LOGINSalah satu warga segera menghubungi rumah sakit terdekat dan melaporkan bahwa ada seorang pria yang mengalami luka berat akibat pukulan di kepala.
Sekitar 15 menit kemudian, ambulance tiba di lokasi. Petugas medis segera turun tangan dan melakukan pemeriksaan awal terhadap Havi.
Saat itu, Havi masih menunjukkan tanda-tanda kehidupan, meskipun kondisinya lemah dan tidak sadarkan diri.
Setelah yakin bahwa jalan nafas Havi terbuka, serta denyut nadi masih ada, dan ada sedikit tanda-tanda kehidupan, petugas memutuskan untuk segera membawanya ke rumah sakit.
Dengan bantuan seorang perawat laki-laki dan beberapa warga di lokasi, tubuh Havi diangkat ke atas tandu, lalu dimasukkan ke dalam ambulance.
Tanpa menunggu lebih lama, ambulance langsung berangkat menuju ke rumah sakit sambil menyalakan sirine dan melaju dengan kecepatan tinggi.
Wanita paruh baya yang menjadi korban penjambretan sebenarnya merasa cukup iba melihat kondisi Havi yang tadi dipukuli oleh banyak orang.
Meskipun Havi bersalah karena menjambret tasnya, tapi menurutnya tindakan memukul secara ramai-ramai seperti itu terlalu berlebihan.
Dia sempat berpikir, bisa saja Havi melakukan penjambretan itu bukan untuk bersenang-senang, tetapi karena terpaksa untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Wanita paruh baya itu juga sempat sekilas melihat wajah tampan dan tubuh atletis Havi.
Dia hampir tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, karena sulit baginya menerima kenyataan bahwa seorang pria berwajah tampan dan berkulit putih bisa melakukan tindakan kriminal seperti menjambret.
"Apa ada yang salah dengan dunia ini? Mengapa pria setampan dia tidak memiliki pekerjaan, tetapi malah menjadi seorang penjambret?!" gumam wanita itu.
Mungkin, jika waktu bisa diputar kembali, wanita paruh baya yang tampak seperti orang kaya itu, akan menawarkan pekerjaan yang lebih layak kepadanya.
Kini, semuanya sudah terlambat. Kejadian itu sudah terjadi dan tidak bisa diubah lagi.
Wanita paruh baya itu bernama Nuriana Salim, usianya 55 tahun, seorang pengusaha sukses di berbagai bidang bisnis di Kota Telaga.
Dia memiliki beberapa perusahaan yang bergerak di sektor properti, perdagangan bahan bangunan, serta distribusi alat kesehatan.
Selain itu, Nuriana juga memiliki jaringan mini market yang tersebar di beberapa wilayah kota.
Kekayaan Nuriana berasal dari kombinasi aset bergerak dan tidak bergerak, seperti gedung perkantoran, lahan komersial, kendaraan operasional, serta sejumlah saham di beberapa perusahaan lokal.
Setiap bulannya, pendapatan bersih dari seluruh unit usahanya bisa mencapai angka miliaran rupiah.
Nuriana juga dikenal aktif menyumbang ke berbagai kegiatan sosial dan keagamaan, serta sering menjadi donatur tetap untuk beberapa panti asuhan dan yayasan pendidikan di Kota Telaga.
Selang beberapa menit kemudian, polisi tiba di lokasi kejadian.
Petugas langsung mengamankan area dan meminta keterangan dari warga yang ada di sekitar tempat kejadian.
Nuriana bersama beberapa warga, memberikan penjelasan kepada polisi mengenai kronologi peristiwa penjambretan.
Penjelasannya lengkap, mulai dari saat tasnya dijambret hingga aksi pengeroyokan terhadap pelaku.
Polisi mencatat keterangan mereka dan mengumpulkan data saksi untuk proses penyelidikan lebih lanjut.
Semua orang yang terlibat juga diminta untuk memberikan keterangan kepada polisi, dan para warga pun berbicara dengan jujur dalam setiap pernyataan mereka.
