Mag-log inAviena Carrinuevo, a famous celebrity. A star that always shines through the darkest night. The star that everyone likes but what happens when the star started to dim? When her career started to turn upside down because of one scandal, her sister slash manager made her marry the hot billionaire that has the power to control the industry she’s in.
view more"Gimana kalau gue yang pilihin lo cewek buat ditidurin?"
Pria berperawakan kebapakan itu melirik pemuda yang duduk di sampingnya. Menaik-naikkan kedua alisnya. Begitu percaya diri kalau pemuda itu pasti akan menerima tawarannya. Suaranya terdengar tenggelam-timbul karena ditelan ribut suara musik yang mengentak sejak tadi, mengiringi para pengunjung yang berjoget ria.
Lawan bicara pria itu hanya tersenyum miring selepas dari bersiul-siul kecil, menggoda cewek seksi yang lewat di hadapannya barusan, lalu mendelik ke arah pria itu. "Tapi gue nggak separah itu," jawabnya kemudian. "Kalau lo mau silakan aja. Jangan ajak-ajak gue." Lantas tatapannya terfokus pada cewek yang berjoget di dance floor di depan sana, hanya mengenakan tengtop dan celana dalam. Sungguh pemandangan yang menyegarkan mata.
"Nggak ada salahnya kan mencoba hal-hal baru?" Pria itu lalu mengisap rokok yang sudah mengecil. Pria itu tidak tersinggung dengan perkataan lawan bicaranya barusan dan masih berusaha mempengaruhi.
Barusan dia bertanya pada pemuda itu apakah tertarik untuk meniduri cewek-cewek yang digodanya itu. Namun, pemuda itu tidak tertarik, hingga pria itu bertanya demikian.
Pemuda bernama Atala Putra Sudiharto itu diam saja, rahangnya mengeras menahan amarah. Saat dia melempar pandang ke kiri, dilihatnya perempuan cantik yang mengenakan dress ketat merah tanpa lengan mendekat ke arahnya.
Atala lalu menatap Galang, nama pria yang sejak tadi bicara padanya. "Ada Rani, jangan ngomong macam-macam yang buat dia cemburu."
Galang malah tertawa santai memukul pelan bahu Atala. "Serius amat lo." Lalu menenggak minuman beralkoholnya yang tinggal setengah.
"Lama nggak nunggunya, Sayang?" tanya Rani seraya duduk di sebelah Atala. Gadis itu baru balik dari toilet.
Atala tersenyum. "Nggak kok, Sayang."
Atala dan Rani memang sepasang kekasih yang senang bermain di club malam. Namun, kali ini mereka tidak minum. Rani lebih suka menikmati aneka minuman buah yang tersedia di sana. Kecuali jika dia sedang frustrasi dengan masalah hidupnya. Sedangkan Atala senang bermain kemari karena di sini ada banyak cewek cantik dan seksi, dia senang melihatnya, sebagai vitamin A untuk matanya. Di club malam ini pula mereka bertemu.
"Gimana, Sayang, udah mau pulang sekarang?" tanya Atala memperhatikan pacarnya. Dia memang ingin segera pulang untuk menghindari Galang. Waktu mereka datang ke mari, mereka tak sengaja bertemu Galang yang juga senang menghabiskan waktu di sana. "Aku udah bayar semua pesanan kamu." Dia lalu merangkul bahu gadis itu dan menciumi pipinya singkat, sengaja memamerkan kemesraan di depan Galang.
Sang gadis tersenyum malu. "Boleh, yuk."
Atala pamit pada Galang. "Gue pulang dulu, ya, Bro. Makasih udah nemenin ngobrol tadi."
"Oke." Galang hanya mengangkat jempolnya.
Kedua sejoli itu keluar club sambil bergandengan tangan.
Atala bernapas lega saat dia membukakan gadisnya pintu mobil, berhasil menghindari pria yang bernama Galang itu. Jujur, dia tidak suka dengan pria itu, entah kenapa dia merasa pria itu selalu berusaha mempengaruhi hal-hal buruk padanya, bahkan sejak pertama kali mereka berkenalan. Atala bahkan tidak menyangka bertemu pria itu juga di sana.
***
"Sayang, abis ini kita ke Mall, yah," pinta Rani kala mereka sudah berada di mobil menuju perjalanan pulang.
Atala menoleh heran. "Loh bukannya tadi mau langsung pulang aja, Sayang? Lagian kan ini udah malam. Besok aja ke Mall nya."
Rani cemberut. "Besok aku takut nggak ada waktu, Sayang. Lagian kan ini baru jam dua belas lewat kok, Mall nya juga masih buka. Belum malam-malam banget, lah. Aku mau kamu beliin tas yang aku taksir kemarin itu lhoo ...."
Atala menghela napas. "Iya, deh, Sayang."
