Beranda / Romansa / ANESTESI RINDU / BAB 56 DETAK JANTUNG YANG TAK PERNAH LUPA

Share

BAB 56 DETAK JANTUNG YANG TAK PERNAH LUPA

Penulis: Yoongina
last update Tanggal publikasi: 2026-04-09 16:03:55

Devan terpaku mendengar cerita Kemuning. Matanya memerah, air mata keluar dari kelopak matanya yang terbuka lebar. "Shinta Harrington adalah penjahat yang sebenarnya, dia telah memisahkan Vanya dari orang tua kandungnya." Lirih Devan dengan perasaan terluka.

Kemuning mengusap air matanya setelah mengakhiri cerita panjang 26 tahun silam. " Saya takut, Ny. Shinta akan mencelakai Vanya, dok. Saya yakin, Ny. Shinta tidak akan membiarkan tuan Henry mengetahui kalau Nona Evelyn bukanlah anak kandun
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • ANESTESI RINDU   BAB 57 ANCAMAN DEVAN

    Selamat pagi, dok." Suara perawat yang diminta Devan untuk merawat Vanya, baru saja tiba di apartemen Devan dan langsung menuju kamar utama. Mengejutkan mereka yang sedang terbaring bertumpukan di atas tempat tidur. Devan bergegas berdiri dan merapihkan kemejanya yang kusut karena cengkeraman Vanya. "Pa—pagi," Sahut Devan gugup. Wajah Devan memanas, rona merah menjalar hingga ke telinganya. Ia berdeham berkali-kali, berusaha mengembalikan wibawa dokternya yang sempat runtuh dalam sepersekian detik. Sementara itu, Vanya masih terbaring lemas dengan napas yang mulai berangsur tenang, meski sorot matanya masih menyimpan kebingungan mendalam atas kedekatan yang baru saja terjadi. ​Perawat itu, seorang gadis muda bernama Suster Dila sempat terpaku di ambang pintu. Namun, sebagai seorang tenaga medis yang berpegang teguh pada profesi, dengan cepat menguasai keadaan dan bersikap seolah tidak melihat adegan intim tadi. ​"Maaf, Dok. Saya tadi dipersilakan masuk oleh Ibu Kemuning. Beliau se

  • ANESTESI RINDU   BAB 56 DETAK JANTUNG YANG TAK PERNAH LUPA

    Devan terpaku mendengar cerita Kemuning. Matanya memerah, air mata keluar dari kelopak matanya yang terbuka lebar. "Shinta Harrington adalah penjahat yang sebenarnya, dia telah memisahkan Vanya dari orang tua kandungnya." Lirih Devan dengan perasaan terluka. Kemuning mengusap air matanya setelah mengakhiri cerita panjang 26 tahun silam. " Saya takut, Ny. Shinta akan mencelakai Vanya, dok. Saya yakin, Ny. Shinta tidak akan membiarkan tuan Henry mengetahui kalau Nona Evelyn bukanlah anak kandungnya." Kemarahan yang dingin merayap di sekujur tubuh Devan. Ia mengepalkan tangannya. Kebenaran ini jauh lebih mengerikan dari apa pun yang pernah ia bayangkan. Ternyata, wanita yang selama ini ia panggil "Tante Shinta", wanita yang hampir menjadi ibu mertuanya melalui perjodohan paksa, adalah seorang monster yang tega membuang bayi sahabatnya sendiri demi sebuah status dan kekayaan. ​"Jadi selama ini..." suara Devan bergetar, "Henry Harrington... dia membesarkan anak orang lain yang bahkan t

  • ANESTESI RINDU   BAB 55 26 TAHUN YANG LALU

    FLASHBACK 26 TAHUN LALU "Kamu jangan macam-macam Shinta. Orang tuaku tidak akan mengijinkan aku menikah lagi!" Ucap Henry saat sahabat dekatnya itu meminta untuk dinikahi karena sedang mengandung anak dari kekasihnya yang memilih pergi dan tidak mau bertanggung jawab. "Naomi juga sedang hamil. Tidak mungkin aku mengkhianati istriku." "Tapi kamu tahu ayahku, Hen. Dia seorang dokter bedah yang keras dan kaku. Mungkin karena bergabung dengan militer membuatnya sekeras itu. Aku takut. Apa kamu tidak khawatir denganku dan calon bayiku, Hen." Henry menatap perut Shinta dengan wajah masam. Perut yang masih rata karena baru berusia dua bulan, sama dengan usia kandungan Naomi, Istrinya. "Gugurkan saja!" "Tidak!" Jerit Shinta kencang. "Aku hanya butuh status suami untuk menjaga nama baik keluargaku, Hen. Aku janji tidak akan menuntut apapun. Kamu sahabatku satu-satunya, Naomi juga wanita yang baik dan pengertian. Dia pasti mau mengerti." "Aku tidak—" "Henry. Kita sudah bersahaba