Mereka menjelaskan kejadian sesuai apa yang benar-benar terjadi, tanpa menambahkan atau mengurangi informasi.
Sebagian besar warga yang ikut dalam pengeroyokan menyatakan penyesalan atas tindakan kekerasan, penganiayaan, dan aksi main hakim sendiri yang mereka lakukan terhadap Havi.
Aiptu Wildan Prakoso, usia 32 tahun, setelah mendengar keterangan para saksi serta warga yang terlibat, segera mencatatnya.
Setelah itu, dia memberi arahan agar seluruh warga yang tidak berkepentingan segera meninggalkan lokasi.
Kerumunan dibubarkan untuk menjaga ketertiban, dan beberapa warga yang terlibat langsung dalam pengeroyokan diminta untuk datang ke kantor polisi guna memberikan keterangan lanjutan.
Dengan wajah yang masih penuh penyesalan, satu per satu warga membubarkan diri dari hadapan polisi.
Mereka meninggalkan lokasi kejadian dengan suasana yang sunyi dan tanpa banyak bicara.
Kecuali Nuriana, dia bersikeras ingin ikut ke rumah sakit tempat Havi sedang dirawat.
Aiptu Wildan awalnya melarang karena merasa bahwa keterangan dari Nuriana dan warga sudah cukup lengkap.
Jika terjadi sesuatu di kemudian hari, polisi akan segera memberitahukannya. Namun, tekad kuat Nuriana meluluhkan hati Aiptu Wildan.
Dengan alasan ingin membayar biaya rumah sakit, polisi akhirnya mengizinkan Nuriana untuk ikut serta.
"Terima kasih, Pak Polisi! Sekali lagi, saya berterima kasih kepada Anda!" ucap Nuriana dengan sopan sambil membungkuk.
"Yang penting, Anda benar-benar berniat membayar biaya administrasi rumah sakit, kan, Bu?" balas Aiptu Wildan dengan ramah.
"Iya, Pak! Saya pasti akan membayarnya!" jawab Nuriana.
Tanpa menunggu lama, Aiptu Wildan segera berangkat bersama Nuriana menuju rumah sakit tempat Havi tengah mendapatkan perawatan.
Nuriana ikut mobil dinas milik Aiptu Wildan. Dia bahkan meninggalkan mobil pribadinya di area parkir Pasar Mulyo.
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Nuriana terus memikirkan penjambret itu.
Ada sesuatu tentang pria itu yang membuat pikirannya tidak tenang, seperti ada hal penting yang belum dia pahami. Padahal, pria itu sudah berbuat salah kepadanya.
Seharusnya dia merasa marah atau merasa lega karena pelaku sudah tertangkap dan sedang dirawat di rumah sakit.
Yang Nuriana rasakan justru berbeda. Dia merasa iba dan tidak tahu kenapa perasaan itu muncul.
Wajah pria itu, meskipun tadi berlumuran darah, masih terlihat tampan dan berbeda dari bayangan Nuriana tentang seorang penjahat.
Sebelum tubuhnya jatuh ke tanah, ada sesuatu dalam tatapan matanya yang sempat terlihat oleh Nuriana.
Tatapan itu terlihat lemah, seperti orang yang sudah tidak sanggup bertahan. Namun, di balik kelemahan itu, ada rasa sedih dan seolah ingin mengatakan sesuatu.
Nuriana merasa tatapan itu menunjukkan bahwa pria itu sebenarnya tidak ingin melakukan kejahatan, tetapi terpaksa melakukannya karena keadaan.
Dia menghela napas, kemudian memejamkan mata sejenak, lalu bergumam dalam hatinya, "Apa ada yang salah denganku?!" batin Nuriana.
Nuriana melanjutkan, "Kenapa aku justru memikirkan seorang penjambret?! Dia adalah residivis yang jelas-jelas sudah merugikanku, kan?!" ujarnya.
Aiptu Wildan memperhatikan Nuriana dari balik kemudi. Dia tentu saja mengenalnya.
