MasukPintu ruangan Devan diketuk dua kali sebelum akhirnya terbuka perlahan. Sosok Evelyn muncul dengan senyum menawan yang menjadi ciri khasnya. Ia membawa dua cup kopi dari kafe di lobi rumah sakit.
"Dokter Devan? Masih sibuk?" tanya Evelyn dengan nada suara yang lembut namun terdengar percaya diri. Ia melangkah masuk tanpa menunggu jawaban, lalu meletakkan salah satu cup kopi di atas meja kerja Devan, tepat di samping map biru milik Vanya. Devan menutup laci mejanya, menyembunyikan tumpukan notes Vanya dari pandangan Evelyn. "Terima kasih, Evelyn. Ada perlu apa?" "Hanya ingin mengantarkan ini. Dan... aku ingin meminta maaf soal di ruang operasi tadi. Aku perlu menyesuaikan diri karena perubahan bidang bedah yang aku ambil," ujar Evelyn menyandarkan pinggulnya di tepi meja Devan, merasa percaya diri bisa sedekat ini dengan sang dokter spesialis. Mata Devan beralih dari kopi ke wajah Evelyn. "Di ruang operasi, gangguan sekecil apa pun bisa berakibat fatal. Aku harap itu tidak terulang." Evelyn tertawa kecil, menganggap teguran itu sebagai perhatian. "Tentu, Dok. Oh ya, apa om Gunawan sudah menyampaikan undangan untuk makan malam di rumah akhir pekan ini? beliau juga ingin mendiskusikan rencana seminar internasional di Singapura." Devan mengangguk singkat, tidak terlalu antusias menanggapi upaya Evelyn yang mulai membawa-bawa nama Omnya, sang Kepala Departemen. "Aku akan lihat jadwalku nanti." Sejak Evelyn memutuskan untuk pindah ke bedah umum, Dr Gunawan telah memanggil Devan dan memintanya untuk bisa mengenal lebih dekat keponakan kesayangannya itu. Tujuannya agar Devan dan Evelyn bisa menjalin hubungan serius atau dengan kata lain, perpindahan bidang yang Evelyn ambil, adalah upaya untuk melancarkan rencana perjodohan mereka. "Aku sangat mengharapkan kedatangan mu, dok." Ucap Evelyn lembut menatap Devan dengan penuh kekaguman. Devan hanya diam dan memalingkan wajahnya. Ia meneguk kopi espresso yang baru saja diberikan Evelyn untuknya. Status Evelyn sebagai keponakan Dr. Gunawan membuat Devan menahan diri untuk berbuat atau berkata kasar dengan residen yang satu ini. Pandangan Evelyn kemudian jatuh pada map biru yang sudah ditandatangani Devan. Ia melihat nama 'VANYA' di sana. "Ah, laporan Vanya akhirnya selesai juga? Aku lihat tadi pagi dia sampai terduduk di lantai. Sepertinya dia memang harus banyak belajar lagi untuk mengejar ketertinggalannya. Aku sudah bersamanya sejak Koas, dan kupikir dia tidak akan melanjutkan ke spesialis, karena aku tidak melihat kelebihannya secara akademik." Ujar Evelyn ingin membuat kesan buruk tentang Vanya di mata Devan. Devan tidak menyahut. Ia justru menarik map itu dan memasukkannya ke dalam tas kerjanya. "Dia sudah memperbaikinya dengan sangat baik. Bahkan ada beberapa detail hemodinamik yang sangat spesifik. Aku rasa dia punya ketelitian yang jarang dimiliki residen lain." Pujian spontan dari Devan membuat senyum di wajah Evelyn membeku sesaat. Ia tidak menyangka Devan akan membela kualitas kerja Vanya, gadis yang selalu ia anggap sebagai saingan yang tidak sebanding dengannya. Menurut Evelyn, kesuksesan Vanya sampai di titik ini hanya sebuah keberuntungan, bukan keahlian. "Begitu ya? Baguslah kalau begitu, semoga saja laporan itu adalah hasil diri sendiri, bukan masukan dari orang lain," jawab Evelyn datar, mencoba menyembunyikan rasa tidak sukanya dengan sedikit menkonfrontasi Vanya di depan Devan. "Masukan dalam membuat sebuah karya tulisan itu bagus. Asalkan yang tercatat adalah proses operasi yang sebenarnya. Dan aku yakin ini adalah hasil karya sendiri, karena Vanya adalah asistenku saat operasi kemarin." Evelyn terdiam seribu bahasa. Ia menegakkan tubuhnya, tertampar oleh fakta yang disampaikan Devan. Tidak ada lagi yang bisa