เข้าสู่ระบบFlasback In
Prang!!
“Huuu…….huwaaaa……!” Suara gelas pecah diikuti erangan seorang gadis mungil membahana di ruang makan. “Udah, Ca! Jangan nangis lagi, sini biar Rey yang beresin kacanya!” Seorang anak remaja berjongkok memunguti pecahan gelas di lantai. Gadis mungil itu memandanginya sambil sesenggukan. “Aduh mas Rey, hati-hati!” Teriak seorang asisten rumah tangga yang tergopoh-gopoh masuk dari arah dapur. Ia segera mengambil pecahan kaca yang dipegang Rey. “Aduh!” Jari manis Rey tiba-tiba tergores. “Aduh, mas, cepet dikasih obat merah!” Wanita baya itu menggiring Rey dan Ica duduk di sofa. Ica memegangi tangan Rey yang masih mengeluarkan darah. Tiba-tiba, Ica memasukan jari Rey itu kedalam mulutnya. Rey memandanginya heran. “Kata Mama, biar cepet cembuh!” Ucap polos gadis itu lalu kembali menghisap jari Rey yang hanya memperhatikannya sambil meringis menahan sakit. “Kita maen orang-orangan aja ya abis ini??” Ajak Ica saat menunggu Rey yang sedang diobati lukanya. Rey mengangguk mengiyakan sambil memandangi Ica dengan wajah manisnya serius melihat tangan Rey yang diobati. Tak lama, muncul remaja lain, Faisal, kakak Ica, yang langsung menarik lengan Ica kasar.“Ayo pulang, Ca!” Gadis itu menolak. “Nggak mau, Ica mau maen sama Rey!” Teriaknya memberontak. “Biarin aja Cal, Ica kan masih mau maen!” Rey menghalangi sambil berusaha melepaskan cengkeraman kuat Faisal. “Tapi ini kan udah sore, nanti kamu nggak berani pulang sendiri. Ayo!” Faisal kembali menarik kasar Ica yang mulai menangis. “Nanti aku aja yang anterin Ica!” Rey membela, tapi Faisal tak menggubrisnya. “Ayo Ca, nanti Mama marah!” Faisal menarik tangan Ica yang kala itu sudah menjadi-jadi tangisnya. Saat itu Rey hanya bisa memandang iba ke arah Ica yang meninggalkan rumahnya.*
Di sebuah ruang tamu dengan furnitur jati dengan lantai keramik hijau, dua insan duduk berhadapan dengan wanita setengah baya yang menatap mereka sinis.
Tanpa banyak kata, Rey menyodorkan dua buah buku berwarna hijau dan merah, serta beberapa lembar foto pernikahan di atas meja. Ica hanya merunduk tanpa berani menatap ke arah sosok di depannya.
"Kami menikah saat Ica baru lulus SMA. Saat itu saya juga sedang persiapan S2 di German. Setelah menikah, kami langsung berpisah. Ica melanjutkan kuliah di Unpad dan saya pergi ke German. Dan kemarin itu, kami baru bertemu lagi." Rey mencoba menjelaskan singkat.
Bu Rita tampak membuka lembar demi lembar foto pernikahan Ica dan Rey di meja. Sesekali matanya menilik wajah-wajah di hadapannya, seolah memastikan bahwa wajah merekalah yang terpampang di foto. Tak lupa ia juga mengambil salah satu buku nikah dan melihat foto dan tulisan yang tertera di dalamnya.
"Kenapa di KTP Ica tidak tercantum keterangan 'kawin'?" Tanya bu Rita ketus.
Rey tersenyum tipis sambil menoleh sejenak ke arah Ica yang masih menekuk wajahnya.
"Karena waktu itu, seminggu setelah menikah, saya langsung pergi ke German. Kami belum sempat menyelesaikan urusan administrasi lainnya. Saat itu data yang kami pakai juga masih data yang lama. Begitu juga saat saya di German. Semoga ibu bisa memakluminya."
