LOGINEntah dari mana aku mendapatkan keberanian itu, tapi tanganku sudah mencengkeram kerah bajunya. "Maxwell Ignatius de Albertine, aku sudah bertekad agar kau bisa menikah dengan seorang gadis manusia dan memiliki anak-anak manusia juga. Kau harus hidup bahagia dan terbebas dari kutukan sialan itu lagi."
"Maxwell Knightwood, itu nama yang kupakai sekarang." Ia menepis tanganku dan merapikan kerah bajunya. "Kenapa kau terobsesi sekali dengan hal itu? Aku sudah bahagia. Sekarang yang terpenting, kau harus pulang. Keluargamu pasti sudah menunggumu.""Kau benar. Keluargaku pasti sudah menungguku. Karena itu mari kita patahkan kutukannya sekarang juga. Agar aku bisa pulang dengan nyaman. Anggaplah ini sebagai balas budi karena kau menyelamatkanku.""Balas budi?" Maxwell nampak tertegun dengan ucapan itu. "Aku menolongmu karena itu adalah hal yang benar.""Tapi tak semua orang melakukan hal yang benar. Kebanyakan hanya melakukan hal yang mudah. Kau bisa membiarkanku mati kelaparan atau dimakan hewan buas. Karena itu, ijinkan aku membantumu. Aku mohon. Aku tak suka memiliki hutang budi.""Baiklah. Kita coba dalam waktu satu minggu. Setelah itu, kuanggap hutangmu lunas dan kau harus pulang.""Setuju!" Aku menjabat tangannya dengan erat. "Lalu kita mulai darimana?""Akan bicarakan setelah kita membeli pakaian untukmu."Kami telah sampai di pintu masuk pasar. Sama seperti pasar lainnya, beberapa stand berjejer-jejer untuk menawarkan berbagai macam dagangannya.Kebanyakan stand menggunakan payung cokelat berukuran besar untuk mencegah terik matahari mengenai kulit mereka. Beberapa lainnya menggunakan tenda bewarna kulit.
Tidak banyak pembeli saat itu. Mungkin hanya sekitar sepuluh orang.Para pedagang nampak malas menawarkan barang dagangan mereka. Kalau boleh kubilang, tingkah mereka agak kurang sopan. Tak jarang mereka mengusir pembeli yang mencoba menawar.
"Kau pasti sudah gila! Ini barang langka! Mana bisa kujual dengan harga segitu!" Teriak seorang pedagang senjata saat itu. Si pembeli nampaknya tak terpengaruh dengan hal itu dan tetap menawar sebuah belati yang kayu pegangannya terdapat ukiran sulur bunga. Sebenarnya, itu senjata yang cukup bagus. Tapi pisau belatinya agak sedikit berkarat.Kalau aku jadi pedagangnya, aku akan memberikannya secara cuma-cuma. Walaupun benda itu langka.
Tapi kalau tak bisa digunakan, untuk apa juga?"Abby, sebelah sini." Maxwell melambaikan tangannya. Tahu-tahu ia sudah berada di depan sebuah toko terpencil yang letaknya sekitar lima puluh meter dariku."Aduh!" Seruku saat seseorang menabrakku dari belakang. "Hei!""Maaf, saya tidak sengaja." Katanya. Aku tak bisa melihat wajahnya karena tertutup tudung kepala. Dari suaranya sepertinya dia laki-laki. Tubuhnya sekitar sepuluh senti lebih tinggi dariku. Setelah mengatakan hal itu, ia segera mempercepat langkahnya. Kelihatannya ia sedang terburu-buru.Tapi aku tak memperdulikannya. Dan bergegas menuju toko tersebut. Maxwell sudah masuk ke dalam sejak tadi. Dari luar toko itu nampak seperti menjual barang bekas. Banyak tumpukan guci atau artefak kuno bahkan lukisan yang kelihatan lusuh. Sedangkan bagian dalam toko tersebut tidak lebih baik dari bagian luar.Yang jelas ini bukan toko pakaian."Apa ini yang kau maksud?" Seorang laki-laki dengan kacamata bulat melihatku dengan pandangan bertanya. Rambutnya disisir ke belakang. Sebagian bewarna hitam sebagian lagi putih uban. Tapi wajahnya tidak terlihat setua itu.Ia berbicara dari balik konter dan Maxwell menjawabnya dengan anggukan. Laki-laki itu melihatku dari ujung rambut sampai kaki tapi aku sama sekali tidak risih dibuatnya.
