FAZER LOGINSatu minggu pertama yang Nayla lalui di rumah Farid tak ia pungkiri terasa sangat menyenangkan. Sarapan selalu tersedia setiap pagi dengan menu yang berganti-ganti. Bahkan, dua hari terakhir, Bu Baidah salah satu asisten rumah tangga yang paling tua, sengaja bertanya apa yang Nayla ingin makan agar dapat beliau jadikan alternatif hidangan. Tidak perlu mencuci piring, menyapu rumah, mencuci dan menjemur pakaian karena ada Suri yang setiap hari mengerjakan.
Farid telah mengisi ruangan kosong di lantai tiga itu sesuai permintaan Nayla. Hanya saja Farid cuma membelikan sebuah lemari kecil untuknya, dengan alasan untuk menghindarkan kecurigaan penghuni rumah yang lain jika tak sengaja memergoki mereka berpisah kamar. Barang-barang Nayla tetap ditempatkan di kamar Farid. Hanya beberapa yang ia pindahkan seperlunya saat akan tidur malam hari. Atas kesepakatan bersama, Nayla setuju untuk sesekali istirahat siang di kamar Farid. Lelaki itu berargumen agar pernikahan mereka tampak normal di mata semua orang. Sembari berkelakar, Farid mengatakan siapa tahu Nayla lama-kelamaan akan tertarik untuk berbagi kamar dengannya. Sejak pagi, sebenarnya Nayla berniat datang ke kampusnya hari ini, tetapi sisa lukisan inai yang masih tercetak jelas di jemarinya memancing ragu. Tidak ada seorang teman pun yang ia undang untuk hadir pada acara syukuran pernikahannya dengan Farid. Sahabat, Nayla hampir tidak punya. Bayu telah mendominasi hari-harinya semenjak awal sehingga Nayla hampir tidak pernah dekat dengan siapa pun kecuali Nara sang adik. Nayla masih ingat jelas saat ia dengan sangat terpaksa harus berbohong demi memutuskan hubungannya dengan Bayu. Tidak pernah sepanjang mereka bersama Nayla melihat Bayu semarah itu. Permintaan maaf Nayla Bayu sanggah berkali-kali. Pemuda itu terus menerus meminta agar Nayla memberinya kesempatan untuk bertemu dengan kedua orang tua kekasihnya itu. Bayu menilai alasan yang diajukan Nayla bahwa hubungan mereka tidak direstui sangat terdengar tidak masuk akal. Bagaimana akan merestui jika bertemu saja tidak pernah? Dikenalkan juga tidak pernah. Dalam amarahnya Bayu menuduh Nayla menyembunyikan sesuatu. Bayu menuduh Nayla berselingkuh. Nayla membiarkan semua prasangka Bayu tanpa berusaha membela diri. Nayla membuka kembali ruang percakapan di ponselnya dengan Bayu. Foto profil pemuda itu sudah tidak terlihat. Pertanda bahwa Bayu tidak lagi ingin berhubungan via apa pun dengannya. Pesan terakhir yang Nayla kirim tertanggal dua bulan lalu hanya berstatus terkirim tanpa dibaca. Nayla hanya sekadar ingin meminta maaf dan meyakinkan diri bahwa Bayu telah memaafkannya. Hanya itu, agar Bayu bisa melanjutkan hidup meski harus tanpanya. *** Makan malam kali ini juga sesepi biasanya. Padahal menunya enak, disusun rapi oleh Bu Baidah sampai-sampai Nayla segan untuk menjadi orang pertama yang akan mengobrak-abrik tatanan hidangan itu. Farid belum pulang. Para asisten rumah tangga sudah terbiasa makan di meja yang terletak di dapur. Sehingga tidak ada orang selain Nayla yang akan makan jika Farid pulang telat. Pernah Nayla bertanya pada Suri, bagaimana nasib hidangan itu andai Farid pulang larut. Menurut Suri, sebelum Nayla tinggal bersama mereka, ia akan bangun setiap jam dua belas malam untuk menyimpan semuanya dalam lemari pendingin. Keesokan hari Bu Baidah yang akan mengatur mau dikemanakan semuanya. Seringnya dibagikan pada warga yang membutuhkan di kampung belakang komplek perumahan. Sudah pukul setengah delapan malam saat Nayla masih duduk sendiri di meja makan dengan posisi piring masih