Accueil / Historical / ANASTASIA: Terjebak Sebagai Tawanan Kaisar / Chapter 4: Benih Pewaris Sang Kaisar

Partager

Chapter 4: Benih Pewaris Sang Kaisar

Auteur: MIMOWIE
last update Date de publication: 2026-05-05 02:00:29

Malam semakin larut. Para pelayan mulai menyalakan lilin-lilin di kamar, menciptakan cahaya yang hangat tapi tidak cukup untuk mengusir dinginnya perasaan Anastasia.

Lalu pintu kamar terbuka.

Tidak ada yang mengetuk.

Tidak ada pengumuman.

Tapi Anastasia langsung tahu siapa yang datang.

Hanya ada satu orang yang bisa masuk ke kamarnya tanpa izin.

Kaisar.

Semua pelayan langsung berlutut, kepala menunduk dalam. Margareth memberi isyarat cepat kepada yang lain untuk segera keluar, dan dalam sekejap, kamar yang tadinya ramai menjadi sepi. Hanya tersisa Anastasia dan monster berkulit manusia itu.

Anastasia duduk di tepi ranjang, tubuhnya kaku. Ia tidak berani menatap. Ia bisa merasakan aura mencekam yang memancar dari sosok tinggi besar yang berdiri di dekat pintu.

Arlos menutup pintu dengan pelan—bunyi klik kunci yang terdengar seperti vonis mati di telinga Anastasia.

Langkah kakinya berat saat ia melangkah mendekat. Satu langkah. Dua langkah. Tiga langkah. Lalu ia berhenti tepat di hadapan Anastasia.

“Lihat aku.”

Suara itu—dalam, dingin, penuh otoritas yang tidak bisa dibantah—membuat tubuh Anastasia bergetar refleks.

Perlahan, dengan tangan yang gemetar, Anastasia mengangkat kepalanya. Dan ia bertemu pandang dengan sepasang mata merah yang menyala dalam keremangan kamar.

Kaisar Arlos lebih mengerikan dari ilustrasi dalam novel. Tingginya hampir dua meter, dengan tubuh yang penuh otot terlatih—tubuh seorang pejuang yang telah membunuh ribuan orang. Wajahnya tampan dengan cara yang keras dan tajam—rahang tegas, hidung lurus, dan bibir tipis yang tidak pernah tersenyum.

Rambut hitamnya legam, membingkai wajah yang tampak seperti dipahat dari batu. Dan mata merah itu—mata yang tidak memiliki kehangatan, hanya kekosongan dan kekuasaan absolut.

Ia mengenakan pakaian kerajaan formal—jubah hitam dengan bordir emas dan merah, simbol kekaisaran di dadanya. Tapi sekarang ia mulai membuka jubah itu dengan gerakan lambat, menatap Anastasia tanpa berkedip.

“K-Kaisar...” suara Anastasia nyaris tidak terdengar.

“Kau menangis sepanjang hari,” ucapnya datar, bukan sebagai pertanyaan tapi pernyataan.

“Margareth melaporkannya padaku.”

Jadi ia tahu. Tentu saja ia tahu. Tidak ada yang terjadi di istana ini tanpa sepengetahuan Kaisar.

“A-aku...” Anastasia tidak tahu harus berkata apa.

“Aku hanya….”

“Aku tidak peduli,” potong Arlos dingin. Jubahnya jatuh ke lantai, menyisakan kemeja putih yang memeluk tubuh atletisnya.

“Kau bisa menangis sepuasmu di siang hari. Tapi di malam hari, kau punya tugas.”

Tugas. Ia menyebutnya tugas.

Seolah Anastasia adalah pelayan, bukan manusia dengan perasaan.

Arlos melangkah lebih dekat, tangannya yang besar dan kasar terangkat menyentuh pipi Anastasia.

Sentuhannya dingin meski telapak tangannya hangat—dingin dalam cara yang tidak memiliki kelembutan apapun.

“Aku membawamu ke sini bukan karena aku membutuhkanmu,” ucapnya pelan, tapi setiap kata terasa seperti pisau yang menusuk.

“Aku membawamu karena aku menginginkanmu. Dan kau akan melayani keinginan itu.”

Anastasia merasakan air mata mulai mengalir lagi. Ia mencoba menahannya, tapi tidak bisa. Ia terlalu takut. Terlalu hancur.

“Kumohon...” bisiknya. “Kumohon jangan….”

Tapi permohonan itu jatuh ke telinga yang tuli.

Arlos mendorongnya pelan hingga Anastasia terbaring di ranjang. Tubuh besar itu menindihnya, berat dan mencekik.

