Home / Romansa / ASAL KAU BAHAGIA / Bab 4 - Akan Selalu Menunggu

Share

Bab 4 - Akan Selalu Menunggu

last update Last Updated: 2026-01-27 19:19:43

Satu minggu pertama yang Nayla lalui di rumah Farid tak ia pungkiri terasa sangat menyenangkan. Sarapan selalu tersedia setiap pagi dengan menu yang berganti-ganti. Bahkan, dua hari terakhir, Bu Baidah salah satu asisten rumah tangga yang paling tua, sengaja bertanya apa yang Nayla ingin makan agar dapat beliau jadikan alternatif hidangan. Tidak perlu mencuci piring, menyapu rumah, mencuci dan menjemur pakaian karena ada Suri yang setiap hari mengerjakan.

Farid telah mengisi ruangan kosong di lantai tiga itu sesuai permintaan Nayla. Hanya saja Farid cuma membelikan sebuah lemari kecil untuknya, dengan alasan untuk menghindarkan kecurigaan penghuni rumah yang lain jika tak sengaja memergoki mereka berpisah kamar. Barang-barang Nayla tetap ditempatkan di kamar Farid. Hanya beberapa yang ia pindahkan seperlunya saat akan tidur malam hari.

Atas kesepakatan bersama, Nayla setuju untuk sesekali istirahat siang di kamar Farid. Lelaki itu berargumen agar pernikahan mereka tampak normal di mata semua orang. Sembari berkelakar, Farid mengatakan siapa tahu Nayla lama-kelamaan akan tertarik untuk berbagi kamar dengannya.

Sejak pagi, sebenarnya Nayla berniat datang ke kampusnya hari ini, tetapi sisa lukisan inai yang masih tercetak jelas di jemarinya memancing ragu. Tidak ada seorang teman pun yang ia undang untuk hadir pada acara syukuran pernikahannya dengan Farid. Sahabat, Nayla hampir tidak punya. Bayu telah mendominasi hari-harinya semenjak awal sehingga Nayla hampir tidak pernah dekat dengan siapa pun kecuali Nara sang adik.

Nayla masih ingat jelas saat ia dengan sangat terpaksa harus berbohong demi memutuskan hubungannya dengan Bayu. Tidak pernah sepanjang mereka bersama Nayla melihat Bayu semarah itu. Permintaan maaf Nayla Bayu sanggah berkali-kali. Pemuda itu terus menerus meminta agar Nayla memberinya kesempatan untuk bertemu dengan kedua orang tua kekasihnya itu. Bayu menilai alasan yang diajukan Nayla bahwa hubungan mereka tidak direstui sangat terdengar tidak masuk akal. Bagaimana akan merestui jika bertemu saja tidak pernah? Dikenalkan juga tidak pernah.

Dalam amarahnya Bayu menuduh Nayla menyembunyikan sesuatu. Bayu menuduh Nayla berselingkuh. Nayla membiarkan semua prasangka Bayu tanpa berusaha membela diri.

Nayla membuka kembali ruang percakapan di ponselnya dengan Bayu. Foto profil pemuda itu sudah tidak terlihat. Pertanda bahwa Bayu tidak lagi ingin berhubungan via apa pun dengannya. Pesan terakhir yang Nayla kirim tertanggal dua bulan lalu hanya berstatus terkirim tanpa dibaca. Nayla hanya sekadar ingin meminta maaf dan meyakinkan diri bahwa Bayu telah memaafkannya.

Hanya itu, agar Bayu bisa melanjutkan hidup meski harus tanpanya.

***

Makan malam kali ini juga sesepi biasanya. Padahal menunya enak, disusun rapi oleh Bu Baidah sampai-sampai Nayla segan untuk menjadi orang pertama yang akan mengobrak-abrik tatanan hidangan itu. Farid belum pulang. Para asisten rumah tangga sudah terbiasa makan di meja yang terletak di dapur. Sehingga tidak ada orang selain Nayla yang akan makan jika Farid pulang telat.

Pernah Nayla bertanya pada Suri, bagaimana nasib hidangan itu andai Farid pulang larut. Menurut Suri, sebelum Nayla tinggal bersama mereka, ia akan bangun setiap jam dua belas malam untuk menyimpan semuanya dalam lemari pendingin. Keesokan hari Bu Baidah yang akan mengatur mau dikemanakan semuanya. Seringnya dibagikan pada warga yang membutuhkan di kampung belakang komplek perumahan.

Sudah pukul setengah delapan malam saat Nayla masih duduk sendiri di meja makan dengan posisi piring masih menelungkup. Tiba-tiba ia merindukan meja makannya di rumah Mama, yang meskipun di atasnya hanya terhidang dua atau tiga menu, tetapi jarang sekali membuat Nayla tidak berselera. Sekeliling meja selalu riuh dengan obrolan ala perempuan bertiga Mama dan Nara. Biasanya Papa hanya tersenyum, atau tertawa untuk menanggapi. Sayang, semuanya mulai sirna saat pengumuman perjodohannya dengan Farid. Nayla kerap menghindar duduk di satu meja dengan Papa. Ia memilih mengambil hidangan dalam satu piring dan menghabiskan di dalam kamar. Tak jarang Nayla membeli makanan di luar, agar saat tiba di rumah ia dapat langsung masuk ke dalam kamar tanpa harus bertemu Papa.