ia ucapkan untuk membantah ataupun menjatuhkan laporan yang telah dibuat Vanya dengan susah payah. *** Keesokan paginya, Vanya berjalan dengan langkah gontai menuju papan pengumuman jadwal operasi. Ia sudah pasrah jika namanya masih tidak ada di sana. Namun, saat matanya menyisir baris demi baris, jantungnya berdegup kencang. Di sana, pada kolom asisten operasi Laparoscopic Cholecystectomy (Pengangkatan kantung empedu dengan teknik lubang kunci) hari Selasa pukul 10.00 WIB, tertulis namanya: dr. Vanya Naomi. Dan yang lebih mengejutkan, dia ditunjuk sebagai asisten pertama. Sebuah posisi yang biasanya diisi oleh residen senior, dr. Bram, justru digantikan olehnya dan nama untuk asisten kedua dikosongkan untuk sementara waktu. Vanya meraba dadanya yang bergemuruh. Apakah ini karena laporan nya kemarin sudah disetujui? "Jangan senang dulu," sebuah suara ketus terdengar dari belakang. Vanya menoleh dan mendapati Evelyn berdiri di sana dengan tangan bersedekap di dada. Tatapan matanya tidak lagi berpura-pura ramah seperti biasanya. "dr. Devan mungkin mengizinkan ikut operasi kali ini karena kasihan melihatmu memohon saat kemarin dia mencoret namamu di daftar operasi. Tapi ingat Vanya, di ruang operasi nanti, keahlian yang harus diutamakan. Aku sebenarnya khawatir dengan sikap ceroboh mu itu bisa membahayakan pasien. Apa kamu nggak sadar diri dulu sebelum melanjutkan pendidikan dokter spesialis?Aku rasa menjadi seorang dokter umum sudah cukup buatmu." Vanya terdiam. Ia tahu kalau Evelyn sedang mencoba menjatuhkan mentalnya sebelum kakinya melangkah ke ruang operasi di jam sepuluh nanti. Vanya menghela nafas pelan, meredakan emosinya. "Terima kasih sudah mengingatkan untuk lebih mengutamakan skil, Eve." jawab Vanya tenang, suaranya tidak bergetar sama sekali. "Aku akan memastikan Dokter Devan tidak menyesal telah memilih ku kembali ke ruang operasi." Vanya berlalu meninggalkan Evelyn yang tampak geram. Di ujung koridor, ia berpapasan dengan Devan yang sedang melakukan visit pagi. Untuk sepersekian detik, mata mereka bertemu. Devan tidak berhenti, namun ia bergumam pelan saat melewati Vanya, "09.30 sudah harus di ruang steril. Jangan terlambat lagi." Vanya terpaku. Itu adalah kalimat terpanjang dan 'termanis' yang pernah Devan ucapkan padanya tanpa nada membentak. Vanya tersentak dari lamunan mendengar nada ramah dari mulut Devan, ia berlari kecil menyusul Devan yang sudah berjalan menjauh. "dr. Devan,," Panggil Vanya mendekatinya. Devan berhenti melangkah, berbalik menoleh Vanya yang tersenyum manis pagi ini. "Terima kasih sudah mempercayai saya lagi, dok." Ujar Vanya tulus. Devan mengangguk pelan tanpa menjawab apapun. Ia kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan Vanya yang masih terus tersenyum, sampai punggung tegap itu menghilang dibalik tembok ruang laboratorium. Kemenangan kecil Vanya pagi itu terasa begitu manis, setidaknya sampai ia melangkah masuk ke kafetaria rumah sakit untuk mencari asupan kafein sebelum jadwal operasinya dimulai. Di tengah hiruk pikuk suara denting sendok dan obrolan para medis, langkah Vanya mendadak terkunci. Di salah satu meja sudut, seorang pria bertubuh tegap dengan jas dokter yang sangat rapi sedang duduk sendiri sambil membaca jurnal dari tablet di tangannya. Jantung Vanya seakan berhenti berdetak. Postur itu, cara pria itu menghirup kopinya, hingga aroma parfum woody yang samar-samar tercium saat Vanya berdiri tak jauh darinya, semua terpeta jelas dalam ingatannya. Pria itu menoleh. "Vanya?" Dunia Vanya seolah berputar. dr. Adam. Pria yang pernah menjadi pemilik hatinya saat masa koas, pria yang memberikan janji manis namun berakhir dengan pengkhianatan paling menyakitkan bersama Evelyn. "Mas A,,,ehmm,,,dokter Adam?" koreksi