Tangan-tangan besar itu mulai membuka gaun tidurnya dengan gerakan yang terlatih—ia sudah melakukan ini berkali-kali.

Anastasia menutup matanya erat-erat, air mata mengalir ke pelipis. Ia bisa merasakan udara dingin menyentuh kulitnya yang terbuka. Bisa merasakan napas hangat Arlos di lehernya.

“Buka matamu,” perintah Arlos.

Anastasia menggeleng pelan, bibir bawahnya bergetar.

“Aku bilang buka matamu.” Suaranya lebih keras kali ini, lebih mengancam.

Dengan gemetar, Anastasia membuka matanya. Dan ia bertemu pandang dengan mata merah yang menatapnya dengan intensitas yang membakar.

“Ingat ini baik-baik,” Arlos berbisik, wajahnya hanya beberapa inci dari wajah Anastasia. “Kau adalah milikku. Setiap napas yang kau ambil, setiap detak jantungmu—semuanya ada karena aku mengizinkannya. Jangan pernah lupa itu.”

Lalu ia menciumnya—ciuman yang menuntut, mengambil, tanpa memberi apapun sebagai gantinya.

Anastasia tidak bisa bernapas. Tidak bisa berpikir. Ia hanya bisa merasakan—merasakan berat tubuh Arlos, merasakan tangan-tangan yang bergerak di tubuhnya, merasakan panas yang menyakitkan saat Arlos mengambil apa yang ia inginkan.

Tidak ada kelembutan. Tidak ada kehangatan. Hanya klaim sepihak dari seorang kaisar yang tidak mengenal kata belas kasihan. Anastasia menangis sepanjang malam itu. Dan Arlos tidak peduli.

☆☆☆

Fajar menyingsing dengan cahaya keemasan yang menyakitkan mata.

Anastasia terbaring telentang, menatap langit-langit dengan tatapan kosong. Tubuhnya sakit di mana-mana. Ia merasa seperti patah menjadi ribuan kepingan.

Arlos sudah pergi—ia selalu pergi sebelum matahari terbit penuh. Tidak pernah tinggal untuk melihat kehancuran yang ia tinggalkan.

Pintu terbuka pelan, dan Margareth masuk dengan wajah khawatir. Mata wanita tua itu berkaca-kaca saat melihat kondisi Anastasia.

“Yang Mulia....” suaranya parau.

“Aku tidak apa-apa,” Anastasia berbohong dengan suara yang datar. Ia bahkan tidak yakin ia masih bisa merasakan apa-apa.

“Mari saya bantu Anda mandi.”

Rutinitas yang sama berulang. Dimandikan, dibersihkan, dipakaikan gaun baru. Seolah dengan membersihkan tubuh, mereka bisa membersihkan luka yang ada di dalam.

Tapi tidak ada yang bisa membersihkan rasa sakit di hati Anastasia. Hari-hari berlalu dalam kekaburan yang sama. Arlos datang setiap malam, mengambil apa yang ia inginkan, lalu pergi tanpa sepatah kata. Dan Anastasia hanya bisa terbaring di sana, menangis dalam diam, berharap semuanya adalah mimpi buruk yang akan segera berakhir.

Tapi hari ketiga belas sejak Anastasia tersadar di dunia ini, sesuatu berubah.

Anastasia bangun dengan perasaan mual yang luar biasa. Ia berlari ke kamar mandi, muntah hingga perutnya kosong. Kepalanya pusing, tubuhnya lemas.

“Yang Mulia!” Margareth panik, menopang tubuh Anastasia yang hampir ambruk. “Anda baik-baik saja?”

“Aku... aku tidak tahu...” Anastasia terengah-engah. “Aku merasa sangat mual….”

Margareth menatapnya dengan mata melebar. Lalu pandangan wanita itu turun ke perut Anastasia yang masih rata.

“Yang Mulia,” bisiknya pelan. “Kapan terakhir kali Anda... mengalami siklus bulanan?”

Anastasia terdiam. Ia mencoba mengingat memori dari tubuh ini. Dan ia menyadari—sudah hampir dua bulan sejak gadis Anastasia yang asli terakhir mengalaminya.

Tidak.

