulut sang mama.

"Tapi Ica kan belum siap, Ma! Memangnya Rey suka sama Ica. Ica kan masih kecil, belum ngerti apa-apa, apalagi jadi istri." Ungkapnya merajuk. Dia tak bisa membayangkan jika setelah menikah nanti akan seperti apa kehidupannya.

"Kamu tenang aja, Ca! Rey itu udah suka sama kamu. Percaya deh sama abang!"

"Iya, Ca! Rey suka sama kamu. Lagipula nanti setelah menikah, Rey langsung pergi ke kuliah ke luar negeri. Semua gak ada yang berubah. Kamu masih bisa tinggal sama mama." Sang mama mencoba meyakinkan.

Ica belia hanya bisa sesenggukan menatap mama dan abangnya. Dalam hati ia masih bimbang, kenapa dia yang harus menikah di saat krusial seperti ini. Apakah mereka tidak memikirkan perasaannya sedikit pun? Meski dia nanti bisa kuliah, namun akal sehatnya masih terus berpikir.

Hingga saat pernikahan tiba, Ica mencoba meyakinkan diri, bahwa semua itu demi kebaikan dirinya. Dan sebersit perasaan sukanya pada sosok Rey yang dulu pernah ia kesampingkan, menjadi sebuah kekuatan baginya untuk menerima kenyataan itu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • AKU ADALAH MILIK KAWAN KAKAK   Bab 7. Gara-gara Dipanggil Sayang

    Ica tak mengelak saat lelaki itu mulai menyentuh area-area sensitif di tubuhnya satu per satu.Setelah ciuman panas yang membuat nafas mereka terengah, Rey tanpa segan menarik kaosnya dan kaos Ica. Keduanya saling memandangi tubuh di hadapannya. Lalu sentuhan demi sentuhan Rey lewat bibir basahnya menari di tiap senti kulit Ica, membuat gadis itu seolah kehilangan kekuatannya, membiarkan Rey menjelajahi tubuhnya sekali lagi, dengan erangan yang tak tertahankan lagi dari mulutnya.Untuk sesaat, Rey berhenti, lalu berbisik lembut.“Aku takut, teriakanmu membangunkan kamar sebelah dan ibu kos.” Ica pun langsung menutup mulutnya disertai Rey yang tersenyum geli. Apalagi gadis itu akan mengerjapkan mata jika gugup.“Padahal aku senang, mendengar desahanmu tadi.” Lanjut Rey membuat wajah Ica langsung merona.“Kamu tidak keberatan kan, kalau aku memasukimu?”Ica termangu sejenak. Ia ingat, waktu itu malam sebelum kepergian Rey, lelaki itu untuk pertama kali mengambil kesuciannya dengan menin

  • AKU ADALAH MILIK KAWAN KAKAK   Bab 6. Melepas Rindu

    Malam itu, Ica menuju kamar kostnya tanpa membuat kegaduhan. Sebelumnya ia juga mengecek garasi, kalau-kalau ada mobil Rey di sana. Jujur saja, saat ini sebenarnya ia masih belum siap dan canggung jika bertemu Rey. Berbagai dugaan muncul dalam benaknya, bahkan hal terburuk sekalipun.Gadis itu lega ketika mendapati kamarnya terlihat masih gelap, menandakan tak ada seorang pun di dalam. Setelah membuka pintu, ia menarik nafasnya ketika masuk, menggantungkan jaketnya di belakang pintu kemudian melangkah ke arah toilet.Ia membiarkan lampu luar yang menerangi kamarnya yang senyap. Setelah keluar dari toilet, ia menatap ke setiap sudut kamarnya. Tidak ada yang berubah. Namun, matanya tertuju pada sepatu yang tergeletak di pojokan kamar.Penasaran, ia hampiri sepatu yang ia kenali betul sebagai sepatu Rey. Apa mungkin dia meninggalkannya di sini, pikirnya. Lalu ia pun berdiri sambil berpikir.“Darimana saja?”Deg. Ica terbelalak tapi tak berani membalikkan badannya. Suara yang begitu diken

  • AKU ADALAH MILIK KAWAN KAKAK   Bab 5. Menyendiri

    Malam itu begitu kelam dan dingin setelah hujan seharian. Ica menatap langit-langit kamar kostnya yang putih. Untuk sementara, ia bisa kembali tenang tinggal di kost-an ini setelah Rey memberikan penjelasan rinci kepada bu Rita. Rey sendiri harus kembali ke Bandung selepas mengantarnya, karena masih ada dokumen yang harus ia selesaikan.Ica menolak untuk menginap di Bandung, karena kejadian sore tadi di resto. Kepalanya terasa pusing, mungkin karena tadi sempat kehujanan di pelataran parkir dan juga sakit hati memikirkan kata-kata Faisal kakaknya. Hampir pukul 11 malam, dan Rey belum juga kembali.'Rey mungkin tidak kemari' pikirnya.Matanya yang sudah sembab kembali basah. Badannya tiba-tiba menggigil, ditariknya selimut, matanya terpaku pada gitar yang tergeletak di karpet. Terbayang sosok Rey yang sering mendentingkan lagu, meninabobokannya hari-hari kemarin. Hingga kesadarannya pun perlahan hilang.Rey masuk dengan kunci ganda yang dibawanya. Diliriknya jam sudah menun