Vanya nyaris tak terdengar. Adam berdiri, senyum tipis yang dulu sangat Vanya puja kini tampak begitu menyebalkan. "Lama tidak bertemu, Van. Kamu terlihat... lebih kurus. Apa menjadi residen menyita waktu makanmu?" Vanya tidak menjawab. Memorinya justru kembali pada malam di mana ia menemukan pesan mesra Evelyn di ponsel Adam, dan bagaimana pria ini justru membela Evelyn saat Vanya menangis histeris. Kenangan tentang rumah sakit, dehidrasi berat, dan asam lambung akut itu kembali menyerang fisiknya. Perutnya mendadak melilit. "Sedang apa Dokter di sini?" tanya Vanya, mencoba mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya, memilih untuk tidak menjawab pertanyaan Adam yang memperhatikan bentuk tubuhnya. "Mulai minggu depan, aku akan bergabung di departemen Kardiologi sebagai dokter tamu untuk proyek kolaborasi dengan bedah umum," jawab Adam dengan nada santai, seolah tidak pernah terjadi badai di antara mereka. Vanya terkejut. Dokter tamu? Pikirnya bertanya dalam hati. "Berapa lama?" pertanyaan yang keluar dari mulut Vanya terdengar tidak suka dengan kehadiran Adam di Rumah Sakit ini. Adam tersenyum mendengar nada suara ketus Vanya, " Hanya satu bulan." Mendengar informasi itu membuat Vanya menghela nafas pendek. sejujurnya ia tidak ingin berada dekat dengan Adam. Entah kenapa, mereka justru harus dipertemukan kembali. " Kalau begitu aku permisi dulu, Mas. Karena sebentar lagi ada jadwal operasi." Vanya memutar tubuh membatalkan niatnya untuk membeli kopi karena ingin menjauh dari Adam secepat mungkin. Namun, dengan cepat Adam meraih pergelangan tangan Vanya, mencoba menahan kepergian gadis itu. Adam terdiam sejenak, suaranya seperti tertahan di tenggorokan. Ia menatap lama wajah cantik Vanya yang terlihat tidak nyaman. "Aku dan Evelyn sudah putus. Dia,,tidak suka aku selalu membandingkanmu dengannya saat kami menjalin hubungan." Suara Adam terdengar ingin menunjukkan kalau dia menyesal telah mengkhianati gadis dihadapannya ini. "Aku minta maaf sudah menyakitimu, Van." Vanya menepis tangan Adam dari tangannya, " Maaf, Mas. Kejadian itu sudah lama berlalu, aku sudah melupakannya." Adam tidak menyerah. Ia kembali meraih kedua tangan Vanya. Matanya menatap sendu kewajah cantik itu. Dengan postur tubuhnya yang tinggi, Adam sedikit membungkuk, mendekatkan wajahnya pada wajah Vanya. "Aku yang tidak bisa melupakanmu, Van." Vanya berdiri terpaku. Wajahnya tegang. Ia tidak percaya, masa lalunya akan kembali dan mengatakan hal itu. "A-aku,," "Aku serius. Tolong jangan menjauh. Aku menerima permintaan dokter tamu di Rumah Sakit ini, karena aku tahu ada kamu di sini." Vanya menyadari kalau situasi ini tidak seperti yang ia inginkan, ia pun melepaskan tangan Adam dari tangannya. "Maaf, Mas. aku harus pergi ke ruang operasi sekarang." Vanya bergegas melangkah meninggalkan Adam sendiri. Ia tidak ingin mengingat masa lalu, semua sudah terkubur dalam-dalam di lubuk hatinya sejak setahun lalu. Tapi kejujuran Adam barusan, cukup membuatnya membuka kembali kenangan indah saat tiga bulan menjalin hubungan dengan dokter spesialis jantung itu. Vanya terus berjalan tanpa menoleh lagi. ketika melewati koridor menuju ruang operasi, Vanya melihat Devan sedang berdiri di dekat pintu otomatis, tampak sedang memeriksa rekam medis pasien dengan wajah serius. Namun, saat Devan melihat wajah Vanya yang pucat pasi dan mata yang berkaca-kaca, raut wajah kerasnya sedikit melunak. "Ada apa dengan wajahmu? Kamu seperti habis melihat hantu," tegur Devan dingin, namun ada nada selidik dalam suaranya. Vanya mengatur napasnya yang memburu. "Bukan apa-apa, Dok. Hanya... sedikit pusing." Devan mendekat satu langkah, membuat Vanya bisa mencium aroma sabun antiseptik yang menenangkan dari tubuh pria itu, sangat