Mag-log in
Jika ada hari yang paling ditunggu Nayla seumur hidupnya, maka itu akan jatuh pada hari ini. Wajahnya sudah terias cantik, dengan pewarna bibir, pemoles pipi, serta coretan pensil alis. Tubuhnya telah terbalut kebaya putih bertabur batu permata yang berkerlap kerlip. Kulit punggung tangannya yang terang hampir tak terlihat karena tertutupi lukisan inai hingga ke ujung jari.
Nayla mengenal cinta sejak usia belia. Umurnya belum genap dua belas tahun saat ia menyakini bahwa dirinya suatu saat akan menikah dengan tambatan hatinya. Pilihan sendiri. Meskipun sejak usia itu hingga mencapai umur dua puluh satu saat ini, entah sudah berapa laki-laki yang singgah mencuri cinta di hati Nayla. Namun, mulai setahun belakangan, perempuan itu yakin bahwa Bayu yang akan menjadi persinggahannya yang terakhir. Bayu mencintainya. Tak ada sedikit pun dari sikap pemuda itu yang tidak menunjukkan gelora cinta pada Nayla. Enam puluh menit ke depan, Nayla akan resmi menjadi seorang istri. Sesuai pesan sang perias, Nayla hanya boleh duduk menunggu di kamar pengantin ini sampai terdengar ucapan ijab kabul dan seruan 'SAH' dari para saksi. Setelah itu, ia akan dituntun keluar untuk disandingkan dengan sang mempelai pria. Farid telah menunggu di sana di belakang meja akad nikah yang terhias melati. Farid. Bukan Bayu. Nayla tidak akan pernah duduk di samping lelaki yang ia tentukan sendiri. Papa tidak memberinya banyak pilihan saat memintanya berjodoh dengan Farid. Nayla tidak punya cukup ruang gerak untuk menolak. Usia Farid lima tahun lebih tua, lebih sesuai dengannya dibandingkan Bayu yang sebaya. Farid sudah menyelesaikan S2-nya di Kairo, sementara Bayu baru akan menamatkan S1 enam bulan dari sekarang. Farid telah memiliki beberapa titik usaha warisan keluarga yang telah ia kelola sendiri, sedangkan Bayu akan resmi menjadi pengangguran saat rektor memindahkan tali di topi toganya akhir tahun nanti. Tak ada satu pun hal dalam diri Farid yang bisa menjadi alasan bagi Nayla untuk menolak. Senyum semringah Papa saat Farid datang melamar, tidak akan pernah sebanding dengan senyum Bayu saat Nayla berpamitan turun dari sepeda motor pemuda itu selepas diantar ke kampus. Papa sedang digerogoti kanker hati. Nayla tidak sampai hati membuatnya kecewa. Bayu masih sangat muda. Sedikit sakit hati tidak akan membuat pemuda itu mati. Nayla yakin Bayu mampu melupakannya dengan kehadiran gadis lain. "Kak, Nay." Kemunculan Nara di pintu kamar membuat lamunan Nayla buyar. "Ayo, sudah saatnya. Semua orang sudah menunggu." Nayla bangkit dengan lesu saat Nara, sang adik, menggamit lengannya. Entah mengapa tiba-tiba saja bayangan wajah Bayu di hari terakhir mereka bertemu merasuki pikiran Nayla. Perempuan itu menolak saat Nara membujuknya keluar. "Abisin dulu air matanya, Kak." Nara menarik beberapa helai tisu dari meja rias. "Jangan nangis di depan Papa." Nara adalah satu-satunya yang paling tahu bagaimana Nayla merintis hubungannya dengan Bayu sejak sama-sama bertemu di kegiatan orientasi mahasiswa. Meskipun ternyata mereka berbeda fakultas, tetapi Bayu dengan gigih menemui Nayla hampir setiap hari sampai akhirnya Nayla menerima cinta Bayu. Kini, entah di mana dan sedang apa pemuda itu. Nomor kontaknya tidak aktif hingga sekarang. "Sudah?" tanya Nara saat Nayla membuang bekas tisu ke tempat sampah. "Kakak janji, ya, tahan air matanya." Nayla mengangguk terpaksa. Ia memejam sejenak saat Nara menyibak kain rumbai pembatas bermotif tenun yang dipasang sebagai pelengkap dekorasi pernikahan. Mata Nayla menyipit saat memasuki ruang tamu yang telah disulap menjadi pelaminan akad nikah. Lampu kilat dari beberapa kamera