LOGIN“Gak ada apa-apa, Kak. Aku hanya gak mau momen manis kalian terganggu nantinya,” sahut Rima segera. Ia teringat ucapan dokter soal kondisi psikis Alda yang harus tetap dijaga.
“Oke, berarti kamu setuju untuk ikut ya. Aku butuh kamu, Rima. Kamu tahu sendiri kondisiku. Kakiku lumpuh,” ujar Alda dengan tatapan sendu.
Kata “lumpuh” selalu menyentuh relung hati Rima. Perasaan bersalah menyelimutinya saat mendengar Alda mengucapkannya dengan wajah sendu.
“Iya, Kak. Aku ikut,” Rima tersenyum.
Rima memasukkan beberapa pakaian ke dalam koper dengan wajah sendu. Bayang-bayang kemesraan antara Fandi dan Alda yang selama ini ia lihat.
“Bertahun-tahun aku menahannya. Ku ikhlaskan Kak Alda bersama dengan cinta pertamaku. Ku simpan semuanya sendiri. Ku biarkan Mas Fandi salah paham dan berniat ingin merahasiakannya hingga akhir. Sekarang, aku harus memperpanjang rasa sakit ini.”
“Tok, tok, tok.” Suara ketukan di kaca jendela.
Rima mengusap air matanya lalu membuka hordeng. Rupanya, Fandi yang mengetuk jendela kamar dari taman belakang.
“Buka,” ucap Fandi berbisik.
Rima sempat ragu karena takut jika Alda memergoki mereka lalu membuka kaca jendela. Fandi masuk ke dalam kamar kemudian meraih tubuh Rima dan memeluknya erat.
“Mas, lepas. Bagaimana kalau Kak Alda melihat kita?” Rima melepas pelukan Fandi.
Dengan langkah cekatan, Fandi segera mengunci pintu.
“Alda sudah tidur setelah minum obat. Aku kangen sama kamu, sayang,” Fandi mengecup lembut bibir Rima.
Rima menghindarinya. “Maaf, Mas. Ada hal yang harus kita bicarakan.”
“Aku minta maaf, sayang. Aku gak pernah tahu soal semuanya. Alda gak pernah bilang soal kamar ini dan bulan madu,” Fandi memeluk Rima dari belakang.
Rima membeku mendengar permintaan maaf suaminya. Ia bahagia karena merasa dicintai namun bayang-bayang Alda selalu ada di antara mereka berdua. Ia sangat membenci dirinya sendiri.
“Mas, talak aku!” pinta Rima.
“Talak?” Fandi tercengang.
“Iya, Mas. Talak aku maka kita resmi bercerai. Aku ini hanya istri siri,” pinta Rima dengan wajah tenang.
“Kita baru menikah hitungan minggu. Bagaimana mungkin bercerai? Aku bisa meninggalkan Alda dan memilih kamu. Tolong jangan minta untuk berpisah,” Fandi memohon hingga bersimpuh.
Rima tak kuasa menahan air matanya melihat ketulusan Fandi. Ia mengajak Fandi berdiri.
“Mas, aku gak sanggup hidup dalam kebohongan. Aku merasa menjadi orang yang munafik. Aku mengkhianati kakakku sendiri. Tolong, Mas. Lepaskan aku,” pinta Rima.
Fandi mengusap air mata di pipi istrinya.
“Aku tahu ini berat untuk kita. Aku mohon bertahanlah, sayang. Aku mencintai kamu lebih dari apapun. Aku hanya mengasihani Alda. Terlebih lagi, dia telah mendonorkan ginjalnya untukku. Tapi, aku janji akan menperjuangkan cinta kita, sayang,”
“Seandainya kamu tahu pendonor ginjal itu adalah aku. Kamu gak boleh tahu, Mas. Kamu akan semakin bersikeras meninggalkan Kak Alda. Dia akan hancur jika kamu meninggalkannya. Aku rela melepaskan cinta kita demi membalas budi baik dari Kak Alda dan ibunya. Mereka berdua adalah malaikat tanpa sayap yang mau menerima anak seorang pelakor,” gumam Rima dalam hati.
