LOGIN
"Saya terima nikah dan kawinnya Rima Kania Putri dengan mas kawin tersebut. Tunai," suara lantang Fandi memecah keheningan.
"Sah," sahut dua orang saksi dan penghulu yang ada dalam ruangan apartemen.
Air mata Rima menetes ketika penghulu mulai membaca doa usai ijab qobul. Rasa bahagia, sedih, juga bersalah membaur jadi satu. Bahagia karena dinikahi oleh lelaki yang sangat dicintainya. Sedih karena pernikahan ini dilaksanakan secara siri, tanpa tamu undangan ataupun dekorasi.
"Maafkan Rima, Kak Alda," ucapnya dalam hati.
Dengan gemetar, Rima meraih tangan Fandi lalu mengecupnya. Fandi mengusap lembut pelupuk kepala istrinya seraya berdoa. Iya berharap rumah tangganya dengan Rima bisa langgeng hingga maut memisahkan.
Namun, apakah mungkin rumah tangga yang diawali dengan kebohongan bisa berakhir bahagia?
Di sisi lain, Alda duduk di atas kursi roda sambil menatap foto prewedding dengan Fandi. Foto yang diambil bulan lalu. Dua hari sebelum kecelakaan yang membuat kaki Alda lumpuh.
"Kenapa semua ini terjadi padaku, Tuhan? Bagaimana aku akan menjalani peran sebagai istri?" Air mata Alda kembali membasahi pipi.
Sejak divonis lumpuh, Alda menjadi sosok yang lebih pendiam dan selalu murung. Bahkan, iya meminta Fandi agar membatalkan pernikahan mereka. Namun, Fandi menolaknya.
"Apapun yang terjadi, aku tidak akan pernah meninggalkanmu, sayang."
Rima, satu-satunya keluarga yang dimiliki Alda juga terus meyakinkannya.
"Kak, kamu adalah orang yang hebat dan kuat. Kamu segalanya bagiku. Aku yakin jauh di lubuk hatimu yang terdalam, kamu tak mau membatalkan pernikahan ini. Kamu sangat mencintai Kak Fandi."
Afirmasi-afirmasi dari dua orang yang paling berharga dalam hidupnya seolah menjadi semangat untuk Rima tetap tabah menerima takdir. Tanpa dia tahu. Hari ini, dua orang yang sangat ia percaya telah berbohong dengan alasan berbeda.
"Bibi, hari ini menginap saja ya. Saya sendirian di rumah. Rima sedang ada penelitian untuk skripsi di Bandung," pinta Alda pada Bi Imah yang bekerja sebagai ART paruh waktu di rumah.
"Baik, Non. Den Fandi juga tadi bilang katanya ada dinas luar kota ya? Berangkatnya bareng sama Non Rima," sahut Bi Imah.
"Iya, Bi. Tadi saya minta Mas Fandi antar Rima ke tempat penelitian. Biasanya saya yang antar Rima kemanapun saat sehat. Jadi, saya khawatir kalau ia pergi sendirian," Alda tersenyum getir.
Bi Imah menatapnya iba.
"Bibi kagum sama Non Alda. Jarang lho ada kakak sebaik Non Alda. Non Rima sangat beruntung memiliki kakak sebaik Non Alda."
"Enggak kok, Bi. Saya hanya melakukan tugas sebagai seorang kakak. Apalagi, almarhumah ibu berpesan agar saya dan Rima harus saling menjaga satu sama lain. Ayah juga telah meninggal dunia tiga bulan setelah ibu pergi. Kami hidup berdua sejak lulus SMA. Saya berjuang demi hidup kami berdua. Hanya Rima yang saya miliki. Saya sangat menyayanginya," Alda mengusap air matanya.
**
Fandi mendekati Rima yang berbaring dengan selimut rapat di tepi ranjang. Sejak kepulangan saksi dan penghulu dari apartemen miliknya. Rima membisu. Ia membersihkan diri dan tampak murung.
"Kamu marah?" tanya Fandi yang bersimpuh di bawah ranjang. Matanya menatap lekat wajah istrinya yang sendu.
Rima masih diam dan mengubah posisi tidurnya. Ia membelakangi suaminya. Tiba-tiba, Fandi memeluknya dari belakang. Rima terkesiap.
