LOGINPagi datang dengan cahaya yang terlalu terang.
Anastasia membuka matanya perlahan, tubuhnya terasa remuk seperti habis ditabrak truk. Setiap otot berteriak kesakitan, terutama bagian bawah tubuhnya yang terasa kebas dan panas. Ia menatap langit-langit ruangan yang asing—langit-langit tinggi dengan lukisan indah para malaikat dan dewa-dewa. Kelambu putih yang mewah mengelilingi ranjang besar tempat ia berbaring. Ini bukan mimpi. Ini nyata. Ia benar-benar ada di sini. Di dalam novel. Di dalam tubuh Anastasia yang malang. Air mata mulai mengalir lagi tanpa ia sadari. Ia tidak bisa menghentikannya. Seluruh tubuhnya bergetar, antara takut, marah, dan putus asa. Pintu kamar terbuka dengan bunyi berderit pelan. Anastasia tidak menoleh, ia hanya terus menatap kosong langit-langit sambil menangis dalam diam. “Yang Mulia, sarapan Anda sudah siap. Izinkan kami membantu Anda mandi dan berpakaian.” Suara lembut itu—suara pelayan kepala bernama Margareth. Anastasia ingat dari memori gadis ini. Margareth adalah salah satu dari sedikit pelayan yang masih mencoba bersikap baik meski Anastasia sering menyiksanya. Beberapa pelayan muda masuk dengan takut-takut, membawa nampan berisi makanan dan handuk bersih. Mereka semua bergerak dengan hati-hati, seolah takut Anastasia akan meledak dan menyiksa mereka seperti biasa. Tapi Anastasia tidak bergerak. Ia hanya berbaring di sana, air mata terus mengalir membasahi bantal. Margareth mendekat dengan hati-hati. “Yang Mulia? Apakah Anda baik-baik saja?” Anastasia tidak menjawab. Bibirnya bergetar, mencoba membentuk kata-kata tapi tidak ada yang keluar. Ia ingin berteriak, ingin meminta tolong, ingin mengatakan bahwa ia bukan Anastasia yang mereka kenal. Tapi siapa yang akan percaya? “Yang Mulia....” Margareth tampak khawatir sekarang. Ia memberi isyarat pada pelayan lain untuk mendekat. “Mari kami bantu Anda. Anda harus mandi dan makan.” Dengan lembut, para pelayan membantu Anastasia bangun. Tubuhnya hampir tidak bisa berdiri sendiri, kakinya gemetar dan nyaris ambruk jika tidak ada yang menopang. Mereka membawanya ke kamar mandi yang sangat besar dan mewah—ada bak mandi besar dari marmer putih yang sudah diisi air hangat beraroma lavender. Uap mengepul dari permukaan air, menghangatkan ruangan yang dingin. Para pelayan membuka gaun tidur Anastasia dengan hati-hati, dan Anastasia bisa melihat tubuhnya sendiri di cermin besar di dinding. Ia tersentak. Bukan tubuhnya. Bukan tubuh Anastasia yang asli. Tubuh ini lebih muda, lebih pendek, dengan kulit seputih porselen yang penuh dengan memar dan tanda-tanda merah—bukti dari perlakuan brutal Arlos tadi malam. Rambut pirang panjang yang bergelombang jatuh hingga ke pinggang, dan sepasang mata biru seperti langit musim panas yang sekarang merah karena menangis. Ini adalah tubuh Anastasia dari novel. Gadis cantik berusia tujuh belas tahun yang menjadi tumbal untuk keluarganya. “Yang Mulia, mari masuk ke dalam air.” Margareth membimbingnya dengan lembut. Anastasia membiarkan dirinya dipandu masuk ke dalam bak mandi. Air hangat menyentuh kulitnya, sedikit menenangkan otot-ototnya yang sakit. Para pelayan mulai membersihkannya dengan hati-hati, menggosok tubuhnya dengan spons lembut dan sabun harum. Tapi Anastasia tidak merasakan apa-apa. Ia hanya duduk di sana, kosong, air mata terus mengalir bercampur dengan air mandi. “Aku ingin pulang,” bisiknya sangat pelan, hampir tidak terdengar. Margareth yang sedang mencuci rambutnya berhenti sejenak. “Yang Mulia?” “Aku ingin pulang….” Anastasia