Share

Bab 6. Hati Yang Galau

Penulis: DNOV
last update Terakhir Diperbarui: 2025-02-07 12:18:44

Flasback In

Prang!!

“Huuu…….huwaaaa……!”

Suara gelas pecah diikuti erangan seorang gadis mungil membahana di ruang makan.

“Udah, Ca! Jangan nangis lagi, sini biar Rey yang beresin kacanya!” Seorang anak remaja berjongkok memunguti pecahan gelas di lantai. Gadis  mungil itu memandanginya sambil sesenggukan.

“Aduh mas Rey, hati-hati!” Teriak seorang asisten rumah tangga yang tergopoh-gopoh masuk dari arah dapur. Ia segera mengambil pecahan kaca yang dipegang Rey.

“Aduh!” Jari manis Rey tiba-tiba tergores.

“Aduh, mas, cepet dikasih obat merah!” Wanita baya itu menggiring Rey dan Ica duduk di sofa. Ica memegangi tangan Rey yang masih mengeluarkan darah. Tiba-tiba, Ica memasukan jari Rey itu kedalam mulutnya. Rey memandanginya heran.

“Kata Mama, biar cepet cembuh!” Ucap polos gadis itu lalu kembali menghisap jari Rey yang hanya memperhatikannya sambil meringis menahan sakit.

“Kita maen orang-orangan aja ya abis ini??” Ajak Ica saat menunggu Rey yang sedang diobati lukanya. Rey mengangguk mengiyakan sambil memandangi Ica dengan wajah manisnya serius melihat tangan Rey yang diobati.

Tak lama, muncul remaja lain, Faisal, kakak Ica, yang langsung menarik lengan Ica kasar.“Ayo pulang, Ca!” 

Gadis itu menolak. “Nggak mau, Ica mau maen sama Rey!” Teriaknya memberontak.

“Biarin aja Cal, Ica kan masih mau maen!” Rey menghalangi sambil berusaha melepaskan cengkeraman kuat Faisal.

“Tapi ini kan udah sore, nanti kamu nggak berani pulang sendiri. Ayo!” Faisal kembali menarik kasar Ica yang mulai menangis.

“Nanti aku aja yang anterin Ica!” Rey membela, tapi Faisal tak menggubrisnya.

“Ayo Ca, nanti Mama marah!” Faisal menarik tangan Ica yang kala itu sudah menjadi-jadi tangisnya.

Saat itu Rey hanya bisa memandang iba ke arah Ica yang meninggalkan rumahnya.

*

Di sebuah ruang tamu dengan furnitur jati dengan lantai keramik hijau, dua insan duduk berhadapan dengan wanita setengah baya yang menatap mereka sinis.

Tanpa banyak kata, Rey menyodorkan dua buah buku berwarna hijau dan merah, serta beberapa lembar foto pernikahan di atas meja. Ica hanya merunduk tanpa berani menatap ke arah sosok di depannya.

"Kami menikah saat Ica baru lulus SMA. Saat itu saya juga sedang persiapan S2 di German. Setelah menikah, kami langsung berpisah. Ica melanjutkan kuliah di Unpad dan saya  pergi ke German. Dan kemarin itu, kami baru bertemu lagi." Rey mencoba menjelaskan singkat.

Bu Rita tampak membuka lembar demi lembar foto pernikahan Ica dan Rey di meja. Sesekali matanya menilik wajah-wajah di hadapannya, seolah memastikan bahwa wajah merekalah yang terpampang di foto. Tak lupa ia juga mengambil salah satu buku nikah dan melihat foto dan tulisan yang tertera di dalamnya.

"Kenapa di KTP Ica tidak tercantum keterangan 'kawin'?" Tanya bu Rita ketus.

Rey tersenyum tipis sambil menoleh sejenak ke arah Ica yang masih menekuk wajahnya.

"Karena waktu itu, seminggu setelah menikah, saya langsung pergi ke German. Kami belum sempat menyelesaikan urusan administrasi lainnya. Saat itu data yang kami pakai juga masih data yang lama. Begitu juga saat saya di German. Semoga ibu bisa memakluminya."

