Home / Romansa / ASAL KAU BAHAGIA / Bab 3 - Awal Mula Berjumpa

Share

Bab 3 - Awal Mula Berjumpa

last update publish date: 2026-01-27 19:18:41

Nayla bukan sosok baru untuk Farid. Mereka sudah mengenal sejak kecil, meskipun tidak secara resmi. Farid kerap bertemu Nayla dalam acara-acara keluarga yang dihadiri kedua belah pihak. Hanya sebatas saling tahu wajah, tanpa benar-benar dikenalkan oleh orang tua masing-masing.

Abi Farid dan mama Nayla keduanya terpaut pada garis keturunan yang sama, pada Kakek Buyut Al-Amar. Bedanya orang tua Farid memilih saling dijodohkan dengan calon dari lingkar keluarga mereka, sementara mama Nayla memutuskan untuk menikahi kekasih hati yang beliau temukan sendiri. Seorang laki-laki bersuku Palembang yang bukan dari keluarga pebisnis seperti hampir semua garis keturunan Al-Amar. Atas alasan itu juga mengapa kehidupan Nayla tidak semewah saudara-saudara sepupunya yang lain. Bahkan bisa dikatakan hanya sampai taraf berkecukupan.

Mungkin campuran darah Palembang itu yang membuat Farid mudah mengenali Nayla. Ia tak pernah kesulitan menemukan sosok Nayla kecil meski gadis itu sedang berkerumun di antara bocah-bocah lain yang berebutan es krim. Usia Farid yang terpaut lima tahun, membuatnya enggan bergabung dengan anak-anak lain sepantaran Nayla. Farid lebih memilih duduk di kursi kayu di pinggir kolam ikan koi dengan sebuah buku komik di tangan, dari pada ikut berkejaran dengan para sepupunya yang lain di halaman kediaman kakek buyut. Ia hanya akan mengangkat wajah dari deretan huruf di buku komik itu, jika tak sengaja mendengar suara Nayla yang nyaring, memandangnya lama sampai sosok itu menghilang kembali.

Darah Palembang itu membuat Nayla memiliki rambut tebal seperti sepupunya yang lain, tetapi tergerai lurus tanpa ada sehelai pun yang tampak ikal. Matanya tidak sebulat yang lain bahkan cenderung menyempit di bagian sudut, tetapi bulu-bulu mata yang melekat di sana tak kalah lentik dengan milik gadis-gadis keturunan arab. Kulit Nayla kuning langsat dengan sedikit sentuhan oriental. Mewarisi genetik timur tengah, tubuh Nayla juga termasuk jangkung untuk ukuran gadis remaja.

Usia Farid genap dua puluh tahun saat ia menyadari bahwa apa yang ia punya untuk Nayla bukan sekadar rasa kagum semata. Farid selalu menunggu-nunggu waktu kapan Umi mengajaknya serta menghadiri acara keluarga. Ia rindu bertemu Nayla. Kadang ia harus kecewa jika ternyata Nayla berhalangan hadir.

Hanya saja, Farid tetaplah Farid. Ia lebih memilih diam menunggu dari pada ikut bersaing dengan para sepupunya yang berjenis kelamin laki-laki yang gigih mencari perhatian Nayla. Di luar sana mungkin hidung mancung dan rahang gagahnya ramai digilai para gadis. Namun di lingkup keluarga Al-Amar, setiap lelaki punya ketampanan yang hampir sama rata. Jadi, Farid memutuskan untuk menepi dari ring persaingan sambil tetap menunggu saat yang tepat untuk mendekati Nayla.

Baru dua tahun setelahnya Farid akhirnya berkesempatan berbicara dengan Nayla. Saat itu Umi mengadakan acara perpisahan sebelum keberangkatan Farid melanjutkan studi magister ke Kairo. Hati Farid bersorak saat melihat Nayla ikut menghadiri acara itu.

Farid sedang duduk termenung di sisi kolam ikan koi miliknya sendiri saat melihat Nayla datang membawa sewadah makanan ikan. Awalnya Farid hanya menonton gadis itu melempar butiran-butiran ke dalam kolam. Namun, saat Nayla melempar terlalu banyak, Farid memutuskan untuk memberi tahu.

