LOGINDi tempat lain, jauh dari dunia fana.
"Di mana aku?! Ini tempat apa?!" ucap Havi sambil melihat ke sekelilingnya.
Roh Havi melayang tanpa arah di sebuah tempat luas yang tertutup kabut hitam tebal. Kabut itu menutupi seluruh pandangan ke segala arah.
Tempat itu terlihat asing dan membuat Havi merasa takut dan cemas. Dia merasa sangat tidak nyaman karena tidak tahu di mana ia berada dan apa yang sedang terjadi.
Tempat itu juga terasa familiar, seperti tempat yang pernah muncul dalam mimpi buruknya.
"Apa ini hanya mimpi?!" ucap Havi lagi, merasa bingung dan penuh tanda tanya.
Tanpa sengaja, dia melihat ke tangannya sendiri, yang sekarang terlihat pucat dan transparan.
Lalu dia melihat ke kakinya yang ternyata tidak menginjak tanah dan melayang di udara.
Saat itu, rasa takut mulai menguasai pikirannya. Havi mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang sangat tidak biasa yang sedang terjadi.
Dalam keadaan panik dan bingung, dia berteriak sekuat-kuatnya.
Teriakannya menunjukkan bahwa dia sangat ketakutan dan sedih, dan suaranya terdengar di seluruh tempat yang kosong dan sunyi di sekitarnya.
"Mustahil! Apakah ..., apakah aku sudah mati?!"
Kalimat itu terasa sulit untuk diucapkan, seperti sesuatu yang tidak ingin dia akui.
Saat Havi mulai menyadari bahwa dirinya mungkin sudah berada di alam setelah kematian, tubuhnya terasa lemas dan perasaannya semakin tidak beraturan.
Havi merasa sangat putus asa, lalu berteriak lagi sekuat-kuatnya ke arah sekelilingnya yang tampak hampa. Suaranya terdengar di mana-mana, tetapi tidak ada satu orang pun yang menjawab.
Havi berlari menembus kabut tebal yang tampak tidak ada ujungnya, berharap ada seseorang yang mendengar teriakannya dan datang menolong.
"Aku harus kembali!" tekadnya dengan suara penuh ketakutan karena tekanan batin yang begitu berat.
"Aku harus kembali!!!" teriaknya lagi.
Havi tetap berharap bahwa masih ada cara kembali untuk memperbaiki semuanya dan pulang ke dunia yang telah dia tinggalkan.
Semakin lama Havi terdiam dalam suasana yang benar-benar sepi itu, semakin dalam pula dia merasakan dinginnya tempat itu.
Perlahan-lahan, Havi mulai menyadari kenyataan yang pahit bahwa tidak ada jalan untuk kembali. Semuanya sudah terlambat, karena dia telah pergi terlalu jauh.
Dalam kesendirian dan putus asa, Havi merasakan penyesalan yang sangat besar.
Dia berlutut, tetapi tubuhnya masih melayang di udara, dan setelahnya, mulai menangis dengan terisak. Tangisannya terdengar di tengah tempat sepi itu.
Saat air matanya jatuh di pipinya, Havi mulai mengingat kembali kehidupannya di dunia, terutama tentang semua perbuatan dosa dan masa lalu kelam yang pernah dia lakukan.
Havi mulai memikirkan apakah Tuhan akan memberinya hukuman atas semua kesalahan yang sudah dia perbuat.
Pikirannya dipenuhi rasa takut dan dia merasa tidak bisa berbuat apa-apa lagi, selain pasrah kepada apapun yang akan terjadi padanya.
Saat itulah Havi mengingat kembali masa mudanya, ketika kedua orang tuanya masih hidup. Dia mengenang masa-masa ketika hidupnya dipenuhi cinta dan kebahagiaan.
Kedua orang tuanya sangat menyayanginya, dan sebagai anak tunggal, mereka selalu memberi Havi perhatian serta kasih sayang sepenuhnya.
Meskipun hidup dalam kesederhanaan, mereka tidak pernah berhenti berjuang demi pendidikan Havi, dan menjadikannya sebagai prioritas utama.
Dengan segala keterbatasan, orang tuanya rela berkorban demi Havi.
Mereka bermimpi agar Havi memiliki masa depan yang lebih baik dari mereka, dengan kehidupan yang bebas dari kesulitan seperti yang mereka alami.
Saat kedua orang tua Havi berjuang keras memenuhi kebutuhan sehari-hari, mereka selalu memprioritaskan agar Havi tidak kekurangan apapun.
Bahkan ketika mereka sendiri lapar, mereka tetap berusaha agar Havi bisa makan, dan keduanya sering kali rela tidak makan hanya demi Havi bisa kenyang.
Itulah bentuk cinta dan pengorbanan mereka yang tulus.