menelungkup. Tiba-tiba ia merindukan meja makannya di rumah Mama, yang meskipun di atasnya hanya terhidang dua atau tiga menu, tetapi jarang sekali membuat Nayla tidak berselera. Sekeliling meja selalu riuh dengan obrolan ala perempuan bertiga Mama dan Nara. Biasanya Papa hanya tersenyum, atau tertawa untuk menanggapi. Sayang, semuanya mulai sirna saat pengumuman perjodohannya dengan Farid. Nayla kerap menghindar duduk di satu meja dengan Papa. Ia memilih mengambil hidangan dalam satu piring dan menghabiskan di dalam kamar. Tak jarang Nayla membeli makanan di luar, agar saat tiba di rumah ia dapat langsung masuk ke dalam kamar tanpa harus bertemu Papa. Nayla melirik jam dinding di depannya. Bahkan sudah lewat setengah jam sejak ia mulai melamun. Sambil menghela nafas ia mulai mengisi piringnya. Mengapa ia harus menunggu Farid pulang? Bukankah seminggu ini ia juga selalu makan sendirian dan selalu menghindari lelaki itu? Baru habis dua suapan saat Nayla memutuskan lebih baik ia boyong saja piring itu ke lantai tiga. Ia bisa makan sambil menonton televisi dengan kaki bersila di atas sofa. Itu jauh lebih baik dari pada makan sambil termenung di meja yang terlalu lebar seperti ini. Kaki Nayla baru menapak di anak tangga ke tujuh saat mendengar namanya dipanggil. Farid telah berdiri di tengah ruangan saat Nayla menoleh ke bawah. Entah sejak kapan lelaki itu pulang. Mungkin karena terlalu asyik melamun, Nayla tidak mendengar suara mobil datang. “Piringnya mau dibawa ke mana?” Farid berjalan mendekat sampai ujung anak tangga. “Kenapa tidak makan di bawah?” “Sepi kalau makannya sendirian,” sahut Nayla tanpa berniat berbalik arah. “Mari aku temani.” Farid menumpukan tangannya pada pegangan tangga dengan wajah menengadah. “Aku sengaja tidak makan di kantor supaya bisa bareng kamu.” Nayla melangkah turun saat Farid mengulang isyarat. Meski enggan, ia terpaksa duduk saat Farid menarik kursi untuknya. Lelaki itu kemudian mengambil tempat di samping Nayla, membalik piring dan menyendok nasi. Nayla seketika merasa malu dengan isi piringnya sendiri. Jika tahu akan makan berdua Farid, ia tidak akan mengambil lauk sebanyak itu sehingga terlihat sangat bertumpuk. “Mulai besok tidak perlu menyuruh Bu Baidah menghidang seperti ini jika yang makan hanya kita berdua.” Nayla menyindir. “Aku bisa ambil sendiri di dapur.” Farid menggedik bahunya. “Tergantung kamu, Nay. Kamu nyonya rumahnya. Mereka semua wajib tunduk sama kamu.” Pipi Nayla menghangat saat mendengar Farid menjawab begitu. Dengan jengah ia menunduk saat Farid ternyata tengah melirik padanya. “Maksudku, sayang sekali jika setiap hari makanan ini disusun rapi tetapi tidak ada yang menyentuh.” Nayla memberi penjelasan tambahan. “Sebenarnya tidak setiap hari aku pulang malam seperti ini.” Farid menyangkal kerisauan Nayla. “Terkadang ada saat aku bahkan tidak harus pergi ke kantor sama sekali. Seminggu ini aku sengaja lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah untuk memberi kamu ruang.” Nada suara Farid terdengar sedikit mengiba dan putus asa. Nayla cukup tahu diri. Hampir satu bulan mereka bersama, tetapi hubungannya dengan Farid hanya seperti sebatas teman. Lelaki itu bukan tidak berusaha. Bahkan terlalu penyabar untuk ukuran seorang lelaki berkuasa keturunan Al-Amar. “Rumah ini rumah kamu juga, Nay. Mulailah nyamankan diri kamu di sini, dengan isinya, dengan semua yang tinggal di dalamnya,” sambung Farid saat Nayla memilih tidak mengucapkan apa-apa. “Termasuk denganku, tapi jangan khawatir karena aku bisa menunggu.”Seminggu setelah Nayla melahirkan sepasang