Share

Bab 5. Menyendiri

Penulis: DNOV
last update Terakhir Diperbarui: 2025-02-06 11:35:56

            Malam itu begitu kelam dan dingin setelah hujan seharian. Ica menatap langit-langit kamar kostnya yang putih. Untuk sementara, ia bisa kembali tenang tinggal di kost-an ini setelah Rey memberikan penjelasan rinci kepada bu Rita. Rey sendiri harus kembali ke Bandung selepas mengantarnya, karena masih ada dokumen yang harus ia selesaikan.

Ica menolak untuk menginap di Bandung, karena kejadian sore tadi di resto. Kepalanya terasa pusing, mungkin karena tadi sempat kehujanan di pelataran parkir dan juga sakit hati memikirkan kata-kata Faisal kakaknya. Hampir pukul 11 malam, dan Rey belum juga kembali.

'Rey mungkin tidak kemari' pikirnya.

Matanya yang sudah sembab kembali basah. Badannya tiba-tiba menggigil, ditariknya selimut, matanya terpaku pada gitar yang tergeletak di karpet. Terbayang sosok Rey yang sering mendentingkan lagu, meninabobokannya hari-hari kemarin. Hingga kesadarannya pun perlahan hilang.

Rey masuk dengan kunci ganda yang dibawanya. Diliriknya jam sudah menunjukkan pukul 2 pagi. Kamar yang diterangi lampu baca itu tampak senyap. Dihampirinya tubuh Ica di ranjang yang tampak kelelahan. Perlahan, diusapnya rambut gadis itu. Namun tiba-tiba gadis itu terbangun.

“Rey!" Pekiknya dengan nafasnya tak teratur.

“Ca, ada apa?” Rey meraba pelipis gadis itu yang dirasanya hangat.

“Rey!” Gumamnya lirih sambil merenggut baju Rey erat.

“Kamu mimpi buruk, ya!” Rey menarik gadis itu ke dalam pelukannya.

“Badan kamu anget. Kamu demam. Aku kompres,ya!” Tanyanya cemas lalu membaringkan tubuh lemah itu. Ica menahan Rey sambil menggeleng. Untuk beberapa saat ia menatap Rey lebih tenang, dan kembali mencoba terlelap. Rey tersadar, gadis itu hanya perlu ditemani sejak kejadian kemarin, hingga ia pun ikut terlelap disampingnya.

*

“Ca, bener nih, gak mau ikut ke kota?” Seru Anggi kencang dari pintu villa. Ica yang sejak tadi memperhatikan laut yang berarak sempat terhenyak. Tapi kemudian ia melambaikan tangannya.

“Iya, aku agak papa. Aku lagi enjoy nieh! Titip minuman kesukaanku aja ya!” Teriaknya hampir tak terdengar, dilihatnya Anggi hanya manggut. Lagipula, tujuannya ikut ke Pantai ini kan memang untuk menenangkan diri, meski sebenarnya, ia agak tergesa, dan memilih untuk tidak mengatakan apa-apa pada Rey yang waktu itu sedang ke Bandung.

“Haaah!” Gadis itu menghembuskan nafasnya keras, seolah ingin mengeluarkan seluruh keluh kesah yang menggantung di hatinya. Ternyata, meski pergi ke tempat yang jauh pun, perasaannya tak kunjung membaik. Apalagi ia membayangkan, seluruh orang-orang yang ia tinggalkan sekarang ini sedang mengkhawatirkan keberadaanya yang tidak jelas.

“Selama ini, aku mengira, kamu sudah bisa melepaskan sifat kekanak-kanakanmu, Ca! Tapi, aku dengar, kau masih mengigau tentang aku.” Mata Ica membelalak mendengar ucapan kakaknya Faisal, lalu mendongak ke arah Rey yang berada tak begitu jauh. Saat itu Rey bersitatap dengannya, dan tak mengerti dengan tatapan Ica yang aneh.

“Aku…aku kan cuma mimpi, kak. Kenapa dibesar-besarkan begini. Aku gak ngerti jadinya!”kilahnya agak kesal.

Kesal karena Rey membicarakan hal itu pada kakaknya yang dirasanya sudah berubah 180 derajat. Kesal karena baru saja sampai, ia sudah mendengar hal-hal yang tidak mengenakan hatinya. Kejadian sore itu masih tampak jelas dalam pikirannya.