Lambat laun, pengorbanan orang tuanya membuahkan hasil. Meskipun berasal dari keluarga sederhana, Havi menunjukkan kecerdasan yang luar biasa.
Di sekolah, dia selalu menjadi salah satu siswa terbaik dan sering meraih penghargaan.
Namanya dikenal luas sebagai siswa berprestasi, bukan hanya di sekolah, tetapi juga di seluruh Kota Telaga.
Prestasinya bahkan membawanya meraih peringkat kedua di tingkat Provinsi Hensa, yang hanya berjarak beberapa poin dari peringkat pertama.
Kecerdasan itu memang bukan satu-satunya kelebihan yang dimiliki Havi. Dia juga dikenal karena wajahnya yang tampan, postur tubuh yang tinggi dan atletis, serta sikap yang menarik perhatian banyak orang.
Teman-teman sekelas, kakak kelas, bahkan siswa dari sekolah lain banyak yang tertarik kepadanya.
Salah satunya adalah Diana Galuh, pesaing terdekatnya dalam bidang akademik dan pemegang peringkat pertama di Provinsi Hensa.
Diana diam-diam menyukai Havi, meskipun dia selalu ditolak dengan sopan.
Havi tetap berpegang pada pendiriannya bahwa pendidikannya adalah prioritas utama, dan penolakannya tidak pernah menyakiti siapa pun.
Kehidupan Havi berubah total dalam waktu singkat.
Seluruh kebahagiaan, harapan, dan tujuan hidupnya runtuh pada hari ketika kedua orang tuanya, Ridho Setiawan dan Saraswati, meninggal dalam sebuah kecelakaan tabrak lari.
Sampai akhir hidup Havi, pelaku kecelakaan tersebut tidak diketahui.
Alkisah, siang di hari itu seharusnya menjadi hari yang luar biasa, karena bertepatan dengan ulang tahun Havi yang ke-17.
Saat Havi pulang dari sekolah, dia menemukan rumahnya sudah dikerumuni banyak orang.
Warga tampak berdesakan, sebagian wajah mereka menunjukkan kesedihan, dan beberapa polisi sedang berbicara serius dengan Kepala Desa mereka, Sugiyatmono.
Havi mulai merasa gelisah. Dengan napas terengah-engah, dia berlari mendekati Sugiyatmono dan bertanya dengan suara gemetar.
Pak Sugi meletakkan tangan di bahu Havi, lalu mengucapkan kata-kata tentang kesabaran dan ketabahan, tetapi tidak menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
Diliputi kepanikan, Havi menerobos kerumunan dan segera masuk ke dalam rumahnya.
Langkahnya tergesa hingga dia tanpa sengaja menabrak seorang polisi.
Polisi itu tidak memarahinya, malah membantu Havi berdiri dan mempersilahkannya untuk terus berjalan.
Saat dia sampai di ruangan tempat kedua orang tuanya dibaringkan, Havi langsung terdiam.
Di hadapannya, kedua orang tuanya terbaring tak bernyawa dan telah dibalut kain kafan sederhana.
Tubuh mereka yang sudah tidak bergerak menjadi kenyataan pahit yang tak bisa ditolak.
Napas Havi tiba-tiba terasa sangat sesak, dan segera, tangisannya terdengar keras.
Yang membuat segalanya terasa jauh lebih menyakitkan adalah kenyataan bahwa hari itu adalah ulang tahun Havi yang ke-17.
Hari yang seharusnya membawa kebahagiaan, justru menjadi hari terkelam dalam hidupnya. Hari saat dia kehilangan segalanya.
Setelah pemakaman orang tuanya, Havi merasa hidupnya hampa. Rumah yang dulu penuh kehangatan, kini terasa sepi dan mencekam.
Karena tidak tahu harus berbuat apa, Havi memutuskan pergi ke luar rumah, berharap bisa menenangkan pikirannya.
Tanpa sadar, keputusan itu justru menjadi awal dari semua masalah yang akan datang dalam hidupnya.
Saat dia berjalan tanpa tujuan, Havi melihat dua orang mendekat dari kejauhan.
Mereka adalah Rofik dan Teguh, dua pemuda yang cukup dikenal di lingkungannya bukan karena prestasi, tetapi karena sering terlibat masalah.
Havi tahu siapa mereka, karena itu, dia berusaha menghindar dengan mempercepat langkah, dan sebisa mungkin tidak melakukan kontak mata dengan mereka.
Rofik dan Teguh tahu Havi berusaha menghindar, tetapi keduanya tidak menyerah. Mereka tetap mendekat dengan wajah seolah penuh simpati.
Dengan suara pelan dan tenang, mereka mengucapkan belasungkawa atas meninggalnya orang tua Havi. Sikap mereka tampak tulus, meskipun ada sesuatu yang terasa janggal.
