Home / Rumah Tangga / AMBISI IBU MERTUA / Bab 7: Sumpah serapah Mak Onah.

Share

Bab 7: Sumpah serapah Mak Onah.

Author: Putrisyamsu
last update Last Updated: 2025-09-24 09:06:53

Bab 7: Sumpah serapah Mak Onah. 

        “Apa kamu tidak berpikir, Wanda. Uang sebanyak ini dapat apa?” protes Mak Onah dengan wajah cemberut. “Apa uang gajimu sudah kamu beri kepada Nadya semua? Dasar kamu mau saja dibodoh-bodohi. Sudah dari dulu aku katakan. Jangan semua uangmu diberikan pada Nadya,” umpat Mak Onah. Meski bibirnya menggerutu karena Wanda hanya memberi uang sejumlah lima puluh ribu, tapi ia tetap mengambil uang itu dari tangan anaknya. 

         “Mamak jangan selalu menyalahkan Nadya. Minggu ini bahkan aku tidak memberinya uang sepeserpun. Karena minggu ini aku tidak gajian. Jika mamak tidak percaya tanya saja dengan teman kerjaku,” ujar Wanda berusaha menjelaskan pada mamaknya dan berharap orang tua itu paham dengan kondisinya. 

         “Alasan kamu saja. Kamu selalu menutup-nutupi kesalahannya. Makanya sekarang dia berani melawanku. Bilang saja kalau kamu sudah tidak mau lagi mengurus orang tua,” ucapnya bersungut-sungut. 

         “Bukankah setiap minggu Bang Feri dan Danur juga memberi mamak uang. Pakai saja uang dari mereka untuk belanja kebutuhan dapur,” saran Wanda memberi solusi.

        “Tidak bisa! Kalian pikir keperluanku cuma untuk makan saja. Aku harus membayar uang arisan dan uang lainnya. Lagi pula aku juga ingin punya barang seperti yang orang lain miliki. Sudah cukup hidupku dulu susah karena membiayai hidup kalian. Jadi apa salahnya jika kalian sekarang yang menyenangkan hidup aku. Lihat itu orang tuanya Heri, hidupnya sekarang makmur. Dan sebentar lagi orang tuanya akan berangkat haji,” ucap Mak Onah membandingkan hidupnya dengan salah satu teman sebaya Wanda yang hidupnya jauh lebih mapan dari Wanda. 

           Wanda diam. Hatinya terasa semakin diremas. Ingin rasanya dia menjawab, tapi semua itu terpaksa ditelannya lagi. 

          “Kamu pikir aku tidak ingin seperti itu? Coba saja dulu kamu menikah dengan Laras. Pasti sekarang aku sudah jadi mertua seorang perempuan yang berprofesi sebagai Dosen. Kamu malah memilih menikah dengan perempuan putus kuliah. Apanya yang mau aku banggakan,” omel Mak Onah mengungkit status Nadya saat menikah dulu. 

         Lagi-lagi menantunya yang menjadi sasaran jika anak-anaknya tidak mampu menuruti kemauannya. Tidak pernah sedikitpun wanita tua itu memahami keadaan anak-anaknya. Yang sering membuat ketiga anaknya sangat sedih, mengapa ibu mereka lebih sering mengumpat dan menyumpahi mereka daripada mendoakan. 

          Kadang Wanda berpikir, apakah kehidupannya yang susah ini akibat ibunya yang tidak mendoakan dirinya. Tapi kenapa hanya dirinyadirinya? Dua saudaranya setelah pergi menjauh dari ibu mereka malah kini hidupnya telah jauh berubah. Sedangkan dirinya, bukan saja masalah ekonomi yang membuat kepalanya mau pecah. Malah, saat ini masalah rumah tangganya yang mau hancur. 

          “Terserah, mamak saja. Percuma juga ngomong dengan mamak. Mamak tidak mau mengerti,” ujar Wanda. Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut nya karena sudah tidak tahu lagi dengan cara apa ia memberi pengertian pada ibunya. Mendengar ucapan Wanda ternyata malah membuat hati mak Onah terbakar emosi. 

        “Oooo, sudah berani melawan kamu sekarang, ya? Ini balasanmu terhadapku ibu yang mengandungmu, yang melahirkan, yang mengeluarkan batu kepalamu dan kamu pikir kamu bisa mengganti air susuku yang sudah kamu minum! Mau jadi anak durhaka kamu, ha!” Kata-kata pamungkas itu lagi yang diucapkan Mak Onah untuk menekan anak-anaknya setiap dia merasa ketiga anaknya telah berbuat zalim padanya. 

