Home / Historical / ANASTASIA: Terjebak Sebagai Tawanan Kaisar / Chapter 3: Satu Tahun Sebelum Kehancuran

Share

Chapter 3: Satu Tahun Sebelum Kehancuran

Author: MIMOWIE
last update publish date: 2026-05-05 01:59:59

Setelah mandi, para pelayan membantu Anastasia berpakaian dan menata rambutnya. Mereka memilihkan gaun sutra berwarna putih dengan bordir emas yang elegan—pakaian yang pantas untuk selir kaisar.

Anastasia duduk di depan meja rias, menatap pantulan dirinya di cermin dengan tatapan kosong. Wajah cantik itu terasa asing. Ini bukan wajahnya. Ini bukan hidupnya.

“Yang Mulia, Anda harus makan.” Margareth meletakkan nampan berisi sarapan mewah di meja. Ada roti segar, buah-buahan manis, sup ayam hangat, dan teh herbal.

Anastasia menatap makanan itu tanpa nafsu makan. Perutnya terasa mual. Tapi ia tahu ia harus makan—tubuh ini terlalu lemah, ia perlu kekuatan.

Dengan tangan gemetar, ia mengambil sepotong roti dan menggigitnya. Rasanya hambar di lidahnya meski seharusnya lezat. Ia makan secara mekanis, seperti robot, tanpa merasakan apapun.

Para pelayan mengamatinya dengan khawatir. Ini sangat tidak biasa. Anastasia biasanya akan marah karena makanannya tidak sesuai selera, atau akan membuang piring jika ada yang tidak ia sukai.

Tapi pagi ini, ia hanya duduk di sana, makan dengan tenang, dengan mata yang kosong dan air mata yang sesekali menetes.

“Margareth,” Anastasia berbicara tiba-tiba, suaranya serak.

“Berapa lama... berapa lama aku ada di sini?”

Margareth tampak bingung dengan pertanyaan itu. “Yang Mulia maksudnya?”

“Berapa lama... sejak aku dibawa ke istana ini?”

“Ah...” Margareth berpikir sejenak.

“Sudah hampir satu tahun, Yang Mulia. Anda tiba di istana ketika musim semi tahun lalu.”

Satu tahun.

Anastasia menutup matanya, mencoba mengingat timeline dalam novel. Gadis Anastasia dibawa ke istana satu tahun sebelum perang besar di mana Arlos menemukan Amara. Itu berarti... masih ada waktu sekitar satu tahun lagi sebelum Amara muncul.

Satu tahun untuk mempersiapkan diri. Satu tahun untuk mencari cara agar tidak mati.

Tapi bagaimana?

“Yang Mulia?” Margareth melihat Anastasia menutup wajahnya dengan kedua tangan.

“Apakah Anda tidak enak badan? Haruskah saya memanggil tabib?”

“Tidak,” Anastasia menjawab cepat. Ia tidak butuh tabib. Ia butuh keajaiban. Ia butuh cara untuk keluar dari mimpi buruk ini.

“Aku... aku hanya lelah.”

Lelah adalah understatement. Ia merasa seperti seluruh dunianya runtuh. Ia bahkan tidak tahu apakah tubuh aslinya masih hidup di dunia modern, atau apakah ia benar-benar sudah mati.

Dan jika ia sudah mati... apakah ini semacam hukuman? Reinkarnasi ke dalam karakter yang paling malang dalam novel favoritnya?

Pintu kamar tiba-tiba terbuka lebar dengan bantingan keras, membuat semua orang terlonjak kaget.

Seorang wanita paruh baya dengan pakaian mewah masuk dengan angkuh. Rambutnya yang mulai beruban ditata dengan sempurna, dan wajahnya yang masih cantik menampilkan ekspresi meremehkan.

Lady Cordelia—kepala pelayan senior di istana, sekaligus mata-mata bagi para bangsawan yang tidak menyukai keberadaan Anastasia.