berbeda dengan parfum Adam yang menyesakkan. Devan menatap mata Vanya lekat-lekat. "Kalau kamu tidak fokus karena urusan pribadi, jangan masuk ke ruang operasi. Tapi kalau kamu siap, tinggalkan bayangan laki-laki di kafe itu di luar pintu ini," ucap Devan pendek, lalu berbalik masuk ke ruang steril. Vanya terpaku. Apakah dr. Devan melihatnya tadi?"Kalian lihat berita kemarin?" tanya salah satu perawat dengan nada berbisik namun antusias. "Istri Henry Harrington terbukti menukar anak kandungnya dengan anak kandung Tuan Henry sendiri," sahut seorang residen sambil menatap layar ponselnya. "Maksudnya... Evelyn bukan anak kandung Henry Harrington?" "Ternyata putri kandungnya itu Vanya—" "Gila! Benar-benar seperti cerita dalam sinetron, putri yang ditukar." Seorang perawat lain menimpali, "Dan ini terjadi pada teman kita sendiri. Pantas saja dr. Devan meninggalkan Evelyn. Ternyata dia lebih memilih anak kandung Harrington yang sebenarnya." "Iya, kalian benar. Itulah alasannya Mas Devan meninggalkan aku." Suara angkuh dan sinis itu mendadak terdengar dari balik punggung para residen dan perawat yang tengah asyik bergosip. Seketika, suasana IGD yang bising menjadi hening setelah kedatangan Evelyn. "Evelyn!" seru mereka hampir bersamaan. Wajah mereka pucat pasi mendapati Evelyn sudah berdiri di sana dengan tatapan tajam
Ruang sidang Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dipenuhi oleh ketegangan. Dinginnya pendingin ruangan tidak mampu meredakan hawa panas yang terpancar dari barisan kursi pengunjung. Di sisi kanan, Henry Harrington duduk dengan punggung tegak, namun guratan di wajahnya tidak bisa menyembunyikan kehancuran hatinya. Di sampingnya, Frans datang menemani Henry mengikuti persidangan Shinta dengan rahang mengeras. Di kursi pesakitan, Shinta Harrington duduk dengan kepala tertunduk. Tidak ada lagi keanggunan nyonya besar yang biasanya ia pamerkan. Dengan memakai kemeja putih dan rok hitam, kondisinya terlihat sungguh memprihatinkan. Di sayap kiri bangku pengunjung, terlihat Dr. Gunawan, adik kandung Shinta datang bersama beberapa anggota keluarga untuk memberi dukungan agar kakaknya tidak merasa sendirian. Apalagi, sejak Devan berhasil membongkar rahasia dua puluh enam tahun silam, Evelyn tidak mau lagi menemui mamanya di penjara. "Terdakwa Shinta Harrington," suara berat Hakim Ketua mem
Langkah kaki Devan yang panjang dan tergesa membuat Vanya hampir kehilangan keseimbangan saat mereka memasuki area nurse station IGD yang mulai sepi. Tanpa mempedulikan tatapan bertanya-tanya dari Siska yang masih berjaga, Devan menarik Vanya menuju ruangan residen. Vanya membuka pintu ruang residen dengan keras. Beberapa residen yang sedang beristirahat di dalam terkejut dan memandang kearah pintu. "Malam, dr. Devan," sapa beberapa residen yang melihat Devan berdiri di belakang Vanya. "Malam," sahutnya datar melanjutkan langkahnya mengikuti Vanya ke meja kerjanya yang ada di sudut ruangan. Bisikan-bisikan para residen yang melihat kebersamaan mereka terdengar mengiringi langkah Devan saat masuk kedalam. "Sttt, bukannya dr. Devan itu tunangan Evelyn ya?" "Kamu belum tahu? dr. Devan sudah mengakhiri hubungan mereka." "Yang benar?" "Ah masa? padahal sebentar lagi kabarnya mereka akan menikah." "Terus sekarang malah pacaran dengan Vanya? Apa hubungan mereka berakhir karena Vanya
