เข้าสู่ระบบNayla bukan sosok baru untuk Farid. Mereka sudah mengenal sejak kecil, meskipun tidak secara resmi. Farid kerap bertemu Nayla dalam acara-acara keluarga yang dihadiri kedua belah pihak. Hanya sebatas saling tahu wajah, tanpa benar-benar dikenalkan oleh orang tua masing-masing.
Abi Farid dan mama Nayla keduanya terpaut pada garis keturunan yang sama, pada Kakek Buyut Al-Amar. Bedanya orang tua Farid memilih saling dijodohkan dengan calon dari lingkar keluarga mereka, sementara mama Nayla memutuskan untuk menikahi kekasih hati yang beliau temukan sendiri. Seorang laki-laki bersuku Palembang yang bukan dari keluarga pebisnis seperti hampir semua garis keturunan Al-Amar. Atas alasan itu juga mengapa kehidupan Nayla tidak semewah saudara-saudara sepupunya yang lain. Bahkan bisa dikatakan hanya sampai taraf berkecukupan. Mungkin campuran darah Palembang itu yang membuat Farid mudah mengenali Nayla. Ia tak pernah kesulitan menemukan sosok Nayla kecil meski gadis itu sedang berkerumun di antara bocah-bocah lain yang berebutan es krim. Usia Farid yang terpaut lima tahun, membuatnya enggan bergabung dengan anak-anak lain sepantaran Nayla. Farid lebih memilih duduk di kursi kayu di pinggir kolam ikan koi dengan sebuah buku komik di tangan, dari pada ikut berkejaran dengan para sepupunya yang lain di halaman kediaman kakek buyut. Ia hanya akan mengangkat wajah dari deretan huruf di buku komik itu, jika tak sengaja mendengar suara Nayla yang nyaring, memandangnya lama sampai sosok itu menghilang kembali. Darah Palembang itu membuat Nayla memiliki rambut tebal seperti sepupunya yang lain, tetapi tergerai lurus tanpa ada sehelai pun yang tampak ikal. Matanya tidak sebulat yang lain bahkan cenderung menyempit di bagian sudut, tetapi bulu-bulu mata yang melekat di sana tak kalah lentik dengan milik gadis-gadis keturunan arab. Kulit Nayla kuning langsat dengan sedikit sentuhan oriental. Mewarisi genetik timur tengah, tubuh Nayla juga termasuk jangkung untuk ukuran gadis remaja. Usia Farid genap dua puluh tahun saat ia menyadari bahwa apa yang ia punya untuk Nayla bukan sekadar rasa kagum semata. Farid selalu menunggu-nunggu waktu kapan Umi mengajaknya serta menghadiri acara keluarga. Ia rindu bertemu Nayla. Kadang ia harus kecewa jika ternyata Nayla berhalangan hadir. Hanya saja, Farid tetaplah Farid. Ia lebih memilih diam menunggu dari pada ikut bersaing dengan para sepupunya yang berjenis kelamin laki-laki yang gigih mencari perhatian Nayla. Di luar sana mungkin hidung mancung dan rahang gagahnya ramai digilai para gadis. Namun di lingkup keluarga Al-Amar, setiap lelaki punya ketampanan yang hampir sama rata. Jadi, Farid memutuskan untuk menepi dari ring persaingan sambil tetap menunggu saat yang tepat untuk mendekati Nayla. Baru dua tahun setelahnya Farid akhirnya berkesempatan berbicara dengan Nayla. Saat itu Umi mengadakan acara perpisahan sebelum keberangkatan Farid melanjutkan studi magister ke Kairo. Hati Farid bersorak saat melihat Nayla ikut menghadiri acara itu. Farid sedang duduk termenung di sisi kolam ikan koi miliknya sendiri saat melihat Nayla datang membawa sewadah makanan ikan. Awalnya Farid hanya menonton gadis itu melempar butiran-butiran ke dalam kolam. Namun, saat Nayla melempar terlalu banyak, Farid memutuskan untuk memberi tahu. “Tunggu sampai dihabiskan dulu yang terapung di air, baru kemudian kamu boleh lempar lagi,” tegur Farid saat itu. Yang Farid ingat Nayla mengangguk, tersenyum, dan kemudian meminta maaf. Sepasang matanya menatap Farid lama sebelum akhirnya ia mengucapkan sesuatu yang tidak Farid duga. “Kakak yang mau berangkat ke Kairo, bukan?” Nayla menyodorkan tangan hendak menyalami. “Selamat, ya!” Acara perpisahan itu diadakan di rumah Farid. Jika sampai Nayla tidak mengenalinya, Farid sadar itu salahnya sendiri. Namun, Farid tidak menyesal. Ia cukup puas menghabiskan waktu setengah jam setelahnya dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan Nayla tentang perkuliahan dan