เข้าสู่ระบบHari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun. Dua tahun berlalu.
Siang begitu terik, seolah mentari hendak mengeluarkan pijar api dari tiap sisinya.
Ica baru saja keluar dengan binder dan beberapa buku di tangannya. Sambil menghapus keringat di pelipisnya, ia berjalan menuju kantin yang jaraknya tinggal beberapa meter.
“Caaa, tunggu!” seruan itu memaksanya untuk berhenti sejenak memastikan siapa sosok yang memanggilnya. Kemudian ia kembali bergegas memasuki kantin dan menuju salah satu meja kosong yang baru ditinggalkan sekerumunan mahasiswa.
“Icaaa, elu tuh yah!” Gadis dengan setelan gotik berwarna hitam-hitam itu tergopoh-gopoh mendekati meja Ica dengan wajah kesal dan penuh peluh.
"Apa sih, jeng? Laper, ya! Nih, lap dulu keringatnya!" Ica menyodorkan tisu kering ke wajah sobatnya yang cemberut itu.
“Gua panggilin dari tadi tahu, nengok kek dikit! Dasar, elu mah suka rada-rada, ya!” Sosok yang menurut Ica centil dan cerewet itu hanya melengos dan membanting tasnya ke atas meja.
“Sorry, Gi! Takut penuh mejanya. Tadi aja pas ada yang kosong. Aku pikir kamu pergi sama cowok baru kamu itu, siapa namanya, kulupa?” Ica pura-pura mengingat sesuatu, padahal ia sibuk melihat menu makanan yang akan dipesannya.
“Ya, Ca, masa lo lupa, sih? Leo, Leo.” Anggi nyolot sambil melotot.
“Iya, itu, Leo! Eh, kamu mau pesen apa?” Ica langsung beranjak seolah tak mempedulikan jawaban Anggi.
“Gua baso sama es jeruk!” Teriak Anggi hampir memekakkan telinga orang di sekitar kantin yang langsung memandanginya heran. Namun gadis itu sepertinya cuek tak menghiraukan pandangan orang-orang.
“Gi, aku pikir kamu tadi langsung pergi sama siapa tadi. Tadi juga kamu gak ada di kelas? Kemana hayoo?” Ica kembali ke meja masih disambut wajah memberengut Anggi yang meliriknya senewen.
“Leo, Ca! Namanya Leo! Emang segitu susahnya nama Leo. Aku tadi gak keburu masuk kelas gara-gara nunggu dia jemput.” Sungut gadis itu. Ica tersenyum menyeringai.
“Ya, masa pacar baru telat jemput! Mending jalan sama Boby dong kalau gitu, atau sama si Jito atau Jitak itu?"
Anggi membelalakan matanya makin kesal. “Sebelum Leo itu Ivan, sebelumnya baru sama Bobby. Aahhh, udah ah, males inget-ingetin mantan aja lu mah." Ungkap Anggi lalu membuka jendela ponselnya.
“Jangan sewot gitu, kamunya juga sih, pacar ganti-ganti. Mana aku apal."
Tak berselang lama, seorang pelayan kantin datang membawakan pesanan mereka.
"Nih, baso sama es jeruknya. Udah makan dulu, jangan cari gebetan baru lagi di hp!” Sindir Ica lalu pura-pura tak melihat ekspresi kesal Anggi dan segera melahap makanannya.
“Elu mah gitu! Lagian kapan dong bawa gacoan lu ke muka gue! Gue kan penasaran, nih!” Celoteh Anggi di sela-sela suapannya.
“Gacoan apa? Aku nggak punya gacoan. Kalau maksud kamu orang yang aku taksir, banyak sih, tapi …..!”Ica menghentikan ucapannya ketika melahap sendok terakhir, membuat Anggi makin penasaran.
“Tapi apaa, Ca? Eh, jangan-jangan elu gak suka cowok, ya! Eh, lu gak lesbong, kan! Diih, gua takut!"
"Sst, Gi, sembarangan! Lagi makan juga." Ica menyumpal mulut Anggi dengan tisu disambut tawa nyinyir gadis itu.
"Ya, habis lu udah jadi sobat gue, tapi lu nggak mau terbuka. Atau jangan-jangan elu takut ya gebetan lu itu naksir gua kali,ye!” Sambat Anggi dengan PD-nya.
"Berisik, Gi ah!" Ica segera menyeruput teh botolnya hingga tandas. Bagaimana pun ia tak mau sampai keceplosan menceritakan rahasia terbesarnya selama ini yang telah terbungkus rapi.