  • ANESTESI RINDU   BAB 54 RAHASIA KEMUNING

    "Maafkan ibu, dr. Devan. Sungguh. Ibu tidak mengenal Shinta Harrington." Jawab Kemuning menatap jemarinya yang bertaut gelisah. "Coba di ingat-ingat lagi bu. Mungkin—" "Benar, dok. Ibu tidak kenal" Devan menghela nafas pendek. "Baiklah. Saya tidak akan memaksa kalau ibu tidak mau cerita. Tapi, tolong ibu pahami. Situasi ini sudah sangat berbahaya untuk ibu dan Vanya." Devan terdiam sejenak, "—saran ibu benar. Ibu dan Vanya harus pindah dari sana untuk sementara waktu. Malam ini juga kita akan menuju apartemen saya di Dago." Ambulans melaju membelah dinginnya udara malam Kota Bandung. Di dalam ambulans hanya ada keheningan, menyisakan suara mesin yang menderu pelan dan bunyi monitor jantung Vanya yang mulai kembali stabil. Devan menyandarkan punggungnya pada dinding ambulans, matanya tak lepas dari wajah pucat Vanya, namun pikirannya tertambat pada raut ketakutan Kemuning yang tampak sangat janggal. ​"Apartemen saya di Dago memiliki sistem keamanan ganda, Bu. Tidak sembarang o

  • ANESTESI RINDU   BAB 53 ORANG SURUHAN

    Suasana di dalam kabin ambulans yang semula hanya diisi bunyi ritme monitor berubah menjadi mencekam. Devan menatap layar ponselnya dengan rahang mengeras, lalu melirik ke spion kecil yang terhubung ke arah jalan raya di belakang mereka. Sebuah mobil SUV hitam dengan lampu redup terus menjaga jarak, membuntuti mereka sejak keluar dari gerbang tol Pasteur. ​"Pak, injak gasnya! Ada yang mengikuti kita!" seru Devan melalui jendela kecil yang menghubungkan ruang medis dengan kemudi. ​Ambulans itu meraung, kecepatannya meningkat drastis menembus kegelapan jalur arah Bandung. Namun, mobil SUV di belakang mereka ikut menambah kecepatan. Tak lama kemudian, mobil itu mulai bermanuver nekat, mencoba memepet bodi ambulans dari sisi kanan, berusaha memaksa sopir ambulans untuk menepi ke bahu jalan. ​"Dokter! Mereka mencoba menabrak kita!" teriak Kemuning histeris sambil berpegangan erat pada brankar Vanya. ​"Tetap tenang, Bu! Pegangi tangan Vanya, jangan biarkan dia terguncang!" Devan menc

  • ANESTESI RINDU   BAB 52 BUKTI KEJAHATAN

    Keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan setelah sentakan listrik kedua. Mata Devan terpaku pada monitor, napasnya tertahan di tenggorokan. Detik demi detik terasa seperti keabadian sampai akhirnya... ​Bip... bip... bip... ​Garis zig-zag yang kacau itu mulai teratur kembali. Meski lemah, irama jantung Vanya kembali muncul di layar. ​"Sinus ritme, Dok! Saturasi mulai naik ke 88%," seru perawat dengan nada lega yang luar biasa. ​Devan melepaskan paddles dari tangannya, bahunya merosot karena beban emosional yang luar biasa. Ia segera memasang masker oksigen baru ke wajah Vanya. Gadis itu tidak sadar sepenuhnya, tetapi napasnya sudah mulai stabil. Namun, Devan menyadari sesuatu yang menyakitkan, mata Vanya bergerak gelisah di balik kelopak yang tertutup, seolah ia terjebak dalam labirin pikirannya sendiri. Trauma ini mungkin telah mengunci memorinya lebih dalam lagi. ​Sambil memantau kondisi Vanya, mata Devan melirik botol infus yang tadi dilemparkan ke baki peralatan. Ia ti

  • ANESTESI RINDU   BAB 47 ASING DIMATAMU

    "Vanya," lirih Devan menatap wajah pucat itu dengan penuh harap mendengar nama yang keluar dari bibir tipis Vanya. Ia berjalan cepat menghampiri, namun Adam menahan tubuh Devan dengan kuat. "Kau tidak dengar? Namaku yang keluar dari mulutnya. Di saat sakit pun hanya aku yang dia ingat!" Dada Dev

  • ANESTESI RINDU   BAB 46 PANGGILAN PERTAMA VANYA

    "Tahu nggak kepala departemen bedah yang baru? benar-benar tampan." "dr. Devan? Kemarin aku mencarinya untuk menandatangani dokumen-dokumen kepindahan, dan itu benar." "Oh, ya? setampan dokter Adam yang baru datang juga?" "Menurutku dr. Devan lebih tampan, dan katanya di rumah sakit sebelumnya

  • ANESTESI RINDU   BAB 45 BATAS KESABARAN

    Devan terpaku. Sejak kemarin, ia memang agak sedikit penasaran, kenapa ibu Kemuning selalu gelisah mendengar nama keluarga Harrington. "Ibu, kenal dengan keluarga Harrington?" Kemuning membelalakan kedua matanya. "Sa—saya—" "Sepertinya memang ibu mengenal keluarga Harrington." potong Devan, ti

  • ANESTESI RINDU   BAB 44 PINDAH RUMAH SAKIT

    Fajar menyingsing dengan warna abu-abu yang suram, seolah turut merasakan kelelahan jiwa dari penghuni kediaman Alaric. Devan terbangun dengan rasa mual yang melilit perutnya. Setiap jengkal kulitnya terasa kotor, kejadian semalam terasa seperti peristiwa yang menyesakkan paru-parunya. Semalam, ​t

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status