LOGIN“Ada masalah apa, Al? Kenapa kamu kelihatan bingung? Riko di mana?” tanya Fandi yang baru saja datang.
“Riko? Katanya mau ke toilet. Kalian gak ketemu?” sahut Alda sambil menatap layar ponselnya dengan wajah bingung.
“Oh, enggak. Kamu kenapa? Ada apa?” tanya Fandi.
“Aku baru sadar kalau pembayaran villa semalam itu gagal. Jadi, batal otomatis dari sistemnya, Mas. Villa lainnya juga penuh karena ini musim liburan,” jelas Alda.
“Ya sudah, kita cari hotel yang tersedia saja,” ujar Fandi santai.
Alda cemberut. “Tapi, Mas. Aku itu ingin sekali menginap di villa mewah. Kita itu honeymoon bukan liburan biasa.”
“Ya mau bagaimana lagi, Al. Ini salahmu juga ‘kan?” sahut Fandi mulai kesal dengan sikap Alda.
Riko dan Rima kembali bersama ke meja makan. Alda mengungkapkan masalah vila yang gagal mereka pesan kepada Riko.
“Villa? Kalau kalian mau, kebetulan aku juga menyewa villa di Permata Resort. Aku sendirian dan di sana ada tiga kamar. Pas untuk kita berempat,” ujar Riko.
Alda terkekeh ketika tahu nama villa yang dipesan Riko ternyata adalah villa yang gagal ia pesan.
“Apa gak sebaiknya kita ke hotel saja, Al. Kasihan Riko, ia pasti ingin menikmati liburan sendiri,” ujar Fandi membujuk Alda.
“Gak masalah, Mas Fandi. Justru saya senang kalau kalian ikut. Lagipula, Kak Alda dan Rima sudah saya anggap keluarga,” ungkap Riko.
Sesampainya di villa. Riko memberikan kamar utama untuk Alda dan Fandi.
“Kamu yakin, Rik? Ini kamar utama ‘kan?” tanya Alda dengan wajah sumringah.
“Anggap saja ini hadiah pernikahan untuk kalian dari aku,” sahut Riko tersenyum.
“Terima kasih, Riko,” ucap Alda.
“Sama-sama, Kak. Have fun ya. Aku mau tunjukkan kamar untuk Rima. Ayo, Ri!”
Riko menunjukkan kamar di lantai dua untuk Rima yang ada di sebelah kamar Riko.
“Kamar kalian di atas?” tanya Fandi.
“Iya, Mas. Biarkan saja mereka berdua menikmati nostalgia,” ujar Alda.
Fandi beralasan kalau seharusnya kamar mereka dan Rima berdekatan karena Alda butuh Rima.
“Kamu lupa, Mas? Kakiku ini lumpuh gak mungkin bisa untuk naik ke lantai dua. Lagi pula kamar ini lebih besar. Ayo, kita masuk. Aku lelah,” ajak Alda manja sambil meregangkan tangan meminta untuk digendong oleh suaminya.
Di lantai dua, Riko membahas kembali soal pernikahan siri antara Rima dan Fandi.
“Ri, kenapa kamu sampai sejauh ini?”
“Seperti yang ku jelaskan tadi. Aku melakukannya demi Kak Alda. Aku juga terjebak, Rik. Aku ingin mengakhirinya,” jelas Rima dengan wajah kalut.
Rima merasa sangat malu di depan sahabatnya. Ia meminta Riko untuk menutup rapat rahasia pernikahannya.
**
Malam datang lebih cepat. Alda juga tidur usai meminum obatnya. Rima berada di kamar sejak datang karena merasa tak enak badan.
“Mas Fandi. Bisa ngobrol berdua?” Riko mengajak Fandi bicara empat mata di kursi dekat kolam renang.
“Mas, saya sudah tahu semuanya. Pilih salah satu saja, Mas. Ceraikan Rima!” pinta Riko dengan tatapan tajam.
“Kamu itu siapa? Punya hak apa? Saya tidak akan pernah melepaskan Rima. Saya sangat mencintainya. Saya akan segera menceraikan Alda. Tolong, jangan ikut campur masalah orang lain!” ujar Fandi sebelum pergi.
“Anda yakin? Rima tidak akan membiarkan Kak Alda tersakiti. Saya mengenalnya belasan tahun. Rima selalu menomorsatukan kakaknya dalam hal apapun,” ungkap Riko.
