Share

TALAK AKU, MAS!

Author: suciradewi
last update publish date: 2026-04-14 13:11:58

“Gak ada apa-apa, Kak. Aku hanya gak mau momen manis kalian terganggu nantinya,” sahut Rima segera. Ia teringat ucapan dokter soal kondisi psikis Alda yang harus tetap dijaga.

“Oke, berarti kamu setuju untuk ikut ya. Aku butuh kamu, Rima. Kamu tahu sendiri kondisiku. Kakiku lumpuh,” ujar Alda dengan tatapan sendu.

Kata “lumpuh” selalu menyentuh relung hati Rima. Perasaan bersalah menyelimutinya saat mendengar Alda mengucapkannya dengan wajah sendu.

“Iya, Kak. Aku ikut,” Rima tersenyum.

Rima memasukkan beberapa pakaian ke dalam koper dengan wajah sendu. Bayang-bayang kemesraan antara Fandi dan Alda yang selama ini ia lihat.

“Bertahun-tahun aku menahannya. Ku ikhlaskan Kak Alda bersama dengan cinta pertamaku. Ku simpan semuanya sendiri. Ku biarkan Mas Fandi salah paham dan berniat ingin merahasiakannya hingga akhir. Sekarang, aku harus memperpanjang rasa sakit ini.”

“Tok, tok, tok.” Suara ketukan di kaca jendela.

Rima mengusap air matanya lalu membuka hordeng. Rupanya, Fandi yang mengetuk jendela kamar dari taman belakang.

“Buka,” ucap Fandi berbisik.

Rima sempat ragu karena takut jika Alda memergoki mereka lalu membuka kaca jendela. Fandi masuk ke dalam kamar kemudian meraih tubuh Rima dan memeluknya erat.

“Mas, lepas. Bagaimana kalau Kak Alda melihat kita?” Rima melepas pelukan Fandi.

Dengan langkah cekatan, Fandi segera mengunci pintu.

“Alda sudah tidur setelah minum obat. Aku kangen sama kamu, sayang,” Fandi mengecup lembut bibir Rima.

Rima menghindarinya. “Maaf, Mas. Ada hal yang harus kita bicarakan.”

“Aku minta maaf, sayang. Aku gak pernah tahu soal semuanya. Alda gak pernah bilang soal kamar ini dan bulan madu,” Fandi memeluk Rima dari belakang.

Rima membeku mendengar permintaan maaf suaminya. Ia bahagia karena merasa dicintai namun bayang-bayang Alda selalu ada di antara mereka berdua. Ia sangat membenci dirinya sendiri.

“Mas, talak aku!” pinta Rima.

 “Talak?” Fandi tercengang.

“Iya, Mas. Talak aku maka kita resmi bercerai. Aku ini hanya istri siri,” pinta Rima dengan wajah tenang.

“Kita baru menikah hitungan minggu. Bagaimana mungkin bercerai? Aku bisa meninggalkan Alda dan memilih kamu. Tolong jangan minta untuk berpisah,” Fandi memohon hingga bersimpuh.

Rima tak kuasa menahan air matanya melihat ketulusan Fandi. Ia mengajak Fandi berdiri.

“Mas, aku gak sanggup hidup dalam kebohongan. Aku merasa menjadi orang yang munafik. Aku mengkhianati kakakku sendiri. Tolong, Mas. Lepaskan aku,” pinta Rima.

Fandi mengusap air mata di pipi istrinya.

“Aku tahu ini berat untuk kita. Aku mohon bertahanlah, sayang. Aku mencintai kamu lebih dari apapun. Aku hanya mengasihani Alda. Terlebih lagi, dia telah mendonorkan ginjalnya untukku. Tapi, aku janji akan menperjuangkan cinta kita, sayang,”

“Seandainya kamu tahu pendonor ginjal itu adalah aku. Kamu gak boleh tahu, Mas. Kamu akan semakin bersikeras meninggalkan Kak Alda. Dia akan hancur jika kamu meninggalkannya. Aku rela melepaskan cinta kita demi membalas budi baik dari Kak Alda dan ibunya. Mereka berdua adalah malaikat tanpa sayap yang mau menerima anak seorang pelakor,” gumam Rima dalam hati.