Tidak, tidak, tidak.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • ANASTASIA: Terjebak Sebagai Tawanan Kaisar   SIDE STORY 20

    Beberapa tahun kemudian.Anastasia duduk di meja kerjanya, jendela apartemennya terbuka membiarkan angin sore masuk, membawa aroma hujan yang baru saja reda—aroma yang selalu mengingatkannya pada malam yang mengubah segalanya, bertahun-tahun lalu.Di depannya, laptopnya menyala, kursor berkedip menunggu di halaman kosong. Novel terbarunya, yang akan segera dia selesaikan minggu ini, sudah mendekati bab-bab terakhir—kisah tentang seorang wanita yang menemukan cinta di dunia yang mustahil, kehilangan segalanya, lalu menemukan cara untuk tetap memilikinya meski dipisahkan oleh batas yang seharusnya tidak bisa dilewati.Dia tersenyum menatap layar itu, jari-jarinya mulai mengetik kalimat penutup untuk novelnya sendiri—novel yang terinspirasi penuh dari kehidupannya sendiri, meski tidak ada satu pun pembaca yang tahu betapa nyatanya kisah itu baginya.Di samping laptopnya, sebuah kotak kayu kecil duduk manis, penuh sesak dengan surat-surat yang sudah dia kumpulkan selama bertahun-tahun—beg

  • ANASTASIA: Terjebak Sebagai Tawanan Kaisar   SIDE STORY 19

    Setahun setelah kunjungan pertama itu, Sera akhirnya berhasil melakukan sesuatu yang bahkan Guru Valen tidak pernah berani membayangkannya—membuka portal yang cukup stabil untuk bertahan hampir sehari penuh, cukup lama untuk sebuah keluarga menghabiskan waktu bersama tanpa terburu-buru menghitung menit yang tersisa."Kau yakin ini aman?" Anastasia bertanya cemas begitu melangkah keluar dari cahaya keemasan itu, mendapati dirinya kembali berdiri di taman belakang istana, kali ini disambut bukan hanya oleh Arlos, tapi oleh ketiga orang yang paling dia cintai di dunia ini."Aman," Sera menjawab bangga, meski wajahnya pucat kelelahan karena konsentrasi yang dia jaga. "Aku sudah berlatih untuk ini selama berbulan-bulan, Mama. Hari ini, kita punya waktu sampai matahari terbenam besok."Anastasia hampir tidak bisa menahan air matanya sendiri mendengar itu. Waktu yang begitu lama, begitu berharga, terasa seperti hadiah yang tidak pernah berani dia harapkan."Kalau begitu," katanya, menyeka ai

  • ANASTASIA: Terjebak Sebagai Tawanan Kaisar   SIDE STORY 18

    Beberapa bulan setelah kunjungan pertama Anastasia ke istana, sebuah portal kecil terbuka lagi di sudut taman belakang kastil—tempat yang dulu menjadi sering dikunjungi Anastasia saat hamil Lucian, tempat di mana Arlos menunjukkan kepeduliannya pertama kali pada Anastasia, tempat di mana Arlos... menghukum Lady Cordelia dan sekutunya karena menghina bayi yang di kandungan Anastasia.Kali ini, Arlos menunggu Anastasia di taman ini."Sera bilang dia ingin memberi kalian waktu berdua," Lucian pernah berkata beberapa hari sebelumnya, tersenyum jahil yang jarang sekali dia tunjukkan. "Katanya, 'Papa dan Mama juga butuh waktu untuk jadi Arlos dan Anastasia, bukan cuma Papa dan Mama.'"Arlos berdiri di bawah pohon sakura yang sedang berbunga penuh, kelopak-kelopak merah muda berjatuhan pelan di sekelilingnya, jantungnya berdebar seperti pemuda yang baru pertama kali jatuh cinta, meski dia sudah menikahi wanita yang akan segera muncul dari portal itu bertahun-tahun lalu.Cahaya keemasan berpe

  • ANASTASIA: Terjebak Sebagai Tawanan Kaisar   SIDE STORY 17

    Di suatu tempat di antara dimensi—tempat yang tidak memiliki bentuk, tidak memiliki waktu yang berjalan normal seperti yang dikenal dunia manapun—Khronos duduk sendirian, mengamati kembali setiap momen yang baru saja terjadi.Dia sudah hidup lebih lama dari peradaban mana pun yang pernah tercatat. Dia sudah menyaksikan jutaan kisah cinta lahir dan mati, jutaan keluarga hancur dan bersatu kembali, jutaan pilihan yang dibuat manusia dalam upaya sia-sia melawan takdir yang sudah dia tetapkan sejak awal waktu.Tapi tidak pernah, dalam seluruh keberadaannya yang tidak terhitung, dia menyaksikan sesuatu seperti ini.Seorang anak yang rela lenyap demi kebahagiaan ibunya. Seorang ayah yang memilih kehancuran hatinya sendiri demi kebebasan wanita yang dicintainya. Seorang ibu yang, diberi kesempatan untuk hidup aman dan bebas, memilih kembali cinta yang sudah dia ketahui akan berakhir dengan kematian.Dan seorang putri yang, dengan tekad tanpa henti, mengubah dirinya sendiri menjadi penyihir y

