Home / Romansa / ASAL KAU BAHAGIA / Bab 2 - Menolak Satu Ranjang

Share

Bab 2 - Menolak Satu Ranjang

last update publish date: 2026-01-27 19:17:57

Hari ini tepat dua puluh hari Nayla resmi menjadi istri Farid Atqan Al Amar. Dua puluh hari yang melelahkan. Setelah acara akad nikah sederhana di rumah Papa yang dilanjutkan dengan syukuran dan acara adat, dua minggu kemudian Nayla harus kembali duduk di pelaminan dalam resepsi pernikahan yang diadakan keluarga Farid di sebuah hotel milik keluarga.

Seumur-umur, Nayla malah belum pernah menginjakkan kaki di tempat itu. Ia hanya sering menatap hotel tersebut dari atas boncengan motor Bayu saat berhenti di lampu merah ke arah kampus. Ia bahkan sempat mereka-reka berapa banyak gaji yang harus ia sisihkan agar setara dengan harga kamar paling mahal di hotel itu. Tentunya setelah ia dan Bayu lulus, mendapat pekerjaan, menikah, dan jika beruntung bisa menghabiskan satu hari bulan madu mereka di sana.

Impian itu akhirnya terwujud. Nayla bisa menempati kamar paling mahal dengan kasur paling empuk tersebut di malam seusai resepsi. Ranjangnya yang bahkan terlalu luas hanya ia tempati sendiri, karena Farid memutuskan untuk berbaring di sebuah sofa yang lebarnya menyamai lebar kasur singel di kamar tidur Nayla. Sepanjang malam Nayla menangis hingga letih dan tak tahu kapan akhirnya ia tertidur. Ia baru terjaga saat Farid menepuk bahunya ketika adzan subuh berkumandang, terlelap kembali, dan benar-benar bangun saat mendengar Farid membaca Al-Qur’an di sofa tempat lelaki itu tidur tadi malam.

Setelah rentetan acara pernikahan berlalu, hari ini Farid akan membawa Nayla pindah dari rumah Papa. Lelaki itu memberi kesempatan pada Nayla untuk mengucapkan selamat tinggal pada kamar tidurnya dengan mengizinkan menginap sekaligus menyusun barang-barang yang hendak dibawa serta. Farid sendiri mempunyai agenda perjalanan bisnis selama tiga hari tersebut. Ia baru datang menjemput pagi ini sekaligus berpamitan pada Papa dan Mama.

Mata Nayla membola sempurna saat akhirnya mobil yang dikendarai Farid berhenti di sebuah rumah mewah berlantai tiga berdesain minimalis. Nayla sudah pernah berkunjung ke rumah Abi dan Umi Farid, sudah pernah dibawa mampir ke rumah Kakek Hasan Al Amar. Tidak perlu tercengang jika dua kediaman tersebut terlihat bak istana. Bukan rahasia lagi jika kekayaan keluarga Al-Amar sudah terjaga turun temurun.

Awalnya Nayla mengira rumah milik Farid adalah berupa rumah kecil khas lelaki lajang. Ia tidak mengira bahwa akan tinggal di sebuah rumah mewah dengan banyak orang yang bekerja di dalamnya. Nayla sudah lelah harus berpura-pura bahagia dua puluh hari ini di hadapan keluarganya dan keluarga Farid. Nayla berpikir, dengan pindah ke rumah pribadi Farid hanya berdua saja, akan sangat memudahkannya untuk menumpahkan emosinya pada lelaki itu. Nayla bisa bersikap ketus tanpa harus takut dipergoki yang lain.

“Ada asisten rumah tangga yang nanti akan mengangkat koper-koper kamu dari bagasi.” Farid memberi isyarat agar Nayla mengikutinya masuk ke dalam rumah tanpa menenteng apa pun. Kunci mobilnya lelaki itu serahkan pada seorang bapak paruh baya yang langsung datang mendekat saat mesin dimatikan.

“Biar aku angkat sendiri,” tolak Nayla dengan halus. “Kopernya tidak berat, kok.”

“Nay.” Farid menatapnya dengan sedikit jengkel. “Bolehkan satu kali saja hari ini kamu tidak membantahku.”