“Aku dengar Yang Mulia sedang tidak enak badan,” ucapnya dengan nada yang terdengar peduli tapi matanya memancarkan kebencian tersembunyi.

“Betapa mengkhawatirkan. Mungkin Yang Mulia terlalu... lelah setelah melayani Kaisar semalam?”

Margareth dan pelayan lain menundukkan kepala, tidak berani menatap. Mereka semua tahu Lady Cordelia senang menghina Anastasia, tapi tidak ada yang berani membela.

Anastasia mengangkat wajahnya, menatap wanita itu dengan mata yang bengkak karena menangis. Di dalam novel, gadis Anastasia akan berteriak marah dan melempar barang-barang kepada Lady Cordelia. Tapi Anastasia yang sekarang... ia terlalu lelah untuk marah.

“Apa maumu?” tanyanya datar, tanpa emosi.

Lady Cordelia tampak terkejut dengan respons yang tenang itu, tapi ia cepat menyembunyikannya di balik senyum palsu.

“Aku hanya ingin memastikan Yang Mulia baik-baik saja. Bagaimanapun, posisi Yang Mulia di istana ini... cukup rapuh. Akan sangat disayangkan jika Yang Mulia kehilangan favor Kaisar.”

Ancaman yang tersamar halus.

Anastasia mengerti maksudnya. Posisinya di istana ini memang tidak stabil. Ia bukan permaisuri, bukan bahkan selir resmi. Ia hanya... mainan kaisar. Boneka yang bisa dibuang kapan saja.

“Terima kasih atas kepedulianmu, Lady Cordelia,” Anastasia menjawab dengan nada datar yang sama.

“Tapi aku baik-baik saja. Kau boleh pergi sekarang.”

Wajah Lady Cordelia memerah menahan marah. Ia tidak terbiasa diperlakukan seperti ini oleh Anastasia—biasanya gadis itu akan mudah dipancing untuk bertengkar.

“Baiklah,” ucapnya kaku.

“Aku harap Yang Mulia bisa... bertahan lebih lama kali ini.”

Lalu ia berbalik dan pergi, menutup pintu dengan cukup keras.

Begitu wanita itu pergi, Margareth mendesah lega. “Yang Mulia, Anda seharusnya tidak terlalu lembut dengan Lady Cordelia. Wanita itu akan mengira Anda lemah.”

“Mungkin aku memang lemah,” Anastasia berbisik pelan, lebih kepada dirinya sendiri.

Ia berdiri dari kursi, kakinya masih sedikit gemetar. Ia berjalan ke jendela besar dan menatap keluar—pemandangan taman istana yang luas dengan bunga-bunga indah dan air mancur besar.

Istana Kaisar Arlos adalah istana terindah dan terbesar di seluruh benua. Tapi bagi Anastasia, ini tidak lebih dari penjara besar.

Penjara tempat ia akan mati jika ia tidak melakukan sesuatu.

“Margareth,” Anastasia berbicara tanpa menoleh.

“Katakan padaku... apa yang Kaisar lakukan hari ini?”

Margareth tampak terkejut dengan pertanyaan itu. Anastasia tidak pernah peduli dengan jadwal Arlos sebelumnya.

“Yang Mulia Kaisar sedang dalam pertemuan dengan para jenderal di aula dewan. Sepertinya ada laporan tentang pemberontakan di perbatasan timur.”

Pemberontakan di perbatasan timur. Anastasia ingat bagian itu dalam novel. Ini adalah awal dari serangkaian perang yang akan membawa Arlos ke medan pertempuran di mana ia akan bertemu Amara. Tapi itu masih lama. Masih ada waktu.

“Kapan... kapan Kaisar biasanya datang lagi ke sini?” Anastasia bertanya dengan suara kecil.

Margareth ragu-ragu menjawab. “Kaisar biasanya... datang setiap malam, Yang Mulia.”

Setiap malam.

