LOGINIca bersujud sambil memejamkan matanya yang masih sangat mengantuk lepas shalat shubuh.
“Ca!”Rey menyentuh pundaknya pelan. Ica bangkit lalu mencium tangan Rey.
“Sekalian dong, pipiku dan ini..!”Rey menunjuk bibirnya. Ica melotot tak percaya lalu mendorong cowok itu.
“Dasar genit, nggak sopan, ini kan habis shalat. Gara-gara kamu juga, aku nggak bisa tidur!” sungut Ica sambil membenahi mukenanya. Rey hanya tersenyum mendengar Ica yang bersungut-sungut sejak bangun tidur tadi. Ia bergegas masuk ke kamar mandi tanpa mempedulikan Ica yang merebahkan dirinya kembali ke ranjang.
Suara ribut-ribut diluar dan ketukan pintu yang tiba-tiba membuat Ica melompat dari ranjangnya. Dengan enggan ia membuka pintu tanpa tahu apa yang terjadi.
“Keluar….sekarang juga saya minta kamu keluar dari sini. Saya tidak mau menerima mahasiswa model kamu! Saya tidak bisa terima!!” Sebuah suara sentakan dari wanita setengah baya di luar pintu kamar sontak membuat Ica terperanjat. Ucapan itu terlontar dari ibu kos yang kini sudah berada di hadapannya.
“Maksud ibu apa? Saya nggak ngerti?” Ica masih berusaha mengembalikan kesadarannya. Namun sebelum ketidakmengertian Ica terjawab, Rey keluar dari kamar mandi dengan kimononya.
“Ada apa, Ca? Eeemmmm….ini…?”ucapan Rey terhenti. Matanya menangkap sesuatu yang tidak pagi itu.
“Sekarang semua sudah terbukti, kan!! Didepan mata saya….berani-beraninya…kamu..!!!” Mata wanita itu melotot ke arah Rey dan kembali pada Ica.
“Pokoknya kamu harus segera keluar dari sini, saya tidak mau pondok ini tercemar karena ulah kamu. Kalau perlu, akan saya laporkan kamu ke ketua RT atau Rektor kamu!!” Deg. Ica masih tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan wanita itu. Begitu juga dengan Rey yang masih berusaha memahami situasi itu.
"Tapi bu, saya..."
"Maaf bu, ada apa ini? Saya suami Nisa."
Sing. Semua orang yang ada di sekitar kamar kost langsung membeku, termasuk Rita, sang pemilik kost yang tadi sempat marah-marah.
*
“Aku …aku ….nggak tahu harus ngomong apa?” Tubuh Ica terasa lemas dan hanya duduk terpaku di tempat tidur setelah Rey menutup pintu.
“Udaah, tenangin dulu pikiran kamu. Ini kan nggak seburuk kelihatannya. Tadi aku sudah jelaskan sedikit. Ibu kost hanya minta kebenarannya. Kamu tenang aja, jangan panik.” Ujar Rey mencoba tenang meski ia tahu gadis itu masih gundah.
“Tapi Rey, aku sama sekali belum pernah bilang sama ibu kos kalo aku….kalo kita ini…”Ica ragu melanjutkan kata-katanya begitu melihat mata Rey yang mengikutinya.
“Suami istri. Begitu?" Ica mengangguk mengiyakan.
"Kamu jangan marah ya, karena aku masih merahasiakan ini?" Ica menarik-narik kaos Rey.
"Dengar, kamu nggak usah merasa bersalah! Aku gak marah kok! Beneran?"
"Aku kan gak tahu kalau kamu akan datang ke sini. Jadi, aku belum ada persiapan, aku..."
"Kamu tenang dulu, kita selesaikan ini sama-sama. Apa kamu bawa surat nikah?” Ica menggeleng kepala.
“Aku pikir lebih aman kalo disimpen di rumah aja. Lagipula aku juga sering ke Bandung!” Ica masih menunduk lesu.