"Mas, tolong jangan lakukan ini. Ingat Kak Alda," Rima berusaha melepas pelukan Fandi.
"Kenapa? Aku ini suamimu, Rima. Lupakan Alda!" Fandi mengeratkan pelukannya.
"Mas, aku mohon lepaskan!" bentak Rima lalu beranjak. Fandi meraih tangannya lalu mengecup bibir Rima dengan paksa.
Rima berusaha menolaknya namun tubuhnya tak cukup kuat untuk melawan. Fandi melumat bibir Rima semakin intens. Perlahan, Rima menikmatinya. Air mata menetes tanpa bisa ia tahan. Logikanya sadar ini salah namun tubuhnya tak peduli. Terlalu lama, Rima menahan hasratnya. Delapan tahun ia hanya bisa menatap Fandi dari jauh. Kini, mereka telah sah dalam ikatan suci.
"Aku mencintai kamu, Rima," bisik Fandi sekilas lalu melanjutkan aksinya. Tangannya mulai bergerak perlahan ke bagian tubuh Rima yang kini lebih rileks.
Rima tak mampu lagi mengendalikan diri. Perutnya teras geli dengan gejolak hasrat yang kian membara. Akal sehatnya perlahan melayang. Tak ada lagi Alda di benaknya. Hanya ada dirinya dan Fandi, lelaki yang dulu merenggut ciuman pertamanya.
"Geli, Mas," Rima terkekeh ketika wajah Fandi kini tengah berada di salah satu gunung kembarnya.
Fandi makin bersemangat ketika melihat ekspresi wajah Rima yang kian menikmati kecupan-kecupannya hingga meninggalkan bekas merah sebagai tanda cinta. Kini, Fandi mulai menghisap gunung kembar Rima secara bergantian kayaknya seorang bayi yang kehausan. Rima beberapa kali mendesah sambil menjambak rambut Fandi karena tak tahan menahan gairahnya. Perlahan, Fandi mulai turun ke bawah.
Rima sempat malu membuka kakinya. Fandi menurunkan wajahnya perlahan diikuti kecupan-kecupan lembut untuk meyakinkan Rima. Tanpa perlawanan, Rima berhasil mengikuti permainan Fandi. Mereka melepaskan hasrat yang selama ini tertahan.
“Terima kasih, sayang,” bisik Fandi mesra.
“Cup,” kecupan manis kembali mendarat di leher jenjang istrinya.
“Kamu kenapa sayang?” tanya Fandi ketika melihat air mata Rima menetes perlahan.
“Mas, aku gak sanggup pulang ke Jakarta. Bagaimana bisa aku bersikap seolah taka da yang terjadi di depan Kak Alda?” ungkap Rima.
“Kalau kamu mau, aku bisa jujur sama Alda. Aku akan batalkan rencana pernikahan kami,” ujar Fandi.
Rima terbelalak. “Mas, jangan gila. Pernikahan kalian itu satu bulan lagi. Pernikahan kita terjadi juga atas syarat yang kamu ajukan.”
**
POV. Satu minggu lalu
“Rima, menikahlah denganku!” ucap Fandi dengan wajah serius.
Rima terpaku. “Mas, gak lucu bercandanya.”
“Aku sudah tahu semuanya. Kamu gadis di pos lima Gunung Lingga sepuluh tahun lalu. Gantungan kunci bunga matahari itu bukan milik Alda. Kamu juga gadis yang ku cumbu ketika kita sama-sama kedinginan malam itu,” Fandi menatap mata Rima secara lekat.
Rima terkesiap, tubuhnya hampir saja rubuh. Fandi menangkapnya dalam pelukan. Mata keduanya bertemu.
“Bagaimana bisa, rahasia sepuluh tahun lalu terbongkar sekarang? Setelah susah payah ku relakan Mas Fandi menjadi milik Kak Alda?” gumam Rima dalam hati.
Fandi menceritakan tentang rahasia yang baru saja ia ketahui dari Hans, sahabat Alda. Rahasia itu diungkapkan Hans ketika sedang mabuk setelah putus cinta dengan kekasihnya.
“Selama ini kamu tertipu, Fan. Gadis di pos lima itu bukan Alda, tapi adiknya Rima. Alda tidak pernah suka naik gunung. Hari itu, Rima menggantikan kakaknya untuk pendakian karena hadiah ponsel baru dari ayah mereka. Pak Bari ingin Alda belajar berbaur dengan alam seperti dirinya saat muda.”
