Compartilhar

Bab 6. Melepas Rindu

Autor: DNOV
last update Última atualização: 2025-02-07 12:18:44

Malam itu, Ica menuju kamar kostnya tanpa membuat kegaduhan. Sebelumnya ia juga mengecek garasi, kalau-kalau ada mobil Rey di sana. Jujur saja, saat ini sebenarnya ia masih belum siap dan canggung jika bertemu Rey. Berbagai dugaan muncul dalam benaknya, bahkan hal terburuk sekalipun.

Gadis itu lega ketika mendapati kamarnya terlihat masih gelap, menandakan tak ada seorang pun di dalam. Setelah membuka pintu, ia menarik nafasnya ketika masuk, menggantungkan jaketnya di belakang pintu kemudian melangkah ke arah toilet.

Ia membiarkan lampu luar yang menerangi kamarnya yang senyap. Setelah keluar dari toilet, ia menatap ke setiap sudut kamarnya. Tidak ada yang berubah. Namun, matanya tertuju pada sepatu yang tergeletak di pojokan kamar.

Penasaran, ia hampiri sepatu yang ia kenali betul sebagai sepatu Rey. Apa mungkin dia meninggalkannya di sini, pikirnya. Lalu ia pun berdiri sambil berpikir.

“Darimana saja?”

Deg. Ica terbelalak tapi tak berani membalikkan badannya. Suara yang begitu dikenalnya itu terdengar nyata. Bagaimana mungkin, pikirnya. Perasaannya berkecamuk antara ragu dan takut.

“Ca!” Sahutan keras itu membuat bahu Ica bergidik dan terpaku di tempat. Rupanya sosok itu sudah berada di kamarnya sejak ia datang tanpa ia sadari. Pikirannya kini dipenuhi dengan perasaan bersalah.

“Rey…aku...” Suara Ica tercekat di tenggorokan. Dalam kegelapan dan kesenyapan seperti itu, ia tak berani membayangkan apa yang akan Rey lakukan terhadapnya, setelah kemarin ia pergi tanpa pamit.

“Annisa!” Suara itu kian dekat di belakangnya, tapi nadanya terdengar lembut, dan panggilan itu, tak biasa, pikir Ica. Ia memejamkan matanya rapat-rapat tak berani berharap yang muluk-muluk. Rey pasti akan memarahinya. Rey pasti akan menghujaninya dengan pertanyaan. Rey pasti akan...

“Aku…aku mencari kamu! Kupikir…” Tubuh Ica bergetar ketika kedua bahunya disentuh oleh tangan yang begitu besar dan hangat.

“Rey…aku…aku salah…Maafkan aku!” Suara Ica mulai parau dan hampir menangis.

“Ssstt….” Desahan itu begitu lekat di telingannya. Ica menjadi sesak ketika tiba-tiba dirasakannya tubuhnya didekap dari belakang.

“Rey…maafin aku!"Hanya ucapan itu yang terus menerus keluar dari mulutnya, sementara ia tidak mampu lagi menahan air matanya. Pelukan itu makin erat dirasakan, dan akhirnya Ica pasrah. Bahkan tatkala Rey menciumi rambut dan lehernya melepaskan rasa rindunya.

“Sssttt…sudahlah!” Suara Rey begitu menenangkan hatinya yang sedari tadi sempat kalut. Sambil tetap sesenggukan, ia memberanikan membalikkan badan dan menatap wajah Rey.

Rey mengusap wajah istrinya yang basah sambil tersenyum.

“Aku…butuh waktu menyendiri. Jadi aku ikut ke villa temanku di Jakarta. Maaf, tidak memberitahumu. Aku…” Ica menarik-narik lengan kaos Rey.

“Hey...hey...sudah, tidak apa-apa!” Ica terharu mengetahui Rey ternyata tidak marah padanya dan langsung memeluk leher Rey seerat-eratnya.

“Sayang, jangan terlalu kenceng, dong! Aku bisa tercekik!” Sahut Rey setengah bercanda sambil membalas pelukan Ica sama eratnya. Dalam hati, ia lega istrinya itu telah kembali dengan selamat.

Biasanya mereka akan langsung tertidur disaat keduanya lelah. Namun malam itu situasi terasa berbeda. Keduanya tampak gelisah satu sama lain. Hingga akhirnya mereka berbaring sambil berhadapan.

“Ca!”

“Hmm!”

Rey memainkan anak-anak rambut Ica yang menutup dahinya. Ica memandangi Rey lekat, menelusur tiap lekuk di wajah lelaki itu. Sudah lama sekali ia tidak menemukan wajah itu sejak kepergiannya dua tahun lalu. Malam ini rasanya masih seperti mimpi.

“Apa kamu ingat perkataanku?”

Kening Ica berkerut. Rey hanya tersenyum. Ia tahu gadis itu mudah lupa meski dengan hal-hal kecil. Apalagi perkataannya yang ia maksud, ia ucapkan waktu gadis itu menangis di bandara saat mengantarnya pergi.

“Perkataan yang mana?"

“Waktu di bandara, sebelum aku naik pesawat?”

