Share

BAB 4

last update publish date: 2026-02-07 18:38:24

Aiptu Wildan menceritakan sedikit pengalamannya tentang Havi kepada Nuriana.

Nuriana mendengarkan dengan penuh perhatian, dan tanpa sadar air matanya mulai mengalir.

Dia terkejut mengetahui bahwa Havi, meskipun dikenal sebagai seorang residivis kambuhan, ternyata pernah membantu banyak orang dengan pemikirannya yang cerdas.

Nuriana yang kini berusia 55 tahun, sebenarnya masih belum juga menikah. 

Tidak banyak yang tahu pasti alasannya, dan Nuriana sendiri jarang membahas hal itu dengan siapapun.

Mendengar cerita dari Aiptu Wildan, Nuriana merasa tersentuh dan mulai melihat Havi dari sudut pandang yang berbeda.

Dia sungguh berharap bisa kembali ke saat ketika Havi hendak merampas tasnya, sebuah insiden yang menjadi awal dari segalanya.

Dalam hati, Nuriana sangat ingin menghentikannya saat itu juga, agar Havi tidak melakukan tindakan gegabah yang akhirnya merenggut nyawanya. Namun, semuanya sudah terlambat. 

Peristiwa itu telah terjadi, Havi kini telah tiada, dan yang tersisa hanyalah penyesalan dan rasa iba yang terlambat datang.

Nuriana hanya bisa berdoa dalam hatinya, "Oh, Tuhan! Aku benar-benar ingin mengenal pria bernama Havi ini! Ini pertama kalinya aku merasakan jatuh cinta pada seorang pria meskipun hanya sesaat!"

"Oh, Tuhan! Makhluk-Mu ini tampak begitu sempurna, bahkan saat dia telah tiada! Aku merasa kehilangan dan merasa tidak berdaya!"

"Mengapa Engkau mengambilnya dariku sebelum aku sempat mengenalnya lebih jauh?!"

"Oh, Tuhan! Jika ada kesempatan, tolong kembalikan waktu saat dia hendak mencuri tasku!"

"Atau kembalikan kami ke waktu yang lebih awal, waktu yang cukup untuk kami saling mengenal dan menata jalan yang berbeda bersama!"

Tiba-tiba, tanpa berkata apa-apa, Nuriana berlutut di depan jenazah Havi dan menundukkan kepalanya dalam-dalam, seperti sedang memohon sesuatu yang tak bisa diucapkan dengan kata-kata.

Aiptu Wildan yang berdiri di dekatnya terkejut melihat tindakan itu. 

Dia segera mendekat dan mencoba menenangkan Nuriana, tetapi Nuriana menolak dengan lembut sambil tetap memejamkan mata, seakan ingin tetap berada dalam keheningan dan doanya.

Aiptu Wildan bergumam dalam hati, "Sebenarnya, ada apa dengan Bu Nuriana? Kenapa dia tiba-tiba seperti ini? Ini sangat berbeda dari yang aku dengar selama ini bahwa Bu Nuriana adalah wanita kaya yang tegar, tegas, dan berpengaruh di berbagai bidang usaha!"

"Apa mungkin Bu Nuriana jatuh cinta pada Havi?! Jika benar, maka ini benar-benar sulit dipercaya! Seorang wanita seperti Bu Nuriana, jatuh cinta pada seorang kriminalis?!"

"Padahal pria-pria yang dulu melamarnya bukan orang biasa! Mereka punya nama besar, kekayaan, jabatan tinggi, dan pengaruh kuat, baik di Kota Telaga maupun di kota-kota lain!"

"Kalau mereka tahu hal ini, mereka pasti akan marah besar! Mungkin ada yang sampai rela menghina atau bahkan membakar jenazah Havi!"

"Karena ..., meski hanya seorang kriminalis, Havi justru memenangkan hati wanita yang mereka semua tak mampu dapatkan!"

"Dan saat ini ..., yang sedang aku lihat di depan mataku ini, ini bukanlah sekedar rasa kasihan seorang dermawan terhadap seorang yang tertindas!"

"Ini lebih dari semua itu! Ini seperti kesedihan seorang wanita terhadap pria yang baru saja direnggut darinya oleh kematian!"

