Chapter: Chapter 77: Hari-Hari Yang DamaiBulan-bulan setelah pernikahan adalah periode kebahagiaan yang belum pernah dialami istana dalam generasi.Anastasia—sekarang secara resmi Permaisuri—bersinar dalam perannya. Dia tidak hanya ibu yang mencintai, tapi juga pemimpin yang bijaksana. Rakyat mencintainya—bukan karena kecantikannya atau statusnya, tapi karena kebaikannya yang tulus.Setiap minggu, dia membuka istana untuk rakyat biasa. Mendengarkan keluhan mereka, membantu memecahkan masalah mereka, bahkan kadang turun ke kota untuk mengunjungi rumah sakit dan panti asuhan.“Permaisuri kita adalah anugerah dari para dewa,” orangorang akan berbisik dengan kagum. “Lihat bagaimana dia memperlakukan bahkan orang paling miskin dengan rasa hormat.”Dan Arlos—dia menonton istrinya dengan kebanggaan yang tidak bisa disembunyikan. Dalam pertemuan dewan, dia akan meminta pendapat Anastasia, mengakui kebijaksanaannya di hadapan bangsawan yang dulunya meremehkannya.“Permaisuriku memiliki h
Last Updated: 2026-06-22
Chapter: Chapter 76: Janji SuciKatedral Kekaisaran berdiri megah di jantung ibukota, dengan kubah emas yang berkilau di bawah matahari sore. Ribuan orang memenuhi jalanan—bangsawan, rakyat biasa, pedagang, petani—semua datang untuk menyaksikan peristiwa yang akan dikenang sepanjang sejarah.Pernikahan Kaisar Arlos dengan Permaisuri Anastasia.Di dalam katedral, ribuan lilin menyala, menciptakan cahaya hangat yang berkilauan pada dinding marmer putih. Bungabunga dari seluruh kekaisaran menghiasi setiap sudut—mawar merah dan putih, lily emas, bunga-bunga langka yang hanya mekar sekali dalam dekade.Dan di altar—Arlos berdiri menunggu.Dia mengenakan jubah kekaisaran formal yang paling mewah—hitam dengan bordir emas dan merah, mahkota besar di kepalanya, pedang upacara di pinggangnya. Tapi yang paling mencolok bukan keagungannya—Tapi ekspresi di wajahnya.Mata merah yang biasanya dingin kini bersinar dengan antisipasi. Wajahnya yang biasanya keras kini dilunakka
Last Updated: 2026-06-21
Chapter: Chapter 75: Untuk Semua Hari yang Hampir HilangMinggu-minggu berikutnya adalah periode pemulihan dan perayaan.Anastasia—yang sekarang benar-benar sehat—harus belajar kembali hidup tanpa rasa sakit konstan. Belajar kembali berjalan tanpa gemetar. Belajar kembali melakukan hal-hal sederhana yang sebelumnya mustahil.Dan itu adalah kebahagiaan yang luar biasa.Pagi pertama dia bangun dan bisa berdiri sendiri—tanpa bantuan—dia menangis dengan kebahagiaan. Arlos menemukannya berdiri di balkon, menatap matahari terbit, air mata mengalir di pipinya."Apa yang salah?" dia panik, langsung ke sisinya."Tidak ada yang salah.” Anastasia tertawa sambil menangis."Semuanya benar—aku bisa berdiri—aku bisa merasakan angin di kulitku tanpa sakit—aku bisa bernapas tanpa terengah-engah—Arlos—ini adalah keajaiban—"Dan Arlos memeluknya dari belakang, wajahnya terkubur di rambutnya, berterima kasih pada setiap dewa yang mungkin mendengar karena memberikan ini padanya.Lucian sa
Last Updated: 2026-06-20