“Tunggu sampai dihabiskan dulu yang terapung di air, baru kemudian kamu boleh lempar lagi,” tegur Farid saat itu.

Yang Farid ingat Nayla mengangguk, tersenyum, dan kemudian meminta maaf. Sepasang matanya menatap Farid lama sebelum akhirnya ia mengucapkan sesuatu yang tidak Farid duga.

“Kakak yang mau berangkat ke Kairo, bukan?” Nayla menyodorkan tangan hendak menyalami. “Selamat, ya!”

Acara perpisahan itu diadakan di rumah Farid. Jika sampai Nayla tidak mengenalinya, Farid sadar itu salahnya sendiri. Namun, Farid tidak menyesal. Ia cukup puas menghabiskan waktu setengah jam setelahnya dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan Nayla tentang perkuliahan dan hal-hal serupa. Nayla mengajaknya bertukar akun I*******m, dan Farid seperti biasa terlalu pemalu untuk sekadar meminta nomor kontak Nayla.

Sejak hari itu sampai tiga tahun kemudian, Farid hanya sembunyi-sembunyi mencari tahu kabar Nayla. Siapa menyangka di hari kedua kepulangannya ke Indonesia, Umi dan Abi menanyakan kesediaannya untuk berjodoh dengan Nayla. Mungkin Nayla sudah melupakannya saat akhirnya mereka kembali bertemu. Di hari pertunangan mereka, Farid sadar yang Nayla punya untuknya adalah rasa benci semata.

***

“Bolehkah untuk saat ini kita tidak tidur dalam kamar yang sama?”

Lamunan Farid tentang awal mula perkenalannya dengan Nayla, seketika buyar saat mendengar perempuan itu berbicara. Farid hanya bisa menghela napas panjang dan menatap Nayla lama setelahnya. Saat Nayla akhirnya mengindar karena terlalu lama beradu pandang, Farid dengan berat hati mengangguk.

“Ada satu kamar tamu di lantai ini. Kamu bisa pakai kamar itu.” Farid melepaskan sebuah anak kunci dari gantungan dan menyerahkannya pada Nayla. “Mari biar aku tunjukkan kamarnya.”

Saat tiba di depan kamar, Farid membiarkan Nayla yang membuka kuncinya. Ia menahan pintu agar tetap terbuka sampai perempuan itu berjalan masuk. Farid memberi waktu untuk Nayla mengamati lama isi ruangan yang akan menjadi kamarnya, sampai akhirnya perempuan itu menggeleng saat kembali menoleh pada Farid.

“Kamar ini terlalu luas. Aku tidak butuh yang sebesar ini.” Nayla menolak. “Aku tidak terbiasa.”

“Kamar ini biasa dipakai Umi dan Abi saat mereka menginap.” Farid menjelaskan. “Hanya sesekali mereka datang.”

“Katanya ada dua ruangan lagi yang belum terpakai di lantai ini.” Nayla mencoba menawar situasi. “Boleh aku pakai itu?”

“Ruangannya masih kosong,” ucap Farid datar. “Apa kamu mau tidur di lantai?”

“Belikan saja aku satu tempat tidur dan lemari yang murah.” Nayla memutar bola matanya. “Uang sejumlah itu aku yakin tidak akan menguras isi tabungan kamu.”

“Umi dan Abi hanya menginap sesekali,” tegas Farid sekali lagi. “Itu pun mungkin hanya sebagai bukti peduli pada anak lelakinya yang tadinya belum beristri.”

“Lalu, bagaimana kalau tiba-tiba mereka datang dan menginap?” Nayla bertanya gusar.

“Artinya kamu harus tidur di kamarku kalau begitu.” Farid melipat tangan di dada seraya tersenyum dan tak tahan untuk tidak tertawa ketika melihat Nayla menatapnya jengkel dengan tangan berkacak pinggang.

“Aku di kamar yang lain saja. Tidak apa-apa harus tidur di lantai,” rajuk Nayla seraya melangkah keluar.

Masih dengan sisa tawa di bibirnya, Farid menahan lengan Nayla. “Sementara di kamar ini saja dulu. Besok aku belikan tempat tidur dan lemari yang kamu mau.”