Bu Rita memandangi sekali lagi dua sejoli di hadapannya lalu mengangguk-angguk paham. Saat itu juga disaksikan beberapa orang lain yang tak lain adalah anggota keluarga bu Rita dan beberapa mahasiswa yang memang selalu berseliweran di muka rumah dan kost-kostan.

Sekembalinya ke kamar, Ica tak bisa lagi menahan tangisnya dan segera memeluk Rey sembari sesenggukan menumpahkan isi hatinya yang selama ini ia tahan.

“It’s Ok, babe!” Rey mengelus-elus punggung Ica. Kehidupan baru mereka ternyata baru saja dimulai.

*

Malam itu begitu kelam dan dingin setelah hujan seharian. Ica menatap langit-langit kamar kostnya yang putih. Untuk sementara, ia bisa kembali tenang tinggal di kost-an ini setelah Rey memberikan penjelasan rinci kepada bu Rita. Rey sendiri harus kembali ke Bandung selepas mengantarnya, karena masih ada urusan dan dokumen yang harus ia selesaikan.

Ica menolak untuk menginap di Bandung, karena kejadian di resto. Ia masih sakit hati memikirkan sikap dan kata-kata Faisal. Kepalanya terasa pusing karena tadi sempat kehujanan di pelataran parkir.

Ica membaca-baca pesan yang masuk, yang tadi belum sempat ia baca. 

[Ca, besok temani aku ke villa Leo, ya! Kita hanya nginap semalam doang! Gua jemput jam 9, ya!]

Ica tampak berpikir sebelum membalas pesan dari Anggi itu. Bagaimana kalau Rey ada di kostan? pikirnya. 

Hampir pukul 11 malam, dan Rey belum juga kembali. Mungkin cowok itu tidak akan kembali.

Matanya sudah sembab saat berbaring. Badannya sesekali menggigil karena suasana dingin dari luar kamar yang masih hujan. Ditariknya selimut menutupi bahu sambil menatap gitar yang bersandar di sisi meja belajar. Terbayang sosok Rey yang kemarin mendentingkan lagu. Tak lama kesadarannya pun perlahan hilang.

Rey masuk dengan kunci ganda kamar kost yang dibawanya. Diliriknya jam sudah menunjukkan pukul 2 pagi. Kamar kost yang diterangi lampu baca itu tampak senyap. Setelah membersihkan diri, dihampirinya tubuh Ica di ranjang yang tampak pulas. Perlahan, diusapnya pelan rambut gadis itu. Namun tiba-tiba gadis itu terbangun.

“Rey!" Pekiknya dengan nafasnya tak teratur.

“Ca, ada apa?” Rey meraba pelipis gadis itu yang terasa hangat.

“Rey!” Gumamnya lirih sambil merenggut baju Rey erat.

“Kamu mimpi buruk, ya!” Rey menarik gadis itu ke dalam pelukannya.

“Rey!” Gadis itu terus memanggil namanya.

“Badan kamu anget, Ca! Kamu demam. Aku kompres, ya!” Tanyanya cemas lalu membaringkan tubuh lemah itu. Ica menahan Rey sambil menggeleng. Untuk beberapa saat ia hanya menatap Rey sayu, dan kembali memejamkan matanya.

Rey tersadar, gadis itu masih shock sejak kejadian kemarin dan hanya butuh ditemani. Setelah mengambil handuk untuk mengompres, Rey berbaring di sisi Ica hingga ia pun ikut terlelap disampingnya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • AKU ADALAH MILIK KAWAN KAKAK   Bab 25. Merajuk Berakhir Sebuah Kompensasi

