Share

ORANG DARI MASA LALU

Author: suciradewi
last update publish date: 2026-04-24 11:41:07

“Ri, bagaimana kabar kamu? Apa semuanya baik-baik saja?” tanya Riko dalam pesan singkat.

“Sejauh ini semuanya baik. Kak Alda jauh lebih tenang dari yang ku kira. Aku semakin merasa bersalah, Rik,” balas Rima.

“Maksudmu, Kak Alda bersedia menjalani pernikahan poligami ini?” tanya Riko.

“Tidak, Riko. Hanya sampai anak ini lahir. Aku akan pergi setelahnya,” balas Rima.

“Aku tidak tahu harus berkata apa. Ku harap kamu bisa kuat menjalani semuanya. Jika butuh bantuan, hubungi aku,” tutup Riko.

Suasana tegang terjadi di kamar sebelah. Fandi menuntut jawaban logis dari Alda soal Mr. B.

“Itu hanya orang iseng, Mas. Seperti yang kamu tahu. Saat ini viral kasus di media sosial tentang orang-orang dari luar negara kita yang ingin menjalin hubungan dengan wanita dari negeri ini,” ujar Alda beralasan.

“Ini bukan media sosial, tapi telepon pribadi kamu, Al. Kamu tidak sedang berbohong ‘kan?” Fandi menatap lekat mata Alda.

“Mr. B pernah membeli kerajinan tangan yang ku  buat makanya ia punya nomor kontakku, Mas,” jawab Alda.

“Oke, aku percaya. Kamu harusnya jangan terlalu gugup, sayang. Tolong sampaikan pada Mr. X jangan menelepon malam-malam. Kamu itu sudah bersuami,” ujar Fandi.

“Jangan bilang kamu cemburu ya?” goda Alda sambil tertawa.

Fandi ikut tertawa melihat wajah gemas istrinya.

Rima ikut tertawa di balik dinding pembatas kamar mereka.

“Berbahagialah kalian, aku ikhlas. Kebahagiaan Kak Alda adalah kebahagiaan terbesarku,” gumam Rima.

Bayangan masa remaja datang tanpa diundang. Ketika duduk di bangku sekolah menengah pertama , Rima dirundung oleh beberapa temannya. Alda dengan berani melawan para perundung adiknya.

“Jika kalian berani mengganggu adikku, akan aku pastikan kalian dikeluarkan dari sekolah!”

Ucapan Alda saat itu hanya dianggap angin lalu. Rima masih saja mendapat perundungan, hingga akhirnya. Alda diam-diam merekam semuanya lalu mengadukan anak-anak yang merundung Rima ke sekolah lalu mereka dikeluarkan dari sekolah.

“Kak Alda selalu sempurna di mataku.”

**

“Aku tak menemukan apapun soal Tamara. Semua nomor ponselnya sekali bahkan rekening bank juga milik orang yang ia bayar. Aku curiga orang tersebut adalah orang dari masa lalumu,” isi pesan singkat dari Barli.

“Orang dari masa lalu? Tapi siapa? Setahuku, semua orang di masa lalu telah disuap oleh mama dan papa. Gak ada yang tahu cerita sebenarnya tentang gundik itu,” gumam Alda dengan wajah cemas.

Ponselnya kembali berbunyi.

“Kau tak perlu mencari tahu soal aku. Apalagi lewat orang bodoh seperti Barli. Bukankah ia gagal ketika kalian ingin mencelakai Rima?” isi pesan dari Tamara membuat Alda semakin gugup.

“Aku akan kirim uangnya besok. Temui aku di gedung kosong jalan Kawung jam 7 malam!” balas Alda.

“Kak, ayo kita makan. Sarapannya sudah siap,” ajak Rima.

Alda terkesiap, ponselnya hampir jatuh.

“Rima, kamu gak bisa ketuk pintu dulu sebelum masuk ke kamar orang lain?” tegur Alda dengan wajah dingin.