Bu Rita memandangi sekali lagi dua sejoli di hadapannya lalu mengangguk-angguk paham. Saat itu juga disaksikan beberapa orang lain yang tak lain adalah anggota keluarga bu Rita dan beberapa mahasiswa yang memang selalu berseliweran di muka rumah dan kost-kostan.
Sekembalinya ke kamar, Ica tak bisa lagi menahan tangisnya dan segera memeluk Rey sembari sesenggukan menumpahkan isi hatinya yang selama ini ia tahan.
“It’s Ok, babe!” Rey mengelus-elus punggung Ica. Kehidupan baru mereka ternyata baru saja dimulai.
*
Malam itu begitu kelam dan dingin setelah hujan seharian. Ica menatap langit-langit kamar kostnya yang putih. Untuk sementara, ia bisa kembali tenang tinggal di kost-an ini setelah Rey memberikan penjelasan rinci kepada bu Rita. Rey sendiri harus kembali ke Bandung selepas mengantarnya, karena masih ada urusan dan dokumen yang harus ia selesaikan.
Ica menolak untuk menginap di Bandung, karena kejadian di resto. Ia masih sakit hati memikirkan sikap dan kata-kata Faisal. Kepalanya terasa pusing karena tadi sempat kehujanan di pelataran parkir.
Ica membaca-baca pesan yang masuk, yang tadi belum sempat ia baca.
[Ca, besok temani aku ke villa Leo, ya! Kita hanya nginap semalam doang! Gua jemput jam 9, ya!]
Ica tampak berpikir sebelum membalas pesan dari Anggi itu. Bagaimana kalau Rey ada di kostan? pikirnya.
Hampir pukul 11 malam, dan Rey belum juga kembali. Mungkin cowok itu tidak akan kembali.
Matanya sudah sembab saat berbaring. Badannya sesekali menggigil karena suasana dingin dari luar kamar yang masih hujan. Ditariknya selimut menutupi bahu sambil menatap gitar yang bersandar di sisi meja belajar. Terbayang sosok Rey yang kemarin mendentingkan lagu. Tak lama kesadarannya pun perlahan hilang.
Rey masuk dengan kunci ganda kamar kost yang dibawanya. Diliriknya jam sudah menunjukkan pukul 2 pagi. Kamar kost yang diterangi lampu baca itu tampak senyap. Setelah membersihkan diri, dihampirinya tubuh Ica di ranjang yang tampak pulas. Perlahan, diusapnya pelan rambut gadis itu. Namun tiba-tiba gadis itu terbangun.
“Rey!" Pekiknya dengan nafasnya tak teratur.
“Ca, ada apa?” Rey meraba pelipis gadis itu yang terasa hangat.
“Rey!” Gumamnya lirih sambil merenggut baju Rey erat.
“Kamu mimpi buruk, ya!” Rey menarik gadis itu ke dalam pelukannya.
“Rey!” Gadis itu terus memanggil namanya.
“Badan kamu anget, Ca! Kamu demam. Aku kompres, ya!” Tanyanya cemas lalu membaringkan tubuh lemah itu. Ica menahan Rey sambil menggeleng. Untuk beberapa saat ia hanya menatap Rey sayu, dan kembali memejamkan matanya.
Rey tersadar, gadis itu masih shock sejak kejadian kemarin dan hanya butuh ditemani. Setelah mengambil handuk untuk mengompres, Rey berbaring di sisi Ica hingga ia pun ikut terlelap disampingnya.
