Home / Romansa / ANESTESI RINDU / BAB 5 MASA LALU YANG KEMBALI

Share

BAB 5 MASA LALU YANG KEMBALI

Author: Yoongina
last update publish date: 2026-01-18 12:49:56

Pintu ruangan Devan diketuk dua kali sebelum akhirnya terbuka perlahan. Sosok Evelyn muncul dengan senyum menawan yang menjadi ciri khasnya. Ia membawa dua cup kopi dari kafe di lobi rumah sakit.

​"Dokter Devan? Masih sibuk?" tanya Evelyn dengan nada suara yang lembut namun terdengar percaya diri. Ia melangkah masuk tanpa menunggu jawaban, lalu meletakkan salah satu cup kopi di atas meja kerja Devan, tepat di samping map biru milik Vanya.

​Devan menutup laci mejanya, menyembunyikan tumpukan notes Vanya dari pandangan Evelyn. "Terima kasih, Evelyn. Ada perlu apa?"

​"Hanya ingin mengantarkan ini. Dan... aku ingin meminta maaf soal di ruang operasi tadi. Aku perlu menyesuaikan diri karena perubahan bidang bedah yang aku ambil," ujar Evelyn menyandarkan pinggulnya di tepi meja Devan, merasa percaya diri bisa sedekat ini dengan sang dokter spesialis.

​Mata Devan beralih dari kopi ke wajah Evelyn. "Di ruang operasi, gangguan sekecil apa pun bisa berakibat fatal. Aku harap itu tidak terulang."

​Evelyn tertawa kecil, menganggap teguran itu sebagai perhatian. "Tentu, Dok. Oh ya, apa om Gunawan sudah menyampaikan undangan untuk makan malam di rumah akhir pekan ini? beliau juga ingin mendiskusikan rencana seminar internasional di Singapura."

​Devan mengangguk singkat, tidak terlalu antusias menanggapi upaya Evelyn yang mulai membawa-bawa nama Omnya, sang Kepala Departemen. "Aku akan lihat jadwalku nanti."

Sejak Evelyn memutuskan untuk pindah ke bedah umum, Dr Gunawan telah memanggil Devan dan memintanya untuk bisa mengenal lebih dekat keponakan kesayangannya itu. Tujuannya agar Devan dan Evelyn bisa menjalin hubungan serius atau dengan kata lain, perpindahan bidang yang Evelyn ambil, adalah upaya untuk melancarkan rencana perjodohan mereka.

"Aku sangat mengharapkan kedatangan mu, dok." Ucap Evelyn lembut menatap Devan dengan penuh kekaguman.

Devan hanya diam dan memalingkan wajahnya. Ia meneguk kopi espresso yang baru saja diberikan Evelyn untuknya. Status Evelyn sebagai keponakan Dr. Gunawan membuat Devan menahan diri untuk berbuat atau berkata kasar dengan residen yang satu ini.

​Pandangan Evelyn kemudian jatuh pada map biru yang sudah ditandatangani Devan. Ia melihat nama 'VANYA' di sana. "Ah, laporan Vanya akhirnya selesai juga? Aku lihat tadi pagi dia sampai terduduk di lantai. Sepertinya dia memang harus banyak belajar lagi untuk mengejar ketertinggalannya. Aku sudah bersamanya sejak Koas, dan kupikir dia tidak akan melanjutkan ke spesialis, karena aku tidak melihat kelebihannya secara akademik." Ujar Evelyn ingin membuat kesan buruk tentang Vanya di mata Devan.

​Devan tidak menyahut. Ia justru menarik map itu dan memasukkannya ke dalam tas kerjanya. "Dia sudah memperbaikinya dengan sangat baik. Bahkan ada beberapa detail hemodinamik yang sangat spesifik. Aku rasa dia punya ketelitian yang jarang dimiliki residen lain."

​Pujian spontan dari Devan membuat senyum di wajah Evelyn membeku sesaat. Ia tidak menyangka Devan akan membela kualitas kerja Vanya, gadis yang selalu ia anggap sebagai saingan yang tidak sebanding dengannya. Menurut Evelyn, kesuksesan Vanya sampai di titik ini hanya sebuah keberuntungan, bukan keahlian.

​"Begitu ya? Baguslah kalau begitu, semoga saja laporan itu adalah hasil diri sendiri, bukan masukan dari orang lain," jawab Evelyn datar, mencoba menyembunyikan rasa tidak sukanya dengan sedikit menkonfrontasi Vanya di depan Devan.