Fandi menghentikan langkahnya. Ia membenarkan semua ucapan Riko. Selama ini, Rima selalu menuruti semua ucapan Alda bahkan ia rela dinikahi secara siri demi syarat yang diberikan oleh Fandi.
**
“Ri, kamu pucat banget lho. Kita ke dokter saja, ya. Selagi Kak Alda juga sedang konsultasi,” Fandi khawatir melihat Rima yang seolah menahan sakit sejak tiga hari belakangan.
“Aku baik-baik saja, Mas. Lebih baik kamu temani Kak Alda,” pinta Rima yang masih memegangi perutnya.
“Alda gak mau ditemani. Ia takut aku sedih.”
Rima semakin tak kuasa menahan rasa sakit. Keringatnya bercucuran lalu tubuhnya ambruk seketika. Fandi segera membawanya ke IGD.
“D-darah?” Wajah Fandi semakin panik melihat darah segar dari bagian bawah Rima.
Di IGD, Rima ditangani oleh beberapa dokter dan tenaga medis. Fandi sangat khawatir dan terus berdoa.
“Mas Fandi kemana?” Alda mencari suaminya ketika selesai keluar dari ruang dokter. Ia menghubungi suaminya namun tak diangkat.
Di sisi lain, Fandi tercengang mendengar diagnosa dokter tentang pendarahan yang terjadi pada Rima karena kehamilan.
“Mas,” panggil Rima yang baru saja siuman.
“Iya, sayang. Kamu butuh apa? Bilang saja biar aku yang ambilkan,” Fandi segera menghampiri Rima.
“Argghh,” Rima merintih kesakitan ketika berusaha untuk duduk.
“Sayang, kamu harus bed rest untuk sementara waktu. Tadi, kamu pendarahan dan bayi kita hampir saja tidak selamat,” Fandi menggenggam tangan Rima dengan mata berbinar.
“H-hamil?” Air mata Rima menetes.
“Hamil?” ujar Riko dan Alda bersamaan.
Fandi dan Rima menoleh dengan mata terbelalak.
“Siapa yang hamil? Gak mungkin kamu ‘kan, Ri?” tanya Alda dengan senyum getir.
Fandi dan Rima membisu. Riko hanya bisa menatap Rima dengan tatapan iba.
“Masalah pernikahan siri ini akan berlanjut semakin rumit, Ri,” gumam Riko dalam hati.
“Kenapa diam saja? Jawab! Kamu hamil sama siapa, Ri?” tanya Alda mulai marah.
“Permisi, Pak Fandi. Ini hasil USG istri bapak,” ujar salah seorang suster memberikan berkas pemeriksaan Rima kepada Fandi.
Mata Alda seketika membulat. “Istri? Kasih penjelasan yang masuk akal. Kenapa kamu jadi suaminya Rima? Ada apa sebenarnya, Mas?”
“Aku akan jelaskan semuanya di villa. Sebaiknya, kita pulang. Riko, aku titip Rima,” pinta Fandi. Ia segera mengambil alih kursi roda Alda.
Rima hanya bisa menangis. Ia sangat takut Alda akan hancur jika tahu kebenarannya. Riko memeluk Rima seraya menepuk lembut pundak sahabatnya.
“Mas, jelaskan apa yang terjadi?” paksa Alda.
“Al, aku akan jelaskan semuanya di rumah. Tolong jangan ganggu aku lagi fokus nyetir!” jawab Fandi ketus.
**
“Rencana kamu selanjutnya apa, Ri?” tanya Riko setelah melihat kondisi Rima sudah jauh lebih tenang.
“Entahlah, Rik. Aku gak tahu. Tapi yang jelas, aku akan mundur dari pernikahan ini,” jawab Rima.
“Kamu gak mungkin bercerai dalam kondisi hamil,” ujar Riko.
“Iya, tapi bagaimana dengan Kak Alda?” tangis Rima kembali pecah.
Riko menatap Rima dengan tatapan iba.
“Rima, kamu sudah dewasa. Kamu harus bisa ambil keputusan sendiri. Kamu berhak bahagia, jangan selalu berkorban demi Alda.”
Rima menghentikan tangisnya. Ia menjelaskan tentang rahasia kelam masa kecilnya.
