Share

Bab 5. Terciduk

Penulis: DNOV
last update Terakhir Diperbarui: 2025-02-06 11:35:56

Ica bersujud sambil memejamkan matanya yang masih sangat mengantuk lepas shalat shubuh.

“Ca!”Rey menyentuh pundaknya pelan. Ica bangkit lalu mencium tangan Rey.

“Sekalian dong, pipiku dan ini..!”Rey menunjuk bibirnya. Ica melotot tak percaya lalu mendorong cowok itu. 

“Dasar genit, nggak sopan,  ini kan habis shalat. Gara-gara kamu juga, aku nggak bisa tidur!” sungut Ica sambil membenahi mukenanya. Rey hanya tersenyum mendengar Ica yang bersungut-sungut sejak bangun tidur tadi. Ia bergegas masuk ke kamar mandi tanpa mempedulikan Ica yang merebahkan dirinya kembali ke ranjang.

Suara ribut-ribut diluar dan pintu yang digedor keras memaksa Ica melompat dari ranjangnya. Ia segera membuka pintu tanpa tahu apa yang sedang terjadi.

“Keluar! Sekarang juga saya minta kamu keluar dari sini!” Tangan Ica tiba-tiba ditarik kasar. 

“Saya tidak mau menerima mahasiswa model kamu! Saya tidak bisa terima kostan saya dikotori sama perbuatan mesum kamu!” Suara sentakan dari wanita setengah baya di luar pintu kamar sontak membuat Ica terperanjat. Ucapan itu terlontar dari ibu kos yang kini sudah berada di hadapannya.

“Maksud ibu apa? Saya nggak ngerti?” Ica masih berusaha mengembalikan kesadarannya. Namun sebelum ketidakmengertian Ica terjawab, Rey keluar dari kamar mandi dengan kimononya.

“Ada apa, Ca? Eeemmmm….ini…?”ucapan Rey terhenti. Matanya menangkap sesuatu yang tidak beres pagi itu.

“Sekarang semua sudah terbukti, kan!! Didepan mata saya….berani-beraninya kamu bawa laki-laki ke dalam kamar!” Mata wanita itu melotot ke arah Rey yang keluar dari toilet dengan hanya berkaos oblong dan celana pendek. Matanya menatap keduanya nanar.

“Pokoknya kamu harus segera keluar dari sini, saya tidak mau pondok ini tercemar karena ulah kamu. Kalau perlu, akan saya laporkan kamu ke ketua RT atau Rektor kamu!” Pekiknya dengan nafas naik turun. 

Ica masih tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan wanita itu. Sedangkan Rey mencoba memahami situasi rancu itu.

"Tapi bu, saya..."

"Maaf bu, ada apa ini? Saya suami Annisa."

Sing. Semua orang yang ada di depan kamar kost langsung membeku, termasuk Rita, wanita yang baru saja mencak-mencak.

“Aku …aku ….nggak tahu harus ngomong apa?” Tubuh Ica masih gemetaran dan terasa lemas. Ia langsung duduk terpaku di ranjang setelah Rey menutup pintu dan suasana kembali sepi.

“Udaah, tenangin dulu pikiran kamu! Ini kan nggak seburuk kelihatannya. Tadi aku sudah jelaskan sedikit. Ibu kost hanya minta kebenarannya. Kamu tenang aja, jangan panik!” Rey menepuk bahu Ica mencoba menenangkan, tahu gadis itu masih shock.

“Tapi Rey, aku sama sekali belum pernah bilang sama ibu kos kalau aku….kalo kita ini…”Ica ragu melanjutkan kata-katanya begitu melihat mata Rey yang menatapnya.

“Suami istri. Begitu?" 

Ica mengangguk pelan.

"Kamu marah ya, karena aku masih merahasiakan ini?" Ica menarik-narik kaos Rey.

"Dengar, kamu nggak usah merasa bersalah! Aku gak marah kok! Beneran?"

"Aku kan gak tahu kalau kamu akan datang ke sini. Jadi, aku belum ada persiapan apa-apa, aku..."