Ica makin bingung. Ia pun menggeleng lalu merubah posisinya hingga setengah duduk. Rey mengikutinya lalu meraih salah satu tangan Ica dan mengelusnya pelan.

“Waktu itu, aku bilang, setelah aku kembali, kita bisa bersama lagi. Kamu ingat?”

“Oh, itu aku ingat. Memangnya kenapa? Sekarang kan kita udah bersama.” Ujarnya polos membuat Rey tertawa.

“Maksudku, ayo kita tinggal bersama layaknya suami istri. Bukan di kosan seperti ini.”

Ica tercenung seketika. Apa maksud Rey layaknya suami istri? Apa Rey mengajaknya pindah?

“Apa aku harus pindah dari sini?”

“Tentu saja, sayang! Kita harus pindah dari sini. Kamu gak pantas tinggal di kosan sempit seperti ini. Lagipula, aku….ee…kita tidak bisa…” Rey menggantung kata-katanya ragu dengan wajah merona lalu salah tingkah.

“Kita tidak bisa apa?” Rey terpaku mendengar Ica bertanya dengan polosnya.

Ya, Tuhan! Ternyata Ica masih sangat polos seperti dulu. Karena gemas dan sedari tadi susah payah ia menahan gejolak dalam dirinya, Rey langsung menekan bibir gadis di hadapannya beberapa saat. Ica hanya mematung dan mengedipkan matanya merasakan bibir hangat Rey menyentuh bibirnya. Rey lalu menjauh sesaat.

“Kita tidak bisa bebas melakukan hal ini.”

Belum sempat Ica menjawab, lelaki itu sudah menahan tubuhnya dan kembali melekatkan bibirnya lagi. Kali ini Rey melumat bibirnya lembut. Sesekali ia menyapu dan menghisap bibir Ica yang hanya terdiam. Aktifitas mereka berlanjut hingga keduanya saling merengkuh erat. Meski tanpa kata-kata, Ica paham jika lelaki yang telah menjadi suaminya sejak dua tahun lalu itu pasti sudah menahan hasratnya sejak lama.

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • AKU ADALAH MILIK KAWAN KAKAK   Bab 7. Gara-gara Dipanggil Sayang

    Ica tak mengelak saat lelaki itu mulai menyentuh area-area sensitif di tubuhnya satu per satu.Setelah ciuman panas yang membuat nafas mereka terengah, Rey tanpa segan menarik kaosnya dan kaos Ica. Keduanya saling memandangi tubuh di hadapannya. Lalu sentuhan demi sentuhan Rey lewat bibir basahnya menari di tiap senti kulit Ica, membuat gadis itu seolah kehilangan kekuatannya, membiarkan Rey menjelajahi tubuhnya sekali lagi, dengan erangan yang tak tertahankan lagi dari mulutnya.Untuk sesaat, Rey berhenti, lalu berbisik lembut.“Aku takut, teriakanmu membangunkan kamar sebelah dan ibu kos.” Ica pun langsung menutup mulutnya disertai Rey yang tersenyum geli. Apalagi gadis itu akan mengerjapkan mata jika gugup.“Padahal aku senang, mendengar desahanmu tadi.” Lanjut Rey membuat wajah Ica langsung merona.“Kamu tidak keberatan kan, kalau aku memasukimu?”Ica termangu sejenak. Ia ingat, waktu itu malam sebelum kepergian Rey, lelaki itu untuk pertama kali mengambil kesuciannya dengan menin

  • AKU ADALAH MILIK KAWAN KAKAK   Bab 6. Melepas Rindu

    Malam itu, Ica menuju kamar kostnya tanpa membuat kegaduhan. Sebelumnya ia juga mengecek garasi, kalau-kalau ada mobil Rey di sana. Jujur saja, saat ini sebenarnya ia masih belum siap dan canggung jika bertemu Rey. Berbagai dugaan muncul dalam benaknya, bahkan hal terburuk sekalipun.Gadis itu lega ketika mendapati kamarnya terlihat masih gelap, menandakan tak ada seorang pun di dalam. Setelah membuka pintu, ia menarik nafasnya ketika masuk, menggantungkan jaketnya di belakang pintu kemudian melangkah ke arah toilet.Ia membiarkan lampu luar yang menerangi kamarnya yang senyap. Setelah keluar dari toilet, ia menatap ke setiap sudut kamarnya. Tidak ada yang berubah. Namun, matanya tertuju pada sepatu yang tergeletak di pojokan kamar.Penasaran, ia hampiri sepatu yang ia kenali betul sebagai sepatu Rey. Apa mungkin dia meninggalkannya di sini, pikirnya. Lalu ia pun berdiri sambil berpikir.“Darimana saja?”Deg. Ica terbelalak tapi tak berani membalikkan badannya. Suara yang begitu diken

