Share

BAB 3

last update publish date: 2026-02-07 18:38:05

Sementara itu, di Rumah Sakit Hadiyaksa.

BIIIPPP!!!

Monitor jantung di ruang ICU menunjukkan garis lurus disertai bunyi panjang yang nyaring di telinga.

Petugas medis segera melakukan pemeriksaan lanjutan, termasuk mengecek denyut nadi, pernapasan, dan refleks pupil.

Setelah mereka yakin bahwa tidak ada tanda-tanda kehidupan, dokter jaga yang bertugas menyatakan bahwa Havian Shahreza atau Havi, telah meninggal dunia.

Waktu kematian kemudian dicatat secara resmi dalam laporan medis.

Sebelumnya, saat tiba di rumah sakit, petugas medis segera membawa Havi ke ruang gawat darurat.

Tim dokter dan perawat langsung melakukan penanganan awal, termasuk pemasangan alat bantu napas, pemantauan tanda-tanda vital, serta pemberian infus untuk menjaga sirkulasi cairan dalam tubuh.

Karena kondisi Havi sangat kritis akibat cedera di kepala, dokter segera melakukan pemeriksaan fisik menyeluruh dan CT scan untuk melihat adanya pendarahan atau kerusakan pada otak.

Havi kemudian dipindahkan ke ruang ICU untuk mendapatkan penanganan intensif. Di sana, dia dipasangi monitor jantung, alat bantu pernapasan, dan dilakukan observasi ketat setiap beberapa menit.

Meski seluruh prosedur penyelamatan telah dilakukan sesuai standar medis, kondisi Havi terus menurun hingga akhirnya tidak menunjukkan tanda-tanda lagi terhadap alat medis maupun rangsangan fisik.

Aiptu Wildan dan Nuriana yang tiba tak lama setelah Havi dibawa ke rumah sakit, hanya bisa terdiam ketika dokter menyampaikan kabar duka.

Dokter menjelaskan bahwa tim medis langsung melakukan prosedur penanganan darurat segera setelah Havi tiba di IGD. 

Salah satu penanganannya adalah resusitasi dan observasi intensif. Namun, kondisi Havi yang sangat kritis, sudah tidak menunjukkan adanya respon tindakan medis.

Havi dinyatakan meninggal dunia pada pukul 10.45 pagi, sekitar 10 menit setelah tiba di Rumah Sakit Hadiyaksa.

Dengan izin dari dokter penanggung jawab, Aiptu Wildan dan Nuriana diperbolehkan masuk ke ruang ICU.

Di dalam ruangan, beberapa perawat sedang merapikan tubuh Havi.

Nuriana lalu mendekati salah satu perawat, dan dengan sopan meminta izin untuk melihat wajah Havi untuk terakhir kalinya.

Perawat itu mengangguk dan memberikan izin Nuriana untuk mendekat.

Aiptu Wildan yang melihat jenazah Havi, langsung menyampaikan rasa bela sungkawanya atas kejadian ini.

Dia teringat bahwa Havi adalah seorang residivis yang beberapa waktu lalu masih menjalani hukuman di penjara.

Wildan sempat menangani beberapa kasus Havi sebelumnya, sehingga dia mengenal latar belakangnya sebagai pelaku kejahatan yang sering keluar masuk penjara.

Ada satu hal yang masih diingat oleh Aiptu Wildan dan membuatnya sangat berterima kasih kepada Havi, yaitu saran-saran yang pernah diberikan Havi.

Pada waktu itu, Aiptu Wildan sedang mengalami kesulitan dalam usaha peternakan miliknya.

Dia bingung karena sistem pengelolaan usahanya berantakan dan menyebabkan banyak kerugian.

Usahanya hampir tutup jika saja Havi tidak menyarankan beberapa perubahan dalam sistem manajemen usaha kecilnya. Saran dari Havi sederhana, tetapi sangat membantu.

