เข้าสู่ระบบPERNIKAHAN RESMI
Alda sudah diperbolehkan pulang sejak satu minggu lalu. Kini, ia tengah disibukkan dengan persiapan pernikahannya minggu depan. Gaun pengantin yang sudah dipersiapkan jauh-jauh hari begitu menyayat hatinya.
“Kak, gaun pengantinnya cantik sekali. Aku gak sabar melihat kakak mengenakannya. Kakakku pasti akan menjadi pengantin tercantik di dunia,” ujar Rima dengan senyum sumringah.
“Pengantin lumpuh tercantik maksudmu?” ujar Alda tersenyum getir.
Rima tertegun melihat wajah Alda yang murung.
“Kak, maafkan aku. Seandainya, malam itu Rima bisa lebih berani. Kecelakaan itu gak akan terjadi,” Rima tertunduk dengan bulir-bulir bening yang mulai jatuh ke lantai.
Bayangan ketika kecelakaan itu terjadi masih tampak jelas dalam ingatan.
POV. Saat kecelakaan terjadi.
“Kak, aku takut. Ada orang aneh yang tampak mencurigakan. Tolong Rima, Kak,” Rima mengirim pesan dengan tangan gemetar.
Tubuhnya bersembunyi di antara tumpukan barang sebuah gudang tua. Jam tangan menunjukkan waktu jam 8 malam namun suasana kala itu sangat sepi karena hujan sejak pagi.
“Kak Alda, tolong cepat datang,” ucapnya dalam hati.
“Krek,” suara botol kosong yang terinjak semakin membuat Rima ketakutan setengah mati.
Sosok pria dewasa memakai hoodie hitam menatapnya tajam dibawah lampu temaram. Rima berlari sekuat tenaga hingga tidak sadar ponselnya jatuh. Pria misterius tadi mengejar Rima.
“Rima,” panggil seorang pria dengan suara familier yang berdiri di depan Rima.
“Mas Fandi,” Rima segera memeluk pria tadi dengan tangan gemetar.
Pria tadi langsung berbelok ketika melihat keberadaan Fandi.
“Woy, siapa lo!” teriak Fandi.
Fandi ingin mengejar pria tadi namun ia mengurungkan niatnya karena melihat kondisi Rima yang masih ketakutan. Wajah pucat, tangan gemetar, serta tubuhnya tampak lemas.
“Semuanya sudah aman, Rima. Ada aku di sini,” bisik Fandi sambil menepuk lembut punggung Rima.
“Mas tahu dari mana aku di sini?” tanya Rima ketika mereka sudah berada di dalam mobil.
“Kebetulan, aku ada meeting di dekat sini. Aku gak sengaja dengar percakapan kamu dan Alda pagi tadi. Kenapa kamu sendirian di sini sampai selarut ini?” tanya Fandi.
“Kak Alda!” Rima segera mengambil ponselnya untuk menghubungi kakaknya.
“Kenapa, Rima?” tanya Fandi.
“Handphone aku gak ada. Kayaknya jatuh saat aku lari tadi, Mas.”
“Tadi, katamu Kak Alda? Ada apa dengan dia?” tanya Fandi.
“Enggak apa-apa, Mas. Sebaiknya kita kembali ke tempat tadi. Aku mau cari handphoneku. Kak Alda juga pasti sudah sampai. Karena yang memintaku untuk menunggu di sana adalah Kak Alda.”
“Alda? Untuk apa dia menyuruh Rima menunggu di ruko terbengkalai?” gumam Fandi dalam hati.
Fandi memutar balik mobilnya. Di ruko sepi tadi, dia melihat mobil Alda terparkir. Fandi dan Rima turun menghampiri mobil milik Alda namun tak mendapati pemiliknya di sana.
“Kak Alda!” panggil Rima dengan suara sedikit berteriak.
“Alda!” panggil Fandi dengan suara yang cukup keras.
Keduanya khawatir dengan keselamatan Alda. Tiba-tiba, Alda berlari kencang dengan wajah ketakutan dan akhirnya terjatuh menabrak sebuah batu besar. Kakinya terluka parah. Ia tergeletak tak berdaya sambil menggenggam ponsel milik Rima di tangannya. Fandi dan Rima segera membawanya ke rumah sakit.
“Kedua kaki pasien patah, jika dilihat dari hasil rongent. Pasien akan mengalami kelumpuhan sementara karena luka di tulangnya cukup serius,” ujar dokter yang menangani Alda.
Sejak hari itu, Rima menyalahkan dirinya atas musibah yang menimpa sang kakak.
**
“Kak, seandainya saja aku bisa menukar kakiku dengan kakimu pasti akan ku lakukan,” ucap Rima dengan wajah sendu.
Alda tersenyum tipis. “Tapi sayangnya itu semua mustahil. Kira-kira apa yang akan kamu lakukan untuk menebus semua ini?”