“Kak Alda dan ibunya bukan keluarga kandungku. Mereka adalah orang yang sangat baik. Mereka mau menerima anak seorang pelakor. Almarhumah ibuku adalah perusak rumah tangga Bu Amara dan Pak Firman. Aku adalah anak haram hasil perselingkuhan Pak Firman dengan asisten rumah tangganya. Tapi, Bu Amara membesarkan aku layaknya anak kandung. Alda juga bersikap sangat baik. Jadi, bagaimana mungkin aku merenggut kebahagiaannya lagi?”
“Jadi, selama ini Rima selalu merasa bersalah atas perbuatan almarhumah ibunya. Sampai-sampai ia tidak sadar telah mengorbankan kebahagiaannya sendiri. Alda juga selalu memanfaatkan kebaikan Rima untuk kepentingannya sendiri,” gumam Riko.
**
Di villa, Fandi membuka semua rahasia pernikahannya dengan Rima kepada Alda.
“Gila kamu, Mas! Kamu tega mengkhianati aku? Kenapa kamu tidak menerima tawaranku soal pembatalan pernikahan kita? Kamu yang paksa aku untuk tetap melanjutkan pernikahan ini!” teriak Alda histeris.
“Aku minta maaf, Al. Aku ingin membatalkannya tapi Rima terus memohon agar pernikahan kita tetap berjalan. Ia sangat menyayangi kamu,” ujar Fandi berusaha menenangkan Alda.
“Sayang? Omong kosong! Kalian itu benar-benar manusia tidak punya nurani. Aku rela mendonorkan satu ginjalku untuk kamu. Kakiku lumpuh juga karena Rima! Sekarang, aku gak mau tahu, Mas. Ceraikan Rima atau kamu akan melihatku mati di hadapanmu!” ancam Alda dengan wajah penuh amarah. Alda meraih sebuah gunting yang ada di samping nakas.
Fandi sangat takut melihat sikap nekat Alda. Ia sadar kebohongan ini sangat membuatnya hancur.
“Tolong, Alda! Kita cari solusinya. Aku tidak mungkin menceraikan Rima. Dia sedang mengandung anakku. Aku janji akan bersikap adil untuk kalian. Aku janji, Al,” bujuk Fandi.
Alda tersenyum getir lalu menggores nadinya dengan gunting yang ada di tangan kanannya. Darah mengalir deras dari tangan kiri Alda. Fandi berlari membopong tubuh lemas Alda ke mobil dan membawanya ke rumah sakit.
“Al, tolong jangan tinggalkan aku. Maafkan aku, sayang,” ujar Fandi ketakutan melihat wajah Alda yang semakin pucat.
Bayangan-bayangan ketika mereka bersama terus terputar dalam benak Fandi. Terlepas dari siapa sosok cinta pertamanya. Fandi begitu mencintai Alda karena sikapnya yang sangat perhatian. Alda rela mengorbankan apapun demi Fandi. Bahkan, ketika Fandi harus kehilangan satu ginjalnya. Alda dengan sukarela mendonorkan ginjalnya.
“Aku sangat mencintaimu, Mas. Aku rela mengorbankan segalanya demi kamu. Termasuk satu ginjalku,” ucap Alda kala itu.
Di sisi lain, Rima harus menerima kenyataan pahit soal kesehatannya. Dokter menyampaikan soal resiko kehamilan yang harus dihadapi Rima karena hanya memiliki satu ginjal.
“Dokter bilang, hanya ini kesempatan pertama dan terakhirku untuk hamil. Aku harus jaga bayi ini dengan baik. Sehat-sehat ya sayang. Mama sangat bahagia dengan kehadiranmu,” Rima mengusap lembut perutnya dengan senyum lebar.
