Masuk
Hujan deras mengguyur jalanan kota yang sepi. Anastasia berjalan tergesa-gesa di trotoar yang basah, jaket tipisnya tidak banyak membantu.
Jam menunjukkan pukul sebelas malam lewat lima belas menit. Terlambat. Lagi-lagi ia terlambat pulang ke apartemen kecil yang ia sewa sendiri, jauh dari ayah, ibu, dan adiknya yang kini tinggal terpisah-pisah sejak rumah tangga itu runtuh. Tapi setidaknya, hari ini ia berhasil menamatkan novel favoritnya. "Ketika Bunga Musim Semi Layu"—cerita tentang Kaisar Arlos yang dingin dan kejam, yang jatuh cinta pada gadis berambut perak bernama Amara. Yang membuat Anastasia marah adalah bagaimana kaisar itu membunuh istri dan anak-anaknya sendiri—istri yang kebetulan juga bernama Anastasia—hanya karena sang istri mencoba membunuh Amara karena cemburu. "Dasar kaisar brengsek," gerutunya sambil membuka aplikasi novel di ponselnya, membaca ulang chapter terakhir sambil berjalan. Ia terlalu fokus pada layar hingga tidak menyadari langkah kaki di belakangnya. "Hei!" Seseorang menarik tasnya dari belakang. Anastasia mencengkeram tali tas dengan erat. "Lepaskan!" Pencuri itu menarik lebih kuat. Anastasia terhuyung, kakinya tergelincir di trotoar yang basah. Lalu ia melihat kilatan logam. Pisau. Rasa sakit yang tajam menembus perutnya. Tas dan ponselnya terlepas. Tubuhnya ambruk ke trotoar yang dingin. Anastasia menatap langit malam yang gelap, hujan membasahi wajahnya. Di layar ponsel yang tergeletak tidak jauh darinya, ia masih bisa melihat ilustrasi Kaisar Arlos—mata merah menyala, rambut hitam legam, tatapan dingin yang menusuk. Ah... bodohnya aku. Bahkan di saat-saat terakhir, aku masih memikirkan novel itu. Kesadarannya kabur. Dingin. Sangat dingin. Tapi entah kenapa, terasa seperti ada tangan hangat yang menariknya—dan suara yang memanggil namanya dari tempat yang sangat jauh. "Anastasia... Anastasia...." Lalu... kegelapan menelannya. ☆☆☆ Panas. Itu yang pertama kali Anastasia rasakan saat kesadarannya mulai kembali. Bukan dingin seperti yang ia harapkan dari kematian, tapi panas yang membakar. Dan ada sesuatu yang bergerak di dalam tubuhnya—sesuatu yang keras, besar, dan bergerak dengan ritme yang brutal. Matanya terbuka lebar. Napasnya tersengal. Pandangannya kabur, tapi ia bisa merasakan—ada seseorang di atasnya. Seseorang yang besar, berat, dan bergerak dengan cara yang membuatnya ingin berteriak. "Lepas—" suaranya serak, nyaris tidak keluar. "Sakit... hentikan...." Ruangan di sekelilingnya remang-remang, hanya diterangi cahaya bulan. Tapi cukup terang untuk melihat sosok pria di atasnya—pria dengan tubuh tinggi besar, bahu yang lebar seperti tembok, dada bidang yang berkilau karena keringat. Rambut hitam legam yang jatuh menutupi sebagian wajahnya. Dan sepasang mata— Mata merah yang menyala dalam kegelapan. Mata yang sangat Anastasia kenali. "Tidak... tidak mungkin..." Kaisar Arlos. Pria itu menatapnya dengan tatapan datar, tanpa emosi, seolah Anastasia hanyalah benda mati di bawahnya. Tangannya yang besar mencengkeram pinggang Anastasia, menariknya lebih dekat, lebih dalam. Anastasia memekik, air mata mengalir di pipinya. Ia mencoba mendorong dada bidang itu, tapi lengannya terlalu lemah. "Kumohon... hentikan…." lirihnya, suaranya hancur antara isak tangis dan erangan kesakitan. Tapi Arlos tidak berhenti. Gerakannya tetap brutal, kasar, tanpa belas kasihan. Anastasia memutar kepalanya. Pandangannya jatuh pada ruangan di sekelilingnya—ranjang besar dengan kelambu mewah, langit-langit tinggi dengan ukiran rumit, tirai sutra yang berkibar tertiup angin malam. Ini... ini ruangan kerajaan. Deg! Memori yang bukan miliknya tiba-tiba menyerbu pikirannya seperti banjir bandang. Gadis kecil bernama Anastasia menangis di pelukan ibunya yang sekarat—lalu