Apakah aku hanya sebuah alat saja? Apakah semua ini nyata atau hanya sebuah mimpi? Tidak adakah yang mengerti perasaannya yang sejak dulu begitu tertahan, terkekang oleh sesuatu, yang entah apa itu, seolah terombang-ambing ke sana kemari, menanti sesuatu menghentikan lelahnya yang bertahun-tahun ini membuat tidurnya tak nyenyak.

“Ca! Ica!” Suara yang tak lain Anggi membuyarkan lamunannya.

“Kenapa Ca? Pusing ya?” Tanyanya lagi. Gadis itu seolah memahami situasi yang sedang Ica hadapi.

“Enggak, aku gak papa kok! Oya, sorry banget, aku malah ganggu liburan kamu sama Leo.” Ica berusaha mengalihkan perhatian.

“Yee…ganggu apaan? Justru, gua seneng lo ikut, lagian kita ke sini buat refreshing lah, habis UAS.  Kalo cuma gua berdua ma Leo, wah bisa gawat kalo terjadi hal-hal yang….yaa lo taulah. Makanya gua ngajak lo! Lo juga kayaknya lagi kusut, butuh healing ya, Ca?” Anggi menimpali panjang lebar. Tapi, tetap saja, Ica tak terpengaruh, mukanya yang murung makin terlihat khawatir.

“Ca, kalo elo mo pulang, kita pulang aja besok. Kayaknya elo banyak masalah, bukannya lari ke sini.” Ucapan Anggi itu begitu mengena di hatinya. Semua ada benarnya, tapi entahlah, dia tidak terlalu yakin.

“Sebenarnya, aku ke sini juga, Rey gak tau, makanya aku rada khawatir gitu!” Ica jujur.

“Hah! Serius, Ca!" Pekik Anggi.

"Pantesan aja, sejak dateng, lu seharian murung, lu ternyata kabur, ye? Alah Ca, masak sih, gara-gara yang namanya Rey itu, lu jadi kusut gini?” Ica tersenyum mendengar itu.

“Dia suami aku, Nggi!"

"Gua kaget pas kemaren lo bilang kalo udah nikah. Beneran itu, kan!" Tegas Anggi dibalas anggukan Ica dibalut senyum tipis.

"Pantes lu gak mau pacaran. Jadi, waktu kamu masuk kampus, kamu tuh sebenarnya udah nikah, udah gak perawan, dong!"

"Huss...sst...Gi, kamu apaan sih, berisik!" Ica membekap mulut ember Anggi. Anggi hanya cekikikan.

"Yang jelas, aku nikah sebelum UMPTN. Trus data diri yang aku pakai waktu itu juga masih KTP lama, belum kawin."

"Kok, lu bisa lolos sih?"

"Maksudnya lolos apaan?"

"Lolos dari interogasi senior, dekanat juga."

"Kan waktu itu, surat-surat nikahnya belum lengkap semua."

"Lu nikah siri, gitu ya?"

"Ya, enggak juga. Ada kok buku nikah juga!"

"Eh, mana-mana? Gua pengen lihat, dong!"

"Ya, entar lah, masa aku bawa-bawa. Kemarin sih dibawa Rey, buat ditunjukin ke ibu kos. Habisnya Rey datang gak bilang-bilang, malam lagi. Paginya aku digedor orang sekos." Ungkap Ica sambil memberengut.  Anggi malah makin terbahak-bahak mendengar cerita Ica.

"Aslinya, Ca! Temen gua yang polos ini dilabrak ibu kos, dikira zina!"

"Anggi, berisik ah!" Ica membekap mulut Anggi lagi. Meski akhirnya mereka cekikikan.

"Bisa jadi, ini perjalanan terakhir kita, Gi! Besok-besok, aku pasti bareng Rey terus.” Terang Ica ditanggapi  Anggi yang memberengut.

“Iye juga, ya! Awas ya, kalau lu ngelupain gua. Jangan sampe di Bandung gua kena damprat laki lo!” Sungut Anggi disambut tawa Ica. Namun beberapa saat kemudian wajahnya kembali datar.

“Eh…jangan-jangan…lo udah kangen, ya? Pengen ada yang...”Anggi mencandai sambil mengelus-elus rambut panjang Ica.

