ログインPerjalanan ke Gunung Api Tertinggi memakan waktu sepuluh hari.
Sepuluh hari melewati hutan yang gelap, lembah yang berbahaya, dan akhirnya—salju yang tidak pernah mencair bahkan di musim panas.Arlos tidak berhenti kecuali saat kudanya perlu istirahat. Dia tidak tidur—hanya meditasi singkat untuk memulihkan energi. Tidak makan—hanya roti kering dan air.Setiap menit yang terbuang adalah menit yang Anastasia semakin dekat dengan kematian.Akhirnya, dia tiba"KAU LULUS," Phoenix berkata dengan suara yang sekarang terdengar nyaris—lembut? "KAU LULUS UJIAN KETIGA.KARENA KAU MEMILIH KEBAHAGIAANNYA DIATAS KEBAHAGIAANMU SENDIRI. ITU ADALAH CINTA YANG SEJATI.""Tapi—apa maksudmu—""ITU ADALAH UJIAN," Phoenix menjelaskan. "UNTUKMELIHAT APAKAH CINTAMU MURNI. APAKAH KAUMENCINTAINYA UNTUK DIRINYA SENDIRI—ATAU UNTUK APA YANG BISA DIA BERIKAN PADAMU."Makhluk itu mengepakkan sayapnya, dan bulu emas jatuh— berubah menjadi vial kecil berisi cairan yang bersinar seperti matahari cair."INI ADALAH DARAHKU. BERIKAN PADANYA. DAN DIA AKAN SEMBUH—SEPENUHNYA. TANPA HARGA.TANPA KEHILANGAN INGATAN. KARENA KAU— MANUSIA—TELAH MEMBUKTIKAN BAHWA CINTAMU LAYAK UNTUK KEAJAIBAN."Arlos mengambil vial dengan tangan yang gemetar. "Terima kasih—terima kasih—""JANGAN BERTERIMA KASIH PADAKU." Phoenix menatapnya dengan mata yang bijaksana. "CINTAILAH DIA.SETIAP HARI. SEPERTI HARI TERAKHIR. KARENAHIDUP—BAHKAN YANG DIPERPANJANG—TETAP TERBATAS. JANGAN SIA-SIAKAN SEDETI
UJIAN KEDUA: KEBERANIANDunia berubah lagi.Kali ini—Arlos berdiri di kegelapan total. Tidak ada cahaya. Tidak ada suara. Hanya kegelapan yang mencekik.Lalu—bisikan-bisikan mulai. Suara-suara yang mengerikan."Kau akan gagal.""Dia akan mati dan itu salahmu.""Anak-anakmu akan membencimu karena tidak bisa menyelamatkan ibunya."Dan ketakutan—ketakutan yang paling dalam, yang paling gelap—mulai muncul sebagai visual di kegelapan.Anastasia terbaring mati di ranjang, mata kosong menatap ke atas. Lucian dan Sera menangis di sampingnya, memanggil ibu yang tidak akan pernah menjawab lagi.Dan Arlos—sendirian. Selamanya sendirian. Hidup dengan penyesalan, dengan rasa sakit yang tidak akan pernah sembuh."Tidak," Arlos berbisik—tapi suaranya bergetar. Ini adalah ketakutan terbesarnya. Mimpi buruk yang menghantuinya setiap malam."HADAPI KETAKUTANMU," Phoenix memerintahkan. "ATAU LARI."