         Bagaimana hati Wanda tidak hancur mendengar ucapan itu. Baginya apa yang diucapkan ibunya itu tidak ada bedanya dengan sumpah yang diucapkan ibu Malin Kundang kepada anaknya yang durhaka. 

        Wanda meninggalkan Mak Onah begitu saja di teras rumahnya. Ia sengaja menghindar dari hadapan wanita tua itu karena takut tidak bisa mengendalikan emosi. 

         Merasa telah diabaikan oleh anaknya sendiri mak Onah terus saja mengeluarkan umpatan dan sumpah serapah yang ditujukan kepada anak-anak dan menantunya. 

         Di kamar, tanpa ada seorangpun yang tahu Wanda menangis sejadi-jadinya. Lelaki itu sengaja meluapkan kesedihan hatinya. 

       “Apa aku juga harus seperti Bang Feri dan Danur agar aku terlepas dari masalah ini?” gumamnya pada dirinya sendiri. 

          Lamunan Wanda terhenti ketika telinganya mendengar suara azan magrib dari toa masjid dekat rumahnya. Hati lelaki itu terkesima mendengar panggilan yang ditujukan kepada umat muslim di seluruh penjuru dunia. 

         Biasanya menjelang waktu magrib ia menyaksikan kesibukan anak-anak dan istrinya bersiap-siap hendak menunaikan sholat magrib, mempersiapkan makan malam meski dengan menu seadanya, dan menyaksikan kehebohan juga pertengkaran kecil kedua anaknya. Tapi kali ini suasana rumah benar-benar terasa berbeda. Rumahnya terasa begitu sepi seperti tidak ada kehidupan di dalamnya. 

         “Ya Allah, apa sebentar lagi aku benar-benar akan merasa kesepian seperti ini? Tolong aku ya Allah, jangan biarkan mereka pergi meninggalkan aku,” doa Wanda setelah selesai menunaikan sholat magrib. 

          Lelaki itu duduk beralaskan sajadah dan menyandarkan punggungnya pada springbed. Pandangan matanya menerawang menatap dinding buram di depannya. Seketika rasa takut menggelayuti hati lelaki itu. Takut akan kehilangan orang-orang yang sangat berarti dalam hidupnya. 

        Kembali terngiang ucapan-ucapan istrinya yang penuh ancaman. Rasa sesal yang begitu dalam membuatnya mengutuk dirinya sendiri. 

          “Mengapa aku sebodoh ini? Mengapa aku selemah ini? Mengapa aku menjadi lelaki yang tidak bisa melakukan apa yang seharusnya dilakukan seorang suami untuk istrinya? Kenapa aku tidak punya keberanian untuk bertindak agar anak-anakku merasa nyaman berada dalam pelukanku?” tanya nya pada diri sendiri. 

         Kelemahan dirinya yang sebenarnya sangat ia sadari. Kelemahan yang hanya menjadi penyesalan. Tapi keluarganya tidak hanya butuh pengakuan itu. Anak dan istrinya saat ini lebih membutuhkan sosok lelaki yang benar -benar bisa menjadi tumpuan untuk tempat mereka bergantung. 

        Lelah dengan kemelut yang berkecamuk di hatinya, Wanda mulai beranjak dari duduknya . Suasana rumah yang sepi semakin mencekam. Hanya sesekali terdengar suara kendaraan melintasi jalan aspal di depan rumahnya. 

            Wanda mendatangi rumah yang berantakan sejak ditinggal anak dan istrinya. Benar-benar kondisi yang sangat kacau. Sekacau hatinya yang tidak bisa bekerja sama dengan pemikirannya. 

         Perlahan diambilnya sapu yang tersandar di dinding dapur. Tanpa sengaja matanya memandangi meja makan yang kosong. Tidak ada suguhan apapun yang ia temui di atasnya. Tidak seperti hari-hari sebelumnya. 

         Salahkah jika semua ini terjadi? 

         Tangan kekar Wanda mulai menyapu setiap sudut ruangan di rumahnya. Pekerjaan yang selalu dikerjakan oleh anak dan istrinya. 

        “Sudah jam setengah sembilan, kenapa mereka belum pulang juga Apa sebaiknya aku telepon saja? Siapa tahu mereka minta dijemput,” lirih Wanda dalam di hati. 

         Belum lagi niatnya dilaksanakan terbesit keraguan di hatinya, sehingga tidak jadi menelpon Nadya. Entah mengapa ada rasa sungkan pada istrinya. Rasa yang mungkin mulai membatasi hubungan diantara mereka. 