Kata-kata mereka yang terdengar lembut dan ramah, perlahan mulai membuat pertahanan Havi runtuh.
Dalam kondisi yang sedang rapuh, Havi mulai percaya pada sikap baik mereka.
Ucapan dan perhatian mereka seolah memberinya rasa nyaman dan pengertian yang sangat dia butuhkan.
Beberapa puluh menit kemudian, Havi sampai juga di rumahnya. Di dalam rumah, kedua orang tua Havi, Ridho dan Saras sudah menunggu dari tadi. Mereka berdua tentu saja heran melihat Havi yang baru pulang setelah hari mulai gelap. Saras mendekati Havi dan berkata, "Havi, kenapa baru pulang sekarang?! Ibu kira kamu ikut Diana ke rumahnya!" ujarnya. Ridho ikut menambahkan sembari tersenyum, "Iya, Bapak juga sempat menduga kamu pergi bersama Diana, Nak!" ujarnya. Havi tersenyum sejenak, lalu menjawab, "Tidak kok, Ayah, Ibu! Aku baru saja dari rumah Kakek Har, yang rumahnya dekat dengan gerbang desa itu!" jelasnya.Saras mengerutkan dahinya, lalu membalas, "Kakek Har?! Setahu Ibu, orang yang tinggal di dekat gerbang desa itu namanya Mardi! Ibu juga tidak tahu seperti apa orangnya, hanya pernah mendengar dari cerita orang-orang desa!" katanya. Ridho mengangguk dan ikut membenarkan, dia setuju dengan perkataan istrinya bahwa nama orang yang tinggal sebuah rumah di dekat gerbang desa mem
Havi berjongkok sambil menatap Kincir Air versi mini di hadapannya yang baru saja berhenti berputar. Ekspresi yang terlihat di wajahnya begitu sangat serius, dan sesekali terlihat dia membuang nafasnya melalui mulutnya sembari menggelengkan kepalanya.Kakek Har memperhatikan ekspresi Havi, lalu bertanya, "Apa yang sedang kamu pikirkan, Anak Muda?! Sepertinya kamu ada sedikit ketidakpuasan?!" ucapnya.Havi membuang nafasnya sekali lagi, lalu menjawab, "Saya sedang berpikir, apa Kincir Air benar-benar bisa dibuat sempurna di dekat Air Terjun Wira, Kek?! Keadaan sekitar Air Terjun Wira cukup terjal, dan saya khawatir, tidak mudah membangun Kincir Air itu di sana!" ujarnya.Kakek Har menatap Havi dengan senyuman, lalu berkata, "Itu pemikiran yang wajar, Nak! Air Terjun Wira memang deras dan tempatnya curam, tapi justru di situlah tenaga air paling besar bisa dimanfaatkan!" jelasnya. Havi menundukkan kepalanya sejenak, lalu menatap lagi Kincir Air versi mini di hadapannya yang kembali b
Kakek Har memperhatikan ekspresi wajah Havi yang penuh keterkejutan, dan dalam hatinya, Kakek itu merasa sangat puas."Bagaimana?!" tanya Kakek Har sembari terus melihat ekspresi wajah Havi.Havi yang masih terkejut dan ternganga tidak segera menjawab pertanyaan Kakek Har itu meski sebenarnya Havi mendengarnya, hingga Kakek Har harus bertanya sekali lagi kepada Havi."Hei, Anak Muda! Kau dengar Kakek tidak?!" tanya Kakek Har, dan kali ini suaranya lebih dikeraskan.Havi langsung sadar dari keterkejutannya, lalu dengan segera membalas pertanyaan Kakek Har, "Oh, maaf Kek, ini luar biasa!" jawabnya memuji.Kakek Har terkekeh sejenak, lalu menunjuk ke arah sudut ruangan yang di sana terdapat beberapa jenis kayu, lalu meminta Havi untuk tetap mengikutinya."Ayo, kita latihan dulu!" kata Kakek Har sembari berjalan ke arah sudut ruangan."Latihan?! Maksudnya, Kek?!" tanya Havi tidak mengerti.Kakek Har berhenti lalu berbalik, kemudian menaikkan sebelah alisnya dan menjawab, "Katanya kamu ing