Malam itu berakhir tanpa kepastian. Fandi masih tetap pada pendiriannya. Rima masih berada dalam dilema berkepanjangan. Tak ada hasrat seperti sebelumnya. Fandi menghargai kondisi Rima.

**

Paginya, mereka bertiga terbang ke Singapore. Selama perjalanan, Alda terlihat sangat bahagia. Ia selalu bergelayut manja di lengan Fandi. Bahkan, Alda meminta Fandi untuk menggendongnya.

“Rima, tolong bawakan barang-barang ya. Kakak lebih nyaman digendong sama Mas Fandi. Kami mau makan dulu di restoran ujung sana. Kamu tunggu bagasinya dulu,” pinta Alda.

“Baik, Kak,” sahut Rima pasrah.

 “Kita pergi bareng saja ke restoran. Lagi pula proses bagasi gak makan waktu lama,” ujar Fandi.

“Aku sudah sangat lapar, sayang. Gak bisa ditunda. Aku harus minum obat,” ucap Alda dengan senyum tipis.

“Gak apa-apa, Mas. Kalian duluan saja. Kasihan Kak Alda. Nanti aku menyusul.”

Dengan berat hati, Fandi menuruti permintaan Alda. Sedangkan Rima berusaha fokus pada layar. Ia sangat tahu sifat Alda. Meski Alda sangat perhatian namun ia memiliki ego yang tinggi.

“Kamu harus ingat, Rima. Kelumpuhan yang aku alami semuanya karena kesalahan kamu,” ucapan Alda selalu menghantui Rima.

Alda rela berkorban untuk Rima namun ia juga akan meminta timbal balik dengan nilai yang menurutnya sepadan di kemudian hari.

“Rima kok lama ya? Alda, sepertinya aku harus menyusul Rima. Ia pasti kerepotan membawa tiga koper sekaligus,” ujar Fandi.

“Mas, sebenarnya siapa istri kamu? Aku atau Rima?” tanya Alda spontan.

Fandi terkesiap, wajahnya tampak gugup.

“Kamu itu kenapa sih, Al? Pertanyaan konyol macam apa ini? Aku hanya gak tega sama Rima.”

“Aku bercanda, sayang. Kamu kok kelihatan gugup sih?” goda Alda terkekeh.

Fandi tampak lega mendengarnya. Namun, mimik wajahnya berubah ketika Rima datang bersama seorang pria muda yang tampan. Mereka tampak akrab bahkan tertawa bersama.

“Mas, kenapa? Kamu marah?” tanya Alda menatap lekat wajah Fandi yang terlihat kesal.

“Alda, kamu kenal pria itu?” tanya Fandi tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun.

Alda menoleh ke arah tatapan Fandi.

“Riko?”

“Riko!” panggil Alda melambaikan tangan dengan senyum lebar.

Pria tampan itu menoleh lalu kian mendekat. Rima tersenyum lebar ada di dekatnya. Fandi terbakar cemburu.

“Kak Alda, apa kabar?” tanya Riko menyalami Alda dengan sopan.

“Aku? Ya seperti yang kamu lihat,” ujar Alda berusaha tegar.

Riko mengungkapkan rasa prihatinnya atas apa yang terjadi pada Alda juga meminta maaf karena tak bisa hadir ke pesta pernikahan Alda.

“Mas, kenalin ini Riko. Ia sahabat kecilnya Rima. Dulu mereka itu sampai dikira anak kembar saat sekolah. Karena tanggal lahir mereka sama juga nama yang hampir mirip. Riko, kenalin ini suami aku, Mas Fandi.”

“Halo, Mas Fandi. Saya Riko,” Riko mengulurkan tangannya.

“Fandi,” Fandi menjabat tangan Riko dengan wajah dingin.

Alda mengajak Riko untuk makan bersama. Sikap manis Riko terhadap Rima membuat Fandi kesal.

“Ri, makan yang ini saja,” Riko memberikan piring berisi steak yang sudah ia potong kepada Rima.

Rima ingin menolaknya demi menghargai suaminya namun tak ada alasan yang tepat untuk menolak.

“Terima kasih, Rik.”

Alda tersenyum lebar melihat interaksi manis Riko dan Rima.