"Hey, hey, sayang, kamu tenang dulu, kita selesaikan ini sama-sama.” Rey merangkul bahu Ica.

“Apa kamu bawa surat nikah?” 

Ica menggeleng kepala.“Aku pikir lebih aman kalo disimpen di rumah. Lagipula aku juga sering ke Bandung!” Ica menunduk lesu.

“Ya udah, kita ke Bandung pagi ini. Kita coba selesaikan masalah ini sama-sama. Kita kan harus jadi tim yang hebat!”

Kata-kata Rey barusan malah membuat Ica tak mengerti. “Tim?” Kening Ica berkerut.

“Ca, kita kan suami istri, jadi mulai sekarang kita harus menghadapi semua persoalan berdua. Senyum doong, kamu tenang aja, kan ada aku!” ujar Rey sambil mengedipkan sebelah matanya pada gadis itu. Ica berusaha tersenyum, meski perasaan gundah masih menggelayut di hatinya.

*

Sore itu Ica duduk terpaku di dalam mobil. Air matanya berderai memenuhi seluruh wajahnya. Beberapa saat yang lalu,  Faisal, kakaknya yang baru pulang dari Batam, datang menemuinya di restoran saat ia dan Rey mengabari kalau mereka ke Bandung untuk mengambil surat-surat penting.

“Aku nggak tahu jalan pikiran kamu, Ca! Masa bisa sampai begitu kejadiannya!” Ucapan Faisal begitu menyentaknya. Ia mendapat kabar dari sang mama kalau ibu kost melabrak kamar Ica saat Rey menyambanginya.

“Aku pikir, karena aku cuma kost, dan lagi Rey belum pulang, aku nggak harus menjelaskannya ke ibu kost!” Ica berusaha membela dirinya. Saat itu Rey sedang ke kasir restoran.

“Itu artinya, kamu nggak menghargai dia sebagai suami kamu, Ca! Masa sih, kamu nggak ngerti keadaan?” Entah kenapa, sosok Faisal, abangnya itu kini terlihat begitu asing di hadapannya. Kakaknya itu sudah banyak berubah sejak kepindahannya ke Batam.

“Aku nggak bermaksud begitu?” Jawab Ica pelan.

“Belajar untuk dewasa dong, kuliahmu kan sebentar lagi selesai, udah harus punya tanggung jawab sebagai seorang istri. Jangan jadi ABG terus!” Seloroh Faisal tegas.

“Kok, abang ngomong begitu sih, aku juga kan masih belajar!”  Ica tak terima karena kakaknya itu malah makin memojokkannya. 

“Tapi kenapa harus menyembunyikan statusmu segala? Masa kamu nggak malu sama Rey dan keluarganya! Mereka sudah membantu keluarga kita, Ca! Hargailah dia! Jangan malah ingin merasa bebas karena Rey sekolah di luar negeri, terus kamu merasa malu karena sudah menikah, eh …malah buat ulah yang enggak-enggak lagi pas dia baru pulang!” 

Dada Ica merasa tertohok dengan kata-kata Faisal barusan. 

“Apa maksud abang sebenarnya?”

Ucapan Faisal barusan telah melukai harga diri Ica dan memaksanya bangkit dari kursi sambil menahan emosinya. Faisal pun tak kalah emosi melihat sikap Ica seakan menantangnya.

“Jadi, selama ini abang hanya memanfaatkan aku saja demi keluarga kita! Apa aku ini hanya alat, bang! Alat yang bisa abang pergunakan demi kepentingan keluarga, begitu?” Teriak Ica parau hingga ia tak mempedulikan orang-orang sekitar yang melihat.

“Ca, kamu sudah berani ya sekarang!” Faisal yang terbawa emosi hendak melayangkan tangannya.

