LOGINThe youngest billionaire of the Aragon Empire is in disguise! With a broken heart, Garett freed his fiance from a miserable engagement and let her marry the one she truly loved. They were trapped in an arranged marriage and desperate to save their family's company ay napilitan silang ipagkasundo. Garett finds himself slowly falling in love with her and in fear that his dad will successfully manipulate his life. He ran away and was nowhere to be found... Gamit ang ibang pagkakakilalan ay walang hirap na naitago niya sa publiko ang kanyang tunay na pagkatao hanggang sa makilala niya ang dalagang si Corine Almeda. Unti-unti ay nasanay siya sa mundong ginagalawan ng dalaga na nagpabago sa araw-araw niyang pamumuhay bilang ordinaryong tao. When he learned about her family was similar to her ex-fiance situation. He offered her marriage to save her father's blowing hospital bills Ito ang tanging nakikita niyang paraan upang lalong galitin ang ama sa kabila ng pagpipilit nito maipakasal siya sa katulad nilang nasa mataas na estado. But Corine didn't know he is a true billionaire, will Corine get mad at him when he finds out the truth na ginamit lamang niya ito upang mapaglaruan ang sariling ama niya? Mniniwala kaya ito kung aminin na may namumuo ng pag-ibig sa kanilang pagpapanggap?
View MoreMalam semakin larut, hujan turun dengan derasnya.
Kilat masuk melalui celah jendela seakan siap menyambar.
Di dalam kegelapan, seorang wanita muda sedang menangis sambil memeluk tubuh kecil bayinya.Meskipun suara petir menggelegar dan memekakkan genderang telinga, Eliza Afrina tidak takut.
Yang dia pikirkan saat ini hanyalah anaknya yang sedang panas tinggi.
Obat penurun panas yang diberikan bidan, sudah dia berikan. Tapi, tak kunjung meredakan panas sang putra.
"Nak?"
Eliza menahan tangis sembari memeluk bayinya yang sudah pucat itu. Bahkan tiap beberapa menit sekali, wanita itu meletakkan jari telunjuknya di bawah lubang hidung bayi laki-laki itu untuk memastikan sang putra masih bernapas.
Berkali-kali ditelponnya sang suami, tetapi tak diangkat.
Tetangganya juga banyak yang sedang pergi ke luar untuk menghabiskan weekend bersama keluarga.
Kebetulan, kawasan perumahan yang di tempatnya, jauh masuk ke dalam dan masih sangat sepi. Jalan kiri dan kanannya bahkan masih hutan lebat.
Parahnya lagi, ponsel Androidnya baru ditukar sang suami dengan ponsel jadul tahun 2000-an, sehingga Eliza tak bisa memesan taksi online.
Setelah berpikir beberapa saat, Eliza lantas pergi ke dapur dan mengambil plastik bekas yang disimpannya. Bersyukur dia menyimpan plastik berukuran besar. Dipotongnya bagian depan seukuran wajah bayi dan kemudian memasukkan bayi ke dalam plastik.
Dibuatnya jas hujan darurat untuk putranya.
"Tahan ya nak, kita ke rumah sakit sekarang. Anak bunda akan sehat." Eliza kembali berkata dengan bibir gemetar.Tak dipedulikan tubuhnya yang basah kuyup, menggigil kedinginan.
Secepat mungkin dia berlari. Namun belum melihat ada klinik atau rumah sakit, langkah kakinya terhenti ketika merasakan tapak kakinya terasa sangat sakit seperti ada yang menancap.Bersyukur Ibnu tidak terlepas dari tangannya.
Diperhatikannya paku berukuran panjang yang menancap di telapak kakinya. Kembali menahan sakit yang luar biasa, dicabutnya paku itu.Tiba-tiba saja, cahaya kilat terlihat.
Eliza dapat melihat wajah putranya yang sudah membiru.
Dipaksanya lagi tubuhnya berlari, hingga Eliza akhirnya melihat rumah sakit."TOLONG!" teriaknya sekencang mungkin begitu tiba di resepsionis.
Seorang perawat yang melihatnya, lantas menghampiri. "Ada apa ibu?""Sus, tolong selamatkan anak saya. Badannya sangat panas. Tadi dia sempat kejang." Eliza berkata dengan menangis.
Perawat itu langsung mengambil bayi dari tangan ibunya dan membawa ke ruang UGD.Dia juga berusaha menghubungi dokter.
Kejadian ini menarik perhatian beberapa pasien. Mereka bahkan menatap iba Eliza dan bayinya yang dibungkus dengan kantong plastik besar dan hanya melubangi bagian wajahnya saja.