“M-maaf, Kak. Tapi, aku sudah ketuk pintu tadi. Gak ada jawaban,” ujar Rima.

“Ya sudah, nanti aku ke sana. Mas Fandi masih mandi. Tolong kamu buatkan bekal juga untuk Mas Fandi,” ucap Alda.

“Baik, Kak,” Rima keluar dari kamar Alda dengan banyak pertanyaan.

“Kak Alda kenapa ya? Kenapa dia seperti orang ketakutan? Wajahnya pucat sekali,” gumam Rima.

Rima menyediakan semua piring dan masakan yang ia masak dengan susah payah di atas meja makan. Namun, tak sanggup memakannya karena rasa mual yang sangat parah.

“Kamu mau kemana? Gak makan? Atau sudah makan lebih dulu?” tanya Alda.

“Kamu sakit?” tanya Fandi khawatir melihat Rima menggunakan masker berlapis.

“Kalian makan saja, aku gak bisa makan masakan berbumbu. Aku permisi,” Rima melangkah cepat menuju kamar mandi.

Fandi spontan berlari lalu menyusul Rima ke dalam kamar.

“Mas, kamu mau kemana? Ayo kita sarapan!”

Fandi tak bergeming, Alda sangat kesal dibuatnya.

“Jadi, sekarang kamu sudah mulai acuh, Mas? Kamu bilang cinta sama aku dan ingin mengakhirinya dengan Rima. Tapi nyatanya?” gerutu Alda kesal.

Rima memuntahkan isi perutnya. Hanya air yang keluar. Karena ia sama sekali tak mampu menelan makanan. Perutnya kram dan rasa mual tak mampu ia tahan. Fandi dengan sigap mengusap lembut punggung istrinya.

“Maafkan aku, sayang. Kamu tunggu di sini aku buatkan air madu jahe seperti semalam.”

Fandi bergegas menuju dapur dan membuatkan air madu jahe untuk Rima.

“Mas, kamu mau masak apa?” tanya Alda dari meja makan.

“Aku mau buatkan air madu jahe untuk meredakan mualnya Rima,” jawab Fandi.

“Tahan, Alda. Kamu harus tenang, jangan gegabah. Ingat pesan mama, buatlah orang lain tunduk karena hutang budi terhadap kebaikan kita. Terbukti, selama ini Rima selalu ada dibawah kendaliku,” gumam Alda dalam hati.

Fandi menyuapi air jahe buatannya sedikit demi sedikit menggunakan sendok.

“Bagaimana? Apa mualnya berkurang?” tanya Fandi.

Rima mengangguk pelan.

“Terima kasih, Mas. Mualnya mulai berkurang, perutku juga jadi lebih hangat,” Rima tersenyum hangat.

Tanpa diduga, Alda datang menggunakan kursi roda ke kamar Rima.

“Bagaimana kondisi kamu, Rima?” tanya Alda dengan wajah yang tampak khawatir.

“A-aku sudah jauh lebih baik, Kak. Mas, kamu bisa pergi sekarang. Temani Kak Alda.”

“Kamu juga harus makan, Rima! Kasihan anak kita di dalam sana, ia butuh nutrisi untuk tumbuh dengan sempurna,” Fandi mengusap lembut perut Rima.

Alda sangat marah dan cemburu namun ia berusaha keras untuk menahannya.

“Mungkin, Rima bisa makan jika disuapi oleh suaminya,” ujar Alda dengan senyum ramah.

Rima dan Fandi terkesiap mendengar ucapan Alda.

“Almarhumah mama pernah cerita. Dulu ketika hamil, beliau bisa makan kalau disuapi sama papa. Barangkali, hal yang sama juga dialami Rima,” ungkap Alda dengan antusias.

Fandi mengambil makanan dan menyuapi Rima perlahan. Rima tersenyum ketika ia benar-benar kehilangan rasa mualnya. Bahkan, semenjak hamil ini pertama kalinya ia bisa makan sepiring nasi.

