Share

Abby and Her Amulet
Abby and Her Amulet
Author: Wintersnow

1

Author: Wintersnow
last update publish date: 2021-04-15 17:40:02

Namaku Abigail Montlace. Semua orang memanggilku Abigail atau si bungsu dari keluarga Montlace.

Tapi nenekku memanggilku Abby. Aku sangat menyukai nama itu. Sebenarnya aku menyukai apa saja yang dikatakan nenek.

Beliau adalah pendongeng yang hebat. Cara penyampaiannya benar-benar bagus seolah semua dongeng yang diceritakan adalah kisah nyata. 

Tapi ada sebuah cerita yang paling kusukai yaitu mengenai Pangeran Maxwell. 

Pangeran malang itu dibuang oleh keluarganya karena sebuah kutukan yang menjadikannya seekor kucing saat matahari tenggelam. Ia akan kembali menjadi manusia saat lewat tengah malam.

Dan hanya cerita itu saja yang tidak kuketahui akhirnya.

Pernah suatu ketika aku menanyakan hal itu. Kalau tidak salah, saat usiaku masih tujuh tahun.

Nenek dengan senyum hangatnya, menjawab bahwa ia masih belum menemukan akhir cerita yang pantas untuk pangeran Maxwell.

"Jadi, Nenek membuatnya sendiri?"

"Tentu saja tidak, Abby. Angin yang memberitahukan padaku."

"Angin? Bagaimana caranya?"

"Saat angin berhembus, pejamkan matamu dan dengarkan apa yang ia katakan. Angin merupakan perantara dan pencerita yang jujur. Aku yakin kau akan menyukainya."

Saat itu aku hanya mengangguk tanpa tahu maksudnya. Setelah itu aku selalu mencobanya. 

Tapi tak membuahkan hasil.

Aku bahkan memejamkan mata sambil menangkupkan tangan ke belakang telinga. Hanya terdengar suara tak berkata.

Aku mengadukan hal ini pada Nenek. 

"Mungkin ia masih malu untuk menyampaikan sesuatu padamu."

"Bagaimana cara Nenek akrab dengan angin? Aku ingin tahu cerita selanjutnya, Nek."

"Abby, kadangkala bukan hanya angin. Tapi seluruh alam ini mencoba untuk berkomunikasi dengan para manusia. Mereka menggunakan bahasa dan cara pendekatan yang berbeda-beda. Para manusia hanya perlu mendengar lebih dalam."

"Mendengar lebih dalam? Apa maksudnya?"

Senyum Nenek nampak misterius saat itu, "Nanti kau akan mengetahuinya."

Tapi tidak.

Bahkan sampai saat umurku hampir menginjak tujuh belas. Aku sama sekali tak mengerti.

Saat aku berumur delapan tahun, Ayah mendapat pekerjaan di kota yang sekarang kami tinggali.

Pekerjaan Ayah sebagai pedagang berkembang dengan baik. Sehingga kami bisa hidup berkecukupan. 

Tidak perlu mencari kayu bakar di hutan lagi. 

Tidak perlu berbagi selimut lagi saat musim dingin tiba.

Tapi Nenek tidak mau ikut pindah bersama kami. Ia tak ingin meninggalkan gubuk tuanya. Bahkan saat aku menangis dan merengek kepadanya, ia sama sekali tak berniat merubah pikirannya.

"Aku ingin selalu bersama, Nenek. Bagaimana bisa aku hidup tanpamu?"

"Saat di kota nanti, aku yakin banyak hal menyenangkan yang kau temui. Kau mungkin akan melupakan nenek tua ini."

"Tentu saja, tidak! Aku akan tinggal bersama Nenek!"

"Jangan begini, Abby. Nanti orang tuamu sedih. Kau tidak suka membuat mereka sedih, bukan?"

Dengan lembut, Nenek menyeka air mata dan ingus dari wajahku. "Begini saja. Aku akan memberikanmu sebuah hadiah. Sebagai tanda, bahwa aku akan selalu bersamamu, dimanapun kau berada."

Sebuah amulet dari batu hijau dengan kalung berupa rantai kecil perak. 

Nenek mengalungkannya di leherku dan menutupinya dengan syal milikku.

"Pastikan kau selalu menjaganya dan jangan sampai ada orang lain yang mengetahui keberadaan amulet ini."

"Bahkan pada Ayah atau Ibu?"

"Amulet ini terbuat dari batu emerald. Beberapa orang menyebutnya batu zamrud. Melambangkan perlindungan dan kebijaksanaan. Harganya sangat mahal dan aku takut, mungkin orang tuamu akan menjualnya." Wajah Nenek tampak sedih. Kerutan di dahinya semakin dalam. Mendadak ia terlihat sepuluh tahun lebih tua. "Kalau itu terjadi, satu-satunya penghubung di antara kita akan hilang. Mungkin saja, aku tak bisa bertemu lagi denganmu."