"Sus, bagaimana keadaan bayi saya?"Eliza menangis tiada henti. Bahkan wanita itu tidak merasakan kakinya yang terasa amat sakit.
"Sebentar ya Bu, dokter akan segera datang," kata perawat itu sambil memandang tubuh Eliza yang sudah basah kuyup dengan bibir yang membiru. Tak lama, seorang dokter laki-laki akhirnya masuk dan memeriksa kondisi bayi yang sudah tidak sadarkan diri.Dia terkejut kala merasakan telapak kaki dan tangan anak Eliza itu yang sudah terasa dingin.
"Pasang infus dan pasang oksigen," perintahnya cepat. Cairan obat melalui selang infus terpasang.Anehnya, raut wajah sang dokter tampak tak puas.
"Hubungi dokter Risky," titah dokter muda tersebut pada sang perawat yang menahan ekspresinya.
Keduanya tahu kondisi bayi sudah sangat kritis. Mereka harus menyerahkan bayi tersebut ke dokter spesialis anak.
"Dok, anak, saya baik-baik saja, kan?" Seolah merasakan keanehan, Eliza bertanya.
Namun, dokter itu menjawab dengan wajah tenang, "Kita tunggu dokter anaknya datang."
Hanya saja, dokter itu terkejut ketika menyadari kondisi ibu pasien yang baru ditangani.
"Ke sini naik apa, Bu?"
"Saya jalan kaki dok," jawab Eliza.
Dahi dokter itu berkerut saat mendengar jawaban ibu muda tersebut. "Di mana lokasi rumah Anda?"
Seketika, Eliza menjelaskan tempat tinggalnya kepada dokter muda yang sedang fokus memeriksa kondisi bayinya. Dokter itu hanya tercengang mendengar keterangan dari ibu pasien.
"Jika kondisi anak Anda seperti ini, mengapa tidak pesan taksi secara online?"
Pertanyaan itu jelas membuat Eliza menangis. "Saya tidak bisa menghubungi taksi secara online."
"Apa Anda kehabisan paket internet?" Dokter itu kembali bertanya. Selain rasa penasaran, hal ini juga untuk menenangkan si ibu yang tampak sangat panik. Setidaknya mengobrol seperti ini, si ibu bisa sedikit tenang.
Alih-alih menjawab, Eliza mengeluarkan sesuatu dari dalam saku rok yang di pakainya.
Dokter itu memperhatikan apa yang sedang di pegang wanita tersebut. Keningnya berkerut saat melihat wanita itu mengeluarkan dompet dan ponsel dari dalam kantong plastik.
"Saya tidak punya aplikasinya dok, karena handphone ini tidak bisa mendownload."
Ponsel jadul itu membuat sang dokter terkejut. Saat zaman yang sudah semakin canggih namun wanita itu terlihat begitu menyedihkan dan udik hingga tidak memiliki handphone Android. Padahal manfaat handphone itu sangatlah banyak dan penting. Namun, semua itu ditahannya.
"Ayah bayinya mana?"
Kini, seorang perawat yang penasaran ikut bertanya.
"Saya tidak tahu," jawab Eliza kembali. Ya, sudah 4 hari suaminya tidak pulang. Bahkan, pria itu tidak pernah membalas pesan yang dikirim Eliza, termasuk permohonannya tadi.
Dokter muda itu hanya diam memandang Eliza.
Namun, tatapan matanya berpindah ke arah kaki wanita tersebut. Seketika dia membelalak. Segera dia memerintahkan sang perawat untuk memeriksa.
Sayangnya, Eliza menolak. "Saya tidak apa-apa dok, tolong selamatkan anak saya."
"Anak ibu dalam penanganan, sebaiknya ibu duduk agar kondisi kaki ibu dilihat dan diobati," jelas dokter tersebut.
"Kaki saya tidak apa-apa Dok, saya hanya terinjak paku."
Lagi, Eliza menolak. Sebenarnya, dia takut uang yang dimilikinya tidak cukup untuk biaya berobat putranya karena harus membayar uang pengobatan kakinya.
"Saya akan periksa Bu," ucap perawat tersebut yang memaksa Eliza untuk duduk di atas tempat tidur yang berada di samping bayi Eliza.
Eliza akhirnya hanya diam dan menurut. Dia duduk di atas tempat tidur dan membiarkan perawat memeriksa kakinya yang terasa sakit dan berdenyut nyeri.
