Home / Romansa / AKU ADALAH MILIK KAWAN KAKAK / Bab 3. Kehidupan Di Kampus

Share

Bab 3. Kehidupan Di Kampus

Author: DNOV
last update Last Updated: 2025-02-04 21:02:45

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun. Dua tahun berlalu.

Siang begitu terik, seolah mentari hendak mengeluarkan pijar api dari tiap sisinya.

Ica baru saja keluar dengan binder dan beberapa buku di tangannya. Sambil menghapus keringat di pelipisnya, ia berjalan menuju kantin yang jaraknya tinggal beberapa meter.

“Caaa, tunggu!” seruan itu memaksanya untuk berhenti sejenak memastikan siapa sosok yang memanggilnya. Kemudian ia kembali bergegas memasuki kantin dan menuju salah satu meja kosong yang baru ditinggalkan sekerumunan mahasiswa.

“Icaaa, elu tuh yah!” Gadis dengan setelan gotik berwarna hitam-hitam itu tergopoh-gopoh mendekati meja Ica dengan wajah kesal dan penuh peluh.

"Apa sih, jeng? Laper, ya! Nih, lap dulu keringatnya!" Ica menyodorkan tisu kering ke wajah sobatnya yang cemberut itu.

“Gua panggilin dari tadi tahu, nengok kek dikit! Dasar, elu mah suka rada-rada, ya!” Sosok yang menurut Ica centil dan cerewet itu hanya melengos dan membanting tasnya ke atas meja.

“Sorry, Gi! Takut penuh mejanya. Tadi aja pas ada yang kosong. Aku pikir kamu pergi sama cowok baru kamu itu, siapa namanya, kulupa?” Ica pura-pura mengingat sesuatu, padahal ia sibuk melihat menu makanan yang akan dipesannya.

“Ya, Ca, masa lo lupa, sih? Leo, Leo.” Anggi nyolot sambil melotot.

“Iya, itu, Leo! Eh, kamu mau pesen apa?” Ica langsung beranjak seolah tak mempedulikan jawaban Anggi.

“Gua baso sama es jeruk!” Teriak Anggi hampir memekakkan telinga orang di sekitar kantin yang langsung memandanginya heran. Namun gadis itu sepertinya cuek tak menghiraukan pandangan orang-orang. 

“Gi, aku pikir kamu tadi langsung pergi sama siapa tadi. Tadi juga kamu gak ada di kelas? Kemana hayoo?” Ica kembali ke meja masih disambut wajah memberengut Anggi yang meliriknya senewen.

“Leo, Ca! Namanya Leo! Emang segitu susahnya nama Leo. Aku tadi gak keburu masuk kelas gara-gara nunggu dia jemput.” Sungut gadis itu. Ica tersenyum menyeringai.

“Ya, masa pacar baru telat jemput! Mending jalan sama Boby dong kalau gitu, atau sama si Jito atau Jitak itu?"

Anggi membelalakan matanya makin kesal. “Sebelum Leo itu Ivan, sebelumnya baru sama Bobby. Aahhh, udah ah, males inget-ingetin mantan aja lu mah." Ungkap Anggi lalu membuka jendela ponselnya. 

“Jangan sewot gitu, kamunya juga sih, pacar ganti-ganti. Mana aku apal."

Tak berselang lama, seorang pelayan kantin datang membawakan pesanan mereka.

"Nih, baso sama es jeruknya. Udah makan dulu, jangan cari gebetan baru lagi di hp!”  Sindir Ica lalu pura-pura tak melihat ekspresi kesal Anggi dan segera melahap makanannya.

“Elu mah gitu! Lagian kapan dong bawa gacoan lu ke muka gue! Gue kan penasaran, nih!” Celoteh Anggi di sela-sela suapannya.

“Gacoan apa? Aku nggak punya gacoan. Kalau maksud kamu orang yang aku taksir, banyak sih, tapi …..!”Ica menghentikan ucapannya ketika melahap sendok terakhir, membuat Anggi makin penasaran.

“Tapi apaa, Ca? Eh, jangan-jangan elu gak suka cowok, ya! Eh, lu gak lesbong, kan! Diih, gua takut!"

"Sst, Gi, sembarangan! Lagi makan juga." Ica menyumpal mulut Anggi dengan tisu disambut tawa nyinyir gadis itu.