Nayla melirik jam dinding di depannya. Bahkan sudah lewat setengah jam sejak ia mulai melamun. Sambil menghela nafas ia mulai mengisi piringnya. Mengapa ia harus menunggu Farid pulang? Bukankah seminggu ini ia juga selalu makan sendirian dan selalu menghindari lelaki itu?

Baru habis dua suapan saat Nayla memutuskan lebih baik ia boyong saja piring itu ke lantai tiga. Ia bisa makan sambil menonton televisi dengan kaki bersila di atas sofa. Itu jauh lebih baik dari pada makan sambil termenung di meja yang terlalu lebar seperti ini.

Kaki Nayla baru menapak di anak tangga ke tujuh saat mendengar namanya dipanggil. Farid telah berdiri di tengah ruangan saat Nayla menoleh ke bawah. Entah sejak kapan lelaki itu pulang. Mungkin karena terlalu asyik melamun, Nayla tidak mendengar suara mobil datang.

“Piringnya mau dibawa ke mana?” Farid berjalan mendekat sampai ujung anak tangga. “Kenapa tidak makan di bawah?”

“Sepi kalau makannya sendirian,” sahut Nayla tanpa berniat berbalik arah.

“Mari aku temani.” Farid menumpukan tangannya pada pegangan tangga dengan wajah menengadah. “Aku sengaja tidak makan di kantor supaya bisa bareng kamu.”

Nayla melangkah turun saat Farid mengulang isyarat. Meski enggan, ia terpaksa duduk saat Farid menarik kursi untuknya. Lelaki itu kemudian mengambil tempat di samping Nayla, membalik piring dan menyendok nasi. Nayla seketika merasa malu dengan isi piringnya sendiri. Jika tahu akan makan berdua Farid, ia tidak akan mengambil lauk sebanyak itu sehingga terlihat sangat bertumpuk.

“Mulai besok tidak perlu menyuruh Bu Baidah menghidang seperti ini jika yang makan hanya kita berdua.” Nayla menyindir. “Aku bisa ambil sendiri di dapur.”

Farid menggedik bahunya. “Tergantung kamu, Nay. Kamu nyonya rumahnya. Mereka semua wajib tunduk sama kamu.”

Pipi Nayla menghangat saat mendengar Farid menjawab begitu. Dengan jengah ia menunduk saat Farid ternyata tengah melirik padanya.

“Maksudku, sayang sekali jika setiap hari makanan ini disusun rapi tetapi tidak ada yang menyentuh.” Nayla memberi penjelasan tambahan.

“Sebenarnya tidak setiap hari aku pulang malam seperti ini.” Farid menyangkal kerisauan Nayla. “Terkadang ada saat aku bahkan tidak harus pergi ke kantor sama sekali. Seminggu ini aku sengaja lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah untuk memberi kamu ruang.”

Nada suara Farid terdengar sedikit mengiba dan putus asa. Nayla cukup tahu diri. Hampir satu bulan mereka bersama, tetapi hubungannya dengan Farid hanya seperti sebatas teman. Lelaki itu bukan tidak berusaha. Bahkan terlalu penyabar untuk ukuran seorang lelaki berkuasa keturunan Al-Amar.

“Rumah ini rumah kamu juga, Nay. Mulailah nyamankan diri kamu di sini, dengan isinya, dengan semua yang tinggal di dalamnya,” sambung Farid saat Nayla memilih tidak mengucapkan apa-apa. “Termasuk denganku, tapi jangan khawatir karena aku bisa menunggu.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • ASAL KAU BAHAGIA    Bab 5 - Baik-Baik Saja

    Selain pertandingan sepak bola, bangun pagi adalah hal yang paling ditunggu oleh seorang Bayu Anggara. Mesti tidak langsung bangun saat adzan berkumandang, tetapi Bayu tidak pernah melaksanakan salat subuh saat hari sudah terang. Terkadang ia bangun sendiri, terkadang Bunda yang harus mengetuk pintu kamarnya berkali-kali sampai terdengar jawaban dari dalam. Setelah salat,Bayu pantang tidur lagi. Baginya, suasana pagi terlalu indah jika dilewati begitu saja.Ada banyak hal yang sudah mengantre untuk dilakukan Bayu di pagi hari. Memeriksa kelayakan motor Bunda sebelum berangkat ke kantor sudah menjadi tugasnya semenjak Ayah wafat. Yang pertama ia pastikan adalah kondisi bensin motor Bunda apakah cukup untuk berkendara ke kantor, karena jarum penunjuk status bahan bakarnya sudah tidak lagi berfungsi. Jika diperkirakan kurang, maka Bayu akan pergi sebentar ke pom mini di ujung jalan untuk mengisi penuh tangkinya. Kondisi ban tak luput diperhatikan. Rem apakah bekerja dengan baik, juga lam