mengulangi dengan suara yang lebih keras kali ini, tubuhnya mulai bergetar hebat. “Aku... aku ingin pulang ke rumah... kumohon....” Para pelayan saling berpandangan bingung. Rumah? Anastasia tidak pernah menganggap Silvestra sebagai rumah. Gadis ini selalu membenci keluarganya, selalu mengatakan bahwa ia tidak punya rumah. “Yang Mulia, ini adalah rumah Anda sekarang,” Margareth berkata dengan nada yang mencoba menenangkan. “Anda adalah selir Kaisar Arlos. Istana ini adalah rumah Anda.” “Tidak...” Anastasia menggeleng keras, tangannya mencengkeram tepi bak mandi hingga buku-buku jarinya memutih. “Ini bukan rumahku. Aku bukan... aku bukan seharusnya ada di sini. Ini salah. Semuanya salah!” Ia mulai terisak, meraung seperti anak kecil yang ketakutan. Para pelayan tidak tahu harus berbuat apa. Mereka tidak pernah melihat Anastasia menangis seperti ini—dengan begitu putus asa, dengan begitu hancur. Biasanya, Anastasia menangis karena marah. Menangis sambil memecahkan barang-barang, sambil menyiksa pelayan, sambil berteriak penuh kebencian. Tapi ini berbeda. Ini adalah tangisan seseorang yang benar-benar kehilangan segalanya. Margareth memeluk Anastasia dari belakang dengan hati-hati, membiarkan gadis itu menangis di pelukannya. “Ssshh... tidak apa-apa, Yang Mulia. Semuanya akan baik-baik saja.” Tapi Anastasia tahu itu tidak benar. Tidak ada yang akan baik-baik saja. Ia terjebak dalam novel yang ia baca. Terjebak dalam tubuh karakter yang akan mati dengan kejam di masa depan. Dan yang paling menakutkan—ia harus menghadapi Kaisar Arlos, pria yang paling ia benci dalam novel itu. Pria yang akan membunuhnya dan anak-anak mereka tanpa belas kasihan."YANG MULIA! YANG MULIA KAISAR!"Arlos bangkit, mata merah menyala dalam kegelapan. "Apa—""Tumbal itu—Anastasia—dia hilang! Dan bayi—Pangeran Lucian juga hilang!"Dunia Arlos berhenti.Sesuatu di dadanya—sesuatu yang dia tidak tahu ada di sana—terpelintir dengan rasa sakit yang luar biasa."APA?!""Mereka melarikan diri, Yang Mulia! Seseorang membantunya—mungkin Yenna, penyembuh itu—kereta terlihat meninggalkan gerbang belakang sepuluh menit yang lalu—"Arlos tidak mendengar sisanya. Dia sudah berlari—keluar kamar, menuruni tangga, ke halaman—"PERSIAPKAN KUDAKU!" teriaknya dengan suara yang menggelegar."KUMPULKAN SEMUA PASUKAN! KEJAR MEREKA! SEKARANG!"Felix muncul dari kegelapan, sudah mengenakan pakaian perang. "Yang Mulia, apa yang—""DIA MELARIKAN DIRI!" Arlos berteriak, dan ada sesuatu dalam suaranya—sesuatu yang Felix tidak pernah dengar sebelumnya. Panik. Ketakutan. Keputusas
"Keluar," perintahnya dengan suara yang dingin.""Apa?" Amara menatapnya dengan mata melebar, terkejut."Tapi Yang Mulia—kita hampir—""Aku bilang KELUAR!" Arlos berteriak, mata merahnya menyala dengan kemarahan yang tiba-tiba.Tapi bukan kemarahan pada Amara. Kemarahan pada dirinya sendiri. Karena di tengah ciuman itu—di tengah kehangatan tubuh Amara—yang diapikirkan adalah wajah yang berbeda.Wajah dengan mata biru yang berkaca-kaca air mata.Rambut pirang yang kusut.Tubuh yang kurus dan rapuh tapi masih memeluknya dengan putus asa.Anastasia."Keluar sekarang," Arlos mengulangi dengan suara yang bergetar—entah dari kemarahan atau sesuatu yang lain. "Sebelum aku melakukan sesuatu yang akan kusesali."Amara menatapnya dengan ekspresi yang berubah—dari terkejut menjadi marah, dari marah menjadi... takut."Yang Mulia," ucapnya dengan suara yang bergetar, topeng kepolosannya mulai retak