Havi menyarankan agar Wildan mulai mencatat semua pemasukan dan pengeluaran secara rutin setiap hari. 

Menurutnya, mencatat setiap transaksi sekecil apapun, sangat penting agar Wildan tahu ke mana uang usahanya mengalir. 

Dari pembelian pakan, biaya tenaga kerja, hingga hasil penjualan ternak, semuanya harus tercatat dengan rapi.

Havi juga menyarankan agar Wildan membuat jadwal operasional yang teratur, mulai dari jam memberi makan ternak, jadwal pembersihan kandang, hingga pemeriksaan kesehatan hewan harus diatur dengan baik agar tidak ada kegiatan yang terlewat. 

Dengan jadwal yang jelas, pekerjaan di peternakan akan berjalan lebih efisien.

Selain itu, Havi juga menekankan pentingnya memilih karyawan yang benar-benar punya pengalaman di bidang peternakan. Jangan hanya merekrut orang karena kenal atau dekat secara pribadi. 

Menurutnya, kesalahan kerja bisa sangat merugikan apalagi jika melibatkan perawatan hewan.

Havi juga mengingatkan Wildan agar memisahkan keuangan usaha dengan keuangan pribadi. 

Jika tidak dipisah, maka akan sulit mengetahui apakah usahanya benar-benar untung atau justru rugi. 

Dia menyarankan agar dibuat rekening khusus untuk keperluan usaha agar semuanya lebih transparan.

Setiap akhir bulan, Havi menyarankan agar dilakukan evaluasi sederhana. 

Wildan perlu menghitung jumlah ternak yang masuk dan keluar, mencatat keuntungan atau kerugian, lalu membuat rencana perbaikan jika ada masalah yang ditemukan selama sebulan terakhir.

Havi juga menyarankan agar membeli pakan dalam jumlah besar langsung dari distributor bukan secara eceran. Dengan begitu, harganya lebih murah dan persediaan pakan lebih aman dalam jangka waktu lama.

Terakhir, Havi mengajak Wildan untuk mulai mencoba promosi sederhana melalui media sosial. 

Menurutnya, dengan memasarkan ternaknya lewat grup jual beli lokal atau akun pribadi, Wildan bisa menjangkau lebih banyak calon pembeli tanpa harus keluar biaya promosi besar. 

Meskipun Havi adalah seorang narapidana, Aiptu Wildan tetap mempertimbangkan saran-saran yang diberikan Havi dengan serius. 

Setelah dipikirkan dengan matang, dia mulai menerapkannya dalam usaha peternakannya.

Hanya dalam waktu satu minggu, hasilnya langsung terlihat. 

Sistem kerja menjadi lebih teratur, pencatatan keuangan lebih rapi, jadwal kerja lebih jelas, dan alur distribusi pakan serta penjualan lebih efisien.

Perubahan itu membuat Aiptu Wildan terkejut karena sebelumnya usahanya hampir berhenti berjalan. 

Para karyawan juga merasakan perbedaannya dan memuji langkah-langkah baru yang diterapkan Wildan. Mereka tidak tahu bahwa ide-ide tersebut sebenarnya berasal dari seorang residivis. 

Wildan dalam hati merasa kagum karena tidak menyangka seorang narapidana seperti Havi bisa memiliki pemikiran yang sangat berguna dan tepat dalam mengelola usaha.

Dia bahkan tidak merasa malu untuk memberitahu rekan-rekan sesama polisi bahwa usahanya bisa bertahan dan berkembang justru karena saran dari Havi. 

Wildan menyampaikan hal itu secara terbuka, bahkan dengan rasa bangga. Dia menjelaskan bahwa berkat masukan dari Havi, omset usaha peternakannya meningkat dan sistem manajemennya menjadi jauh lebih teratur.

Pernyataan Wildan itu membuat beberapa polisi terkejut. Mereka tidak menyangka bahwa seorang residivis bisa memberi masukan yang begitu efektif.