Tangisku pecah dan aku segera memeluk Nenek. Aku berjanji akan menjaga amulet itu beserta dengan hubungan serta kenangan kami yang berharga.

Nenek balas memelukku dan mengatakan bahwa aku harus menjadi anak baik.

Aku menenggelamkan kepala dalam lengannya. Tercium aroma campuran kayu manis dan roti panggang yang baru keluar dari oven. 

Aku pasti akan merindukannya.

Itulah terakhir kalinya kami bertemu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Abby and Her Amulet   28

    Aku berkedip dua kali sebelum berkata, “Aku tak mau bermain dengan anak ingusan. Jadi kembalikan kucing itu sekarang atau aku akan pakai kekerasan.”Kubuka kepalan tanganku, menunjukkan sebuah lingkaran api kecil. Aku tidak yakin dengan akurasi serangannya, tapi kupastikan ini akan sakit jika terkena kulitnya, “Kembalikan kucing itu. Sekarang.”Aku memastikan suaraku setegas mungkin tapi sepertinya tidak berhasil karena peri itu malah tertawa dan menggendong kucing hitam itu dengan erat, “Coba saja, Abigail. Aku tahu kamu tidak akan berani. Sejak dulu selalu begitu, ‘kan?”Sejak dulu? Apa maksudnya? Aku yakin benar kami tidak pernah bertemu selain di hutan ini.“Bagaimana kalau begini saja, kita main lima menit dan setelahnya aku kembalikan kucing ini padamu. bagaimana?”“Tidak ada permainan. Kembalikan saja kucingnya. Lagipula, kenapa terusmengajakku bermain? Aku sibuk.”Peri hutan itu mencemberutkan ujung bibirnya dengan wajah sendu, “Aku tak punya teman.”“Kudengar kau sering mencu

  • Abby and Her Amulet   27

    "Abby, boleh aku tahu apa yang kau bicarakan pada Herion soal kuil suci Quarlm? Tidak cerita juga tidak apa-apa. Aku hanya penasaran saja,” katanya saat kami sedang menyusuri pinggir hutan untuk menemukan jembatan kayu di atas sungai Ahn.Kami memutuskan untuk langsung berangkat karena tidak ada penginapan di daerah sekitar sini juga karena kuil itu terletak tidak jauh dari sungai. Atau setidaknya itu yang tergambar di perkamen milik Groki.“Bukan masalah besar, Herion hanya berkata kalau mungkin kita perlu melewatinya,” balasku malas. Enggan membalas apa yang kulihat di lemari Herion atau suara teriakan yang memintaku untuk menemukan Tusban atau untuk menolong mereka. Bukan karena apa-apa, tapi dia juga punya masalahnya sendiri.Lagipula Tusban tetap aman dan tidak ada yang perlu di khawatirkan. Kecuali, mungkin, isi perut Ezra. Terakhir kami berpamitan, laki-laki itu masih memuntahkan katak dari mulutnya “Ada baiknya kau memikirkan nasibmu sendiri. Sebentar lagi kau akan jadi petapa

  • Abby and Her Amulet   26

    Ada jeda sebentar sebelum kami berdua menemukan suara. Groki tidak hanya mengatakan bahwa Maxwell sendiri yang tahu bagaimana cara mematahkan kutukan, namun Groki tahu siapa Maxwell sebenarnya.“Saya turut berduka cita atas yang menimpa anda. Mm, anda lebih suka dipanggil Maxwell?”“Yah, bagaimanapun Itu nama saya. Tolong bersikap biasa saja. Dan soal kutukan itu saya tidak mengerti.”Groki mengangguk sebelum ia duduk di sofa yang berbentuk jamur raksasa, “Aku masih muda saat kutukan itu dijatuhkan padamu. Baginda raja memerintahkan semua penyihir serta peramal untuk mengatasi kutukan itu. Beliau sangat khawatir. Saat itu, penyihir suci sedang tidak ada di tempat dan kami semua berusaha begitu keras sampai akhirnya beliau menyerah dan yah, kau yang paling tahu kelanjutannya.”Maxwell mendengus saat mendengar hal itu, tapi dia memilih untuk tidak berkomentar. “Saat itu sedang terjadi banyak kekacauan jadi mungkin saja kau mendengar banyak desas-desus. Tapi aku percaya akan hal itu. Ba