"Aku melihat matanya! Mata Bu Nuriana yang selama ini dikenal dingin dan tegas, kini penuh kesedihan, seperti mata seorang kekasih yang baru saja kehilangan orang yang sangat dicintainya!"

Semua kata-kata itu ada dalam benak Aiptu Wildan saat dia memperhatikan ekspresi kehilangan yang terlihat jelas dari Nuriana.

Sebagai anggota kepolisian, Aiptu Wildan sudah terbiasa menganalisis ekspresi wajah, bahasa tubuh, dan raut emosional seseorang dalam berbagai kasus yang ditanganinya.

Kemampuannya untuk membaca situasi dan memahami perasaan seseorang menjadi bagian dari tugasnya dalam menangani kasus-kasus sosial dan kriminal.

Dalam situasi seperti yang dilihatnya kini, Aiptu Wildan yakin bahwa yang dirasakan oleh Nuriana bukan sekedar rasa iba atau simpati terhadap korban.

Berdasarkan pengamatan dan penilaiannya, Wildan menyimpulkan bahwa yang dirasakan oleh Nuriana adalah bentuk perasaan cinta yang tulus kepada Havi.

 Setelah beberapa saat tak ada suara, Nuriana menatap Aiptu Wildan dan bertanya dengan suara pelan, "Pak Polisi, apa pria bernama Havi ini masih punya orang tua atau keluarga lain?!"

 Aiptu Wildan menjawab dengan suara tegas dan jelas, "Berdasarkan data dan hasil penyelidikan kami, Havi tidak memiliki keluarga! Dia adalah anak tunggal!" ujarnya.

Aiptu Wildan melanjutkan, "Kedua orang tuanya sudah meninggal sejak lama, dan sejauh ini kami belum menemukan catatan adanya saudara atau kerabat dekat!" tambahnya.

"Selama ini, dia hidup sendiri dan diduga bertahan hidup dari hasil kejahatan jalanan!" jelas Aiptu Wildan lagi.

Nuriana mengangguk pelan sambil mengusap air matanya yang kembali mengalir, "Pria ini ..., sangat menyedihkan!" ucapnya dengan nada penuh rasa iba.

Polisi Wildan mengangguk dan membenarkan perkataan Nuriana dengan suara datar, "Ya, Bu! Apa yang Ibu katakan memang benar!" jawabnya tegas.

Setelah beberapa waktu di ruang ICU, Nuriana akhirnya mengizinkan tim medis untuk melanjutkan penanganan jenazah. 

Beberapa perawat kemudian mulai membersihkan tubuh Havi, mengganti pakaian dengan kain kafan rumah sakit, dan menyiapkan jenazah untuk dipindahkan ke ruang pemulasaraan sesuai prosedur rumah sakit.

Aiptu Wildan berpamitan kepada Nuriana dan mengucapkan terima kasih atas kepeduliannya. 

Nuriana membalas dengan ucapan terima kasih pula, lalu mereka berpisah dengan sikap yang saling menghargai.

Sesuai janjinya, Nuriana menanggung seluruh biaya administrasi rumah sakit tanpa keraguan sedikit pun.

Tak berhenti di situ, dia juga mengurus seluruh proses pemakaman Havi.

Dengan air mata yang terus mengalir, Nuriana mendampingi setiap tahap pemakaman Havi dengan penuh perhatian, seakan ingin memberikan penghormatan terakhir yang layak bagi pria yang bahkan belum sempat benar-benar dia kenal.

Di tengah kesedihannya, Nuriana berdiri di samping makam Havi. 

Dia menatap batu nisan itu, lalu menghela napasnya. Nuriana kemudian membisikkan doa-doa yang hanya dia sendiri yang tahu isinya. 

Doa itu mungkin ditujukan kepada Tuhan, mungkin kepada takdir, atau mungkin kepada Havi yang sudah meninggal.

 Nuriana akhirnya bergumam dengan suara yang pelan, "Andai saja waktu bisa kembali, aku tidak akan membiarkan kejadian itu terjadi!"

Setelah beberapa waktu berdiri diam di depan makam Havi, Nuriana berbalik dan berjalan meninggalkan area pemakaman.

Di dekat pintu keluar area pemakaman, sopir pribadinya sudah menunggu di samping mobil sedan hitam milik Nuriana.

Melihat majikannya mendekat, sopir itu dengan langkah cepat segera membukakan pintu belakang mobil.