“Kamu mau kemana, Ri? Jangan langsung beraktivitas. Biarkan makanan itu tercerna dengan baik,” ujar Fandi menahan tangan Rima yang hendak beranjak.

“Aku mau bersih-bersih, Mas. Sekarang kan sudah gak ada bibi,” jawab Rima.

“Ri, aku tahu kamu itu memang sangat rajin tapi ingat kondisi kamu. Saat ini kamu sedang hamil. Untuk urusan rumah, hari ini akan ada pembantu baru yang akan menetap di rumah. Sebaiknya kamu bedrest,” ujar Alda.

“Terima kasih, Kak. Aku gak menyangka Kak Alda masih berbesar hati setelah apa yang terjadi. Sekali lagi aku mingta maaf,” ucap Rima.

“Biar bagaimanapun, bayi itu adalah keponakanku dan kamu tetaplah adikku,” ucap Alda dengan santai.

“Aku akan membiarkannya, Rima. Nikmatilah kebahagiaan ini hingga waktunya tiba. Akan aku pastikan kamu menebusnya dengan segudang penderitaan,” gumam Alda dalam hati.

**

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • AKU ISTRI PERTAMA TETAPI AKULAH GUNDIKNYA   TUDUHAN PALSU

    ‎"Mengapa kamu mengingkarinya, Al. Bukankah kita telah berjanji akan merayakan hari ulang tahunmu bersama?" Hary meletakkan kue ulang tahun di tangannya di atas meja lalu merebahkan diri di atas ranjang.‎Pikirnya melayang teringat kisah manis di antara dirinya dan Alda beberapa tahun yang lalu.‎"Kak Hary!" Alda berlari ketika masuk ke dalam apartemen milik Hary. Wajahnya sangat panik melihat Hary tergeletak di lantai.‎"Happy birthday!" Hary membuka matanya lalu memeluk Alda dengan hangat.‎"Jadi, kamu bohongi aku?" Alda melepaskan pelukan Hary dengan kesal.‎Hary menahan tangan Alda sambil terkekeh.‎"Maaf, Al. Aku hanya bercanda. Aku ingin tahu seberapa cepat kamu datang ketika tahu aku sekarat."‎"Kamu tertawa? Kamu gak tahu bagaimana paniknya aku? Jantungku rasanya hampir lepas," protes Alda.‎"Cup," Hary mendaratkan bibirnya di bibir Alda. Wajah Alda seketika berubah warna. Pipinya merona karena tersipu malu.‎Hary mengulanginya dengan memberikan kecupan kedua. Alda membalasnya

  • AKU ISTRI PERTAMA TETAPI AKULAH GUNDIKNYA   ADIL

    POV. Pertemuan Rafael dan Hary.“Rafael?” Hary menghampiri pria yang menggunakan hoodie berwarna biru di meja paling pojok sebuah kafe.“Pak Hary?” Rafael beranjak dengan mata terbelalak.“Mau kemana? Kenapa kamu seperti ketakutan?” Hary menahan lengan Rafael.“Sial! Aku dijebak,” gerutu Rafael.“Jadi, bapak yang meminta saya untuk bertemu?” tanya Rafael.“Sebaiknya sekarang kamu duduk. Saya punya kesepakatan yang sangat menguntungkan untuk kamu,” Hary menepuk salah satu bahu Rafael.“Sekarang jelaskan pada saya. Apa tujuan pertemuan kamu dengan Bu Tika?” Hary menunjuk foto Rafael dan Bu Tika di sebuah club malam.Rafael terdiam dengan wajah gugup. Ia tak menyangka pertemuannya dengan Bu Tika di tempat yang menurutnya paling aman diketahui orang lain. Foto itu diambil dua hari sebelum skandal tentang kebohongan Alda terbongkar.“Kenapa? Kamu bingung kenapa saya bisa punya foto-foto ini?” tanya Hary dengan senyum sinis.“Kalau saya jawab, anda bisa kasih yang lebih besar dari Bu Tika?”

