Share

Chapter 2: Selir Sang Kaisar

Author: MIMOWIE
last update publish date: 2026-05-05 01:59:06

Pagi datang dengan cahaya yang terlalu terang.

Anastasia membuka matanya perlahan, tubuhnya terasa remuk seperti habis ditabrak truk. Setiap otot berteriak kesakitan, terutama bagian bawah tubuhnya yang terasa kebas dan panas.

Ia menatap langit-langit ruangan yang asing—langit-langit tinggi dengan lukisan indah para malaikat dan dewa-dewa. Kelambu putih yang mewah mengelilingi ranjang besar tempat ia berbaring.

Ini bukan mimpi.

Ini nyata.

Ia benar-benar ada di sini. Di dalam novel. Di dalam tubuh Anastasia yang malang.

Air mata mulai mengalir lagi tanpa ia sadari. Ia tidak bisa menghentikannya. Seluruh tubuhnya bergetar, antara takut, marah, dan putus asa.

Pintu kamar terbuka dengan bunyi berderit pelan. Anastasia tidak menoleh, ia hanya terus menatap kosong langit-langit sambil menangis dalam diam.

“Yang Mulia, sarapan Anda sudah siap. Izinkan kami membantu Anda mandi dan berpakaian.”

Suara lembut itu—suara pelayan kepala bernama Margareth. Anastasia ingat dari memori gadis ini. Margareth adalah salah satu dari sedikit pelayan yang masih mencoba bersikap baik meski Anastasia sering menyiksanya.

Beberapa pelayan muda masuk dengan takut-takut, membawa nampan berisi makanan dan handuk bersih. Mereka semua bergerak dengan hati-hati, seolah takut Anastasia akan meledak dan menyiksa mereka seperti biasa.

Tapi Anastasia tidak bergerak. Ia hanya berbaring di sana, air mata terus mengalir membasahi bantal.

Margareth mendekat dengan hati-hati. “Yang Mulia? Apakah Anda baik-baik saja?”

Anastasia tidak menjawab. Bibirnya bergetar, mencoba membentuk kata-kata tapi tidak ada yang keluar. Ia ingin berteriak, ingin meminta tolong, ingin mengatakan bahwa ia bukan Anastasia yang mereka kenal.

Tapi siapa yang akan percaya?

“Yang Mulia....” Margareth tampak khawatir sekarang. Ia memberi isyarat pada pelayan lain untuk mendekat.

“Mari kami bantu Anda. Anda harus mandi dan makan.”

Dengan lembut, para pelayan membantu Anastasia bangun. Tubuhnya hampir tidak bisa berdiri sendiri, kakinya gemetar dan nyaris ambruk jika tidak ada yang menopang.

Mereka membawanya ke kamar mandi yang sangat besar dan mewah—ada bak mandi besar dari marmer putih yang sudah diisi air hangat beraroma lavender. Uap mengepul dari permukaan air, menghangatkan ruangan yang dingin.

Para pelayan membuka gaun tidur Anastasia dengan hati-hati, dan Anastasia bisa melihat tubuhnya sendiri di cermin besar di dinding.

Ia tersentak.

Bukan tubuhnya. Bukan tubuh Anastasia yang asli.

Tubuh ini lebih muda, lebih pendek, dengan kulit seputih porselen yang penuh dengan memar dan tanda-tanda merah—bukti dari perlakuan brutal Arlos tadi malam.

Rambut pirang panjang yang bergelombang jatuh hingga ke pinggang, dan sepasang mata biru seperti langit musim panas yang sekarang merah karena menangis.

Ini adalah tubuh Anastasia dari novel. Gadis cantik berusia tujuh belas tahun yang menjadi tumbal untuk keluarganya.

“Yang Mulia, mari masuk ke dalam air.” Margareth membimbingnya dengan lembut.

Anastasia membiarkan dirinya dipandu masuk ke dalam bak mandi. Air hangat menyentuh kulitnya, sedikit menenangkan otot-ototnya yang sakit.

Para pelayan mulai membersihkannya dengan hati-hati, menggosok tubuhnya dengan spons lembut dan sabun harum.