Maxwell menaruh satu keping emas. Mata uang yang tidak ku kenal. Di tempatku tinggal, kami selalu menggunakan uang kertas."Tunggu sebentar." Kata lelaki itu dan ia menghilang di balik pintu yang berada di belakanhnya."Kau yakin mereka menjual pakaian?""Istri Stevan, Rosalind, adalah penyihir kain.""Apa? Maksudmu penjahit?" Aku baru pertama kali mendengar hal semacam ini. Sebelumnya kupikir penyihir hanya ada dalam dongeng buatan nenekku. Tapi mengingat bahwa sepertinya dongeng itu berdasarkan kisah nyata, mungkin aku harus membiarkan pikiranku terbuka."Penjahit menggunakan benang dan jarum. Tapi Rosalind tidak. Dia hanya perlu berpikir sebentar dan pakaianmu selesai.""Mereka bahkan tak perlu mengukur tubuhku? Bagaimana kalau aku tak menyukai modelnya."Maxwell tersenyum samar, "Semua orang menyukai pakaian buatan Rosalind.""Kau juga?""Ya, tentu saja.""Kau kelihatannya mengenal Rosalind ini dengan baik.""Mereka, Rosalind maupun Stevan, adalah pelanggan kayu bakarku."Aku menggangguk meski tak yakin apakah Maxwell berkata jujur.Pintu belakang konter terbuka dan Stevan membawa dua stel baju, tas selempang bahu dan sepasang sepatu."Kau bisa mencobanya di sana." Stevan menunjuk sebuah pintu di dekat etalase. Aneh.Aku tak melihat pintu itu sebelumnya."Terima kasih, Stevan. Tapi kami harus kembali sekarang. Titip salam untuk Rosalind.""Baiklah." Stevan lalu masuk ke dalam pintu itu lagi. Maxwell lalu mendorongku ke pintu keluar. Aku memasukkan baju dan sepatu itu ke dalam tas. Tak pernah kusangka bahwa anyaman jerami bisa digunakan untuk membuat tas.Sepatunya terbuat dari kulit sapi yang kuat. Setelannya berupa kemeja dan celana terbuat dari katun yang nyaman. Aku tak bisa bilang aku membencinya karena belum melihat model keseluruhannya.Lagipula kemeja dan celana panjang kan memiliki model yang begitu-begitu saja.
Kalau diingat lagi, sudah lama sekali aku tidak memakai celana panjang.Mungkin terakhir kali aku memakainya saat tinggal di desa dulu. Di kota, para perempuan menggunakan gaun panjang. Juga korset pinggang yang sesaknya bukan main."Kita harus membeli perbekalan untuk perjalanan besok." Kata Maxwell. "Juga peta untuk mencari tempat tinggalmu.""Tunggu dulu, bukannya kita harus mematahkan kutukanmu dulu?""Aku rasa itu searah.""Benarkah?"Maxwell tak menjawab. Ia berjalan menuju pedagang buku lalu menukar sekeping koin emas dengan peta dari kulit binatang dan kompas sebesar kepalan tangan. Aku tidak bercanda. Memangnya kenapa ia membeli kompas sebesar itu?"Untuk memukul kepala monster." Jawabnya saat aku menanyakan hal itu. Aku tak tahu apakah dia sedang bercanda atau tidak.Kami berhenti di beberpa pedagang untuk membeli roti, buah kering dan tempat minuman dari kayu. Sekitar dua jam kemudian, kami baru kembali ke pondok.Maxwell memintaku untuk tinggal sementara ia akan mencari kayu bakar dan kentang.Aku mematuhinya dan segera pergi mandi serta berganti pakaian.Pakaian itu pas sekali dengan bentuk tubuhku! Kemeja dengan model sederhana itu seolah menyamakan gerakanku. Celananya juga pas. Ini benar-benar nyaman.Saat aku hendak mencuci mantel yang kupinjam dari Maxwell, sebuah liontin emas jatuh dari situ.Mungkin itu milik Maxwell, jadi aku menaruhnya di atas meja.Si pemilik rumah tiba saat aku menjemur mantelnya di belakang rumah.Ia nampak terkejut saat melihat liontin yang ada di atas meja. Ia lalu mengambil ranting di halaman untuk meraih rantai yang membelit liontin itu. Dengan langkah perlahan, ia keluar dari rumah dan melempar liontin itu jauh-jauh."Ada apa? Bukannya itu milikmu? Aku menemukannya dari mantelmu.""Abby! Bereskan