membuat pandangannya sedikit silau. Saat sudah berhasil menyesuaikan, yang pertama menghampiri pandangannya adalah Mama yang sedang menangis terharu, lalu Papa yang tersenyum lebar, serta beberapa sanak saudara yang sibuk memegang ponsel untuk mengabadikan dirinya. Tepat saat kedua mata Nayla beradu dengan tatapan lelaki berteluk belanga serba putih yang baru saja berikrar memperistrinya, perempuan itu ambruk tak sadarkan diri. *** Wajah Mama perlahan-lahan terlihat jelas saat kesadaran Nayla kembali. Di belakang Mama berdiri seorang laki-laki yang ikut menatapnya resah. Nayla ingin bertanya siapa dia. Namun, perlahan saat ingatannya mulai bekerja, perempuan itu memilih memalingkan wajahnya ke arah berlawanan. “Nay, kamu pingsan, Sayang. Pasti karena dari pagi belum sarapan.” Mama mengusap lembut kening Nayla. “Mama ambilkan makanan, ya.” Hanya terdengar hela nafas Farid setelah bunyi pintu yang ditutup. Lelaki itu menggantikan Mama duduk di kursi di samping ranjang tempat Nayla berbaring. Tidak ada sepatah kata pun yang terucap. Wajah Nayla masih menghadap ke arah dinding tanpa berniat menatap lelaki yang baru saja resmi menjadi suaminya. “Biar saya saja yang menyuapi Nayla, Ma.” Kalimat itu yang akhirnya mampu membuat Nayla memalingkan wajahnya menghadap Farid. Lewat tatapan mata, Nayla memberi isyarat agar Mama tidak meninggalkannya hanya berdua dengan lelaki itu. Namun, sepertinya Mama lebih memilih mematuhi permintaan Farid dari pada menyelamatkan puterinya sendiri dari situasi yang rumit. Pintu kamar sudah terlanjur tertutup rapat sebelum Nayla berusaha mengeluarkan suara dari tenggorokannya yang terasa tercekat. “Masih pusing?” Farid bertanya sopan. Sebelah tangannya memegang piring berisi ketupat kuah sayur yang dibawakan Mama untuk Nayla. “Masih,” sahut Nayla pelan. “Kalau duduk sedikit, sanggup tidak?” Farid menggeser kursi merapat. “Akan lebih mudah aku menyuapi kalau kamu bisa duduk bersandar.” “Aku bisa sendiri.” Nayla menggapai tangan mencoba meraih piring ketupat dari pegangan Farid. “Letakkan saja di sisi ini, nanti aku habiskan pelan-pelan.” Farid meletakkan piring dari tangannya ke atas nakas. Lelaki itu bangkit dan sedikit membungkuk melewati tubuh Nayla untuk mengambil sebuah bantal yang tidak dipakai di sisi sebelah. Tidak meminta izin atau berniat memberi aba-aba, lelaki itu tanpa canggung mengangkat sedikit tengkuk Nayla agar ia bisa menyelipkan bantal tersebut di bawah kepala. “Nyaman seperti ini?” Farid mencari tahu akan posisi berbaring Nayla yang tidak sedatar sebelumnya. “Lumayan,” sahut Nayla. “Biar aku saja, aku bisa menyuap sendiri.” Nayla berusaha bangkit untuk mengambil piring yang diletakkan Farid di atas nakas, tetapi jemarinya segera ditepis halus oleh lelaki itu. Tatapan tajam Farid setelahnya membuat Nayla memilih memejam dari pada harus saling beradu pandang. “Nay, aku tahu pernikahan ini bukan impian kamu.” Suara Farid terdengar tenang. “Setidaknya berusahalah terlihat bahagia. Ada banyak orang di luar sana yang bergembira untuk kita.” Bagaimana caranya untuk bisa terlihat bahagia saat separuh hatinya sedang menangis. Farid jelas memintanya melakukan kemustahilan. Jika memang Farid sedang berpura-pura bahagia dengan pernikahan mereka, maka Nayla harus mengacungkan jempol untuk kemampuan lelaki itu bersandiwara. “Aku akan memanggil Nara untuk menemani kamu.” Farid bangkit saat akhirnya Nayla membuka mata. “Berusahalah untuk tidak membenciku, karena bagaimanapun kita akan tinggal dalam satu rumah dalam waktu dekat.” Air mata Nayla berlomba jatuh saat pintu kamar tertutup dan Farid hilang dari pandangan. Bibirnya meratap menyebut nama Bayu. Sejak