Tapi Anastasia tidak merasakan apa-apa. Ia hanya duduk di sana, kosong, air mata terus mengalir bercampur dengan air mandi.

“Aku ingin pulang,” bisiknya sangat pelan, hampir tidak terdengar.

Margareth yang sedang mencuci rambutnya berhenti sejenak. “Yang Mulia?”

“Aku ingin pulang….” Anastasia mengulangi dengan suara yang lebih keras kali ini, tubuhnya mulai bergetar hebat.

“Aku... aku ingin pulang ke rumah... kumohon....”

Para pelayan saling berpandangan bingung. Rumah? Anastasia tidak pernah menganggap Silvestra sebagai rumah. Gadis ini selalu membenci keluarganya, selalu mengatakan bahwa ia tidak punya rumah.

“Yang Mulia, ini adalah rumah Anda sekarang,” Margareth berkata dengan nada yang mencoba menenangkan.

“Anda adalah selir Kaisar Arlos. Istana ini adalah rumah Anda.”

“Tidak...” Anastasia menggeleng keras, tangannya mencengkeram tepi bak mandi hingga buku-buku jarinya memutih.

“Ini bukan rumahku. Aku bukan... aku bukan seharusnya ada di sini. Ini salah. Semuanya salah!”

Ia mulai terisak, meraung seperti anak kecil yang ketakutan. Para pelayan tidak tahu harus berbuat apa. Mereka tidak pernah melihat Anastasia menangis seperti ini—dengan begitu putus asa, dengan begitu hancur.

Biasanya, Anastasia menangis karena marah. Menangis sambil memecahkan barang-barang, sambil menyiksa pelayan, sambil berteriak penuh kebencian.

Tapi ini berbeda.

Ini adalah tangisan seseorang yang benar-benar kehilangan segalanya.

Margareth memeluk Anastasia dari belakang dengan hati-hati, membiarkan gadis itu menangis di pelukannya. “Ssshh... tidak apa-apa, Yang Mulia. Semuanya akan baik-baik saja.”

Tapi Anastasia tahu itu tidak benar.

Tidak ada yang akan baik-baik saja.

Ia terjebak dalam novel yang ia baca. Terjebak dalam tubuh karakter yang akan mati dengan kejam di masa depan. Dan yang paling menakutkan—ia harus menghadapi Kaisar Arlos, pria yang paling ia benci dalam novel itu.

Pria yang akan membunuhnya dan anak-anak mereka tanpa belas kasihan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • ANASTASIA: Terjebak Sebagai Tawanan Kaisar   SIDE STORY 20

    Beberapa tahun kemudian.Anastasia duduk di meja kerjanya, jendela apartemennya terbuka membiarkan angin sore masuk, membawa aroma hujan yang baru saja reda—aroma yang selalu mengingatkannya pada malam yang mengubah segalanya, bertahun-tahun lalu.Di depannya, laptopnya menyala, kursor berkedip menunggu di halaman kosong. Novel terbarunya, yang akan segera dia selesaikan minggu ini, sudah mendekati bab-bab terakhir—kisah tentang seorang wanita yang menemukan cinta di dunia yang mustahil, kehilangan segalanya, lalu menemukan cara untuk tetap memilikinya meski dipisahkan oleh batas yang seharusnya tidak bisa dilewati.Dia tersenyum menatap layar itu, jari-jarinya mulai mengetik kalimat penutup untuk novelnya sendiri—novel yang terinspirasi penuh dari kehidupannya sendiri, meski tidak ada satu pun pembaca yang tahu betapa nyatanya kisah itu baginya.Di samping laptopnya, sebuah kotak kayu kecil duduk manis, penuh sesak dengan surat-surat yang sudah dia kumpulkan selama bertahun-tahun—beg

