MasukSiapakah wanita bertopeng itu? Lalu siapa pria yang ada di club malam?
“Mas Fandi, kamu di sini sayang?” tanya Alda dengan mata sayu. Penampilannya berantakan ditambah bau alkohol yang sangat menyengat.“Rupanya, Alda sangat mabuk hingga tak mengenali aku sama sekali. Tapi, bukankah ia lumpuh?” ujar pria berperawakan tinggi yang terus memapah tubuh Alda.Alda tak sadar jika kini ia berada dalam pelukan pria yang ia kira adalah suaminya. Pria itu membawanya ke sebuah kamar hotel di dekat club.“Sayang, aku rindu,” bisik Alda dengan senyum menggoda. Ia membuka satu per satu kemeja pria itu.“Jangan, Alda!” pria tadi menepisnya.Alda tak peduli dan memberikan kecupan manis di bibir pria itu. “Cup.”Pria tersebut goyah lalu membalas kecupan manis yang diberikan Alda. Kecupan-kecupan tadi berubah menjadi ciuman intens dengan penuh gairah. Pakaian Alda satu persatu tanggal hingga taka da sehelai benangpun menutupi tubuhnya. Begitu pula pria tadi.“Arggh,” desahan demi desahan memenuhi kamar hotel.“Mas, kamu sungguh berbeda dari biasanya. Aku mencintaimu,” bis
“Mas, aku izin pergi ke acara workshop di Bandung. Aku nginep satu atau dua malam di sana,” ujar Alda.“Kenapa mendadak? Besok aku ada meeting dengan klien penting satu hari penuh, Al. Aku gak bisa menemani kamu ke sana.”“Kamu gak perlu khawatir, Mas. Aku sudah panggil supir kantor. Kamu fokus sama pekerjaan dan juga Rima. Aku baik-baik saja,” Alda mengusap lembut tangan suaminya.Dengan berat hati, Fandi melepas Alda pergi sendirian dalam kondisi lumpuh. “Kamu wajib kabari aku terus ya, sayang,” Fandi mengecup lembut tangan istrinya.Fandi mengantar Alda ke mobil.“Kak Alda mau kemana?” tanya Rima.“Aku ada workshop mendadak ke Bandung,” jawab Alda.“Aku ikut ya, Kak,” pinta Rima.“Ikut? Kamu harus bedrest, Rima. Kamu tenang saja, aku pergi ke sana bareng supir kantor. Di sana juga akan ada temanku,” ujar Alda lalu masuk ke dalam mobil.“Pak, saya istri saya, ya. Hati-hati di jalan,” ucap Fandi pada supir kantor.Rima melihatnya sekilas. “Kak, supir kantornya baru?”“Enggak, Ri. Ya s
“Ri, bagaimana kabar kamu? Apa semuanya baik-baik saja?” tanya Riko dalam pesan singkat.“Sejauh ini semuanya baik. Kak Alda jauh lebih tenang dari yang ku kira. Aku semakin merasa bersalah, Rik,” balas Rima.“Maksudmu, Kak Alda bersedia menjalani pernikahan poligami ini?” tanya Riko.“Tidak, Riko. Hanya sampai anak ini lahir. Aku akan pergi setelahnya,” balas Rima.“Aku tidak tahu harus berkata apa. Ku harap kamu bisa kuat menjalani semuanya. Jika butuh bantuan, hubungi aku,” tutup Riko.Suasana tegang terjadi di kamar sebelah. Fandi menuntut jawaban logis dari Alda soal Mr. B.“Itu hanya orang iseng, Mas. Seperti yang kamu tahu. Saat ini viral kasus di media sosial tentang orang-orang dari luar negara kita yang ingin menjalin hubungan dengan wanita dari negeri ini,” ujar Alda beralasan.“Ini bukan media sosial, tapi telepon pribadi kamu, Al. Kamu tidak sedang berbohong ‘kan?” Fandi menatap lekat mata Alda.“Mr. B pernah membeli kerajinan tangan yang ku buat makanya ia punya nomor k
