LOGINVanya mematung sejenak di depan pintu otomatis ruang bedah. Kalimat dingin Devan barusan seperti peringatan agar ia tidak tenggelam dalam kenangan masa lalu. Ia menarik napas dalam-dalam, memejamkan mata, dan membayangkan sosok Adam perlahan memudar, digantikan oleh gambaran anatomi kantung empedu yang pernah ia pelajari dari tugas yang Devan berikan saat awal kedatangannya di Rumah Sakit ini.
"Fokus, Vanya. Fokus," bisiknya pada diri sendiri. Ia segera melangkah masuk ke area scrub station. Menanggalkan jas putihnya dan mengenakan seragam bedah yang berwarna biru langit dan mengikat rambut panjangnya untuk mengenakan penutup kepala. Dengan gerakan yang sudah terlatih, ia melakukan prosedur cuci tangan bedah. Air mengalir dingin membasahi lengannya, seolah membasuh sisa-sisa sentuhan Adam di pergelangan tangannya tadi. Setelah mengenakan gaun operasi steril dan sarung tangan dengan bantuan perawat, Vanya melangkah masuk ke dalam ruang operasi yang dingin dan terang benderang. Di sana, Devan juga dibantu mengenakan jubah operasinya dan sarung tangan steril oleh dua orang perawat. Vanya terpaku. Ia sangat mengagumi Devan saat diruang operasi. Baginya, Devan terlihat sepuluh kali lebih tampan dengan memakai atribut bedah. Devan melirik kearahnya. Mata elang itu menangkap sosok Vanya yang hanya berdiri diam tak jauh dari tempatnya. "Masih tidak bisa konsentrasi?lebih baik kamu keluar." Suara dingin dan menusuk itu kembali menyapa gendang telinga Vanya. "Ma-maaf, Dok." Vanya bergegas menuju meja operasi diiringi tatapan tajam Devan. Tak lama, Devan sudah berdiri di samping kiri Vanya. Menatap pasien yang sudah terlelap damai berkat bantuan dokter anastesi. Lampu bedah besar di atasnya memberikan pencahayaan yang sangat tajam. Monitor laparoskopi di sisi ruangan menunjukkan sinyal vital pasien yang stabil. "Posisi asisten satu, dr. Vanya," suara Devan terdengar berat di balik masker bedahnya. Matanya yang tajam berpaling dari pasien menatap Vanya, "Pegang kamera. Pastikan visualisasi tetap jernih. Kalau lensa buram karena uap atau darah, segera bersihkan. Aku tidak ingin kehilangan arah karena asisten yang melamun." "Siap, Dok," jawab Vanya tegas, ingin meyakinkan Devan kalau dia sudah baik-baik saja. Operasi dimulai. Devan melakukan sayatan kecil di daerah pusar untuk memasukkan alat medis dan Veteriner berbentuk pena dengan ujung tajam, untuk membuat lubang agar Vanya bisa memasukkan alat bedah minimal invasif bernama Laparoscop yang berbentuk tabung panjang dan tipis berdiameter 3-12 mm, dilengkapi kamera dan lampu di ujungnya, ke rongga perut. Vanya dengan sigap memasukkan laparoskop ke dalam rongga perut pasien. Di layar monitor, organ dalam pasien terpampang jelas. "Naikkan sedikit. Arahkan ke lobus kanan hati," instruksi Devan. Tangan Vanya stabil. Meski jantungnya sempat berdebar karena tekanan di ruangan itu, ia berhasil menjaga kamera tetap tenang. Devan mulai melakukan robekan pada lapisan dalam dinding aorta pada jaringan di sekitar sistikus, yaitu saluran kecil yang menghubungkan kantong empedu dengan saluran empedu utama hati. Suasana menjadi sangat hening, hanya terdengar suara nada pola berulang dari mesin anestesi. Ketegangan meningkat saat Devan mulai memisahkan arteri sistikus. Ini adalah tahap krusial, salah sedikit saja, perdarahan hebat bisa terjadi. "Vanya, tarik kantung empedunya ke arah kranial. Aku perlu melihat Calot’s triangle," perintah Devan tanpa mengalihkan pandangan dari monitor. Vanya menggunakan alat untuk menjepit fundus kantung empedu dan menariknya dengan tekanan yang pas. Tidak terlalu lemah hingga menghalangi pandangan, dan tidak terlalu kuat hingga merobek jaringan. "Bagus. Tahan di situ," gumam Devan. Ada nada kepuasan yang sangat tipis dalam suaranya. Selama dua jam berikutnya, Vanya seolah menari mengikuti ritme kerja Devan. Ia seakan bisa membaca gerakan tangan Devan sebelum sang dokter menginstruksikannya. Saat Devan membutuhkan