  • AKU ISTRI PERTAMA TETAPI AKULAH GUNDIKNYA   Suster Ida

    “Dari hasil pemeriksaan, Bu Rima mengalami kontraksi setelah mengonsumsi air rendaman rumput Fatimah. Ini sangat berbahaya, Pak. Beruntung janin dalam kandungannya kuat. Saya harap ke depannya bapak bisa lebih memperhatikan apapun yang dikonsumsi oleh Bu Rima,” ungkap Dokter Cindy.“Baik, Dokter. Terima kasih. Saya akan lebih perhatian terhadap istri saya,” Fandi berusaha tetap tenang. Ia melirik Rima yang masih terbaring lemah di ruang perawatan.“Suster Ida. Dia yang mengurus semua tentang Rima,” ujar Fandi dalam hati.“Mbak kamu ke rumah sakit sekarang!” Fandi menelepon asisten rumah tangganya.Fandi membuka tirai IGD tempat ia melihat Hary dan Alda. Namun tak ada siapapun di sana.“Ternyata benar, aku salah lihat.”**“Al, kamu yakin gak masalah? Kamu harus mendapat perawatan lebih lanjut. Kamu baru saja mengalami keguguran,” tanya Hary khawatir.“Aku gak mau suami aku tahu soal ini. Tolong rahasiakan semuanya, Kak,” jawab Alda dengan wajah sendu. Tubuhnya terbaring di atas ranjan

  • AKU ISTRI PERTAMA TETAPI AKULAH GUNDIKNYA   DENDA(M)

    POV. Pertengkaran Olin dan Hary di apartemen.“Sayang, kamu mau makan apa?” tanya Hary menatap layar ponselnya untuk memesan makanan online.“Terserah,” jawab Olin singkat.Hary menatap wajah Olin yang tampak kesal. “Sayang, kamu kenapa?” Hary menggenggam tangan Olin dengan lembut.“Ini!” Olin meletakkan sebuah goodie bag di atas meja.Hary membuka goodie bag tersebut. “Gaun yang dipakai Alda untuk syuting? Kenapa ada di kamu, sayang?”Olin tertawa getir. “Bukankah seharusnya aku yang bertanya? Kenapa Alda bisa memakai gaun milikku?”Hary tersentak. “Ya Tuhan, aku baru sadar kalau gaun ini milik Olin bukannya keperluan syuting,” gumam Hary dalam hati.“Maaf, sayang. Sepertinya aku salah mengambilkan gaun untuk keperluan syuting Alda kemarin.”“Jadi, Alda sudah menjalani syuting di apartemen pribadi kamu? Bukankah jadwal syuting akan dilakukan lusa? Aku kecewa sama kamu, Mas. Bisa-bisanya Alda mengembalikan gaun ini ke aku. Kalian hanya berdua kala itu?” Olin semakin kesal.“Tentu, tid

  • AKU ISTRI PERTAMA TETAPI AKULAH GUNDIKNYA   RAFAEL

    “Aku gak percaya kamu pergi secepat ini, Riko. Maafkan aku, Rik,” Rima menangis di depan pusara Riko.Ia masih tak percaya dengan apa yang terjadi pada sahabatnya.“Seandainya kemarin kita bertemu. Apakah takdir akan berubah?”“Rima, ayo kita pulang!” ajak Alda.“Ayo, sayang!” Fandi membantu Rima beranjak dari duduknya.Rima masih terpaku seraya memandangi makam Riko yang penuh dengan bunga.“Rima, kamu harus belajar mengikhlaskan Riko. Aku tahu kamu sangat menyesali apa yang terjadi pada Riko apalagi alasannya mengakhiri hidup karena cintanya bertepuk sebelah tangan,” ujar Alda dengan sengaja.Fandi dan Rima terkesiap.“Mengapa Alda bisa bicara seperti itu di depan orang banyak? Apakah dia sengaja?” gumam Fandi dalam hati.“Kak Alda bisa setega ini? Ia sengaja ingin semua orang tahu isi surat itu?” gumam Rima dalam hati.“Alda! Jaga bicaramu!” bentak Fandi.“Itu semua fakta, Mas. Kenapa kamu marah? Kamu gak boleh lho pilih kasih. Istri sah kamu itu aku dan saat ini aku juga sedang me