Malam itu berakhir tanpa kepastian. Fandi masih tetap pada pendiriannya. Rima masih berada dalam dilema berkepanjangan. Tak ada hasrat seperti sebelumnya. Fandi menghargai kondisi Rima.
**
Paginya, mereka bertiga terbang ke Singapore. Selama perjalanan, Alda terlihat sangat bahagia. Ia selalu bergelayut manja di lengan Fandi. Bahkan, Alda meminta Fandi untuk menggendongnya.
“Rima, tolong bawakan barang-barang ya. Kakak lebih nyaman digendong sama Mas Fandi. Kami mau makan dulu di restoran ujung sana. Kamu tunggu bagasinya dulu,” pinta Alda.
“Baik, Kak,” sahut Rima pasrah.
“Kita pergi bareng saja ke restoran. Lagi pula proses bagasi gak makan waktu lama,” ujar Fandi.
“Aku sudah sangat lapar, sayang. Gak bisa ditunda. Aku harus minum obat,” ucap Alda dengan senyum tipis.
“Gak apa-apa, Mas. Kalian duluan saja. Kasihan Kak Alda. Nanti aku menyusul.”
Dengan berat hati, Fandi menuruti permintaan Alda. Sedangkan Rima berusaha fokus pada layar. Ia sangat tahu sifat Alda. Meski Alda sangat perhatian namun ia memiliki ego yang tinggi.
“Kamu harus ingat, Rima. Kelumpuhan yang aku alami semuanya karena kesalahan kamu,” ucapan Alda selalu menghantui Rima.
Alda rela berkorban untuk Rima namun ia juga akan meminta timbal balik dengan nilai yang menurutnya sepadan di kemudian hari.
“Rima kok lama ya? Alda, sepertinya aku harus menyusul Rima. Ia pasti kerepotan membawa tiga koper sekaligus,” ujar Fandi.
“Mas, sebenarnya siapa istri kamu? Aku atau Rima?” tanya Alda spontan.
Fandi terkesiap, wajahnya tampak gugup.
“Kamu itu kenapa sih, Al? Pertanyaan konyol macam apa ini? Aku hanya gak tega sama Rima.”
“Aku bercanda, sayang. Kamu kok kelihatan gugup sih?” goda Alda terkekeh.
Fandi tampak lega mendengarnya. Namun, mimik wajahnya berubah ketika Rima datang bersama seorang pria muda yang tampan. Mereka tampak akrab bahkan tertawa bersama.
“Mas, kenapa? Kamu marah?” tanya Alda menatap lekat wajah Fandi yang terlihat kesal.
“Alda, kamu kenal pria itu?” tanya Fandi tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun.
Alda menoleh ke arah tatapan Fandi.
“Riko?”
“Riko!” panggil Alda melambaikan tangan dengan senyum lebar.
Pria tampan itu menoleh lalu kian mendekat. Rima tersenyum lebar ada di dekatnya. Fandi terbakar cemburu.
“Kak Alda, apa kabar?” tanya Riko menyalami Alda dengan sopan.
“Aku? Ya seperti yang kamu lihat,” ujar Alda berusaha tegar.
Riko mengungkapkan rasa prihatinnya atas apa yang terjadi pada Alda juga meminta maaf karena tak bisa hadir ke pesta pernikahan Alda.
“Mas, kenalin ini Riko. Ia sahabat kecilnya Rima. Dulu mereka itu sampai dikira anak kembar saat sekolah. Karena tanggal lahir mereka sama juga nama yang hampir mirip. Riko, kenalin ini suami aku, Mas Fandi.”
“Halo, Mas Fandi. Saya Riko,” Riko mengulurkan tangannya.
“Fandi,” Fandi menjabat tangan Riko dengan wajah dingin.