Tanpa banyak bicara, Nuriana masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi penumpang.

Sopir itu kembali ke kursi kemudi dan segera menjalankan mobil keluar dari area pemakaman.

"Setelah ini kita ke mana?!" tanya Nuriana kepada sopir itu.

Sopir itu menjawab, "Kita ada jadwal kunjungan amal ke yayasan anak yatim piatu, Bu Nuriana!" ucapnya.

"Nyonya Havi!" balas Nuriana dengan tegas.

Sopir itu tampak bingung, lalu bertanya, "Maaf, maksud Ibu?"

"Mulai sekarang, panggil saya Nyonya Havi!" ucap Nuriana dengan perkataan yang tegas.

Sopirnya masih tampak bingung, tetapi tidak berkata apa-apa. Dia langsung mengarahkan pandangannya ke jalan dan mulai berkonsentrasi untuk mengantar Nuriana ke yayasan anak yatim piatu sesuai jadwal.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • ALTER MY FATE   BAB 6

    Sejak kehilangan orang tuanya, Havi merasa sangat kesepian, tetapi perlahan kesepian itu mulai tergantikan oleh rasa diterima meski dalam kondisi rapuh.Dengan sedikit keraguan dan hampir tanpa berpikir panjang, Havi menerima ajakan pertemanan dari Rofik dan Teguh.Saat itu, karena masih diliputi duka dan rasa kehilangan, Havi memilih untuk percaya pada kebaikan dua orang yang selama ini sering dicap sebagai biang onar dan pemuda yang tidak memiliki masa depan.Havi mulai menganggap mereka sebagai sahabat, bahkan mulai membuka diri dan mulai mempercayakan hal-hal pribadi kepada mereka. Namun, Havi tidak menyadari bahwa saat dia mulai percaya kepada mereka berdua, Rofik dan Teguh saling bertukar senyum penuh arti.Senyuman itu mengandung maksud tersembunyi, seakan mereka memiliki rencana yang tidak baik.Mereka berdua tidak benar-benar ingin menjadi teman Havi. Dalam pikiran mereka, Havi hanyalah orang baru yang bisa dimanfaatkan.Dia hanyalah alat tambahan untuk mendukung rencana dan

  • ALTER MY FATE   BAB 5

    Di tempat lain, jauh dari dunia fana."Di mana aku?! Ini tempat apa?!" ucap Havi sambil melihat ke sekelilingnya.Roh Havi melayang tanpa arah di sebuah tempat luas yang tertutup kabut hitam tebal. Kabut itu menutupi seluruh pandangan ke segala arah.Tempat itu terlihat asing dan membuat Havi merasa takut dan cemas. Dia merasa sangat tidak nyaman karena tidak tahu di mana ia berada dan apa yang sedang terjadi.Tempat itu juga terasa familiar, seperti tempat yang pernah muncul dalam mimpi buruknya."Apa ini hanya mimpi?!" ucap Havi lagi, merasa bingung dan penuh tanda tanya.Tanpa sengaja, dia melihat ke tangannya sendiri, yang sekarang terlihat pucat dan transparan.Lalu dia melihat ke kakinya yang ternyata tidak menginjak tanah dan melayang di udara.Saat itu, rasa takut mulai menguasai pikirannya. Havi mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang sangat tidak biasa yang sedang terjadi.Dalam keadaan panik dan bingung, dia berteriak sekuat-kuatnya.Teriakannya menunjukkan bahwa dia sangat

  • ALTER MY FATE   BAB 4

    Aiptu Wildan menceritakan sedikit pengalamannya tentang Havi kepada Nuriana.Nuriana mendengarkan dengan penuh perhatian, dan tanpa sadar air matanya mulai mengalir.Dia terkejut mengetahui bahwa Havi, meskipun dikenal sebagai seorang residivis kambuhan, ternyata pernah membantu banyak orang dengan pemikirannya yang cerdas.Nuriana yang kini berusia 55 tahun, sebenarnya masih belum juga menikah. Tidak banyak yang tahu pasti alasannya, dan Nuriana sendiri jarang membahas hal itu dengan siapapun.Mendengar cerita dari Aiptu Wildan, Nuriana merasa tersentuh dan mulai melihat Havi dari sudut pandang yang berbeda.Dia sungguh berharap bisa kembali ke saat ketika Havi hendak merampas tasnya, sebuah insiden yang menjadi awal dari segalanya.Dalam hati, Nuriana sangat ingin menghentikannya saat itu juga, agar Havi tidak melakukan tindakan gegabah yang akhirnya merenggut nyawanya. Namun, semuanya sudah terlambat. Peristiwa itu telah terjadi, Havi kini telah tiada, dan yang tersisa hanyalah p