Malam itu, ketika Arlos datang, Anastasia tidak berbaring pasif seperti biasa.Untuk pertama kalinya dalam bulan-bulan ini, ketika Arlos mulai bergerak di atasnya—ketika rasa sakit yang familiar mulai menyebar—Anastasia mengangkat tangannya.Dan dengan gerakan yang mengejutkan Arlos, dia mengalungkan tangannya di tengkuk kaisar itu.Menariknya lebih dekat. Memeluknya dengan kuat yang putus asa.Arlos berhenti bergerak, terkejut dengan gerakan tiba-tiba ini."Apa yang kau—" mulainya."Kumohon," Anastasia berbisik dengan suara yang hancur, air mata mengalir deras."Kumohon jangan menikahi dia. Kumohon jangan menikahi Amara. Aku—aku akan melakukan apapun. Apapun yang kau mau. Hanya jangan—jangan menikah dengannya—"Arlos menatapnya dengan ekspresi yang tidak terbaca. "Kenapa aku harus peduli dengan apa yang kau inginkan?""Karena—karena kau dulu mencintaiku—" Anastasia terisak, tangannya mencengkeram leher
Hari-hari berubah menjadi minggu.Minggu berubah menjadi bulan.Anastasia kehilangan hitungan berapa lama dia telah hidup dalam kegelapan ini.Tanpa Lucian.Tanpa Yenna.Tanpa Margareth.Tanpa siapapun kecuali penjaga yang membawa makanan sehari sekali—sedikit roti kering, air, kadang sup encer. Cukup untuk bertahan hidup, tidak lebih.Kamarnya menjadi penjara yang lebih gelap. Tirai ditutup rapat, tidak ada cahaya matahari yang masuk. Hanya kegelapan yang mencekik, hanya kesunyian yang memekakkan.Dan setiap malam, Arlos datang.Setiap malam, dia mengambilnya dengan cara yang semakin brutal, semakin tanpa belas kasihan—seolah menghukumnya untuk berani mencoba melawan.Dan setiap malam, Anastasia mencoba—dengan putus asa yang semakin menggelikan—untuk mengingatkannya."Arlos... kau dulu mencintaiku..." bisiknya di tengah air mata dan rasa sakit."Kau dulu tersenyum pada Lucian
Pintu terbuka dengan bantingan keras.Arlos berdiri di sana, mengenakan jubah tidur yang tergesa-gesa dikenakan, mata merahnya menyala dengan kemarahan yang mengerikan.Felix berdiri di belakangnya, wajahnya tanpa ekspresi."Jadi," Arlos berbicara dengan suara yang sangat tenang—jenis ketenangan yang mendahului badai yang menghancurkan."Felix baru saja memberitahuku tentang percakapan yang sangat... menarik. Tentang bagaimana kau mencoba memanipulasinya dengan cerita yang tidak masuk akal."Anastasia tidak bisa bergerak, tidak bisa berbicara. Dia hanya bisa menatap dengan mata yang dipenuhi teror murni."Kau berani," Arlos melanjutkan, melangkah masuk dengan gerakan yang sangat lambat dan mengancam."Kau berani mencoba memfitnah Amara. Mencoba membuat Felix mempertanyakan keputusanku. Mencoba... memanipulasi situasi untuk keuntunganmu sendiri.""Tidak—aku tidak—aku hanya mencoba—"PLAK!Tampar
Malam itu, tepat tengah malam saat pergantian shift penjaga, pintu kamar Anastasia terbuka dengan sangat pelan.Felix masuk dengan jubah gelap menutupi pakaian formalnya, wajahnya keras dan waspada.Anastasia duduk di kursi dekat jendela dengan Lucian dalam pelukan—bayinya sudah tertidur nyenyak. Margareth berdiri di sampingnya, tangan gemetar dengan ketegangan."Ini lebih baik penting," Felix berbisara dengan suara rendah dan berbahaya."Margareth bilang kau punya informasi tentang ancaman terhadap Kaisar. Bicara. Cepat."Anastasia menarik napas dalam, mencoba menenangkan detak jantungnya yang berlari kencang. Ini adalah kesempatannya—satu-satunya kesempatan."Felix, aku tahu ini akan terdengar gila," mulainya dengan suara yang bergetar."Tapi Kaisar... Arlos... dia tidak dalam kondisi normal. Dia telah disihir—ingatannya telah dimanipulasi oleh penyihir gelap bernama Morathi."Felix menatapnya dengan ekspresi