Pertanyaan dari Havi akhirnya dijawab dengan sebuah pukulan ringan yang kembali mendarat di kepala Havi, dan tentu saja yang melakukannya adalah Kakek Har lagi."Anak muda! Kamu meremehkan Kakek, ya?! Kakek memang tidak tamat sekolah, tapi bukan berarti Kakek belum pernah melihat kincir air sama sekali!" ujar Kakek Har dengan marah. Havi terkejut dan mengedip-ngedipkan matanya, lalu menghela nafasnya sembari berkata, "Kakek, saya kan hanya bertanya! Kenapa harus dipukul lagi!" ujarnya dengan kesal. "Ya sudah, lanjutkan!" ujar Kakek Har mendengkus dengan kasar dan memerintahkan Havi untuk lanjut menjelaskan. Havi mengangguk, meski masih sedikit kesal, dia tetap melanjutkan, "Kakek tahu tidak untuk apa Kincir Air itu digunakan?!" tanyanya.Kakek Har terdiam sejenak sembari berpikir, dia mengernyitkan dahinya karena tidak mengerti. Dia pun menjawab, "Kakek memang tidak tahu apa sebenarnya kegunaan Kincir Air itu! Apa mungkin itu semacam mainan atau hiasan?! Orang-orang zaman sekarang
Di sebuah villa besar dan mewah, di dunia asal Havi, di mana waktu paradoks ditampilkan ...."HAVI!!!" Seorang wanita berteriak dan spontan bangun dari tidurnya, suaranya jelas serta keras dan terdengar di keheningan malam hari.Dia adalah Nuriana Salim, yang kini duduk di atas kasur empuknya, sementara seluruh tubuhnya basah oleh keringat.Selama tiga malam berturut-turut, mimpinya selalu menampilkan sosok Havi, seorang lelaki yang dulu pernah menjambret tasnya."Kenapa aku masih terus memimpikan Havi?!" ucap Nuriana dengan suara pelan, jantungnya kini berdegup dan berdebar-debar.Dia segera menyalakan lampu kecil yang berada di samping ranjangnya, lalu melangkah menuju ke meja rias dengan perlahan. Berdiri di depan cermin, Nuriana menatap pantulan bayangan dirinya. Wajahnya tetap terlihat anggun dengan kecantikan yang tak berubah meskipun usianya sudah berada dalam kategori paruh baya.Nuriana bergumam dengan suara pelan, "Apakah Tuhan akhirnya mengabulkan doaku?!" tanyanya kepada
Kakek Har terkejut melihat reaksi Havi yang tiba-tiba, "Nak, apa kamu baik-baik saja?!" tanyanya sembari bergegas menghampiri.Havi pucat wajahnya, tubuhnya gemetar dan hampir tidak bisa berbicara sembari terus menatap Kakek Har yang ada di hadapannya.Kakek Har yang masih bingung segera menuju ke dapur dengan langkah tergesa-gesa meski cara jalannya terlihat dipaksakan karena usianya.Beberapa saat kemudian dia kembali membawa segelas air, lalu memberikannya kepada Havi yang gemetar sembari berkata, "Minum dulu, Nak! Wajahmu terlihat sangat pucat!" ucapnya dengan suara penuh kekhawatiran. Havi menerima gelas itu dan meminumnya hingga habis. Air putih itu ternyata bisa sedikit menenangkan dirinya."Nak, kamu tadi kenapa?!" tanya Kakek Har dengan lembut meski dalam hatinya masih tidak mengerti reaksi Havi itu. Dia juga menambahkan, "Kenapa begitu mendengar nama Kakek, kamu sangat terkejut?! Apa kamu mengenal Kakek sebelumnya atau kamu pernah mendengar sesuatu tentang Kakek dari sese
"Diana?! Kenapa kamu ke sini?!" tanya Haryo.Haryo benar-benar terkejut dengan kemunculan mendadak keponakannya. Suaranya yang tegas, berat, dan penuh wibawa, sontak saja memecah heningnya ruang rapat.Semua orang yang hadir menoleh ke arah Diana. Mereka tidak menduga akan adanya gangguan kecil sep
Sudah cukup lama Diana bercengkrama bersama Havi dan kedua orang tuanya. Selain merasakan rasa kehangatan dan kebersamaan keluarga yang selama ini jarang dia rasakan, Diana juga menyadari satu hal, yaitu cinta. Benar, semua karena cinta. Tidak salah Diana memilih, tidak salah perasaannya saat ini,
"Havi belum pulang ya, Pak?!" tanya Saras kepada suaminya."Sepertinya belum, Bu! Bapak pikir, Havi malah lagi di rumah, lagi tidur atau buat sesuatu kayak kemarin!" jawab Ridho."Mungkin..., Havi lagi keliling-keliling desa lagi kayak kemarin ya, Pak?! Atau mungkin ..., dia merasa jenuh karena keb
Kota Telaga, pukul 10.15 pagi.SRET!!!"Ah! Jambret!!! Tolong! Tas-ku dijambret!!"Seorang wanita paruh baya berteriak meminta tolong.Tak jauh dari sana, seorang pria dewasa berlari sambil membawa tas hasil jambretan setelah mencurinya dari wanita tersebut.Nama penjambret itu adalah Havian Shahre







