Share

BAB 2

last update publish date: 2026-02-07 18:37:43

Salah satu warga segera menghubungi rumah sakit terdekat dan melaporkan bahwa ada seorang pria yang mengalami luka berat akibat pukulan di kepala.

Sekitar 15 menit kemudian, ambulance tiba di lokasi. Petugas medis segera turun tangan dan melakukan pemeriksaan awal terhadap Havi. 

Saat itu, Havi masih menunjukkan tanda-tanda kehidupan, meskipun kondisinya lemah dan tidak sadarkan diri.

Setelah yakin bahwa jalan nafas Havi terbuka, serta denyut nadi masih ada, dan ada sedikit tanda-tanda kehidupan, petugas memutuskan untuk segera membawanya ke rumah sakit.

Dengan bantuan seorang perawat laki-laki dan beberapa warga di lokasi, tubuh Havi diangkat ke atas tandu, lalu dimasukkan ke dalam ambulance.

Tanpa menunggu lebih lama, ambulance langsung berangkat menuju ke rumah sakit sambil menyalakan sirine dan melaju dengan kecepatan tinggi.

Wanita paruh baya yang menjadi korban penjambretan sebenarnya merasa cukup iba melihat kondisi Havi yang tadi dipukuli oleh banyak orang.

Meskipun Havi bersalah karena menjambret tasnya, tapi menurutnya tindakan memukul secara ramai-ramai seperti itu terlalu berlebihan.

Dia sempat berpikir, bisa saja Havi melakukan penjambretan itu bukan untuk bersenang-senang, tetapi karena terpaksa untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Wanita paruh baya itu juga sempat sekilas melihat wajah tampan dan tubuh atletis Havi.

Dia hampir tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, karena sulit baginya menerima kenyataan bahwa seorang pria berwajah tampan dan berkulit putih bisa melakukan tindakan kriminal seperti menjambret.

"Apa ada yang salah dengan dunia ini? Mengapa pria setampan dia tidak memiliki pekerjaan, tetapi malah menjadi seorang penjambret?!" gumam wanita itu.

Mungkin, jika waktu bisa diputar kembali, wanita paruh baya yang tampak seperti orang kaya itu, akan menawarkan pekerjaan yang lebih layak kepadanya.

Kini, semuanya sudah terlambat. Kejadian itu sudah terjadi dan tidak bisa diubah lagi.

Wanita paruh baya itu bernama Nuriana Salim, usianya 55 tahun, seorang pengusaha sukses di berbagai bidang bisnis di Kota Telaga.

Dia memiliki beberapa perusahaan yang bergerak di sektor properti, perdagangan bahan bangunan, serta distribusi alat kesehatan. 

Selain itu, Nuriana juga memiliki jaringan mini market yang tersebar di beberapa wilayah kota.

Kekayaan Nuriana berasal dari kombinasi aset bergerak dan tidak bergerak, seperti gedung perkantoran, lahan komersial, kendaraan operasional, serta sejumlah saham di beberapa perusahaan lokal.

Setiap bulannya, pendapatan bersih dari seluruh unit usahanya bisa mencapai angka miliaran rupiah. 

Nuriana juga dikenal aktif menyumbang ke berbagai kegiatan sosial dan keagamaan, serta sering menjadi donatur tetap untuk beberapa panti asuhan dan yayasan pendidikan di Kota Telaga.

Selang beberapa menit kemudian, polisi tiba di lokasi kejadian.

Petugas langsung mengamankan area dan meminta keterangan dari warga yang ada di sekitar tempat kejadian.

Nuriana bersama beberapa warga, memberikan penjelasan kepada polisi mengenai kronologi peristiwa penjambretan. 

Penjelasannya lengkap, mulai dari saat tasnya dijambret hingga aksi pengeroyokan terhadap pelaku.

Polisi mencatat keterangan mereka dan mengumpulkan data saksi untuk proses penyelidikan lebih lanjut.

Semua orang yang terlibat juga diminta untuk memberikan keterangan kepada polisi, dan para warga pun berbicara dengan jujur dalam setiap pernyataan mereka.

Mereka menjelaskan kejadian sesuai apa yang benar-benar terjadi, tanpa menambahkan atau mengurangi informasi.

Sebagian besar warga yang ikut dalam pengeroyokan menyatakan penyesalan atas tindakan kekerasan, penganiayaan, dan aksi main hakim sendiri yang mereka lakukan terhadap Havi.

Aiptu Wildan Prakoso, usia 32 tahun, setelah mendengar keterangan para saksi serta warga yang terlibat, segera mencatatnya.