“Apaan sih?” Wajah Ica merona seketika. Ya, mungkin saja.

Setelah kedatangan Rey, kesendiriannya kini terasa berbeda. Keberadaan Rey beberapa hari kemarin membuat perasaannya tak sebebas ketika Rey berada di German. Apa mungkin karena perhatian-perhatian dari Rey? Walau hanya perhatian kecil, Ica bisa merasakan ketulusan dari lelaki itu.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • AKU ADALAH MILIK KAWAN KAKAK   Bab 7. Gara-gara Dipanggil Sayang

    Ica tak mengelak saat lelaki itu mulai menyentuh area-area sensitif di tubuhnya satu per satu.Setelah ciuman panas yang membuat nafas mereka terengah, Rey tanpa segan menarik kaosnya dan kaos Ica. Keduanya saling memandangi tubuh di hadapannya. Lalu sentuhan demi sentuhan Rey lewat bibir basahnya menari di tiap senti kulit Ica, membuat gadis itu seolah kehilangan kekuatannya, membiarkan Rey menjelajahi tubuhnya sekali lagi, dengan erangan yang tak tertahankan lagi dari mulutnya.Untuk sesaat, Rey berhenti, lalu berbisik lembut.“Aku takut, teriakanmu membangunkan kamar sebelah dan ibu kos.” Ica pun langsung menutup mulutnya disertai Rey yang tersenyum geli. Apalagi gadis itu akan mengerjapkan mata jika gugup.“Padahal aku senang, mendengar desahanmu tadi.” Lanjut Rey membuat wajah Ica langsung merona.“Kamu tidak keberatan kan, kalau aku memasukimu?”Ica termangu sejenak. Ia ingat, waktu itu malam sebelum kepergian Rey, lelaki itu untuk pertama kali mengambil kesuciannya dengan menin

  • AKU ADALAH MILIK KAWAN KAKAK   Bab 6. Melepas Rindu

    Malam itu, Ica menuju kamar kostnya tanpa membuat kegaduhan. Sebelumnya ia juga mengecek garasi, kalau-kalau ada mobil Rey di sana. Jujur saja, saat ini sebenarnya ia masih belum siap dan canggung jika bertemu Rey. Berbagai dugaan muncul dalam benaknya, bahkan hal terburuk sekalipun.Gadis itu lega ketika mendapati kamarnya terlihat masih gelap, menandakan tak ada seorang pun di dalam. Setelah membuka pintu, ia menarik nafasnya ketika masuk, menggantungkan jaketnya di belakang pintu kemudian melangkah ke arah toilet.Ia membiarkan lampu luar yang menerangi kamarnya yang senyap. Setelah keluar dari toilet, ia menatap ke setiap sudut kamarnya. Tidak ada yang berubah. Namun, matanya tertuju pada sepatu yang tergeletak di pojokan kamar.Penasaran, ia hampiri sepatu yang ia kenali betul sebagai sepatu Rey. Apa mungkin dia meninggalkannya di sini, pikirnya. Lalu ia pun berdiri sambil berpikir.“Darimana saja?”Deg. Ica terbelalak tapi tak berani membalikkan badannya. Suara yang begitu diken

  • AKU ADALAH MILIK KAWAN KAKAK   Bab 5. Menyendiri

    Malam itu begitu kelam dan dingin setelah hujan seharian. Ica menatap langit-langit kamar kostnya yang putih. Untuk sementara, ia bisa kembali tenang tinggal di kost-an ini setelah Rey memberikan penjelasan rinci kepada bu Rita. Rey sendiri harus kembali ke Bandung selepas mengantarnya, karena masih ada dokumen yang harus ia selesaikan.Ica menolak untuk menginap di Bandung, karena kejadian sore tadi di resto. Kepalanya terasa pusing, mungkin karena tadi sempat kehujanan di pelataran parkir dan juga sakit hati memikirkan kata-kata Faisal kakaknya. Hampir pukul 11 malam, dan Rey belum juga kembali.'Rey mungkin tidak kemari' pikirnya.Matanya yang sudah sembab kembali basah. Badannya tiba-tiba menggigil, ditariknya selimut, matanya terpaku pada gitar yang tergeletak di karpet. Terbayang sosok Rey yang sering mendentingkan lagu, meninabobokannya hari-hari kemarin. Hingga kesadarannya pun perlahan hilang.Rey masuk dengan kunci ganda yang dibawanya. Diliriknya jam sudah menun