          

       Satu jam dirinya duduk dengan gelisah menanti kepulangan anak-anak dan istrinya. Matanya tiap sebentar memandang jam yang tergantung di dinding ruang tamu. Perut yang sejak tadi keroncongan minta diisi tidak lagi ia pedulikan. Pikirannya hanya tertuju pada istri dan kedua anaknya. 

        Tepat jam sepuluh malam kurang lima belas menit terdengar suara sepeda motor yang sudah sangat dikenalnya memasuki halaman rumah. Hatinya yang tadi begitu gelisah akhirnya tergantikan dengan perasaan lega karena mereka yang dinanti telah tiba dengan selamat. Namun ia seakan sudah tidak punya nyali di hadapan istrinya. 

          “Pa, ini nasi goreng untuk papa.” Akmal yang baru turun dari sepeda motor menyerahkan bungkus plastik berisi nasi goreng yang masih panas. Sementara mata Wanda melihat dengan jelas mamaknya mengintip dari balik gorden jendela kaca yang tertutup. 

                             *****

                      Bersambung

        

        

        

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • AMBISI IBU MERTUA   Bab 101: Rencana licikPak RT.

    Bab 101: Rencana licik Pak RTKegelisahan itu seperti kabut tebal yang enggan beranjak dari hati Nadya. Sejak Pak Hardi mengungkapkan niatnya secara terbuka beberapa hari lalu, ketenangan Nadya menguap. Pagi itu, ia duduk di tera. Sebuah ruang tamu terbuka yang dirancang khusus oleh Pak Hardi agar Nadya, sebagai seorang janda, bisa menerima klien dengan leluasa tanpa memicu fitnah tetangga.​Di depannya, laptop menyala menampilkan timeline video iklan pesanan klien. Namun, fokus Nadya tercerai-berai. Matanya justru terpaku pada pagar kokoh yang baru saja diselesaikan oleh Pak Hardi dan timnya. Pagar itu bukan sekadar pembatas fisik, tapi bukti perhatian pria itu yang begitu detail.​Kini, setelah proyek pagar selesai, rumah itu terasa senyap secara mendadak. Tak ada lagi suara palu yang beradu atau deru mesin potong besi. Tak ada lagi sosok tegap Pak Hardi yang mondar-mandir dengan peluh di dahi. Ditambah lagi, besok Akmal, putra bungsunya, akan berangkat ke pondok pesantren. Kesepian

  • AMBISI IBU MERTUA   Bab 100: Pak RT tidak tahu malu

    Bab 100: Pak RT tidak tahu malu. Hati Wanda seketika menciut saat melihat sosok Pak Hardi berdiri tegak di dalam kamar rawat itu. Wibawa pria itu seolah membungkam keberanian Wanda yang sedari tadi ia kumpulkan.​"Aku... aku ingin menjenguk Nadya," ucap Wanda terbata, suaranya hampir menyerupai bisikan.​"Papa..." Akmal bergumam. Ada dorongan kuat dalam dirinya untuk segera menghampiri dan mencium tangan ayahnya. Namun, melihat tubuh ibunya yang masih lemah di atas ranjang, Akmal mengurungkan niat. Ia memilih tetap berada di sisi Nadya, menjaga benteng pertahanan terakhir ibunya.​Wanda tak berani melangkah lebih dalam. Ia terpaku di ambang pintu, merasa seperti orang asing yang tak diinginkan. Hanya Feri dan Rina yang melangkah maju mendekati ranjang.​"Bagaimana keadaanmu, Nadya?" tanya Rina lembut, matanya menyiratkan simpati yang mendalam.​Keheningan itu pecah saat petugas keamanan masuk dan meminta sebagian pembesuk untuk keluar demi ketenangan pasien. Di dalam ruangan, kini ha

  • AMBISI IBU MERTUA   Bab 99: Ketakutan.

    Bab 99: Ketakutan. Sepeninggal kedua anaknya, Wanda duduk mematung di kursi teras yang kayu-kayunya mulai kusam. Tatapannya kosong, terpaku pada ujung jalan setapak di mana bayangan Akmal dan Tania perlahan lenyap ditelan tikungan. Itu adalah pertemuan singkat pertama setelah sekian lama perceraian memisahkan mereka—sebuah pertemuan yang bukannya menyembuhkan, justru meninggalkan lubang menganga di dadanya.​Suasana hatinya makin mencekam. Keheningan pagi itu terasa lebih menindas ketimbang saat Mak Omah, ibunya, menghembuskan napas terakhir tiga hari yang lalu. Kehilangan ibu adalah duka mendalam, namun melihat anak-anaknya pergi menjauh darinya dengan rasa canggung, adalah siksaan yang berbeda. Rasanya seperti mati berkali-kali dalam satu helaan napas.​Feri, saudara sulungnya, menyulut rokok dan menghembuskan asapnya ke udara yang lembab. Ia menatap Wanda dengan iba, namun nada bicaranya tetap tegas.​"Biarlah mereka hidup bahagia, Wanda. Jangan kau ganggu lagi ketenangan mereka.