"Jangan bercanda Deline. Ini masalah serius. Lagipula, aku penasaran, ada hubungan apa antara Kenan dengan kalian sampai dia mencelakai Rossa." Desis Devan dengan rahang mengeras. Deline semakin terisak seiring dengan suara detak jantung di layar monitor yang terdengar berirama cepat. Menyadarkan Devan untuk kembali pada situasi Deline saat ini. "Deline, sudah cukup. Jangan pikirkan apa-apa dulu. Jangan pikirkan hal-hal yang berat." Ucap Devan menurunkan nada suaranya. "Tapi aku takut, Mas." Lirihnya berbisik. "Jangan takut. Aku akan menjagamu di luar pintu ICU malam ini. Besok, kamu akan bergabung di kamar perawatan Tifani dan Jesi." Devan terus mencoba menenangkan Deline agar jantungnya kembali stabil. Ia terpaksa memberikan obat penenang ringan melalui aliran infus Deline. Cairan bening itu mengalir perlahan, masuk ke dalam pembuluh darah untuk meredam kepanikan yang nyaris membuat ritme jantung gadis itu kacau. "Tidur, Del. Aku di sini," bisik Devan sambil mengatur k
Suara tetesan cairan infus dan mesin pemantau tanda vital menjadi satu-satunya suara yang memecahkan kesunyian di ruang perawatan VIP nomor 103. Setelah melewati jam-jam kritis di ruang ICU pasca operasi tiga hari lalu, Tifani dan Jessi akhirnya dipindahkan ke ruang perawatan. Meski kondisi mereka sudah stabil, sisa-sisa trauma kecelakaan masih terlihat jelas pada tubuh yang kini terbalut perban dan gips itu. Tifani, wanita berambut pendek sebahu, terbaring di bed sebelah kanan, dadanya masih dibalut kencang untuk menstabilkan flail chest yang dialaminya, sementara luka trauma abdomennya menuntutnya untuk tetap dalam posisi diam, tidak boleh banyak bergerak. Di ranjang kiri, Jessi tampak lebih terjaga meski wajahnya pucat pasi. Kaki kanannya yang mengalami fraktur femur terbuka kini terpasang sistem traksi skeletal. Sebuah pin logam tipis namun kuat telah menembus bagian bawah tulang paha Jessi melalui prosedur bedah, dan di ujung pin tersebut, terikat sebuah tali nilon yang te
"Bagaimana menurutmu? Putraku meminta agar Vanya sembuh total dan benar-benar bisa menerima statusnya sebagai putri kandungmu sebelum mereka melangsungkan pernikahan. Lagipula, masalah putri pertamaku dengan suaminya pun belum menemukan titik temu." Henry meletakkan cangkir porselen mewah itu di atas tatakannya dengan denting pelan yang terdengar elegan. "Aku setuju dengan Devan," ucap Henry sambil menyandarkan punggungnya pada sofa yang empuk. "Sampai saat ini pun, aku masih tidak tahu bagaimana caranya membuat putriku mau memelukku dan memanggilku Papa," lirihnya sedih, mengusap titik air mata yang merembes di sudut matanya. Frans bergeser mendekat. Tangannya terangkat, mengusap punggung Henry dengan gerakan perlahan guna menyalurkan kekuatan bagi calon besannya itu. "Aku pun merasakannya, Henry. Melihat Aurel menderita di tangan Farel saja sudah cukup membuatku merasa gagal sebagai ayah," sahut Frans dengan suara yang berat oleh rasa bersalah. "Kita terlalu sibuk memba
Penerbangan Singapura-Jakarta yang seharusnya hanya memakan waktu satu setengah jam itu terasa seperti siksaan bagi Devan. Tekanan udara di dalam kabin pesawat benar-benar memperburuk kondisinya. Di kursi kelas bisnis, Devan menyandarkan kepalanya, napasnya terdengar pendek dan berat. Keringat ding
Pagi ini adalah hari kepulangan mereka semua dari Singapura ke Indonesia. Devan merasakan demam ditubuhnya akibat insiden perbuatan Evelyn dua hari lalu. Kemarin, ia hanya meringkuk di dalam kamarnya. Hari terakhir yang seharusnya ia gunakan untuk berjalan-jalan, tidak bisa ia lakukan. Vanya yan
Waktu seolah merangkak lambat di dalam kamar yang pengap oleh ketegangan itu. Di satu sisi pintu, Vanya memeluk lututnya erat, membiarkan air matanya membasahi lutut saat rintihan tertahan Devan menusuk indra pendengarannya. Ia bisa merasakan getaran di balik daun pintu kayu itu, akibat hantaman kep
Devan mencengkeram pinggiran meja dengan sangat kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya. Pandangannya mulai mengabur, sementara detak jantungnya berpacu kencang. Rasa panas yang membakar dari dalam tubuhnya membuat setiap sentuhan Evelyn di lengannya te