Beberapa di antara mereka yang juga memiliki usaha sampingan mulai tertarik dan mendatangi Havi untuk berkonsultasi mengenai masalah dalam bisnis mereka, mulai dari usaha warung kecil, jual beli motor bekas, hingga bengkel.

Setelah menerima saran dari Havi dan langsung menerapkannya, mereka pun mulai merasakan perubahan positif. 

Usaha mereka menjadi lebih terorganisir, efisien, dan pendapatannya pun meningkat. 

Hal itu membuat Havi perlahan dikenal sebagai seorang residivis yang memiliki wawasan manajemen yang bermanfaat, meskipun statusnya di mata hukum tetap sebagai seorang narapidana.

Karena Havi dinilai menunjukkan perilaku baik selama menjalani masa tahanan, serta telah memberikan kontribusi positif melalui saran yang membantu beberapa anggota polisi dalam usaha pribadi mereka, pihak kepolisian bersama lembaga pemasyarakatan mengusulkan pembebasan bersyarat untuknya. 

Setelah melalui proses evaluasi dan pertimbangan dari pihak berwenang, Havi akhirnya dibebaskan lebih awal sebagai bentuk apresiasi atas kerja sama dan sikap kooperatifnya selama di dalam penjara.

Setelah bebas, Havi sempat diberi arahan oleh beberapa petugas kepolisian. 

Mereka menyarankan agar Havi memulai kehidupan baru yang lebih baik, seperti mencari pekerjaan tetap, mengikuti pelatihan kerja, atau mencoba membuka usaha kecil dengan bantuan program pembinaan narapidana yang telah bebas. 

Petugas juga menawarkan informasi tentang lembaga sosial dan pemerintah yang bisa membantu mantan narapidana dalam proses reintegrasi ke masyarakat.

Meskipun sudah diberi kesempatan dan informasi yang lengkap, tetapi Havi menolak semua saran tersebut. 

Dia tetap memilih kembali ke jalanan dan melanjutkan kebiasaannya melakukan kejahatan, karena menurutnya itu lebih cepat menghasilkan uang daripada bekerja secara legal.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • ALTER MY FATE   BAB 31

    Beberapa puluh menit kemudian, Havi sampai juga di rumahnya. Di dalam rumah, kedua orang tua Havi, Ridho dan Saras sudah menunggu dari tadi. Mereka berdua tentu saja heran melihat Havi yang baru pulang setelah hari mulai gelap. Saras mendekati Havi dan berkata, "Havi, kenapa baru pulang sekarang?! Ibu kira kamu ikut Diana ke rumahnya!" ujarnya. Ridho ikut menambahkan sembari tersenyum, "Iya, Bapak juga sempat menduga kamu pergi bersama Diana, Nak!" ujarnya. Havi tersenyum sejenak, lalu menjawab, "Tidak kok, Ayah, Ibu! Aku baru saja dari rumah Kakek Har, yang rumahnya dekat dengan gerbang desa itu!" jelasnya.Saras mengerutkan dahinya, lalu membalas, "Kakek Har?! Setahu Ibu, orang yang tinggal di dekat gerbang desa itu namanya Mardi! Ibu juga tidak tahu seperti apa orangnya, hanya pernah mendengar dari cerita orang-orang desa!" katanya. Ridho mengangguk dan ikut membenarkan, dia setuju dengan perkataan istrinya bahwa nama orang yang tinggal sebuah rumah di dekat gerbang desa mem