Anastasia merasa dadanya sesak. Ia harus menghadapi Arlos lagi malam ini. Dan malam setelahnya. Dan seterusnya.

Sampai kapan?

Sampai Amara datang dan Arlos tidak membutuhkannya lagi?

Sampai ia dibunuh?

Tidak. Ia harus mencari jalan keluar. Ia harus bertahan hidup.

Tapi bagaimana caranya menghadapi monster seperti Kaisar Arlos?

Sisa hari itu berlalu dalam kekaburan.

Anastasia menghabiskan waktunya di kamar, tidak berani keluar. Ia berbaring di ranjang yang terlalu besar itu, menatap kelambu sambil memikirkan segala kemungkinan.

Apakah ada cara untuk kembali ke dunianya?

Apakah jika ia mati di sini, ia akan bangun di dunia aslinya?

Tapi... bukankah ia sudah mati di sana? Ditusuk oleh pencuri, berdarah di trotoar yang dingin.

Mungkin ini adalah semacam kehidupan kedua. Kesempatan kedua yang kejam.

“Kenapa harus aku?” bisiknya pelan.

“Kenapa harus di sini? Dalam tubuh karakter yang akan mati?” Tidak ada yang menjawab. Hanya keheningan ruangan yang luas.

Matahari perlahan terbenam, dan cahaya malam mulai menyusup masuk melalui jendela. Margareth masuk membawakan makan malam, tapi Anastasia hampir tidak menyentuhnya.

“Yang Mulia harus makan,” Margareth mendesak dengan lembut. “Anda perlu kekuatan.”

“Untuk apa?” Anastasia tertawa hambar. “Untuk terus hidup dalam neraka ini?”

Margareth tidak tahu harus menjawab apa. Ia hanya bisa menatap dengan mata berkaca-kaca, hatinya sakit melihat majikan mudanya yang terlihat begitu hancur.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • ANASTASIA: Terjebak Sebagai Tawanan Kaisar   SIDE STORY 20

    Beberapa tahun kemudian.Anastasia duduk di meja kerjanya, jendela apartemennya terbuka membiarkan angin sore masuk, membawa aroma hujan yang baru saja reda—aroma yang selalu mengingatkannya pada malam yang mengubah segalanya, bertahun-tahun lalu.Di depannya, laptopnya menyala, kursor berkedip menunggu di halaman kosong. Novel terbarunya, yang akan segera dia selesaikan minggu ini, sudah mendekati bab-bab terakhir—kisah tentang seorang wanita yang menemukan cinta di dunia yang mustahil, kehilangan segalanya, lalu menemukan cara untuk tetap memilikinya meski dipisahkan oleh batas yang seharusnya tidak bisa dilewati.Dia tersenyum menatap layar itu, jari-jarinya mulai mengetik kalimat penutup untuk novelnya sendiri—novel yang terinspirasi penuh dari kehidupannya sendiri, meski tidak ada satu pun pembaca yang tahu betapa nyatanya kisah itu baginya.Di samping laptopnya, sebuah kotak kayu kecil duduk manis, penuh sesak dengan surat-surat yang sudah dia kumpulkan selama bertahun-tahun—beg

  • ANASTASIA: Terjebak Sebagai Tawanan Kaisar   SIDE STORY 19

    Setahun setelah kunjungan pertama itu, Sera akhirnya berhasil melakukan sesuatu yang bahkan Guru Valen tidak pernah berani membayangkannya—membuka portal yang cukup stabil untuk bertahan hampir sehari penuh, cukup lama untuk sebuah keluarga menghabiskan waktu bersama tanpa terburu-buru menghitung menit yang tersisa."Kau yakin ini aman?" Anastasia bertanya cemas begitu melangkah keluar dari cahaya keemasan itu, mendapati dirinya kembali berdiri di taman belakang istana, kali ini disambut bukan hanya oleh Arlos, tapi oleh ketiga orang yang paling dia cintai di dunia ini."Aman," Sera menjawab bangga, meski wajahnya pucat kelelahan karena konsentrasi yang dia jaga. "Aku sudah berlatih untuk ini selama berbulan-bulan, Mama. Hari ini, kita punya waktu sampai matahari terbenam besok."Anastasia hampir tidak bisa menahan air matanya sendiri mendengar itu. Waktu yang begitu lama, begitu berharga, terasa seperti hadiah yang tidak pernah berani dia harapkan."Kalau begitu," katanya, menyeka ai