Chapter: Chapter 74: Keajaiban"KAU LULUS," Phoenix berkata dengan suara yang sekarang terdengar nyaris—lembut? "KAU LULUS UJIAN KETIGA.KARENA KAU MEMILIH KEBAHAGIAANNYA DIATAS KEBAHAGIAANMU SENDIRI. ITU ADALAH CINTA YANG SEJATI.""Tapi—apa maksudmu—""ITU ADALAH UJIAN," Phoenix menjelaskan. "UNTUKMELIHAT APAKAH CINTAMU MURNI. APAKAH KAUMENCINTAINYA UNTUK DIRINYA SENDIRI—ATAU UNTUK APA YANG BISA DIA BERIKAN PADAMU."Makhluk itu mengepakkan sayapnya, dan bulu emas jatuh— berubah menjadi vial kecil berisi cairan yang bersinar seperti matahari cair."INI ADALAH DARAHKU. BERIKAN PADANYA. DAN DIA AKAN SEMBUH—SEPENUHNYA. TANPA HARGA.TANPA KEHILANGAN INGATAN. KARENA KAU— MANUSIA—TELAH MEMBUKTIKAN BAHWA CINTAMU LAYAK UNTUK KEAJAIBAN."Arlos mengambil vial dengan tangan yang gemetar. "Terima kasih—terima kasih—""JANGAN BERTERIMA KASIH PADAKU." Phoenix menatapnya dengan mata yang bijaksana. "CINTAILAH DIA.SETIAP HARI. SEPERTI HARI TERAKHIR. KARENAHIDUP—BAHKAN YANG DIPERPANJANG—TETAP TERBATAS. JANGAN SIA-SIAKAN SEDETI
Last Updated: 2026-06-20
Chapter: Chapter 73: Penghakiman Sang PhoniexUJIAN KEDUA: KEBERANIANDunia berubah lagi.Kali ini—Arlos berdiri di kegelapan total. Tidak ada cahaya. Tidak ada suara. Hanya kegelapan yang mencekik.Lalu—bisikan-bisikan mulai. Suara-suara yang mengerikan."Kau akan gagal.""Dia akan mati dan itu salahmu.""Anak-anakmu akan membencimu karena tidak bisa menyelamatkan ibunya."Dan ketakutan—ketakutan yang paling dalam, yang paling gelap—mulai muncul sebagai visual di kegelapan.Anastasia terbaring mati di ranjang, mata kosong menatap ke atas. Lucian dan Sera menangis di sampingnya, memanggil ibu yang tidak akan pernah menjawab lagi.Dan Arlos—sendirian. Selamanya sendirian. Hidup dengan penyesalan, dengan rasa sakit yang tidak akan pernah sembuh."Tidak," Arlos berbisik—tapi suaranya bergetar. Ini adalah ketakutan terbesarnya. Mimpi buruk yang menghantuinya setiap malam."HADAPI KETAKUTANMU," Phoenix memerintahkan. "ATAU LARI."
Last Updated: 2026-06-18
Chapter: Chapter 72: Ujian Sang PhoenixPerjalanan ke Gunung Api Tertinggi memakan waktu sepuluh hari.Sepuluh hari melewati hutan yang gelap, lembah yang berbahaya, dan akhirnya—salju yang tidak pernah mencair bahkan di musim panas.Arlos tidak berhenti kecuali saat kudanya perlu istirahat. Dia tidak tidur—hanya meditasi singkat untuk memulihkan energi. Tidak makan—hanya roti kering dan air.Setiap menit yang terbuang adalah menit yang Anastasia semakin dekat dengan kematian.Akhirnya, dia tiba di kaki gunung—gunung yang begitu tinggi hingga puncaknya hilang dalam awan.Dan di sana—berdiri seolah menunggu—ada altar batu kuno dengan tulisan dalam bahasa yang hampir terlupakan.Tapi Arlos—yang telah mempelajari bahasa kuno sebagai bagian dari pendidikan kekaisarannya—bisa membacanya:"Mereka yang mencari darah Phoenix harus membuktikan tiga hal: Kekuatan untuk melindungi yang dicintai. Keberanian untuk menghadapi yang paling ditakuti. Cinta yang murni, yang tid
Last Updated: 2026-06-17