LOGINBagaimana nasib Riko?
“M-maaf, Al. Ini salah,” Hary menahan tangan Alda lalu mengancing kembali kemejanya. Ia pergi ke kamar mandi untuk menenangkan diri.Alda berdecak kesal sambil mengacak rambutnya. Ia merasa dipermalukan.“Suster Ulfa, jemput saya di Apartemen Lavender Gedung A lantai 17 kamar 09!”“Baik, Bu. Saya akan segera kesana!”Hary mencuci wajahnya lalu bercermin. “Kau sangat bodoh, Hary! Bisa-bisanya kau lupa apa tujuanmu! Kau harus ingat betapa jahat dan manipulatifnya dia. Di balik sikap manisnya, pasti ada sesuatu yang ia inginkan.”Ponsel Hary yang ada di atas meja bergetar.“Cintaku?” Alda melihat layar ponsel Hary yang kini ada tangannya lalu menekan tanda hijau. Ia meletakkannya di atas meja.“Sayang,” ujar Olin dalam panggilan telepon.“Kak Hary, kamu belum selesai mandi?” Alde dengan sengaja mengeraskan suaranya.“Lima menit lagi aku selesai, Al,” sahut Hary.“Jangan lama-lama ya, Kak. Aku takut sendirian,” ujar Alda.“Al? Siapa yang dimaksud Hary? Apa mungkin Alda melakukan syuting d
“Sayang, aku ingin bertanya. Apakah boleh?” Fandi menatap lekat mata Rima yang sendu.“Tanya apa, Mas?” Rima tampak canggung.Fandi menyeka helaian rambut di pelipis istrinya dengan lembut. “Apakah kamu mencintaiku?”Rima terkesiap lalu mengalihkan pandangannya. “Kenapa kamu bertanya seperti ini, Mas?”Fandi tersenyum melihat wajah Rima yang tersipu. Ia mengangkat dagu istrinya. “Aku hanya ingin tahu karena aku belum pernah mendengarmu mengatakannya. Kamu selalu menghindari kontak mata denganku. Apakah aku memiliki salah?”Rima masih terpaku.“Apakah pertanyaan ini terlalu sulit untuk dijawab?” Fandi menggenggam tangan Rima lalu mengusapnya dengan lembut.“Aku mencintaimu, Mas. Sejak pertama kali bertemu hingga saat ini. Aku tak sanggup menatapmu, jantungku masih berdebar kencang ketika mata kita bertemu,” jawab Rima dengan suara lirih.Fandi memeluk Rima dengan senyum lebar. “Terima kasih, sayang. Mendengarnya saja aku sudah sangat bahagia. Lalu kenapa kamu seolah menghindari kontak m
“Mas, kasihan lho Rima belum makan. Dia nunggu kamu di meja makan. Kamu bete begini karena kedatangan Riko?” tanya Alda.“Ya jelas aku kesal. Rima menerima tamu laki-laki ketika suaminya sedang tidak di rumah,” ungkap Fandi dengan wajah cemberut.Rima yang berada di balik pintu terpaku mendengar ucapan Fandi. Ia ingin menjelaskannya namun ia tahu kakaknya pasti kesal. Alda sangat mengharamkan Rima masuk ke dalam kamar di saat ada Fandi di sana.“Non, ayo dimakan makanannya nanti sup nya dingin,” ujar Suster Ida.“Iya, Sus. Saya akan makan sekarang,” sahut Rima.“Jadi, Mas Fandi benar-benar cemburu? Ternyata dia memang lebih mencintai Rima daripada aku. Dia gak pernah bersikap seperti ini,” gumam Alda dalam hati.“Menurutku Riko datang hanya sekedar berkunjung, Mas. Aku dengar dia akan kembali menetap di tanah air. Mungkin dia rindu pada sahabatnya. Ya memang perhatian Riko terhadap Rima memang selalu berlebihan. Kamu bisa lihat sendiri berapa banyak bingkisan yang dibawa Riko,” ujar A