mereka terpaksa berpisah, baru sekarang Nayla merasakan betapa pedih hati yang bersimbah darah.Seminggu setelah Nayla melahirkan sepasang bayi kembar, baru hari itu Farid kembali berangkat ke kantor. Lelaki itu bekerja dari rumah seolah tak ingin meninggalkan sedetik pun Nayla dan dua buah hati mereka yang menggemaskan. Farid menelepon hampir setiap dua jam untuk memastikan Nayla dalam keadaan baik.Nayla menolak saat Farid menawarkan memakai satu lagi pengasuh bayi untuk meringankan bebannya. Padahal Bu Baidah dan Suri sudah lebih dari cukup untuk diperbantukan menurut Nayla. Namun, Farid tetap memaksa. Lelaki itu tidak ingin Nayla terlampau letih dan malah tidak merasa bahagia. Farid ingin produksi ASI Nayla melimpah untuk mencukupi kebutuhan dua bayi sekaligus.Sore itu saat Farid kembali dari bekerja, Nayla sedang duduk beristirahat di sofa. Sepasang lengannya Farid lingkarkan memeluk Nayla dari arah belakang sambil memandangi bergantian dua bayi mereka yang tidur pulas di pangkuan Nayla setelah kenyang menyusu."Aku tidak sabar menunggu Fathan besar untuk mengajarinya bere
Ternyata membuat seseorang jatuh cinta jauh lebih mudah dari pada memperjuangkan cinta itu kembali setelah hilang rasa percaya. Seperti itulah yang Farid rasakan saat ia harus bersabar menghadapi Nayla. Farid paham apa yang sang istri rasakan. Rela patah hati, lalu belajar mencintai, setelah berhasil malah merasa dikhianati, pastinya akan membuat trauma yang mendalam.Farid bersyukur saat membawa sang istri kembali ke rumahnya, Nayla tetap bersedia berada di kamar yang sama dengannya. Namun, Farid tetap menjaga sikap. Ia memberi ruang pada Nayla seperti permintaan perempuan itu saat mereka memutuskan berdamai. Nayla masih mengizinkan Farid untuk memeluknya, juga menciumnya menjelang tidur.Pernah, Farid mencoba peruntungannya setelah satu minggu mereka kembali bersama dengan pelan-pelan mencumbu Nayla. Hanya saja Nayla menolak secara halus saat Farid hendak bertindak lebih jauh. Sampai di tahap itu, Farid sadar perih hati Nayla belum benar-benar sembuh.Kerja sampai larut di ruang kan
Perasaan Farid campur aduk saat setelah selesai rapat ia melesat menuju rumah Nayla. Rasa marah mengapa Nayla dibiarkan sendiri saja di rumah tanpa pengawasan, berbaur dengan rasa bingung harus ke mana ia mencari sang istri. Ponsel Nayla tidak dapat dihubungi sama sekali. GPS Tracker yang Farid gunakan hanya dapat membaca posisi terakhir saat Nayla masih berada di rumah sesaat ia mungkin akan berangkat sebelum perempuan itu mematikan ponsel.“Kak, bagaimana kalau Nara minta bantuan Kak Bayu.” Sang adik ipar mengusulkan dengan sedikit sungkan. “Mungkin Kak Bayu tahu ke tempat mana saja Kak Nayla kira-kira pergi.”Saran yang masuk akal. Jika Nayla menolak untuk dihubungi oleh semua orang di rumah ini, kemungkinan besar ada satu orang yang ia pilih untuk berkomunikasi. Bisa jadi pilihan itu jatuh pada Bayu. Pemuda itu juga mengenal Nayla jauh lebih lama dibandingkan dirinya. Lebih hafal kebiasaan Nayla, lebih paham cara menangani perempuan itu.Meski rasa cemburu langsung menghantam dada
Sudah menjelang sore ketika Bayu berdiri di depan indekos Jingga dan gadis itu membukakan pintu untuknya. Sejak Bayu mengantar Jingga pulang setelah diajak bertandang ke rumah Bunda, hubungan mereka tak lagi seperti dulu. Ada yang terasa janggal. Namun, Bayu tetap berusaha membuat Jingga merasa nyaman atas peralihan status hubungan mereka yang sampai saat itu belum juga terkonfirmasi secara resmi dari pihak tertuju.Beberapa kali Bayu berusaha mengajak Jingga pergi berkencan tipis-tipis. Gadis itu tidak menolak. Bahkan untuk duduk di boncengan motor Bayu, Jingga tak lagi sungkan untuk memegang jaketnya dari belakang, pernah juga memeluknya sedikit saat hujan deras sepulang dari kampus. Tak dipungkiri kehadiran Jingga mengalihkannya dari keterpurukan setelah ditinggal menikah oleh Nayla.Lama Bayu tak mendengar kabar sang mantan kekasih setelah terakhir kali berjumpa saat dirinya dalam keadaan kacau balau. Yang Bayu tahu, Nayla kini sudah bahagia dengan kehidupan barunya. Tak ada hak b