“Sal, apa-apaan ini!?” Rey yang datang langsung menahan tangan Faisal. Dilihatnya Ica sudah berlari menjauh.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • AKU ADALAH MILIK KAWAN KAKAK   Bab 25. Merajuk Berakhir Sebuah Kompensasi

    "Ayah, Bunda, kami pergi dulu, ya! Maaf, gak bisa nginep dulu. Rey udah ada janji sama orang.""Ya, sudah gak pa pa. Kenapa gak ajak Ica? Ica kasihan kan, ditinggal sendirian di rumah," protes Sherly saat mengantar anak dan menantunya itu ke depan rumah. "Enggak, bun! Ica gak pa pa, kok! Lagian sampe rumah paling Ica masuk kamar,"terang Ica."Atau, Ica nginep aja di sini, gimana?" tawar Sherly.Rey langsung berbalik,"Bun, please deh! Jangan ganggu honeymoon aku sama Ica!" Rey menarik bahu Ica mendekat ke arahnya. Ica hanya terkekeh. "Ciyeee, yang masih honeymoon, gak mau diganggu segala. Awas, jangan kelewatan!" Ucapan Sherly itu sambil mengedipkan sebelah mata menggoda. Ica menahan geli melihat ibu dan anak di hadapannya itu saling bercanda. Pemandangan yang untuk sesaat membuatnya bahagia. Namun, setelah berada di mobil, Ica kembali duduk terdiam. Malam itu, Rey sengaja meminjam mobil ayahnya untuk mengantar Ica pulang dan janji menemui kawannya. "Sayang, kamu kenapa? Perasaan,

  • AKU ADALAH MILIK KAWAN KAKAK   Bab 24. Rasa Penasaran Yang Mengusik

    Setelah Dzuhur, Ica tampak merapikan make-upnya dan Rey baru keluar dari ruang ganti. "Nanti kita mampir ke kios buah dulu, ya!" pinta Ica. "Terserah. Kalau aku bilang enggak, nanti kamu ngambek!" jawab Rey seperti enggan. Ica memperhatikan sikap Rey yang terlihat aneh dari pantulan cermin. Padahal biasanya cowok itu akan merangkul atau segera menempel padanya. Apa dia masih kelelahan hanya karena menjemur pakaian? pikirnya. "Ngapain aku ngambek. Cuma gak enak aja, kalau bunda ke sini segala dibawa, masa kita ke sana gak bawa apa-apa," terang Ica lalu segera mengambil tas slempangnya.Rey tak menjawab dan hanya melengos menuju pintu, "Ayo! Aku panasin mobil dulu, ya!""Hah, mobil? Mobil yang mana?" Ica kaget. Baik Ica maupun Rey saling berpandangan. "Eh, iya! Kita kan belum punya mobil," lontar Rey sambil menggaruk-garuk kepalanya. Mobil yang biasa mereka pakai sebelumnya adalah mobil ayah bundanya, yang kemarin setelah syukuran, mobil itu dibawa kembali sang ayah."Kan, kemarin

  • AKU ADALAH MILIK KAWAN KAKAK   Bab 23. Pagi Yang Sibuk

    "Hari ini, kita mau ke mana?" tanya Rey tiba-tiba setelah menghabiskan sarapannya. Ica menarik napasnya sambil menggelengkan kepala."Aku mau mencuci baju. Pakaian kotor udah numpuk banget.""Eem, gimana kalau kita ambil ART? Aku gak mau kamu kecapean hanya gara-gara urusan rumah.""Rey, kita kan cuma berdua di rumah ini. Belum butuh ART. Aku sih berharap bisa belajar melakoni jadi istri kamu apa adanya. Lagian sekarang aku kan sedang libur," terang Ica lalu meneguk gelas susunya.Rey hanya mengangguk-angguk kepalanya saat Ica mulai membereskan piring dan gelas kotor.Benar juga kata Ica. Dia dan Ica masih baru bersatu setelah menikah. Pekerjaan di rumah itu belum terlalu banyak dan repot jika dilakukan berdua, sehingga belum butuh ART. Lagipula, mereka masih harus menikmati quality time berdua sebagai suami istri. Dia dan Ica masih harus membiasakan diri menjadi pasangan suami istri di rumah mereka yang baru.Hanya saja, tingkah Ica pagi ini agak aneh, pikir Rey.Derrrt. Ponsel Rey be