Alda mengajak Riko untuk makan bersama. Sikap manis Riko terhadap Rima membuat Fandi kesal.
“Ri, makan yang ini saja,” Riko memberikan piring berisi steak yang sudah ia potong kepada Rima.
Rima ingin menolaknya demi menghargai suaminya namun tak ada alasan yang tepat untuk menolak.
“Terima kasih, Rik.”
Alda tersenyum lebar melihat interaksi manis Riko dan Rima.
“Riko, jangan dimakan. Aku lupa bilang kalau makanan kamu jangan pakai saus tiram. Aku pesan lagi ya,” ujar Rima segera beranjak.
“Rima perhatian sekali sama Riko?” gerutu Fandi.
Riko tertegun, delapan tahun berlalu rupanya Rima masih mengingat hal kecil tentangnya. Bahkan soal alergi Riko.
“Terima kasih, Ri,” ujar Riko tersipu malu.
“Kalian masih semanis ini? Kenapa gak nikah saja?” goda Alda.
Mendengar ucapan Alda, Fandi tersedak.
“Mas, kamu kenapa? Ini minum dulu,” Alda menyodorkan segelas air putih.
Fandi meminumnya segera.
“Aku izin ke toilet dulu,” Fandi beranjak.
“Rima, ikut aku!” Fandi menarik tangan Rima ke tempat yang lebih sepi.
Fandi protes dengan interaksi manis Rima bersama pria lain.
“Aku itu suami kamu. Bukankah seharusnya kamu menghargai aku?” protes Fandi.
“Ya sudah, kamu talak saja aku sekarang!” tantang Rima.
“Talak? Jadi, pernikahan itu hanya mainan di matamu?” tanya Fandi dengan senyum getir.
“Cukup, Mas! Lebih baik kita kembali ke sana. Kak Alda pasti menunggu,” Rima melangkah pergi. Ia enggan untuk berdebat dengan suaminya.
“Jaga sikapmu! Atau aku akan ungkap pernikahan kita,” ancam Fandi sebelum pergi.
Rima tertegun melihat sikap ketus suaminya. Ia sadar kalau Fandi cemburu sama sepertinya ketika melihat perhatian Fandi terhadap Alda.
“Rima!” panggil Riko yang tiba-tuba muncul dari balik tembok.
“Riko? Sejak kapan ia di sana?”
“Sekarang, semuanya ibu serahkan sama kamu. Tolong jangan berbuat hal nekat lagi, Bara! Setidaknya kasihani Rima. Hidupnya sudah sangat menderita,” ujar Bu Tika sebelum pergi.“Aku ingin menikahi Rima, Bu,” ungkap Bara.“Menikah?” Bu Tika tercengang. Ia menatap lekat mata Bara.“Kau yakin, Nak?” tanya Bu Tika lirih.“Aku sangat yakin, Bu. Satu-satunya wanita yang ku cintai hanya Rima. Tolong siapkan semuanya, Bu,” pinta Bara.“Tapi tidak sekarang, Bara. Rima baru saja melahirkan dan ia juga baru saja ditalak. Ada masa tunggunya. Saran ibu, sebaiknya kamu fokus pada kepulihan Rima, Nak,” ujar Bu Tika sebelum pergi.Bara masuk ke dalam kamar Rima. Di atas ranjang, Rima masih memejamkan matanya.“Bagaimana kondisinya, Suster?” tanya Bara dengan wajah sendu.“Belum ada perubahan, Pak. Kondisi pasien masih lemah. Dokter memberinya vitamin melalui infus. Semoga, kondisinya jauh lebih baik,” jawab suster yang merawat Rima.Bara membuka ponselnya. “Bara, dimana Rima? Dia bersamamu ‘kan?” tany