  • ASAL KAU BAHAGIA    Bab 4 - Akan Selalu Menunggu

    Satu minggu pertama yang Nayla lalui di rumah Farid tak ia pungkiri terasa sangat menyenangkan. Sarapan selalu tersedia setiap pagi dengan menu yang berganti-ganti. Bahkan, dua hari terakhir, Bu Baidah salah satu asisten rumah tangga yang paling tua, sengaja bertanya apa yang Nayla ingin makan agar dapat beliau jadikan alternatif hidangan. Tidak perlu mencuci piring, menyapu rumah, mencuci dan menjemur pakaian karena ada Suri yang setiap hari mengerjakan.Farid telah mengisi ruangan kosong di lantai tiga itu sesuai permintaan Nayla. Hanya saja Farid cuma membelikan sebuah lemari kecil untuknya, dengan alasan untuk menghindarkan kecurigaan penghuni rumah yang lain jika tak sengaja memergoki mereka berpisah kamar. Barang-barang Nayla tetap ditempatkan di kamar Farid. Hanya beberapa yang ia pindahkan seperlunya saat akan tidur malam hari.Atas kesepakatan bersama, Nayla setuju untuk sesekali istirahat siang di kamar Farid. Lelaki itu berargumen agar pernikahan mereka tampak normal di mat

  • ASAL KAU BAHAGIA    Bab 3 - Awal Mula Berjumpa

    Nayla bukan sosok baru untuk Farid. Mereka sudah mengenal sejak kecil, meskipun tidak secara resmi. Farid kerap bertemu Nayla dalam acara-acara keluarga yang dihadiri kedua belah pihak. Hanya sebatas saling tahu wajah, tanpa benar-benar dikenalkan oleh orang tua masing-masing.Abi Farid dan mama Nayla keduanya terpaut pada garis keturunan yang sama, pada Kakek Buyut Al-Amar. Bedanya orang tua Farid memilih saling dijodohkan dengan calon dari lingkar keluarga mereka, sementara mama Nayla memutuskan untuk menikahi kekasih hati yang beliau temukan sendiri. Seorang laki-laki bersuku Palembang yang bukan dari keluarga pebisnis seperti hampir semua garis keturunan Al-Amar. Atas alasan itu juga mengapa kehidupan Nayla tidak semewah saudara-saudara sepupunya yang lain. Bahkan bisa dikatakan hanya sampai taraf berkecukupan.Mungkin campuran darah Palembang itu yang membuat Farid mudah mengenali Nayla. Ia tak pernah kesulitan menemukan sosok Nayla kecil meski gadis itu sedang berkerumun di anta

  • ASAL KAU BAHAGIA    Bab 2 - Menolak Satu Ranjang

    Hari ini tepat dua puluh hari Nayla resmi menjadi istri Farid Atqan Al Amar. Dua puluh hari yang melelahkan. Setelah acara akad nikah sederhana di rumah Papa yang dilanjutkan dengan syukuran dan acara adat, dua minggu kemudian Nayla harus kembali duduk di pelaminan dalam resepsi pernikahan yang diadakan keluarga Farid di sebuah hotel milik keluarga.Seumur-umur, Nayla malah belum pernah menginjakkan kaki di tempat itu. Ia hanya sering menatap hotel tersebut dari atas boncengan motor Bayu saat berhenti di lampu merah ke arah kampus. Ia bahkan sempat mereka-reka berapa banyak gaji yang harus ia sisihkan agar setara dengan harga kamar paling mahal di hotel itu. Tentunya setelah ia dan Bayu lulus, mendapat pekerjaan, menikah, dan jika beruntung bisa menghabiskan satu hari bulan madu mereka di sana.Impian itu akhirnya terwujud. Nayla bisa menempati kamar paling mahal dengan kasur paling empuk tersebut di malam seusai resepsi. Ranjangnya yang bahkan terlalu luas hanya ia tempati sendiri, k

  • ASAL KAU BAHAGIA    Bab 1 - Bukan Pernikahan Impian

    Jika ada hari yang paling ditunggu Nayla seumur hidupnya, maka itu akan jatuh pada hari ini. Wajahnya sudah terias cantik, dengan pewarna bibir, pemoles pipi, serta coretan pensil alis. Tubuhnya telah terbalut kebaya putih bertabur batu permata yang berkerlap kerlip. Kulit punggung tangannya yang terang hampir tak terlihat karena tertutupi lukisan inai hingga ke ujung jari.Nayla mengenal cinta sejak usia belia. Umurnya belum genap dua belas tahun saat ia menyakini bahwa dirinya suatu saat akan menikah dengan tambatan hatinya. Pilihan sendiri. Meskipun sejak usia itu hingga mencapai umur dua puluh satu saat ini, entah sudah berapa laki-laki yang singgah mencuri cinta di hati Nayla. Namun, mulai setahun belakangan, perempuan itu yakin bahwa Bayu yang akan menjadi persinggahannya yang terakhir. Bayu mencintainya. Tak ada sedikit pun dari sikap pemuda itu yang tidak menunjukkan gelora cinta pada Nayla.Enam puluh menit ke depan, Nayla akan resmi menjadi seorang istri. Sesuai pesan sang p

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status