Home / Romansa / ANESTESI RINDU / BAB 103 TEBAKAN YANG SALAH

Share

BAB 103 TEBAKAN YANG SALAH

Author: Yoongina
last update publish date: 2026-05-21 08:23:56
Pintu lift terbuka di lantai tiga, suasana sibuk Rumah Sakit Medika langsung menyambut Nathan dan Evelyn. Koridor menuju ruang rapat utama Departemen Bedah tampak dipenuhi oleh beberapa dokter residen yang berjalan tergesa-gesa sambil mendekap map dokumen dan buku catatan.

​Evelyn berjalan di samping Nathan dengan dagu terangkat, merasa percaya diri setelah Nathan berpikir kalau dia adalah tunangan Devan. Sementara Nathan sesekali membalas sapaan perawat yang berpapasan dengan mereka, mencoba
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • ANESTESI RINDU   BAB 134 KEHANGATAN DI KAMAR VVIP (+18)

    Malam ini, Vanya baru saja menyelesaikan tugasnya yang melelahkan di IGD. Tapi, ia tidak langsung pulang, langkah kakinya menuntunnya masuk ke dalam kamar perawatan Devan untuk menemaninya. Saat tiba di depan kamar perawatan Devan, ​Vanya mendorong daun pintu kamar VVIP itu dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan suara. Di dalam kamar, lampu utama telah dipadamkan, membuat seluruh ruangan diselimuti kegelapan. Hanya ada sedikit cahaya dari sinar bulan yang masuk lewat celah gorden kaca jendela kamar. Namun dalam kegelapan, sayup-sayup Vanya bisa melihat tubuh Devan yang bergerak gelisah di atas ranjang dalam tidurnya. ​Khawatir terjadi sesuatu, Vanya melangkah mendekat lalu menyalakan lampu tidur bercahaya temaram di samping ranjang Devan. Begitu semburat cahaya redup itu menyala, Devan seketika tersentak bangun. Napasnya memburu terengah-engah, dengan dada yang naik-turun tak beraturan. ​"Mas, ini aku, Vanya," bisik Vanya lembut. ​Dengan sigap, Vanya meraih segelas a

  • ANESTESI RINDU   BAB 133 KUMPULAN BUKTI

    Kenan meletakkan liontin itu di atas telapak tangan dengan hati-hati. Menggunakan ujung pinset kecil yang ia ambil dari saku kemejanya, Kenan menekan bagian sela engsel liontin yang tersembunyi dengan penuh kehati-hatian.​Klik.​Liontin itu terbuka. Disisi sebelah kanan berisi foto dua orang anak kecil yang sedang duduk di atas ayunan kayu. Anak kecil itu adalah Kenan dan Rossa saat ia masih berusia lima tahun. Kenan terpaku sejenak, menatap wajah ceria Rossa kecil yang membuat mata tajamnya berkaca-kaca.Ia memejamkan mata sejenak, mengusap titik air di sudut matanya. Lalu, ia kembali menekan pinset pada sisi sebelah kiri yang luput dari pantauan Devan dan Vanya ketika pertama kali membuka liontin itu. Keberadaan foto masa kecil Rossa dan Kenan, telah mengalihkan perhatian mereka saat itu.Tanpa diduga, sisi kiri liontin itu kembali terbuka dengan bunyi 'Klik' pelan. Di dalam rongga kecil berbentuk lingkaran itu terselip sebuah kartu MicroSD yang dibalut pelindung plastik tipis agar

  • ANESTESI RINDU   BAB 132 KEBENARAN YANG TERKUNCI

    ​"Bagaimana keadaanmu?" tanya Kenan sambil melangkah mendekat ke ranjang Devan. ​"Sudah lebih baik." ​Kenan menarik kursi di samping tempat tidur. Ia melipat kedua tangan di dada, menatap Devan dengan wajah tenang. "Ternyata kamu sudah benar-benar bisa melupakan perasaanmu pada adikku." ​Devan menghirup udara perlahan untuk meredakan rasa nyeri pada lukanya. "Hidup harus tetap berjalan, bukan?" jawabnya ringan sambil merapikan bantal, mencari posisi bersandar yang nyaman. ​Kenan tertawa kecil. "Pengorbanan ini sungguh luar biasa. Gadis itu dicintai dengan sepenuh hati, bahkan nyawa pun rela kau berikan." ​Devan terdiam. Bayangan kejadian di gudang tua itu kembali mengusik alam sadarnya. Bagaimana Adam melucuti pakaian yang melekat pada tubuh Vanya dan hampir merenggut kesuciannya, juga rasa panas dari dua peluru yang bersarang di punggungnya. Baginya, hukuman seumur hidup di penjara saja rasanya belum cukup untuk menebus dosa pria itu. ​"Dari mana kau tahu aku terluka kare