Farid merasa sedikit lega saat Nayla setuju. “Baiklah, tapi janji hanya untuk malam ini.”

“Janji.” Farid mengangkat dua jari membentuk telinga kelinci. “Terima kasih kamu mau berjuang sampai sejauh ini. Jika saat ini kamu masih belum bisa menjadi istriku yang seutuhnya, tidak membenciku saja aku sudah sangat senang, Nay.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • ASAL KAU BAHAGIA    Bab 62 - Kamu Yang Kucinta

    Seminggu setelah Nayla melahirkan sepasang bayi kembar, baru hari itu Farid kembali berangkat ke kantor. Lelaki itu bekerja dari rumah seolah tak ingin meninggalkan sedetik pun Nayla dan dua buah hati mereka yang menggemaskan. Farid menelepon hampir setiap dua jam untuk memastikan Nayla dalam keadaan baik.Nayla menolak saat Farid menawarkan memakai satu lagi pengasuh bayi untuk meringankan bebannya. Padahal Bu Baidah dan Suri sudah lebih dari cukup untuk diperbantukan menurut Nayla. Namun, Farid tetap memaksa. Lelaki itu tidak ingin Nayla terlampau letih dan malah tidak merasa bahagia. Farid ingin produksi ASI Nayla melimpah untuk mencukupi kebutuhan dua bayi sekaligus.Sore itu saat Farid kembali dari bekerja, Nayla sedang duduk beristirahat di sofa. Sepasang lengannya Farid lingkarkan memeluk Nayla dari arah belakang sambil memandangi bergantian dua bayi mereka yang tidur pulas di pangkuan Nayla setelah kenyang menyusu."Aku tidak sabar menunggu Fathan besar untuk mengajarinya bere

  • ASAL KAU BAHAGIA    Bab 61 - Dua Yang Mendamba

    Ternyata membuat seseorang jatuh cinta jauh lebih mudah dari pada memperjuangkan cinta itu kembali setelah hilang rasa percaya. Seperti itulah yang Farid rasakan saat ia harus bersabar menghadapi Nayla. Farid paham apa yang sang istri rasakan. Rela patah hati, lalu belajar mencintai, setelah berhasil malah merasa dikhianati, pastinya akan membuat trauma yang mendalam.Farid bersyukur saat membawa sang istri kembali ke rumahnya, Nayla tetap bersedia berada di kamar yang sama dengannya. Namun, Farid tetap menjaga sikap. Ia memberi ruang pada Nayla seperti permintaan perempuan itu saat mereka memutuskan berdamai. Nayla masih mengizinkan Farid untuk memeluknya, juga menciumnya menjelang tidur.Pernah, Farid mencoba peruntungannya setelah satu minggu mereka kembali bersama dengan pelan-pelan mencumbu Nayla. Hanya saja Nayla menolak secara halus saat Farid hendak bertindak lebih jauh. Sampai di tahap itu, Farid sadar perih hati Nayla belum benar-benar sembuh.Kerja sampai larut di ruang kan

  • ASAL KAU BAHAGIA    Bab 60 - Bertahan Untuk Cinta

    Perasaan Farid campur aduk saat setelah selesai rapat ia melesat menuju rumah Nayla. Rasa marah mengapa Nayla dibiarkan sendiri saja di rumah tanpa pengawasan, berbaur dengan rasa bingung harus ke mana ia mencari sang istri. Ponsel Nayla tidak dapat dihubungi sama sekali. GPS Tracker yang Farid gunakan hanya dapat membaca posisi terakhir saat Nayla masih berada di rumah sesaat ia mungkin akan berangkat sebelum perempuan itu mematikan ponsel.“Kak, bagaimana kalau Nara minta bantuan Kak Bayu.” Sang adik ipar mengusulkan dengan sedikit sungkan. “Mungkin Kak Bayu tahu ke tempat mana saja Kak Nayla kira-kira pergi.”Saran yang masuk akal. Jika Nayla menolak untuk dihubungi oleh semua orang di rumah ini, kemungkinan besar ada satu orang yang ia pilih untuk berkomunikasi. Bisa jadi pilihan itu jatuh pada Bayu. Pemuda itu juga mengenal Nayla jauh lebih lama dibandingkan dirinya. Lebih hafal kebiasaan Nayla, lebih paham cara menangani perempuan itu.Meski rasa cemburu langsung menghantam dada

