Home / Romansa / ALARICK / Alarick Part 1

Share

ALARICK
ALARICK
Author: SereiaAlvenna_

Alarick Part 1

last update Petsa ng paglalathala: 2021-05-19 15:42:38

Seorang pria dengan jas hitam yang melekat di tubuh berototnya tengah berjalan menuju ruangan seseorang yang menjadi atasannya.

Pandangan lapar dari pegawai-pegawai wanita mereka tujukan pada pria berambut hitam kecoklatan itu, namun tak sedikitpun dia menaruh perhatian pada wanita-wanita yang sedari tadi menatapnya.

Tangannya mengudara hendak mengetuk pintu yang kini sudah ada di hadapannya. Sebelum tangannya menggapai pintu itu, pintu terbuka menampilkan seseorang berpakaian resmi seperti dirinya, namun jika dilihat usia mereka sepertinya terpaut cukup jauh.

“Apa yang Ayah inginkan dariku?” tanya pria muda itu. Langkah kakinya terus mengikuti pria paruh baya yang baru saja keluar dari ruangannya.

Pria tua itu sontak menghentikan langkahnya saat mendengar pertanyaan dari pria muda yang tak lain adalah anaknya.

“Kau masih bertanya apa mauku? Alarick Mauricio, jauhi gadis itu dan segeralah menikah dengan gadis pilihanku,” jawabnya mutlak.

Terkejut? Tidak. Alarick sudah mengetahui perihal perjodohannya dengan anak teman ayahnya.

“Maksudmu Haleth? Aku harus memutuskannya?” Alarick berdecak mendengar permintaan ayahnya. Sebenarnya dia sudah menduga ini sebelumnya, namun siapa sangka akan secepat ini?

“Maaf Ayah, untuk permintaanmu yang satu ini aku tidak bisa. Aku mencintainya.” Alarick berjalan meninggalkan ayahnya yang tetap berada di tempatnya.

“Bahkan jika aku tak memberikan perusahaan ini padamu?” Langkah Alarick kembali terhenti mendengar penuturan ayahnya. Dia menolehkan kepalanya, tak percaya ayahnya akan melakukan itu padanya.

“Baiklah lakukan apa maumu,” lanjut Tuan Mauricio pada Alarik dan segera melanjutkan langkahnya meninggalkan putranya itu.

***

Tubuh Nerissa merosot menyaksikan si jago merah melahap seluruh bagian rumahnya. Tak hanya rumahnya saja, seseorang yang sangat dia sayangi juga ada di dalamnya.

Tangisnya pecah mengingat dia tak punya siapa-siapa untuk dimintai pertolongan.

“Ibu, maafkan aku ...” isak tangis terdengar di tengah kobaran api yang membakar habis rumahnya.  Nerissa tak sempat menolong ibunya, kini hanya penyesalan yang dia miliki.

Seandainya saja dia lebih cepat datang, seandainya dia tidak lebih mementingkan pekerjaannya, semua ini tak akan pernah terjadi. Kini kata ‘seandainya’ itu hanya terganti dengan ‘penyesalan’.

Tangannya yang gemetar mencoba merogoh saku celananya berusaha mengambil benda persegi yang ada di sana. Tanpa pikir panjang dia segera menghubungi orang yang menjadi pilihan terakhir untuk diteleponnya saat dia dalam keadaan terpuruk.

“Ayah, bisakah kau pulang kali ini saja?” Air mata tak henti-hentinya keluar dari mata indah gadis itu. Begitu juga suara isak yang menemani kesunyian malam ini.

“Aku tak bisa Nerissa. Pekerjaanku belum selesai. Dan kau, jadilah kuat, kau sudah dewasa dan ingat, kau keturunan Frore, tak ada satupun dari kami yang terlahir menjadi manusia lemah. Dan kau, Nerissa Frore harus menjadi kuat apapun yang terjadi,” ucap pria yang dipanggil ayah di seberang sana. Sambungan telepon diputuskan begitu saja tanpa mendengar penjelasan Nerissa.

Seperti dugaannya, ayahnya tak mungkin pulang hanya dengan rengekannya. Bahkan mungkin pria yang menjadi ayahnya itu juga tidak akan peduli jika Nerissa mati sekalipun.

Dengan sisa kekuatan yang dia miliki, Nerissa berusaha bangkit. Langkahnya tertatih, bahkan untuk berjalan saja rasanya sangat berat. Apa lagi yang harus dia lakukan di sini?

Walaupun dia bisa menunggu api itu padam,  tapi apakah ibunya bisa di selamatkan? Rasanya tidak. Nerissa memilih untuk kembali ke apartemennya.