"Masukan dalam membuat sebuah karya tulisan itu bagus. Asalkan yang tercatat adalah proses operasi yang sebenarnya. Dan aku yakin ini adalah hasil karya sendiri, karena Vanya adalah asistenku saat operasi kemarin."

Evelyn terdiam seribu bahasa. Ia menegakkan tubuhnya, tertampar oleh fakta yang disampaikan Devan. Tidak ada lagi yang bisa ia ucapkan untuk membantah ataupun menjatuhkan laporan yang telah dibuat Vanya dengan susah payah.

***

​Keesokan paginya, Vanya berjalan dengan langkah gontai menuju papan pengumuman jadwal operasi. Ia sudah pasrah jika namanya masih tidak ada di sana. Namun, saat matanya menyisir baris demi baris, jantungnya berdegup kencang.

​Di sana, pada kolom asisten operasi Laparoscopic Cholecystectomy (Pengangkatan kantung empedu dengan teknik lubang kunci) hari Selasa pukul 10.00 WIB, tertulis namanya: dr. Vanya Naomi. Dan yang lebih mengejutkan, dia ditunjuk sebagai asisten pertama. Sebuah posisi yang biasanya diisi oleh residen senior, dr. Bram, justru digantikan olehnya dan nama untuk asisten kedua dikosongkan untuk sementara waktu.

​Vanya meraba dadanya yang bergemuruh. Apakah ini karena laporan nya kemarin sudah disetujui?

​"Jangan senang dulu," sebuah suara ketus terdengar dari belakang.

​Vanya menoleh dan mendapati Evelyn berdiri di sana dengan tangan bersedekap di dada. Tatapan matanya tidak lagi berpura-pura ramah seperti biasanya.

"dr. Devan mungkin mengizinkan ikut operasi kali ini karena kasihan melihatmu memohon saat kemarin dia mencoret namamu di daftar operasi. Tapi ingat Vanya, di ruang operasi nanti, keahlian yang harus diutamakan. Aku sebenarnya khawatir dengan sikap ceroboh mu itu bisa membahayakan pasien. Apa kamu nggak sadar diri dulu sebelum melanjutkan pendidikan dokter spesialis?Aku rasa menjadi seorang dokter umum sudah cukup buatmu."

​Vanya terdiam. Ia tahu kalau Evelyn sedang mencoba menjatuhkan mentalnya sebelum kakinya melangkah ke ruang operasi di jam sepuluh nanti.

Vanya menghela nafas pelan, meredakan emosinya. "Terima kasih sudah mengingatkan untuk lebih mengutamakan skil, Eve." jawab Vanya tenang, suaranya tidak bergetar sama sekali. "Aku akan memastikan Dokter Devan tidak menyesal telah memilih ku kembali ke ruang operasi."

Vanya berlalu meninggalkan Evelyn yang tampak geram. Di ujung koridor, ia berpapasan dengan Devan yang sedang melakukan visit pagi. Untuk sepersekian detik, mata mereka bertemu.

​Devan tidak berhenti, namun ia bergumam pelan saat melewati Vanya, "09.30 sudah harus di ruang steril. Jangan terlambat lagi."

​Vanya terpaku. Itu adalah kalimat terpanjang dan 'termanis' yang pernah Devan ucapkan padanya tanpa nada membentak.

Vanya tersentak dari lamunan mendengar nada ramah dari mulut Devan, ia berlari kecil menyusul Devan yang sudah berjalan menjauh.

"dr. Devan,," Panggil Vanya mendekatinya. Devan berhenti melangkah, berbalik menoleh Vanya yang tersenyum manis pagi ini.

"Terima kasih sudah mempercayai saya lagi, dok." Ujar Vanya tulus.

Devan mengangguk pelan tanpa menjawab apapun. Ia kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan Vanya yang masih terus tersenyum, sampai punggung tegap itu menghilang dibalik tembok ruang laboratorium.

Kemenangan kecil Vanya pagi itu terasa begitu manis, setidaknya sampai ia melangkah masuk ke kafetaria rumah sakit untuk mencari asupan kafein sebelum jadwal operasinya dimulai. Di tengah hiruk pikuk suara denting sendok dan obrolan para medis, langkah Vanya mendadak terkunci.

​Di salah satu meja sudut, seorang pria bertubuh tegap dengan jas dokter yang sangat rapi sedang duduk sendiri sambil membaca jurnal dari tablet di tangannya. Jantung Vanya seakan berhenti berdetak. Postur itu, cara pria itu menghirup kopinya, hingga aroma parfum woody yang samar-samar tercium saat Vanya berdiri tak jauh darinya, semua terpeta jelas dalam ingatannya.

