LOGIN
Namaku Abigail Montlace. Semua orang memanggilku Abigail atau si bungsu dari keluarga Montlace.
Tapi nenekku memanggilku Abby. Aku sangat menyukai nama itu. Sebenarnya aku menyukai apa saja yang dikatakan nenek.
Beliau adalah pendongeng yang hebat. Cara penyampaiannya benar-benar bagus seolah semua dongeng yang diceritakan adalah kisah nyata. Tapi ada sebuah cerita yang paling kusukai yaitu mengenai Pangeran Maxwell. Pangeran malang itu dibuang oleh keluarganya karena sebuah kutukan yang menjadikannya seekor kucing saat matahari tenggelam. Ia akan kembali menjadi manusia saat lewat tengah malam.Dan hanya cerita itu saja yang tidak kuketahui akhirnya.Pernah suatu ketika aku menanyakan hal itu. Kalau tidak salah, saat usiaku masih tujuh tahun.Nenek dengan senyum hangatnya, menjawab bahwa ia masih belum menemukan akhir cerita yang pantas untuk pangeran Maxwell."Jadi, Nenek membuatnya sendiri?""Tentu saja tidak, Abby. Angin yang memberitahukan padaku.""Angin? Bagaimana caranya?""Saat angin berhembus, pejamkan matamu dan dengarkan apa yang ia katakan. Angin merupakan perantara dan pencerita yang jujur. Aku yakin kau akan menyukainya."Saat itu aku hanya mengangguk tanpa tahu maksudnya. Setelah itu aku selalu mencobanya. Tapi tak membuahkan hasil.Aku bahkan memejamkan mata sambil menangkupkan tangan ke belakang telinga. Hanya terdengar suara tak berkata.Aku mengadukan hal ini pada Nenek. "Mungkin ia masih malu untuk menyampaikan sesuatu padamu.""Bagaimana cara Nenek akrab dengan angin? Aku ingin tahu cerita selanjutnya, Nek.""Abby, kadangkala bukan hanya angin. Tapi seluruh alam ini mencoba untuk berkomunikasi dengan para manusia. Mereka menggunakan bahasa dan cara pendekatan yang berbeda-beda. Para manusia hanya perlu mendengar lebih dalam.""Mendengar lebih dalam? Apa maksudnya?"Senyum Nenek nampak misterius saat itu, "Nanti kau akan mengetahuinya."Tapi tidak.Bahkan sampai saat umurku hampir menginjak tujuh belas. Aku sama sekali tak mengerti.Saat aku berumur delapan tahun, Ayah mendapat pekerjaan di kota yang sekarang kami tinggali.Pekerjaan Ayah sebagai pedagang berkembang dengan baik. Sehingga kami bisa hidup berkecukupan.
Tidak perlu mencari kayu bakar di hutan lagi. Tidak perlu berbagi selimut lagi saat musim dingin tiba.Tapi Nenek tidak mau ikut pindah bersama kami. Ia tak ingin meninggalkan gubuk tuanya. Bahkan saat aku menangis dan merengek kepadanya, ia sama sekali tak berniat merubah pikirannya."Aku ingin selalu bersama, Nenek. Bagaimana bisa aku hidup tanpamu?""Saat di kota nanti, aku yakin banyak hal menyenangkan yang kau temui. Kau mungkin akan melupakan nenek tua ini.""Tentu saja, tidak! Aku akan tinggal bersama Nenek!""Jangan begini, Abby. Nanti orang tuamu sedih. Kau tidak suka membuat mereka sedih, bukan?"Dengan lembut, Nenek menyeka air mata dan ingus dari wajahku. "Begini saja. Aku akan memberikanmu sebuah hadiah. Sebagai tanda, bahwa aku akan selalu bersamamu, dimanapun kau berada."Sebuah amulet dari batu hijau dengan kalung berupa rantai kecil perak. Nenek mengalungkannya di leherku dan menutupinya dengan syal milikku."Pastikan kau selalu menjaganya dan jangan sampai ada orang lain yang mengetahui keberadaan amulet ini.""Bahkan pada Ayah atau Ibu?""Amulet ini terbuat dari batu emerald. Beberapa orang menyebutnya batu zamrud. Melambangkan perlindungan dan kebijaksanaan. Harganya sangat mahal dan aku takut, mungkin orang tuamu akan menjualnya." Wajah Nenek tampak sedih. Kerutan di dahinya semakin dalam. Mendadak ia terlihat sepuluh tahun lebih tua. "Kalau itu terjadi, satu-satunya penghubung di antara kita akan hilang. Mungkin saja, aku tak bisa bertemu lagi denganmu."Tangisku pecah dan aku segera memeluk Nenek. Aku berjanji akan menjaga amulet itu beserta dengan hubungan serta kenangan kami yang berharga.Nenek balas memelukku dan mengatakan bahwa aku harus menjadi anak baik.Aku menenggelamkan kepala dalam lengannya. Tercium aroma campuran kayu manis dan roti panggang yang baru keluar dari oven. Aku pasti akan merindukannya.Itulah terakhir kalinya kami bertemu.