“Apapun, Kak. Aku akan lakukan apapun permintaan kakak,” ujar Rima dengan tulus.
“Kamu yakin?” tanya Alda menatap lekat mata adiknya.
Rima mengangguk.
“Aku ingin kamu tinggal bersama aku dan Fandi setelah kami menikah,” pinta Alda.
Rima terdiam sebelum menjawabnya.
“Bagaimana mungkin, aku tinggal di rumah yang sama dengan suamiku dan istri sah ya? Tapi, aku tak mungkin menolak permintaan Kak Alda. Aku tidak bisa menolak permintaan orang yang telah berjasa besar dalam hidupku. Pernikahanku dengan Mas Fandi hanyalah syarat yang harus ku lakukan demi berlangsungnya pernikahan ini. Setelah mereka menikah, aku akan meminta cerai,” gumam Rima dalam hati.
“Iya, Kak. Aku setuju,” jawab Rima.
“Rima, kamu terlalu naif. Ternyata, cara yang selama ini diajarkan almarhumah mama memang ajaib. Aku bisa mengendalikan hidup Rima sepenuhnya tanpa membuatnya terbebani,” gumam Alda dalam hati.
**
Pernikahan Alda dan Fandi digelar secara meriah. Dekorasi mewah, gaun pengantin cantik, juga dihadiri banyak sahabat dan rekan bisnis Fandi. Rima turut bahagia melihat sang kakak menikah. Namun, ada rasa sedih mengingat kenyataan yang ada. Pernikahannya dengan Fandi hanyalah pernikahan rahasia. Pernikahan sementara yang bisa berakhir kapan saja.
“Rima, ayo foto bersama,” ajak Alda antusias.
Rima dan Fandi berdiri setengah duduk untuk menyamakan posisi Alda di kursi roda. Fandi menggenggam erat tangan Rima di belakang Alda seolah ingin menyiratkan bahwa meski ia menikahi Alda tapi hatinya hanya untuk Rima. Alda tersenyum lebar di depan kamera tanpa tahu di belakangnya ada dua tangan yang saling menggenggam atas nama cinta dibalut kebohongan.
“Rima, kamar kamu ada di samping kamar kami, ya. Semua keperluan kamu sudah kami siapkan,” ujar Alda.
“Di samping? Bukankah kamu bilang kamar Rima di seberang kamar kita?” tanya Fandi.
“Ya kenapa, Mas? Aku butuh Rima ada di dekatku. Kamu tahu juga kaki aku masih lumpuh. Oh, aku paham. Kamu pasti malu ya sama Rima?” ujar Alda dengan senyum sumringah.
“M-malu kenapa?” tanya Fandi tergagap.
“Ya, malu kalau Rima dengar aktivitas malam kita,” goda Alda terkekeh sambil bergelayut manja di lengan suaminya.
Wajah Fandi seketika merah begitu pula Rima. Bayangan malam panas keduanya sekilas terputar dalam benak masing-masing.
“Mana mungkin aku bisa membiarkan istri pertamaku tidur di kamar sebelah?” gumam Fandi dalam hati.
Rima mulai tak tahan membayangkan malam panas itu dilakukan suaminya dengan wanita lain meskipun wanita itu adalah kakaknya sendiri.
“Kak, aku ke kamar dulu ya. Kalau butuh sesuatu kakak bisa panggil aku. Permisi,” pamit Rima.
Fandi menatap Rima dengan tatapan sendu. Ia sangat tahu Rima merasa tidak nyaman. Fandi mulai memutar otak bagaimana caranya berlaku adil terhadap Rima dan Alda.
“Maafkan aku, Rima. Aku juga tak ingin pernikahan ini terjadi. Alda telah mengorbankan satu ginjalnya untukku. Hal itu juga yang membuatku tetap menikahinya. Bukan hanya karena kita. Maafkan aku yang terlalu serakah,” gumam Fandi dalam hati.
Di dalam kamarnya, Rima hanya bisa terduduk lemas di balik pintu. Ia merasa telah kehilangan jati dirinya. Pernikahannya dengan Fandi yang semula hanya menjadi syarat kini justru mem bawanya tenggelam bersama harapan semu.
“Mengapa aku harus sedih dan merasa terluka? Bukankah aku yang jahat? Aku menikahi calon suami kakakku. Kak Alda terlalu baik untuk dikhianati.”
Ponsel Rima bergetar tanda pesan masuk. Nama Fandi ada di layar.
“Maafkan aku, sayang. Aku akan usahakan kamu pindah di kamar lain. Bukan di kamar sebelah,” isi pesan Fandi.
“Aku gak apa-apa, Mas. Kamu fokus saja ke Kak Alda,” balas Rima.
Saat makan malam, Alda memberi sebuah kejutan untuk Fandi.