“Itu semua masa lalu, Mas. Lagi pula, kamu sangat mencintai kakakku.
Fandi tersenyum sinis. “Cinta? Aku mencintai Alda karena mengira kalau dia adalah kamu. Kenapa kamu berbohong sejauh ini?”
Rima terdiam, pikirnya melayang mengingat tujuh tahun lalu. Hari dimana ia melihat kakaknya tersenyum lebar sambil menunjukkan foto seorang pria di layar ponselnya.
“Dek, aku sangat menyukai pria ini. Ia tipe idamanku,” Alda menceritakan pertemuan pertamanya dengan Fandi saat mereka terjebak di dalam lift dengan mata berbinar.
Rima memperhatikan wajah pria dalam foto yang sangat ia ingat. Pria yang merenggut ciuman pertamanya di pos lima pendakian. Cinta pertamanya.
“Aku Fandi.”
“A-aku Alda.”
Momen singkat yang hangat di malam mencekam. Dua orang siswa SMA tertinggal rombongan pendakian. Malam itu, hujan sangat deras disertai angin kencang. Tak ada penerangan. Tubuh Rima basah kuyup hingga menggigil. Fandi yang biasanya bersikap dingin merasa iba melihat Rima. Tanpa pikir panjang, ia memeluk gadis itu. Tubuh keduanya kian membeku hingga tanpa sadar, mereka bercumbu.
“Kak, simpan gantungan kunci ini. Anggap saja jimat keberuntungan,” Rima memberikan sebuah gantungan kunci berbentuk bunga matahari ke tangan kakaknya.
Gantungan kunci itu menjadi awal sebuah kebohongan. Fandi menganggap Alda adalah gadis itu. Rima meminta Alda agar mengakui kalau gantungan kunci itu adalah miliknya sejak dulu. Fandi yang terlalu percaya diri tak pernah membahasnya lebih lanjut dan terjebak dalam kesalahpahaman bertahun-tahun.
“Aku sangat mencintaimu, Rima. Aku tidak bisa melanjutkan pernikahan ini.”
“Mas, tolong lupakan soal kita. Lagi pula, itu hanya masa lalu saat kita masih remaja. Aku yakin kamu mencintai Kak Alda dengan tulus. Kalian sangat mencintai,” ujar Rima meyakinkan Fandi.
“Kamu salah, Rima. Selama ini aku selalu terjebak oleh perasaan yang aneh. Aku jatuh cinta ketika pertama kali bertemu lagi. Tapi, ku coba sebisa mungkin untuk menepis perasaan ini karena menghargai Alda. Ketika Hans mengungkapkan semuanya. Aku semakin yakin hatiku tak pernah salah.”
Rima terus membujuk Fandi untuk mengingat momen manis ketika bersama Alda. Ia tak mau menjadi duri dalam hubungan Fandi dan Alda. Hingga akhirnya, Fandi mengancam akan membatalkan pernikahannya dengan Alda.
“Baik, aku akan terima syarat itu,” Rima menyanggupinya dengan terpaksa. Ia sangat tahu kondisi Alda saat ini. Ia hanya ingin, Alda bahagia bersama pria yang dicintainya.
Apalagi, kondisi Alda saat ini karena dirinya.
“Seandainya, aku bisa menjadi orang yang lebih berani. Kak Alda gak akan lumpuh seperti sekarang.”