Ya, di usia ke 24 ini dia sudah memiliki apartemen sendiri. Dia memilih tinggal sendiri karena dirasa itulah yang dia butuhkan. Anti sosial? Bukan. Nerissa orang yang pandai bersosialisasi kecuali dengan keluarganya.

Kakinya terus melangkah berusaha mencapai kamarnya. Nerissa mendongak untuk memastikan bahwa kamar yang ada di hadapannya ini memang kamarnya.

Tepat sebelum Nerissa menempelkan sidik jarinya untuk membuka kunci, kepalanya mulai pening dengan cairan merah yang mengalir dari hidungnya. Perlahan pandangannya mulai kabur dan semuanya gelap.

***

Alarick berjalan dengan langkah kesal karena penuturan ayahnya. Lalu pada siapa ayahnya akan memberikan perusahaan jika bukan padanya sementara Alarick merupakan anak tunggal di keluarga Mauricio.

Mungkin saat ini apartemennya menjadi tujuan utama. Di sanalah dia, jika sedang memiliki masalah. Namun sebelum mencapai kamarnya, netranya menangkap sesuatu. Seorang gadis yang tergeletak dengan darah yang sudah sedikit mengering di bagian hidungnya.

“Nerissa?” Dengan cepat Alarick menggendong gadis itu menuju kamarnya. Tak ada maksud apa-apa, dia tak tahu di mana gadis ini tinggal dan tidak mungkin juga dia membiarkan temannya ini tergeletak dengan keadaan yang bisa dibilang jauh dari kata baik-baik saja.

Alarick merebahkan tubuh Nerissa di atas ranjangnya sebelum kemudian dia mengambil air dan saputangan untuk membersihkan noda darah itu.

Nerissa, Alarick tahu gadis ini. Dia temannya saat SMA dan kuliah, namun dia tidak mengetahui jika gadis ini tinggal di dekat apartemennya.

Mata Nerissa mulai mengerjap menandakan kesadarannya telah kembali. Hal pertama yang dilihatnya adalah Alarick, dia juga mengenal pria arogan ini. Bibirnya yang pucat mulai mengatakan sesuatu yang tidak bisa ditangkap maksudnya oleh Alarick karena suara Nerissa yang serak.

“Air ...” ucapnya sedikit keras. Tanpa mengucapkan sepatah katapun Alarick pergi meninggalkan Nerissa dengan mata yang berkaca-kaca. Bahkan seorang teman pun tak mempedulikannya sama sekali.

Dugaan Nerissa salah, Alarick kembali dengan segelas air dan beberapa makanan di tangannya. Nerissa bisa bangkit dari tidurnya dengan bantuan Alarick. Air itu perlahan tandas sesaat setelah Alarick memberikannya pada Nerissa.

“Terima kasih,” ujarnya pada Alarick. Bibir pucatnya berusaha tersenyum. Namun sebelum hal itu terjadi perkataan Alarick menohok hatinya dan dia mengurungkan niatnya untuk tersenyum pada pria itu.

“Kau bisa pergi jika sudah selesai.” Kalimat singkat yang berhasil menohok hati Nerissa. Tanpa menjawab, Nerissa segara turun dari ranjang yang mungkin itu milik Alarick.

“Terima kasih sekali lagi.” Walaupun dia kecewa dengan perkataan Alarick, tapi Nerissa bukan tipe orang yang tak tahu terima kasih karena dia tahu bagaimana rasanya tidak dihargai.

Alarick memperhatikan punggung lesu Nerissa yang perlahan hilang dari pandangannya. Alarick menghela napas  sebelum kemudian mengganti seprai dengan yang baru.

“Haleth akan marah jika dia tahu aku membawa wanita ke sini,” ujarnya lebih pada dirinya sendiri. Setelah selesai dengan kegiatannya Alarick merogoh sakunya saat dirasa ponselnya bergetar.

Nomor kekasihnya yang tertera di layar ponsel. Dengan segera dia mengangkat panggilan itu sebelum orang di sebrang sana mengamuk karena lama mengangkatnya.

“Sayang, jemput aku di mal xxx sekarang jangan lama,” ucap gadis itu manja. Alarick menghela napasnya kasar sesaat setelah sambungan diputuskan sepihak.