  • ANASTASIA: Terjebak Sebagai Tawanan Kaisar   SIDE STORY 19

    Setahun setelah kunjungan pertama itu, Sera akhirnya berhasil melakukan sesuatu yang bahkan Guru Valen tidak pernah berani membayangkannya—membuka portal yang cukup stabil untuk bertahan hampir sehari penuh, cukup lama untuk sebuah keluarga menghabiskan waktu bersama tanpa terburu-buru menghitung menit yang tersisa."Kau yakin ini aman?" Anastasia bertanya cemas begitu melangkah keluar dari cahaya keemasan itu, mendapati dirinya kembali berdiri di taman belakang istana, kali ini disambut bukan hanya oleh Arlos, tapi oleh ketiga orang yang paling dia cintai di dunia ini."Aman," Sera menjawab bangga, meski wajahnya pucat kelelahan karena konsentrasi yang dia jaga. "Aku sudah berlatih untuk ini selama berbulan-bulan, Mama. Hari ini, kita punya waktu sampai matahari terbenam besok."Anastasia hampir tidak bisa menahan air matanya sendiri mendengar itu. Waktu yang begitu lama, begitu berharga, terasa seperti hadiah yang tidak pernah berani dia harapkan."Kalau begitu," katanya, menyeka ai

  • ANASTASIA: Terjebak Sebagai Tawanan Kaisar   SIDE STORY 18

    Beberapa bulan setelah kunjungan pertama Anastasia ke istana, sebuah portal kecil terbuka lagi di sudut taman belakang kastil—tempat yang dulu menjadi sering dikunjungi Anastasia saat hamil Lucian, tempat di mana Arlos menunjukkan kepeduliannya pertama kali pada Anastasia, tempat di mana Arlos... menghukum Lady Cordelia dan sekutunya karena menghina bayi yang di kandungan Anastasia.Kali ini, Arlos menunggu Anastasia di taman ini."Sera bilang dia ingin memberi kalian waktu berdua," Lucian pernah berkata beberapa hari sebelumnya, tersenyum jahil yang jarang sekali dia tunjukkan. "Katanya, 'Papa dan Mama juga butuh waktu untuk jadi Arlos dan Anastasia, bukan cuma Papa dan Mama.'"Arlos berdiri di bawah pohon sakura yang sedang berbunga penuh, kelopak-kelopak merah muda berjatuhan pelan di sekelilingnya, jantungnya berdebar seperti pemuda yang baru pertama kali jatuh cinta, meski dia sudah menikahi wanita yang akan segera muncul dari portal itu bertahun-tahun lalu.Cahaya keemasan berpe

  • ANASTASIA: Terjebak Sebagai Tawanan Kaisar   SIDE STORY 17

    Di suatu tempat di antara dimensi—tempat yang tidak memiliki bentuk, tidak memiliki waktu yang berjalan normal seperti yang dikenal dunia manapun—Khronos duduk sendirian, mengamati kembali setiap momen yang baru saja terjadi.Dia sudah hidup lebih lama dari peradaban mana pun yang pernah tercatat. Dia sudah menyaksikan jutaan kisah cinta lahir dan mati, jutaan keluarga hancur dan bersatu kembali, jutaan pilihan yang dibuat manusia dalam upaya sia-sia melawan takdir yang sudah dia tetapkan sejak awal waktu.Tapi tidak pernah, dalam seluruh keberadaannya yang tidak terhitung, dia menyaksikan sesuatu seperti ini.Seorang anak yang rela lenyap demi kebahagiaan ibunya. Seorang ayah yang memilih kehancuran hatinya sendiri demi kebebasan wanita yang dicintainya. Seorang ibu yang, diberi kesempatan untuk hidup aman dan bebas, memilih kembali cinta yang sudah dia ketahui akan berakhir dengan kematian.Dan seorang putri yang, dengan tekad tanpa henti, mengubah dirinya sendiri menjadi penyihir y

