LOGIN“Ri, bagaimana kabar kamu? Apa semuanya baik-baik saja?” tanya Riko dalam pesan singkat.
“Sejauh ini semuanya baik. Kak Alda jauh lebih tenang dari yang ku kira. Aku semakin merasa bersalah, Rik,” balas Rima.
“Maksudmu, Kak Alda bersedia menjalani pernikahan poligami ini?” tanya Riko.
“Tidak, Riko. Hanya sampai anak ini lahir. Aku akan pergi setelahnya,” balas Rima.
“Aku tidak tahu harus berkata apa. Ku harap kamu bisa kuat menjalani semuanya. Jika butuh bantuan, hubungi aku,” tutup Riko.
Suasana tegang terjadi di kamar sebelah. Fandi menuntut jawaban logis dari Alda soal Mr. B.
“Itu hanya orang iseng, Mas. Seperti yang kamu tahu. Saat ini viral kasus di media sosial tentang orang-orang dari luar negara kita yang ingin menjalin hubungan dengan wanita dari negeri ini,” ujar Alda beralasan.
“Ini bukan media sosial, tapi telepon pribadi kamu, Al. Kamu tidak sedang berbohong ‘kan?” Fandi menatap lekat mata Alda.
“Mr. B pernah membeli kerajinan tangan yang ku buat makanya ia punya nomor kontakku, Mas,” jawab Alda.
“Oke, aku percaya. Kamu harusnya jangan terlalu gugup, sayang. Tolong sampaikan pada Mr. X jangan menelepon malam-malam. Kamu itu sudah bersuami,” ujar Fandi.
“Jangan bilang kamu cemburu ya?” goda Alda sambil tertawa.
Fandi ikut tertawa melihat wajah gemas istrinya.
Rima ikut tertawa di balik dinding pembatas kamar mereka.
“Berbahagialah kalian, aku ikhlas. Kebahagiaan Kak Alda adalah kebahagiaan terbesarku,” gumam Rima.
Bayangan masa remaja datang tanpa diundang. Ketika duduk di bangku sekolah menengah pertama , Rima dirundung oleh beberapa temannya. Alda dengan berani melawan para perundung adiknya.
“Jika kalian berani mengganggu adikku, akan aku pastikan kalian dikeluarkan dari sekolah!”
Ucapan Alda saat itu hanya dianggap angin lalu. Rima masih saja mendapat perundungan, hingga akhirnya. Alda diam-diam merekam semuanya lalu mengadukan anak-anak yang merundung Rima ke sekolah lalu mereka dikeluarkan dari sekolah.
“Kak Alda selalu sempurna di mataku.”
**
“Aku tak menemukan apapun soal Tamara. Semua nomor ponselnya sekali bahkan rekening bank juga milik orang yang ia bayar. Aku curiga orang tersebut adalah orang dari masa lalumu,” isi pesan singkat dari Barli.
“Orang dari masa lalu? Tapi siapa? Setahuku, semua orang di masa lalu telah disuap oleh mama dan papa. Gak ada yang tahu cerita sebenarnya tentang gundik itu,” gumam Alda dengan wajah cemas.
Ponselnya kembali berbunyi.
“Kau tak perlu mencari tahu soal aku. Apalagi lewat orang bodoh seperti Barli. Bukankah ia gagal ketika kalian ingin mencelakai Rima?” isi pesan dari Tamara membuat Alda semakin gugup.
“Aku akan kirim uangnya besok. Temui aku di gedung kosong jalan Kawung jam 7 malam!” balas Alda.
“Kak, ayo kita makan. Sarapannya sudah siap,” ajak Rima.
Alda terkesiap, ponselnya hampir jatuh.
“Rima, kamu gak bisa ketuk pintu dulu sebelum masuk ke kamar orang lain?” tegur Alda dengan wajah dingin.
“M-maaf, Kak. Tapi, aku sudah ketuk pintu tadi. Gak ada jawaban,” ujar Rima.
“Ya sudah, nanti aku ke sana. Mas Fandi masih mandi. Tolong kamu buatkan bekal juga untuk Mas Fandi,” ucap Alda.