  • AKU ISTRI PERTAMA TETAPI AKULAH GUNDIKNYA   SEPUCUK SURAT

    “M-maaf, Al. Ini salah,” Hary menahan tangan Alda lalu mengancing kembali kemejanya. Ia pergi ke kamar mandi untuk menenangkan diri.Alda berdecak kesal sambil mengacak rambutnya. Ia merasa dipermalukan.“Suster Ulfa, jemput saya di Apartemen Lavender Gedung A lantai 17 kamar 09!”“Baik, Bu. Saya akan segera kesana!”Hary mencuci wajahnya lalu bercermin. “Kau sangat bodoh, Hary! Bisa-bisanya kau lupa apa tujuanmu! Kau harus ingat betapa jahat dan manipulatifnya dia. Di balik sikap manisnya, pasti ada sesuatu yang ia inginkan.”Ponsel Hary yang ada di atas meja bergetar.“Cintaku?” Alda melihat layar ponsel Hary yang kini ada tangannya lalu menekan tanda hijau. Ia meletakkannya di atas meja.“Sayang,” ujar Olin dalam panggilan telepon.“Kak Hary, kamu belum selesai mandi?” Alde dengan sengaja mengeraskan suaranya.“Lima menit lagi aku selesai, Al,” sahut Hary.“Jangan lama-lama ya, Kak. Aku takut sendirian,” ujar Alda.“Al? Siapa yang dimaksud Hary? Apa mungkin Alda melakukan syuting d

  • AKU ISTRI PERTAMA TETAPI AKULAH GUNDIKNYA   COKELAT PANAS

    “Sayang, aku ingin bertanya. Apakah boleh?” Fandi menatap lekat mata Rima yang sendu.“Tanya apa, Mas?” Rima tampak canggung.Fandi menyeka helaian rambut di pelipis istrinya dengan lembut. “Apakah kamu mencintaiku?”Rima terkesiap lalu mengalihkan pandangannya. “Kenapa kamu bertanya seperti ini, Ma

  • AKU ISTRI PERTAMA TETAPI AKULAH GUNDIKNYA   ADU DOMBA

    “Mas, kasihan lho Rima belum makan. Dia nunggu kamu di meja makan. Kamu bete begini karena kedatangan Riko?” tanya Alda.“Ya jelas aku kesal. Rima menerima tamu laki-laki ketika suaminya sedang tidak di rumah,” ungkap Fandi dengan wajah cemberut.Rima yang berada di balik pintu terpaku mendengar uc

  • AKU ISTRI PERTAMA TETAPI AKULAH GUNDIKNYA   PERNIKAHAN RESMI

    PERNIKAHAN RESMIAlda sudah diperbolehkan pulang sejak satu minggu lalu. Kini, ia tengah disibukkan dengan persiapan pernikahannya minggu depan. Gaun pengantin yang sudah dipersiapkan jauh-jauh hari begitu menyayat hatinya.“Kak, gaun pengantinnya cantik sekali. Aku gak sabar melihat kakak mengenak

  • AKU ISTRI PERTAMA TETAPI AKULAH GUNDIKNYA   PERNIKAHAN RAHASIA

    "Saya terima nikah dan kawinnya Rima Kania Putri dengan mas kawin tersebut. Tunai," suara lantang Fandi memecah keheningan.‎"Sah," sahut dua orang saksi dan penghulu yang ada dalam ruangan apartemen.‎Air mata Rima menetes ketika penghulu mulai membaca doa usai ijab qobul. Rasa bahagia, sedih, jug

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status