Bara menatap wajah pucat Rima yang terbaring di atas ranjang. Tangan Rima diinfus.“Seandainya kamu menikah denganku. Hidupmu pasti akan jauh lebih bahagia. Kenapa kamu menyukai pria yang mudah diperdaya?” “Dokter, bagaimana kondisi Rima?” tanya Bara pada dokter pribadi keluarga Bu Tika.“Kondisinya saat ini sudah mulai membaik. Sudah tidak terjadi pendarahan, namun tubuh pasien masih sangat lemah,” ungkap Dokter Bastian.Bara mengehela napas lega.“Bara, bukankah sudah waktunya kamu jujur pada Bu Tika?” ucap Dokter Bastian.“Saya belum siap, Dokter. Saya tidak mau ibu sedih,” jawab Bara dengan suara lirih.“Baik, saya akan tetap merahasiakannya,” bisik Dokter Bastian.“Terima kasih, Dokter,” Bara tersenyum.“Bara!” Bu Tika yang baru saja tiba langsung membentak Bara.“Saya permisi,” pamit Dokter Bastian.“Bu, jangan di sini. Rima butuh banyak istirahat,” Bara menggandeng tangan Bu Tika.Bu Tika menuruti Bara. Mereka bicara di ruang tamu vila pribadi Bu Tika yang merupakan tempat tin
“Bagaimana mungkin, Bara sudah meninggal,” Rima tak mempercayai ucapan Bara.“Oh, aku paham sekarang. Ini semua rencana busukmu ‘kan Kak? Kamu memanipulasi semuanya untuk memfitnahku!” Rima membentak Alda, ia sudah tak tahan diperlakukan tidak adil.“Dek, kamu tega menuduhku seperti itu? Kamu harusnya merasa bersalah. Bukannya melempar kesalahanmu pada orang lain. Apalagi pada kakakmu sendiri,” Alda menangis.“Sudahi semua sandiwara ini, Kak. Aku sudah muak!” Rima tersenyum sinis.“Ini bukti kalau aku memang Bara,” Bara menunjukkan foto-foto kebersamaan mereka dulu.Rima masih tak mempercayainya.“Ini, bekas luka ketika aku menolongmu,” Bara menunjukkan bekas luka di lengan kirinya.Rima berusaha mengingatnya. “Bekas luka itu, ketika aku hampir saja tertimpa pot dari lantai dua sekolah.”“Ini hasil tes DNA yang membuktikan sepenuhnya bahwa aku Bara.”“Gak mungkin! Kalau kamu memang masih hidup kenapa kamu harus merahasiakannya?” Rima semakin sesak menerima kenyataan tentang Bara.“Cuk
Olin membereskan semua barang-barangnya. Ia Menyusun barang-barang pribadinya di rumah masa kecilnya.“Bertahun-tahun aku merantau ke ibu kota demi menyembuhkan trauma atas kematian Kak Cika. Kini, aku justru kembali ke rumah ini karena gagal dalam misi itu. Mirisnya, orang yang membuatku terluka adalah orang yang berjanji untuk membuatku sembuh dari trauma,” Olin mengusap air matanya.Olin memajang kembali foto-foto dirinya dengan sang kakak di tembok dan juga meja. Meski diiringi deraian air mata. Olin bertekad untuk kuat.“Kata orang jika kita ingin sembuh dari luka maka kita harus mampu menahan rasa perihnya ketika luka itu kita oleskan obat. Aku pasti bisa melalui semuanya. Membuka lembaran baru di rumah lama.”Hary terus menghubungi Olin namun nomor kontaknya kini sudah diblokir.“Sosial mediaku juga diblokir?” Hary tertunduk lemas sambil menatap layar ponselnya. Olin tertidur pulas setelah merapikan barang-barangnya. Tiba-tiba ia merasakan tetesan air di wajahnya.“Hujan? Ata