  • ANASTASIA: Terjebak Sebagai Tawanan Kaisar   SIDE STORY 16

    Enam bulan setelah malam penuh keajaiban itu, Sera berdiri di tengah ruang latihan pribadinya, keringat membasahi dahinya, tangannya gemetar menahan konsentrasi yang sudah dia jaga selama berjam-jam."Kau bisa melakukannya," Lucian berkata dari sisi ruangan, suaranya tenang tapi penuh keyakinan. "Kau sudah berlatih untuk ini selama berbulan-bulan, Sera. Percaya pada dirimu sendiri."Arlos berdiri di sisi lain, tidak mengatakan apa-apa, tapi matanya penuh harapan yang sama besarnya dengan yang dirasakan putrinya sendiri.Sera menutup mata, mengingat setiap wajah yang dia rindukan—senyum ibunya di potret lama, suara hangatnya dalam surat-surat yang selalu dia baca berulang kali sebelum tidur, kehangatan pelukan yang hanya bisa dia ingat samar-samar tapi tidak pernah benar-benar hilang."Untuk Mama," bisiknya, mengumpulkan seluruh kekuatannya ke ujung jarinya.Cahaya keemasan mulai berpendar di sekelilingnya, jauh lebih stabil dari percobaan-percobaan sebelumnya, membentuk lingkaran semp

  • ANASTASIA: Terjebak Sebagai Tawanan Kaisar   SIDE STORY 15

    Beberapa minggu berlalu sejak malam itu, dan kehidupan Anastasia perlahan menemukan iramanya kembali—meski sekarang ada sesuatu yang berbeda menyertainya setiap hari.Surat-surat aneh mulai muncul di kamarnya, tidak datang lewat pos, tidak diantar siapa pun—hanya muncul begitu saja di atas meja kerjanya, kertasnya bertekstur asing, tintanya berkilau keemasan samar di bawah cahaya tertentu.Untuk Mama, tulisan pertama yang dia temukan, tulisan tangan yang rapi tapi terburu-buru, jelas ditulis oleh seseorang yang tidak sabar. Aku baik-baik saja. Aku sudah mulai belajar mengendalikan sihirku lagi, meski Guru Valen bilang aku masih harus banyak berlatih sebelum bisa membuka portal yang stabil. Aku merindukanmu setiap hari. — SeraAnastasia menangis membaca surat pertama itu, memeluknya erat ke dadanya sebelum akhirnya duduk dan menulis balasannya sendiri, tidak yakin bagaimana caranya mengirim surat itu kembali tapi tetap menulis dengan sepenuh hati, meletakkannya di tempat yang sama temp

  • ANASTASIA: Terjebak Sebagai Tawanan Kaisar   Chapter 5: Aku Harus Melindungi Anakku

    “Panggil tabib,” Margareth memerintahkan pelayan lain dengan nada mendesak. “Sekarang!”Tabib istana—seorang pria tua dengan jenggot putih panjang—datang tidak lama kemudian. Ia memeriksa Anastasia dengan teliti, memegang pergelangan tangannya, melihat matanya, menanyakan berbagai gejala.Dan akhir

  • ANASTASIA: Terjebak Sebagai Tawanan Kaisar   Chapter 3: Satu Tahun Sebelum Kehancuran

    Setelah mandi, para pelayan membantu Anastasia berpakaian dan menata rambutnya. Mereka memilihkan gaun sutra berwarna putih dengan bordir emas yang elegan—pakaian yang pantas untuk selir kaisar.Anastasia duduk di depan meja rias, menatap pantulan dirinya di cermin dengan tatapan kosong. Wajah cant

  • ANASTASIA: Terjebak Sebagai Tawanan Kaisar   Chapter 2: Selir Sang Kaisar

    Pagi datang dengan cahaya yang terlalu terang.Anastasia membuka matanya perlahan, tubuhnya terasa remuk seperti habis ditabrak truk. Setiap otot berteriak kesakitan, terutama bagian bawah tubuhnya yang terasa kebas dan panas.Ia menatap langit-langit ruangan yang asing—langit-langit tinggi dengan

  • ANASTASIA: Terjebak Sebagai Tawanan Kaisar   Chapter 1: Terbangun di Ranjang Kaisar

    Hujan deras mengguyur jalanan kota yang sepi. Anastasia berjalan tergesa-gesa di trotoar yang basah, jaket tipisnya tidak banyak membantu.Jam menunjukkan pukul sebelas malam lewat lima belas menit. Terlambat. Lagi-lagi ia terlambat pulang ke apartemen kecil yang ia sewa sendiri, jauh dari ayah, ib

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status