klip untuk pembuluh darah, Vanya sudah memosisikan kamera di sudut terbaik. Saat Devan membutuhkan irigasi, Vanya sudah siap dengan alat pengisap. Evelyn, yang ternyata masuk sebagai asisten observasi di sudut ruangan, hanya bisa terdiam melihat kekompakan itu. Ia yang berharap Vanya melakukan kesalahan fatal justru harus menyaksikan betapa Vanya sangat menguasai medan operasi hari ini. Setelah kantung empedu berhasil dipisahkan dan dimasukkan ke dalam kantung endobag untuk dikeluarkan, Devan melakukan pengecekan terakhir pada area bedah untuk memastikan tidak ada kebocoran empedu atau perdarahan. "Operasi selesai. dr. Vanya, lakukan penutupan." ujar Devan akhirnya. Ia mundur satu langkah dari meja operasi, melepaskan ketegangan dari bahunya. Vanya mengembuskan napas lega yang panjang. Keringat tipis tampak di dahinya, namun matanya tetap fokus saat melakukan jahitan untuk menutup sayatan sesuai perintah Devan. Sambil melepas sarung tangan sterilnya, Devan berjalan mendekati Vanya yang tengah membantu perawat merapikan peralatan. Devan berdiri cukup dekat, membuat Vanya mendongak. "Laporanmu kemarin tentang hemodinamik... kamu mempraktikkannya dengan baik hari ini. Kamu menjaga tekanan intra abdomen dengan sangat stabil melalui kontrol kamera," ucap Devan datar, namun kali ini matanya tidak sedingin biasanya. "Pertahankan itu." Vanya menahan napas. "Baik, dok." Ia tersenyum manis dibalik maskernya, mendengar pujian dari Devan yang tidak pernah ia dengar selama tiga bulan bertugas di sini. "Satu lagi. Tidak ada alasan yang cukup kuat untuk membuatmu kehilangan kualifikasi sebagai residen bedah. Jangan biarkan masalah pribadi merusak masa depan yang sudah kamu bangun dengan susah payah di meja operasi ini." Tanpa menunggu balasan, Devan berbalik dan melangkah keluar menuju ruang ganti, meninggalkan Vanya yang mematung dengan perasaan campur aduk. Bukan hanya rasa bangga karena pujiannya, tapi juga kesadaran bahwa Devan ternyata memperhatikannya lebih jauh dari sekadar urusan medis. Vanya menoleh ke arah pintu, di mana Evelyn masih berdiri menatapnya dengan api kecemburuan yang semakin menyala. Vanya hanya bisa menarik sudut bibirnya tipis saat matanya beradu dengan Evelyn. Ada rasa puas yang meletup di dadanya, tapi dia memilih untuk tidak membalas tatapan sinis itu dengan kata-kata. Baginya, hasil kerjanya tadi sudah cukup menjadi jawaban. Vanya segera menyelesaikan tugasnya dan bergegas menuju scrub station untuk mencuci tangan terakhir kali sebelum melepas seragam bedahnya. Saat ia melangkah keluar menuju ruang ganti, langkahnya terhenti karena Evelyn sudah mencegatnya di lorong yang agak sepi. "Jangan besar kepala dulu, Vanya," cetus Evelyn dengan nada ketus. "Dokter Devan cuma lagi mood baik aja makanya muji kamu. Jangan pikir satu operasi ini bikin posisi kamu aman di mata dia." Vanya menghela napas pendek. Dia benar-benar lelah, baik secara fisik maupun mental, untuk meladeni drama persaingan ini. "Aku nggak pernah merasa posisiku aman, Eve. Tapi setidaknya, tadi aku fokus ke pasien, bukan fokus nungguin orang lain buat salah." Kalimat kalem tapi menohok itu membuat wajah Evelyn memerah. Sebelum ia sempat membalas, Vanya sudah melengos masuk ke ruang ganti. Di dalam, Vanya duduk sebentar di bangku panjang. Ucapan Devan tadi kembali terngiang. “Jangan biarkan masalah pribadi merusak masa depanmu.” Kata-kata itu terasa seperti tamparan sekaligus pelukan hangat. Vanya yakin, kalau Devan telah melihat dan mungkin mendengar obrolannya dengan Adam. Tapi dimana dia berdiri?aku tidak melihatnya di kafetaria tadi?pikir Vanya bingung. Vanya mengusap wajahnya menghilangkan pertanyaan dirinya sendiri yang tidak bisa ia jawab. Setelah berganti pakaian kembali ke jas putihnya, Vanya berjalan menuju kafetaria rumah sakit. Dia benar-benar butuh kafein. Namun, saat melewati taman kecil di dekat lobi, ia melihat sosok yang paling ingin ia hindari hari ini.Adam masih ada di sana.