“Bulan madu? Alda, bukannya aku gak mau. Tapi, kondisi kamu masih belum memungkinkan. Apa gak sebaiknya kita tunda untuk sementara waktu?” tanya Fandi.
“Apa masalahnya sayang? Kamu sendiri yang bilang setelah menikah kita langsung bulan madu. Katanya kamu mau punya banyak anak dari aku?” sahut Alda dengan senyum lebar.
Rima seketika tersedak mendengar ucapan Alda. Fandi yang ada di hadapannya segera menyodorkan segelas air putih.
“Kamu gak apa-apa?” tanya Fandi dengan wajah cemas.
Rima mengangguk pelan sambil terbatuk. Alda melihat interasksi keduanya dengan wajah bingung.
“Mas Fandi perhatian banget sama Rima,” gumam Alda dalam hati.
“Maafkan aku, Rima,” gumam Fandi dalam hati.
Alda meletakkan tiga buah tiket pesawat ke atas meja. Besok pagi kita terbang ke Singapore.
“Tiga tiket?” mata Rima seketika membulat. Ia semakin dilema.
“Bagaimana mungkin aku berada di sana? Aku harus menyaksikan suamiku menikmati momen bulan madu bersama istrinya yang lain? Aku harus segera mengakhirinya.”
“Kak, maaf aku gak bisa ikut. Aku gak mungkin ikut kalian bulan madu,” ujar Rima berusaha tetap tersenyum.
“Iya, Alda. Rima gak mungkin ikut. Ia pasti canggung,” ujar Fandi menimpali.
“Kalian kenapa sih? Aku perhatikan sejak kepulangan kalian dari dinas luar kota. Aku merasa ada yang berbeda. Ada rahasia apa yang kalian sembunyikan?” tanya Alda dengan tatapan curiga.
**
“M-maaf, Al. Ini salah,” Hary menahan tangan Alda lalu mengancing kembali kemejanya. Ia pergi ke kamar mandi untuk menenangkan diri.Alda berdecak kesal sambil mengacak rambutnya. Ia merasa dipermalukan.“Suster Ulfa, jemput saya di Apartemen Lavender Gedung A lantai 17 kamar 09!”“Baik, Bu. Saya akan segera kesana!”Hary mencuci wajahnya lalu bercermin. “Kau sangat bodoh, Hary! Bisa-bisanya kau lupa apa tujuanmu! Kau harus ingat betapa jahat dan manipulatifnya dia. Di balik sikap manisnya, pasti ada sesuatu yang ia inginkan.”Ponsel Hary yang ada di atas meja bergetar.“Cintaku?” Alda melihat layar ponsel Hary yang kini ada tangannya lalu menekan tanda hijau. Ia meletakkannya di atas meja.“Sayang,” ujar Olin dalam panggilan telepon.“Kak Hary, kamu belum selesai mandi?” Alde dengan sengaja mengeraskan suaranya.“Lima menit lagi aku selesai, Al,” sahut Hary.“Jangan lama-lama ya, Kak. Aku takut sendirian,” ujar Alda.“Al? Siapa yang dimaksud Hary? Apa mungkin Alda melakukan syuting d
“Sayang, aku ingin bertanya. Apakah boleh?” Fandi menatap lekat mata Rima yang sendu.“Tanya apa, Mas?” Rima tampak canggung.Fandi menyeka helaian rambut di pelipis istrinya dengan lembut. “Apakah kamu mencintaiku?”Rima terkesiap lalu mengalihkan pandangannya. “Kenapa kamu bertanya seperti ini, Mas?”Fandi tersenyum melihat wajah Rima yang tersipu. Ia mengangkat dagu istrinya. “Aku hanya ingin tahu karena aku belum pernah mendengarmu mengatakannya. Kamu selalu menghindari kontak mata denganku. Apakah aku memiliki salah?”Rima masih terpaku.“Apakah pertanyaan ini terlalu sulit untuk dijawab?” Fandi menggenggam tangan Rima lalu mengusapnya dengan lembut.“Aku mencintaimu, Mas. Sejak pertama kali bertemu hingga saat ini. Aku tak sanggup menatapmu, jantungku masih berdebar kencang ketika mata kita bertemu,” jawab Rima dengan suara lirih.Fandi memeluk Rima dengan senyum lebar. “Terima kasih, sayang. Mendengarnya saja aku sudah sangat bahagia. Lalu kenapa kamu seolah menghindari kontak m