​Pria itu menoleh.

​"Vanya?"

​Dunia Vanya seolah berputar. dr. Adam. Pria yang pernah menjadi pemilik hatinya saat masa koas, pria yang memberikan janji manis namun berakhir dengan pengkhianatan paling menyakitkan bersama Evelyn.

​"Mas A,,,ehmm,,,dokter Adam?" koreksi Vanya nyaris tak terdengar.

​Adam berdiri, senyum tipis yang dulu sangat Vanya puja kini tampak begitu menyebalkan. "Lama tidak bertemu, Van. Kamu terlihat... lebih kurus. Apa menjadi residen menyita waktu makanmu?"

​Vanya tidak menjawab. Memorinya justru kembali pada malam di mana ia menemukan pesan mesra Evelyn di ponsel Adam, dan bagaimana pria ini justru membela Evelyn saat Vanya menangis histeris. Kenangan tentang rumah sakit, dehidrasi berat, dan asam lambung akut itu kembali menyerang fisiknya. Perutnya mendadak melilit.

​"Sedang apa Dokter di sini?" tanya Vanya, mencoba mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya, memilih untuk tidak menjawab pertanyaan Adam yang memperhatikan bentuk tubuhnya.

​"Mulai minggu depan, aku akan bergabung di departemen Kardiologi sebagai dokter tamu untuk proyek kolaborasi dengan bedah umum," jawab Adam dengan nada santai, seolah tidak pernah terjadi badai di antara mereka.

Vanya terkejut. Dokter tamu? Pikirnya bertanya dalam hati.

"Berapa lama?" pertanyaan yang keluar dari mulut Vanya terdengar tidak suka dengan kehadiran Adam di Rumah Sakit ini.

Adam tersenyum mendengar nada suara ketus Vanya, " Hanya satu bulan."

Mendengar informasi itu membuat Vanya menghela nafas pendek. sejujurnya ia tidak ingin berada dekat dengan Adam. Entah kenapa, mereka justru harus dipertemukan kembali.

" Kalau begitu aku permisi dulu, Mas. Karena sebentar lagi ada jadwal operasi." Vanya memutar tubuh membatalkan niatnya untuk membeli kopi karena ingin menjauh dari Adam secepat mungkin. Namun, dengan cepat Adam meraih pergelangan tangan Vanya, mencoba menahan kepergian gadis itu.

Adam terdiam sejenak, suaranya seperti tertahan di tenggorokan. Ia menatap lama wajah cantik Vanya yang terlihat tidak nyaman. "Aku dan Evelyn sudah putus. Dia,,tidak suka aku selalu membandingkanmu dengannya saat kami menjalin hubungan." Suara Adam terdengar ingin menunjukkan kalau dia menyesal telah mengkhianati gadis dihadapannya ini. "Aku minta maaf sudah menyakitimu, Van."

Vanya menepis tangan Adam dari tangannya, " Maaf, Mas. Kejadian itu sudah lama berlalu, aku sudah melupakannya."

Adam tidak menyerah. Ia kembali meraih kedua tangan Vanya. Matanya menatap sendu kewajah cantik itu. Dengan postur tubuhnya yang tinggi, Adam sedikit membungkuk, mendekatkan wajahnya pada wajah Vanya.

"Aku yang tidak bisa melupakanmu, Van."

Vanya berdiri terpaku. Wajahnya tegang. Ia tidak percaya, masa lalunya akan kembali dan mengatakan hal itu.

"A-aku,,"

"Aku serius. Tolong jangan menjauh. Aku menerima permintaan dokter tamu di Rumah Sakit ini, karena aku tahu ada kamu di sini."

Vanya menyadari kalau situasi ini tidak seperti yang ia inginkan, ia pun melepaskan tangan Adam dari tangannya. "Maaf, Mas. aku harus pergi ke ruang operasi sekarang." Vanya bergegas melangkah meninggalkan Adam sendiri. Ia tidak ingin mengingat masa lalu, semua sudah terkubur dalam-dalam di lubuk hatinya sejak setahun lalu. Tapi kejujuran Adam barusan, cukup membuatnya membuka kembali kenangan indah saat tiga bulan menjalin hubungan dengan dokter spesialis jantung itu.