  • ANESTESI RINDU   BAB 131 BERDAMAI

    "Yang ini bagus kan?" Vanya menyodorkan majalah pernikahan dari vendor yang ditunjuk untuk mempersiapkan pernikahan mereka. Gambar baju pengantin yang Vanya inginkan terpampang jelas di hadapan Devan. Laki-laki itu melirik sambil menikmati buah potong di tangannya. "Bagus, sayang. Tapi yang benar aja, masa aku pakai baju warna ungu terang gitu." Gerutu Devan karena setelah gambar kesepuluh, Vanya masih saja meminta agar baju resepsi mereka harus berwarna Ungu atau Pink. "Warna gold sudah banyak yang pakai, sayang. Aku maunya kita beda." Protes gadis itu sambil membalik majalah di tangannya. Devan menghela nafas panjang sambil bersandar santai di atas tumpukan bantal. Di hari kesepuluh ia di rawat, luka pada punggungnya sudah sedikit membaik. ​"Beda sih beda, tapi kalau aku pakai hot pink, yang ada para perawat dan residen bukannya hormat malah menertawakanku di koridor rumah sakit, Vanya," sahut Devan pasrah, meletakkan tusuk buahnya ke piring kecil. ​Vanya mengerucutkan bib

  • ANESTESI RINDU   BAB 130 TIDAK BOLEH LEPAS LAGI

    Dua puluh empat jam pasca pelepasan pipa napas, efek sisa obat bius benar-benar telah hilang dari tubuh Devan. Hari ini, ia tidak lagi hanya merespons lewat kedipan mata atau remasan tangan. Kesadaran kognitifnya telah pulih sepenuhnya. ​Ketika Vanya sedang membasahi bibir kering Devan dengan kapas yang diberi sedikit air hangat, Devan menggerakkan tangan kanannya perlahan, mencoba menyentuh punggung tangan Vanya. ​"Va... nya..." ​Suara itu akhirnya keluar. Sangat serak, parau, dan nyaris seperti bisikan angin. ​Vanya langsung mendekatkan telinganya ke bibir Devan. "Iya, Mas? Ada yang sakit? Dada Mas sesak?" tanya Vanya cemas. ​Devan menggeleng perlahan, sangat tipis. Sepasang mata elangnya kini telah kembali, menatap Vanya dengan kesadaran penuh. "Min... um..." bisiknya susah payah. Vanya bergegas meraih gelas air minum di nakas samping tempat tidur, lalu membantu Devan meminum beberapa tetes air menggunakan sendok kecil secara perlahan sesuai instruksi dr. Dian. Setel

  • ANESTESI RINDU   BAB 129 KESADARAN YANG KEMBALI

    Suara derap langkah kaki Vanya menggema di sepanjang koridor menuju ruang ICU. Informasi yang baru saja disampaikan Nathan membuatnya bergegas, melangkah lebar dengan jantung yang berpacu cepat demi segera menghampiri Devan. Begitu tiba di depan ruang ICU, Vanya perlahan membuka pintu kaca. Pandangannya langsung tertuju pada brankar Devan, tempat dr. Dian sedang melakukan pemeriksaan. ​"Sore, Dok," sapa Vanya sesopan mungkin, meski napasnya masih memburu akibat berlari. ​dr. Dian tersenyum menenangkan, lalu menepuk pelan bahu Vanya. "Syukurlah, dr. Devan sudah melewati masa kritisnya. Kondisi hemodinamik dan ritme jantungnya juga sudah kembali stabil," ujar dokter spesialis bedah jantung itu sambil mengusap lembut bahu Vanya sebelum melangkah keluar ruangan. Vanya mengalihkan pandangannya pada Devan. Di atas bantal, kelopak mata Devan tampak bergetar hebat. Jantung Vanya berdebar kencang menyaksikan perjuangan pria itu. Sudut bibir Devan yang terhalang pipa alat bantu napas be

  • ANESTESI RINDU   BAB 34 HARI PERTUNANGAN

    Acara pertunangan itu digelar di ballroom hotel bintang lima milik keluarga Harrington, sebuah tempat yang tampak seperti istana kristal. Karangan bunga mawar putih setinggi dua meter berjejer di sepanjang koridor, namun bagi Devan, tempat itu terasa seperti ruang tunggu eksekusi mati. ​Devan berd

  • ANESTESI RINDU   BAB 32 PERATURAN KELUARGA

    "Pa! Devan itu sedang sakit. Kenapa malah dikurung di kamarnya!" teriak Aurelia yang tidak bisa menahan amarah saat menerima pesan dari Devan, memintanya untuk datang dan memberitahukan kondisinya saat ini. "Kamu tidak usah ikut campur, Aurel. Papa terpaksa melakukan itu karena adikmu selalu memb

  • ANESTESI RINDU   BAB 30 PILIHAN DEVAN

    Dengan cepat Frans melangkah mendekati putranya yang diam mematung di depan pintu ruang operasi satu. PLAK! Tanpa basa basi, sebuah tamparan keras di pipi Devan membuat semua perawat yang berada di nurse station ruang operasi menutup mulut mereka, terkejut melihat amarah seorang Frans Alaric.

  • ANESTESI RINDU   BAB 29 HARGA SEBUAH NYAWA

    "Apa! Devan tidak datang ke butik?" Wajah murka Frans Alaric memenuhi ruang kerjanya saat asistennya memberi kabar, kalau Devan pergi dari rumah sakit dengan terburu-buru. "Hubungi anak itu! Sekarang!" Sang Asisten segera melaksanakan perintahnya dengan meraih ponsel dan menekan nomor Devan. "

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status