ibunya meninggal, dan semuanya berubah. Ayahnya, Raja Silvestra, tidak pernah lagi menatapnya dengan kasih sayang. Kakak-kakaknya memperlakukannya seperti hantu. "Ibu meninggal karenamu! Seharusnya kau yang mati!" Ia tumbuh dalam kesendirian, diabaikan, dibenci keluarganya sendiri. Hingga datanglah Kaisar Arlos dengan pasukannya, menaklukkan Silvestra dalam hitungan jam. Ayahnya berlutut, memohon belas kasihan—dan menyerahkan Anastasia begitu saja saat kaisar itu memintanya. Malam demi malam sesudah itu, Arlos memperlakukannya seperti boneka. Tidak ada kehangatan, tidak ada kelembutan. Hanya kegelapan dan rasa sakit—hingga gadis yang awalnya lembut itu perlahan berubah menjadi kejam dan menakutkan. Lalu Amara datang. Gadis berambut perak yang mencuri perhatian kaisar. Dan Anastasia yang semakin terpuruk akhirnya mencoba membunuhnya—hingga ia sendiri dibunuh bersama anak-anaknya oleh Arlos. "Tidak...." Anastasia—yang asli, yang datang dari dunia modern—menangis keras. Ia mengerti sekarang. Ia telah masuk ke dalam novel "Ketika Bunga Musim Semi Layu". Ia telah menjadi Anastasia, istri malang yang akan dibunuh dengan kejam di masa depan. "Aku tidak mau... aku ingin pulang... kumohon, biarkan aku pulang…." Suaranya membuat Arlos sedikit mendongak. Mata merah itu menatapnya sekilas—tapi tidak ada empati di sana. Hanya kekosongan yang mengerikan. Lalu pria itu kembali bergerak, lebih cepat, lebih brutal. Tangannya mencengkeram dagu Anastasia, memaksanya menatap wajahnya saat ia menciumnya—ciuman yang kasar, menuntut, mencekik. Anastasia tidak bisa bernapas. Ia merasa seperti tenggelam. Dan akhirnya, kegelapan kembali menelannya. Tapi kali ini, bukan kematian yang menjemputnya. Hanya kepasrahan yang menyakitkan.Empat minggu berlalu. Perut Anastasia mulai membuncit sedikit—masih tidak terlalu terlihat dengan gaun longgar, tapi ia bisa merasakannya. Ada kehidupan yang tumbuh di sana, bergantung padanya sepenuhnya. Rasa mualnya mulai berkurang, tapi digantikan dengan kelelahan yang luar biasa. Ia tidur lebih banyak, sering tertidur di tengah hari dengan pelayan yang berjaga-jaga di sampingnya. Dan pada minggu kelima, sesuatu terjadi. Anastasia sedang berjalan pelan di kamarnya—tabib menyarankan agar ia tetap bergerak ringan untuk menjaga kesehatan—ketika ia merasakan kram tajam di perutnya. Ia meringis, tangannya refleks memegang perut. Kramnya hilang setelah beberapa detik. Mungkin hanya kram biasa, pikir Anastasia. Tapi lima menit kemudian, kram itu datang lagi. Lebih kuat kali ini. “Yang Mulia?” salah satu pelayan mendekat dengan cemas. “Anda baik-baik saja?” “Aku...” Anastasia terengah
Pagi datang dengan mual yang hebat. Anastasia nyaris tidak sampai ke kamar mandi sebelum ia muntah.Perutnya kosong tapi tubuhnya tetap memberontak, membuatnya muntah asam lambung yang membakar tenggorokannya.“Yang Mulia!” Margareth berlari masuk, mendengar suara Anastasia yang terengah-engah. Ia menopang tubuh Anastasia yang limbung, membantunya duduk di lantai kamar mandi yang dingin.“Aku... aku tidak kuat,” Anastasia berbisik lemah.“Rasanya seperti... seperti aku sekarat….”“Ini normal, Yang Mulia,” Margareth mengusap punggung Anastasia dengan lembut.“Mual di awal kehamilan adalah hal yang wajar. Ini akan mereda setelah beberapa minggu.”Beberapa minggu. Anastasia tidak yakin ia bisa bertahan selama itu.Para pelayan membantu Anastasia kembali ke ranjang. Mereka membawakan teh jahe hangat dan biskuit kering—makanan yang katanya bisa membantu mual.Anastasia menyeruput tehnya dengan hati-hati, mer
