Share

TIPU DAYA ALDA

Author: suciradewi
last update publish date: 2026-04-23 20:06:52

“Sayang, kamu sudah sadar?” Fandi mengecup lembut tangan Alda.

Alda membuka matanya perlahan.

“Mas Fandi. Aku cinta sama kamu, Mas,” ucapnya lirih.

“Aku tidak akan pernah meninggalkan kamu. Aku hanya ingin meminta waktu untuk melepaskan Rima. Aku mohon, Al. Anak dalam kandungan Rima tidak bersalah. Aku akan ceraikan Rima ketika anak kami lahir,” ucap Fandi dengan tulus.

“Kamu harus tahu satu hal, Mas. Rima adalah anak asisten rumah tangga di rumah kami. Ayahku berselingkuh dengan ibunya Rima dan melahirkan Rima. Ibunya meninggal dunia dan ibuku dengan sepenuh hati merawatnya. Aku sudah terlalu menderita untuk berlapang dada menerima dia di hidupku. Apalagi sekarang kakiku lumpuh karena dia,” ujar Alda dengan tangisnya.

Rima dan Riko mendengar ucapan Alda dari balik pintu.

“Ri, sepertinya kita langsung kembali saja ke villa. Kak Alda juga pasti butuh waktu,” ujar Riko.

“Jadi, selama ini Kak Alda menyimpan semua kesakitannya harus menerimaku dalam hidupnya? Aku benar-benar orang yang tidak tahu balas budi. Aku menghancurkan orang yang sangat baik seperti Kak Alda,” Rima mengusap air matanya.

Riko mendorong kursi roda Rima lalu pergi meninggalkan ruang rawat Alda. Senyum sinis tersungging tipis dari bibir Alda melihat kepergian Rima dari pintu ruangan yang terbuka setengah.

“Kamu harus terus merasa bersalah, Rima!” gumam Alda dalam hati.

Sepanjang perjalanan, Riko menenangkan Rima yang masih sesenggukan.

“Ri, apa kamu sadar kalau selama ini Kak Alda terlalu memanfaatkan kamu?” tanya Riko.

“Memanfaatkan? Maksud kamu apa, Rik?”

“Kamu itu selalu mengalah dalam hal apapun. Kamu rela menggantikan posisi Alda saat dia sedang kesulitan. Aku paham dia baik sama kamu. Tapi, bukankah berlebihan jika kamu yang harus menanggug semua beban?”  ujar Riko.

“Rik, kamu gak tahu apa yang sudah aku lalui. Kak Alda orang yang sangat baik. Dia menerima aku layaknya adik kandung. Padahal dia tahu aku ini siapa. Kalau gak ada Kak Alda dan ibunya. Mungkin aku sudah tinggal di jalanan,” ujar Rima terlihat marah.

“Iya, Ri. Tapi, mau sampai kapan kamu selalu ada di bawah kuasa kakakmu? Bahkan, saat ini kamu juga sedang berkorban untuk dia,” Riko berusaha menyadarkan Rima.

“Aku rela mengorbankan semuanya untuk Kak Alda termasuk kebahagiaanku, Rik,” jawab Rima tegas.

**

Tiga hari berlalu, Alda sudah pulang dari rumah sakit. Ia dan Fandi memutuskan untuk pulang ke Indonesia. Alda hanya diam selama perjalanan hingga sampai di rumah.

“Kak, aku minta maaf,” Rima bersimpuh di hadapan Alda.

“Aku muak lihat wajah kamu, Rima. Kamu itu orang yang paling tidak tahu diri di dunia ini. Aku perlakukan kamu dengan sangat baik. Aku anggap kamu sebagai adik kandung. Aku berusaha sepenuh hati menerima kamu. Tapi apa? Kamu menusukku dari belakang. Kamu rebut calon suamiku dan sekarang? Kamu mengandung anaknya?” teriak Alda.