Setelah itu, dia memberi arahan agar seluruh warga yang tidak berkepentingan segera meninggalkan lokasi.

Kerumunan dibubarkan untuk menjaga ketertiban, dan beberapa warga yang terlibat langsung dalam pengeroyokan diminta untuk datang ke kantor polisi guna memberikan keterangan lanjutan.

Dengan wajah yang masih penuh penyesalan, satu per satu warga membubarkan diri dari hadapan polisi. 

Mereka meninggalkan lokasi kejadian dengan suasana yang sunyi dan tanpa banyak bicara.

Kecuali Nuriana, dia bersikeras ingin ikut ke rumah sakit tempat Havi sedang dirawat.

Aiptu Wildan awalnya melarang karena merasa bahwa keterangan dari Nuriana dan warga sudah cukup lengkap. 

Jika terjadi sesuatu di kemudian hari, polisi akan segera memberitahukannya. Namun, tekad kuat Nuriana meluluhkan hati Aiptu Wildan.

Dengan alasan ingin membayar biaya rumah sakit, polisi akhirnya mengizinkan Nuriana untuk ikut serta.

"Terima kasih, Pak Polisi! Sekali lagi, saya berterima kasih kepada Anda!" ucap Nuriana dengan sopan sambil membungkuk.

"Yang penting, Anda benar-benar berniat membayar biaya administrasi rumah sakit, kan, Bu?" balas Aiptu Wildan dengan ramah.

"Iya, Pak! Saya pasti akan membayarnya!" jawab Nuriana.

Tanpa menunggu lama, Aiptu Wildan segera berangkat bersama Nuriana menuju rumah sakit tempat Havi tengah mendapatkan perawatan.

Nuriana ikut mobil dinas milik Aiptu Wildan. Dia bahkan meninggalkan mobil pribadinya di area parkir Pasar Mulyo.

Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Nuriana terus memikirkan penjambret itu.

Ada sesuatu tentang pria itu yang membuat pikirannya tidak tenang, seperti ada hal penting yang belum dia pahami. Padahal, pria itu sudah berbuat salah kepadanya. 

Seharusnya dia merasa marah atau merasa lega karena pelaku sudah tertangkap dan sedang dirawat di rumah sakit.

Yang Nuriana rasakan justru berbeda. Dia merasa iba dan tidak tahu kenapa perasaan itu muncul.

Wajah pria itu, meskipun tadi berlumuran darah, masih terlihat tampan dan berbeda dari bayangan Nuriana tentang seorang penjahat.

Sebelum tubuhnya jatuh ke tanah, ada sesuatu dalam tatapan matanya yang sempat terlihat oleh Nuriana. 

Tatapan itu terlihat lemah, seperti orang yang sudah tidak sanggup bertahan. Namun, di balik kelemahan itu, ada rasa sedih dan seolah ingin mengatakan sesuatu. 

Nuriana merasa tatapan itu menunjukkan bahwa pria itu sebenarnya tidak ingin melakukan kejahatan, tetapi terpaksa melakukannya karena keadaan.

Dia menghela napas, kemudian memejamkan mata sejenak, lalu bergumam dalam hatinya, "Apa ada yang salah denganku?!" batin Nuriana. 

Nuriana melanjutkan, "Kenapa aku justru memikirkan seorang penjambret?! Dia adalah residivis yang jelas-jelas sudah merugikanku, kan?!" ujarnya.

Aiptu Wildan memperhatikan Nuriana dari balik kemudi. Dia tentu saja mengenalnya.

Nuriana Salim adalah seorang pengusaha yang dikenal banyak orang di Kota Telaga karena memiliki banyak usaha dan sering tampil di acara resmi maupun kegiatan sosial.

Sebagai anggota polisi yang sering bertugas di lapangan, Aiptu Wildan beberapa kali melihat Nuriana hadir dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh kepolisian, seperti acara bakti sosial, pemberian bantuan untuk masyarakat, dan pertemuan koordinasi dengan pengusaha lokal.

Dalam beberapa kegiatan tersebut, nama dan identitas Nuriana juga tercatat secara resmi dalam daftar tamu atau pendukung acara.