Pagi hari tiba dengan cahaya yang terlalu terang untuk mata Anastasia yang bengkak. Ia bangun dengan tubuh yang masih gemetar dari emosi semalam. Keputusannya untuk bertahan hidup masih segar di pikirannya—sebuah tekad rapuh yang ia pegang erat-erat.Margareth masuk membawa nampan sarapan seperti biasa, tapi kali ini ekspresinya lebih cemas dari hari-hari sebelumnya.“Yang Mulia, ada berita,” ucapnya pelan setelah membantu Anastasia duduk.“Kaisar... Yang Mulia Kaisar akan datang malam ini.”Jantung Anastasia berdegup kencang. Setelah tiga hari tidak ada kabar, Arlos akhirnya akan datang. Dan Anastasia tahu persis apa artinya itu.“Apa dia... apa dia bilang sesuatu tentang kehamilanku?” tanya Anastasia dengan suara kecil.Margareth menggeleng pelan.“Tidak ada. Kaisar hanya memerintahkan kami untuk mempersiapkan Yang Mulia seperti biasa.”Seperti biasa. Seolah kehamilan Anastasia tidak berarti apa-apa.Anastasia menyentuh perutnya yang masih rata. Di dalam sana, kehidupan kecil sedang
“Panggil tabib,” Margareth memerintahkan pelayan lain dengan nada mendesak. “Sekarang!”Tabib istana—seorang pria tua dengan jenggot putih panjang—datang tidak lama kemudian. Ia memeriksa Anastasia dengan teliti, memegang pergelangan tangannya, melihat matanya, menanyakan berbagai gejala.Dan akhirnya, ia mengangguk dengan ekspresi serius.“Yang Mulia Selir Anastasia,” ucapnya formal.“Anda sedang mengandung.”Dunia Anastasia runtuh untuk kedua kalinya.Hamil.Ia hamil dengan anak Kaisar Arlos.Anak yang menurut novel akan ia lahirkan, akan ia besarkan dalam kesepian, dan akan dibunuh dengan kejam bersama dirinya.Anastasia merasakan dadanya sesak. Ia tidak bisa bernapas. Kamar berputar di sekelilingnya.“Yang Mulia!” Margareth menangkap tubuhnya yang limbung.“Tabib, tolong!”Tapi Anastasia sudah tidak mendengar apa-apa. Kegelapan menelannya, membawanya ke dalam kehampaan yang menyediakan pelarian sementara dari kenyataan yang kejam.Anastasia tersadar di ranjangnya, dengan kompres d
Malam semakin larut. Para pelayan mulai menyalakan lilin-lilin di kamar, menciptakan cahaya yang hangat tapi tidak cukup untuk mengusir dinginnya perasaan Anastasia.Lalu pintu kamar terbuka.Tidak ada yang mengetuk.Tidak ada pengumuman.Tapi Anastasia langsung tahu siapa yang datang.Hanya ada satu orang yang bisa masuk ke kamarnya tanpa izin.Kaisar.Semua pelayan langsung berlutut, kepala menunduk dalam. Margareth memberi isyarat cepat kepada yang lain untuk segera keluar, dan dalam sekejap, kamar yang tadinya ramai menjadi sepi. Hanya tersisa Anastasia dan monster berkulit manusia itu.Anastasia duduk di tepi ranjang, tubuhnya kaku. Ia tidak berani menatap. Ia bisa merasakan aura mencekam yang memancar dari sosok tinggi besar yang berdiri di dekat pintu.Arlos menutup pintu dengan pelan—bunyi klik kunci yang terdengar seperti vonis mati di telinga Anastasia.Langkah kakinya berat saat ia melangkah mendekat. Satu langkah. Dua langkah. Tiga langkah. Lalu ia berhenti tepat di hadapa
Setelah mandi, para pelayan membantu Anastasia berpakaian dan menata rambutnya. Mereka memilihkan gaun sutra berwarna putih dengan bordir emas yang elegan—pakaian yang pantas untuk selir kaisar.Anastasia duduk di depan meja rias, menatap pantulan dirinya di cermin dengan tatapan kosong. Wajah cantik itu terasa asing. Ini bukan wajahnya. Ini bukan hidupnya.“Yang Mulia, Anda harus makan.” Margareth meletakkan nampan berisi sarapan mewah di meja. Ada roti segar, buah-buahan manis, sup ayam hangat, dan teh herbal.Anastasia menatap makanan itu tanpa nafsu makan. Perutnya terasa mual. Tapi ia tahu ia harus makan—tubuh ini terlalu lemah, ia perlu kekuatan.Dengan tangan gemetar, ia mengambil sepotong roti dan menggigitnya. Rasanya hambar di lidahnya meski seharusnya lezat. Ia makan secara mekanis, seperti robot, tanpa merasakan apapun.Para pelayan mengamatinya dengan khawatir. Ini sangat tidak biasa. Anastasia biasanya akan marah karena makanannya tidak sesuai selera, atau akan membuang