“Tak bisakah aku istirahat sebentar saja?” ucapnya. Walau begitu dia mulai mengambil kunci mobilnya dan segera melangkahkan kakinya keluar menuju mal yang disebutkan Haleth tadi.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • ALARICK   Alarick Part 39

    "Nerissa!" Dibantingnya pintu dengan kencang. Gadis itu masuk ke apartemennya setelah mendapatkan kabar dari Nerissa tentang perceraiannya. Dibantingnya tas selempang yang dia gunakan sembarangan. Saking terburu-burunya, dia sampai lupa ada orang lain yang mengekor dari belakang. Kali ini pintu dibuka dan ditutup dengan lebih manusiawi.Nerissa menolehkan kepalanya melihat dua orang yang baru saja tiba. Beberapa menit lalu, Nerissa memberitahu kedua temannya untuk bertemu di apartemen Lovetta. Gadis itu juga memberitahu akan perceraiannya dengan Alarick."Jelaskan!" Masih Lovetta yang menggebu-gebu, sementara Raquil hanya menyimaknya."Kau ingat saat malam aku pingsan dan kau yang membawaku ke rumah sakit?" tanya Nerissa."Tentu saja aku ingat. Aku hampir gila saat itu melihat keadaanmu," jawab Lovetta.Pandangan mata Nerissa kosong. Ingatannya menerawang jauh ke hari di mana dia pingsan."Sebelum menelponmu, aku menelepon Alarick. Tapi, dia tak mengangkat telponnya dan juga tidak ba

  • ALARICK   Alarick Part 38

    Keheningan menyelimuti ruang tamu apartemen Alarick, padahal di sana ada dua orang yang sedang berkecamuk dengan pikiran mereka.Sepasang suami istri itu duduk berhadapan dengan meja sebagai perantara. Di atas meja itu terdapat sebuah map yang malam tadi diberikan oleh Nerissa pada Alarick—lengkap dengan pena yang tergeletak di atasnya.Masing-masing sudah rapi dengan pakaian kerjanya. Ya, Nerissa memuskan untuk pergi menemui Clara setelahnya."Sudah kau tandatangani?" Nerissa memecah keheningan di antara mereka.Alarick membasahi tenggorokannya. "Apa kau sudah memikirkan alasan yang akan kau sampaikan pada kedua orang tua kita?" tanya Alarick.Nerissa berdecak. "Jika yang kau takutkan kau tidak akan mendapatkan semua harta ayahmu, tenang saja. Seperti keinginanmu, kau akan mendapatkan semuanya tanpa kehilangan sepeser pun," jawab Nerissa.Niatnya dulu menikahi Nerissa memang karena sebuah warisan, tapi mendengar Nerissa berkata demikian mengapa rasanya ada yang mengganjal dalam hatin

  • ALARICK   Alarick Part 37

    Pernihakan Nerissa dan Alarick belum genap satu tahun. Bisa dikatakan pernikahan mereka masih seumur jagung. Namun, selama mereka menjadi bagian satu sama lain, Nerissa tak pernah merasakan kebahagiaan.Bukan hanya Nerissa, Alarick juga sama tersiksanya. Bagi Alarick, kebahagiaannya hanya Haleth.Tapi, meski Nerissa sama sekali tak merasakah bahagia, tak mendapatkan perlakuan sebagai seorang istri dan tak mendapatkan haknya dari seorang suami, Nerissa tak pernah meninggalkan kewajibannya sebagai seorang istri.Melayani Alarick setelah pria itu pulang bekerja, berbenah rumah, dan juga memasak, itu sudah menjadi rutinitasnya selama menikah dengan Alarick.Nerissa memandang setiap sudut apartemen milik suaminya—takut suatu saat dia akan merindukannya. Meski dia selama ini hanya tidur di sofa saja.Letak apartemen Alarick yang strategis membuat pemandangan malam kota terlihat begitu memanjakan mata. Nerissa sengaja memindahkan sebuah meja bulat di sudut ruangan ke dekat jendela. Tak lupa,

  • ALARICK   Alarick Part 36

    Banyaknya hal yang Nerissa pikirkan membuat gadis itu sulit sekali terlelap. Sudah hampir tengah malam tapi matanya sangat segar. Dia sedari tadi hanya berguling-guling tak menentu di sofa.Suaminya juga belum menunjukkan tanda-tanda akan pulang. Jadi, Nerissa merasa bosan. Meski keberadaan Alarick juga tak berpengaruh sebanyak itu, tapi setidaknya dia tahu suaminya ada di rumah."Ah kenapa sulit sekali tidur," ucapnya pelan.Dia memutuskan untuk bangun. Dengan ponsel dalam genggamannya, gadis itu pergi ke dapur hendak mengambil minum dengan harapan dia akan terlelap setelah minum beberapa teguk air.Namun, begitu dia kembali ke sofa, entah kenapa kepalanya terasa pening. Semuanya terasa berputar. Nerissa beberapa kali menggelengkan kepalanya, menutup dan kembali membuka matanya berharap rasa pusingnya menghilang. Namun, harapan hanya harapan. Nyatanya, bukannya membaik, rasa pusing itu kian menjadi.Beruntung, ponselnya ada dalam genggaman. Menelpon Alarick adalah pilihannya karena