  • ANASTASIA: Terjebak Sebagai Tawanan Kaisar   SIDE STORY 16

    Enam bulan setelah malam penuh keajaiban itu, Sera berdiri di tengah ruang latihan pribadinya, keringat membasahi dahinya, tangannya gemetar menahan konsentrasi yang sudah dia jaga selama berjam-jam."Kau bisa melakukannya," Lucian berkata dari sisi ruangan, suaranya tenang tapi penuh keyakinan. "Kau sudah berlatih untuk ini selama berbulan-bulan, Sera. Percaya pada dirimu sendiri."Arlos berdiri di sisi lain, tidak mengatakan apa-apa, tapi matanya penuh harapan yang sama besarnya dengan yang dirasakan putrinya sendiri.Sera menutup mata, mengingat setiap wajah yang dia rindukan—senyum ibunya di potret lama, suara hangatnya dalam surat-surat yang selalu dia baca berulang kali sebelum tidur, kehangatan pelukan yang hanya bisa dia ingat samar-samar tapi tidak pernah benar-benar hilang."Untuk Mama," bisiknya, mengumpulkan seluruh kekuatannya ke ujung jarinya.Cahaya keemasan mulai berpendar di sekelilingnya, jauh lebih stabil dari percobaan-percobaan sebelumnya, membentuk lingkaran semp

  • ANASTASIA: Terjebak Sebagai Tawanan Kaisar   SIDE STORY 15

    Beberapa minggu berlalu sejak malam itu, dan kehidupan Anastasia perlahan menemukan iramanya kembali—meski sekarang ada sesuatu yang berbeda menyertainya setiap hari.Surat-surat aneh mulai muncul di kamarnya, tidak datang lewat pos, tidak diantar siapa pun—hanya muncul begitu saja di atas meja kerjanya, kertasnya bertekstur asing, tintanya berkilau keemasan samar di bawah cahaya tertentu.Untuk Mama, tulisan pertama yang dia temukan, tulisan tangan yang rapi tapi terburu-buru, jelas ditulis oleh seseorang yang tidak sabar. Aku baik-baik saja. Aku sudah mulai belajar mengendalikan sihirku lagi, meski Guru Valen bilang aku masih harus banyak berlatih sebelum bisa membuka portal yang stabil. Aku merindukanmu setiap hari. — SeraAnastasia menangis membaca surat pertama itu, memeluknya erat ke dadanya sebelum akhirnya duduk dan menulis balasannya sendiri, tidak yakin bagaimana caranya mengirim surat itu kembali tapi tetap menulis dengan sepenuh hati, meletakkannya di tempat yang sama temp

  • ANASTASIA: Terjebak Sebagai Tawanan Kaisar   Chapter 5: Aku Harus Melindungi Anakku

    “Panggil tabib,” Margareth memerintahkan pelayan lain dengan nada mendesak. “Sekarang!”Tabib istana—seorang pria tua dengan jenggot putih panjang—datang tidak lama kemudian. Ia memeriksa Anastasia dengan teliti, memegang pergelangan tangannya, melihat matanya, menanyakan berbagai gejala.Dan akhir

  • ANASTASIA: Terjebak Sebagai Tawanan Kaisar   Chapter 4: Benih Pewaris Sang Kaisar

    Malam semakin larut. Para pelayan mulai menyalakan lilin-lilin di kamar, menciptakan cahaya yang hangat tapi tidak cukup untuk mengusir dinginnya perasaan Anastasia.Lalu pintu kamar terbuka.Tidak ada yang mengetuk.Tidak ada pengumuman.Tapi Anastasia langsung tahu siapa yang datang.Hanya ada sa

  • ANASTASIA: Terjebak Sebagai Tawanan Kaisar   Chapter 3: Satu Tahun Sebelum Kehancuran

    Setelah mandi, para pelayan membantu Anastasia berpakaian dan menata rambutnya. Mereka memilihkan gaun sutra berwarna putih dengan bordir emas yang elegan—pakaian yang pantas untuk selir kaisar.Anastasia duduk di depan meja rias, menatap pantulan dirinya di cermin dengan tatapan kosong. Wajah cant

  • ANASTASIA: Terjebak Sebagai Tawanan Kaisar   Chapter 1: Terbangun di Ranjang Kaisar

    Hujan deras mengguyur jalanan kota yang sepi. Anastasia berjalan tergesa-gesa di trotoar yang basah, jaket tipisnya tidak banyak membantu.Jam menunjukkan pukul sebelas malam lewat lima belas menit. Terlambat. Lagi-lagi ia terlambat pulang ke apartemen kecil yang ia sewa sendiri, jauh dari ayah, ib

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status