“Aku berencana mundur dari pernikahan ini, Kak. Aku juga gak tahu tentang kehamilan ini. Aku akan meminta cerai sekarang juga. Aku akan pergi dari hidup kalian,” pinta Rima.

Fandi tak kuasa melihat tangisan Rima. Namun, ia juga tak mau menyakiti perasaan Alda.

“Maafkan aku, Rima,” gumamnya lirih.

“Kamu pikir aku sejahat itu? Aku akan biarkan kamu tetap disini sampai anak itu lahir. Setelahnya, kamu bisa pergi. Tapi, jangan harap kamu bisa dapat hak sebagai istri di rumah ini!” ujar Alda.

“Terima kasih banyak, Kak. Sekali lagi aku minta maaf,” ucap Rima sebelum pergi meninggalkan kamar Alda.

“Kamu pikir hanya ini yang aku inginkan, Rima? Aku akan ambil hak asuh anak itu. Aku gak mau repot-repot hamil dan melahirkan. Anak kamulah yang akan menjadi anakku dan Mas Fandi,” gumam Alda dalam hati.

“Alda memang orang yang sangat baik. Ia masih mau menerima keberadaan Rima di rumah ini? Maafkan aku, Alda. Aku telah menyakiti wanita sebaik kamu,” gumam Fandi dari balik pintu.

Rima keluar dari kamar Alda dan berpapasan dengan suaminya.

“Kamu sudah makan? Sudah minum vitamin?” tanya Fandi canggung.

“Sudah, Mas. Aku permisi,” Rima bergegas menuju kamarnya.

Fandi memandangi punggung Rima yang semakin jauh dan menghilang dari balik pintu.

“Maafkan aku, Rima,” gumamnya lirih.

Ponsel Alda bergetar tanda pesan masuk.

“Uang yang kamu kirim habis. Kirim lagi uangnya sekarang! Jika tidak semua kebohonganmu terbongkar! Termasuk kakimu yang sebenarnya tidak lumpuh!” Alda membaca isi pesan yang masuk ke ponselnya dengan wajah cemas.

“Sebenarnya kamu itu siapa? Bukankah hasil penjualan rumah orang tuaku dan dua buah mobil sudah ku berikan semua? Apalagi yang kamu inginkan? Aku sudah tidak punya apa-apa!” balas Alda dengan tangan bergetar.

“Aku tidak peduli. Ku beri waktu tiga hari. Kirimkan uang 100 juta atau rahasia tentang masa lalu ibumu akan ku bongkar! Kamu adalah anak gundik!” mata Alda seketika membulat, Ia segera menutup layar ponsel.

“Kamu kenapa, sayang?” tanya Fandi yang baru saja masuk ke dalam kamar.

“Aku tidak apa-apa, Mas. Aku hanya terlalu lelah. Aku mau tidur sekarang,” sahut Alda masih gugup.

Fandi menggendong tubuh istrinya dan merebahkannya di atas ranjang.

“Kamu tidur duluan saja, ya. Aku mau ambil air minum dulu.”

“Jangan lama-lama ya, Mas.”

“Aku harus caritahu soal wanita misterius itu. Barli pasti punya cara,” Alda mengambil ponselnya dan mengirim pesan singkat kepada Barli.

Caritahu soal perempuan bernama Tamara. Aku kirim semua nomor yang dia gunakan. Bayarannya besar tapi ingat jangan gagal seperti waktu itu!

“Pas banget si bos kasih kerjaan lagi. Kali ini aku tidak akan gagal,” ujar seorang pria muda dengan senyum tipis.

“Sayang sekali misi untuk menodai Rima kala itu gagal. Seandainya berhasil hidupku pasti jauh lebih baik. Dendamku ke Rima terbalas dan dapat bonus uang dari kakaknya yang jahat itu,” gumam pria bernama Barli dengan senyum sinis.

Langkah Fandi terhenti di depan kamar Rima. Terdengar suara Rima yang sedang muntah-muntah di kamar mandi.