Nayla meletakkan kopernya kembali saat Farid terlihat kurang senang. Saat berangkat tadi, lelaki itu mengajak Nayla untuk sarapan sebentar di salah satu resto cepat saji, tetapi ia sengaja menolak dengan alasan tidak terbiasa makan terlalu pagi. Lalu, Farid menawarkan untuk singgah di sebuah hipermarket jika mungkin ada beberapa kebutuhan yang ingin Nayla beli, juga ditolak. Nayla merasa risih setiap Farid bersikap seperti seorang suami terhadapnya. Ia ingin Farid se tak acuh dirinya, agar akan menjadi mudah bagi Nayla untuk tidak terlalu terikat dengan lelaki itu.

“Kamarku di lantai tiga,” jelas Farid saat mengajak Nayla berkeliling. “Aku memakai satu lantai khusus untuk beberapa ruangan pribadi. Ada ruang kerja, ruang baca, dan ruang gym. Juga ada dua ruang lain selain kamar tidur yang belum terisi.”

Kaki Nayla terhenti sejenak pada pertengahan anak tangga yang sedang ia dan Farid naiki. Baru ketika Farid menoleh ke belakang, Nayla melanjutkan langkahnya.

“Apakah hanya ada satu kamar tidur di lantai tiga?” Nayla bertanya hati-hati. Ia tidak dapat membayangkan harus tidur di kamar yang sama dengan lelaki itu berhari-hari lamanya. Nayla mendengar Farid tertawa lucu setelahnya.

“Kenapa bertanya begitu? Kamu takut harus tidur sekamar denganku?”

Seolah mengabaikan, Farid tidak menunggu jawaban Nayla. Lelaki itu berjalan di tengah ruangan yang terlihat sedikit kosong sambil mencari sesuatu dari kantung celana. Bunyi gemerincing menandakan tidak hanya ada satu kunci yang terkait di gantungannya.

“Aku termasuk pria klasik yang lebih percaya pada anak kunci dari pada tombol digital.” Farid menatap Nayla sembari jarinya fokus membuka pintu. “Ini kamarku. Nantinya juga akan jadi kamar kamu.”

Sebuah ruangan berdaun pintu ganda kemudian terbuka di hadapan Nayla. Separuh dindingnya dilapisi wallpaper, separuh lagi dibiarkan polos bercat putih gading. Di tengah ruangan terletak ranjang lebar berseprai putih dengan sepasang bantal dan guling. Ada sebuah cooler case dan rak tipis menyatu di dinding yang menampung beberapa gelas beragam ukuran di sudut kanan. Juga seperangkat sofa di sudut kiri beserta meja dan televisi di depannya.

“Aku bukan tipe orang yang suka tidur sambil menonton TV,” ucap Farid seperti tahu apa yang melintas dalam pikiran Nayla. “Ada hal yang lebih menyenangkan yang bisa dilakukan di tempat tidur dari pada menonton berita atau film.”

Nayla melirik malas saat Farid berusaha menarik perhatiannya dengan diskusi soal ranjang. Yang dikatakan lelaki itu jelas menyerempet perihal suami istri. Sejak akad nikah hingga tadi malam, selalu ada saja alasan yang Nayla ajukan agar tidak perlu berada di satu tempat tidur dengan Farid.

“Aku juga bukan tipe yang suka menonton TV di tempat tidur,” timpal Nayla. “Aku terbiasa membaca untuk memancing kantuk.”

Memang benar. Bukan tanpa alasan, karena hanya ada satu televisi di rumah Nayla yang diletakkan di ruang keluarga. Jika bukan Papa yang melihat berita, maka ada Mama yang menonton sinetron. Nayla cukup puas bisa mengikuti drama Korea kesukaannya lewat layar ponsel yang sempit.

“Bagus kalau begitu. Bisa dipastikan kita akan jadi teman sekamar yang jarang bertengkar.” Farid berjalan melewati Nayla dan duduk santai di sofa. “Bagaimana kalau kita bicarakan dulu soal kebiasaan sehari-hari agar bisa lebih cepat menyesuaikan diri.”