  • ANASTASIA: Terjebak Sebagai Tawanan Kaisar   SIDE STORY 18

    Beberapa bulan setelah kunjungan pertama Anastasia ke istana, sebuah portal kecil terbuka lagi di sudut taman belakang kastil—tempat yang dulu menjadi sering dikunjungi Anastasia saat hamil Lucian, tempat di mana Arlos menunjukkan kepeduliannya pertama kali pada Anastasia, tempat di mana Arlos... menghukum Lady Cordelia dan sekutunya karena menghina bayi yang di kandungan Anastasia.Kali ini, Arlos menunggu Anastasia di taman ini."Sera bilang dia ingin memberi kalian waktu berdua," Lucian pernah berkata beberapa hari sebelumnya, tersenyum jahil yang jarang sekali dia tunjukkan. "Katanya, 'Papa dan Mama juga butuh waktu untuk jadi Arlos dan Anastasia, bukan cuma Papa dan Mama.'"Arlos berdiri di bawah pohon sakura yang sedang berbunga penuh, kelopak-kelopak merah muda berjatuhan pelan di sekelilingnya, jantungnya berdebar seperti pemuda yang baru pertama kali jatuh cinta, meski dia sudah menikahi wanita yang akan segera muncul dari portal itu bertahun-tahun lalu.Cahaya keemasan berpe

  • ANASTASIA: Terjebak Sebagai Tawanan Kaisar   SIDE STORY 17

    Di suatu tempat di antara dimensi—tempat yang tidak memiliki bentuk, tidak memiliki waktu yang berjalan normal seperti yang dikenal dunia manapun—Khronos duduk sendirian, mengamati kembali setiap momen yang baru saja terjadi.Dia sudah hidup lebih lama dari peradaban mana pun yang pernah tercatat. Dia sudah menyaksikan jutaan kisah cinta lahir dan mati, jutaan keluarga hancur dan bersatu kembali, jutaan pilihan yang dibuat manusia dalam upaya sia-sia melawan takdir yang sudah dia tetapkan sejak awal waktu.Tapi tidak pernah, dalam seluruh keberadaannya yang tidak terhitung, dia menyaksikan sesuatu seperti ini.Seorang anak yang rela lenyap demi kebahagiaan ibunya. Seorang ayah yang memilih kehancuran hatinya sendiri demi kebebasan wanita yang dicintainya. Seorang ibu yang, diberi kesempatan untuk hidup aman dan bebas, memilih kembali cinta yang sudah dia ketahui akan berakhir dengan kematian.Dan seorang putri yang, dengan tekad tanpa henti, mengubah dirinya sendiri menjadi penyihir y

  • ANASTASIA: Terjebak Sebagai Tawanan Kaisar   SIDE STORY 16

    Enam bulan setelah malam penuh keajaiban itu, Sera berdiri di tengah ruang latihan pribadinya, keringat membasahi dahinya, tangannya gemetar menahan konsentrasi yang sudah dia jaga selama berjam-jam."Kau bisa melakukannya," Lucian berkata dari sisi ruangan, suaranya tenang tapi penuh keyakinan. "Kau sudah berlatih untuk ini selama berbulan-bulan, Sera. Percaya pada dirimu sendiri."Arlos berdiri di sisi lain, tidak mengatakan apa-apa, tapi matanya penuh harapan yang sama besarnya dengan yang dirasakan putrinya sendiri.Sera menutup mata, mengingat setiap wajah yang dia rindukan—senyum ibunya di potret lama, suara hangatnya dalam surat-surat yang selalu dia baca berulang kali sebelum tidur, kehangatan pelukan yang hanya bisa dia ingat samar-samar tapi tidak pernah benar-benar hilang."Untuk Mama," bisiknya, mengumpulkan seluruh kekuatannya ke ujung jarinya.Cahaya keemasan mulai berpendar di sekelilingnya, jauh lebih stabil dari percobaan-percobaan sebelumnya, membentuk lingkaran semp