  • AMBISI IBU MERTUA   Bab 98: Tania menjemput Akmal.

    Bab 98: Tania menjemput Akmal. Suasana kamar perawatan yang tadinya hangat dan penuh bunga-bunga asmara, mendadak berubah mencekam. Pak Hardi masih mematung dengan ponsel yang menempel di telinga. Kalimat ketus dari seberang telepon itu terus terngiang, seolah-olah sebuah garis pembatas yang tajam baru saja ditarik di antara dirinya dan masa depan yang baru saja ia impikan bersama Nadya.​"Ada apa, Pak? Siapa yang menelepon?" tanya Nadya sekali lagi. Nadya bisa merasakan ada sesuatu yang salah. Raut wajah Pak Hardi tidak bisa berbohong; ada kemarahan yang tertahan, namun ada juga keraguan yang menyelinap.​Pak Hardi menarik napas panjang, mencoba menetralkan detak jantungnya yang berpacu. "Hanya... masalah kecil di kantor, Bu Nadya. Saya harus keluar sebentar untuk menerima telepon ini dengan lebih jelas," dalihnya. Ia tidak ingin menambah beban pikiran Nadya yang masih lemah.​Pak Hardi melangkah keluar. Begitu pintu terbuka, Bu Retno, Bu Fatma, dan Bude Ijum hampir terjungkal karen

  • AMBISI IBU MERTUA   Bab 97: Penelepon tak dikenal.

    Bab 97: Penelepon tak dikenal. ​ wajah Nadya terasa panas seperti tersulut api. Di layar ponsel Bu Retno, ia melihat dirinya sendiri yang terkulai lemas, sementara Pak Hardi, sosok yang selama ini dikenal sebagai pria berwibawa dan sedikit cuek tampak begitu panik. Dalam video amatir yang diambil Bu Pipit itu, Pak Hardi dengan tangkas mengangkatnya dengan gerakan bridal style yang sangat protektif, lalu setengah berlari menuju mobil. ​“Aduh, Bu Retno... hapus saja videonya. Malu dilihat orang,” bisik Nadya dengan suara parau, berusaha menutupi wajahnya dengan bantal. ​“Hapus? Wah, tidak bisa, Bu! Ini adalah dokumen sejarah! Lihat wajah Pak Hardi, dia seperti mau kehilangan separuh jiwanya. Jarang-jarang kita lihat orang seperti Pak Hardi yang biasanya sok cuek jadi sekacau itu,” goda Bu Retno sambil tertawa kecil.​ Tania yang ikut mengintip layar ponsel hanya tersenyum simpul. “Mama cantik kok di situ, seperti putri tidur yang diselamatkan pangeran.” Tania

  • AMBISI IBU MERTUA   Bab 96: Mengapa Nadya jadi malu?

    Bab 96. Mengapa Nadya jadi malu? Nadya sudah berada di sebuah kamar yang nyaman. Hingga tidak terasa jika tempatnya berada saat itu adalah sebuah kamar perawatan di rumah sakit. Tepatnya seperti kamar hotel yang nyaman. Membuat Bu Retno tak henti-henti mengagumi. “Gila Pak Hardi. Pengorbanannya untuk wanita pujaannya lumayan juga. Beruntung sekali Bu Nadya. Semoga mereka secepatnya menikah. Tapi dasar Pak Hardi tidak peka dengan perempuan. Dia yang lama nembak Bu Nadya aku yang gregetan.”Bu Retno duduk di sebuah sofa yang disediakan rumah sakit untuk keluarga pasien sambil mengamati kamar rumah sakit yang sangat nyaman. Bu Retno tak henti menggerutu mengingat tingkah temannya. “Bude, apa Pak Hardi yang membawa saya ke rumah sakit?” tanya Nadya pada Bude Ijum yang duduk di samping tempat tidurnya. “Iya, Tadi dia yang membawa kamu ke sini. Dia begitu cemas begitu tahu kamu pingsan. Hingga tidak peduli dengan pekerjaanya. Nadya terdiam. Ada ra

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status