ログインAiptu Wildan menceritakan sedikit pengalamannya tentang Havi kepada Nuriana.
Nuriana mendengarkan dengan penuh perhatian, dan tanpa sadar air matanya mulai mengalir.
Dia terkejut mengetahui bahwa Havi, meskipun dikenal sebagai seorang residivis kambuhan, ternyata pernah membantu banyak orang dengan pemikirannya yang cerdas.
Nuriana yang kini berusia 55 tahun, sebenarnya masih belum juga menikah.
Tidak banyak yang tahu pasti alasannya, dan Nuriana sendiri jarang membahas hal itu dengan siapapun.
Mendengar cerita dari Aiptu Wildan, Nuriana merasa tersentuh dan mulai melihat Havi dari sudut pandang yang berbeda.
Dia sungguh berharap bisa kembali ke saat ketika Havi hendak merampas tasnya, sebuah insiden yang menjadi awal dari segalanya.
Dalam hati, Nuriana sangat ingin menghentikannya saat itu juga, agar Havi tidak melakukan tindakan gegabah yang akhirnya merenggut nyawanya. Namun, semuanya sudah terlambat.
Peristiwa itu telah terjadi, Havi kini telah tiada, dan yang tersisa hanyalah penyesalan dan rasa iba yang terlambat datang.
Nuriana hanya bisa berdoa dalam hatinya, "Oh, Tuhan! Aku benar-benar ingin mengenal pria bernama Havi ini! Ini pertama kalinya aku merasakan jatuh cinta pada seorang pria meskipun hanya sesaat!"
"Oh, Tuhan! Makhluk-Mu ini tampak begitu sempurna, bahkan saat dia telah tiada! Aku merasa kehilangan dan merasa tidak berdaya!"
"Mengapa Engkau mengambilnya dariku sebelum aku sempat mengenalnya lebih jauh?!"
"Oh, Tuhan! Jika ada kesempatan, tolong kembalikan waktu saat dia hendak mencuri tasku!"
"Atau kembalikan kami ke waktu yang lebih awal, waktu yang cukup untuk kami saling mengenal dan menata jalan yang berbeda bersama!"
Tiba-tiba, tanpa berkata apa-apa, Nuriana berlutut di depan jenazah Havi dan menundukkan kepalanya dalam-dalam, seperti sedang memohon sesuatu yang tak bisa diucapkan dengan kata-kata.
Aiptu Wildan yang berdiri di dekatnya terkejut melihat tindakan itu.
Dia segera mendekat dan mencoba menenangkan Nuriana, tetapi Nuriana menolak dengan lembut sambil tetap memejamkan mata, seakan ingin tetap berada dalam keheningan dan doanya.
Aiptu Wildan bergumam dalam hati, "Sebenarnya, ada apa dengan Bu Nuriana? Kenapa dia tiba-tiba seperti ini? Ini sangat berbeda dari yang aku dengar selama ini bahwa Bu Nuriana adalah wanita kaya yang tegar, tegas, dan berpengaruh di berbagai bidang usaha!"
"Apa mungkin Bu Nuriana jatuh cinta pada Havi?! Jika benar, maka ini benar-benar sulit dipercaya! Seorang wanita seperti Bu Nuriana, jatuh cinta pada seorang kriminalis?!"
"Padahal pria-pria yang dulu melamarnya bukan orang biasa! Mereka punya nama besar, kekayaan, jabatan tinggi, dan pengaruh kuat, baik di Kota Telaga maupun di kota-kota lain!"
"Kalau mereka tahu hal ini, mereka pasti akan marah besar! Mungkin ada yang sampai rela menghina atau bahkan membakar jenazah Havi!"
"Karena ..., meski hanya seorang kriminalis, Havi justru memenangkan hati wanita yang mereka semua tak mampu dapatkan!"
"Dan saat ini ..., yang sedang aku lihat di depan mataku ini, ini bukanlah sekedar rasa kasihan seorang dermawan terhadap seorang yang tertindas!"
"Ini lebih dari semua itu! Ini seperti kesedihan seorang wanita terhadap pria yang baru saja direnggut darinya oleh kematian!"
"Aku melihat matanya! Mata Bu Nuriana yang selama ini dikenal dingin dan tegas, kini penuh kesedihan, seperti mata seorang kekasih yang baru saja kehilangan orang yang sangat dicintainya!"
Semua kata-kata itu ada dalam benak Aiptu Wildan saat dia memperhatikan ekspresi kehilangan yang terlihat jelas dari Nuriana.
Sebagai anggota kepolisian, Aiptu Wildan sudah terbiasa menganalisis ekspresi wajah, bahasa tubuh, dan raut emosional seseorang dalam berbagai kasus yang ditanganinya.