  • ALARICK   Alarick Part 35

    Kondisi Nerissa semakin hari semakin memburuk. Setelah mengganti obatnya, tubuhnya lebih sering terasa lemas, darah dari hidungnya juga lebih sering menetes. Bukan salah obatnya ataupun Raquil yang tidak cakap. Tapi semua ini Nerissa penyebabnya. Deadline yang selalu mengejarnya membuat gadis itu sering kali melupakan obat yang menjadi penopang hidupnya.Hari ini tepat dua minggu setelah dia mendapatkan obat baru. Dan pertemuan dengan Raquil tadi adalah kali kedua bagi Nerissa.Temannya itu memarahi Nerissa karena gadis itu kerap melewatkan obatnya. Ditambah kesibukan Nerissa membuat fisiknya lebih lemah dari biasanya."Aku akan benar-benar mengurungmu di Rumah sakit jika kau berani melewatkan obatmu lagi," ancamnya.Raquil dan Nerissa berjalan beriringan di lorong Sakit yang tak begitu ramai. "Jangankan obat ini, nasi pun kadang aku lupa memakannya." Sambil mengangkat kotak obatnya, Nerissa masih bisa membantah.Raquil sangat geram dibuatnya. Kenapa temannya ini sangat sulit diberi

  • ALARICK   Alarick Part 34

    Dulu, Nerissa sangat mendambakan pernikahan. Dia membayangkan bagaimana bahagianya dia jika bisa menikah dengan pria yang dia sayangi dan keluar sepenuhnya dari keluarganya—yang dia pikir tidak menyayanginya sama sekali.Namun, semua bayangan tentang indahnya sebuah pernikahan itu pupus begitu saja setelah dia merasakannya sendiri. Mengerikan dan hampir membuatnya gila.Dengan mata sembab, gadis itu melakukan tugasnya sebagai seorang istri. Beberes rumah, memasak, menyiapkan pakaian untuk Alarick, dia lakukan semua itu setelah apa yang suaminya lakukan malam tadi.Bekas merah di pipinya masih tercetak jelas. Sakitnya pun masih terasa olehnya, namun dia berpura-pura tidak pernah mengalaminya.Suara langkah yang sudah sangat dia kenali mulai mendekat. Namun, Nerissa memilih untuk melajutkan kegiatannya."Ner—""Makanlah. Aku pergi duluan, ada yang harus aku kerjakan." Tanpa menunggu Alarick menyelesaikan ucapannya, Nerissa pergi setelah membawa tas kerjanya.Sementara itu, Alarick hanya

  • ALARICK   Alarick Part 22

    Setelah berhasil mendapatkan apa yang diinginkannya, Nerissa mulai menghubungi satu persatu kontak yang diberikan Lovetta. Dia memang tak berharap banyak pada cara ini, namun tak salah juga jika dia mencoba. Nerissa tak mau mengambil resiko jati dirinya diketahui oleh orang-orang me

  • ALARICK   Alarick Part 21

    “Kau? Sedang apa kau di sini?” Seseorang masuk begitu saja ke dalam ruangan Tuan Frore. “A-Aku sedang berbicara dengan Ayahmu,” jawab Alarick. Pria itu sedikit tergagap karena kedatangan istrinya yang tiba-tiba. “Kau sendiri sedang apa di sini?” lanjut Alarick. “Ada sesuatu y

  • ALARICK   Alarick Part 19

    “Setidaknya kau bilang padanya, bukannya membiarkan orang berharap atas kedatanganmu!” Emosi Lovetta sudah tak terbendung. Awalnya dia akan membiarkan Nerissa yang mengurus rumah tangganya sendiri. Lovetta tahu dia tidak berhak ikut campur dalam rumah tangga seseorang, tapi sahabat mana ya

  • ALARICK   Alarick Part 18

    Sesuai dengan yang dikatakan Nerissa, kini gadis itu telah mengganti pakaian rumah sakitnya dengan pakaian biasa. Walaupun dia baru saja membaik, tapi keadaan memaksanya untuk membereskan peralatannya sendiri.Nerissa kira Alarick akan datang menjemputnya setelah dia mengatakan waktu kepula

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status