“Ya udah kita ke Bandung pagi ini. Kita coba selesaikan masalah ini sama-sama. Kita kan harus jadi tim yang hebat!”
Kata-kata Rey barusan malah membuat Ica tak mengerti. “Tim?” Kening Ica berkerut.
“Ca, kita kan suami istri, jadi mulai sekarang kita harus menghadapi semua persoalan berdua. Jadi senyum doong, kamu tenang aja, kan ada aku??” ujar Rey sambil mengedipkan sebelah matanya pada gadis itu. Ica berusaha tersenyum, meski perasaan gundah masih terus menggelayut di hatinya.
*
Ica terpaku di dalam mobil. Air matanya berderai memenuhi seluruh wajahnya. Beberapa saat yang lalu, Faisal, kakaknya yang baru pulang dari Batam, datang menemuinya karena mendengar masalah di tempat kost.
“Aku nggak tahu jalan pikiran kamu, Ca! Masa bisa sampai begitu kejadiannya!” Ucapan Faisal begitu menyentaknya.
“Aku pikir, karena aku cuma kost, dan lagi Rey belum pulang, aku nggak harus menjelaskannya ke ibu kost!” Ica berusaha membela dirinya. Saat itu Rey sedang ke kasir restoran.
“Itu artinya, kamu nggak menghargai dia sebagai suami kamu, Ca! Masa sih, kamu nggak ngerti keadaan?!” Sosok Faisal saat itu begitu asing di hadapan Ica. Kakaknya itu sudah banyak berubah sejak kepindahannya ke Batam.
“Aku nggak bermaksud begitu?” Jawab Ica pelan.
“Belajar untuk dewasa dong, kuliahmu kan sebentar lagi selesai, udah harus punya tanggung jawab sebagai seorang istri. Jangan jadi ABG terus!!” Serobot Faisal.
“Kok, abang ngomong begitu sih, aku juga kan masih belajar!!” Sahut Ica tegas karena kakaknya itu malah bersikap makin memojokkannya.
“Tapi kenapa harus menyembunyikan statusmu segala? Masa kamu nggak malu sama Rey dan keluarganya!Mereka kan sudah membantu keluarga kita, Ca! Hargailah dia! Jangan malah ingin merasa bebas karena Rey sekolah di luar negeri, terus kamu merasa malu karena sudah menikah, eh …malah buat yang enggak-enggak lagi!!”
“Apa maksud abang sebenarnya??” Ucapan Faisal barusan telah melukai harga diri Ica dan memaksanya bangkit dari kursi menahan emosinya. Begitu juga dengan Faisal.
“Jadi, selama ini abang hanya memanfaatkan aku saja demi keluarga kita! Apa aku ini hanya alat, bang, …alat yang bisa abang pergunakan demi kepentingan semua orang… begitu?!” Emosi Ica sudah tak terbendung lagi hingga ia tak mempedulikan lingkungan sekitarnya. Faisal ikut terbawa emosi hendak melayangkan tangannya.
“Sal, apa-apaan ini!?” Tiba-tiba Rey datang dan menahan tangan Faisal. Dilihatnya Ica sudah berlari menjauh.
*
Di sebuah ruang tamu dengan furnitur jati dengan lantai keramik hijau, dua insan duduk sambil berhadapan dengan wanita setengah baya yang menatap.
Tanpa banyak kata, Rey menyodorkan dua buah buku berwarna hijau dan merah, serta beberapa lembar foto pernikahan di atas meja. Ica hanya merunduk tanpa berani menatap ke sosok di depannya.
"Kami menikah saat Ica baru masuk kuliah. Saat itu saya juga baru memulai pendidikan S2 di German. Setelah menikah, kami langsung berpisah. Dan kemarin, kami baru bertemu lagi."
Bu Rita tampak membuka lembar demi lembar foto pernikahan Ica dan Rey. Sesekali matanya menilik wajah-wajah di depannya, seolah memastikan bahwa wajah merekalah yang terpampang di foto. Tak lupa ia juga mengambil salah satu buku nikah dan melihat tulisan dan foto di dalamnya.