**
“Suster. Dokter, keluarkan saya dari sini! Saya tidak menyerang Alda. Dia melukai dirinya sendiri!” teriak Rima histeris.Fandi segera mendatangi Rima yang kini berada di ruang isolasi.“Jangan ikat tangan istri saya, suster!” larang Fandi.“Dokter, apakah harus sampai seperti ini? Biarkan saya menenangkan dia,” pinta Fandi yang tak tega melihat kondisi Rima.“Kami mohon maaf, Pak Fandi. Kondisi psikis pasien tidak stabil. Kami terpaksa mengikat tangannya untuk sementara waktu dan menyuntikkan obat penenang. Kami khawatir pasien juga akan menyakiti dirinya sendiri,” ungkap Dokter Salsa.Suara tangisan Rima perlahan lirih lalu menghilang. Rima tertidur akibat pengaruh obat penenang. Fandi hanya bisa menatap iba kondisi Rima dari atas kursi roda.“Mas,” panggil Alda.Fandi menoleh lalu menghampiri Alda.“Tanganmu bagaimana, Al?” tanya Fandi dengan perasaan bersalah.“Lukanya cukup dalam sehingga harus dijahit, Mas,” Alda menunjukkan lengan kirinya yang kini terbalut perban.“Alda, aku m
Fandi tak henti-hentinya berdoa sambil menggenggam tangan Rima. Ia berharap, istrinya bisa segera pulih.“Aku mohon, Rima. Pulihlah demi aku,” Fandi mengusap air matanya.Tangan Rima bergerak, matanya mulai terbuka perlahan.“Anakku! Dimana anakku?” tanya Rima dengan wajah gelisah.“Sayang, tenanglah! Ada aku di sini,” Fandi memeluk Rima.“Mas, anak kita di mana?” tanya Rima.“Aku harus jawab apa? Rima belum bisa menerima kepergian anak kami.”“Anak kita masih di ruang perawatan intensive, sayang. Kondisinya belum stabil,” Fandi mengusap lembut pelupuk kepala Rima.“Anak kita masih hidup ‘kan, Mas? Aku bermimpi dia meninggal setelah dilahirkan,” ucap Rima mulai tenang.“Jadi, kondisi psikis Rima semakin buruk? Ia berhalusinasi soal anaknya?” Alda terpaku di depan pintu dengan senyum sinis.“Mas, sebaiknya kamu juga dirawat. Pak Jono bilang lukamu harus segera diberi pengobatan. Biar aku dan suster yang membantu Rima,” Alda menepuk lengan suaminya.“Mas, kamu sakit? Kaki kamu kenapa?”
Enam tahun yang lalu.“Alda! Apa yang kamu lakukan? Semua data untuk skripsi itu milikku, Al,” Cika terlihat sangat kecewa.“Milik kamu? Bukankah kamu sendiri yang bilang bahwa kita adalah sahabat sejati. Kamu juga bilang apapun yang kamu miliki aku juga dapat memilikinya. Jadi, tidak ada salahnya bukan untuk berbagi?” ujar Alda dengan tawa sinis.“Al, kita memang bersahabat. Tapi, perbuatanmu ini merupakan pelanggaran. Aku sudah membantumu sebisaku. Kembalikan flashdisk itu!” pinta Cika dengan wajah sedih.“Kamu picik, Cika. Kamu ingin mengalahkanku. Kamu ingin menjadi nomor satu. Skripsi milikmu lebih disukai. Jika kamu ingin flashdisk ini, ambilah!” Alda melempar flashdisk merah milik Cika ke tengah jalan.Flashdisk merah milik Cika terlindas mobil hingga hancur.“Kamu jahat, Al!” teriak Cika.“Oops, aku lupa memberi tahu kamu kalau semua data skripsi itu telah diubah menjadi namaku. Lebih baik kau buat lagi yang baru dengan otak cerdasmu itu, sahabatku!” ujar Alda lalu pergi menin
Dua hari berlalu, Rima belum juga siuman. Fandi juga masih menjalani perawatan di rumah sakit.“Mas, sebenarnya ada sesuatu yang buruk terjadi pada Rima dan bayinya,” ucap Alda dengan suara lirih.“A-apa maksudmu, Al? Ada apa?” tanya Fandi khawatir."Rima sudah melahirkan dua hari yang lalu tapi bayinya meninggal. Rima belum sadarkan diri setelah mengalami pendarahan," ungkap Alda."Kenapa kamu baru bilang sekarang? Apa yang kamu pikirkan?" Fandi terdengar sangat marah."Aku baru mengetahuinya setelah mendapat kabar kamu kecelakaan. Aku ga kepikiran," ujar Alda dengan suara bergetar."Alda, ini bukan hal yang sepele. Seharusnya kamu harus lebih tahu. Aku akan kembali ke Jakarta secepatnya," Fandi menutup panggilan telepon."Mas. Mas!" Teriak Alda.Fandi bergegas menemui dokter dan memaksa pulang."Pak Fandi, kondisi kaki bapak belum memungkinkan digunakan untuk perjalanan jauh. Butuh waktu minimal satu bulan agar kondisi kaki kanan Pak Fandi jauh lebih baik. Luka operasi masih ba