“Siapa?”“Maaf, bu! Room service!”Ica tak serta merta membuka pintu tapi mengaitkan kunci rantai.Setelah memastikan, ia baru membuka pintu dan mengambil pesanan makan malamnya.“Terima kasih. Ini tipnya.”Ica segera menutup dan mengunci pintu kamar.Malam ini ia ingin menjauh sejenak dari rutinitas barunya sebagai istri Rey dan menikmati malam dengan kesendirianya yang terasa lain dari biasanya.“Haaah!” nafas panjangnya tanpa sadar keluar dari mulutnya.Biasanya ia menanti waktu sendiri seperti itu dengan menonton drama sambil makan camilan dengan bebas, namun hati dan pikirannya seolah tak tenang.“Mama Papa pasti khawatir,”gumamnya lalu merubah posisi rebahan menjadi duduk.“Diiih, tapi aku masih gak terima kalau Rey beneran bohong. Lagian ngapain si Cindy itu bisa ada di sini juga. Cis, bikin senewen, aja!” gerutunya lalu kembali merebahkan tubuhnya di sofa dan mengganti channel dramanya.“Duuh, sebel, sebel, sebel. Nyebelin!” teriaknya lalu mematikan ponselnya kesal.Rey masih
Dari depan pintu minimarket, Cindy sengaja memanggil-manggil nama Rey dengan suara keras. Beberapa orang tampak memandangi perempuan itu dan juga Rey yang tak jauh dari depan minimarket. "Rey, tunggu! Tolong aku!" Suara lantang Cindy itu terang saja membuat beberapa orang memandangi Rey yang disangka tidak bertanggung jawab.Rey menduga itu hanya akal-akalan Cindy, tapi ia pun terpaksa membawa Cindy ke klinik terdekat. Tanpa ia sadari Cindy mengambil foto candid.Rey buru-buru pergi, takut gadis itu menggunakan trik lain lagi.Sesampainya di kamar ia langsung membuka semua pakaiannya yang tadi sempat bersentuhan dengan Cindy dan mengguyur tubuhnya di bawah shower. “Rey, kok kamu mandi malam-malam? Badan kamu sampe dingin begini?” tanya Mayang yang terbangun saat seseorang tiba-tiba berbaring di sampingnya. “Tadi kena kotoran di minimarket, jadi aku mandi lagi. Peluk dong sayang, aku kedinginan,” rengek Rey saat Ica memegangi tangan dan wajahnya.Tanpa banyak bicara, perempuan itu l
Sherly tersenyum meringis melihat reaksi spontan Rey itu. Ia mengira Rey pasti tidak akan setuju dan berpikir itu ide konyol.“Bunda cuma merasa, Ica itu sudah dekat sama kita. Lagipula, Ica baru ditinggal papanya. Kalau Bunda lihat, wajah Ica tuh kayak yang masih sedih gitu.” Ungkap Sherly dengan wajah memelas. Berharap anak lelakinya itu tak marah.“Bunda serius?” tanya Rey, masih tak percaya dengan niatan bundanya itu. “Serius lha, Rey! Bunda tuh udah sayang banget sama Ica,” terang Sherly, mencoba meyakinkan putranya lagi.“Yah, ayah sendiri gimana? Sudah setuju dengan rencana Bunda ini?” Rey berdiri tak tenang, menahan rasa kaget dan emosinya.“Ayah sih setuju jika itu memang positif. Win-win solution juga. Kita bisa membantu keluarga mereka dengan merawat Ica, dan bunda akan ada teman di rumah.”“Ayah pikirannya ke bisnis aja, pakai win-win solution segala.” Celetuk Sherly sambil menepuk bahu suaminya itu pelan.“Ya, memang kenyataannya begitu, kan! Jadi, gimana menurut kamu, Re
“Ca, sayang! Ayo, bangun! Kita sudah sampai, sudah landing!”“Hah, apa?”“Kita sudah di daratan,”terang Rey lagi, lalu tersenyum geli ketika gadis itu celingukan memperhatikan sekelilingnya dan juga melihat keluar melalui kaca jendela pesawat.“Waah, kita sudah turun. Pesawatnya selamat, alhamdulillah ya Allah!” gumamnya sambil menengadahkan tangan, lalu mengusap wajahnya.“Ica, sudah tenang, kan, gak terjadi apa-apa, kan naik pesawat?” Ayah Yoga ikut mengomentari saat melihat tingkah lugu menantunya.“Hehe, iya, yah! Alhamdulillah.”Ica memperhatikan saat Rey melepas sabuk pengaman dan mengikutinya. Hampir semua penumpang nampak bersiap-siap turun dan mengambil tas dari kabin setelah pramugari memberi informasi bahwa pesawat sudah parkir dan pintu pesawat sudah dibuka.Rey mengelus kepala Ica saat ia hendak berdiri, seolah memberinya tanda bahwa semua baik-baik saja.“Huaahh!” Ica menutup mulutnya karena menguap lagi dan lagi saat mereka berada di mobil yang membawa keluarga itu ke ho