“Baik, Kak,” Rima keluar dari kamar Alda dengan banyak pertanyaan.
“Kak Alda kenapa ya? Kenapa dia seperti orang ketakutan? Wajahnya pucat sekali,” gumam Rima.
Rima menyediakan semua piring dan masakan yang ia masak dengan susah payah di atas meja makan. Namun, tak sanggup memakannya karena rasa mual yang sangat parah.
“Kamu mau kemana? Gak makan? Atau sudah makan lebih dulu?” tanya Alda.
“Kamu sakit?” tanya Fandi khawatir melihat Rima menggunakan masker berlapis.
“Kalian makan saja, aku gak bisa makan masakan berbumbu. Aku permisi,” Rima melangkah cepat menuju kamar mandi.
Fandi spontan berlari lalu menyusul Rima ke dalam kamar.
“Mas, kamu mau kemana? Ayo kita sarapan!”
Fandi tak bergeming, Alda sangat kesal dibuatnya.
“Jadi, sekarang kamu sudah mulai acuh, Mas? Kamu bilang cinta sama aku dan ingin mengakhirinya dengan Rima. Tapi nyatanya?” gerutu Alda kesal.
Rima memuntahkan isi perutnya. Hanya air yang keluar. Karena ia sama sekali tak mampu menelan makanan. Perutnya kram dan rasa mual tak mampu ia tahan. Fandi dengan sigap mengusap lembut punggung istrinya.
“Maafkan aku, sayang. Kamu tunggu di sini aku buatkan air madu jahe seperti semalam.”
Fandi bergegas menuju dapur dan membuatkan air madu jahe untuk Rima.
“Mas, kamu mau masak apa?” tanya Alda dari meja makan.
“Aku mau buatkan air madu jahe untuk meredakan mualnya Rima,” jawab Fandi.
“Tahan, Alda. Kamu harus tenang, jangan gegabah. Ingat pesan mama, buatlah orang lain tunduk karena hutang budi terhadap kebaikan kita. Terbukti, selama ini Rima selalu ada dibawah kendaliku,” gumam Alda dalam hati.
Fandi menyuapi air jahe buatannya sedikit demi sedikit menggunakan sendok.
“Bagaimana? Apa mualnya berkurang?” tanya Fandi.
Rima mengangguk pelan.
“Terima kasih, Mas. Mualnya mulai berkurang, perutku juga jadi lebih hangat,” Rima tersenyum hangat.
Tanpa diduga, Alda datang menggunakan kursi roda ke kamar Rima.
“Bagaimana kondisi kamu, Rima?” tanya Alda dengan wajah yang tampak khawatir.
“A-aku sudah jauh lebih baik, Kak. Mas, kamu bisa pergi sekarang. Temani Kak Alda.”
“Kamu juga harus makan, Rima! Kasihan anak kita di dalam sana, ia butuh nutrisi untuk tumbuh dengan sempurna,” Fandi mengusap lembut perut Rima.
Alda sangat marah dan cemburu namun ia berusaha keras untuk menahannya.
“Mungkin, Rima bisa makan jika disuapi oleh suaminya,” ujar Alda dengan senyum ramah.
Rima dan Fandi terkesiap mendengar ucapan Alda.
“Almarhumah mama pernah cerita. Dulu ketika hamil, beliau bisa makan kalau disuapi sama papa. Barangkali, hal yang sama juga dialami Rima,” ungkap Alda dengan antusias.
Fandi mengambil makanan dan menyuapi Rima perlahan. Rima tersenyum ketika ia benar-benar kehilangan rasa mualnya. Bahkan, semenjak hamil ini pertama kalinya ia bisa makan sepiring nasi.
“Kamu mau kemana, Ri? Jangan langsung beraktivitas. Biarkan makanan itu tercerna dengan baik,” ujar Fandi menahan tangan Rima yang hendak beranjak.
“Aku mau bersih-bersih, Mas. Sekarang kan sudah gak ada bibi,” jawab Rima.
“Ri, aku tahu kamu itu memang sangat rajin tapi ingat kondisi kamu. Saat ini kamu sedang hamil. Untuk urusan rumah, hari ini akan ada pembantu baru yang akan menetap di rumah. Sebaiknya kamu bedrest,” ujar Alda.