Lelaki itu sebenarnya merasa aneh. Tiap kali berdua dengannya, tiap kali berhubungan dengannya, pembahasan Rani tak jauh-jauh dari belanja, barang-barang branded, minta beli ini dan itu. Kadang kala Atala merasa Rani memacarinya karena harta, bukan cinta.
Tapi sebenarnya pun dia tak masalah, toh dia mampu.
Tiba-tiba ponsel Atala di atas dashboard berbunyi nyaring. Dengan malas-malasan lelaki itu meraihnya. "Siapa sih nelepon jam segini." Tak pernah ada yang berani mengganggunya malam-malam begini, sekalipun itu sahabatnya, kecuali ....
Lelaki itu membelalak kala melihat kata 'Papa' terpampang di layar ponsel.
Jempolnya pun mengusap layar ponsel lalu menempelkan benda pipih itu di telinga. "Iya, Pa, ada apa?" tanyanya lebih dulu sambil fokus menyetir.
Rani menoleh mendengarnya.
Atala mengernyit. "Apa, Pa? Ke rumah sakit? Harus malam ini juga, Pa?"
Jeda sejenak.
Atala menghela napas. "Iya, deh, Pa. Aku ke sana sekarang."
Atala kembali meletakkan ponselnya ke tempat semula lalu menoleh pada Rani. Bersamaan dengan gadis itu yang memutar bola matanya malas. Dia sudah tahu apa yang akan pacarnya itu katakan.
"Sayang, maaf malam ini kita nggak bisa ke Mall, deh. Papa aku nyuruh aku ke rumah sakit sekarang juga."
"Ngapain sih ke rumah sakit? Emang siapa yang sakit?" tanya Rani tak suka.
"Nggak tahu. Tadi Papa cuman bilang mau ngomong masalah keluarga, penting banget."
"Jadi kamu mau ke rumah sakit sekarang dan batalin rencana kita?"
"Iyalah, Sayang. Ini penting banget. Papa nanti marah sama aku kalau aku nggak ikutin apa kata dia."
Rani hanya memutar bola matanya malas, lagi dan lagi. 'dasar bocah ingusan, anak manja' batinnya. Rani memang lebih dewasa dari Atala, usia gadis itu empat tahun lebih tua dari lelaki itu.
"Kamu nggak keberatan kan, Sayang, kalau kita batal ke Mall nya?" tanya Atala lagi membuyarkan lamunan Rani.
Rani memaksakan senyum palsu. Dia harus bersabar. "Enggak, kok. Iya aku tahu Papa kamu lebih penting dari apa pun." Rani tahu selama ini Atala membiayainya dari uang papanya juga. Karena lelaki itu kini hanyalah seorang anak yang baru lulus SMA dan pengangguran. Rani hanya takut kalau Atala sampai membuat papanya marah, nanti papanya tidak akan kasih uang yang banyak lagi buat Atala. Hal itu pasti juga berimbas pada dirinya nanti. Maka, dengan terpaksa Rani mengizinkan.
"Oke, aku sayang kamu." Atala mengusap puncak kepala Rani.
Ponsel Rani yang sejak tadi digenggamannya terlepas di bawah kaki Atala. Gadis itu menjerit tertahan. "Sayang ambilin handphone aku."
Sambil tetap menyetir, Atala agak membungkuk, tangannya mencoba meraba-raba di sekitar kakinya. Ponsel itu tak kunjung ketemu juga. Sampai Atala mencoba menunduk untuk melihat keberadaan ponsel itu. Namun tiba-tiba ...
"Awas, Sayang!"
Tubuh Atala pun menegak. Seorang perempuan tampak mencegatnya di depan sana. Dia nyaris menabrak orang itu seandainya dia tidak cepat memijak rem. Mobil itu pun berhenti tepat di depan perempuan itu seiring dengan jantung Atala berdebar kencang.
"Sial, mau cari mati apa ya tuh orang!" kesal Atala yang lantas turun dari mobilnya. "Hei, lo mau cari mati, ya?!"
Dan Atala lebih terkejut saat mengenali siapa orang itu. "Elo?"