“Wah, Ca, bener nih, kamu kayaknya ada masalah sama yang satu ini, atau elu sebenernya pernah disakitin trus trauma gitu, ya!” Anggi masih menebak asal.
“Gi, kayaknya kamu cocok deh jadi penulis, doyannya ngelantur sama ngekhayal." Tukas Ica mesam mesem. Akhir-akhir ini ucapan Anggi seperti mulai menyerempet kehidupan pribadinya.
“Penulis apaan! Penulis roman. Habisnya, masa tiap gue tanyain masalah cowok, pasti elu diem-diem bae, ato malah ngelamun!“ Anggi menyolot kembali. Ica hanya tertawa tipis.
“Lagian lagi makan, lagi minum, kamu ngomongin cowok melulu. Bukannya kamu cepet-cepet mikirin judul skripsi, biar cepat lulus, biar kamu cepet kawin, Nggi! Gak mikirin gonta ganti cowok melulu. Heran aku!" Cecar Ica panjang lebar.
"Kamu ngomongnya kawin-kawin melulu. Kawin itu gak gampang, Ca! Terlalu banyak yang harus dipikirin mateng-mateng." Ucapan Anggi itu tumben ada benarnya membuat Ica terdiam merenung sejenak.
"Ca, tuh kan, lu malah ngelamun!" Anggi mengibaskan tangannya di muka Ica sambil memicingkan matanya curiga.
“Nggak ngelamun banyak sih, cuma dikit!” Ica sengaja mengaku agar Anggi tak lagi memojokkannya. Selama ini ia memang berusaha menghindapi pembicaraan yang mengarah pada masalah pribadi, apalagi yang berkaitan dengan hubungan emosional yang memang membuat Ica tak nyaman hati.
“Tuh kan, bener apa kata gue! Lu kayaknya nyembunyiin sesuatu di hati. Apakah itu, C..I..N..T..A.?” Tebak Anggi sambil memonyongkan mulutnya.
Ica mengendikkan bahunya enggan menjawab. "Yuk, ah! Bayar dulu!" Ica langsung bangkit menuju kasir sambil memegangi perut yang kekenyangan.
"Emang lu mo kemana, Ca?" Anggi mengekor Ica.
"Balik ke kostan."
“Eh, Ca! Ntar sore kita ke Bandung yuk, maen ama nonton. Bosen di sini, kayak kodok di bawah tempurung, kagak bisa kemana-mana. Seneng-seneng dikit, kan boleh Ca? Lagian baru kelaran UAS ini.” Anggi tiba-tiba berubah menjadi seseorang yang siap menjilat siapa saja, terutama Ica yang baru saja membayar makanannya.
“Sorry, Gi! Nggak tau kenapa, aku lagi nggak pengen kemana-mana hari ini. Mungkin besok malem Minggu aku rencana balik ke Bandung. Malem ini kayaknya pengen tiduran, rasanya kok capek banget." Ungkap Ica sambil mengurut-ngurut lehernya yang pegal sejak dari kelas tadi.
“Yah, elu, pura-pura,ya! Bilang aja gak mau traktir!"
"Enggak, Nggi! Lagian ngapain traktir kamu yang bawa cowok. Cowok kamu dong yang harusnya traktir aku!"
"Iya, serius, Ca! Kalau kamu ikut, pasti Leo gak keberatan traktir kita. Masa di Jatinangor mulu,sih! Nggak bosen lu ngungkep di sini mulu berbulan-bulan!"
"Enggak dulu, Nggi! Aslinya badanku ringsek, kayaknya mau bulanan, deh!"
"Ya, elu mah! Ayo dong, lagian pake mobilnya si Leo. Gak cape, tinggal duduk. Hyundai baru, lho!” Rayu Anggi tak menyerah begitu saja.
"Nggi, mending cepetan kamu ke parkiran! Siapa tahu si Leo itu dah nungguin kamu."
Anggi langsung menganga mulutnya."Oh, God! Iya, gua lupa! Tadi kan gua minta dia tungguin gua sampe keluar kelas!" Gadis itu mulai panik dan segera berlari ngiprit.
Ica yang melihat itu hanya tertawa geli dan melambaikan tangannya ke Anggi yang tak lagi menoleh.