“Riko, jangan dimakan. Aku lupa bilang kalau makanan kamu jangan pakai saus tiram. Aku pesan lagi ya,” ujar Rima segera beranjak.

“Rima perhatian sekali sama Riko?” gerutu Fandi.

Riko tertegun, delapan tahun  berlalu rupanya Rima masih mengingat hal kecil tentangnya. Bahkan soal alergi Riko.

“Terima kasih, Ri,” ujar Riko tersipu malu.

“Kalian masih semanis ini? Kenapa gak nikah saja?” goda Alda.

Mendengar ucapan Alda, Fandi tersedak.

“Mas, kamu kenapa? Ini minum dulu,” Alda menyodorkan segelas air putih.

Fandi meminumnya segera.

“Aku izin ke toilet dulu,” Fandi beranjak.

“Rima, ikut aku!” Fandi menarik tangan Rima ke tempat yang lebih sepi.

Fandi protes dengan interaksi manis Rima bersama pria lain.

“Aku itu suami kamu. Bukankah seharusnya kamu menghargai aku?” protes Fandi.

“Ya sudah, kamu talak saja aku sekarang!” tantang Rima.

“Talak? Jadi, pernikahan itu hanya mainan di matamu?” tanya Fandi dengan senyum getir.

“Cukup, Mas! Lebih baik kita kembali ke sana. Kak Alda pasti menunggu,” Rima melangkah pergi. Ia enggan untuk berdebat dengan suaminya.

“Jaga sikapmu! Atau aku akan ungkap pernikahan kita,” ancam Fandi sebelum pergi.

Rima tertegun melihat sikap ketus suaminya. Ia sadar kalau Fandi cemburu sama sepertinya ketika melihat perhatian Fandi terhadap Alda.

“Rima!” panggil Riko yang tiba-tuba muncul dari balik tembok.

“Riko? Sejak kapan ia di sana?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • AKU ISTRI PERTAMA TETAPI AKULAH GUNDIKNYA   RUANG ISOLASI

    “Suster. Dokter, keluarkan saya dari sini! Saya tidak menyerang Alda. Dia melukai dirinya sendiri!” teriak Rima histeris.Fandi segera mendatangi Rima yang kini berada di ruang isolasi.“Jangan ikat tangan istri saya, suster!” larang Fandi.“Dokter, apakah harus sampai seperti ini? Biarkan saya menenangkan dia,” pinta Fandi yang tak tega melihat kondisi Rima.“Kami mohon maaf, Pak Fandi. Kondisi psikis pasien tidak stabil. Kami terpaksa mengikat tangannya untuk sementara waktu dan menyuntikkan obat penenang. Kami khawatir pasien juga akan menyakiti dirinya sendiri,” ungkap Dokter Salsa.Suara tangisan Rima perlahan lirih lalu menghilang. Rima tertidur akibat pengaruh obat penenang. Fandi hanya bisa menatap iba kondisi Rima dari atas kursi roda.“Mas,” panggil Alda.Fandi menoleh lalu menghampiri Alda.“Tanganmu bagaimana, Al?” tanya Fandi dengan perasaan bersalah.“Lukanya cukup dalam sehingga harus dijahit, Mas,” Alda menunjukkan lengan kirinya yang kini terbalut perban.“Alda, aku m

  • AKU ISTRI PERTAMA TETAPI AKULAH GUNDIKNYA   LUKISAN BARA

    Fandi tak henti-hentinya berdoa sambil menggenggam tangan Rima. Ia berharap, istrinya bisa segera pulih.“Aku mohon, Rima. Pulihlah demi aku,” Fandi mengusap air matanya.Tangan Rima bergerak, matanya mulai terbuka perlahan.“Anakku! Dimana anakku?” tanya Rima dengan wajah gelisah.“Sayang, tenanglah! Ada aku di sini,” Fandi memeluk Rima.“Mas, anak kita di mana?” tanya Rima.“Aku harus jawab apa? Rima belum bisa menerima kepergian anak kami.”“Anak kita masih di ruang perawatan intensive, sayang. Kondisinya belum stabil,” Fandi mengusap lembut pelupuk kepala Rima.“Anak kita masih hidup ‘kan, Mas? Aku bermimpi dia meninggal setelah dilahirkan,” ucap Rima mulai tenang.“Jadi, kondisi psikis Rima semakin buruk? Ia berhalusinasi soal anaknya?” Alda terpaku di depan pintu dengan senyum sinis.“Mas, sebaiknya kamu juga dirawat. Pak Jono bilang lukamu harus segera diberi pengobatan. Biar aku dan suster yang membantu Rima,” Alda menepuk lengan suaminya.“Mas, kamu sakit? Kaki kamu kenapa?”