"Dok ini pakunya masih ada yang menempel di kaki dan gak bisa dicabut."
Dokter itu lantas mendekati Eliza dan melihat paku yang menancap di kaki wanita tersebut.
Melihat ini saja, dokter itu sudah merinding. Dia tahu seperti apa rasa sakit yang dialami oleh wanita tersebut. Bahkan kakinya sudah membiru. Dengan kondisi kaki yang seperti ini ibu muda itu tetap bisa sampai ke rumah sakit membawa anaknya, sungguh sangat menyedihkan.
Setelah melakukan tindakan terhadap bayi, dokter itu kemudian berpindah kepada ibu muda yang berwajib pucat dengan bibir biru, serta tubuh menggigil kedinginan. Dokter itu merasa prihatin ketika melihat kondisi bayi berserta ibunya.
Disuntik biusnya kaki Eliza. Setelah memastikan bius itu bekerja, dokter muda itu mencabut paku dengan memakai alat semacam tang.
"Pakunya panjang sekali, ini juga paku berkarat."
Dokter itu menunjukkan paku yang dilumuri cairan berwarna merah tersebut.
Setelah paku dicabut, barulah darah mengalir dari kaki yang berlubang.
Namun, Eliza hanya diam memandang paku di tangan dokter itu. Kepalanya dipenuhi sang putra.
Di saat yang sama, seorang dokter tampak masuk ke dalam ruang UGD. "Apa ini bayinya?"
"Iya dok," jawab perawat.
Dokter itu segera melihat catatan pasien dan kemudian memeriksa detak jantung bayi.
Terdengar helaan nafas pelan dari bibir dokter tersebut. "Langsung masukkan ke ruang NICU."
Deg!
Mendengar perkataan dokter itu, membuat jantung Eliza berdetak semakin cepat. "Bagaimana kondisi bayi saya dok?" tanyanya dengan bibir yang bergetar.
"Sebaiknya ibu banyak berdoa," ucap si dokter yang kemudian pergi meninggalkan ruangan.
Eliza yang baru diobati, seketika berjalan dengan dengan cepat mengikuti dokter yang menangani bayinya. Wanita itu menghentikan langkah kakinya.
Namun, seorang perawat menghentikannya di depan ruang NICU. "Mohon tunggu di sini dulu Bu."
"Tapi anak saya?" Eliza menangis sambil menutup mulutnya.
"Ibu harap tunggu di sini, agar dokter bisa menangani dengan baik."
Setelah mengatakan itu, sang perawat kemudian masuk ke dalam ruangan.
Eliza hanya diam dan memandang pintu yang tertutup dengan rapat. Dia ingin mengintip kedalam namun sayangnya tidak ada celah untuk mengintip.
Cukup lama Eliza menunggu dokter keluar dari dalam ruangan NICU. Dia sudah tidak sabar untuk mengetahui kondisi bayinya. Ada rasa lega ketika melihat dokter keluar dari dalam ruangan. Dia berharap dokter memberikan kabar baik untuknya.
Hanya saja, harapannya tak terkabul.
Begitu sang dokter keluar, dia mengumumkan kabar yang membuat Eliza terpukul.
"Kondisi bayi ibu kritis. Dan bayi sudah tidak sadarkan diri sejak 2 jam yang lalu," jelasnya.
Bugh!
Seketika Eliza limbung dan terjatuh ke belakang. Bersyukur dokter Rizki dengan sigap menangkap tubuh kurus si wanita.
"Dokter, tolong selamatkan anak saya dok. Saya tidak ingin jika sampai anak saya meninggal." Eliza menangis dan meremas tangan dokter laki-laki tersebut.
Kondisi Eliza yang seperti ini membuat dokter Rizki tidak tega untuk memberitahukan kondisi bayi malang tersebut.
"Kami akan mengusahakan yang terbaik. Di mana ayahnya? Saya ingin berbicara dengan beliau," ucap pria di depan Eliza itu kembali.
"Dia tak bisa dihubungi, Dok."
Dokter Rizki mengerutkan kening. Dia hendak bertanya, tetapi seorang perawat tiba-tiba keluar NICU dengan panik.
"Dokter kondisi pasien semakin kritis!"