"Ca, Ica, tunggu!" Rey berusaha mengejar Ica yang memilih pergi setelah turun dari Banana Boat. "Aku mau ke hotel.""Tunggu bareng, Ca!" panggil Rey lagi, menjajari langkah Ica yang semakin cepat. "Udah sana, kamu temani saja ayah bunda! Aku udah capek!""Ca, jangan seperti ini, dong! Masa gara-gara Cindy, kamu marah gak ada habisnya.""Terserah apa kata kamu. Aku cuma mau ke kamar."Dari arah pantai, sosok Cindy tampak masih melambai-lambaikan tangannya ke arah mereka berdua. Ica makin merasa muak dan langsung berlari meninggalkan Rey yang terus mengekorinya. Setelah mandi dan mengganti pakaiannya, Ica langsung menuju ranjang di mana Rey masih ada di kamar, memperhatikan gerak-geriknya dari sofa. "Kamu gak makan dulu?""Aku gak lapar. Aku capek!""Mau aku beliin makanan atau aku bawain aja makanannya ke kamar?""Gak usah. Udah sana, gak usah peduliin aku!""Jangan seperti ini, dong, Ca! Kita sedang bulan madu dan aku ingin kamu dan aku menikmati semuanya bersama." Ica hanya men
Rey menarik napas dan duduk di samping Ica.“Apa karena itu kamu ngambek sama aku lalu pergi gak bilang-bilang?"Ica hanya memberengut lalu membuang wajahnya lagi."Ca, waktu itu aku cuma sekadar menolong, kok! Pertemuan itu juga gak sengaja. Bukan aku yang mau.”“Aku juga dengar, kamu gendong dia ke klinik dan …” Ica sengaja menghentikan ucapannya, menanti tanggapan pria di sebelahnya.“Ca, jadi kamu tahu! Aku menggendong dia karena kakinya memang terkilir. Tapi jujur, aku gak ada apa-apa sama dia. Begitu sampai di klinik, aku langsung pulang,” terang Rey, sudah menduga arah pembicaraan Ica itu, dan ia tak mau menutupinya.“Ooh!” tanggapan Ica singkat sambil mengedikkan bahunya.“Aku juga baru tahu kalau dia ada di sini waktu aku ke swalayan. Aku pikir itu hanya kebetulan, Ca! Dan kamu tahu sendiri, sikapku sama dia bagaimana. Aku gak mungkin macam-macam,” terang Rey, mencoba meyakinkan Ica.“Malam itu, kamu juga mandi gegara kena kotoran. Kotoran apa?”“Ya ampun, beneran, itu karena
Rey yang pagi itu hendak bersiap melapor ke kantor polisi terkejut saat mendapat telepon dari Ica.“Ica, kamu di mana?” Pekik Rey di ujung telepon.“Rey, aku kecopetan. Tolong!” Suara panik Ica membuat Rey ikut panik.“Apa? Tunggu aku! Kamu di mana sekarang?”Di Hotel Bintang, Rey tampak berlari keluar kamar menuju kamar orang tuanya.“Ayah, Bunda, Ica ketemu!”Ketiganya pun langsung menuju hotel tempat Ica berada yang ternyata letaknya kurang dari dua km dari hotel asal mereka.“Ica! Kamu gak kenapa-kenapa, kan?”Sherly langsung memeluk menantunya itu saat mereka bertemu di lobi hotel tempat Ica menginap. Yoga juga tampak memeriksa sekitar tubuh Ica yang lecet."Ya Allah, Ica, kamu kok bisa begini!" Yoga langsung mengajak Ica duduk di kursi rotan. Beberapa orang yang tadi sempat mengerubungi mulai bubar satu per satu. Rey menemui pihak hotel untuk mengumpulkan informasi dan memberikan laporan saat polisi datang.“Kamu gak apa-apa, kan, Ca!”tanya Rey yang baru menghampirinya setelah po
“Siapa?”“Maaf, bu! Room service!”Ica tak serta-merta membuka pintu, tapi mengaitkan kunci rantai.Setelah memastikan, ia baru membuka pintu dan mengambil pesanan makan malamnya.“Terima kasih. Ini tipnya.”Ica segera menutup dan mengunci pintu kamar.Malam ini ia ingin menjauh sejenak dari rutinitas barunya sebagai istri Rey dan menikmati malam dengan kesendiriannya yang terasa lain dari biasanya.“Haaah!” Napas panjangnya tanpa sadar keluar dari mulutnya.Biasanya saat di rumah, ia menanti waktu sendiri seperti itu dengan menonton drama sambil makan camilan dengan bebas. Namun, saat ini hati dan pikirannya seolah tak tenang.“Ayah bunda pasti khawatir,”gumamnya lalu mengubah posisi rebahan menjadi duduk.“Diiih, tapi aku masih gak terima kalau Rey beneran bohong. Lagian, ngapain si Cindy itu bisa ada di sini juga? Cis, bikin rusak suasana aja!” gerutunya lalu kembali merebahkan tubuhnya di sofa dan mengganti channel dramanya.“Duuh, sebel, sebel, sebel. Nyebelin!” teriaknya lalu me