Perjalanan ke Gunung Api Tertinggi memakan waktu sepuluh hari.Sepuluh hari melewati hutan yang gelap, lembah yang berbahaya, dan akhirnya—salju yang tidak pernah mencair bahkan di musim panas.Arlos tidak berhenti kecuali saat kudanya perlu istirahat. Dia tidak tidur—hanya meditasi singkat untuk memulihkan energi. Tidak makan—hanya roti kering dan air.Setiap menit yang terbuang adalah menit yang Anastasia semakin dekat dengan kematian.Akhirnya, dia tiba di kaki gunung—gunung yang begitu tinggi hingga puncaknya hilang dalam awan.Dan di sana—berdiri seolah menunggu—ada altar batu kuno dengan tulisan dalam bahasa yang hampir terlupakan.Tapi Arlos—yang telah mempelajari bahasa kuno sebagai bagian dari pendidikan kekaisarannya—bisa membacanya:"Mereka yang mencari darah Phoenix harus membuktikan tiga hal: Kekuatan untuk melindungi yang dicintai. Keberanian untuk menghadapi yang paling ditakuti. Cinta yang murni, yang tid
"Bukan harta duniawi yang kuinginkan." Aldric menatapnya dengan tatapan yang menembus. Sangat tajam."Tapi sesuatu yang jauh lebih berharga."Dia berhenti di samping ranjang, menatap Anastasia yang tidur dengan napas yang lemah."Ramuan yang bisa menyembuhkannya memerlukan bahan-bahan yang langka. Sangat langka. Beberapa tidak ada lagi di dunia ini.""Tapi?" Arlos mendesak."Tapi ada satu bahan yang masih bisa didapatkan. Darah Phoenix."Keheningan total."Phoenix?" Arlos mengulangi dengan suara yang pelan. "Tapi mereka sudah punah berabad-abad yang lalu—""Tidak sepenuhnya punah." Aldric tersenyum—senyum yang misterius."Masih ada satu. Satu yang terakhir. Tersembunyi di Gunung Api Tertinggi di ujung utara. Tapi—" Dia menatap Arlos dengan serius."Phoenix tidak memberikan darahnya dengan mudah. Kau harus membuktikan dirimu. Melewati ujiannya. Dan jika gagal—kau akan mati."Arlos tidak
Seminggu setelah serangan, kehidupan perlahan kembali normal.Tapi ada perubahan. Arlos menjadi lebih protektif—hampir tidak pernah meninggalkan istana, memastikan ada penjaga berlipat ganda di sekitar sayap keluarga, menambah pelindung sihir hingga tidak ada apapun—bahkan tikus—yang bisa masuk tanpa izin.Dan Anastasia—Anastasia semakin lemah.Serangan malam itu menguras energinya yang sudah minim.Dia hampir tidak bisa bangun dari tempat tidur sekarang. Napasnya pendek. Kulitnya pucat seperti kertas.Yenna dan tabib bekerja tanpa henti—memberikan ramuan, sihir penyembuhan, apapun yang bisa membantu.Tapi semuanya tahu—ini adalah akhir yang mendekat.☆☆☆"Aku butuh lebih banyak waktu," Anastasia berbisik suatu malam, berbaring di ranjang besar dengan Arlos duduk di sampingnya, memegang tangannya."Lucian masih begitu kecil. Sera bahkan belum bisa bicara—aku belum sempat mendengar kata pertamanya—"
"Arlos?"Suara itu—suara yang paling dia cintai—membuat dia berbalik dengan cepat.Anastasia berdiri di samping ranjang, menggendong Sera yang menangis, mata biru melebar dengan shock dan— ketakutan?"Anastasia," bisiknya, melangkah ke arahnya—tapi dia berhenti saat melihat dia mundur selangkah.Dia takut padaku. Dia melihat monster yang sebenarnya."Aku—" Suaranya hancur. "Aku harus melakukannya. Mereka akan—mereka akan membunuh kalian—""Aku tahu," Anastasia berbisik. Lalu—mengejutkannya—dia melangkah maju. Satu tangan masih menggendong Sera, tangan yang lain terangkat menyentuh pipinya. "Aku tahu kau melakukannya untuk kami.""Kau tidak takut?" Arlos bertanya dengan suara yang bergetar. "Kau melihat apa yang kulakukan—""Aku melihat suami yang melindungi keluarganya," Anastasia mengoreksi dengan tegas. "Aku melihat ayah yang akan melakukan apapun untuk anak-anaknya. Ya, itu menakutkan. Tapi aku tidak takut P