"Kenapa di KTP Ica tidak tercantum keterangan 'kawin'?" Tanya bu Rita nyinyir.
Rey menoleh ke arah Ica sejenak.
"Karena waktu itu, seminggu setelah menikah, saya langsung pergi ke German. Kami belum menyelesaikan urusan administrasi lainnya. Data yang kami pakai juga masih yang lama. Begitu juga saya di German. Semoga ibu bisa maklum."
Ica tak mengelak saat lelaki itu mulai menyentuh area-area sensitif di tubuhnya satu per satu.Setelah ciuman panas yang membuat nafas mereka terengah, Rey tanpa segan menarik kaosnya dan kaos Ica. Keduanya saling memandangi tubuh di hadapannya. Lalu sentuhan demi sentuhan Rey lewat bibir basahnya menari di tiap senti kulit Ica, membuat gadis itu seolah kehilangan kekuatannya, membiarkan Rey menjelajahi tubuhnya sekali lagi, dengan erangan yang tak tertahankan lagi dari mulutnya.Untuk sesaat, Rey berhenti, lalu berbisik lembut.“Aku takut, teriakanmu membangunkan kamar sebelah dan ibu kos.” Ica pun langsung menutup mulutnya disertai Rey yang tersenyum geli. Apalagi gadis itu akan mengerjapkan mata jika gugup.“Padahal aku senang, mendengar desahanmu tadi.” Lanjut Rey membuat wajah Ica langsung merona.“Kamu tidak keberatan kan, kalau aku memasukimu?”Ica termangu sejenak. Ia ingat, waktu itu malam sebelum kepergian Rey, lelaki itu untuk pertama kali mengambil kesuciannya dengan menin
Malam itu, Ica menuju kamar kostnya tanpa membuat kegaduhan. Sebelumnya ia juga mengecek garasi, kalau-kalau ada mobil Rey di sana. Jujur saja, saat ini sebenarnya ia masih belum siap dan canggung jika bertemu Rey. Berbagai dugaan muncul dalam benaknya, bahkan hal terburuk sekalipun.Gadis itu lega ketika mendapati kamarnya terlihat masih gelap, menandakan tak ada seorang pun di dalam. Setelah membuka pintu, ia menarik nafasnya ketika masuk, menggantungkan jaketnya di belakang pintu kemudian melangkah ke arah toilet.Ia membiarkan lampu luar yang menerangi kamarnya yang senyap. Setelah keluar dari toilet, ia menatap ke setiap sudut kamarnya. Tidak ada yang berubah. Namun, matanya tertuju pada sepatu yang tergeletak di pojokan kamar.Penasaran, ia hampiri sepatu yang ia kenali betul sebagai sepatu Rey. Apa mungkin dia meninggalkannya di sini, pikirnya. Lalu ia pun berdiri sambil berpikir.“Darimana saja?”Deg. Ica terbelalak tapi tak berani membalikkan badannya. Suara yang begitu diken
Malam itu begitu kelam dan dingin setelah hujan seharian. Ica menatap langit-langit kamar kostnya yang putih. Untuk sementara, ia bisa kembali tenang tinggal di kost-an ini setelah Rey memberikan penjelasan rinci kepada bu Rita. Rey sendiri harus kembali ke Bandung selepas mengantarnya, karena masih ada dokumen yang harus ia selesaikan.Ica menolak untuk menginap di Bandung, karena kejadian sore tadi di resto. Kepalanya terasa pusing, mungkin karena tadi sempat kehujanan di pelataran parkir dan juga sakit hati memikirkan kata-kata Faisal kakaknya. Hampir pukul 11 malam, dan Rey belum juga kembali.'Rey mungkin tidak kemari' pikirnya.Matanya yang sudah sembab kembali basah. Badannya tiba-tiba menggigil, ditariknya selimut, matanya terpaku pada gitar yang tergeletak di karpet. Terbayang sosok Rey yang sering mendentingkan lagu, meninabobokannya hari-hari kemarin. Hingga kesadarannya pun perlahan hilang.Rey masuk dengan kunci ganda yang dibawanya. Diliriknya jam sudah menun