Kemampuannya untuk membaca situasi dan memahami perasaan seseorang menjadi bagian dari tugasnya dalam menangani kasus-kasus sosial dan kriminal.
Dalam situasi seperti yang dilihatnya kini, Aiptu Wildan yakin bahwa yang dirasakan oleh Nuriana bukan sekedar rasa iba atau simpati terhadap korban.
Berdasarkan pengamatan dan penilaiannya, Wildan menyimpulkan bahwa yang dirasakan oleh Nuriana adalah bentuk perasaan cinta yang tulus kepada Havi.
Setelah beberapa saat tak ada suara, Nuriana menatap Aiptu Wildan dan bertanya dengan suara pelan, "Pak Polisi, apa pria bernama Havi ini masih punya orang tua atau keluarga lain?!"
Aiptu Wildan menjawab dengan suara tegas dan jelas, "Berdasarkan data dan hasil penyelidikan kami, Havi tidak memiliki keluarga! Dia adalah anak tunggal!" ujarnya.
Aiptu Wildan melanjutkan, "Kedua orang tuanya sudah meninggal sejak lama, dan sejauh ini kami belum menemukan catatan adanya saudara atau kerabat dekat!" tambahnya.
"Selama ini, dia hidup sendiri dan diduga bertahan hidup dari hasil kejahatan jalanan!" jelas Aiptu Wildan lagi.
Nuriana mengangguk pelan sambil mengusap air matanya yang kembali mengalir, "Pria ini ..., sangat menyedihkan!" ucapnya dengan nada penuh rasa iba.
Polisi Wildan mengangguk dan membenarkan perkataan Nuriana dengan suara datar, "Ya, Bu! Apa yang Ibu katakan memang benar!" jawabnya tegas.
Setelah beberapa waktu di ruang ICU, Nuriana akhirnya mengizinkan tim medis untuk melanjutkan penanganan jenazah.
Beberapa perawat kemudian mulai membersihkan tubuh Havi, mengganti pakaian dengan kain kafan rumah sakit, dan menyiapkan jenazah untuk dipindahkan ke ruang pemulasaraan sesuai prosedur rumah sakit.
Aiptu Wildan berpamitan kepada Nuriana dan mengucapkan terima kasih atas kepeduliannya.
Nuriana membalas dengan ucapan terima kasih pula, lalu mereka berpisah dengan sikap yang saling menghargai.
Sesuai janjinya, Nuriana menanggung seluruh biaya administrasi rumah sakit tanpa keraguan sedikit pun.
Tak berhenti di situ, dia juga mengurus seluruh proses pemakaman Havi.
Dengan air mata yang terus mengalir, Nuriana mendampingi setiap tahap pemakaman Havi dengan penuh perhatian, seakan ingin memberikan penghormatan terakhir yang layak bagi pria yang bahkan belum sempat benar-benar dia kenal.
Di tengah kesedihannya, Nuriana berdiri di samping makam Havi.
Dia menatap batu nisan itu, lalu menghela napasnya. Nuriana kemudian membisikkan doa-doa yang hanya dia sendiri yang tahu isinya.
Doa itu mungkin ditujukan kepada Tuhan, mungkin kepada takdir, atau mungkin kepada Havi yang sudah meninggal.
Nuriana akhirnya bergumam dengan suara yang pelan, "Andai saja waktu bisa kembali, aku tidak akan membiarkan kejadian itu terjadi!"
Setelah beberapa waktu berdiri diam di depan makam Havi, Nuriana berbalik dan berjalan meninggalkan area pemakaman.
Di dekat pintu keluar area pemakaman, sopir pribadinya sudah menunggu di samping mobil sedan hitam milik Nuriana.
Melihat majikannya mendekat, sopir itu dengan langkah cepat segera membukakan pintu belakang mobil.
Tanpa banyak bicara, Nuriana masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi penumpang.
Sopir itu kembali ke kursi kemudi dan segera menjalankan mobil keluar dari area pemakaman.
"Setelah ini kita ke mana?!" tanya Nuriana kepada sopir itu.
Sopir itu menjawab, "Kita ada jadwal kunjungan amal ke yayasan anak yatim piatu, Bu Nuriana!" ucapnya.
"Nyonya Havi!" balas Nuriana dengan tegas.
Sopir itu tampak bingung, lalu bertanya, "Maaf, maksud Ibu?"
"Mulai sekarang, panggil saya Nyonya Havi!" ucap Nuriana dengan perkataan yang tegas.