POV. Cinta bertepuk sebelah tangan“Rima, maukah kamu jadi pacarku?” tanya Bara sambil menyodorkan satu tangkai bunga mawar.Rima tercengang melihat sikap murid paling pendiam di kelasnya. Ia tak menyangka Bara menyatakan cinta.“M-maaf, Bara. Aku gak bisa!” Rima berlari meninggalkan Bara yang masih bersimpuh.Wajah Rima sangat merah karena malu.“Ri, tolong kasih tahu aku alasannya!” Bara menahan lengan Rima.“Maaf, Bara. Aku gak punya perasaan lebih sama kamu. Aku hanya menganggap kamu sebagai teman,” jawab Rima.“Bohong! Gak mungkin lo gak punya perasaan apapun sama gue! Lo selalu baik sama gue dan di antara semua anak di kelas cuma lo yang peduli sama gue!” Bara menatap tajam mata Rima.“Aku gak bohong, Bara. Bagiku kamu dan yang lainnya adalah teman. Aku gak merasa memperlakukan kamu secara spesial. Maaf kalau aku membuat kamu salah paham,” ujar Rima dengan mata sendu.Bara pergi meninggalkan Rima dengan perasaan marah dan terhina. Ia mengemudikan sepeda motornya dengan kecepatan
“Nyonya Rima mau kemana? Biar saya antar,” ujar Pak Ujang supir baru yang dipekerjakan oleh Fandi.“Saya ada urusan di luar kota, Pak. Tolong rahasiakan dari suami saya,” Rima memberikan sebuah amplop yang cukup tebal ke tangan Pak Ujang. “Uang ini bisa untuk biaya pengobatan putra bapak, ya.”Rima melaju dengan mobil miliknya. Ia pergi ke rumah lama di kaki gunung. Sesekali ia mengusap perut buncitnya.“Kita bekerja sama ya, sayang. Mama melakukan ini demi sebuah kebenaran tentang asal usul kita. Mama akan hapus julukan buruk untuk kamu.”Di sisi lain, Fandi kehilangan ponselnya. “Sial, ponselku terjatuh di kubangan lumpur tadi. Mau tidak mau aku harus membeli ponsel baru.”“Pak Fandi, silakan beristirahat lebih dulu. Wajah Pak Fandi tampak kurang sehat. Saya lihat juga tadi ponsel Pak Fandi jatuh ke dalam lumpur didekat sumur?” ujar Pak Joni mandor senior di sana.“Iya, Pak. Sepertinya ponsel saya tidak bisa diselamatkan. Di sini, ada mall atau toko ponsel terdekat? Perasaan saya ga
“Sayang, kamu sudah sadar?” Fandi mengecup lembut tangan Alda.Alda membuka matanya perlahan.“Mas Fandi. Aku cinta sama kamu, Mas,” ucapnya lirih.“Aku tidak akan pernah meninggalkan kamu. Aku hanya ingin meminta waktu untuk melepaskan Rima. Aku mohon, Al. Anak dalam kandungan Rima tidak bersalah.
“Ada masalah apa, Al? Kenapa kamu kelihatan bingung? Riko di mana?” tanya Fandi yang baru saja datang.“Riko? Katanya mau ke toilet. Kalian gak ketemu?” sahut Alda sambil menatap layar ponselnya dengan wajah bingung.“Oh, enggak. Kamu kenapa? Ada apa?” tanya Fandi.“Aku baru sadar kalau pembayaran
“Gak ada apa-apa, Kak. Aku hanya gak mau momen manis kalian terganggu nantinya,” sahut Rima segera. Ia teringat ucapan dokter soal kondisi psikis Alda yang harus tetap dijaga.“Oke, berarti kamu setuju untuk ikut ya. Aku butuh kamu, Rima. Kamu tahu sendiri kondisiku. Kakiku lumpuh,” ujar Alda denga
PERNIKAHAN RESMIAlda sudah diperbolehkan pulang sejak satu minggu lalu. Kini, ia tengah disibukkan dengan persiapan pernikahannya minggu depan. Gaun pengantin yang sudah dipersiapkan jauh-jauh hari begitu menyayat hatinya.“Kak, gaun pengantinnya cantik sekali. Aku gak sabar melihat kakak mengenak