  • ANASTASIA: Terjebak Sebagai Tawanan Kaisar   SIDE STORY 15

    Beberapa minggu berlalu sejak malam itu, dan kehidupan Anastasia perlahan menemukan iramanya kembali—meski sekarang ada sesuatu yang berbeda menyertainya setiap hari.Surat-surat aneh mulai muncul di kamarnya, tidak datang lewat pos, tidak diantar siapa pun—hanya muncul begitu saja di atas meja kerjanya, kertasnya bertekstur asing, tintanya berkilau keemasan samar di bawah cahaya tertentu.Untuk Mama, tulisan pertama yang dia temukan, tulisan tangan yang rapi tapi terburu-buru, jelas ditulis oleh seseorang yang tidak sabar. Aku baik-baik saja. Aku sudah mulai belajar mengendalikan sihirku lagi, meski Guru Valen bilang aku masih harus banyak berlatih sebelum bisa membuka portal yang stabil. Aku merindukanmu setiap hari. — SeraAnastasia menangis membaca surat pertama itu, memeluknya erat ke dadanya sebelum akhirnya duduk dan menulis balasannya sendiri, tidak yakin bagaimana caranya mengirim surat itu kembali tapi tetap menulis dengan sepenuh hati, meletakkannya di tempat yang sama temp

  • ANASTASIA: Terjebak Sebagai Tawanan Kaisar   Chapter 1: Terbangun di Ranjang Kaisar

    Hujan deras mengguyur jalanan kota yang sepi. Anastasia berjalan tergesa-gesa di trotoar yang basah, jaket tipisnya tidak banyak membantu.Jam menunjukkan pukul sebelas malam lewat lima belas menit. Terlambat. Lagi-lagi ia terlambat pulang ke apartemen kecil yang ia sewa sendiri, jauh dari ayah, ib

  • ANASTASIA: Terjebak Sebagai Tawanan Kaisar   Chapter 5: Aku Harus Melindungi Anakku

    “Panggil tabib,” Margareth memerintahkan pelayan lain dengan nada mendesak. “Sekarang!”Tabib istana—seorang pria tua dengan jenggot putih panjang—datang tidak lama kemudian. Ia memeriksa Anastasia dengan teliti, memegang pergelangan tangannya, melihat matanya, menanyakan berbagai gejala.Dan akhir

  • ANASTASIA: Terjebak Sebagai Tawanan Kaisar   Chapter 4: Benih Pewaris Sang Kaisar

    Malam semakin larut. Para pelayan mulai menyalakan lilin-lilin di kamar, menciptakan cahaya yang hangat tapi tidak cukup untuk mengusir dinginnya perasaan Anastasia.Lalu pintu kamar terbuka.Tidak ada yang mengetuk.Tidak ada pengumuman.Tapi Anastasia langsung tahu siapa yang datang.Hanya ada sa

  • ANASTASIA: Terjebak Sebagai Tawanan Kaisar   Chapter 2: Selir Sang Kaisar

    Pagi datang dengan cahaya yang terlalu terang.Anastasia membuka matanya perlahan, tubuhnya terasa remuk seperti habis ditabrak truk. Setiap otot berteriak kesakitan, terutama bagian bawah tubuhnya yang terasa kebas dan panas.Ia menatap langit-langit ruangan yang asing—langit-langit tinggi dengan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status