Karena keterlibatan aktifnya dan perannya sebagai donatur atau mitra kegiatan, Wildan mengetahui bahwa Nuriana adalah salah satu tokoh masyarakat yang dikenal baik oleh instansi kepolisian.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • ALTER MY FATE   BAB 31

    Beberapa puluh menit kemudian, Havi sampai juga di rumahnya. Di dalam rumah, kedua orang tua Havi, Ridho dan Saras sudah menunggu dari tadi. Mereka berdua tentu saja heran melihat Havi yang baru pulang setelah hari mulai gelap. Saras mendekati Havi dan berkata, "Havi, kenapa baru pulang sekarang?! Ibu kira kamu ikut Diana ke rumahnya!" ujarnya. Ridho ikut menambahkan sembari tersenyum, "Iya, Bapak juga sempat menduga kamu pergi bersama Diana, Nak!" ujarnya. Havi tersenyum sejenak, lalu menjawab, "Tidak kok, Ayah, Ibu! Aku baru saja dari rumah Kakek Har, yang rumahnya dekat dengan gerbang desa itu!" jelasnya.Saras mengerutkan dahinya, lalu membalas, "Kakek Har?! Setahu Ibu, orang yang tinggal di dekat gerbang desa itu namanya Mardi! Ibu juga tidak tahu seperti apa orangnya, hanya pernah mendengar dari cerita orang-orang desa!" katanya. Ridho mengangguk dan ikut membenarkan, dia setuju dengan perkataan istrinya bahwa nama orang yang tinggal sebuah rumah di dekat gerbang desa mem

  • ALTER MY FATE   BAB 30

    Havi berjongkok sambil menatap Kincir Air versi mini di hadapannya yang baru saja berhenti berputar. Ekspresi yang terlihat di wajahnya begitu sangat serius, dan sesekali terlihat dia membuang nafasnya melalui mulutnya sembari menggelengkan kepalanya.Kakek Har memperhatikan ekspresi Havi, lalu bertanya, "Apa yang sedang kamu pikirkan, Anak Muda?! Sepertinya kamu ada sedikit ketidakpuasan?!" ucapnya.Havi membuang nafasnya sekali lagi, lalu menjawab, "Saya sedang berpikir, apa Kincir Air benar-benar bisa dibuat sempurna di dekat Air Terjun Wira, Kek?! Keadaan sekitar Air Terjun Wira cukup terjal, dan saya khawatir, tidak mudah membangun Kincir Air itu di sana!" ujarnya.Kakek Har menatap Havi dengan senyuman, lalu berkata, "Itu pemikiran yang wajar, Nak! Air Terjun Wira memang deras dan tempatnya curam, tapi justru di situlah tenaga air paling besar bisa dimanfaatkan!" jelasnya. Havi menundukkan kepalanya sejenak, lalu menatap lagi Kincir Air versi mini di hadapannya yang kembali b

  • ALTER MY FATE   BAB 29

    Kakek Har memperhatikan ekspresi wajah Havi yang penuh keterkejutan, dan dalam hatinya, Kakek itu merasa sangat puas."Bagaimana?!" tanya Kakek Har sembari terus melihat ekspresi wajah Havi.Havi yang masih terkejut dan ternganga tidak segera menjawab pertanyaan Kakek Har itu meski sebenarnya Havi mendengarnya, hingga Kakek Har harus bertanya sekali lagi kepada Havi."Hei, Anak Muda! Kau dengar Kakek tidak?!" tanya Kakek Har, dan kali ini suaranya lebih dikeraskan.Havi langsung sadar dari keterkejutannya, lalu dengan segera membalas pertanyaan Kakek Har, "Oh, maaf Kek, ini luar biasa!" jawabnya memuji.Kakek Har terkekeh sejenak, lalu menunjuk ke arah sudut ruangan yang di sana terdapat beberapa jenis kayu, lalu meminta Havi untuk tetap mengikutinya."Ayo, kita latihan dulu!" kata Kakek Har sembari berjalan ke arah sudut ruangan."Latihan?! Maksudnya, Kek?!" tanya Havi tidak mengerti.Kakek Har berhenti lalu berbalik, kemudian menaikkan sebelah alisnya dan menjawab, "Katanya kamu ing

  • ALTER MY FATE   BAB 28

    Pertanyaan dari Havi akhirnya dijawab dengan sebuah pukulan ringan yang kembali mendarat di kepala Havi, dan tentu saja yang melakukannya adalah Kakek Har lagi."Anak muda! Kamu meremehkan Kakek, ya?! Kakek memang tidak tamat sekolah, tapi bukan berarti Kakek belum pernah melihat kincir air sama sekali!" ujar Kakek Har dengan marah. Havi terkejut dan mengedip-ngedipkan matanya, lalu menghela nafasnya sembari berkata, "Kakek, saya kan hanya bertanya! Kenapa harus dipukul lagi!" ujarnya dengan kesal. "Ya sudah, lanjutkan!" ujar Kakek Har mendengkus dengan kasar dan memerintahkan Havi untuk lanjut menjelaskan. Havi mengangguk, meski masih sedikit kesal, dia tetap melanjutkan, "Kakek tahu tidak untuk apa Kincir Air itu digunakan?!" tanyanya.Kakek Har terdiam sejenak sembari berpikir, dia mengernyitkan dahinya karena tidak mengerti. Dia pun menjawab, "Kakek memang tidak tahu apa sebenarnya kegunaan Kincir Air itu! Apa mungkin itu semacam mainan atau hiasan?! Orang-orang zaman sekarang