  • AKU ADALAH MILIK KAWAN KAKAK   Bab 22. Salah Paham

    Ica tengah membereskan sisa makan malam lalu hendak mencuci piring saat Rey tiba-tiba merangkul dan menahan tangannya. "Udah, kamu duluan ke atas. Biar aku yang bersih-bersih!" Rey mencuci tangan Ica, lalu menggeser tubuh Ica ke sampingnya. Ica hanya melongo heran. "Ya, udah, aku mau shalat Isya duluan, ya! Pintu-pintu sudah dikunci, kan?""Iya. Tenang aja, setelah makan malam urusan di bawah serahkan sama aku. Kamu udah, sana istirahat!Tunggu aku, ya!"Deg. Ica seketika tersentil mendengar Rey mengatakan itu. Apalagi urusan paket siang tadi lumayan membuatnya terkaget-kaget. Tak mau menduga-duga, Ica buru-buru naik ke atas sambil sesekali menengok ke arah Rey yang tengah serius mencuci piring. "Rey, siapa yang mengirimkan paket barang seperti ini?" pekik Ica siang tadi."Itu… itu hadiah prank dari temanku di Jerman. Mereka tahu aku sudah menikah, dan tahu aku pulang pasti menemui kamu. Jadi, ya ... begitulah! Mereka hanya bercanda, Ca!""Bercanda tapi kok begini?""Ca, mereka cum

  • AKU ADALAH MILIK KAWAN KAKAK   Bab 21. Awal Mula Rasa Iri

    “Gua gak percaya, dia bakal lebih sukses dari gua. Padahal usaha gua udah mulai lebih dulu dari dia.”Faisal memukul tangannya ke dinding kamarnya. Asap tebal mengepul dari mulutnya. Beberapa hari sejak ia kembali dari Batam, emosinya mencuat. Ia tak menyangka Rey akan sesukses sekarang.Memang tak banyak yang tahu bahwa Rey sudah mendirikan perusahaan sejak kuliah kecuali kedua orang tuanya. Rey dan beberapa kawan kampusnya mulai membangun usaha di bidang IT. Perusahaan bernama WebIndo adalah perusahaan yang bergerak di bidang Website Development, Cloud Hosting Provider dan Digital Marketing. Sebagai pencetus dan penggeraknya, Rey dipercaya kawan-kawan seperjuangannya untuk menjadi CEO.Saat Rey melanjutkan studinya ke Jerman, Rey juga sengaja belajar mengembangkan bisnisnya di luar negeri dengan mencari rekanan dan peluang baru. Tak sampai satu tahun, ia sudah berhasil mendapatkan investor sehingga perusahaannya kini berkembang pesat. Ia juga sedikit demi sedikit membangun kantor kh

  • AKU ADALAH MILIK KAWAN KAKAK   Bab 20. Undangan Pengajian

    “Assalamu’alaikum, dek!" Ica segera menoleh ke asal suara. Baru saja ia akan membuka pintu, seorang ibu menghampirinya dari arah jalan. “Wa’alaikumsalam. Ya bu!”“Maaf, mengganggu sebentar. Perkenalkan, saya Bu Ina. Saya dari DKM masjid di belakang rumah mbanya. Saya mau menyerahkan undangan pengajian rutin. Untuk undangan kemarin, kami ucapkan terima kasih ya, dek!”“Oh, iya, Bu, maaf, silakan masuk dulu!”“Ah, tidak usah, dek! Nanti malam Jumat ditunggu kedatangannya, ya! Apalagi adek orang baru, nanti bisa kenal dengan ibu-ibu pengajian di kompleks ini.”“Baik, Bu! Terima kasih atas undangannya.”“Saya pamit dulu ya, dek! Assalamu’alaikum.”“Wa’alaikumsalam.”Ica pun akhirnya masuk dan menutup pintu sambil memegangi paket dan membuka lembaran undangan di tangannya.“Siapa sayang!” tanya Rey yang baru saja turun dari lantai atas.“Itu ibu-ibu pengajian masjid sini. Katanya nanti malam Jumat ada pengajian.” Ica duduk di sofa sambil membaca isi undangan, disusul Rey yang ikut duduk

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status