  • ASAL KAU BAHAGIA    Bab 59 - Bahagia Dengan Jalannya

    Sudah menjelang sore ketika Bayu berdiri di depan indekos Jingga dan gadis itu membukakan pintu untuknya. Sejak Bayu mengantar Jingga pulang setelah diajak bertandang ke rumah Bunda, hubungan mereka tak lagi seperti dulu. Ada yang terasa janggal. Namun, Bayu tetap berusaha membuat Jingga merasa nyaman atas peralihan status hubungan mereka yang sampai saat itu belum juga terkonfirmasi secara resmi dari pihak tertuju.Beberapa kali Bayu berusaha mengajak Jingga pergi berkencan tipis-tipis. Gadis itu tidak menolak. Bahkan untuk duduk di boncengan motor Bayu, Jingga tak lagi sungkan untuk memegang jaketnya dari belakang, pernah juga memeluknya sedikit saat hujan deras sepulang dari kampus. Tak dipungkiri kehadiran Jingga mengalihkannya dari keterpurukan setelah ditinggal menikah oleh Nayla.Lama Bayu tak mendengar kabar sang mantan kekasih setelah terakhir kali berjumpa saat dirinya dalam keadaan kacau balau. Yang Bayu tahu, Nayla kini sudah bahagia dengan kehidupan barunya. Tak ada hak b

  • ASAL KAU BAHAGIA    Bab 58 - Benar-Benar Sendirian

    Bukan Mama yang Nayla sadari berada di sisinya saat ia siuman. Aroma parfum mawar yang menguar sedikit Nayla hafal. Lalu, samar-samar sebuah senyuman menyambangi pelupuk mata Nayla saat kesadarannya terkumpul penuh."Tante Yunda?" Nayla menebak.Melihat sang pemilik senyum mengangguk, Nayla berusaha bangkit dari berbaring agar leluasa berbicara. Namun, perempuan yang hampir sebaya Mama itu segera mencegah."Baring saja, Nay." Tante Yunda menunjukkan selang infus yang masih terpasang. "Kamu dehidrasi ringan.""Mama yang panggil Tante Yunda ke sini?" Nayla menuruti perintah dan kembali berbaring. "Nayla nggak apa-apa, kok, Tante.""Tekanan darah kamu rendah. Tante sudah resepkan beberapa vitamin," ujar dokter perempuan itu. "Oh, ya, Nay. Kapan haid terakhir kamu?"Nayla tahu betul sudah hampir dua puluh hari ia terlambat datang bulan. Hanya saja ditanya sedemikian rupa saat suasana hatinya tidak baik-baik saja, Nayla terlampau malas untuk menjawab."Nay lupa, Tante." Nayla mengalihkan p

  • ASAL KAU BAHAGIA    Bab 57 - Tak Bisa Ditawar

    Seminggu penuh yang amat sangat menguras tenaga dan pikiran telah berhasil Farid lalui sendirian. Meski dulu sebenarnya Farid terbiasa, tetapi beberapa bulan terakhir selalu ada Nayla tempatnya bermanja saat pulang. Nayla telah menjadi rumah untuknya.Beban paling besar yang Farid patut syukuri telah terangkat dari pundaknya adalah saat Syahnaz berpamitan untuk kembali menetap di Bali setelah sang sahabat menyerah berjuang di Jakarta. Farid hanya bisa tertawa miris saat melepas Syahnaz saat terakhir mereka makan siang bersama untuk sekadar momen perpisahan dan permohonan maaf dari sang sahabat. Syahnaz mungkin sengaja dikirim Tuhan untuk menguji rumah tangganya dengan Nayla. Perkawinan adalah ibadah seumur hidup, Farid tidak akan melupakan nasihat yang dikumandangkan di saat akad nikahnya dulu. Ibadah terpanjang sudah pasti akan banyak ujiannya.Sepulang dari Singapura menemani Abi, Farid memutuskan bermalam di rumah masa kecilnya. Semalaman ia berbincang dengan Umi, menceritakan kisr

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status