Sambil meremas jarinya resah, Nayla berjalan mendekat ke arah sofa. Dari semua yang ia bantah dari ucapan Farid hari ini, mungkin ini yang terhitung paling hebat. Sambil berharap cemas, Nayla memberanikan diri untuk mengajukan keberatannya pada Farid.

“Bolehkah untuk saat ini kita tidak tidur dalam kamar yang sama?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • ASAL KAU BAHAGIA    Bab 62 - Kamu Yang Kucinta

    Seminggu setelah Nayla melahirkan sepasang bayi kembar, baru hari itu Farid kembali berangkat ke kantor. Lelaki itu bekerja dari rumah seolah tak ingin meninggalkan sedetik pun Nayla dan dua buah hati mereka yang menggemaskan. Farid menelepon hampir setiap dua jam untuk memastikan Nayla dalam keadaan baik.Nayla menolak saat Farid menawarkan memakai satu lagi pengasuh bayi untuk meringankan bebannya. Padahal Bu Baidah dan Suri sudah lebih dari cukup untuk diperbantukan menurut Nayla. Namun, Farid tetap memaksa. Lelaki itu tidak ingin Nayla terlampau letih dan malah tidak merasa bahagia. Farid ingin produksi ASI Nayla melimpah untuk mencukupi kebutuhan dua bayi sekaligus.Sore itu saat Farid kembali dari bekerja, Nayla sedang duduk beristirahat di sofa. Sepasang lengannya Farid lingkarkan memeluk Nayla dari arah belakang sambil memandangi bergantian dua bayi mereka yang tidur pulas di pangkuan Nayla setelah kenyang menyusu."Aku tidak sabar menunggu Fathan besar untuk mengajarinya bere

  • ASAL KAU BAHAGIA    Bab 61 - Dua Yang Mendamba

    Ternyata membuat seseorang jatuh cinta jauh lebih mudah dari pada memperjuangkan cinta itu kembali setelah hilang rasa percaya. Seperti itulah yang Farid rasakan saat ia harus bersabar menghadapi Nayla. Farid paham apa yang sang istri rasakan. Rela patah hati, lalu belajar mencintai, setelah berhasil malah merasa dikhianati, pastinya akan membuat trauma yang mendalam.Farid bersyukur saat membawa sang istri kembali ke rumahnya, Nayla tetap bersedia berada di kamar yang sama dengannya. Namun, Farid tetap menjaga sikap. Ia memberi ruang pada Nayla seperti permintaan perempuan itu saat mereka memutuskan berdamai. Nayla masih mengizinkan Farid untuk memeluknya, juga menciumnya menjelang tidur.Pernah, Farid mencoba peruntungannya setelah satu minggu mereka kembali bersama dengan pelan-pelan mencumbu Nayla. Hanya saja Nayla menolak secara halus saat Farid hendak bertindak lebih jauh. Sampai di tahap itu, Farid sadar perih hati Nayla belum benar-benar sembuh.Kerja sampai larut di ruang kan

  • ASAL KAU BAHAGIA    Bab 60 - Bertahan Untuk Cinta

    Perasaan Farid campur aduk saat setelah selesai rapat ia melesat menuju rumah Nayla. Rasa marah mengapa Nayla dibiarkan sendiri saja di rumah tanpa pengawasan, berbaur dengan rasa bingung harus ke mana ia mencari sang istri. Ponsel Nayla tidak dapat dihubungi sama sekali. GPS Tracker yang Farid gunakan hanya dapat membaca posisi terakhir saat Nayla masih berada di rumah sesaat ia mungkin akan berangkat sebelum perempuan itu mematikan ponsel.“Kak, bagaimana kalau Nara minta bantuan Kak Bayu.” Sang adik ipar mengusulkan dengan sedikit sungkan. “Mungkin Kak Bayu tahu ke tempat mana saja Kak Nayla kira-kira pergi.”Saran yang masuk akal. Jika Nayla menolak untuk dihubungi oleh semua orang di rumah ini, kemungkinan besar ada satu orang yang ia pilih untuk berkomunikasi. Bisa jadi pilihan itu jatuh pada Bayu. Pemuda itu juga mengenal Nayla jauh lebih lama dibandingkan dirinya. Lebih hafal kebiasaan Nayla, lebih paham cara menangani perempuan itu.Meski rasa cemburu langsung menghantam dada