Dari depan pintu minimarket, Cindy sengaja memanggil-manggil nama Rey dengan suara keras. Beberapa orang tampak memandangi perempuan itu dan juga Rey yang tak jauh dari depan minimarket. "Rey, tunggu! Tolong aku!" Suara lantang Cindy itu terang saja membuat beberapa orang memandangi Rey yang disangka tidak bertanggung jawab.Rey menduga itu hanya akal-akalan Cindy, tapi ia pun terpaksa membawa Cindy ke klinik terdekat. Tanpa ia sadari Cindy mengambil foto candid.Rey buru-buru pergi, takut gadis itu menggunakan trik lain lagi.Sesampainya di kamar ia langsung membuka semua pakaiannya yang tadi sempat bersentuhan dengan Cindy dan mengguyur tubuhnya di bawah shower. “Rey, kok kamu mandi malam-malam? Badan kamu sampe dingin begini?” tanya Mayang yang terbangun saat seseorang tiba-tiba berbaring di sampingnya. “Tadi kena kotoran di minimarket, jadi aku mandi lagi. Peluk dong sayang, aku kedinginan,” rengek Rey saat Ica memegangi tangan dan wajahnya.Tanpa banyak bicara, perempuan itu l
Sherly tersenyum meringis melihat reaksi spontan Rey itu. Ia mengira Rey pasti tidak akan setuju dan berpikir itu ide konyol.“Bunda cuma merasa, Ica itu sudah dekat sama kita. Lagipula, Ica baru ditinggal papanya. Kalau Bunda lihat, wajah Ica tuh kayak yang masih sedih gitu.” Ungkap Sherly dengan wajah memelas. Berharap anak lelakinya itu tak marah.“Bunda serius?” tanya Rey, masih tak percaya dengan niatan bundanya itu. “Serius lha, Rey! Bunda tuh udah sayang banget sama Ica,” terang Sherly, mencoba meyakinkan putranya lagi.“Yah, ayah sendiri gimana? Sudah setuju dengan rencana Bunda ini?” Rey berdiri tak tenang, menahan rasa kaget dan emosinya.“Ayah sih setuju jika itu memang positif. Win-win solution juga. Kita bisa membantu keluarga mereka dengan merawat Ica, dan bunda akan ada teman di rumah.”“Ayah pikirannya ke bisnis aja, pakai win-win solution segala.” Celetuk Sherly sambil menepuk bahu suaminya itu pelan.“Ya, memang kenyataannya begitu, kan! Jadi, gimana menurut kamu, Re
“Ca, bener nih, gak mau ikut ke kota?” Seru Anggi kencang dari pintu villa.Ica yang sejak tadi memperhatikan laut yang berarak sempat terhenyak. Tapi kemudian ia melambaikan tangannya.“Iya, aku agak papa. Aku lagi enjoy nieh! Titip minuman kesukaanku aja ya!” Teriaknya hampir tak terdengar, diliha
Flasback InPrang!! “Huuu…….huwaaaa……!” Suara gelas pecah diikuti erangan seorang gadis mungil membahana di ruang makan. “Udah, Ca! Jangan nangis lagi, sini biar Rey yang beresin kacanya!” Seorang anak remaja berjongkok memunguti pecahan gelas di lantai. Gadis mungil itu memandanginya sambil ses
Ica bersujud sambil memejamkan matanya yang masih sangat mengantuk lepas shalat shubuh. “Ca!”Rey menyentuh pundaknya pelan. Ica bangkit lalu mencium tangan Rey. “Sekalian dong, pipiku dan ini..!”Rey menunjuk bibirnya. Ica melotot tak percaya lalu mendorong cowok itu. “Dasar genit, nggak sopan,
Sejak pernikahan itu terjadi, Ica mencoba meyakinkan diri, bahwa semua itu demi kebaikan dirinya. Dan sebersit perasaan sukanya pada sosok Rey yang dulu pernah ia kesampingkan, menjadi sebuah kekuatan baginya untuk menerima kenyataan di depannya.Sepeninggal Rey, ia kembali harus menjalani hari-hari