  • ALTER MY FATE   BAB 27

    Di sebuah villa besar dan mewah, di dunia asal Havi, di mana waktu paradoks ditampilkan ...."HAVI!!!" Seorang wanita berteriak dan spontan bangun dari tidurnya, suaranya jelas serta keras dan terdengar di keheningan malam hari.Dia adalah Nuriana Salim, yang kini duduk di atas kasur empuknya, sementara seluruh tubuhnya basah oleh keringat.Selama tiga malam berturut-turut, mimpinya selalu menampilkan sosok Havi, seorang lelaki yang dulu pernah menjambret tasnya."Kenapa aku masih terus memimpikan Havi?!" ucap Nuriana dengan suara pelan, jantungnya kini berdegup dan berdebar-debar.Dia segera menyalakan lampu kecil yang berada di samping ranjangnya, lalu melangkah menuju ke meja rias dengan perlahan. Berdiri di depan cermin, Nuriana menatap pantulan bayangan dirinya. Wajahnya tetap terlihat anggun dengan kecantikan yang tak berubah meskipun usianya sudah berada dalam kategori paruh baya.Nuriana bergumam dengan suara pelan, "Apakah Tuhan akhirnya mengabulkan doaku?!" tanyanya kepada

  • ALTER MY FATE   BAB 26

    Kakek Har terkejut melihat reaksi Havi yang tiba-tiba, "Nak, apa kamu baik-baik saja?!" tanyanya sembari bergegas menghampiri.Havi pucat wajahnya, tubuhnya gemetar dan hampir tidak bisa berbicara sembari terus menatap Kakek Har yang ada di hadapannya.Kakek Har yang masih bingung segera menuju ke dapur dengan langkah tergesa-gesa meski cara jalannya terlihat dipaksakan karena usianya.Beberapa saat kemudian dia kembali membawa segelas air, lalu memberikannya kepada Havi yang gemetar sembari berkata, "Minum dulu, Nak! Wajahmu terlihat sangat pucat!" ucapnya dengan suara penuh kekhawatiran. Havi menerima gelas itu dan meminumnya hingga habis. Air putih itu ternyata bisa sedikit menenangkan dirinya."Nak, kamu tadi kenapa?!" tanya Kakek Har dengan lembut meski dalam hatinya masih tidak mengerti reaksi Havi itu. Dia juga menambahkan, "Kenapa begitu mendengar nama Kakek, kamu sangat terkejut?! Apa kamu mengenal Kakek sebelumnya atau kamu pernah mendengar sesuatu tentang Kakek dari sese

  • ALTER MY FATE   BAB 19

    "Ha-Havi! A-Apa ..., apa maksud perkataanmu itu?!" jawab Diana yang tidak mengerti. Havi melihat ekspresi Diana yang begitu terkejut sekaligus tidak percaya dengan apa yang dikatakannya. Havi memaklumi semua itu. Yang ada di dalam benak Diana saat ini adalah kalimat bagaimana mungkin, karena mend

  • ALTER MY FATE   BAB 18

    Havi dan Diana tanpa sadar terlibat dalam obrolan-obrolan serunya. Meskipun mereka berdua sebenarnya adalah rival dalam hal persaingan dalam memperebutkan posisi nomor 1 sebagai murid dengan nilai akademik tertinggi di Provinsi Hensa, tetapi untuk kali ini saja keduanya melupakan persaingan di anta

  • ALTER MY FATE   BAB 17

    Havi masih saja terus menangis seakan-akan dia sangat menyesali perbuatannya. Sementara Diana, dia tampak sangat kebingungan melihat keadaan Havi. Dalam hatinya, Diana bertanya-tanya apa maksud dari semua perkataan Havi. Menunggu cinta sejati siapa, menunggu hingga lebih dari tiga puluh tahun baga

  • ALTER MY FATE   BAB 16

    "Aku pulang dulu, ya?!" ucap ceria seorang siswi sembari bergegas keluar dari gerbang sekolah."Iya, hati-hati! Besok jangan lupa janjinya!" sahut temannya sambil melambaikan tangan kanannya."Iya, dadah ...." balas siswi itu, sebelum akhirnya berjalan menjauh dan menghilang di

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status