"Ya, habis lu udah jadi sobat gue, tapi lu nggak mau terbuka. Atau jangan-jangan elu takut ya gebetan lu itu naksir gua kali,ye!” Sambat Anggi dengan PD-nya.

"Berisik, Gi ah!" Ica segera menyeruput teh botolnya hingga tandas. Bagaimana pun ia tak mau sampai keceplosan menceritakan rahasia terbesarnya selama ini yang telah terbungkus rapi.

“Wah, Ca, bener nih, kamu kayaknya ada masalah sama yang satu ini, atau elu sebenernya pernah disakitin trus trauma gitu, ya!” Anggi masih menebak asal.

“Gi, kayaknya kamu cocok deh jadi penulis, doyannya ngelantur sama ngekhayal." Tukas Ica mesam mesem. Akhir-akhir ini ucapan Anggi seperti mulai menyerempet kehidupan pribadinya. 

“Penulis apaan! Penulis roman. Habisnya, masa tiap gue tanyain masalah cowok, pasti elu diem-diem bae, ato malah ngelamun!“ Anggi menyolot kembali. Ica hanya tertawa tipis.

“Lagian lagi makan, lagi minum, kamu ngomongin cowok melulu. Bukannya kamu cepet-cepet mikirin judul skripsi, biar cepat lulus, biar kamu cepet kawin, Nggi! Gak mikirin gonta ganti cowok melulu. Heran aku!" Cecar Ica panjang lebar.

"Kamu ngomongnya kawin-kawin melulu. Kawin itu gak gampang, Ca! Terlalu banyak yang harus dipikirin mateng-mateng." Ucapan Anggi itu tumben ada benarnya membuat Ica terdiam merenung sejenak.  

"Ca, tuh kan, lu malah ngelamun!" Anggi mengibaskan tangannya di muka Ica sambil memicingkan matanya curiga.

“Nggak ngelamun banyak sih, cuma dikit!” Ica sengaja mengaku agar Anggi tak lagi memojokkannya. Selama ini ia memang berusaha menghindapi pembicaraan yang mengarah pada masalah pribadi, apalagi yang berkaitan dengan hubungan emosional yang memang membuat Ica tak nyaman hati.

“Tuh kan, bener apa kata gue! Lu kayaknya nyembunyiin sesuatu di hati. Apakah itu, C..I..N..T..A.?” Tebak  Anggi sambil memonyongkan mulutnya.

Ica mengendikkan bahunya enggan menjawab. "Yuk, ah! Bayar dulu!" Ica langsung bangkit menuju kasir sambil memegangi perut yang kekenyangan.

"Emang lu mo kemana, Ca?" Anggi mengekor Ica.

"Balik ke kostan."

“Eh, Ca! Ntar sore kita ke Bandung yuk, maen ama nonton. Bosen di sini, kayak kodok di bawah tempurung, kagak bisa kemana-mana. Seneng-seneng dikit, kan boleh Ca? Lagian baru kelaran UAS ini.” Anggi tiba-tiba berubah menjadi seseorang yang siap menjilat siapa saja, terutama Ica yang baru saja membayar makanannya.

“Sorry, Gi! Nggak tau kenapa, aku lagi nggak pengen kemana-mana hari ini. Mungkin besok malem Minggu aku rencana balik ke Bandung. Malem ini kayaknya pengen tiduran, rasanya kok capek banget." Ungkap Ica sambil mengurut-ngurut lehernya yang pegal sejak dari kelas tadi.

“Yah, elu, pura-pura,ya! Bilang aja gak mau traktir!"

"Enggak, Nggi! Lagian ngapain traktir kamu yang bawa cowok. Cowok kamu dong yang harusnya traktir aku!"

"Iya, serius, Ca! Kalau kamu ikut, pasti Leo gak keberatan traktir kita. Masa di Jatinangor mulu,sih! Nggak bosen lu ngungkep di sini mulu berbulan-bulan!"

"Enggak dulu, Nggi! Aslinya badanku ringsek, kayaknya mau bulanan, deh!"

"Ya, elu mah! Ayo dong, lagian pake mobilnya si Leo. Gak cape, tinggal duduk. Hyundai baru, lho!” Rayu Anggi tak menyerah begitu saja.

"Nggi, mending cepetan kamu ke parkiran! Siapa tahu si Leo itu dah nungguin kamu."