“Selamat ya, Kak. Aku gak nyangka salah satu mimpi kita saat remaja bisa terwujud. Kita hamil bareng,” ujar Rima dengan senyum sumringah.Alda tertawa kecil. “Iya, mimpi kita terkabul. Tapi sepertinya kita lupa berdoa agar waktunya saja yang sama. Bukan suaminya,” sindir Alda.Tawa Rima perlahan memudar mendengar sindiran sang kakak.“Cukup, Al!” ujar Fandi.“Iya, sayang. Aku bercanda kok. Kamu gak perlu marah, sayang. Aku juga lagi hamil lho. Bukan hanya Rima,” ujar Alda dengan sisa tawanya.“Permisi,” terdengar suara dari balik pintu.“Ada tamu, Mas. Aku lihat dulu ya,” ujar Rima.“Biar aku saja, sayang,” Fandi menahan tangan Rima.Ada dua orang perempuan berusia sekitar 35 tahunan , satu orang perempuan berusia 45 tahun, dan satu orang laki-laki berusia 40 tahunan masuk bersama Fandi.“Mereka semua akan bekerja disini mulai hari ini. Suster Ida akan bertanggung jawab menjaga Rima, Suster Ulfa akan bertanggunh jawab menjaga Alda. Mbak Titi akan bertanggung jawab sebagai asisten ruma
POV. Fandi meminta penjelasan Rima tentang donor ginjal.“Sayang, aku minta maaf,” Fandi menciumi telapak tangan Rima dengan air mata yang mulai membasahi pipi.“Mas, jangan begini. Kamu kenapa? Minta maaf untuk apa?” tanya Rima dengan suara lirih.“Aku sudah tahu semuanya soal donor ginjal itu. Mengapa kamu gak pernah bilang yang sebenarnya? Kamu adalah pendonor ginjal itu bukan Alda!” ucap Fandi dengan tatapan sendu.“Mas Fandi tahu semuanya? Bagaimana ini?”“Mas, ini semua murni keinginanku. Aku yang meminta Kak Alda untuk merahasiakannya. Tolong jangan salahkan Kak Alda,” pinta Rima memelas.“Kamu tahu kenapa aku masih mempertahankan pernikahanku dengan Alda? Itu karena aku merasa berhutang budi atas ginjal yang ia donorkan!” ungkap Fandi.“Aku minta maaf, Mas. Aku hanya tidak ingin Kak Alda semakin menderita. Ia sangat mencintai kamu, Mas. Tolong jangan campakkan Kak Alda,” pinta Rima memohon.“Lantas kamu? Apakah kamu tidak mencintai aku? Apakah kamu tidak ingin hidup bahagia ber
“Influencer berinisial “R” yang dijuluki si Malaikat mengalami kecelakaan tunggal dan menabrak sebuah warung. Menurut hasil penyelidikan sementara, kecelakaan terjadi diduga karena mabuk,” Alda tersenyum lebar membaca berita di sosial media.“Akhirnya, si malaikat itu tumbang juga? Ini balasannya untuk kamu Rosa. Si cupu berkacamata tebal yang ingin berubah jadi princess dan merebut reputasiku?”Alda mengingat bagaimana persahabatannya dengan Rosa semasa sekolah. Tak ada satupun orang yang mau berteman dengan Rosa karena dianggap gadis terjelek di sekolah. Gaya pakaian kuno, rambut kepang dua, dan kacamata tebal. Alda yang merupakan siswi paling cantik dianggap layaknya malaikat tanpa sayap.“Mulai sekarang, siapapun yang mengganggu Rosa akan berurusan sama Alda! Kalian semua paham?” ujar Alda dengan suara lantang.Hari itu mereka bersahabat. Rosa menganggap Alda adalah dewi penyelamatnya. Tapi, semuanya berubah ketika Rosa memutuskan untuk mengubah penampilan menjadi lebih cantik deng