Sopirnya masih tampak bingung, tetapi tidak berkata apa-apa. Dia langsung mengarahkan pandangannya ke jalan dan mulai berkonsentrasi untuk mengantar Nuriana ke yayasan anak yatim piatu sesuai jadwal.
Beberapa puluh menit kemudian, Havi sampai juga di rumahnya. Di dalam rumah, kedua orang tua Havi, Ridho dan Saras sudah menunggu dari tadi. Mereka berdua tentu saja heran melihat Havi yang baru pulang setelah hari mulai gelap. Saras mendekati Havi dan berkata, "Havi, kenapa baru pulang sekarang?! Ibu kira kamu ikut Diana ke rumahnya!" ujarnya. Ridho ikut menambahkan sembari tersenyum, "Iya, Bapak juga sempat menduga kamu pergi bersama Diana, Nak!" ujarnya. Havi tersenyum sejenak, lalu menjawab, "Tidak kok, Ayah, Ibu! Aku baru saja dari rumah Kakek Har, yang rumahnya dekat dengan gerbang desa itu!" jelasnya.Saras mengerutkan dahinya, lalu membalas, "Kakek Har?! Setahu Ibu, orang yang tinggal di dekat gerbang desa itu namanya Mardi! Ibu juga tidak tahu seperti apa orangnya, hanya pernah mendengar dari cerita orang-orang desa!" katanya. Ridho mengangguk dan ikut membenarkan, dia setuju dengan perkataan istrinya bahwa nama orang yang tinggal sebuah rumah di dekat gerbang desa mem
Havi berjongkok sambil menatap Kincir Air versi mini di hadapannya yang baru saja berhenti berputar. Ekspresi yang terlihat di wajahnya begitu sangat serius, dan sesekali terlihat dia membuang nafasnya melalui mulutnya sembari menggelengkan kepalanya.Kakek Har memperhatikan ekspresi Havi, lalu bertanya, "Apa yang sedang kamu pikirkan, Anak Muda?! Sepertinya kamu ada sedikit ketidakpuasan?!" ucapnya.Havi membuang nafasnya sekali lagi, lalu menjawab, "Saya sedang berpikir, apa Kincir Air benar-benar bisa dibuat sempurna di dekat Air Terjun Wira, Kek?! Keadaan sekitar Air Terjun Wira cukup terjal, dan saya khawatir, tidak mudah membangun Kincir Air itu di sana!" ujarnya.Kakek Har menatap Havi dengan senyuman, lalu berkata, "Itu pemikiran yang wajar, Nak! Air Terjun Wira memang deras dan tempatnya curam, tapi justru di situlah tenaga air paling besar bisa dimanfaatkan!" jelasnya. Havi menundukkan kepalanya sejenak, lalu menatap lagi Kincir Air versi mini di hadapannya yang kembali b
Kakek Har memperhatikan ekspresi wajah Havi yang penuh keterkejutan, dan dalam hatinya, Kakek itu merasa sangat puas."Bagaimana?!" tanya Kakek Har sembari terus melihat ekspresi wajah Havi.Havi yang masih terkejut dan ternganga tidak segera menjawab pertanyaan Kakek Har itu meski sebenarnya Havi mendengarnya, hingga Kakek Har harus bertanya sekali lagi kepada Havi."Hei, Anak Muda! Kau dengar Kakek tidak?!" tanya Kakek Har, dan kali ini suaranya lebih dikeraskan.Havi langsung sadar dari keterkejutannya, lalu dengan segera membalas pertanyaan Kakek Har, "Oh, maaf Kek, ini luar biasa!" jawabnya memuji.Kakek Har terkekeh sejenak, lalu menunjuk ke arah sudut ruangan yang di sana terdapat beberapa jenis kayu, lalu meminta Havi untuk tetap mengikutinya."Ayo, kita latihan dulu!" kata Kakek Har sembari berjalan ke arah sudut ruangan."Latihan?! Maksudnya, Kek?!" tanya Havi tidak mengerti.Kakek Har berhenti lalu berbalik, kemudian menaikkan sebelah alisnya dan menjawab, "Katanya kamu ing
Pertanyaan dari Havi akhirnya dijawab dengan sebuah pukulan ringan yang kembali mendarat di kepala Havi, dan tentu saja yang melakukannya adalah Kakek Har lagi."Anak muda! Kamu meremehkan Kakek, ya?! Kakek memang tidak tamat sekolah, tapi bukan berarti Kakek belum pernah melihat kincir air sama sekali!" ujar Kakek Har dengan marah. Havi terkejut dan mengedip-ngedipkan matanya, lalu menghela nafasnya sembari berkata, "Kakek, saya kan hanya bertanya! Kenapa harus dipukul lagi!" ujarnya dengan kesal. "Ya sudah, lanjutkan!" ujar Kakek Har mendengkus dengan kasar dan memerintahkan Havi untuk lanjut menjelaskan. Havi mengangguk, meski masih sedikit kesal, dia tetap melanjutkan, "Kakek tahu tidak untuk apa Kincir Air itu digunakan?!" tanyanya.Kakek Har terdiam sejenak sembari berpikir, dia mengernyitkan dahinya karena tidak mengerti. Dia pun menjawab, "Kakek memang tidak tahu apa sebenarnya kegunaan Kincir Air itu! Apa mungkin itu semacam mainan atau hiasan?! Orang-orang zaman sekarang