  • ALTER MY FATE   BAB 3

    Sementara itu, di Rumah Sakit Hadiyaksa.BIIIPPP!!!Monitor jantung di ruang ICU menunjukkan garis lurus disertai bunyi panjang yang nyaring di telinga.Petugas medis segera melakukan pemeriksaan lanjutan, termasuk mengecek denyut nadi, pernapasan, dan refleks pupil.Setelah mereka yakin bahwa tidak ada tanda-tanda kehidupan, dokter jaga yang bertugas menyatakan bahwa Havian Shahreza atau Havi, telah meninggal dunia.Waktu kematian kemudian dicatat secara resmi dalam laporan medis.Sebelumnya, saat tiba di rumah sakit, petugas medis segera membawa Havi ke ruang gawat darurat.Tim dokter dan perawat langsung melakukan penanganan awal, termasuk pemasangan alat bantu napas, pemantauan tanda-tanda vital, serta pemberian infus untuk menjaga sirkulasi cairan dalam tubuh.Karena kondisi Havi sangat kritis akibat cedera di kepala, dokter segera melakukan pemeriksaan fisik menyeluruh dan CT scan untuk melihat adanya pendarahan atau kerusakan pada otak.Havi kemudian dipindahkan ke ruang ICU un

  • ALTER MY FATE   BAB 2

    Salah satu warga segera menghubungi rumah sakit terdekat dan melaporkan bahwa ada seorang pria yang mengalami luka berat akibat pukulan di kepala.Sekitar 15 menit kemudian, ambulance tiba di lokasi. Petugas medis segera turun tangan dan melakukan pemeriksaan awal terhadap Havi. Saat itu, Havi masih menunjukkan tanda-tanda kehidupan, meskipun kondisinya lemah dan tidak sadarkan diri.Setelah yakin bahwa jalan nafas Havi terbuka, serta denyut nadi masih ada, dan ada sedikit tanda-tanda kehidupan, petugas memutuskan untuk segera membawanya ke rumah sakit.Dengan bantuan seorang perawat laki-laki dan beberapa warga di lokasi, tubuh Havi diangkat ke atas tandu, lalu dimasukkan ke dalam ambulance.Tanpa menunggu lebih lama, ambulance langsung berangkat menuju ke rumah sakit sambil menyalakan sirine dan melaju dengan kecepatan tinggi.Wanita paruh baya yang menjadi korban penjambretan sebenarnya merasa cukup iba melihat kondisi Havi yang tadi dipukuli oleh banyak orang.Meskipun Havi bersa

  • ALTER MY FATE   BAB 1

    Kota Telaga, pukul 10.15 pagi.SRET!!!"Ah! Jambret!!! Tolong! Tas-ku dijambret!!"Seorang wanita paruh baya berteriak meminta tolong.Tak jauh dari sana, seorang pria dewasa berlari sambil membawa tas hasil jambretan setelah mencurinya dari wanita tersebut.Nama penjambret itu adalah Havian Shahreza, seorang pria tampan berusia 48 tahun dan dikenal sebagai seorang residivis.Havi yang sekarang pekerjaannya adalah sebagai penjambret ulung, sudah sangat dikenal di wilayah sekitar Pasar Mulyo.Dia sering melakukan aksinya di kawasan tersebut.Selain menjambret, Havi juga pernah melakukan kejahatan lain seperti pencurian motor, perampasan, bahkan pembunuhan.Tindak kriminal pembunuhan itu bahkan tidak terbukti karena Havi dengan cerdik berhasil membuat teman korban yang saat itu bersamanya menjadi tersangka dalam kasus pembunuhan tersebut.Saat kejadian, Havi dan dua orang korbannya sedang berada di sebuah rumah kosong di pinggiran kota.Havi sudah merencanakan semuanya. Dia menggunakan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status