“Terima kasih, Kak. Aku gak menyangka Kak Alda masih berbesar hati setelah apa yang terjadi. Sekali lagi aku mingta maaf,” ucap Rima.
“Biar bagaimanapun, bayi itu adalah keponakanku dan kamu tetaplah adikku,” ucap Alda dengan santai.
“Aku akan membiarkannya, Rima. Nikmatilah kebahagiaan ini hingga waktunya tiba. Akan aku pastikan kamu menebusnya dengan segudang penderitaan,” gumam Alda dalam hati.
**
“Selamat ya, Kak. Aku gak nyangka salah satu mimpi kita saat remaja bisa terwujud. Kita hamil bareng,” ujar Rima dengan senyum sumringah.Alda tertawa kecil. “Iya, mimpi kita terkabul. Tapi sepertinya kita lupa berdoa agar waktunya saja yang sama. Bukan suaminya,” sindir Alda.Tawa Rima perlahan memudar mendengar sindiran sang kakak.“Cukup, Al!” ujar Fandi.“Iya, sayang. Aku bercanda kok. Kamu gak perlu marah, sayang. Aku juga lagi hamil lho. Bukan hanya Rima,” ujar Alda dengan sisa tawanya.“Permisi,” terdengar suara dari balik pintu.“Ada tamu, Mas. Aku lihat dulu ya,” ujar Rima.“Biar aku saja, sayang,” Fandi menahan tangan Rima.Ada dua orang perempuan berusia sekitar 35 tahunan , satu orang perempuan berusia 45 tahun, dan satu orang laki-laki berusia 40 tahunan masuk bersama Fandi.“Mereka semua akan bekerja disini mulai hari ini. Suster Ida akan bertanggung jawab menjaga Rima, Suster Ulfa akan bertanggunh jawab menjaga Alda. Mbak Titi akan bertanggung jawab sebagai asisten ruma
POV. Fandi meminta penjelasan Rima tentang donor ginjal.“Sayang, aku minta maaf,” Fandi menciumi telapak tangan Rima dengan air mata yang mulai membasahi pipi.“Mas, jangan begini. Kamu kenapa? Minta maaf untuk apa?” tanya Rima dengan suara lirih.“Aku sudah tahu semuanya soal donor ginjal itu. Mengapa kamu gak pernah bilang yang sebenarnya? Kamu adalah pendonor ginjal itu bukan Alda!” ucap Fandi dengan tatapan sendu.“Mas Fandi tahu semuanya? Bagaimana ini?”“Mas, ini semua murni keinginanku. Aku yang meminta Kak Alda untuk merahasiakannya. Tolong jangan salahkan Kak Alda,” pinta Rima memelas.“Kamu tahu kenapa aku masih mempertahankan pernikahanku dengan Alda? Itu karena aku merasa berhutang budi atas ginjal yang ia donorkan!” ungkap Fandi.“Aku minta maaf, Mas. Aku hanya tidak ingin Kak Alda semakin menderita. Ia sangat mencintai kamu, Mas. Tolong jangan campakkan Kak Alda,” pinta Rima memohon.“Lantas kamu? Apakah kamu tidak mencintai aku? Apakah kamu tidak ingin hidup bahagia ber
“Influencer berinisial “R” yang dijuluki si Malaikat mengalami kecelakaan tunggal dan menabrak sebuah warung. Menurut hasil penyelidikan sementara, kecelakaan terjadi diduga karena mabuk,” Alda tersenyum lebar membaca berita di sosial media.“Akhirnya, si malaikat itu tumbang juga? Ini balasannya untuk kamu Rosa. Si cupu berkacamata tebal yang ingin berubah jadi princess dan merebut reputasiku?”Alda mengingat bagaimana persahabatannya dengan Rosa semasa sekolah. Tak ada satupun orang yang mau berteman dengan Rosa karena dianggap gadis terjelek di sekolah. Gaya pakaian kuno, rambut kepang dua, dan kacamata tebal. Alda yang merupakan siswi paling cantik dianggap layaknya malaikat tanpa sayap.“Mulai sekarang, siapapun yang mengganggu Rosa akan berurusan sama Alda! Kalian semua paham?” ujar Alda dengan suara lantang.Hari itu mereka bersahabat. Rosa menganggap Alda adalah dewi penyelamatnya. Tapi, semuanya berubah ketika Rosa memutuskan untuk mengubah penampilan menjadi lebih cantik deng