  • AKU ADALAH MILIK KAWAN KAKAK   Bab 4. Mendadak Lamaran

    “Ca...Ica...tunggu!” Rupanya Rey segera menyusul Ica hingga ke pelataran parkir resto yang saat itu mulai dilanda gerimis.“Ca!” Tangan Rey meraih lengan Ica. Gadis itu menghentikan langkahnya meski tak mau mengangkat wajahnya yang memanas. Rey mengerti hal itu dan hanya membukakan pintu mobil."Tunggu aku di mobil, ya!"Tanpa basa-basi, Ica hanya mengangguk menuruti kata-kata Rey dan masuk ke dalam mobil. Dilihatnya Rey meninggalkan dirinya dan masuk kembali ke dalam resto.Mata Ica kosong menatap jalanan di hadapannya. Pikirannya menerawang kembali pada peristiwa 4 tahun yang lalu.*Papa sudah tak bisa bekerja lagi. Kesehatannya tak memungkinkan akibat serangan stroke yang dideritanya. Mama yang mengelola salon kecil, hanya bisa membiayai kebutuhan sehari-hari dan kuliah kakaknya Faisal yang kala itu hampir lulus.“Mama nggak tau Ca, kamu bisa meneruskan sekolah sampai ke perguruan tinggi atau enggak? Mungkin, kalau Ical berhasil dapat pekerjaan yang bagus, dia bisa membantu kamu

  • AKU ADALAH MILIK KAWAN KAKAK   Bab 3. Terciduk

    Ica bersujud sambil memejamkan matanya yang masih sangat mengantuk lepas shalat shubuh.“Ca!”Rey menyentuh pundaknya pelan. Ica bangkit lalu mencium tangan Rey.“Sekalian dong, pipiku dan ini..!”Rey menunjuk bibirnya. Ica melotot tak percaya lalu mendorong cowok itu. “Dasar genit, nggak sopan, ini kan habis shalat. Gara-gara kamu juga, aku nggak bisa tidur!” sungut Ica sambil membenahi mukenanya. Rey hanya tersenyum mendengar Ica yang bersungut-sungut sejak bangun tidur tadi. Ia bergegas masuk ke kamar mandi tanpa mempedulikan Ica yang merebahkan dirinya kembali ke ranjang.Suara ribut-ribut diluar dan ketukan pintu yang tiba-tiba membuat Ica melompat dari ranjangnya. Dengan enggan ia membuka pintu tanpa tahu apa yang terjadi.“Keluar….sekarang juga saya minta kamu keluar dari sini. Saya tidak mau menerima mahasiswa model kamu! Saya tidak bisa terima!!” Sebuah suara sentakan dari wanita setengah baya di luar pintu kamar sontak membuat Ica terperanjat. Ucapan itu terlontar dari ibu k

  • AKU ADALAH MILIK KAWAN KAKAK   Bab 2. Ruang Rindu

    Masih memandangi sebuah bingkai foto di atas kasurnya, mata Ica menerawang seolah ingin memasuki dunia di dalam foto itu. Sesekali ia mengusap ujung matanya yang basah sejak ia duduk di ranjangnya. Pensil yang ia pegang sedari tadi tidak menggoreskan kata sedikit pun di lembaran diari mungilnya.Flashback InPrang!!“Huuu…….huwaaaa……!”Suara gelas pecah diikuti erangan seorang gadis mungil membahana di ruang makan.“Udah, Ca! Jangan nangis lagi, sini biar Rey yang beresin kacanya!” Seorang anak remaja berjongkok memunguti pecahan gelas di lantai. Gadis mungil itu memandanginya sambil sesenggukan.“Aduh mas Rey, hati-hati!” Teriak seorang asisten rumah tangga yang tergopoh-gopoh masuk dari arah dapur. Ia segera mengambil pecahan kaca yang dipegang Rey.“Aduh!” Jari manis Rey tiba-tiba tergores.“Aduh, mas, cepet dikasih obat merah!” Wanita baya itu menggiring Rey dan Ica duduk di sofa. Ica memegangi tangan Rey yang masih mengeluarkan darah. Tiba-tiba, Ica memasukan jari Rey itu kedala

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status