  • ALTER MY FATE   BAB 30

    Havi berjongkok sambil menatap Kincir Air versi mini di hadapannya yang baru saja berhenti berputar. Ekspresi yang terlihat di wajahnya begitu sangat serius, dan sesekali terlihat dia membuang nafasnya melalui mulutnya sembari menggelengkan kepalanya.Kakek Har memperhatikan ekspresi Havi, lalu bertanya, "Apa yang sedang kamu pikirkan, Anak Muda?! Sepertinya kamu ada sedikit ketidakpuasan?!" ucapnya.Havi membuang nafasnya sekali lagi, lalu menjawab, "Saya sedang berpikir, apa Kincir Air benar-benar bisa dibuat sempurna di dekat Air Terjun Wira, Kek?! Keadaan sekitar Air Terjun Wira cukup terjal, dan saya khawatir, tidak mudah membangun Kincir Air itu di sana!" ujarnya.Kakek Har menatap Havi dengan senyuman, lalu berkata, "Itu pemikiran yang wajar, Nak! Air Terjun Wira memang deras dan tempatnya curam, tapi justru di situlah tenaga air paling besar bisa dimanfaatkan!" jelasnya. Havi menundukkan kepalanya sejenak, lalu menatap lagi Kincir Air versi mini di hadapannya yang kembali b

  • ALTER MY FATE   BAB 29

    Kakek Har memperhatikan ekspresi wajah Havi yang penuh keterkejutan, dan dalam hatinya, Kakek itu merasa sangat puas."Bagaimana?!" tanya Kakek Har sembari terus melihat ekspresi wajah Havi.Havi yang masih terkejut dan ternganga tidak segera menjawab pertanyaan Kakek Har itu meski sebenarnya Havi mendengarnya, hingga Kakek Har harus bertanya sekali lagi kepada Havi."Hei, Anak Muda! Kau dengar Kakek tidak?!" tanya Kakek Har, dan kali ini suaranya lebih dikeraskan.Havi langsung sadar dari keterkejutannya, lalu dengan segera membalas pertanyaan Kakek Har, "Oh, maaf Kek, ini luar biasa!" jawabnya memuji.Kakek Har terkekeh sejenak, lalu menunjuk ke arah sudut ruangan yang di sana terdapat beberapa jenis kayu, lalu meminta Havi untuk tetap mengikutinya."Ayo, kita latihan dulu!" kata Kakek Har sembari berjalan ke arah sudut ruangan."Latihan?! Maksudnya, Kek?!" tanya Havi tidak mengerti.Kakek Har berhenti lalu berbalik, kemudian menaikkan sebelah alisnya dan menjawab, "Katanya kamu ing

  • ALTER MY FATE   BAB 28

    Pertanyaan dari Havi akhirnya dijawab dengan sebuah pukulan ringan yang kembali mendarat di kepala Havi, dan tentu saja yang melakukannya adalah Kakek Har lagi."Anak muda! Kamu meremehkan Kakek, ya?! Kakek memang tidak tamat sekolah, tapi bukan berarti Kakek belum pernah melihat kincir air sama sekali!" ujar Kakek Har dengan marah. Havi terkejut dan mengedip-ngedipkan matanya, lalu menghela nafasnya sembari berkata, "Kakek, saya kan hanya bertanya! Kenapa harus dipukul lagi!" ujarnya dengan kesal. "Ya sudah, lanjutkan!" ujar Kakek Har mendengkus dengan kasar dan memerintahkan Havi untuk lanjut menjelaskan. Havi mengangguk, meski masih sedikit kesal, dia tetap melanjutkan, "Kakek tahu tidak untuk apa Kincir Air itu digunakan?!" tanyanya.Kakek Har terdiam sejenak sembari berpikir, dia mengernyitkan dahinya karena tidak mengerti. Dia pun menjawab, "Kakek memang tidak tahu apa sebenarnya kegunaan Kincir Air itu! Apa mungkin itu semacam mainan atau hiasan?! Orang-orang zaman sekarang