    "Ayah, Bunda, kami pergi dulu, ya! Maaf, gak bisa nginep dulu. Rey udah ada janji sama orang.""Ya, sudah gak pa pa. Kenapa gak ajak Ica? Ica kasihan kan, ditinggal sendirian di rumah," protes Sherly saat mengantar anak dan menantunya itu ke depan rumah. "Enggak, bun! Ica gak pa pa, kok! Lagian sampe rumah paling Ica masuk kamar,"terang Ica."Atau, Ica nginep aja di sini, gimana?" tawar Sherly.Rey langsung berbalik,"Bun, please deh! Jangan ganggu honeymoon aku sama Ica!" Rey menarik bahu Ica mendekat ke arahnya. Ica hanya terkekeh. "Ciyeee, yang masih honeymoon, gak mau diganggu segala. Awas, jangan kelewatan!" Ucapan Sherly itu sambil mengedipkan sebelah mata menggoda. Ica menahan geli melihat ibu dan anak di hadapannya itu saling bercanda. Pemandangan yang untuk sesaat membuatnya bahagia. Namun, setelah berada di mobil, Ica kembali duduk terdiam. Malam itu, Rey sengaja meminjam mobil ayahnya untuk mengantar Ica pulang dan janji menemui kawannya. "Sayang, kamu kenapa? Perasaan,

  • AKU ADALAH MILIK KAWAN KAKAK   Bab 24. Rasa Penasaran Yang Mengusik

    Setelah Dzuhur, Ica tampak merapikan make-upnya dan Rey baru keluar dari ruang ganti. "Nanti kita mampir ke kios buah dulu, ya!" pinta Ica. "Terserah. Kalau aku bilang enggak, nanti kamu ngambek!" jawab Rey seperti enggan. Ica memperhatikan sikap Rey yang terlihat aneh dari pantulan cermin. Padahal biasanya cowok itu akan merangkul atau segera menempel padanya. Apa dia masih kelelahan hanya karena menjemur pakaian? pikirnya. "Ngapain aku ngambek. Cuma gak enak aja, kalau bunda ke sini segala dibawa, masa kita ke sana gak bawa apa-apa," terang Ica lalu segera mengambil tas slempangnya.Rey tak menjawab dan hanya melengos menuju pintu, "Ayo! Aku panasin mobil dulu, ya!""Hah, mobil? Mobil yang mana?" Ica kaget. Baik Ica maupun Rey saling berpandangan. "Eh, iya! Kita kan belum punya mobil," lontar Rey sambil menggaruk-garuk kepalanya. Mobil yang biasa mereka pakai sebelumnya adalah mobil ayah bundanya, yang kemarin setelah syukuran, mobil itu dibawa kembali sang ayah."Kan, kemarin

  • AKU ADALAH MILIK KAWAN KAKAK   Bab 23. Pagi Yang Sibuk

    "Hari ini, kita mau ke mana?" tanya Rey tiba-tiba setelah menghabiskan sarapannya. Ica menarik napasnya sambil menggelengkan kepala."Aku mau mencuci baju. Pakaian kotor udah numpuk banget.""Eem, gimana kalau kita ambil ART? Aku gak mau kamu kecapean hanya gara-gara urusan rumah.""Rey, kita kan cuma berdua di rumah ini. Belum butuh ART. Aku sih berharap bisa belajar melakoni jadi istri kamu apa adanya. Lagian sekarang aku kan sedang libur," terang Ica lalu meneguk gelas susunya.Rey hanya mengangguk-angguk kepalanya saat Ica mulai membereskan piring dan gelas kotor.Benar juga kata Ica. Dia dan Ica masih baru bersatu setelah menikah. Pekerjaan di rumah itu belum terlalu banyak dan repot jika dilakukan berdua, sehingga belum butuh ART. Lagipula, mereka masih harus menikmati quality time berdua sebagai suami istri. Dia dan Ica masih harus membiasakan diri menjadi pasangan suami istri di rumah mereka yang baru.Hanya saja, tingkah Ica pagi ini agak aneh, pikir Rey.Derrrt. Ponsel Rey be