Anggi langsung menganga mulutnya."Oh, God! Iya, gua lupa! Tadi kan gua minta dia tungguin gua sampe keluar kelas!" Gadis itu mulai panik dan segera berlari ngiprit. 

Ica yang melihat itu hanya tertawa geli dan melambaikan tangannya ke Anggi yang tak lagi menoleh.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • AKU ADALAH MILIK KAWAN KAKAK   Bab 25. Merajuk Berakhir Sebuah Kompensasi

    "Ayah, Bunda, kami pergi dulu, ya! Maaf, gak bisa nginep dulu. Rey udah ada janji sama orang.""Ya, sudah gak pa pa. Kenapa gak ajak Ica? Ica kasihan kan, ditinggal sendirian di rumah," protes Sherly saat mengantar anak dan menantunya itu ke depan rumah. "Enggak, bun! Ica gak pa pa, kok! Lagian sampe rumah paling Ica masuk kamar,"terang Ica."Atau, Ica nginep aja di sini, gimana?" tawar Sherly.Rey langsung berbalik,"Bun, please deh! Jangan ganggu honeymoon aku sama Ica!" Rey menarik bahu Ica mendekat ke arahnya. Ica hanya terkekeh. "Ciyeee, yang masih honeymoon, gak mau diganggu segala. Awas, jangan kelewatan!" Ucapan Sherly itu sambil mengedipkan sebelah mata menggoda. Ica menahan geli melihat ibu dan anak di hadapannya itu saling bercanda. Pemandangan yang untuk sesaat membuatnya bahagia. Namun, setelah berada di mobil, Ica kembali duduk terdiam. Malam itu, Rey sengaja meminjam mobil ayahnya untuk mengantar Ica pulang dan janji menemui kawannya. "Sayang, kamu kenapa? Perasaan,

  • AKU ADALAH MILIK KAWAN KAKAK   Bab 24. Rasa Penasaran Yang Mengusik

    Setelah Dzuhur, Ica tampak merapikan make-upnya dan Rey baru keluar dari ruang ganti. "Nanti kita mampir ke kios buah dulu, ya!" pinta Ica. "Terserah. Kalau aku bilang enggak, nanti kamu ngambek!" jawab Rey seperti enggan. Ica memperhatikan sikap Rey yang terlihat aneh dari pantulan cermin. Padahal biasanya cowok itu akan merangkul atau segera menempel padanya. Apa dia masih kelelahan hanya karena menjemur pakaian? pikirnya. "Ngapain aku ngambek. Cuma gak enak aja, kalau bunda ke sini segala dibawa, masa kita ke sana gak bawa apa-apa," terang Ica lalu segera mengambil tas slempangnya.Rey tak menjawab dan hanya melengos menuju pintu, "Ayo! Aku panasin mobil dulu, ya!""Hah, mobil? Mobil yang mana?" Ica kaget. Baik Ica maupun Rey saling berpandangan. "Eh, iya! Kita kan belum punya mobil," lontar Rey sambil menggaruk-garuk kepalanya. Mobil yang biasa mereka pakai sebelumnya adalah mobil ayah bundanya, yang kemarin setelah syukuran, mobil itu dibawa kembali sang ayah."Kan, kemarin

  • AKU ADALAH MILIK KAWAN KAKAK   Bab 23. Pagi Yang Sibuk

    "Hari ini, kita mau ke mana?" tanya Rey tiba-tiba setelah menghabiskan sarapannya. Ica menarik napasnya sambil menggelengkan kepala."Aku mau mencuci baju. Pakaian kotor udah numpuk banget.""Eem, gimana kalau kita ambil ART? Aku gak mau kamu kecapean hanya gara-gara urusan rumah.""Rey, kita kan cuma berdua di rumah ini. Belum butuh ART. Aku sih berharap bisa belajar melakoni jadi istri kamu apa adanya. Lagian sekarang aku kan sedang libur," terang Ica lalu meneguk gelas susunya.Rey hanya mengangguk-angguk kepalanya saat Ica mulai membereskan piring dan gelas kotor.Benar juga kata Ica. Dia dan Ica masih baru bersatu setelah menikah. Pekerjaan di rumah itu belum terlalu banyak dan repot jika dilakukan berdua, sehingga belum butuh ART. Lagipula, mereka masih harus menikmati quality time berdua sebagai suami istri. Dia dan Ica masih harus membiasakan diri menjadi pasangan suami istri di rumah mereka yang baru.Hanya saja, tingkah Ica pagi ini agak aneh, pikir Rey.Derrrt. Ponsel Rey be