“Ca...Ica...tunggu!” Rupanya Rey segera menyusul Ica hingga ke pelataran parkir resto yang saat itu mulai dilanda gerimis.“Ca!” Tangan Rey meraih lengan Ica. Gadis itu menghentikan langkahnya meski tak mau mengangkat wajahnya yang memanas. Rey mengerti hal itu dan hanya membukakan pintu mobil."Tunggu aku di mobil, ya!"Tanpa basa-basi, Ica hanya mengangguk menuruti kata-kata Rey dan masuk ke dalam mobil. Dilihatnya Rey meninggalkan dirinya dan masuk kembali ke dalam resto.Mata Ica kosong menatap jalanan di hadapannya. Pikirannya menerawang kembali pada peristiwa 4 tahun yang lalu.*Papa sudah tak bisa bekerja lagi. Kesehatannya tak memungkinkan akibat serangan stroke yang dideritanya. Mama yang mengelola salon kecil, hanya bisa membiayai kebutuhan sehari-hari dan kuliah kakaknya Faisal yang kala itu hampir lulus.“Mama nggak tau Ca, kamu bisa meneruskan sekolah sampai ke perguruan tinggi atau enggak? Mungkin, kalau Ical berhasil dapat pekerjaan yang bagus, dia bisa membantu kamu
Ica bersujud sambil memejamkan matanya yang masih sangat mengantuk lepas shalat shubuh.“Ca!”Rey menyentuh pundaknya pelan. Ica bangkit lalu mencium tangan Rey.“Sekalian dong, pipiku dan ini..!”Rey menunjuk bibirnya. Ica melotot tak percaya lalu mendorong cowok itu. “Dasar genit, nggak sopan, ini kan habis shalat. Gara-gara kamu juga, aku nggak bisa tidur!” sungut Ica sambil membenahi mukenanya. Rey hanya tersenyum mendengar Ica yang bersungut-sungut sejak bangun tidur tadi. Ia bergegas masuk ke kamar mandi tanpa mempedulikan Ica yang merebahkan dirinya kembali ke ranjang.Suara ribut-ribut diluar dan ketukan pintu yang tiba-tiba membuat Ica melompat dari ranjangnya. Dengan enggan ia membuka pintu tanpa tahu apa yang terjadi.“Keluar….sekarang juga saya minta kamu keluar dari sini. Saya tidak mau menerima mahasiswa model kamu! Saya tidak bisa terima!!” Sebuah suara sentakan dari wanita setengah baya di luar pintu kamar sontak membuat Ica terperanjat. Ucapan itu terlontar dari ibu k
Masih memandangi sebuah bingkai foto di atas kasurnya, mata Ica menerawang seolah ingin memasuki dunia di dalam foto itu. Sesekali ia mengusap ujung matanya yang basah sejak ia duduk di ranjangnya. Pensil yang ia pegang sedari tadi tidak menggoreskan kata sedikit pun di lembaran diari mungilnya.Flashback InPrang!!“Huuu…….huwaaaa……!”Suara gelas pecah diikuti erangan seorang gadis mungil membahana di ruang makan.“Udah, Ca! Jangan nangis lagi, sini biar Rey yang beresin kacanya!” Seorang anak remaja berjongkok memunguti pecahan gelas di lantai. Gadis mungil itu memandanginya sambil sesenggukan.“Aduh mas Rey, hati-hati!” Teriak seorang asisten rumah tangga yang tergopoh-gopoh masuk dari arah dapur. Ia segera mengambil pecahan kaca yang dipegang Rey.“Aduh!” Jari manis Rey tiba-tiba tergores.“Aduh, mas, cepet dikasih obat merah!” Wanita baya itu menggiring Rey dan Ica duduk di sofa. Ica memegangi tangan Rey yang masih mengeluarkan darah. Tiba-tiba, Ica memasukan jari Rey itu kedala