“Rima, dia pasti gak nyaman dengan rasa mual di awal kehamilan.”

Fandi bergegas menuju dapur dan membuatkan air jahe madu hangat untuk Rima.

“Rima!” Fandi menaruh cangkir di atas nakas lalu menghampiri Rima yang terduduk di dekat closet setelah muntah-muntah.

Wajah Rima terlihat sangat pucat dipenuhi peluh yang bercucuran.

“Sayang, maafin aku,” Fandi memeluk erat tubuh Rima yang lemas.

“M-mas, jangan ke sini. Nanti Kak Alda marah,” Rima melepas pelukan Fandi dengan sisa tenaganya.

“Alda sudah tidur. Sekarang, kamu coba minum air jahe hangat,” Fandi membopong tubuh Rima yang lemas ke tepi ranjang.

Rima meminum sedikit demi sedikit air jahe buatan suaminya.

“Gimana? Sudah lebih baik?” tanya Fandi.

“Rasa mualnya mulai berkurang, perutku lebih hangat,” Rima tersenyum simpul.

“Syukurlah, aku akan sering buatkan untuk kamu,” Fandi mengusap lembut rambut istrinya.

Rima sedikit menjauh untuk menghindari Fandi.

“Mas, maaf. Sebaiknya kamu kembali ke kamar. Aku sudah jauh lebih baik. Terima kasih air jahenya,” ujar Rima tersenyum.

“Aku minta maaf, sayang. Aku akan usahakan yang terbaik untuk kamu dan anak kita. Aku akan berusaha meluluhkan hati Alda agar bisa menerima kamu sebagai istriku,” Fandi menggenggam tangan Rima.

“Mas, jangan dipaksakan. Aku ikhlas jika kita harus mengakhirinya. Pengasuhan anak bisa kita bicarakan nanti. Aku sangat tahu sifat Kak Alda. Dia bukan orang yang mudah dibujuk. Kamu gak perlu pikirkan akua tau anak kita. Fokus saja pada Kak Alda,” pinta Rima melepas genggaman tangan Fandi.

“T-tapi,” ucapan Fandi tercekat saat suara teriakan Alda menggema dari kamar sebelah.

“Mas Fandi! Mas!” teriak Alda.

“Aku pergi dulu. Kalau kamu butuh sesuatu kirim pesan saja,” ucap Fandi sebelum pergi.

"Kamu dari mana, Mas? Jangan bilang kamu datang ke kamar gundik itu!" tanya Alda dengan nada sarkastis.

"Tidak, sayang. Aku hanya mengambil air minum. Ayo, kita tidur lagi," ajak Fandi.

"Syukurlah, Mas Fandi tak menjawab jujur pertanyaan Kak Alda. Aku bisa paham dengan kecurigaan Kak Alda setelah tahu kebohongan yang dibuat oleh adik dan suaminya," gumam Rima yang bisa mendengar suara keras Alda dari kamar sebelah.

Ponsel milik Alda bergetar di atas nakas. 

"Sayang, Mr. B itu siapa? Ada keperluan apa laki-laki menelepon perempuan yang sudah menikah saat tengah malam?" tanya Fandi ketika melihat nama si penelepon di layar ponsel istrinya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • AKU ISTRI PERTAMA TETAPI AKULAH GUNDIKNYA   WANITA BERTOPENG