bayi kembar, baru hari itu Farid kembali berangkat ke kantor. Lelaki itu bekerja dari rumah seolah tak ingin meninggalkan sedetik pun Nayla dan dua buah hati mereka yang menggemaskan. Farid menelepon hampir setiap dua jam untuk memastikan Nayla dalam keadaan baik.Nayla menolak saat Farid menawarkan memakai satu lagi pengasuh bayi untuk meringankan bebannya. Padahal Bu Baidah dan Suri sudah lebih dari cukup untuk diperbantukan menurut Nayla. Namun, Farid tetap memaksa. Lelaki itu tidak ingin Nayla terlampau letih dan malah tidak merasa bahagia. Farid ingin produksi ASI Nayla melimpah untuk mencukupi kebutuhan dua bayi sekaligus.Sore itu saat Farid kembali dari bekerja, Nayla sedang duduk beristirahat di sofa. Sepasang lengannya Farid lingkarkan memeluk Nayla dari arah belakang sambil memandangi bergantian dua bayi mereka yang tidur pulas di pangkuan Nayla setelah kenyang menyusu."Aku tidak sabar menunggu Fathan besar untuk mengajarinya bere
Ternyata membuat seseorang jatuh cinta jauh lebih mudah dari pada memperjuangkan cinta itu kembali setelah hilang rasa percaya. Seperti itulah yang Farid rasakan saat ia harus bersabar menghadapi Nayla. Farid paham apa yang sang istri rasakan. Rela patah hati, lalu belajar mencintai, setelah berhasil malah merasa dikhianati, pastinya akan membuat trauma yang mendalam.Farid bersyukur saat membawa sang istri kembali ke rumahnya, Nayla tetap bersedia berada di kamar yang sama dengannya. Namun, Farid tetap menjaga sikap. Ia memberi ruang pada Nayla seperti permintaan perempuan itu saat mereka memutuskan berdamai. Nayla masih mengizinkan Farid untuk memeluknya, juga menciumnya menjelang tidur.Pernah, Farid mencoba peruntungannya setelah satu minggu mereka kembali bersama dengan pelan-pelan mencumbu Nayla. Hanya saja Nayla menolak secara halus saat Farid hendak bertindak lebih jauh. Sampai di tahap itu, Farid sadar perih hati Nayla belum benar-benar sembuh.Kerja sampai larut di ruang kan
Perasaan Farid campur aduk saat setelah selesai rapat ia melesat menuju rumah Nayla. Rasa marah mengapa Nayla dibiarkan sendiri saja di rumah tanpa pengawasan, berbaur dengan rasa bingung harus ke mana ia mencari sang istri. Ponsel Nayla tidak dapat dihubungi sama sekali. GPS Tracker yang Farid gunakan hanya dapat membaca posisi terakhir saat Nayla masih berada di rumah sesaat ia mungkin akan berangkat sebelum perempuan itu mematikan ponsel.“Kak, bagaimana kalau Nara minta bantuan Kak Bayu.” Sang adik ipar mengusulkan dengan sedikit sungkan. “Mungkin Kak Bayu tahu ke tempat mana saja Kak Nayla kira-kira pergi.”Saran yang masuk akal. Jika Nayla menolak untuk dihubungi oleh semua orang di rumah ini, kemungkinan besar ada satu orang yang ia pilih untuk berkomunikasi. Bisa jadi pilihan itu jatuh pada Bayu. Pemuda itu juga mengenal Nayla jauh lebih lama dibandingkan dirinya. Lebih hafal kebiasaan Nayla, lebih paham cara menangani perempuan itu.Meski rasa cemburu langsung menghantam dada
Sudah menjelang sore ketika Bayu berdiri di depan indekos Jingga dan gadis itu membukakan pintu untuknya. Sejak Bayu mengantar Jingga pulang setelah diajak bertandang ke rumah Bunda, hubungan mereka tak lagi seperti dulu. Ada yang terasa janggal. Namun, Bayu tetap berusaha membuat Jingga merasa nyaman atas peralihan status hubungan mereka yang sampai saat itu belum juga terkonfirmasi secara resmi dari pihak tertuju.Beberapa kali Bayu berusaha mengajak Jingga pergi berkencan tipis-tipis. Gadis itu tidak menolak. Bahkan untuk duduk di boncengan motor Bayu, Jingga tak lagi sungkan untuk memegang jaketnya dari belakang, pernah juga memeluknya sedikit saat hujan deras sepulang dari kampus. Tak dipungkiri kehadiran Jingga mengalihkannya dari keterpurukan setelah ditinggal menikah oleh Nayla.Lama Bayu tak mendengar kabar sang mantan kekasih setelah terakhir kali berjumpa saat dirinya dalam keadaan kacau balau. Yang Bayu tahu, Nayla kini sudah bahagia dengan kehidupan barunya. Tak ada hak b