  • ALTER MY FATE   BAB 27

    Di sebuah villa besar dan mewah, di dunia asal Havi, di mana waktu paradoks ditampilkan ...."HAVI!!!" Seorang wanita berteriak dan spontan bangun dari tidurnya, suaranya jelas serta keras dan terdengar di keheningan malam hari.Dia adalah Nuriana Salim, yang kini duduk di atas kasur empuknya, sementara seluruh tubuhnya basah oleh keringat.Selama tiga malam berturut-turut, mimpinya selalu menampilkan sosok Havi, seorang lelaki yang dulu pernah menjambret tasnya."Kenapa aku masih terus memimpikan Havi?!" ucap Nuriana dengan suara pelan, jantungnya kini berdegup dan berdebar-debar.Dia segera menyalakan lampu kecil yang berada di samping ranjangnya, lalu melangkah menuju ke meja rias dengan perlahan. Berdiri di depan cermin, Nuriana menatap pantulan bayangan dirinya. Wajahnya tetap terlihat anggun dengan kecantikan yang tak berubah meskipun usianya sudah berada dalam kategori paruh baya.Nuriana bergumam dengan suara pelan, "Apakah Tuhan akhirnya mengabulkan doaku?!" tanyanya kepada

  • ALTER MY FATE   BAB 26

    Kakek Har terkejut melihat reaksi Havi yang tiba-tiba, "Nak, apa kamu baik-baik saja?!" tanyanya sembari bergegas menghampiri.Havi pucat wajahnya, tubuhnya gemetar dan hampir tidak bisa berbicara sembari terus menatap Kakek Har yang ada di hadapannya.Kakek Har yang masih bingung segera menuju ke dapur dengan langkah tergesa-gesa meski cara jalannya terlihat dipaksakan karena usianya.Beberapa saat kemudian dia kembali membawa segelas air, lalu memberikannya kepada Havi yang gemetar sembari berkata, "Minum dulu, Nak! Wajahmu terlihat sangat pucat!" ucapnya dengan suara penuh kekhawatiran. Havi menerima gelas itu dan meminumnya hingga habis. Air putih itu ternyata bisa sedikit menenangkan dirinya."Nak, kamu tadi kenapa?!" tanya Kakek Har dengan lembut meski dalam hatinya masih tidak mengerti reaksi Havi itu. Dia juga menambahkan, "Kenapa begitu mendengar nama Kakek, kamu sangat terkejut?! Apa kamu mengenal Kakek sebelumnya atau kamu pernah mendengar sesuatu tentang Kakek dari sese

  • ALTER MY FATE   BAB 6

    Sejak kehilangan orang tuanya, Havi merasa sangat kesepian, tetapi perlahan kesepian itu mulai tergantikan oleh rasa diterima meski dalam kondisi rapuh.Dengan sedikit keraguan dan hampir tanpa berpikir panjang, Havi menerima ajakan pertemanan dari Rofik dan Teguh.Saat itu, karena masih diliputi d

  • ALTER MY FATE   BAB 5

    Di tempat lain, jauh dari dunia fana."Di mana aku?! Ini tempat apa?!" ucap Havi sambil melihat ke sekelilingnya.Roh Havi melayang tanpa arah di sebuah tempat luas yang tertutup kabut hitam tebal. Kabut itu menutupi seluruh pandangan ke segala arah.Tempat itu terlihat asing dan membuat Havi meras

  • ALTER MY FATE   BAB 4

    Aiptu Wildan menceritakan sedikit pengalamannya tentang Havi kepada Nuriana.Nuriana mendengarkan dengan penuh perhatian, dan tanpa sadar air matanya mulai mengalir.Dia terkejut mengetahui bahwa Havi, meskipun dikenal sebagai seorang residivis kambuhan, ternyata pernah membantu banyak orang dengan

  • ALTER MY FATE   BAB 2

    Salah satu warga segera menghubungi rumah sakit terdekat dan melaporkan bahwa ada seorang pria yang mengalami luka berat akibat pukulan di kepala.Sekitar 15 menit kemudian, ambulance tiba di lokasi. Petugas medis segera turun tangan dan melakukan pemeriksaan awal terhadap Havi. Saat itu, Havi mas

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status