“Bu, maaf jika pertanyaan saya ini terdengar lancang,” ujar Mbak Asih.“Oh ya, Asih. Kemarin saat ditelepon saya belum bilang semuanya. Sesuai dugaan kamu, Rima memang sedang hamil. Anak dalam kandungannya adalah anak suami saya. Rima seorang gundik. Tugas kamu selain mengurus rumah ini, kamu juga harus menjadi mata-mata pribadi saya. Awasi Rima dan Mas Fandi jika saya sedang tidak berada di rumah,” ungkap Alda.Asih terpaku mendengar penjelasan Alda. Seketika ia mengagumi Alda karena dianggapnya wanita berhati paling baik di dunia.“Bu Alda baik-baik saja?” tanya Mbak Asih.“Mau bagaimana lagi? Terlepas dari perbuatan Rima, bayi dalam kandungannya tidak bersalah. Mereka sepakat akan berpisah setelah bayi itu lahir,” jawab Alda dengan senyum tipis.“Tetap saja, Bu. Kalau saya jadi Bu Alda, saya gak akan bisa terima dikhianati oleh adik sendiri,” ujar Mbak Asih menimpali.“Ia bukan adik kandung saya. Ia adalah anak hasil perselingkuhan dari ayah saya dengan asisten rumah tangga kami. I
“Alda, pasti saat ini kamu sedang kebingungan tentang siapa pria yang bercinta denganmu tadi malam,” ujar pria dengan wajah tampan bermata bulat sambil menikmati sup hangat.Foto-foto kebersamaannya dengan Alda masih terjajar rapi di setiap sudut kamarnya. Kenangan tentang kebersamaan mereka terputar otomatis.“Alda, aku ingin mengajakmu makan malam berdua di hotel bintang lima yang sedang viral,” ajak seorang pria dengan setelan kemeja sederhana pada Alda.“Makan malam untuk apa, Kak Hary?” tanya Alda.“Aku ingin merayakan keberhasilanmu dalam proyek yang baru,” ujar Harry.“Maaf, Harry. Aku sudah ada janji dengan calon suamiku., Itu dia sudah datang. Aku pergi dulu ya,” ucap Alda kemudian berlalu.Hari itu menjadi momen paling menyakitkan dalam hidup Harry. Selama ini ia rela membantu Alda soal pekerjaan. Bahkan proyek terbaru yang dikerjakan Harry ia ganti atas nama Alda. Sikap manis dan manja Alda memberinya harapan palsu, terlebih ketika Alda tak mengakui Fandi sebagai kekasihnya
“Mas Fandi, kamu di sini sayang?” tanya Alda dengan mata sayu. Penampilannya berantakan ditambah bau alkohol yang sangat menyengat.“Rupanya, Alda sangat mabuk hingga tak mengenali aku sama sekali. Tapi, bukankah ia lumpuh?” ujar pria berperawakan tinggi yang terus memapah tubuh Alda.Alda tak sadar jika kini ia berada dalam pelukan pria yang ia kira adalah suaminya. Pria itu membawanya ke sebuah kamar hotel di dekat club.“Sayang, aku rindu,” bisik Alda dengan senyum menggoda. Ia membuka satu per satu kemeja pria itu.“Jangan, Alda!” pria tadi menepisnya.Alda tak peduli dan memberikan kecupan manis di bibir pria itu. “Cup.”Pria tersebut goyah lalu membalas kecupan manis yang diberikan Alda. Kecupan-kecupan tadi berubah menjadi ciuman intens dengan penuh gairah. Pakaian Alda satu persatu tanggal hingga taka da sehelai benangpun menutupi tubuhnya. Begitu pula pria tadi.“Arggh,” desahan demi desahan memenuhi kamar hotel.“Mas, kamu sungguh berbeda dari biasanya. Aku mencintaimu,” bis