Vanya terus berjalan tanpa menoleh lagi. ​ketika melewati koridor menuju ruang operasi, Vanya melihat Devan sedang berdiri di dekat pintu otomatis, tampak sedang memeriksa rekam medis pasien dengan wajah serius. Namun, saat Devan melihat wajah Vanya yang pucat pasi dan mata yang berkaca-kaca, raut wajah kerasnya sedikit melunak.

​"Ada apa dengan wajahmu? Kamu seperti habis melihat hantu," tegur Devan dingin, namun ada nada selidik dalam suaranya.

​Vanya mengatur napasnya yang memburu. "Bukan apa-apa, Dok. Hanya... sedikit pusing."

​Devan mendekat satu langkah, membuat Vanya bisa mencium aroma sabun antiseptik yang menenangkan dari tubuh pria itu, sangat berbeda dengan parfum Adam yang menyesakkan. Devan menatap mata Vanya lekat-lekat.

​"Kalau kamu tidak fokus karena urusan pribadi, jangan masuk ke ruang operasi. Tapi kalau kamu siap, tinggalkan bayangan laki-laki di kafe itu di luar pintu ini," ucap Devan pendek, lalu berbalik masuk ke ruang steril.

​Vanya terpaku. Apakah dr. Devan melihatnya tadi?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • ANESTESI RINDU   BAB 44 PINDAH RUMAH SAKIT

    Fajar menyingsing dengan warna abu-abu yang suram, seolah turut merasakan kelelahan jiwa dari penghuni kediaman Alaric. Devan terbangun dengan rasa mual yang melilit perutnya. Setiap jengkal kulitnya terasa kotor, kejadian semalam terasa seperti peristiwa yang menyesakkan paru-parunya. Semalam, ​tanpa sepatah kata pun pada Evelyn yang masih terlelap, ia bergegas meninggalkan apartemen Evelyn dan kembali kerumah tanpa pamit. Devan mengusap kasar wajah nya yang terlihat lelah dan berjalan cepat menuju kamar mandi untuk membasuh semua jejak yang Evelyn tinggalkan di tubuhnya. Teringat akan Vanya, Devan mengakhiri aktivitasnya di kamar mandi dan berpakaian dengan terburu-buru lalu segera melesat menuju rumah sakit tempat Vanya dirawat. Pagi ini, ia akan menemui ibu Kemuning terlebih dahulu untuk meminta persetujuan pemindahan Vanya dari sana. untung saja, jalanan pagi ini tidak terlalu buruk, membuatnya cepat tiba di rumah sakit. Setelah mendapatkan parkir untuk mobilnya yang bukan

  • ANESTESI RINDU   BAB 43 RAGA YANG TERBELENGGU

    "Aku mau kamu melupakan Vanya malam ini dan hanya melihatku," bisik Evelyn serak, gairah yang coba ia buat membuat nafas mereka beradu. ​Evelyn kembali mendekatkan tubuhnya, mencari sela untuk membelitkan jemarinya di tengkuk Devan. Ia memberikan kecupan-kecupan kecil di rahang dan leher Devan yang mengeras, berusaha menggoyahkan pertahanannya. ​Devan memejamkan mata rapat-rapat. Jantungnya berdetak cepat, bukan karena cinta, melainkan karena insting seorang laki-laki yang bertarung dengan rasa muak di dalam dadanya. Setiap sentuhan Evelyn telah berhasil membangkitkan gairahnya. Namun, sisi hatinya yang lain, kembali mengingatkan Devan akan bayangan wajah Vanya yang pucat di bangsal ICU dan menunggu pertolongannya. ​"Eve..." geram Devan rendah dengan mata terpejam, sebuah peringatan sekaligus tanda bahwa ia mulai kehilangan kendali atas dirinya sendiri karena gadis itu terus mencium lehernya dan meninggalkan tanda kepemilikan di sana. ​Evelyn menyeringai tipis di balik bahu De

  • ANESTESI RINDU   BAB 42 MENJATUHKAN HARGA DIRI

    "Kamu gila, Mas! Bagaimana kalau aku hamil?" Evelyn berteriak sambil mendorong kasar tubuh kekar laki-laki yang masih berada tepat di atasnya. Napasnya memburu, karena kepanikan yang tiba-tiba menyergap setelah gairah yang baru saja tercipta. ​"Kenapa waktu itu kamu tidak menikah denganku saja, Eve? Aku benar-benar mencintaimu," sahut laki-laki itu dengan suara serak, matanya menatap Evelyn dengan pemujaan yang mendalam. ​"Sinting!" Evelyn mendesis, segera meraih pakaian miliknya yang berserakan di lantai marmer apartemen mewah itu. "Lebih baik kamu pergi sekarang. Sebentar lagi tunanganku akan datang, dan aku tidak mau dia melihatmu di sini!" ​Laki-laki itu bangkit, menatap punggung cantik Evelyn dengan kilat amarah di matanya. Dengan gerak gontai, ia memungut kemejanya yang tergeletak di lantai, lalu melangkah mendekati Evelyn yang sedang sibuk merapikan diri di depan cermin besar. ​"Apa lagi? Cepat pergi sekarang!" bentak Evelyn tanpa menoleh. ​Bukannya melangkah pergi, la