Di sebuah villa besar dan mewah, di dunia asal Havi, di mana waktu paradoks ditampilkan ...."HAVI!!!" Seorang wanita berteriak dan spontan bangun dari tidurnya, suaranya jelas serta keras dan terdengar di keheningan malam hari.Dia adalah Nuriana Salim, yang kini duduk di atas kasur empuknya, sementara seluruh tubuhnya basah oleh keringat.Selama tiga malam berturut-turut, mimpinya selalu menampilkan sosok Havi, seorang lelaki yang dulu pernah menjambret tasnya."Kenapa aku masih terus memimpikan Havi?!" ucap Nuriana dengan suara pelan, jantungnya kini berdegup dan berdebar-debar.Dia segera menyalakan lampu kecil yang berada di samping ranjangnya, lalu melangkah menuju ke meja rias dengan perlahan. Berdiri di depan cermin, Nuriana menatap pantulan bayangan dirinya. Wajahnya tetap terlihat anggun dengan kecantikan yang tak berubah meskipun usianya sudah berada dalam kategori paruh baya.Nuriana bergumam dengan suara pelan, "Apakah Tuhan akhirnya mengabulkan doaku?!" tanyanya kepada
Kakek Har terkejut melihat reaksi Havi yang tiba-tiba, "Nak, apa kamu baik-baik saja?!" tanyanya sembari bergegas menghampiri.Havi pucat wajahnya, tubuhnya gemetar dan hampir tidak bisa berbicara sembari terus menatap Kakek Har yang ada di hadapannya.Kakek Har yang masih bingung segera menuju ke dapur dengan langkah tergesa-gesa meski cara jalannya terlihat dipaksakan karena usianya.Beberapa saat kemudian dia kembali membawa segelas air, lalu memberikannya kepada Havi yang gemetar sembari berkata, "Minum dulu, Nak! Wajahmu terlihat sangat pucat!" ucapnya dengan suara penuh kekhawatiran. Havi menerima gelas itu dan meminumnya hingga habis. Air putih itu ternyata bisa sedikit menenangkan dirinya."Nak, kamu tadi kenapa?!" tanya Kakek Har dengan lembut meski dalam hatinya masih tidak mengerti reaksi Havi itu. Dia juga menambahkan, "Kenapa begitu mendengar nama Kakek, kamu sangat terkejut?! Apa kamu mengenal Kakek sebelumnya atau kamu pernah mendengar sesuatu tentang Kakek dari sese
Setelah selesai menikmati kebersamaan keluarga, malam pun semakin larut. Havi, Ridho, dan Saras memutuskan untuk masuk ke dalam rumah setelah selesai makan buah-buahan segar dari Hutan Wanarengga. "Ayah, Ibu, ayo kita masuk! Sudah larut!" kata Havi. Ridho dan Saras mengangguk. Mereka bertiga mer
Selesai sudah Havi membuat tungku baru, meski lelah, tetapi setidaknya dia merasa puas.Havi mendekat ke arah sebuah batu besar di halaman belakang rumahnya, kemudian langsung duduk di atasnya.Tubuhnya yang lelah, bajunya yang basah oleh keringat, dan tangannya yang masih kotor karena tanah liat d
Sementara itu, Havi yang sedang berada di rumah sendirian, merasa jenuh karena kedua orang tuanya belum juga pulang dari bekerja.Dia merebahkan diri di atas kursi kayu panjang yang ada di teras rumahnya sambil bergumam, "Aku benar-benar bosan!" ucapnya sembari menarik nafas panjang.Havi melanjutk
12 September 1993. "Havi, Havi! Sarapan sudah siap! Ayo bangun dan sarapan dulu!" suara seorang wanita paruh baya memanggil dari luar kamar. Havi merasa kepalanya masih sedikit pusing, tetapi dia tetap bangun dari tempat tidurnya. Dia terdiam sejenak, seperti sedang mencoba mengingat sesuatu yang