Bukan Mama yang Nayla sadari berada di sisinya saat ia siuman. Aroma parfum mawar yang menguar sedikit Nayla hafal. Lalu, samar-samar sebuah senyuman menyambangi pelupuk mata Nayla saat kesadarannya terkumpul penuh."Tante Yunda?" Nayla menebak.Melihat sang pemilik senyum mengangguk, Nayla berusaha bangkit dari berbaring agar leluasa berbicara. Namun, perempuan yang hampir sebaya Mama itu segera mencegah."Baring saja, Nay." Tante Yunda menunjukkan selang infus yang masih terpasang. "Kamu dehidrasi ringan.""Mama yang panggil Tante Yunda ke sini?" Nayla menuruti perintah dan kembali berbaring. "Nayla nggak apa-apa, kok, Tante.""Tekanan darah kamu rendah. Tante sudah resepkan beberapa vitamin," ujar dokter perempuan itu. "Oh, ya, Nay. Kapan haid terakhir kamu?"Nayla tahu betul sudah hampir dua puluh hari ia terlambat datang bulan. Hanya saja ditanya sedemikian rupa saat suasana hatinya tidak baik-baik saja, Nayla terlampau malas untuk menjawab."Nay lupa, Tante." Nayla mengalihkan p
Seminggu penuh yang amat sangat menguras tenaga dan pikiran telah berhasil Farid lalui sendirian. Meski dulu sebenarnya Farid terbiasa, tetapi beberapa bulan terakhir selalu ada Nayla tempatnya bermanja saat pulang. Nayla telah menjadi rumah untuknya.Beban paling besar yang Farid patut syukuri telah terangkat dari pundaknya adalah saat Syahnaz berpamitan untuk kembali menetap di Bali setelah sang sahabat menyerah berjuang di Jakarta. Farid hanya bisa tertawa miris saat melepas Syahnaz saat terakhir mereka makan siang bersama untuk sekadar momen perpisahan dan permohonan maaf dari sang sahabat. Syahnaz mungkin sengaja dikirim Tuhan untuk menguji rumah tangganya dengan Nayla. Perkawinan adalah ibadah seumur hidup, Farid tidak akan melupakan nasihat yang dikumandangkan di saat akad nikahnya dulu. Ibadah terpanjang sudah pasti akan banyak ujiannya.Sepulang dari Singapura menemani Abi, Farid memutuskan bermalam di rumah masa kecilnya. Semalaman ia berbincang dengan Umi, menceritakan kisr
Nayla belum pernah mendaki gunung seumur hidupnya. Tidak ada yang pernah mengajak. Pun tidak ada satu teman atau kerabat yang mempunyai kesukaan menaklukkan alam. Maka, Nayla selalu merengek agar Bayu mengizinkannya ikut serta setiap pemuda itu berangkat mendaki. Bayu kerap menolak sambil tersenyum
Satu hal yang Farid syukuri terlahir sebagai bagian dari keluarga besar Al-Amar adalah mereka selalu memandang tinggi pendidikan meski hidup bergelimang harta. Senakal-nakalnya anak lelaki keluarga Al-Amar, tidak ada yang mengecap jenjang sekolah hanya sampai menengah atas. Sudah menjadi tradisi di
Hari ini tepat dua puluh hari Nayla resmi menjadi istri Farid Atqan Al Amar. Dua puluh hari yang melelahkan. Setelah acara akad nikah sederhana di rumah Papa yang dilanjutkan dengan syukuran dan acara adat, dua minggu kemudian Nayla harus kembali duduk di pelaminan dalam resepsi pernikahan yang dia
Jika ada hari yang paling ditunggu Nayla seumur hidupnya, maka itu akan jatuh pada hari ini. Wajahnya sudah terias cantik, dengan pewarna bibir, pemoles pipi, serta coretan pensil alis. Tubuhnya telah terbalut kebaya putih bertabur batu permata yang berkerlap kerlip. Kulit punggung tangannya yang t