CORINE:“What happened? Can you discuss here what really happened? Well, we are all disappointed that we couldn’t cover it—” -reposter.“I- I prefer not to answer that.” Mabilis na pagtanggi ni Garett. He was also flustered with the question; Corine could tell by his expression. Halatang walang balak itong i-share ang private life nito.“Oh, come on, Mr.—”“Okay- Okay. The scene here is getting intense! Isn’t it? Thank you for the question, but it is not the time for chismis, mga kaibigan. We are now going to proceed with the contract signing.” Pigil naman ng host ng event upang madistract ang ibang reporters. \Para lang siyang nanonood ng TV habang kinikilatis ang mga expression sa mukha ni Garett.Shhh! Coco!” It took her seconds to be distracted when familiar whispers were spreading in her ears. “Coco!”Kaagad niyang hinanap ang tumatawag sa kanya. Walang iba kundi ang kanyang boss. Her boss waved at her, signaling her to come near her. Kaagad siyang lumapit sa kanayng Boss Kathy.“
CORINE:Corine’s heart was throbbing abnormally every time she glanced at the front of the well-customized stage. Masakit man sa mata ang mga makikinang ng flash ng camera at nakakabinggit na ingay ng mga nagtatanong na reporter, tila naging musika iyon sa kanyang pandinig. She was hugging the blue folder that Kathy had given after Garett, and she came out of the conference room.She couldn’t take the nervousness she was feeling when she glanced again at the front. Garett has been sitting there at the long table that they had prepared for him. Nakakunot ang noo nito, ngunit kita niya ang pagpipigil ng emosyon nito. The typical Garett that she met ang kanyang nakikita. Hindi naman ito nakasimangot, ngunit hindi rin nakangiti. May host itong katabi na tilang tuwang-tuwa habang binabato siya ng mga tanong upang ma-entertain ang mga reporters. Binaling niya ang tingin sa gilid ng cameraman kung saan nakapuwesto ang kanyang boss na si Kathy. Sing lapad din ng ngiti ang nakagawad dito haba
MAGPAPAMINI RAFFLE PO TAYO FOR TODAY. Prize: The winner will win small top-up coins (100) SAGUTIN LAMANG ANG TANONG AT BASAHIN ANG MECHANICS SA EFBI PAGE Follow: Oautkuforever12 and answer it right away! (bawal po ang link dito kaya imano-mano ang paghanap ng page) MINI RAFFLE PALANG PO ITO. SEE YOU IN MY PAGE SAMMIES
GARETT:Nagpatiuna si Garett sa loob ng conference room habang nakapamulsa sa kanyang slack pants. He unbuttoned his first coat’s two buttons as he sat in the chair placed in front of the glass conference table. He waited for the woman to close the door and walked across him.“I am honored to welcome you to my humble office, Mr. Aragon- ““Come on, let’s not do a little chitchat here, Ms. Katherine Delgado, alam kong alam mo kung sino talaga ako. You played your card well.” He smirked as he stared meaningfully at the middle-aged woman. Nakita niya na naismid nito at kunwaring natawa. Umiling ito na parang nagtataka. “I don’t know what you are talking about, Sir.” Maanga-maangan pa nito.“Such a smart move to force one of your staff to invade my privacy just to achieve your personal desire. “ Walang filtered na sambit niya rito.Tumikhim ito at napatiklop ng isang palad. Sumandal ito sa pader, tila nag-iisip at ngumingiti, na tila inosente.“Alright, you got me there. Yes, I am clever
GARETT: “Just put it on my tab.” Utos niya sa dalagang kasabay niyang lumabas sa fitting room upang sabihin na i-wrap na ang mga napiling mga damit.“Sir, where do you want to deliver it?” Agad nitong tanong habang nakasunod sa kanya papalabas.“At the penthouse.” Ngunit ang atensyon niya ay wala s
CORINE: “Ahhhhh— Ah!...Ah…Ahhh. Wow, Ang ganda?” Mula sa maingay na pagsigaw ng hilahin siya si Corine ni Garett ng tuloy-tuloy hanggang sa maigaya siya sa naghihintay na isa malaking double swing door. Muli ay nakakita na naman siya ng dalawang nakaunipormeng babae na katulad na nasa front deskt.
GARETT: Two hours ago…“What are you doing here, fucker?” Garett got a regular greeting from his brother, Gunner, when he saw him hanging out on the balcony. He spent his night at their penthouse. This was the place where they usually hung out. The four of them had their own rooms here in case the
CORINE: Hindi nakapagtimping inirapan ni Corine si Garett sa lumabas sa bibig na matabil nito. Tila natauhan naman si Garett na naisabulas iyon ay pagkwa’t napakisap mata.He composed himself again and brush off his neck. Eksaktong bumukas naman ang elevator na kanilang pinanggalingan. Muling bumat












Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.