hal-hal serupa. Nayla mengajaknya bertukar akun I*******m, dan Farid seperti biasa terlalu pemalu untuk sekadar meminta nomor kontak Nayla. Sejak hari itu sampai tiga tahun kemudian, Farid hanya sembunyi-sembunyi mencari tahu kabar Nayla. Siapa menyangka di hari kedua kepulangannya ke Indonesia, Umi dan Abi menanyakan kesediaannya untuk berjodoh dengan Nayla. Mungkin Nayla sudah melupakannya saat akhirnya mereka kembali bertemu. Di hari pertunangan mereka, Farid sadar yang Nayla punya untuknya adalah rasa benci semata. *** “Bolehkah untuk saat ini kita tidak tidur dalam kamar yang sama?” Lamunan Farid tentang awal mula perkenalannya dengan Nayla, seketika buyar saat mendengar perempuan itu berbicara. Farid hanya bisa menghela napas panjang dan menatap Nayla lama setelahnya. Saat Nayla akhirnya mengindar karena terlalu lama beradu pandang, Farid dengan berat hati mengangguk. “Ada satu kamar tamu di lantai ini. Kamu bisa pakai kamar itu.” Farid melepaskan sebuah anak kunci dari gantungan dan menyerahkannya pada Nayla. “Mari biar aku tunjukkan kamarnya.” Saat tiba di depan kamar, Farid membiarkan Nayla yang membuka kuncinya. Ia menahan pintu agar tetap terbuka sampai perempuan itu berjalan masuk. Farid memberi waktu untuk Nayla mengamati lama isi ruangan yang akan menjadi kamarnya, sampai akhirnya perempuan itu menggeleng saat kembali menoleh pada Farid. “Kamar ini terlalu luas. Aku tidak butuh yang sebesar ini.” Nayla menolak. “Aku tidak terbiasa.” “Kamar ini biasa dipakai Umi dan Abi saat mereka menginap.” Farid menjelaskan. “Hanya sesekali mereka datang.” “Katanya ada dua ruangan lagi yang belum terpakai di lantai ini.” Nayla mencoba menawar situasi. “Boleh aku pakai itu?” “Ruangannya masih kosong,” ucap Farid datar. “Apa kamu mau tidur di lantai?” “Belikan saja aku satu tempat tidur dan lemari yang murah.” Nayla memutar bola matanya. “Uang sejumlah itu aku yakin tidak akan menguras isi tabungan kamu.” “Umi dan Abi hanya menginap sesekali,” tegas Farid sekali lagi. “Itu pun mungkin hanya sebagai bukti peduli pada anak lelakinya yang tadinya belum beristri.” “Lalu, bagaimana kalau tiba-tiba mereka datang dan menginap?” Nayla bertanya gusar. “Artinya kamu harus tidur di kamarku kalau begitu.” Farid melipat tangan di dada seraya tersenyum dan tak tahan untuk tidak tertawa ketika melihat Nayla menatapnya jengkel dengan tangan berkacak pinggang. “Aku di kamar yang lain saja. Tidak apa-apa harus tidur di lantai,” rajuk Nayla seraya melangkah keluar. Masih dengan sisa tawa di bibirnya, Farid menahan lengan Nayla. “Sementara di kamar ini saja dulu. Besok aku belikan tempat tidur dan lemari yang kamu mau.” Farid merasa sedikit lega saat Nayla setuju. “Baiklah, tapi janji hanya untuk malam ini.” “Janji.” Farid mengangkat dua jari membentuk telinga kelinci. “Terima kasih kamu mau berjuang sampai sejauh ini. Jika saat ini kamu masih belum bisa menjadi istriku yang seutuhnya, tidak membenciku saja aku sudah sangat senang, Nay.”Selain pertandingan sepak bola, bangun pagi adalah hal yang paling ditunggu oleh seorang Bayu Anggara. Mesti tidak langsung bangun saat adzan berkumandang, tetapi Bayu tidak pernah melaksanakan salat subuh saat hari sudah terang. Terkadang ia bangun sendiri, terkadang Bunda yang harus mengetuk pintu kamarnya berkali-kali sampai terdengar jawaban dari dalam. Setelah salat,Bayu pantang tidur lagi. Baginya, suasana pagi terlalu indah jika dilewati begitu saja.Ada banyak hal yang sudah mengantre untuk dilakukan Bayu di pagi hari. Memeriksa kelayakan motor Bunda sebelum berangkat ke kantor sudah menjadi tugasnya semenjak Ayah wafat. Yang pertama ia pastikan adalah kondisi bensin motor Bunda apakah cukup untuk berkendara ke kantor, karena jarum penunjuk status bahan bakarnya sudah tidak lagi berfungsi. Jika diperkirakan kurang, maka Bayu akan pergi sebentar ke pom mini di ujung jalan untuk mengisi penuh tangkinya. Kondisi ban tak luput diperhatikan. Rem apakah bekerja dengan baik, juga lam