Sejak Rima menolak cintanya, Bara terlihat murung. Bara juga terus menghindari Rima. Bahkan saat perjalanan study tour ke Bali, Bara menukar posisi duduknya di bus dengan Ivan.“Van, bisa tukar kursi gak?” pinta Bara.“Bara? Tumben banget ini orang mau bersuara,” gumam Ivan. “Van? Boleh ‘kan?” Bara menyelipkan uang pecahan serratus ribu sebanyak tiga lembar ke tangan Ivan.Ivan beranjak dari kursinya dan pindah ke kursi belakang.“Oke!” Ivan mengacungkan kedua jempolnya.“Hai, Rima!” sapa Ivan dengan senyum lebar.“Van, kayaknya lu salah kursi. Ini kursinya Bara,” Rima menunjuk nama yang tertempel pada kursi.Ivan menukar kertas tempelan berisi nama yang tertempel di kursi Bara dengan miliknya.“Nah, sekarang kursi ini jadi tempat gue ‘kan?” Ivan dengan santai menduduki kursinya.“Tapi, Bara,” kata Rima.“Bara yang minta kami tukar kursi. Mungkin dia malu karena lu tolak cintanya,” bisik Ivan sambil menahan tawa.Bara yang duduk di depan kursi Rima bisa mendengarnya namun memilih acu
“Kak Alda!” panggil Rima yang masih mengenakan seragam SMA.“Rima, kamu dari mana? Kakak cari-cari kamu lho,” tanya Alda sambil mengatur napasnya.“Maaf, Kak. Aku lupa izin, hari ini ada kerja kelompok. Aku dan Bara cari bahan materinya di perpustakaan,” jawab Rima.“Lain kali izin dulu , Dek. Kalian satu kelas?” tanya Alda sambil memperhatikan Bara.“Ya, kami satu kelas, Kak. Bara perkenalkan ini Kak Alda kakakku,” ujar Rima.Bara tersenyum tipis. “Bara.”Alda membalas senyum tipis Bara dengan senyum ramah. “Alda.”**“Apa maksudmu berkhianat?” tanya Fandi dengan suara yang mulai tinggi.“Ini! Kamu dengarkan percakapan antara aku dan dokter yang menangani Rima di UGD,” Alda menyetel rekaman suara di ponselnya.Fandi mendengarkan dengan mata terbelalak. “Jadi, Rima mengalami pecah ketuban dini karena hubungan badan yang berlebihan? Tapi dengan siapa?” Fandi terduduk lemas hingga ponsel di tangannya hampir saja jatuh ke lantai. “Mas, kamu gak apa-apa?” Alda meraih tubuh Fandi.“Siapa
“Sayang, aku ingin bertanya. Apakah boleh?” Fandi menatap lekat mata Rima yang sendu.“Tanya apa, Mas?” Rima tampak canggung.Fandi menyeka helaian rambut di pelipis istrinya dengan lembut. “Apakah kamu mencintaiku?”Rima terkesiap lalu mengalihkan pandangannya. “Kenapa kamu bertanya seperti ini, Ma
“Ada masalah apa, Al? Kenapa kamu kelihatan bingung? Riko di mana?” tanya Fandi yang baru saja datang.“Riko? Katanya mau ke toilet. Kalian gak ketemu?” sahut Alda sambil menatap layar ponselnya dengan wajah bingung.“Oh, enggak. Kamu kenapa? Ada apa?” tanya Fandi.“Aku baru sadar kalau pembayaran
PERNIKAHAN RESMIAlda sudah diperbolehkan pulang sejak satu minggu lalu. Kini, ia tengah disibukkan dengan persiapan pernikahannya minggu depan. Gaun pengantin yang sudah dipersiapkan jauh-jauh hari begitu menyayat hatinya.“Kak, gaun pengantinnya cantik sekali. Aku gak sabar melihat kakak mengenak
"Saya terima nikah dan kawinnya Rima Kania Putri dengan mas kawin tersebut. Tunai," suara lantang Fandi memecah keheningan."Sah," sahut dua orang saksi dan penghulu yang ada dalam ruangan apartemen.Air mata Rima menetes ketika penghulu mulai membaca doa usai ijab qobul. Rasa bahagia, sedih, jug