semuanya! Perubahan rencana! Kita berangkat sekarang juga!"Aku berkedip dua kali sebelum berkata, “Aku tak mau bermain dengan anak ingusan. Jadi kembalikan kucing itu sekarang atau aku akan pakai kekerasan.”Kubuka kepalan tanganku, menunjukkan sebuah lingkaran api kecil. Aku tidak yakin dengan akurasi serangannya, tapi kupastikan ini akan sakit jika terkena kulitnya, “Kembalikan kucing itu. Sekarang.”Aku memastikan suaraku setegas mungkin tapi sepertinya tidak berhasil karena peri itu malah tertawa dan menggendong kucing hitam itu dengan erat, “Coba saja, Abigail. Aku tahu kamu tidak akan berani. Sejak dulu selalu begitu, ‘kan?”Sejak dulu? Apa maksudnya? Aku yakin benar kami tidak pernah bertemu selain di hutan ini.“Bagaimana kalau begini saja, kita main lima menit dan setelahnya aku kembalikan kucing ini padamu. bagaimana?”“Tidak ada permainan. Kembalikan saja kucingnya. Lagipula, kenapa terusmengajakku bermain? Aku sibuk.”Peri hutan itu mencemberutkan ujung bibirnya dengan wajah sendu, “Aku tak punya teman.”“Kudengar kau sering mencu
"Abby, boleh aku tahu apa yang kau bicarakan pada Herion soal kuil suci Quarlm? Tidak cerita juga tidak apa-apa. Aku hanya penasaran saja,” katanya saat kami sedang menyusuri pinggir hutan untuk menemukan jembatan kayu di atas sungai Ahn.Kami memutuskan untuk langsung berangkat karena tidak ada penginapan di daerah sekitar sini juga karena kuil itu terletak tidak jauh dari sungai. Atau setidaknya itu yang tergambar di perkamen milik Groki.“Bukan masalah besar, Herion hanya berkata kalau mungkin kita perlu melewatinya,” balasku malas. Enggan membalas apa yang kulihat di lemari Herion atau suara teriakan yang memintaku untuk menemukan Tusban atau untuk menolong mereka. Bukan karena apa-apa, tapi dia juga punya masalahnya sendiri.Lagipula Tusban tetap aman dan tidak ada yang perlu di khawatirkan. Kecuali, mungkin, isi perut Ezra. Terakhir kami berpamitan, laki-laki itu masih memuntahkan katak dari mulutnya “Ada baiknya kau memikirkan nasibmu sendiri. Sebentar lagi kau akan jadi petapa
Ada jeda sebentar sebelum kami berdua menemukan suara. Groki tidak hanya mengatakan bahwa Maxwell sendiri yang tahu bagaimana cara mematahkan kutukan, namun Groki tahu siapa Maxwell sebenarnya.“Saya turut berduka cita atas yang menimpa anda. Mm, anda lebih suka dipanggil Maxwell?”“Yah, bagaimanapun Itu nama saya. Tolong bersikap biasa saja. Dan soal kutukan itu saya tidak mengerti.”Groki mengangguk sebelum ia duduk di sofa yang berbentuk jamur raksasa, “Aku masih muda saat kutukan itu dijatuhkan padamu. Baginda raja memerintahkan semua penyihir serta peramal untuk mengatasi kutukan itu. Beliau sangat khawatir. Saat itu, penyihir suci sedang tidak ada di tempat dan kami semua berusaha begitu keras sampai akhirnya beliau menyerah dan yah, kau yang paling tahu kelanjutannya.”Maxwell mendengus saat mendengar hal itu, tapi dia memilih untuk tidak berkomentar. “Saat itu sedang terjadi banyak kekacauan jadi mungkin saja kau mendengar banyak desas-desus. Tapi aku percaya akan hal itu. Ba
Kami berangkat pagi sekali sebelum menyewa kereta kuda menuju Hutan Pinus. Sejak semalam, Maxwell dan aku tidak banyak bicara. Kami hanya bicara seperlunya dan membuat perjalanan kami diliputi keheningan sementara tanganku terus memegang amulet.Kereta kuda berhenti tepat di papan nama hutan yang ditulis di atas kayu yang agak lapuk. Maxwell maju lebih dulu dan aku mengikutinya. Jarak pepohonan yang rapat membuat suasana hutan menjadi suram dan gelap meskipun aku yakin ini baru pukul delapan pagi.Dari kejauhan, kami bisa melihat menara tinggi yang dicat dengan warna pastel yang menyala. Maxwell mendengus, “Firasatku buruk. Menara itu kelihatan seperti kue ulang tahun untuk anak lima tahun. Siapapun yang ada di dalamnya, aku… tak yakin.”“Memangnya kapan firasatmu pernah baik? Lagipula, menaranya terlihat imut. Aku suka.”Ia memutar bola matanya, “Mungkin ini termasuk hal-hal yang hanya dimengerti oleh para penyihir. Yah, kurasa Fabio benar. Para penyihir ini memang agak.. tidak biasa