Nuriana Salim adalah seorang pengusaha yang dikenal banyak orang di Kota Telaga karena memiliki banyak usaha dan sering tampil di acara resmi maupun kegiatan sosial.
Sebagai anggota polisi yang sering bertugas di lapangan, Aiptu Wildan beberapa kali melihat Nuriana hadir dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh kepolisian, seperti acara bakti sosial, pemberian bantuan untuk masyarakat, dan pertemuan koordinasi dengan pengusaha lokal.
Dalam beberapa kegiatan tersebut, nama dan identitas Nuriana juga tercatat secara resmi dalam daftar tamu atau pendukung acara.
Karena keterlibatan aktifnya dan perannya sebagai donatur atau mitra kegiatan, Wildan mengetahui bahwa Nuriana adalah salah satu tokoh masyarakat yang dikenal baik oleh instansi kepolisian.
Sejak kehilangan orang tuanya, Havi merasa sangat kesepian, tetapi perlahan kesepian itu mulai tergantikan oleh rasa diterima meski dalam kondisi rapuh.Dengan sedikit keraguan dan hampir tanpa berpikir panjang, Havi menerima ajakan pertemanan dari Rofik dan Teguh.Saat itu, karena masih diliputi duka dan rasa kehilangan, Havi memilih untuk percaya pada kebaikan dua orang yang selama ini sering dicap sebagai biang onar dan pemuda yang tidak memiliki masa depan.Havi mulai menganggap mereka sebagai sahabat, bahkan mulai membuka diri dan mulai mempercayakan hal-hal pribadi kepada mereka. Namun, Havi tidak menyadari bahwa saat dia mulai percaya kepada mereka berdua, Rofik dan Teguh saling bertukar senyum penuh arti.Senyuman itu mengandung maksud tersembunyi, seakan mereka memiliki rencana yang tidak baik.Mereka berdua tidak benar-benar ingin menjadi teman Havi. Dalam pikiran mereka, Havi hanyalah orang baru yang bisa dimanfaatkan.Dia hanyalah alat tambahan untuk mendukung rencana dan
Di tempat lain, jauh dari dunia fana."Di mana aku?! Ini tempat apa?!" ucap Havi sambil melihat ke sekelilingnya.Roh Havi melayang tanpa arah di sebuah tempat luas yang tertutup kabut hitam tebal. Kabut itu menutupi seluruh pandangan ke segala arah.Tempat itu terlihat asing dan membuat Havi merasa takut dan cemas. Dia merasa sangat tidak nyaman karena tidak tahu di mana ia berada dan apa yang sedang terjadi.Tempat itu juga terasa familiar, seperti tempat yang pernah muncul dalam mimpi buruknya."Apa ini hanya mimpi?!" ucap Havi lagi, merasa bingung dan penuh tanda tanya.Tanpa sengaja, dia melihat ke tangannya sendiri, yang sekarang terlihat pucat dan transparan.Lalu dia melihat ke kakinya yang ternyata tidak menginjak tanah dan melayang di udara.Saat itu, rasa takut mulai menguasai pikirannya. Havi mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang sangat tidak biasa yang sedang terjadi.Dalam keadaan panik dan bingung, dia berteriak sekuat-kuatnya.Teriakannya menunjukkan bahwa dia sangat
Aiptu Wildan menceritakan sedikit pengalamannya tentang Havi kepada Nuriana.Nuriana mendengarkan dengan penuh perhatian, dan tanpa sadar air matanya mulai mengalir.Dia terkejut mengetahui bahwa Havi, meskipun dikenal sebagai seorang residivis kambuhan, ternyata pernah membantu banyak orang dengan pemikirannya yang cerdas.Nuriana yang kini berusia 55 tahun, sebenarnya masih belum juga menikah. Tidak banyak yang tahu pasti alasannya, dan Nuriana sendiri jarang membahas hal itu dengan siapapun.Mendengar cerita dari Aiptu Wildan, Nuriana merasa tersentuh dan mulai melihat Havi dari sudut pandang yang berbeda.Dia sungguh berharap bisa kembali ke saat ketika Havi hendak merampas tasnya, sebuah insiden yang menjadi awal dari segalanya.Dalam hati, Nuriana sangat ingin menghentikannya saat itu juga, agar Havi tidak melakukan tindakan gegabah yang akhirnya merenggut nyawanya. Namun, semuanya sudah terlambat. Peristiwa itu telah terjadi, Havi kini telah tiada, dan yang tersisa hanyalah p