***
River’s POV “Aviena na, naging bato pa,” natatawang saad ni Kuya Spring nang makita niya akong abala sa aking phone. Malapad ang kaniyan ngisi habang pinapanood akong pinagmamasdan ang bawat litrato ni Aviena sa ilang brand abroad. “You bought a lot of magazine again? Anong gagawin mo riyan?” tanong ng pakialamero kong Kuya. I don’t know either. I just like seeing her face. I just want an update from her. She was enjoying her life in Amsterdam. I told myself that I’ll just let her for now. But once she came back to the Philippines, I won’t ever let her go. Kaya lang, hindi ko rin matiis na hindi ito bisitahin kaya naman pasimpleng nagtutungo sa Amsterdam once a year. Pasimpleng tinitignan lang siya. Just like how I’ve been admiring her in the past. Akala ko’y kontento na ako sa ganoon-ganoon lang but I want to fucking wake up in the morning again to see her. I want to live with her again. I was busy with some papers when Marissa called. Walang gana ko namang sinagot ang tawag nito
River's POV“Damn, Man, you’re so whipped. Hindi na ako magtataka kapag natakot na si Aviena,” mapang-asar na saad sa akin ni Lake. Sinundan ko lang ng tingin si Aviena na siyang dire-diretso lang sa pagtungo sa aming room. “Malusaw ‘yan,” ani Pride na ngayon ko lang ata narinig magsalita ngayong magkakasama kami. Ni hindi ko nga alam kung saan nagsususuot ang kumag dahil bigla-bigla na lang ding nawawala. “You all should shut up and just fucking drink nang matapos na tayo rito,” inis kong saad sa mga ito. Nagsitawanan naman ang mga kupal samantalang kami nina Demon ay gustong-gusto na ring pumasok sa aming mga villa. This asshole wants to drink more. Sige, magpasira ng atay. Gusto ko nang pumasok at matulog katabi si Aviena. Can’t you believe it? She’s saying that we don’t even sleep in one bed. So she doesn’t really care if I sleep beside her at all.Napailing na lang ako roon. Patapos na kami nang tinawag ako ni Ocean.“Kuya!” natataranta niyang saad kaya pinagkunutan ko siya n
River’s POV“Boss, hindi ka pa uuwi?” tanong ng secretary kong hindi magawang umuwi dahil inaabala ko pa ang sarili sa trabaho. “Go home. I won’t be going home yet,” ani ko. Nag-aalinlangan naman ‘tong napatingin sa akin kaya pinagtabuyan ko lang siya. Sinusubukan kong na lang sa aking trabaho but I still can’t believe that Aviena is actually living in my house. Napapikit na lang din ako sa ideyang nasa bahay lang ‘to ngayon.Just like what I said I won’t meddle with anything about her. I won’t make her uncomfortable. I would like her to just treat me as a stranger just like usual because I feel like I will really want to stay with her kapag nagpatuloy pa ang nararamdaman ko sa kaniya. If I can even do it, I won’t talk to her at all. “Boss, your sister came here. May nilagay atang litrato sa kwarto niyo. Pang takot daw sa daga.” Napakamot pa si Veron na parang naguguluhan kay Ocean.Nailing na lang ako dahil tawag nang tawag si Ocean, nagtatanong kung talagang kinasal ako sa hindi
River’s POVKulang na lang ay tumalon ito sa tuwa. She even ask for money for some of Aviena’s debt which I also give her. “I want the wedding to be immediately process,” seryoso kong saad. I want to end it fast, especially since her sister seems like have a lot of lists to marry Aviena off. “Tell her that I’ll only marry her for the sake of my grandfather,” malamig ko pang saad. Damn it. How can I fucking act like a lovesick guy?That’s how we ended our conversation. “The fucking asshole came there?” kunot noo kong tanong kay Marissa nang madulas siya tungkol sa pagpunta ng ex niyang gago sa ibang bansa kung nasaan siya ngayon. Napatikhim siya roon. She’s actually abused by her boyfriend kaya napili na lang tumira sa magulang niya subalit bandang huli’y hindi pa rin siya magawang tantatanan nang magaling niyang ex. “Let’s not talk about him at all,” aniya na humalakhak pa. She even grinned at me. “So what’s Kuya Spring talking about? You’re going to marry Aviena?” tanong niya na
Aviena’s POV“Yup. After Mama’s work, I’ll come home immediately. Mamasyal tayo,” ani ko kay Camillia na siyang agad na napatango sa akin. We’re back in Amsterdam, umuwi rin kami agad. Nagagalit nga si Ocean dahil ipakikilala ko rin naman daw si Camillia sa ama, pinatatagal ko pa. Tama rin naman tala
Chapter 22 Aviena’s POV “Ulol, bestfriends with benefits ba yarn?” Napatawa pa ako nang mahina roon kaya agad niya akong nilingon. Agad kong nakita ang ngiwi sa kaniyang mga labi. “That idiot just wants to annoy you but it’s not effective at all,” aniya na naiiling pa. “You can ask Marissa if you wa
Chapter 21Aviena’s POV
Chapter 9 Aviena’s POV Pinagtaasan ko lang ng kilay si River nang mapunta sa akin ang kaniyang mga mata niya. Ibinalik ko lang din ang tingin sa mag-fiance. Bakit nga ba ako sumusulyap kay River? Why? Do I expect him to propose to me like that when the thing is we’re just both playing. Bago pa mahal












Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.
Rebyu