Suasana di koridor depan ruang bersalin VIP RS Medika Center siang itu benar-benar menguji ketahanan mental siapa pun yang lewat. Di dalam ruangan, singa betina yang telah lama tidur kini resmi terbangun kembali demi menyambut kelahiran anak keduanya. Sherin yang kini sudah berusia empat tahun duduk manis di kursi tunggu koridor, mengenakan gaun merah muda yang mengembang. Di sebelah kanan dan kirinya, Om Bram dan Om Nathan bertindak sebagai pengawal pribadi sekaligus sasaran empuk pertanyaan kritis sang bocah. "Om Nathan, kenapa Mommy teriak-teriak panggil Daddy di dalam? Mommy lagi berantem ya sama Daddy?" tanya Sherin polos, mendongak menatap Nathan dengan mata bulatnya yang jernih. Nathan meringis, meraba kepalanya sendiri seolah bisa merasakan trauma rambut dijambak saat Dila melahirkan anak pertama mereka. "Enggak, Sherin... Mommy lagi berjuang ngeluarin adik laki-laki buat Sherin. Nah, Daddy di dalam tugasnya jadi... sasaran Mommy." Bram yang duduk di sebelah mereka
Ruang kerja Kepala Departemen Bedah RS Medika Center yang biasanya rapi dan hanya dipenuhi dokumen medis, siang ini mendadak berubah fungsi menjadi zona bermain anak. Di atas karpet bulu tebal yang sengaja digelar di dekat meja kerja Devan, seorang balita perempuan berpipi gembul dengan kuncir dua berbentuk air mancur sedang duduk dengan tenang. Namanya Sherina Alaric, atau yang akrab dipanggil Sherin. Bocah berusia dua tahun itu kini sedang sibuk menyusun balok-balok mainan, sama sekali tidak mempedulikan dua dokter spesialis di hadapannya yang sudah tampak seperti rongsokan bernyawa. "Nath... tolonglah, Nath. Gantian," bisik Bram dengan suara serak, nyaris menyembah di depan Nathan. Jas dokter Bram sudah kusut tak berbentuk, kancing paling atasnya lepas, dan stetoskopnya kini justru terkalung pasrah di leher sebuah boneka beruang besar milik Sherin. "Nggak bisa, Bram! Perjanjiannya kan jelas. Jam satu sampai jam dua itu shift kamu yang jadi kuda-kudaan!" balas Nathan tak
"Lihat, Mas. Lucu banget, kan? Mirip banget sama kamu," bisik Vanya lembut, menatap lekat bayi laki-laki yang tengah tertidur lelap dalam dekapannya.Devan tersenyum manis. Sepasang mata cokelat madunya menatap penuh haru ke arah makhluk suci itu, lalu dengan sangat hati-hati, ibu jarinya bergerak mengusap lembut pipi sang bayi."Iya, Sayang. Mirip sekali denganku," sahut Devan, suaranya melembut bahagia menyambut kehadiran bayi yang baru saja lahir ke dunia."Malam ini aku akan menjaganya," ucap Devan setengah berbisik, berhati-hati agar tidak membangunkan makhluk menggemaskan yang sedang terlelap itu."Aku juga mau menjaganya," protes Vanya langsung, melirik tak suka ke arah suaminya sambil mengerucutkan bibir.Devan terkekeh pelan, mengusap puncak kepala istrinya dengan gemas. "Kamu nanti kecapekan, Sayang.""Nggak! Aku nggak capek sama sekali. Pokoknya malam ini aku mau ikut menjaganya," keukeuh Vanya tidak mau kalah."Tapi kalau kamu kecapekan nanti bisa sakit, Sayang.""A
Setelah membersihkan diri dan mengganti pakaian bedah dengan pakaian miliknya, Devan melangkah keluar dari area steril ruang operasi. Langkah kakinya yang panjang terdengar di sepanjang koridor lantai tiga yang sunyi. Begitu pintu geser otomatis menuju ruang tunggu terbuka, pandangan Devan langsung terkunci pada satu sosok mungil yang duduk di barisan kursi tunggu. Vanya ada di sana, sedang merapatkan kedua tangannya di depan dada, tampak menemani ketiga remaja Indonesia yang kini sudah jauh lebih tenang. Mendengar suara pintu terbuka, Vanya seketika mendongak. Begitu matanya menangkap sosok Devan yang berjalan menghampiri dengan raut wajah lelah sekaligus lega karena telah berhasil menyelamatkan Dimas di meja operasi, Vanya langsung berdiri dari duduknya. Ketiga remaja itu pun ikut berdiri dengan tatapan penuh harap dan cemas. "Mas Devan..." lirih Vanya, melangkah beberapa langkah mendekati suaminya. Devan tersenyum tipis, tatapannya melembut khusus untuk istrinya sebe