  • AKU ISTRI PERTAMA TETAPI AKULAH GUNDIKNYA   KARMA PELAKOR

    Enam tahun yang lalu.“Alda! Apa yang kamu lakukan? Semua data untuk skripsi itu milikku, Al,” Cika terlihat sangat kecewa.“Milik kamu? Bukankah kamu sendiri yang bilang bahwa kita adalah sahabat sejati. Kamu juga bilang apapun yang kamu miliki aku juga dapat memilikinya. Jadi, tidak ada salahnya bukan untuk berbagi?” ujar Alda dengan tawa sinis.“Al, kita memang bersahabat. Tapi, perbuatanmu ini merupakan pelanggaran. Aku sudah membantumu sebisaku. Kembalikan flashdisk itu!” pinta Cika dengan wajah sedih.“Kamu picik, Cika. Kamu ingin mengalahkanku. Kamu ingin menjadi nomor satu. Skripsi milikmu lebih disukai. Jika kamu ingin flashdisk ini, ambilah!” Alda melempar flashdisk merah milik Cika ke tengah jalan.Flashdisk merah milik Cika terlindas mobil hingga hancur.“Kamu jahat, Al!” teriak Cika.“Oops, aku lupa memberi tahu kamu kalau semua data skripsi itu telah diubah menjadi namaku. Lebih baik kau buat lagi yang baru dengan otak cerdasmu itu, sahabatku!” ujar Alda lalu pergi menin

  • AKU ISTRI PERTAMA TETAPI AKULAH GUNDIKNYA   RAHASIA BESAR BU AMARA

    Dua hari berlalu, Rima belum juga siuman. Fandi juga masih menjalani perawatan di rumah sakit.“Mas, sebenarnya ada sesuatu yang buruk terjadi pada Rima dan bayinya,” ucap Alda dengan suara lirih.“A-apa maksudmu, Al? Ada apa?” tanya Fandi khawatir.‎"Rima sudah melahirkan dua hari yang lalu tapi bayinya meninggal. Rima belum sadarkan diri setelah mengalami pendarahan," ungkap Alda."Kenapa kamu baru bilang sekarang? Apa yang kamu pikirkan?" Fandi terdengar sangat marah.‎"Aku baru mengetahuinya setelah mendapat kabar kamu kecelakaan. Aku ga kepikiran," ujar Alda dengan suara bergetar."Alda, ini bukan hal yang sepele. Seharusnya kamu harus lebih tahu. Aku akan kembali ke Jakarta secepatnya," Fandi menutup panggilan telepon.‎"Mas. Mas!" Teriak Alda.‎Fandi bergegas menemui dokter dan memaksa pulang.‎"Pak Fandi, kondisi kaki bapak belum memungkinkan digunakan untuk perjalanan jauh. Butuh waktu minimal satu bulan agar kondisi kaki kanan Pak Fandi jauh lebih baik. Luka operasi masih ba