  • ASAL KAU BAHAGIA    Bab 59 - Bahagia Dengan Jalannya

    Sudah menjelang sore ketika Bayu berdiri di depan indekos Jingga dan gadis itu membukakan pintu untuknya. Sejak Bayu mengantar Jingga pulang setelah diajak bertandang ke rumah Bunda, hubungan mereka tak lagi seperti dulu. Ada yang terasa janggal. Namun, Bayu tetap berusaha membuat Jingga merasa nyaman atas peralihan status hubungan mereka yang sampai saat itu belum juga terkonfirmasi secara resmi dari pihak tertuju.Beberapa kali Bayu berusaha mengajak Jingga pergi berkencan tipis-tipis. Gadis itu tidak menolak. Bahkan untuk duduk di boncengan motor Bayu, Jingga tak lagi sungkan untuk memegang jaketnya dari belakang, pernah juga memeluknya sedikit saat hujan deras sepulang dari kampus. Tak dipungkiri kehadiran Jingga mengalihkannya dari keterpurukan setelah ditinggal menikah oleh Nayla.Lama Bayu tak mendengar kabar sang mantan kekasih setelah terakhir kali berjumpa saat dirinya dalam keadaan kacau balau. Yang Bayu tahu, Nayla kini sudah bahagia dengan kehidupan barunya. Tak ada hak b

  • ASAL KAU BAHAGIA    Bab 58 - Benar-Benar Sendirian

    Bukan Mama yang Nayla sadari berada di sisinya saat ia siuman. Aroma parfum mawar yang menguar sedikit Nayla hafal. Lalu, samar-samar sebuah senyuman menyambangi pelupuk mata Nayla saat kesadarannya terkumpul penuh."Tante Yunda?" Nayla menebak.Melihat sang pemilik senyum mengangguk, Nayla berusaha bangkit dari berbaring agar leluasa berbicara. Namun, perempuan yang hampir sebaya Mama itu segera mencegah."Baring saja, Nay." Tante Yunda menunjukkan selang infus yang masih terpasang. "Kamu dehidrasi ringan.""Mama yang panggil Tante Yunda ke sini?" Nayla menuruti perintah dan kembali berbaring. "Nayla nggak apa-apa, kok, Tante.""Tekanan darah kamu rendah. Tante sudah resepkan beberapa vitamin," ujar dokter perempuan itu. "Oh, ya, Nay. Kapan haid terakhir kamu?"Nayla tahu betul sudah hampir dua puluh hari ia terlambat datang bulan. Hanya saja ditanya sedemikian rupa saat suasana hatinya tidak baik-baik saja, Nayla terlampau malas untuk menjawab."Nay lupa, Tante." Nayla mengalihkan p

  • ASAL KAU BAHAGIA    Bab 57 - Tak Bisa Ditawar

    Seminggu penuh yang amat sangat menguras tenaga dan pikiran telah berhasil Farid lalui sendirian. Meski dulu sebenarnya Farid terbiasa, tetapi beberapa bulan terakhir selalu ada Nayla tempatnya bermanja saat pulang. Nayla telah menjadi rumah untuknya.Beban paling besar yang Farid patut syukuri telah terangkat dari pundaknya adalah saat Syahnaz berpamitan untuk kembali menetap di Bali setelah sang sahabat menyerah berjuang di Jakarta. Farid hanya bisa tertawa miris saat melepas Syahnaz saat terakhir mereka makan siang bersama untuk sekadar momen perpisahan dan permohonan maaf dari sang sahabat. Syahnaz mungkin sengaja dikirim Tuhan untuk menguji rumah tangganya dengan Nayla. Perkawinan adalah ibadah seumur hidup, Farid tidak akan melupakan nasihat yang dikumandangkan di saat akad nikahnya dulu. Ibadah terpanjang sudah pasti akan banyak ujiannya.Sepulang dari Singapura menemani Abi, Farid memutuskan bermalam di rumah masa kecilnya. Semalaman ia berbincang dengan Umi, menceritakan kisr

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status