**
Enam tahun yang lalu.“Alda! Apa yang kamu lakukan? Semua data untuk skripsi itu milikku, Al,” Cika terlihat sangat kecewa.“Milik kamu? Bukankah kamu sendiri yang bilang bahwa kita adalah sahabat sejati. Kamu juga bilang apapun yang kamu miliki aku juga dapat memilikinya. Jadi, tidak ada salahnya bukan untuk berbagi?” ujar Alda dengan tawa sinis.“Al, kita memang bersahabat. Tapi, perbuatanmu ini merupakan pelanggaran. Aku sudah membantumu sebisaku. Kembalikan flashdisk itu!” pinta Cika dengan wajah sedih.“Kamu picik, Cika. Kamu ingin mengalahkanku. Kamu ingin menjadi nomor satu. Skripsi milikmu lebih disukai. Jika kamu ingin flashdisk ini, ambilah!” Alda melempar flashdisk merah milik Cika ke tengah jalan.Flashdisk merah milik Cika terlindas mobil hingga hancur.“Kamu jahat, Al!” teriak Cika.“Oops, aku lupa memberi tahu kamu kalau semua data skripsi itu telah diubah menjadi namaku. Lebih baik kau buat lagi yang baru dengan otak cerdasmu itu, sahabatku!” ujar Alda lalu pergi menin
Dua hari berlalu, Rima belum juga siuman. Fandi juga masih menjalani perawatan di rumah sakit.“Mas, sebenarnya ada sesuatu yang buruk terjadi pada Rima dan bayinya,” ucap Alda dengan suara lirih.“A-apa maksudmu, Al? Ada apa?” tanya Fandi khawatir."Rima sudah melahirkan dua hari yang lalu tapi bayinya meninggal. Rima belum sadarkan diri setelah mengalami pendarahan," ungkap Alda."Kenapa kamu baru bilang sekarang? Apa yang kamu pikirkan?" Fandi terdengar sangat marah."Aku baru mengetahuinya setelah mendapat kabar kamu kecelakaan. Aku ga kepikiran," ujar Alda dengan suara bergetar."Alda, ini bukan hal yang sepele. Seharusnya kamu harus lebih tahu. Aku akan kembali ke Jakarta secepatnya," Fandi menutup panggilan telepon."Mas. Mas!" Teriak Alda.Fandi bergegas menemui dokter dan memaksa pulang."Pak Fandi, kondisi kaki bapak belum memungkinkan digunakan untuk perjalanan jauh. Butuh waktu minimal satu bulan agar kondisi kaki kanan Pak Fandi jauh lebih baik. Luka operasi masih ba
POV. Cinta bertepuk sebelah tangan“Rima, maukah kamu jadi pacarku?” tanya Bara sambil menyodorkan satu tangkai bunga mawar.Rima tercengang melihat sikap murid paling pendiam di kelasnya. Ia tak menyangka Bara menyatakan cinta.“M-maaf, Bara. Aku gak bisa!” Rima berlari meninggalkan Bara yang masih bersimpuh.Wajah Rima sangat merah karena malu.“Ri, tolong kasih tahu aku alasannya!” Bara menahan lengan Rima.“Maaf, Bara. Aku gak punya perasaan lebih sama kamu. Aku hanya menganggap kamu sebagai teman,” jawab Rima.“Bohong! Gak mungkin lo gak punya perasaan apapun sama gue! Lo selalu baik sama gue dan di antara semua anak di kelas cuma lo yang peduli sama gue!” Bara menatap tajam mata Rima.“Aku gak bohong, Bara. Bagiku kamu dan yang lainnya adalah teman. Aku gak merasa memperlakukan kamu secara spesial. Maaf kalau aku membuat kamu salah paham,” ujar Rima dengan mata sendu.Bara pergi meninggalkan Rima dengan perasaan marah dan terhina. Ia mengemudikan sepeda motornya dengan kecepatan
“Nyonya Rima mau kemana? Biar saya antar,” ujar Pak Ujang supir baru yang dipekerjakan oleh Fandi.“Saya ada urusan di luar kota, Pak. Tolong rahasiakan dari suami saya,” Rima memberikan sebuah amplop yang cukup tebal ke tangan Pak Ujang. “Uang ini bisa untuk biaya pengobatan putra bapak, ya.”Rima melaju dengan mobil miliknya. Ia pergi ke rumah lama di kaki gunung. Sesekali ia mengusap perut buncitnya.“Kita bekerja sama ya, sayang. Mama melakukan ini demi sebuah kebenaran tentang asal usul kita. Mama akan hapus julukan buruk untuk kamu.”Di sisi lain, Fandi kehilangan ponselnya. “Sial, ponselku terjatuh di kubangan lumpur tadi. Mau tidak mau aku harus membeli ponsel baru.”“Pak Fandi, silakan beristirahat lebih dulu. Wajah Pak Fandi tampak kurang sehat. Saya lihat juga tadi ponsel Pak Fandi jatuh ke dalam lumpur didekat sumur?” ujar Pak Joni mandor senior di sana.“Iya, Pak. Sepertinya ponsel saya tidak bisa diselamatkan. Di sini, ada mall atau toko ponsel terdekat? Perasaan saya ga