  • AKU ISTRI PERTAMA TETAPI AKULAH GUNDIKNYA   DENDAM BARLI

    POV. Cinta bertepuk sebelah tangan“Rima, maukah kamu jadi pacarku?” tanya Bara sambil menyodorkan satu tangkai bunga mawar.Rima tercengang melihat sikap murid paling pendiam di kelasnya. Ia tak menyangka Bara menyatakan cinta.“M-maaf, Bara. Aku gak bisa!” Rima berlari meninggalkan Bara yang masih bersimpuh.Wajah Rima sangat merah karena malu.“Ri, tolong kasih tahu aku alasannya!” Bara menahan lengan Rima.“Maaf, Bara. Aku gak punya perasaan lebih sama kamu. Aku hanya menganggap kamu sebagai teman,” jawab Rima.“Bohong! Gak mungkin lo gak punya perasaan apapun sama gue! Lo selalu baik sama gue dan di antara semua anak di kelas cuma lo yang peduli sama gue!” Bara menatap tajam mata Rima.“Aku gak bohong, Bara. Bagiku kamu dan yang lainnya adalah teman. Aku gak merasa memperlakukan kamu secara spesial. Maaf kalau aku membuat kamu salah paham,” ujar Rima dengan mata sendu.Bara pergi meninggalkan Rima dengan perasaan marah dan terhina. Ia mengemudikan sepeda motornya dengan kecepatan

  • AKU ISTRI PERTAMA TETAPI AKULAH GUNDIKNYA   HUBUNGAN GELAP

    “Nyonya Rima mau kemana? Biar saya antar,” ujar Pak Ujang supir baru yang dipekerjakan oleh Fandi.“Saya ada urusan di luar kota, Pak. Tolong rahasiakan dari suami saya,” Rima memberikan sebuah amplop yang cukup tebal ke tangan Pak Ujang. “Uang ini bisa untuk biaya pengobatan putra bapak, ya.”Rima melaju dengan mobil miliknya. Ia pergi ke rumah lama di kaki gunung. Sesekali ia mengusap perut buncitnya.“Kita bekerja sama ya, sayang. Mama melakukan ini demi sebuah kebenaran tentang asal usul kita. Mama akan hapus julukan buruk untuk kamu.”Di sisi lain, Fandi kehilangan ponselnya. “Sial, ponselku terjatuh di kubangan lumpur tadi. Mau tidak mau aku harus membeli ponsel baru.”“Pak Fandi, silakan beristirahat lebih dulu. Wajah Pak Fandi tampak kurang sehat. Saya lihat juga tadi ponsel Pak Fandi jatuh ke dalam lumpur didekat sumur?” ujar Pak Joni mandor senior di sana.“Iya, Pak. Sepertinya ponsel saya tidak bisa diselamatkan. Di sini, ada mall atau toko ponsel terdekat? Perasaan saya ga

  • AKU ISTRI PERTAMA TETAPI AKULAH GUNDIKNYA   COKELAT PANAS

    “Sayang, aku ingin bertanya. Apakah boleh?” Fandi menatap lekat mata Rima yang sendu.“Tanya apa, Mas?” Rima tampak canggung.Fandi menyeka helaian rambut di pelipis istrinya dengan lembut. “Apakah kamu mencintaiku?”Rima terkesiap lalu mengalihkan pandangannya. “Kenapa kamu bertanya seperti ini, Ma

  • AKU ISTRI PERTAMA TETAPI AKULAH GUNDIKNYA   KESEPAKATAN

    POV. Fandi meminta penjelasan Rima tentang donor ginjal.“Sayang, aku minta maaf,” Fandi menciumi telapak tangan Rima dengan air mata yang mulai membasahi pipi.“Mas, jangan begini. Kamu kenapa? Minta maaf untuk apa?” tanya Rima dengan suara lirih.“Aku sudah tahu semuanya soal donor ginjal itu. Men

  • AKU ISTRI PERTAMA TETAPI AKULAH GUNDIKNYA   SATU GINJAL

    “Influencer berinisial “R” yang dijuluki si Malaikat mengalami kecelakaan tunggal dan menabrak sebuah warung. Menurut hasil penyelidikan sementara, kecelakaan terjadi diduga karena mabuk,” Alda tersenyum lebar membaca berita di sosial media.“Akhirnya, si malaikat itu tumbang juga? Ini balasannya un

  • AKU ISTRI PERTAMA TETAPI AKULAH GUNDIKNYA   ORANG DARI MASA LALU

    “Ri, bagaimana kabar kamu? Apa semuanya baik-baik saja?” tanya Riko dalam pesan singkat.“Sejauh ini semuanya baik. Kak Alda jauh lebih tenang dari yang ku kira. Aku semakin merasa bersalah, Rik,” balas Rima.“Maksudmu, Kak Alda bersedia menjalani pernikahan poligami ini?” tanya Riko.“Tidak, Riko.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status