“Mas, kasihan lho Rima belum makan. Dia nunggu kamu di meja makan. Kamu bete begini karena kedatangan Riko?” tanya Alda.“Ya jelas aku kesal. Rima menerima tamu laki-laki ketika suaminya sedang tidak di rumah,” ungkap Fandi dengan wajah cemberut.Rima yang berada di balik pintu terpaku mendengar ucapan Fandi. Ia ingin menjelaskannya namun ia tahu kakaknya pasti kesal. Alda sangat mengharamkan Rima masuk ke dalam kamar di saat ada Fandi di sana.“Non, ayo dimakan makanannya nanti sup nya dingin,” ujar Suster Ida.“Iya, Sus. Saya akan makan sekarang,” sahut Rima.“Jadi, Mas Fandi benar-benar cemburu? Ternyata dia memang lebih mencintai Rima daripada aku. Dia gak pernah bersikap seperti ini,” gumam Alda dalam hati.“Menurutku Riko datang hanya sekedar berkunjung, Mas. Aku dengar dia akan kembali menetap di tanah air. Mungkin dia rindu pada sahabatnya. Ya memang perhatian Riko terhadap Rima memang selalu berlebihan. Kamu bisa lihat sendiri berapa banyak bingkisan yang dibawa Riko,” ujar A
“Selamat ya, Kak. Aku gak nyangka salah satu mimpi kita saat remaja bisa terwujud. Kita hamil bareng,” ujar Rima dengan senyum sumringah.Alda tertawa kecil. “Iya, mimpi kita terkabul. Tapi sepertinya kita lupa berdoa agar waktunya saja yang sama. Bukan suaminya,” sindir Alda.Tawa Rima perlahan memudar mendengar sindiran sang kakak.“Cukup, Al!” ujar Fandi.“Iya, sayang. Aku bercanda kok. Kamu gak perlu marah, sayang. Aku juga lagi hamil lho. Bukan hanya Rima,” ujar Alda dengan sisa tawanya.“Permisi,” terdengar suara dari balik pintu.“Ada tamu, Mas. Aku lihat dulu ya,” ujar Rima.“Biar aku saja, sayang,” Fandi menahan tangan Rima.Ada dua orang perempuan berusia sekitar 35 tahunan , satu orang perempuan berusia 45 tahun, dan satu orang laki-laki berusia 40 tahunan masuk bersama Fandi.“Mereka semua akan bekerja disini mulai hari ini. Suster Ida akan bertanggung jawab menjaga Rima, Suster Ulfa akan bertanggunh jawab menjaga Alda. Mbak Titi akan bertanggung jawab sebagai asisten ruma
POV. Fandi meminta penjelasan Rima tentang donor ginjal.“Sayang, aku minta maaf,” Fandi menciumi telapak tangan Rima dengan air mata yang mulai membasahi pipi.“Mas, jangan begini. Kamu kenapa? Minta maaf untuk apa?” tanya Rima dengan suara lirih.“Aku sudah tahu semuanya soal donor ginjal itu. Mengapa kamu gak pernah bilang yang sebenarnya? Kamu adalah pendonor ginjal itu bukan Alda!” ucap Fandi dengan tatapan sendu.“Mas Fandi tahu semuanya? Bagaimana ini?”“Mas, ini semua murni keinginanku. Aku yang meminta Kak Alda untuk merahasiakannya. Tolong jangan salahkan Kak Alda,” pinta Rima memelas.“Kamu tahu kenapa aku masih mempertahankan pernikahanku dengan Alda? Itu karena aku merasa berhutang budi atas ginjal yang ia donorkan!” ungkap Fandi.“Aku minta maaf, Mas. Aku hanya tidak ingin Kak Alda semakin menderita. Ia sangat mencintai kamu, Mas. Tolong jangan campakkan Kak Alda,” pinta Rima memohon.“Lantas kamu? Apakah kamu tidak mencintai aku? Apakah kamu tidak ingin hidup bahagia ber
“Influencer berinisial “R” yang dijuluki si Malaikat mengalami kecelakaan tunggal dan menabrak sebuah warung. Menurut hasil penyelidikan sementara, kecelakaan terjadi diduga karena mabuk,” Alda tersenyum lebar membaca berita di sosial media.“Akhirnya, si malaikat itu tumbang juga? Ini balasannya untuk kamu Rosa. Si cupu berkacamata tebal yang ingin berubah jadi princess dan merebut reputasiku?”Alda mengingat bagaimana persahabatannya dengan Rosa semasa sekolah. Tak ada satupun orang yang mau berteman dengan Rosa karena dianggap gadis terjelek di sekolah. Gaya pakaian kuno, rambut kepang dua, dan kacamata tebal. Alda yang merupakan siswi paling cantik dianggap layaknya malaikat tanpa sayap.“Mulai sekarang, siapapun yang mengganggu Rosa akan berurusan sama Alda! Kalian semua paham?” ujar Alda dengan suara lantang.Hari itu mereka bersahabat. Rosa menganggap Alda adalah dewi penyelamatnya. Tapi, semuanya berubah ketika Rosa memutuskan untuk mengubah penampilan menjadi lebih cantik deng