Vanya berjalan lunglai menuju ruang tunggu di depan koridor kamar operasi. Tubuhnya masih lemas setelah salah menangkap informasi tentang kecelakaan turis Indonesia berjaket biru yang ia pikir adalah suaminya. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi besi yang dingin, mencoba menata detak jantungnya yang perlahan mulai kembali normal meski tangannya masih sedikit gemetar.Di salah satu sudut bangku yang tidak jauh darinya, ketiga teman korban jatuh itu tampak duduk berkerumun dengan tubuh lemas dan wajah yang sembap karena tangis.Baru saja Vanya hendak memejamkan mata untuk menenangkan pikiran, terdengar suara langkah kaki mendekat. Seorang perawat wanita Jepang dengan seragam bernuansa merah muda lembut melangkah menghampirinya. Di kedua tangannya, perawat itu membawa sebotol air mineral dingin dan sebuah handuk kecil yang bersih.Perawat itu membungkuk sedikit dengan sopan, memberikan senyuman hangat yang menenangkan sebelum mengulurkan air mineral kepada Vanya."Excuse me, Madam,"
Vanya bergerak secepat yang ia bisa. Mengabaikan penampilannya yang berantakan dan napasnya yang terasa mencekik akibat udara dingin, ia langsung berlari keluar menuju area depan resor ski. Beruntung, sebuah taksi baru saja menurunkan penumpang di lobi luar. Tanpa membuang waktu, Vanya langsung membuka pintu dan melompat masuk ke kursi belakang."Minamiuonuma Hospital! Please, hurry!" seru Vanya dengan suara bergetar kepada pengemudi taksi, seorang pria paruh baya Jepang.Melihat kepanikan yang luar biasa dari penumpangnya, sang sopir hanya mengangguk cepat dan langsung menginjak pedal gas dalam-dalam. Sepanjang perjalanan menembus jalanan bersalju Niigata, Vanya tidak berhenti meremas kedua tangannya sendiri. Air matanya mengalir deras membasahi pipi.Pikirannya terus berputar pada kata-kata petugas informasi tadi. Jaket biru. Turis Indonesia. Kritis. Semua ciri-ciri itu mengarah tepat pada Devan. Ketakutan terbesar dalam hidupnya kembali mendera, ketakutan akan kehilangan Devan u
Suara teriakan histeris itu terdengar jelas di telinga Devan. Itu bukan bahasa Jepang, bukan pula bahasa Inggris. Itu adalah teriakan panik dalam bahasa Indonesia. Devan menahan laju papannya seketika, melakukan rem darurat hingga serpihan es tebal terlempar ke udara. Ia menoleh tajam ke arah jar
Suasana sore hari, langit Tokyo mulai berubah warna menjadi keunguan saat Devan dan Vanya berjalan bergandengan tangan menyusuri kawasan tradisional Asakusa. Setelah momen mengharukan yang menguras energi di pemakaman tadi siang, Devan sengaja membawa Vanya berjalan-jalan santai untuk mengembalikan
Hari yang dinanti itu akhirnya tiba, membawa suasana yang begitu mendebarkan di salah satu hotel bintang lima dengan konsep semi outdoor di pinggiran kota. Dekorasi didominasi oleh bunga-bunga segar berwarna putih, peach, dan sentuhan biru pastel yang lembut, sebuah hasil dari perdebatan tentang wa
"Ah, aku sudah tidak kuat lagi!" erang Bram saat mengempaskan botol minuman ketiganya ke atas meja. Malam ini, Nathan memang sengaja menyeret paksa Devan dan Bram menuju bar hotel bintang lima yang biasa ia kunjungi, sekedar untuk minum dan melarikan diri sejenak dari penatnya ruang operasi.