“Kau yakin?” tanya Maxwell untuk kesekian kalinya setelah kami keluar dari Ausbant dan kembali ke perpustakaan. “Kita ini sedang membicarakan Grische si tukang pembuat kesialan. Bagaimana kalau kita malah dituduh mencuri dan malah dijebloskan di penjara?”“Tinggal kabur saja, apa susahnya? Lagipula kau bisa berubah jadi kucing terbang itu dan kita bisa cari cara untuk menyelinap ke tempat arsip kuno. Setidaknya percaya dirilah sedikit, kita sudah pernah menghadapi naga. Apalagi yang perlu kita takuti?”Maxwell bersungut-sungut saat berkata, “Abby, aku serius.”“Aku juga. Lagipula hanya ini satu-satunya cara yang kupikir bisa dicoba. Kecuali kau punya ide lain, aku akan mendengarkannya.”Laki-laki itu hanya menghela nafas dan tidak mengatakan apapun saat kami akhirnya kembali ke perpustakaan. Petugas perpustaakan yang sama dengan sebelumnya menyambut kami dengan senyum samar saat kami pergi menuju konternya.Tanpa ragu, aku langsung menunjukkan token burung hantu padanya, “Apa ini bisa
Aku melongo saat melihat kuda terbang di langit pagi pada kota Tusban. Atau kelinci bersayap atau kucing berkaki enam. Perjalanan tiga hari dari desa Blackthorn itu terasa seperti mimpi jika dibandingkan dengan pemandangan yang ada di depanku.Aku melirik Maxwell yang nampak biasa saja ketika kami melewati gerbang setelah menunjukkan identitas pengenalnya. Karena aku tak punya kartu identitas, dia harus membayar ekstra untuk menjadi penjaminku.“Kenapa tidak bilang kalau banyak hewan aneh disini?”Maxwell mengangkat alisnya, “Kau sudah melihat, ogre, laba-laba raksasa, dan juga harpy, tapi masih terkejut melihat kuda terbang?”Oh, jadi maksudnya ini normal. Maxwell kemudian melanjutkan jika hewan-hewan disini dulunya liar dan akhirnya diternakkan dan dipelihara oleh para penyihir disini. karena Tusban memiliki populasi penyihir yang paling besar, secara otomatis hewan-hewan itu akan tinggal disini karena kekuatan sihir bisa membantu menjinakkan mereka.Setelah kami memesan dua kamar d
Keesokan harinya, Maxwell dan aku berpamitan setelah kami selesai sarapan. Evan baru saja mengirimkan surat dengan burung merpatinya saat mengantar kami hingga ke perbatasan desa.“Sayang sekali, tak ada kuda yang bisa kupinjamkan pada kalian. Tapi, jarak Tusban dari sini hanya tiga hari perjalanan kaki, kalian pasti bisa melaluinya dengan baik. Hati-hati di jalan dan terima kasih atas bantuan kalian. Jika para warga sudah kembali, kalian harus mampir lagi kesini. Desa kami terkenal dengan makanan penutupnya. Nona Montlace tentu harus mencobanya.”Aku melempar senyum kecil dan tak tahu harus berkata apa. Karena aku tak yakin bisa tinggal lebih lama setelah mematahkan kutukan Maxwell. Setelah mendapatkan beberapa saran dari Evan, kami akhirnya benar-benar pergi setelah mengucapkan selamat tinggal.“Berarti malam ini kita akan tidur di hutan lagi?” tanyaku saat melewati jalan setapak di dalam hutan yang akan membawa kami ke Tusban.“Tidak seperti Pegunungan Utara yang banyak hewan buas