Sementara itu, di Rumah Sakit Hadiyaksa.BIIIPPP!!!Monitor jantung di ruang ICU menunjukkan garis lurus disertai bunyi panjang yang nyaring di telinga.Petugas medis segera melakukan pemeriksaan lanjutan, termasuk mengecek denyut nadi, pernapasan, dan refleks pupil.Setelah mereka yakin bahwa tidak ada tanda-tanda kehidupan, dokter jaga yang bertugas menyatakan bahwa Havian Shahreza atau Havi, telah meninggal dunia.Waktu kematian kemudian dicatat secara resmi dalam laporan medis.Sebelumnya, saat tiba di rumah sakit, petugas medis segera membawa Havi ke ruang gawat darurat.Tim dokter dan perawat langsung melakukan penanganan awal, termasuk pemasangan alat bantu napas, pemantauan tanda-tanda vital, serta pemberian infus untuk menjaga sirkulasi cairan dalam tubuh.Karena kondisi Havi sangat kritis akibat cedera di kepala, dokter segera melakukan pemeriksaan fisik menyeluruh dan CT scan untuk melihat adanya pendarahan atau kerusakan pada otak.Havi kemudian dipindahkan ke ruang ICU un
Salah satu warga segera menghubungi rumah sakit terdekat dan melaporkan bahwa ada seorang pria yang mengalami luka berat akibat pukulan di kepala.Sekitar 15 menit kemudian, ambulance tiba di lokasi. Petugas medis segera turun tangan dan melakukan pemeriksaan awal terhadap Havi. Saat itu, Havi masih menunjukkan tanda-tanda kehidupan, meskipun kondisinya lemah dan tidak sadarkan diri.Setelah yakin bahwa jalan nafas Havi terbuka, serta denyut nadi masih ada, dan ada sedikit tanda-tanda kehidupan, petugas memutuskan untuk segera membawanya ke rumah sakit.Dengan bantuan seorang perawat laki-laki dan beberapa warga di lokasi, tubuh Havi diangkat ke atas tandu, lalu dimasukkan ke dalam ambulance.Tanpa menunggu lebih lama, ambulance langsung berangkat menuju ke rumah sakit sambil menyalakan sirine dan melaju dengan kecepatan tinggi.Wanita paruh baya yang menjadi korban penjambretan sebenarnya merasa cukup iba melihat kondisi Havi yang tadi dipukuli oleh banyak orang.Meskipun Havi bersa
Kota Telaga, pukul 10.15 pagi.SRET!!!"Ah! Jambret!!! Tolong! Tas-ku dijambret!!"Seorang wanita paruh baya berteriak meminta tolong.Tak jauh dari sana, seorang pria dewasa berlari sambil membawa tas hasil jambretan setelah mencurinya dari wanita tersebut.Nama penjambret itu adalah Havian Shahreza, seorang pria tampan berusia 48 tahun dan dikenal sebagai seorang residivis.Havi yang sekarang pekerjaannya adalah sebagai penjambret ulung, sudah sangat dikenal di wilayah sekitar Pasar Mulyo.Dia sering melakukan aksinya di kawasan tersebut.Selain menjambret, Havi juga pernah melakukan kejahatan lain seperti pencurian motor, perampasan, bahkan pembunuhan.Tindak kriminal pembunuhan itu bahkan tidak terbukti karena Havi dengan cerdik berhasil membuat teman korban yang saat itu bersamanya menjadi tersangka dalam kasus pembunuhan tersebut.Saat kejadian, Havi dan dua orang korbannya sedang berada di sebuah rumah kosong di pinggiran kota.Havi sudah merencanakan semuanya. Dia menggunakan