  • AKU ADALAH MILIK KAWAN KAKAK   Bab 5. Menyendiri

    Malam itu begitu kelam dan dingin setelah hujan seharian. Ica menatap langit-langit kamar kostnya yang putih. Untuk sementara, ia bisa kembali tenang tinggal di kost-an ini setelah Rey memberikan penjelasan rinci kepada bu Rita. Rey sendiri harus kembali ke Bandung selepas mengantarnya, karena masih ada dokumen yang harus ia selesaikan.Ica menolak untuk menginap di Bandung, karena kejadian sore tadi di resto. Kepalanya terasa pusing, mungkin karena tadi sempat kehujanan di pelataran parkir dan juga sakit hati memikirkan kata-kata Faisal kakaknya. Hampir pukul 11 malam, dan Rey belum juga kembali.'Rey mungkin tidak kemari' pikirnya.Matanya yang sudah sembab kembali basah. Badannya tiba-tiba menggigil, ditariknya selimut, matanya terpaku pada gitar yang tergeletak di karpet. Terbayang sosok Rey yang sering mendentingkan lagu, meninabobokannya hari-hari kemarin. Hingga kesadarannya pun perlahan hilang.Rey masuk dengan kunci ganda yang dibawanya. Diliriknya jam sudah menun

  • AKU ADALAH MILIK KAWAN KAKAK   Bab 4. Mendadak Lamaran

    “Ca...Ica...tunggu!” Rupanya Rey segera menyusul Ica hingga ke pelataran parkir resto yang saat itu mulai dilanda gerimis.“Ca!” Tangan Rey meraih lengan Ica. Gadis itu menghentikan langkahnya meski tak mau mengangkat wajahnya yang memanas. Rey mengerti hal itu dan hanya membukakan pintu mobil."Tunggu aku di mobil, ya!"Tanpa basa-basi, Ica hanya mengangguk menuruti kata-kata Rey dan masuk ke dalam mobil. Dilihatnya Rey meninggalkan dirinya dan masuk kembali ke dalam resto.Mata Ica kosong menatap jalanan di hadapannya. Pikirannya menerawang kembali pada peristiwa 4 tahun yang lalu.*Papa sudah tak bisa bekerja lagi. Kesehatannya tak memungkinkan akibat serangan stroke yang dideritanya. Mama yang mengelola salon kecil, hanya bisa membiayai kebutuhan sehari-hari dan kuliah kakaknya Faisal yang kala itu hampir lulus.“Mama nggak tau Ca, kamu bisa meneruskan sekolah sampai ke perguruan tinggi atau enggak? Mungkin, kalau Ical berhasil dapat pekerjaan yang bagus, dia bisa membantu kamu

  • AKU ADALAH MILIK KAWAN KAKAK   Bab 3. Terciduk

    Ica bersujud sambil memejamkan matanya yang masih sangat mengantuk lepas shalat shubuh.“Ca!”Rey menyentuh pundaknya pelan. Ica bangkit lalu mencium tangan Rey.“Sekalian dong, pipiku dan ini..!”Rey menunjuk bibirnya. Ica melotot tak percaya lalu mendorong cowok itu. “Dasar genit, nggak sopan, ini kan habis shalat. Gara-gara kamu juga, aku nggak bisa tidur!” sungut Ica sambil membenahi mukenanya. Rey hanya tersenyum mendengar Ica yang bersungut-sungut sejak bangun tidur tadi. Ia bergegas masuk ke kamar mandi tanpa mempedulikan Ica yang merebahkan dirinya kembali ke ranjang.Suara ribut-ribut diluar dan ketukan pintu yang tiba-tiba membuat Ica melompat dari ranjangnya. Dengan enggan ia membuka pintu tanpa tahu apa yang terjadi.“Keluar….sekarang juga saya minta kamu keluar dari sini. Saya tidak mau menerima mahasiswa model kamu! Saya tidak bisa terima!!” Sebuah suara sentakan dari wanita setengah baya di luar pintu kamar sontak membuat Ica terperanjat. Ucapan itu terlontar dari ibu k

  • AKU ADALAH MILIK KAWAN KAKAK   Bab 2. Ruang Rindu

    Masih memandangi sebuah bingkai foto di atas kasurnya, mata Ica menerawang seolah ingin memasuki dunia di dalam foto itu. Sesekali ia mengusap ujung matanya yang basah sejak ia duduk di ranjangnya. Pensil yang ia pegang sedari tadi tidak menggoreskan kata sedikit pun di lembaran diari mungilnya.Flashback InPrang!!“Huuu…….huwaaaa……!”Suara gelas pecah diikuti erangan seorang gadis mungil membahana di ruang makan.“Udah, Ca! Jangan nangis lagi, sini biar Rey yang beresin kacanya!” Seorang anak remaja berjongkok memunguti pecahan gelas di lantai. Gadis mungil itu memandanginya sambil sesenggukan.“Aduh mas Rey, hati-hati!” Teriak seorang asisten rumah tangga yang tergopoh-gopoh masuk dari arah dapur. Ia segera mengambil pecahan kaca yang dipegang Rey.“Aduh!” Jari manis Rey tiba-tiba tergores.“Aduh, mas, cepet dikasih obat merah!” Wanita baya itu menggiring Rey dan Ica duduk di sofa. Ica memegangi tangan Rey yang masih mengeluarkan darah. Tiba-tiba, Ica memasukan jari Rey itu kedala

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status