“Kau yakin?” tanya Maxwell untuk kesekian kalinya setelah kami keluar dari Ausbant dan kembali ke perpustakaan. “Kita ini sedang membicarakan Grische si tukang pembuat kesialan. Bagaimana kalau kita malah dituduh mencuri dan malah dijebloskan di penjara?”“Tinggal kabur saja, apa susahnya? Lagipula kau bisa berubah jadi kucing terbang itu dan kita bisa cari cara untuk menyelinap ke tempat arsip kuno. Setidaknya percaya dirilah sedikit, kita sudah pernah menghadapi naga. Apalagi yang perlu kita takuti?”Maxwell bersungut-sungut saat berkata, “Abby, aku serius.”“Aku juga. Lagipula hanya ini satu-satunya cara yang kupikir bisa dicoba. Kecuali kau punya ide lain, aku akan mendengarkannya.”Laki-laki itu hanya menghela nafas dan tidak mengatakan apapun saat kami akhirnya kembali ke perpustakaan. Petugas perpustaakan yang sama dengan sebelumnya menyambut kami dengan senyum samar saat kami pergi menuju konternya.Tanpa ragu, aku langsung menunjukkan token burung hantu padanya, “Apa ini bisa
Aku melongo saat melihat kuda terbang di langit pagi pada kota Tusban. Atau kelinci bersayap atau kucing berkaki enam. Perjalanan tiga hari dari desa Blackthorn itu terasa seperti mimpi jika dibandingkan dengan pemandangan yang ada di depanku.Aku melirik Maxwell yang nampak biasa saja ketika kami melewati gerbang setelah menunjukkan identitas pengenalnya. Karena aku tak punya kartu identitas, dia harus membayar ekstra untuk menjadi penjaminku.“Kenapa tidak bilang kalau banyak hewan aneh disini?”Maxwell mengangkat alisnya, “Kau sudah melihat, ogre, laba-laba raksasa, dan juga harpy, tapi masih terkejut melihat kuda terbang?”Oh, jadi maksudnya ini normal. Maxwell kemudian melanjutkan jika hewan-hewan disini dulunya liar dan akhirnya diternakkan dan dipelihara oleh para penyihir disini. karena Tusban memiliki populasi penyihir yang paling besar, secara otomatis hewan-hewan itu akan tinggal disini karena kekuatan sihir bisa membantu menjinakkan mereka.Setelah kami memesan dua kamar d
"Nona mengenal saya?" Tanyanya dengan dahi berkerut. Dia membungkuk sedikit sebelum melanjutkan, "Maaf atas ketidaksopanannya, tapi saya tidak yakin pernah menemui anda sebelumnya."Aku tergagap. Sepertinya tanpa sadar aku mengucapkan namanya keras-keras."Aku.. aku.. sebenarnya..
Dengan perasaan malu, aku harus mengakui kalau ucapan Nenek memang ada benarnya.Sesampainya di kota, aku nyaris melupakannya kalau tak ada amulet yang selalu bergantung di leherku.Kota ini benar-benar menyita perhatianku seolah ada aura magis yang menyelubunginya.Dulu, kami tinggal di
Namaku Abigail Montlace. Semua orang memanggilku Abigail atau si bungsu dari keluarga Montlace.Tapi nenekku memanggilku Abby. Aku sangat menyukai nama itu. Sebenarnya aku menyukai apa saja yang dikatakan nenek.Beliau adalah pendongeng yang hebat. Cara penyampaiannya benar-benar bagus s
Maxwell mengangkat sebelah alisnya saat aku menyeruput sisa sup kentang buatannya dari mulut mangkuk.Entah karena lapar atau dia memang pandai memasak, tapi rasa supnya enak sekali. Aku bahkan tak menolak saat ia menuangkan sisa sup dari panci kepadaku."Kau tak bisa terus menggunakan