  • AKU ADALAH MILIK KAWAN KAKAK   Bab 22. Salah Paham

    Ica tengah membereskan sisa makan malam lalu hendak mencuci piring saat Rey tiba-tiba merangkul dan menahan tangannya. "Udah, kamu duluan ke atas. Biar aku yang bersih-bersih!" Rey mencuci tangan Ica, lalu menggeser tubuh Ica ke sampingnya. Ica hanya melongo heran. "Ya, udah, aku mau shalat Isya duluan, ya! Pintu-pintu sudah dikunci, kan?""Iya. Tenang aja, setelah makan malam urusan di bawah serahkan sama aku. Kamu udah, sana istirahat!Tunggu aku, ya!"Deg. Ica seketika tersentil mendengar Rey mengatakan itu. Apalagi urusan paket siang tadi lumayan membuatnya terkaget-kaget. Tak mau menduga-duga, Ica buru-buru naik ke atas sambil sesekali menengok ke arah Rey yang tengah serius mencuci piring. "Rey, siapa yang mengirimkan paket barang seperti ini?" pekik Ica siang tadi."Itu… itu hadiah prank dari temanku di Jerman. Mereka tahu aku sudah menikah, dan tahu aku pulang pasti menemui kamu. Jadi, ya ... begitulah! Mereka hanya bercanda, Ca!""Bercanda tapi kok begini?""Ca, mereka cum

  • AKU ADALAH MILIK KAWAN KAKAK   Bab 21. Awal Mula Rasa Iri

    “Gua gak percaya, dia bakal lebih sukses dari gua. Padahal usaha gua udah mulai lebih dulu dari dia.”Faisal memukul tangannya ke dinding kamarnya. Asap tebal mengepul dari mulutnya. Beberapa hari sejak ia kembali dari Batam, emosinya mencuat. Ia tak menyangka Rey akan sesukses sekarang.Memang tak banyak yang tahu bahwa Rey sudah mendirikan perusahaan sejak kuliah kecuali kedua orang tuanya. Rey dan beberapa kawan kampusnya mulai membangun usaha di bidang IT. Perusahaan bernama WebIndo adalah perusahaan yang bergerak di bidang Website Development, Cloud Hosting Provider dan Digital Marketing. Sebagai pencetus dan penggeraknya, Rey dipercaya kawan-kawan seperjuangannya untuk menjadi CEO.Saat Rey melanjutkan studinya ke Jerman, Rey juga sengaja belajar mengembangkan bisnisnya di luar negeri dengan mencari rekanan dan peluang baru. Tak sampai satu tahun, ia sudah berhasil mendapatkan investor sehingga perusahaannya kini berkembang pesat. Ia juga sedikit demi sedikit membangun kantor kh

  • AKU ADALAH MILIK KAWAN KAKAK   Bab 20. Undangan Pengajian

    “Assalamu’alaikum, dek!" Ica segera menoleh ke asal suara. Baru saja ia akan membuka pintu, seorang ibu menghampirinya dari arah jalan. “Wa’alaikumsalam. Ya bu!”“Maaf, mengganggu sebentar. Perkenalkan, saya Bu Ina. Saya dari DKM masjid di belakang rumah mbanya. Saya mau menyerahkan undangan pengajian rutin. Untuk undangan kemarin, kami ucapkan terima kasih ya, dek!”“Oh, iya, Bu, maaf, silakan masuk dulu!”“Ah, tidak usah, dek! Nanti malam Jumat ditunggu kedatangannya, ya! Apalagi adek orang baru, nanti bisa kenal dengan ibu-ibu pengajian di kompleks ini.”“Baik, Bu! Terima kasih atas undangannya.”“Saya pamit dulu ya, dek! Assalamu’alaikum.”“Wa’alaikumsalam.”Ica pun akhirnya masuk dan menutup pintu sambil memegangi paket dan membuka lembaran undangan di tangannya.“Siapa sayang!” tanya Rey yang baru saja turun dari lantai atas.“Itu ibu-ibu pengajian masjid sini. Katanya nanti malam Jumat ada pengajian.” Ica duduk di sofa sambil membaca isi undangan, disusul Rey yang ikut duduk

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status