  • Abby and Her Amulet   25

    Kami berangkat pagi sekali sebelum menyewa kereta kuda menuju Hutan Pinus. Sejak semalam, Maxwell dan aku tidak banyak bicara. Kami hanya bicara seperlunya dan membuat perjalanan kami diliputi keheningan sementara tanganku terus memegang amulet.Kereta kuda berhenti tepat di papan nama hutan yang ditulis di atas kayu yang agak lapuk. Maxwell maju lebih dulu dan aku mengikutinya. Jarak pepohonan yang rapat membuat suasana hutan menjadi suram dan gelap meskipun aku yakin ini baru pukul delapan pagi.Dari kejauhan, kami bisa melihat menara tinggi yang dicat dengan warna pastel yang menyala. Maxwell mendengus, “Firasatku buruk. Menara itu kelihatan seperti kue ulang tahun untuk anak lima tahun. Siapapun yang ada di dalamnya, aku… tak yakin.”“Memangnya kapan firasatmu pernah baik? Lagipula, menaranya terlihat imut. Aku suka.”Ia memutar bola matanya, “Mungkin ini termasuk hal-hal yang hanya dimengerti oleh para penyihir. Yah, kurasa Fabio benar. Para penyihir ini memang agak.. tidak biasa

  • Abby and Her Amulet   24

    “Kau yakin?” tanya Maxwell untuk kesekian kalinya setelah kami keluar dari Ausbant dan kembali ke perpustakaan. “Kita ini sedang membicarakan Grische si tukang pembuat kesialan. Bagaimana kalau kita malah dituduh mencuri dan malah dijebloskan di penjara?”“Tinggal kabur saja, apa susahnya? Lagipula kau bisa berubah jadi kucing terbang itu dan kita bisa cari cara untuk menyelinap ke tempat arsip kuno. Setidaknya percaya dirilah sedikit, kita sudah pernah menghadapi naga. Apalagi yang perlu kita takuti?”Maxwell bersungut-sungut saat berkata, “Abby, aku serius.”“Aku juga. Lagipula hanya ini satu-satunya cara yang kupikir bisa dicoba. Kecuali kau punya ide lain, aku akan mendengarkannya.”Laki-laki itu hanya menghela nafas dan tidak mengatakan apapun saat kami akhirnya kembali ke perpustakaan. Petugas perpustaakan yang sama dengan sebelumnya menyambut kami dengan senyum samar saat kami pergi menuju konternya.Tanpa ragu, aku langsung menunjukkan token burung hantu padanya, “Apa ini bisa

  • Abby and Her Amulet   23

    Aku melongo saat melihat kuda terbang di langit pagi pada kota Tusban. Atau kelinci bersayap atau kucing berkaki enam. Perjalanan tiga hari dari desa Blackthorn itu terasa seperti mimpi jika dibandingkan dengan pemandangan yang ada di depanku.Aku melirik Maxwell yang nampak biasa saja ketika kami melewati gerbang setelah menunjukkan identitas pengenalnya. Karena aku tak punya kartu identitas, dia harus membayar ekstra untuk menjadi penjaminku.“Kenapa tidak bilang kalau banyak hewan aneh disini?”Maxwell mengangkat alisnya, “Kau sudah melihat, ogre, laba-laba raksasa, dan juga harpy, tapi masih terkejut melihat kuda terbang?”Oh, jadi maksudnya ini normal. Maxwell kemudian melanjutkan jika hewan-hewan disini dulunya liar dan akhirnya diternakkan dan dipelihara oleh para penyihir disini. karena Tusban memiliki populasi penyihir yang paling besar, secara otomatis hewan-hewan itu akan tinggal disini karena kekuatan sihir bisa membantu menjinakkan mereka.Setelah kami memesan dua kamar d

  • Abby and Her Amulet   5

    Entah dari mana aku mendapatkan keberanian itu, tapi tanganku sudah mencengkeram kerah bajunya. "Maxwell Ignatius de Albertine, aku sudah bertekad agar kau bisa menikah dengan seorang gadis manusia dan memiliki anak-anak manusia juga. Kau harus hidup bahagia dan terbebas dari kutukan sialan itu l

  • Abby and Her Amulet   4

    Maxwell mengangkat sebelah alisnya saat aku menyeruput sisa sup kentang buatannya dari mulut mangkuk.Entah karena lapar atau dia memang pandai memasak, tapi rasa supnya enak sekali. Aku bahkan tak menolak saat ia menuangkan sisa sup dari panci kepadaku."Kau tak bisa terus menggunakan

  • Abby and Her Amulet   3

    "Nona mengenal saya?" Tanyanya dengan dahi berkerut. Dia membungkuk sedikit sebelum melanjutkan, "Maaf atas ketidaksopanannya, tapi saya tidak yakin pernah menemui anda sebelumnya."Aku tergagap. Sepertinya tanpa sadar aku mengucapkan namanya keras-keras."Aku.. aku.. sebenarnya..

  • Abby and Her Amulet   2

    Dengan perasaan malu, aku harus mengakui kalau ucapan Nenek memang ada benarnya.Sesampainya di kota, aku nyaris melupakannya kalau tak ada amulet yang selalu bergantung di leherku.Kota ini benar-benar menyita perhatianku seolah ada aura magis yang menyelubunginya.Dulu, kami tinggal di

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status