“Sayang, jangan lupa janji temu kita di akhir pekan,” Hary membaca pesan singkat dari Olin.“Syukurlah, masih ada waktu lima hari lagi. Aku sudah keringat dingin. Tanda cinta dari Alda masih memenuhi tubuhku,” gumam Hary sambil mengelus dada.“Sebenarnya apa yang ku inginkan? Balas dendam atau aku mulai jatuh cinta pada Alda?” “Sayang, kau semakin tampan memakai setelan itu,” Alda membalas pesan berisi foto Hary. “Siapa dulu yang pilih? Terima kasih ya, sayang. Aku suka setelan ini,” ujar Hary.Rosa menemui Bu Tika di restoran mewah yang lengkap dengan privasi.“Bu Tika, sampai kapan ibu akan terus tutup mata atas semua kelicikan Alda?” tanya Rosa dengan tatapan tajam.“Apa maksud kamu, Rosa?” Bu Tika tercengang mendengar pertanyaan Rosa.“Ini!” Rosa meletakkan beberapa foto pertemuan Bu Tika dengan Rafael.Wajah Bu Tika seketika berubah menjadi pucat pasi.“Dari mana kamu dapatkan foto-foto ini?” tanya Bu Tika dengan terbata-bata bahkan tangannya gemetar.“Rafael itu kekasih gelap
POV. Pertengkaran Olin dan Hary.“Sebaiknya kita ke apartemen lamaku,” ajak Hary.“Kenapa, sayang? Ada apa?” tanya Olin bingung.“Kita bertengkar hebat di sana. Kamu boleh menamparku dan memutuskan pertunangan kita secara resmi. Alda akan melihatnya lewat CCTV yang ia pasang di apartemen lama. Ia pasti sangat senang melihat pertengkaran kita di sana,” bisik Hary.“Baiklah, kita kesana dan buat Alda percaya bahwa kita telah benar-benar berpisah.Di apartemen lama milik Hary. Olin menampar Hary karena mencurigai adanya hubungan spesial yang terjalin antara tunangannya dengan Alda.“Akui saja semuanya. Kamu menyukai Alda? Kalian pernah berada di apartemen ini berdua di saat hujan? Gaun ini adalah saksinya!”“Aku dan Alda hanya sekedar rekan kerja. Kami hanya menjalankan syuting untuk konten karena sudah dikejar deadline,” Hary berusaha menenangkan Olin. “Kamu bohong! Kamu membantu Alda dalam kasus Rafael ‘kan?” cecar Olin makin emosi.“Aku tidak membantu apapun. Rafael mengakuinya se
“Sayang, aku ingin bertanya. Apakah boleh?” Fandi menatap lekat mata Rima yang sendu.“Tanya apa, Mas?” Rima tampak canggung.Fandi menyeka helaian rambut di pelipis istrinya dengan lembut. “Apakah kamu mencintaiku?”Rima terkesiap lalu mengalihkan pandangannya. “Kenapa kamu bertanya seperti ini, Ma
POV. Fandi meminta penjelasan Rima tentang donor ginjal.“Sayang, aku minta maaf,” Fandi menciumi telapak tangan Rima dengan air mata yang mulai membasahi pipi.“Mas, jangan begini. Kamu kenapa? Minta maaf untuk apa?” tanya Rima dengan suara lirih.“Aku sudah tahu semuanya soal donor ginjal itu. Men
“Influencer berinisial “R” yang dijuluki si Malaikat mengalami kecelakaan tunggal dan menabrak sebuah warung. Menurut hasil penyelidikan sementara, kecelakaan terjadi diduga karena mabuk,” Alda tersenyum lebar membaca berita di sosial media.“Akhirnya, si malaikat itu tumbang juga? Ini balasannya un
“Ri, bagaimana kabar kamu? Apa semuanya baik-baik saja?” tanya Riko dalam pesan singkat.“Sejauh ini semuanya baik. Kak Alda jauh lebih tenang dari yang ku kira. Aku semakin merasa bersalah, Rik,” balas Rima.“Maksudmu, Kak Alda bersedia menjalani pernikahan poligami ini?” tanya Riko.“Tidak, Riko.