Bukan Mama yang Nayla sadari berada di sisinya saat ia siuman. Aroma parfum mawar yang menguar sedikit Nayla hafal. Lalu, samar-samar sebuah senyuman menyambangi pelupuk mata Nayla saat kesadarannya terkumpul penuh."Tante Yunda?" Nayla menebak.Melihat sang pemilik senyum mengangguk, Nayla berusaha bangkit dari berbaring agar leluasa berbicara. Namun, perempuan yang hampir sebaya Mama itu segera mencegah."Baring saja, Nay." Tante Yunda menunjukkan selang infus yang masih terpasang. "Kamu dehidrasi ringan.""Mama yang panggil Tante Yunda ke sini?" Nayla menuruti perintah dan kembali berbaring. "Nayla nggak apa-apa, kok, Tante.""Tekanan darah kamu rendah. Tante sudah resepkan beberapa vitamin," ujar dokter perempuan itu. "Oh, ya, Nay. Kapan haid terakhir kamu?"Nayla tahu betul sudah hampir dua puluh hari ia terlambat datang bulan. Hanya saja ditanya sedemikian rupa saat suasana hatinya tidak baik-baik saja, Nayla terlampau malas untuk menjawab."Nay lupa, Tante." Nayla mengalihkan p
Seminggu penuh yang amat sangat menguras tenaga dan pikiran telah berhasil Farid lalui sendirian. Meski dulu sebenarnya Farid terbiasa, tetapi beberapa bulan terakhir selalu ada Nayla tempatnya bermanja saat pulang. Nayla telah menjadi rumah untuknya.Beban paling besar yang Farid patut syukuri telah terangkat dari pundaknya adalah saat Syahnaz berpamitan untuk kembali menetap di Bali setelah sang sahabat menyerah berjuang di Jakarta. Farid hanya bisa tertawa miris saat melepas Syahnaz saat terakhir mereka makan siang bersama untuk sekadar momen perpisahan dan permohonan maaf dari sang sahabat. Syahnaz mungkin sengaja dikirim Tuhan untuk menguji rumah tangganya dengan Nayla. Perkawinan adalah ibadah seumur hidup, Farid tidak akan melupakan nasihat yang dikumandangkan di saat akad nikahnya dulu. Ibadah terpanjang sudah pasti akan banyak ujiannya.Sepulang dari Singapura menemani Abi, Farid memutuskan bermalam di rumah masa kecilnya. Semalaman ia berbincang dengan Umi, menceritakan kisr
Setertib-tertibnya kehidupan seorang Farid Al-Amar, di masa pubertasnya lelaki itu tetap dihantui rasa penasaran perihal lawan jenis. Bersama teman-teman di masa remajanya, Farid pernah berebutan melihat-lihat isi majalah pria dewasa yang dicuri pinjam oleh salah satu teman sekelasnya dari rumah. J
Terakhir kali Nayla melihat Papa benar-benar tersenyum adalah saat ia menjadi pengantin. Saat Nara menggiringnya keluar untuk bertemu Farid setelah ijab qabul, wajah Papa tampak sangat semringah. Wajah yang saat itu benar-benar Nayla benci karena telah membuatnya terpaksa menikahi Farid.Kini melih
Sejak menjadi istri Farid Al-Amar, Nayla mulai terbiasa dengan sikap lemah lembut dan penuh perhatian dari lelaki itu. Setelah mereka kembali dari berpergian misalnya, Farid tidak akan meninggalkan mobil sebelum Nayla selesai menutup pintu dan berjalan mendekat. Farid akan merangkul pundak Nayla, u
Subuh ini menjadi peristiwa bangun pagi paling indah dalam hidup Farid. Saat matanya terbuka, ia masih mendapati Nayla tertidur dalam pelukannya. Sang istri berbaring menghadapnya dengan sebelah tangan memeluk pinggangnya. Wajah Nayla yang begitu dekat membuat hangat napas perempuan itu kembali mem