    “Mas, aku izin pergi ke acara workshop di Bandung. Aku nginep satu atau dua malam di sana,” ujar Alda.“Kenapa mendadak? Besok aku ada meeting dengan klien penting satu hari penuh, Al. Aku gak bisa menemani kamu ke sana.”“Kamu gak perlu khawatir, Mas. Aku sudah panggil supir kantor. Kamu fokus sama pekerjaan dan juga Rima. Aku baik-baik saja,” Alda mengusap lembut tangan suaminya.Dengan berat hati, Fandi melepas Alda pergi sendirian dalam kondisi lumpuh. “Kamu wajib kabari aku terus ya, sayang,” Fandi mengecup lembut tangan istrinya.Fandi mengantar Alda ke mobil.“Kak Alda mau kemana?” tanya Rima.“Aku ada workshop mendadak ke Bandung,” jawab Alda.“Aku ikut ya, Kak,” pinta Rima.“Ikut? Kamu harus bedrest, Rima. Kamu tenang saja, aku pergi ke sana bareng supir kantor. Di sana juga akan ada temanku,” ujar Alda lalu masuk ke dalam mobil.“Pak, saya istri saya, ya. Hati-hati di jalan,” ucap Fandi pada supir kantor.Rima melihatnya sekilas. “Kak, supir kantornya baru?”“Enggak, Ri. Ya

  • AKU ISTRI PERTAMA TETAPI AKULAH GUNDIKNYA   ORANG DARI MASA LALU

    “Ri, bagaimana kabar kamu? Apa semuanya baik-baik saja?” tanya Riko dalam pesan singkat.“Sejauh ini semuanya baik. Kak Alda jauh lebih tenang dari yang ku kira. Aku semakin merasa bersalah, Rik,” balas Rima.“Maksudmu, Kak Alda bersedia menjalani pernikahan poligami ini?” tanya Riko.“Tidak, Riko. Hanya sampai anak ini lahir. Aku akan pergi setelahnya,” balas Rima.“Aku tidak tahu harus berkata apa. Ku harap kamu bisa kuat menjalani semuanya. Jika butuh bantuan, hubungi aku,” tutup Riko.Suasana tegang terjadi di kamar sebelah. Fandi menuntut jawaban logis dari Alda soal Mr. B.“Itu hanya orang iseng, Mas. Seperti yang kamu tahu. Saat ini viral kasus di media sosial tentang orang-orang dari luar negara kita yang ingin menjalin hubungan dengan wanita dari negeri ini,” ujar Alda beralasan.“Ini bukan media sosial, tapi telepon pribadi kamu, Al. Kamu tidak sedang berbohong ‘kan?” Fandi menatap lekat mata Alda.“Mr. B pernah membeli kerajinan tangan yang ku buat makanya ia punya nomor k

  • AKU ISTRI PERTAMA TETAPI AKULAH GUNDIKNYA   TIPU DAYA ALDA

    “Sayang, kamu sudah sadar?” Fandi mengecup lembut tangan Alda.Alda membuka matanya perlahan.“Mas Fandi. Aku cinta sama kamu, Mas,” ucapnya lirih.“Aku tidak akan pernah meninggalkan kamu. Aku hanya ingin meminta waktu untuk melepaskan Rima. Aku mohon, Al. Anak dalam kandungan Rima tidak bersalah. Aku akan ceraikan Rima ketika anak kami lahir,” ucap Fandi dengan tulus.“Kamu harus tahu satu hal, Mas. Rima adalah anak asisten rumah tangga di rumah kami. Ayahku berselingkuh dengan ibunya Rima dan melahirkan Rima. Ibunya meninggal dunia dan ibuku dengan sepenuh hati merawatnya. Aku sudah terlalu menderita untuk berlapang dada menerima dia di hidupku. Apalagi sekarang kakiku lumpuh karena dia,” ujar Alda dengan tangisnya.Rima dan Riko mendengar ucapan Alda dari balik pintu.“Ri, sepertinya kita langsung kembali saja ke villa. Kak Alda juga pasti butuh waktu,” ujar Riko.“Jadi, selama ini Kak Alda menyimpan semua kesakitannya harus menerimaku dalam hidupnya? Aku benar-benar orang yang ti