  • AKU ADALAH MILIK KAWAN KAKAK   Bab 22. Salah Paham

    Ica tengah membereskan sisa makan malam lalu hendak mencuci piring saat Rey tiba-tiba merangkul dan menahan tangannya. "Udah, kamu duluan ke atas. Biar aku yang bersih-bersih!" Rey mencuci tangan Ica, lalu menggeser tubuh Ica ke sampingnya. Ica hanya melongo heran. "Ya, udah, aku mau shalat Isya duluan, ya! Pintu-pintu sudah dikunci, kan?""Iya. Tenang aja, setelah makan malam urusan di bawah serahkan sama aku. Kamu udah, sana istirahat!Tunggu aku, ya!"Deg. Ica seketika tersentil mendengar Rey mengatakan itu. Apalagi urusan paket siang tadi lumayan membuatnya terkaget-kaget. Tak mau menduga-duga, Ica buru-buru naik ke atas sambil sesekali menengok ke arah Rey yang tengah serius mencuci piring. "Rey, siapa yang mengirimkan paket barang seperti ini?" pekik Ica siang tadi."Itu… itu hadiah prank dari temanku di Jerman. Mereka tahu aku sudah menikah, dan tahu aku pulang pasti menemui kamu. Jadi, ya ... begitulah! Mereka hanya bercanda, Ca!""Bercanda tapi kok begini?""Ca, mereka cum

  • AKU ADALAH MILIK KAWAN KAKAK   Bab 21. Awal Mula Rasa Iri

    “Gua gak percaya, dia bakal lebih sukses dari gua. Padahal usaha gua udah mulai lebih dulu dari dia.”Faisal memukul tangannya ke dinding kamarnya. Asap tebal mengepul dari mulutnya. Beberapa hari sejak ia kembali dari Batam, emosinya mencuat. Ia tak menyangka Rey akan sesukses sekarang.Memang tak banyak yang tahu bahwa Rey sudah mendirikan perusahaan sejak kuliah kecuali kedua orang tuanya. Rey dan beberapa kawan kampusnya mulai membangun usaha di bidang IT. Perusahaan bernama WebIndo adalah perusahaan yang bergerak di bidang Website Development, Cloud Hosting Provider dan Digital Marketing. Sebagai pencetus dan penggeraknya, Rey dipercaya kawan-kawan seperjuangannya untuk menjadi CEO.Saat Rey melanjutkan studinya ke Jerman, Rey juga sengaja belajar mengembangkan bisnisnya di luar negeri dengan mencari rekanan dan peluang baru. Tak sampai satu tahun, ia sudah berhasil mendapatkan investor sehingga perusahaannya kini berkembang pesat. Ia juga sedikit demi sedikit membangun kantor kh

  • AKU ADALAH MILIK KAWAN KAKAK   Bab 20. Undangan Pengajian

    “Assalamu’alaikum, dek!" Ica segera menoleh ke asal suara. Baru saja ia akan membuka pintu, seorang ibu menghampirinya dari arah jalan. “Wa’alaikumsalam. Ya bu!”“Maaf, mengganggu sebentar. Perkenalkan, saya Bu Ina. Saya dari DKM masjid di belakang rumah mbanya. Saya mau menyerahkan undangan pengajian rutin. Untuk undangan kemarin, kami ucapkan terima kasih ya, dek!”“Oh, iya, Bu, maaf, silakan masuk dulu!”“Ah, tidak usah, dek! Nanti malam Jumat ditunggu kedatangannya, ya! Apalagi adek orang baru, nanti bisa kenal dengan ibu-ibu pengajian di kompleks ini.”“Baik, Bu! Terima kasih atas undangannya.”“Saya pamit dulu ya, dek! Assalamu’alaikum.”“Wa’alaikumsalam.”Ica pun akhirnya masuk dan menutup pintu sambil memegangi paket dan membuka lembaran undangan di tangannya.“Siapa sayang!” tanya Rey yang baru saja turun dari lantai atas.“Itu ibu-ibu pengajian masjid sini. Katanya nanti malam Jumat ada pengajian.” Ica duduk di sofa sambil membaca isi undangan, disusul Rey yang ikut duduk

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status