  • ANESTESI RINDU   BAB 41 HARGA SEBUAH PENGORBANAN

    "Benar-benar memalukan! Kamu dan kakakmu bersekongkol untuk mempermalukan Papa dan Mama di depan keluarga Harrington!" Teriakan Frans menggema, memecah keheningan ruang kerja kediaman Alaric yang luas. Devan dan Aurel hanya bisa terdiam, tertunduk menerima amukan sang ayah malam ini. ​"Siapa sebenarnya gadis itu?! Sampai kalian berdua bekerja sama hanya untuk menolongnya?" Mata Frans berkilat tajam, tertuju lurus pada Devan. ​"Jawab, Devan!" bentaknya sambil memukul meja kerja dengan keras. Suara hantaman itu membuat Devan tersentak, namun ia perlahan mengangkat kepalanya, menatap wajah murka Frans yang duduk di kursi kebesarannya. ​Devan hanya menatap dingin sang ayah. Bibirnya terkatup rapat seolah terkunci, namun deru napasnya yang naik-turun menandakan ia sedang berjuang hebat mengatur gejolak emosi di dadanya. ​"Apa dia itu 'Rossa' kedua? Gadis miskin itu kekasihmu, hah?" desak Frans sinis, tak sabar karena Devan terus bungkam. ​Mendengar hinaan yang keluar dari mulut papany

  • ANESTESI RINDU   BAB 40 KEMUNING DAN KETAKUTANNYA

    "Dokter Devan, saya mau mengucapkan terima kasih untuk semuanya." Ucap ibu Kemuning lembut saat Aurel dan Devan membawanya ke kantin rumah sakit agar Kemuning bisa sedikit saja mengisi perutnya setelah beberapa jam menegangkan di ruang ICU. "Sama-sama bu Kemuning. Ini sudah menjadi kewajiban saya." Jawab Devan tertunduk sambil menikmati teh hangat di tangannya yang terasa beku. Hilangnya memori Vanya cukup membuat hatinya membeku seakan terkena obat Anestesi rindu yang membuatnya kehilangan gadis itu. Aurel menyadari kesedihan yang Devan alami. Dengan lembut ia mengusap pelan punggung adiknya dengan penuh kasih sayang. "Devan, makanlah sedikit. Kamu belum menyentuh makananmu sejak tiba di sini," ujar Aurel lembut, suaranya penuh rasa khawatir. Ia tahu persis bahwa di balik wajah dingin adiknya, ada badai yang sedang berkecamuk. ​Devan hanya mengangguk samar, namun matanya tetap tertuju pada uap teh yang membubung tipis. Pikirannya melayang kembali ke bangsal nomor dua. Bayangan

  • ANESTESI RINDU   BAB 39 AKU MERINDUKANMU

    Suasana hangat yang baru saja tercipta antara Devan dan Ibu Kemuning mendadak membeku. Kehadiran Evelyn di ambang pintu ICU bagaikan badai yang menghempas ketenangan ruangan yang steril itu. Dengan langkah yang angkuh dan sepatu hak tinggi yang berbunyi tajam di atas lantai, Evelyn mendekat, menatap ke arah ranjang Vanya. ​"Keluar, Evelyn. Ini ruang ICU," desis Devan, suaranya penuh penekanan. ​Evelyn tertawa hambar, sebuah suara yang terdengar sumbang di tengah bunyi mesin pemantau jantung. "Aku datang hanya ingin mengingatkan fakta. Surat pemindahan tugasmu ke Wellness Hospital sudah ditandatangani Papa. Secara administratif, kamu tidak punya hak akses di sini, apalagi menangani pasien." ​Vanya, yang masih dalam kondisi bingung dan lemah, tampak semakin ketakutan. Ia mencengkeram pinggiran selimutnya, matanya bergerak gelisah menatap Evelyn yang tampak sangat membencinya meski ia sendiri tidak tahu mengapa. Bunyi beep pada monitor jantung Vanya mulai bereaksi, menandakan detak ja

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status