Ica memegangi tangan Rey erat saat ia sudah duduk di kabin pesawat. Dia memang belum pernah naik pesawat. Perjalanan travelliing bersama keluarga Rey kali ini menjadi perjalanan pertamanya naik kapal terbang. "Rey, apa aku minum obat anti mabuk aja, ya! Biar aku tidur!"Rey tertawa ringan,"kalau kamu tidur, kamu jadi gak bisa menikmati perjalanan di udara, dong!", ia menarik kepala Ica ke bahunya, lalu seperti membacakan sesuatu di atas kepala Ica, lalu meniup kepala Ica. Ica hanya diam dan makin mengeratkan pegangannya ke lengan Rey. "Sudah aku bacakan doa, supaya kamu gak takut. Anggap aja kamu naik bis besar, yang melayang!" bisik Rey setengah bercanda lalu mengelus tangan Ica berharap bisa menenangkannya. [ Para penumpang yang terhormat, selamat datang di Penerbangan 123A dengan tujuan Bandung menuju Lombok.Saat ini, kami berada di antrean ketiga untuk lepas landas dan diperkirakan akan mengudara dalam waktu sekitar tujuh menit.Mohon pastikan sabuk pengaman Anda telah terpasa
"Rey, ngapain kita ke sini?""Ya, coba jalan-jalan, aja! Lagian memang ada di area komplek kita. Kamu juga harus tahu, fasilitas apa yang ada di sini. Aku kepikiran, nanti kita masuk member di Gym sana itu, supaya kita bisa rutin olahraga." Rey menunjuk sebuah gedung kaca dengan pemandangan alat-alat gym yang terlihat dari luar. "Di rumah juga sudah ada alat gym.""Di rumah kan hanya untuk latihan rutin, kalau untuk pembentukan otot, harus ada coach yang mendampingi kita, supaya tidak cedera. Udah, kamu mau pesan apa?""Aku mau cheese burger sama kentang."Rey tampak memesan beberapa makanan cepat saji yang berada di kawasan komplek. Ia sengaja mengajak Ica keluar untuk menunjukkan area supermarket dan pasar bersih yang tak jauh dari lokasi residence. "Hari ini kamu gak kemana-mana?""Aku berasa cape.""Yee, itu kan karena ulah kamu sendiri." Ica menepuk bahu Rey yang disambut tawa yang meledek. "Sayang, tapi bener lho, pagi-pagi sudah olahraga seperti itu baik untuk kebugaran pria
“Ca, bener nih, gak mau ikut ke kota?” Seru Anggi kencang dari pintu villa.Ica yang sejak tadi memperhatikan laut yang berarak sempat terhenyak. Tapi kemudian ia melambaikan tangannya.“Iya, aku agak papa. Aku lagi enjoy nieh! Titip minuman kesukaanku aja ya!” Teriaknya hampir tak terdengar, diliha
Ica bersujud sambil memejamkan matanya yang masih sangat mengantuk lepas shalat shubuh. “Ca!”Rey menyentuh pundaknya pelan. Ica bangkit lalu mencium tangan Rey. “Sekalian dong, pipiku dan ini..!”Rey menunjuk bibirnya. Ica melotot tak percaya lalu mendorong cowok itu. “Dasar genit, nggak sopan,
Sejak pernikahan itu terjadi, Ica mencoba meyakinkan diri, bahwa semua itu demi kebaikan dirinya. Dan sebersit perasaan sukanya pada sosok Rey yang dulu pernah ia kesampingkan, menjadi sebuah kekuatan baginya untuk menerima kenyataan di depannya.Sepeninggal Rey, ia kembali harus menjalani hari-hari
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun. Dua tahun berlalu.Siang begitu terik, seolah mentari hendak mengeluarkan pijar api dari tiap sisinya.Ica baru saja keluar dengan binder dan beberapa buku di tangannya. Sambil menghapus keringat di pelipisnya, ia berjalan menuju kantin