  • AKU ISTRI PERTAMA TETAPI AKULAH GUNDIKNYA   BENIH CINTA

    “Ada masalah apa, Al? Kenapa kamu kelihatan bingung? Riko di mana?” tanya Fandi yang baru saja datang.“Riko? Katanya mau ke toilet. Kalian gak ketemu?” sahut Alda sambil menatap layar ponselnya dengan wajah bingung.“Oh, enggak. Kamu kenapa? Ada apa?” tanya Fandi.“Aku baru sadar kalau pembayaran villa semalam itu gagal. Jadi, batal otomatis dari sistemnya, Mas. Villa lainnya juga penuh karena ini musim liburan,” jelas Alda.“Ya sudah, kita cari hotel yang tersedia saja,” ujar Fandi santai.Alda cemberut. “Tapi, Mas. Aku itu ingin sekali menginap di villa mewah. Kita itu honeymoon bukan liburan biasa.”“Ya mau bagaimana lagi, Al. Ini salahmu juga ‘kan?” sahut Fandi mulai kesal dengan sikap Alda.Riko dan Rima kembali bersama ke meja makan. Alda mengungkapkan masalah vila yang gagal mereka pesan kepada Riko.“Villa? Kalau kalian mau, kebetulan aku juga menyewa villa di Permata Resort. Aku sendirian dan di sana ada tiga kamar. Pas untuk kita berempat,” ujar Riko.Alda terkekeh ketika t

  • AKU ISTRI PERTAMA TETAPI AKULAH GUNDIKNYA   TALAK AKU, MAS!

    “Gak ada apa-apa, Kak. Aku hanya gak mau momen manis kalian terganggu nantinya,” sahut Rima segera. Ia teringat ucapan dokter soal kondisi psikis Alda yang harus tetap dijaga.“Oke, berarti kamu setuju untuk ikut ya. Aku butuh kamu, Rima. Kamu tahu sendiri kondisiku. Kakiku lumpuh,” ujar Alda dengan tatapan sendu.Kata “lumpuh” selalu menyentuh relung hati Rima. Perasaan bersalah menyelimutinya saat mendengar Alda mengucapkannya dengan wajah sendu.“Iya, Kak. Aku ikut,” Rima tersenyum.Rima memasukkan beberapa pakaian ke dalam koper dengan wajah sendu. Bayang-bayang kemesraan antara Fandi dan Alda yang selama ini ia lihat.“Bertahun-tahun aku menahannya. Ku ikhlaskan Kak Alda bersama dengan cinta pertamaku. Ku simpan semuanya sendiri. Ku biarkan Mas Fandi salah paham dan berniat ingin merahasiakannya hingga akhir. Sekarang, aku harus memperpanjang rasa sakit ini.”“Tok, tok, tok.” Suara ketukan di kaca jendela.Rima mengusap air matanya lalu membuka hordeng. Rupanya, Fandi yang menget

  • AKU ISTRI PERTAMA TETAPI AKULAH GUNDIKNYA   PERNIKAHAN RESMI

    PERNIKAHAN RESMIAlda sudah diperbolehkan pulang sejak satu minggu lalu. Kini, ia tengah disibukkan dengan persiapan pernikahannya minggu depan. Gaun pengantin yang sudah dipersiapkan jauh-jauh hari begitu menyayat hatinya.“Kak, gaun pengantinnya cantik sekali. Aku gak sabar melihat kakak mengenakannya. Kakakku pasti akan menjadi pengantin tercantik di dunia,” ujar Rima dengan senyum sumringah.“Pengantin lumpuh tercantik maksudmu?” ujar Alda tersenyum getir.Rima tertegun melihat wajah Alda yang murung.“Kak, maafkan aku. Seandainya, malam itu Rima bisa lebih berani. Kecelakaan itu gak akan terjadi,” Rima tertunduk dengan bulir-bulir bening yang mulai jatuh ke lantai.Bayangan ketika kecelakaan itu terjadi masih tampak jelas dalam ingatan.POV. Saat kecelakaan terjadi.“Kak, aku takut. Ada orang aneh yang tampak mencurigakan. Tolong Rima, Kak,” Rima mengirim pesan dengan tangan gemetar.Tubuhnya bersembunyi di antara tumpukan barang sebuah gudang tua. Jam tangan menunjukkan waktu ja

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status