“Sayang, kamu sudah sadar?” Fandi mengecup lembut tangan Alda.Alda membuka matanya perlahan.“Mas Fandi. Aku cinta sama kamu, Mas,” ucapnya lirih.“Aku tidak akan pernah meninggalkan kamu. Aku hanya ingin meminta waktu untuk melepaskan Rima. Aku mohon, Al. Anak dalam kandungan Rima tidak bersalah. Aku akan ceraikan Rima ketika anak kami lahir,” ucap Fandi dengan tulus.“Kamu harus tahu satu hal, Mas. Rima adalah anak asisten rumah tangga di rumah kami. Ayahku berselingkuh dengan ibunya Rima dan melahirkan Rima. Ibunya meninggal dunia dan ibuku dengan sepenuh hati merawatnya. Aku sudah terlalu menderita untuk berlapang dada menerima dia di hidupku. Apalagi sekarang kakiku lumpuh karena dia,” ujar Alda dengan tangisnya.Rima dan Riko mendengar ucapan Alda dari balik pintu.“Ri, sepertinya kita langsung kembali saja ke villa. Kak Alda juga pasti butuh waktu,” ujar Riko.“Jadi, selama ini Kak Alda menyimpan semua kesakitannya harus menerimaku dalam hidupnya? Aku benar-benar orang yang ti
“Ada masalah apa, Al? Kenapa kamu kelihatan bingung? Riko di mana?” tanya Fandi yang baru saja datang.“Riko? Katanya mau ke toilet. Kalian gak ketemu?” sahut Alda sambil menatap layar ponselnya dengan wajah bingung.“Oh, enggak. Kamu kenapa? Ada apa?” tanya Fandi.“Aku baru sadar kalau pembayaran villa semalam itu gagal. Jadi, batal otomatis dari sistemnya, Mas. Villa lainnya juga penuh karena ini musim liburan,” jelas Alda.“Ya sudah, kita cari hotel yang tersedia saja,” ujar Fandi santai.Alda cemberut. “Tapi, Mas. Aku itu ingin sekali menginap di villa mewah. Kita itu honeymoon bukan liburan biasa.”“Ya mau bagaimana lagi, Al. Ini salahmu juga ‘kan?” sahut Fandi mulai kesal dengan sikap Alda.Riko dan Rima kembali bersama ke meja makan. Alda mengungkapkan masalah vila yang gagal mereka pesan kepada Riko.“Villa? Kalau kalian mau, kebetulan aku juga menyewa villa di Permata Resort. Aku sendirian dan di sana ada tiga kamar. Pas untuk kita berempat,” ujar Riko.Alda terkekeh ketika t
“Gak ada apa-apa, Kak. Aku hanya gak mau momen manis kalian terganggu nantinya,” sahut Rima segera. Ia teringat ucapan dokter soal kondisi psikis Alda yang harus tetap dijaga.“Oke, berarti kamu setuju untuk ikut ya. Aku butuh kamu, Rima. Kamu tahu sendiri kondisiku. Kakiku lumpuh,” ujar Alda dengan tatapan sendu.Kata “lumpuh” selalu menyentuh relung hati Rima. Perasaan bersalah menyelimutinya saat mendengar Alda mengucapkannya dengan wajah sendu.“Iya, Kak. Aku ikut,” Rima tersenyum.Rima memasukkan beberapa pakaian ke dalam koper dengan wajah sendu. Bayang-bayang kemesraan antara Fandi dan Alda yang selama ini ia lihat.“Bertahun-tahun aku menahannya. Ku ikhlaskan Kak Alda bersama dengan cinta pertamaku. Ku simpan semuanya sendiri. Ku biarkan Mas Fandi salah paham dan berniat ingin merahasiakannya hingga akhir. Sekarang, aku harus memperpanjang rasa sakit ini.”“Tok, tok, tok.” Suara ketukan di kaca jendela.Rima mengusap air matanya lalu membuka hordeng. Rupanya, Fandi yang menget