Desa Blackthorn ternyata lebih dekat dari yang kupikir. Begitu keluar dari hutan dan melewati jalan setapak, kami disambut dengan papan kayu dengan tulisan nama desa tersebut.Bangunan-bangunan di dalam desa itu kebanyakan dibuat dengan batu bata dan semua pintunya tertutup. Barisan toko makanan dan perlengkapan lainnya terlihat sepi dan tak ada tanda kehidupan.“Tidakkah desa ini terlalu sunyi? Matahari sudah tinggi tapi tidak ada satu toko yang buka. Lihat, bahkan penginapan yang ada di seberang trotoar itu masih tutup,” kataku pada Maxwell yang berjalan di sampingku. Maxwell mengedikkan bahunya, “Kita akan cari tahu nanti setelah menjual tanduk-tanduk ini. Lihat, setidaknya ada Serikat petualang di sudut jalan itu. Ayo, kita pergi.”Aku mengernyitkan dahi saat melihat bangunan yang ditunjuk Maxwell juga tertutup rapat. Tapi, tak ada pilihan lain selain mengikutinya.Maxwell mengetuk pintu itu beberapa kali, “Permisi, apa ada orang disini?”Tak ada suara balasan.“Mungkin desa in
Aku hampir tak bisa menghitung berapa jumlah apel yang aku makan sambil menunggu Maxwell menebas para Ogre malang itu di dekat gua. Dia bilang karena sudah menggunakan banyak energi sihir, aku dilarang untuk membantunya.Yah, aku bahkan tidak berniat untuk mengeluh. Membunuh makhluk dengan ingus raksasa bukan masuk daftar keinginanku. Jadi kubiarkan dia melenturkan ototnya yang kaku setelah memarnya sembuh.“Senang bertemu anda lagi, Nona Abby.”Perhatianku teralihkan ke arah suara merdu itu. Grische, si elf tampan itu datang dan menghampiri dengan senyum ramah. Aku menganggukkan kepala dan karena tak mengerti harus bicara apa, kuulurkan sebutir apel untuknya, “Kau mau?”Senyum Grische semakin lebar saat mengambil apel itu dan memakannya sambil duduk di semak belukar yang ada di sampingku, “Terima kasih. Aku hampir saja pingsan karena lapar.”Mendengar hal itu, kuulurkan keranjang berisi apel padanya. Kami berencana menjualnya karena buah apel memiliki harga yang cukup mahal apalagi
Gematra sedang duduk di singgasanan batunya itu saat kami kembali. Senyumnya masih seramah sebelumnya tapi aku bisa melihat ekspresi semacam ‘Ah, kalian ternyata masih hidup?’Maxwell membungkuk sopan sebelum berkata, “Kami telah melakukan perintah anda, Dewi.”“Itu bagus sekali! Sekarang aku bisa tidur nyenyak.”Aku menahan diri untuk tidak mendengus. Tak ada rasa bangga karena hampir kehilangan nyawa untuk menjaga jadwal tidur sang dewi. Buru-buru kuambil kantung dan menunjukkan isinya padanya, “Dewi, saya mempersembahkan Persion untuk anda.”Mata ungu milik Gematra bersinar cerah. Ia menggerakkan jarinya dan kantung berisi Persion itu melayang ke arahnya, “Ah, Persi! Akhirnya kau kembali ke bentuk asalmu.”Ucapan tersebut membuat Maxwell dan aku slaing bertikar pandang. Dia bilang apa barusan?Persion mendesis lebih keras. Mungkin tersinggung karena dipandangi seperti mainan baru. Jadi dia mencoba terlihat menakutkan dengan membuka mulutnya untuk mengeluarkan api kecil sambil meng
Entah dari mana aku mendapatkan keberanian itu, tapi tanganku sudah mencengkeram kerah bajunya. "Maxwell Ignatius de Albertine, aku sudah bertekad agar kau bisa menikah dengan seorang gadis manusia dan memiliki anak-anak manusia juga. Kau harus hidup bahagia dan terbebas dari kutukan sialan itu l
Maxwell mengangkat sebelah alisnya saat aku menyeruput sisa sup kentang buatannya dari mulut mangkuk.Entah karena lapar atau dia memang pandai memasak, tapi rasa supnya enak sekali. Aku bahkan tak menolak saat ia menuangkan sisa sup dari panci kepadaku."Kau tak bisa terus menggunakan
"Nona mengenal saya?" Tanyanya dengan dahi berkerut. Dia membungkuk sedikit sebelum melanjutkan, "Maaf atas ketidaksopanannya, tapi saya tidak yakin pernah menemui anda sebelumnya."Aku tergagap. Sepertinya tanpa sadar aku mengucapkan namanya keras-keras."Aku.. aku.. sebenarnya..
Dengan perasaan malu, aku harus mengakui kalau ucapan Nenek memang ada benarnya.Sesampainya di kota, aku nyaris melupakannya kalau tak ada amulet yang selalu bergantung di leherku.Kota ini benar-benar menyita perhatianku seolah ada aura magis yang menyelubunginya.Dulu, kami tinggal di