Satu minggu pertama yang Nayla lalui di rumah Farid tak ia pungkiri terasa sangat menyenangkan. Sarapan selalu tersedia setiap pagi dengan menu yang berganti-ganti. Bahkan, dua hari terakhir, Bu Baidah salah satu asisten rumah tangga yang paling tua, sengaja bertanya apa yang Nayla ingin makan agar dapat beliau jadikan alternatif hidangan. Tidak perlu mencuci piring, menyapu rumah, mencuci dan menjemur pakaian karena ada Suri yang setiap hari mengerjakan.Farid telah mengisi ruangan kosong di lantai tiga itu sesuai permintaan Nayla. Hanya saja Farid cuma membelikan sebuah lemari kecil untuknya, dengan alasan untuk menghindarkan kecurigaan penghuni rumah yang lain jika tak sengaja memergoki mereka berpisah kamar. Barang-barang Nayla tetap ditempatkan di kamar Farid. Hanya beberapa yang ia pindahkan seperlunya saat akan tidur malam hari.Atas kesepakatan bersama, Nayla setuju untuk sesekali istirahat siang di kamar Farid. Lelaki itu berargumen agar pernikahan mereka tampak normal di mat
Nayla bukan sosok baru untuk Farid. Mereka sudah mengenal sejak kecil, meskipun tidak secara resmi. Farid kerap bertemu Nayla dalam acara-acara keluarga yang dihadiri kedua belah pihak. Hanya sebatas saling tahu wajah, tanpa benar-benar dikenalkan oleh orang tua masing-masing.Abi Farid dan mama Nayla keduanya terpaut pada garis keturunan yang sama, pada Kakek Buyut Al-Amar. Bedanya orang tua Farid memilih saling dijodohkan dengan calon dari lingkar keluarga mereka, sementara mama Nayla memutuskan untuk menikahi kekasih hati yang beliau temukan sendiri. Seorang laki-laki bersuku Palembang yang bukan dari keluarga pebisnis seperti hampir semua garis keturunan Al-Amar. Atas alasan itu juga mengapa kehidupan Nayla tidak semewah saudara-saudara sepupunya yang lain. Bahkan bisa dikatakan hanya sampai taraf berkecukupan.Mungkin campuran darah Palembang itu yang membuat Farid mudah mengenali Nayla. Ia tak pernah kesulitan menemukan sosok Nayla kecil meski gadis itu sedang berkerumun di anta
Hari ini tepat dua puluh hari Nayla resmi menjadi istri Farid Atqan Al Amar. Dua puluh hari yang melelahkan. Setelah acara akad nikah sederhana di rumah Papa yang dilanjutkan dengan syukuran dan acara adat, dua minggu kemudian Nayla harus kembali duduk di pelaminan dalam resepsi pernikahan yang diadakan keluarga Farid di sebuah hotel milik keluarga.Seumur-umur, Nayla malah belum pernah menginjakkan kaki di tempat itu. Ia hanya sering menatap hotel tersebut dari atas boncengan motor Bayu saat berhenti di lampu merah ke arah kampus. Ia bahkan sempat mereka-reka berapa banyak gaji yang harus ia sisihkan agar setara dengan harga kamar paling mahal di hotel itu. Tentunya setelah ia dan Bayu lulus, mendapat pekerjaan, menikah, dan jika beruntung bisa menghabiskan satu hari bulan madu mereka di sana.Impian itu akhirnya terwujud. Nayla bisa menempati kamar paling mahal dengan kasur paling empuk tersebut di malam seusai resepsi. Ranjangnya yang bahkan terlalu luas hanya ia tempati sendiri, k
Jika ada hari yang paling ditunggu Nayla seumur hidupnya, maka itu akan jatuh pada hari ini. Wajahnya sudah terias cantik, dengan pewarna bibir, pemoles pipi, serta coretan pensil alis. Tubuhnya telah terbalut kebaya putih bertabur batu permata yang berkerlap kerlip. Kulit punggung tangannya yang terang hampir tak terlihat karena tertutupi lukisan inai hingga ke ujung jari.Nayla mengenal cinta sejak usia belia. Umurnya belum genap dua belas tahun saat ia menyakini bahwa dirinya suatu saat akan menikah dengan tambatan hatinya. Pilihan sendiri. Meskipun sejak usia itu hingga mencapai umur dua puluh satu saat ini, entah sudah berapa laki-laki yang singgah mencuri cinta di hati Nayla. Namun, mulai setahun belakangan, perempuan itu yakin bahwa Bayu yang akan menjadi persinggahannya yang terakhir. Bayu mencintainya. Tak ada sedikit pun dari sikap pemuda itu yang tidak menunjukkan gelora cinta pada Nayla.Enam puluh menit ke depan, Nayla akan resmi menjadi seorang istri. Sesuai pesan sang p