  • AKU ADALAH MILIK KAWAN KAKAK   Bab 4. Mendadak Lamaran

    “Ca...Ica...tunggu!” Rupanya Rey segera menyusul Ica hingga ke pelataran parkir resto yang saat itu mulai dilanda gerimis.“Ca!” Tangan Rey meraih lengan Ica. Gadis itu menghentikan langkahnya meski tak mau mengangkat wajahnya yang memanas. Rey mengerti hal itu dan hanya membukakan pintu mobil."Tunggu aku di mobil, ya!"Tanpa basa-basi, Ica hanya mengangguk menuruti kata-kata Rey dan masuk ke dalam mobil. Dilihatnya Rey meninggalkan dirinya dan masuk kembali ke dalam resto.Mata Ica kosong menatap jalanan di hadapannya. Pikirannya menerawang kembali pada peristiwa 4 tahun yang lalu.*Papa sudah tak bisa bekerja lagi. Kesehatannya tak memungkinkan akibat serangan stroke yang dideritanya. Mama yang mengelola salon kecil, hanya bisa membiayai kebutuhan sehari-hari dan kuliah kakaknya Faisal yang kala itu hampir lulus.“Mama nggak tau Ca, kamu bisa meneruskan sekolah sampai ke perguruan tinggi atau enggak? Mungkin, kalau Ical berhasil dapat pekerjaan yang bagus, dia bisa membantu kamu

  • AKU ADALAH MILIK KAWAN KAKAK   Bab 3. Terciduk

    Ica bersujud sambil memejamkan matanya yang masih sangat mengantuk lepas shalat shubuh.“Ca!”Rey menyentuh pundaknya pelan. Ica bangkit lalu mencium tangan Rey.“Sekalian dong, pipiku dan ini..!”Rey menunjuk bibirnya. Ica melotot tak percaya lalu mendorong cowok itu. “Dasar genit, nggak sopan, ini kan habis shalat. Gara-gara kamu juga, aku nggak bisa tidur!” sungut Ica sambil membenahi mukenanya. Rey hanya tersenyum mendengar Ica yang bersungut-sungut sejak bangun tidur tadi. Ia bergegas masuk ke kamar mandi tanpa mempedulikan Ica yang merebahkan dirinya kembali ke ranjang.Suara ribut-ribut diluar dan ketukan pintu yang tiba-tiba membuat Ica melompat dari ranjangnya. Dengan enggan ia membuka pintu tanpa tahu apa yang terjadi.“Keluar….sekarang juga saya minta kamu keluar dari sini. Saya tidak mau menerima mahasiswa model kamu! Saya tidak bisa terima!!” Sebuah suara sentakan dari wanita setengah baya di luar pintu kamar sontak membuat Ica terperanjat. Ucapan itu terlontar dari ibu k

  • AKU ADALAH MILIK KAWAN KAKAK   Bab 2. Ruang Rindu

    Masih memandangi sebuah bingkai foto di atas kasurnya, mata Ica menerawang seolah ingin memasuki dunia di dalam foto itu. Sesekali ia mengusap ujung matanya yang basah sejak ia duduk di ranjangnya. Pensil yang ia pegang sedari tadi tidak menggoreskan kata sedikit pun di lembaran diari mungilnya.Flashback InPrang!!“Huuu…….huwaaaa……!”Suara gelas pecah diikuti erangan seorang gadis mungil membahana di ruang makan.“Udah, Ca! Jangan nangis lagi, sini biar Rey yang beresin kacanya!” Seorang anak remaja berjongkok memunguti pecahan gelas di lantai. Gadis mungil itu memandanginya sambil sesenggukan.“Aduh mas Rey, hati-hati!” Teriak seorang asisten rumah tangga yang tergopoh-gopoh masuk dari arah dapur. Ia segera mengambil pecahan kaca yang dipegang Rey.“Aduh!” Jari manis Rey tiba-tiba tergores.“Aduh, mas, cepet dikasih obat merah!” Wanita baya itu menggiring Rey dan Ica duduk di sofa. Ica memegangi tangan Rey yang masih mengeluarkan darah. Tiba-tiba, Ica memasukan jari Rey itu kedala

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status